BAB III Dampak Sibling Rivalry dan Pola Asuh Otoriter
B. Pembahasan
Pada dasarnya sibling rivalry yang terjadi antar saudara kandung akan hilang seiring berjalannya waktu, hal tersebut akan hilang dengan sendirinya ketika anak sudah beranjak dewasa.
Tetapi keadaan psikologis anak setelah nya dapat menjadikan
166 Hasil observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah
167 Hasil observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah
168 Hasil observasi di Lingkungan Mapak Indah
77
dampak yang merugikan entah itu untuk anak itu sendiri maupun keluarga nya. Dampak seperti keterampilan sosial yang tidak cukup baik, dan menyimpan dendam atau tidak memiliki hubungan yang baik antar saudaranya, hal ini terjadi jika perilaku sibling rivalry tidak mendapatkan perhatiana dan penanganan.169 Orang tua cenderung membiarkan jika sibling rivalry terjadi pada anak anak mereka, para orang tua beranggapan bahwa nanti hal seperti itu akan berhenti dengan sendiri nya, walaupun selalu ada adik dan kakak yang menangis di akhirnya. Pada keluarga yang memiliki anak dengan generasi yang berbeda yakni gerasi Z dan generasi alpha, orang tua cenderung lebih sering meminta kakaknya yakni anak generasi Z untuk mengalah dari adiknya yang memiliki gnerasi alpha. Sibling rivalry memang merupakan hal yang wajar terjadi antara saudara kandung, tetapi jika hal tersebut tidak di tangani dengan baik atau terus menerus di diamkan akan menimbulkan dampak yang serius untuk anak di jangka panjang.
Sibling rivalry yang terus menerus di pupuk sejak anak kecil akan terus menumpuk hingga anak dewasa. Terjadinya sibling rivalry juga berdampak pada interaksi sosial anak, dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lapangan tepat nya di Lingkungan Mapak Indah, yakni anak menjadi benci terhadap saudaranya, anak menjadi tidak mau jika sedang main bersama temannya saudaranya ikut, hal ini akan menjadikan salah satu anak di antara saudara itu di asingkan. Anak menjadi selalu lebih ringan tangan, pemarah dan suka melontarkan kata kata yang kurang sopan kepada orang lain di sekitarnya.170
Sibling rivalry pasti terjadi dalam setiap keluarga, dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lingkungan mapak indah didapatkan bahwa dari sepuluh keluarga yang menjadi subjek penelitian semua nya pernah mengalami sibling rivalry, baik itu yang memiliki anak dengan lintas generasi, ataupun yang memiliki anak dengan generasi yang sama, kemudian anak yang memiliki gender atau jenis kelamin yang
169 Dian Putriana Latipun, dkk, SMCT Guide : Sibling Management..., hlm 4
170 Hasil observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah
78
perempuan perempuan, atau laki laki bahkan yang memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda laki laki dan perempuan, semuanya pernah mengalami sibling rivalry, hanya saja berbeda pada intesitas terjadinya saja.171
Hal ini seperti yang di jelaskan oleh Shaffer , dikatakan bahwa sibling rivalry atau persaingan antar saudara kandung memiliki tiga macam aspek yaitu berperilaku agresif, kompetisi atau tidak mau kalah, dan perasaan iri dengan mencari perhatian.172 Anak lintas generasi yakni generasi Z dan generasi alpha lebih jarang berperilaku agresif atau resesment , lain hal nya dengan anak yang memiliki satu generasi yang sama, mereka akan lebih sering melakukan perilaku agresif ini, bahkan terjadinya perilaku agresif ini anak tidak tahu kekesalan yaang muncul karena apa, hanya adanya rasal kesal saja dapat menimbulkan pertengkatan dalam keluarga, hal ini terlihat dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan dengan anak yang memiliki inisial C dan SF, tidak hanya pada anak saja orang tua dengan inisial Y juga mengatakan hal yang sama, bahkan mereka tidak jarang menebarkan kebencian pada saudara kandungnya. Pada aspek yang lainnya yakni kompetisi atau semangat untuk bersaing ini lebih sering terjadi pada anak yang memiliki jenis kelamin yang sama yakni perempuan perenmpuan, anak yang memiliki saudara dengan jenis kelamin yang berbeda yaitu laki laki dan perempuan lebih jarang melakukan kompetisi atau bersaing, memang pernah tetapi tidak seintens apa yang di lakukan oleh anak dengan jenis kelamin yang sama yaitu perempuan perempuan. Perasaan iri timbul pada setiap anak, baiak itu yang memiliki generai yang sama, ataupun berbeda, kemudian anak dengan gender yanag sama ataupun berbeda, mereka semua kerap kali merasa iri pada saudara kandungnya entah itu dalam hal perhatian atau kasih sayang dari orang tua ataupun hal yang lainnya.173
171 Hasil observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah
172 David R. Shaffer, Developmental Psychology..., hlm 482
173 Hasil observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah
79
Terdapatnya antar saudara yang berperilaku agresif, tidak mau mengalah, memiliki perasaan iri kepada saudaranya dan merasa di bedakan dengan apa yang orang tua lakukan, dapat memberikan dampak yang ditimbulkan akibaat dari persaingan antar saudara atau sibling rivalry tersebut, setiap anak tentu memiliki dampak yaang berbeda yang terjadi pada anak tersebut, beberapa diantaranya yaitu :
1. Timbulnya rasa benci
Sibling rivalry atau persaingan yang terjadi antaraa saudara kandung, jika terus dibiarkan terjadi oleh oraang tua dan dianggap sebagai hal yang sepele atau biasa terjadi maka hal tersebut dapat terus menerus terjadi pada anak hingga anak dewasa, dan menumbuhkan rasa benci anak terhadap saudaranya.174 Rasa benci yang timbul diatara saudara kandung di lingkungan mapak indah yang peneliti dapatkan saat melakukan observasi dan wawancara lebih rentan terjadi pada keluarga yang meemiliki anak dengan jenis kelamin yang sama yakni perempuan perempuan, dimana mereka tidak segan untuk mengatakan benci kepada saudaranya di depan orang banyak tidak hanya itu hal ini juga terlihat dari anak anak yang tidak suka jika saudaranya ikut bermain bersama, mereka menjadi marah, dan salah satu anak menjadi di asingkan bahkan tidak diajak bermain bersama oleh teman nya, karena adanya pengaruh yang di berikan pada saudara pada teman temannya.
2. Anak menjadi lebih ringan tangan
Dampak dari terjadinya sibling rivalry pada anak dampak menimbulkan anak yang menjadi lebih ringan tangan, hal ini timbul karena adanya sikap agresif yang anak lakukan kepada saudaranya di rumah dapat ikut terbawa sampai pada lingkungan sosialnya, kebiasaan anak yang kerap kali melakukan tindakan agresif kepada saudaranya, entah itu memukul, mencubit, ataupun menjambak akan menjadi kebiasaan yang anak bawa bahkan ketika sedang bermain
174 Annisa Ayu Marhamah, dkk,
80
dengan teman temannya, ataupun saat sedang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.175
Pada dampak kedua yang terjadi pada anak di lingkungan mapak indah ini yaitu anak menjadi lebih ringan tangan, hal ini terjadi tidak pada saudaranya saja, bahkan pada saat anak tersebut sedang bermain dengan teman temannya anak mudah sekali melayangkan pukulan, mendorong dan menjambak temannya ketika sedang bermain, namun ketika di tegur anak tidak mau di salahkan, seperti pada saat kejadian anak melakukan hal tersebut kepada temannya dan orang di lingkungan sekitarnya yang usianya jauh diatas anak tersebut, anak tidak terima ketika di tegur atau di beritahu mengenai apa yang dia lakukan, anak tersebut pada akhirnya menangis, dan menyalahkan kakaknya. Bahkan orang orang yang berada di sekitar anak juga merasakan seperti itu, yakni anak tersebut sangat mudah untuk melakukan tindakan tindakan agresif terhadap fisik temannya. Dampak yaang ditimbulkan ini terjadi pada anak yang memiliki saudara dengan jenis kelamin yang sama, yaitu perempuan perempuan dan laki laki, mereka tidak segan memukul, menjambak ataupun mencubit temannya.176
3. Suka berkata yang kurang sopan kepada orang lain
Sibling rivalry yang terjadi pada anak di lingkungan mapak indah memberikan dampak pada anak salah satunya yaitu anak menjadi senang mengeluarkan kata kata yang kurang sopan untuk di katakan pada orang orang di sekitarnya, entah itu saat bermain dengan temannya ataupun pada saat berinteraksi dengan orang di lingkungan sekitarnya, hal ini terbukti dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lingkungan mapak indah, dimana semua anak yang memiliki saudara satu generasi, yakni generasi alpha baik perempuan perempuan, laki laki, atau bahkan
175 Sibling
Rivalry...
176 Hasil observasi dan wawancaara di Lingkungan Mapak Indah
81
laki perempuan, anak tersebut kerap kali berbicara dengan mengeluarkan kata kata yang tidak sopan bahkan mengeluarkan kata kata kotor, seperti pada saat kalah bermain dengan temannya anak tersebut sering kali mengeluarkan kata kata yang tidak baik atau kata kata kotor. Bahkan tidak hanya pada temannya saja, pada saat ada orang yang usia nya jauh diatas anak tersebut, dan mengajak anak tersebut untuk berbicara, anak tersebut membalas perkataan orang tersebut dengan kata kata yang tidak sopan, seperti menyebut orang tersebut dengan kata kamu dan tidak dengan kata kak atau semacamnya, kemudian berbicara dengan intonasi suara yang membentak, padahal anak ini jika berbicara pada biasanya dengan intonasi yang terdengar pelan, namun ketika anak tersebut di tegur atau di beri peringan oleh orang orang disekitarnya yang melihat kejadian tersebut anak tersebut semakin menjadi dan marah.
Hal tesebut, yaitu anak yang semakin menjadi ketika di nasehati, atau di tegur dan menjadi semakin marah disebabkan karena anak yang memiliki tempramen yang sulit akan lebih mudah tersinggung dan agresif, sehingga disini anak menjadi kesulitan dalam melakukan penyesuaian terhadap sosialnya.177 Pola asuh otoriter disebut sebagai pola asuh yang menekankan pada pengawasan orang tua agar anak tunduk dan patuh. Pada pola asuh otoriter orang tua bersikap tegas, suka menghukum, dan cenderung membatasi anak. Hal seperti itu dapat menjadikan anak menjadi kurang inisiatif, cenderung ragu, mudah gugup, menjadi anak yang tidak di siplin dan nakal.178
Dampak yang didapatkan atau dirasakan oleh anak akibat dari pola asuh otoriter yang diberikan orang tua berbeda beda setiap anaknya, seperti yang peneliti dapatkan saat melakukan observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah, dimana dampak dampak dari pola asuh otoriter yang dilakukan oleh orang tua adalah sebagai berikut:
177 Dian Putriana, dkk, SMCT Guide: Sibling Management..., hlm 4
178 Maimun, Psikologi Pengasuhan..., hlm. 55
82
1. Anak hanya mau di dengarkan tanpa mendengarkan
Pada dampak pola asuh otoriter yang ini kerap terjadi pada anak yang di dalam keluarganya memiliki saudara perempuan perempuan, dan laki laki yanag memiliki saudara kandung sama generasi yaitu generasi alpha, dimana mereka ketika sudah bermain atau berkumpul dengan orang orang yang berada di lingkungan rumahnya tidak ada hentinya berbicara dan bertanya, ketika terdapat teman yang lain nya yang akan berbicara maka akan di potong dan tidak di hiraukan, bahkan tidak jarang juga teman nya tersebut dimarah dan tidak hanya itu, bahkan anak tersebut sering kali teriak ketika dia sedang berbicara tetapi tidak di dengarkan.179
Sikap yang anak miliki seperti itu disebabkan karena orang tua tidak dapat menjadi pendengar bagi anak, tetapi orang tua malah cenderung memberikan hukuman kepada anak ketika anak melakukan kesalah, maka hal tersebut lah yang yang disimpan oleh anak di dalam hati dan ingatannya yakni pengalaman ketika anak mendapaatkan hukuman, dan hal ini akan cenderung di praktikan anak kepada lingkungannya, sehingga anak akan memiliki sikap yang selalu ingin di dengarkan tanpa mendengarkan orang lain. Karena ketika di dalam rumah tidak ada sosok tempat anak untuk bercerita, bertanya atau bahkan mengeluaarkan pendapat menjadikan anak mencari tempat untuk melakukan hal tersebut di luar rumah dan menjadi tidak terkontrol, sebab anak berfikir jika mereka bertanya apa yang pernah terjadi akan terulang lagi seperti mendapatkan hukuman, dimarah ketika banyak bertanya dan bercerita, sehingga itulah yang menyebabkan anak mencari tempat bercerita dan bertanya di luar rumah, dan tidak terkontrol saat anak sedang bercerita ataupun bertanya.180
179 Hasil observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah
180
83
2. Anak menjadi susah menyesuaikan diri
Dampak lain akibat dari pola asuh otoriter yang di berikan oleh orang tua pada anaknya yakni menjadikan anak menjadi susah untuk menyesuaikan diri di lingkungannya, ketika anak memiliki entah itu kelompok bermain baru atau berada di lingkungan yang banyak sekali orang baru di dalamnya, anak akan menjadi susah untuk menyesuaikan diri, atau bahkan ketika situasi dalam lingkungan mereka berbeda hal ini di tunjukkan anak dengan ketika berjalan anak menjadi lebih sering menunduk atau melihat ke bawah, tidak berani untuk memulai percakapan atau pembicaraan terlebih dahulu, namun dalam hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan dengan subjek anak hal seperti ini terjadi pada anak yang mengalami pola asuh otoriter, anak tersebut menjadi susah ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, bahkan tidak hanya dalam lingkungan masyarakat, ketika anak memasuki sekolah baru atau bertemu orang orang baru anak akan menjadi pendiam dan lebih susah untuk menyesuaikan diri mereka. Hal ini didapatkan ketika peneliti melakukan observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah. dampak seperti ini terjadi pada anak yang memiliki saudara kandung sama jenis kelamin yakni perempuan perempuan, bahkan terjadi juga dengan anak yang memiliki saudara dengan jenis kelamin yang berbeda yaitu laki perempuan, yang keduanya berasal dari generasi yang sama yaitu generasi alpha.181
Anak yang bermasalah atau memiliki orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter menjadikan anak sering kali tidak dapat memusatkan emosinya dengan bagus. Anak akan memerlukan durasi yang cukup lama untuk anak buat menyesuaikan diri mereka serta mereka mengalami kesusahan dalam mengekspresikan diri. Anak akan lama bisa mengekspresikan dan menyesuaikan diri mereka seperti biasanya. Hal yang menjadikan anak susah dalam menyesuaikan dirinya dan mengekspresikan dirinya di
181 Hasil observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah
84
lingkungan sosial yang baru karena orang tua yang otoriter kerap menimbulkan anak takut akan perbandingan sosial serta kemampuan komunikasi yang rendah.182
3. Banyak ketakutan yang anak rasakan
Ketakutan yang anak rasakan disini yakni anak menjadi sering kali takut salah ketika melakukan sesuatu, anak menjadi takut ketika di minta untuk melakukan sesuatu hal, anak cenderung menjadi tidak percaya diri dan takut, seperti apa yang peneliti temukan di lingkungan mapak indah, dimana ketika anak diminta oleh tetangga sekitarnya untuk mengikuti perlombaan atau semacamnya mereka akan mengatakan tidak mau, karena mereka takut ketika lomba nanti atau di atas panggung mereka menjadi salah melakukan apa yang seharusnya di lakukan.
Orang tua yang memiliki pola asuh otoriter menyebabkan anak menjadi takut untuk mencoba hal hal yang baru, serta anak merasa canggung dan juga cemas, padahal disini anak belum mulai mencoba untuk melakukan hal yang baru tersebut, tetapi sudah banyak sekali pikiran pikiran negatif yang timbul pada anak mengenai apa yang akan terjadi nantinya ketika mereka mencoba hal hal baru tersebut, padahal disini apa yang anak pikirkan belum tentu akan nyata terjadi pada anak, namun karena orang tua yang otoriter kerapkali menakut nakutkan anak mengenai sesuatu hal pada anak, menyebabkan anak tersebut menjadi takut untuk memulai sesuatu hal yang baru, yang belum pernah di coba atau di lakukan sebelumnya.183
4. Anak selalu ingin menang
Penerapan pola asuh otoriter yang diberikan oleh orang tua pada anak dapat menyebabkan anak memiliki dampak yang negatif, salah satu diantaranya yaitu pola asuh yang otoriter menjadikan anak menjadi selalu ingin menang sendiri,
182
Temper Tantrum Anak Usia DiniDi Masa Pandemi Covid- Jurnal Cikal Cendekia, (Vo.
2. No. 01. 2021), hlm 37
183 hlm 89
85
anak cenderung tidak bisa atau mampu menerima kekalahan.184
Hal tersebut seperti yang peneliti dapatkan melalui hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Lingkungan Mapak Indah, dimana anak yang orang tuanya menerapkan pola asuh otoriter menjadikan mereka menjadi anak yang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau kalah, terlihat dari anak pada saat sedang melakukan interaksi sosial entah itu dengan teman bermainnya ataupun dengan masyarakat sekitar, saat sedang bermain anak cenderung tidak mau kalah dan selalu ingin menang sendiri, ketika terdapat salah seorang temannya yang menang atau lebih unggul dari dia, dia akan marah dan kesal, bahkan hal ini tidak terjadi ketika anak tersebut sedang bermain dengan temannya saja, dalam berbagai hal pun anak tersebut sama yakni ingin menang sendiri atau tidak mau kalah, ketika sedang ada acara berkumpul bersama dengan masyarakat di sekitar rumah anak akan menjadi tidak mau kalah berbicara dengan yang lain.
Ketika anak sedang bermain dengan teman teman sepermainan mereka, dan sedang melakukan beberapa permainan anak tidak akan mau menerima kekalahan nya, pada saat melihat teman nya yang lain menang atau bahkan lebih unggul sedikit dari dia, anak tersebut akan marah marah kepada orang di sekitarnya, termasuk teman teman dan bahkan orang yang lebih dewasa usianya yang sedang berada di sekitar anak tersebut, dan anak tersebut akan berhenti main dan meninggalkan permainan tersebut. Hal ini terjadi pada semua anak baik yang memiliki saudara dengan jenis kelamin yang sama maupun berbeda, dan baik dengan yang memiliki saudara lintas generasi ataupun tidak.185
184
Journal of Early Childhood and Character Education, (Vo. 3. No. 2. 2023), hlm 206
185 Hasil Observasi dan Wawancara di Lingkungan Mapak Indah
86 BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan mengenai dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha (studi di lingkungan mapak indah Kec.sekarbela Kota Mataram), maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Sibling rivalry dan pola asuh otoriter masih banyak terjadi di lingkungan mapak indah, bahkan yang menerapkan pola asuh otoriter tersebut adalah orang tua generasi Y, dimana generasi Y ini disebut sebagai generasi yang paling peka terhadap perubahan informasi, perkembangan gadget dan sebagainya, pola asuh otoriter yang diberikan oleh orang tua generasi Y tersebut sama rata pada anak mereka, baik pada anaknya yang generasi Z ataupun generasi alpha, selain itu para orang tua tidak terlalu memperhatikan mengenai sibling rivalry yang di alami oleh anak mereka, adapun bentuk bentuk sibling rivalry yang peneliti temukan di lingkungan mapak indah yaitu, marah yang terjadi pada semua anak tetapi anak dengan jenis kelamin perempuan perempuan yaitu anak insial C dan SF yang dimana intensitas terjadinya lebih sering, selain itu memaki yang dimana ini terjadi pada semua anak tetapi intensitas terjadinya lebih sering pada anak yang memiliki saudara yang satu generasi yaitu generasi alpha baik itu perempuan perempuan, laki laki ataupun perempuan laki, kemudian melukai hal ini terjadi pada anak yang memiliki saudara dengan lintas generasi maupun tidak dan jenis kelamin yang sama yakni perempuan perempuan dan yang memiliki jenis kelamin laki perempuan. Dan bentuk sibling rivalry selanjutnya yaitu cemburu anak dengan lintas generasi kakaknya akan lebih malu untuk mengungkapkan kecemburuannya sedangkan pada anak dengan generasi yang
87
sama anak laki laki akan lebih malu untuk mengungkapkan kecemburuan pada saudaranya seperti yang dialami oleh SM, tetapi orang tua disini kurang memperhatikan hal tersebut, orang tua beranggapan bahwa nanti hal tersebut akan berhenti dengan sendirinya. Sedangkan bentuk pola asuh otoriter yang terdapat di lingkungan mapak indah terjadi pada semua anak, baik yang memiliki saudara dengan lintas generasi ataupun tidak, kemudian yang memiliki saudara dengan jenis kelamin yang sama ataupun tidak, pola asuh otoriter ini diberikan pada semua anak mereka, adapun bentuk pola asuh otoriter di Lingkungan mapak indah yaitu, terjadinya komunikasi satu arah, orang tua yang bersikap tegas dan memiliki aturan aturan yang ketat, ketika anak melanggar orang tua kerap kali menghukum, bahkan orang tua masih kerap kali membatasi keingin yang anak miliki.
2. Dampak yang ditimbulkan dari sibling rivalry dan pola asuh otoriter yang di berikan oleh orang tua generasi Y terhadap anak generasi alpa yakni, iteraksi sosial anak menjadi kurang baik, seperti pada dampak yang timbulkan dari sibling rivalry yaitu, timbulnya rasa benci terhadap saudara kandung, \anak menjadi lebih ringan tangan, dan suka berkata yang kurang sopan kepada orang lain di sekitar nya. Sedangkan dampak yang ditimbulkan dari pola asuh otoriter di lingungan mapak indah yakni, ank hanya mau di dengarkan tanapa mendengarkan, susah menyesuaikan diri, banyak ketakutan yang timbul pada anak, dan anak menjadi tidak mau kalah dengan temannya, anak tersebut selalu ingin menjadi pemenang, kata kata yang di keluarkan harus selalu di dengarkan oleh temannya, anak menjadi lebih banyak berbicara dan bertanya, terutama saat sedang tidak ada ibunya.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha (studi di lingkungan mapak indah kec.sekarbela kota mataram), dimana saran yang di berikan ini untuk para orang tua generasi Y dan anak anak generasi alpha