BAB I Pendahuluan
F. Kajian Teori
2. Pola Asuh
a. Definisi Pola Asuh
Menurut kamus besar bahasa indonesia, pola memiliki arti corak, model, sistem, cara, bentuk, dan struktur yang tetap.
36 Ibid, hlm. 134.
37 Dian Putriana Latipun Rr. Siti Suminarti Fasikhah, SMCT Guide: Sibling Management..., hlm. 4.
38 Ibid, hlm 19
17
Sedangkan asuh berarti menjaga atau merawat dan mendidik, membimbing, dan memimpin.
Pola asuh adalah suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak, dimana orang tua memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan, dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orangtua agar anak dapat mandiri,tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal, memiliki rasa percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat,dan berorientasi untuk sukses.39
Sementara dalam perspektif psikologi pola asuh diartikan sebagai bentuk perhatian yang diberikan orang tua kepada anak untuk berkembang, artinya yaitu suatu proses untuk menjalin relasi antara orang tua dan anak sehingga akan timbul rasa percaya, rasa kasih dan sayang yang dijalin terus menerus secara berkesinambungan.40
Thoha, menjelaskan bahwa pola asuh orang tua merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orangtua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. selain itu juga merupakan pemberian aturan- aturan hidup yakni pengajaran dan pemberian sangsi jika melanggar dari orang tua untuk anak agar anak dapat menjadi baik sesuai apa yang diharapkan orang tua. Oleh karenanya pengasuhan orang tua adalah inetraksi positif/negatif antara orang tua dan anak yang meliputi kegiatan pemeliharaan, pembimbingan, pendidikan, serta pelatihan sikap mental kemandirian, tanggung jawab dan disiplin untuk mencapai proses menjadi dewasa.
Selanjutnya Gunarsa mengatakan bahwa pola asuh adalah metode yang dipilih orang tua dalam mendidik anak-anaknya dan menggambarkan bagaimana orang tua memperlakukan anak.41 Sedangkan Casmini mengatakan bahwa pola asuh
39 Buyung Surahman, Korelasi Pola Asuh Attachment Parenting Terhadap
Perkembangan Emosional Anak Usia Dini, (Bengkulu: Cv. Zigie Utama, 2021), hlm. 11.
40 Hayati Nufus, La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan Belajar Anak , (Ambon: LP2M IAIN, 2020), hlm. 17.
41 Hayati Nufus, La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu ..., hlm. 16.
18
adalah cara orang tua memberlakukan, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai kedewasaan hingga upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan pada umumnya tercapai.42 b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Mindel dalam Walker menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua dalam keluarga, diantaranya yaitu :
1) Budaya setempat, yang meliputi norma, aturan dan adat serta budaya yang berkembang di daerah tertentu.
2) Ideologi orangtua, orangtua cenderung akan menurunkan ideologi yang dianut dengan harapan bahwa nilai-nilai yang ada dalam ideologi tersebut akan menjadi sikap mental dalam diri anak-anaknya.43
3) Letak geografis dan norma-norma etis. Letak suatu daerah akan menentukan kebiasaan dan budaya pada komunitas tertentu, seperti orang yang tinggal di daerah perkotaan tidak akan sama pola hidupnya dengan orang yang tinggal di wilayah pedesaan.
4) Orientasi religius orang tua yang menganut agama dan keyakinan. Orang tua yang mempunyai agama dan keyakinan tertentu selalu ingin anak-anaknya mengikuti agama dan keyakinannya.
5) Status ekonomi. Keadaan ekonomi seseorang sangat berpengaruh terhadap pola pengasuhan yang diberikan kepada anak-anaknya yang cenderung dianggap oleh orang tua sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak.
6) Bakat dan kemampuan orangtua. Orang tua yang cerdas akan sangat mudah memahami karakteristik, minat, dan bakat anak, sehingga pola pengasuhan orang tua disesuaikan dengan kondisi anak.
42 Ibid, hlm. 17.
43 Ibid, hlm. 25.
19
7) Gaya hidup, gaya hidup komunitas tertentu sangat menentukan pola asuh antara orang tua dan anak.
Wahyuni mengatakan bahwa dalam mengasuh dan mendidik anak, orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pengalaman masa lalu yang berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orang tua mereka, tipe kepribadian orang tua, nilai yang dianut orang tua, kehidupan orang tua dan alasan orang tua mempunyai anak.44
Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas ada beberapa faktor lain yang dianggap berpengaruh terhadap pola pengasuhan orang tua, antara lain adalah : 1) Faktor sosial ekonomi
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa orang tua yang berasal dari kelas ekonomi menengah cenderung lebih bersifat hangat dibanding orang tua yang berasal dari kelas sosial ekonomi bawah. Orang tua dari golongan ini cenderung menggunakan hukuman fisik dan menunjukkan kekuasaan mereka.
Orang tua dari kelas ekonomi menengah lebih menekankan pada perkembangan keingintahuan anak, kontrol dalam diri anak, kemampuan untuk menunda keinginan, bekerja untuk tujuan jangka panjang dan kepekaan anak dalam berhubungan dengan orang lain. Orang tua dari golongan ini lebih bersikap terbuka terhadap hal-hal yang baru.
2) Faktor tingkat pendidikan
Dari berbagai hal pendidikan ditemukan bahwa orang tua yang bersikap demokratis dan memiliki pandangan mengenai persamaan hak antara orang tua dan juga anak cenderung berkepribadian tinggi.
Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi dalam praktek pola asuhnya terlihat sering membaca artikel ataupun mengikuti kemajuan
44 Ibid, hlm. 26.
20
pengetahuan mengenai perkembangan anak. Dalam mengasuh anaknya mereka menjadi lebih siap dalam memiliki latar belakang pengetahuan yang luas, sedangkan orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan rendah memiliki pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan perkembangan anak, kurang menunjukkan pengertian dan cenderung mendominasi anak.45 3) Jumlah anak
Pola asuh yang diberikan orang tua juga dipengaruhi oleh jumlah anak yang dimiliki. Orang tua yang hanya memiliki 2-3 anak akan menggunakan pola asuh otoriter. Dengan digunakannya pola asuh ini orang tua beranggapan dapat tercipta ketertiban di dalam rumah.
4) Nilai-nilai yang dianut orang tua
Paham equalitarium menempatkan kedudukan anak sama dengan orang tua, dianut oleh banyak orang tua yang memiliki latar belakang budaya barat.
Sedangkan pada budaya timur orang tua masih menghargai kepatuhan anak.46
c. Macam Macam Pola Asuh
Dalam pandangan psikologi dijelaskan pula bahwa pola asuh otoritatif, demokratis, mengabaikan, dan memanjakan memberi pengaruh terhadap perkembangan anak termasuk pada perilaku keagamaannya. Berikut diuraikan pengaruh masing-masing pola asuh terhadap perilaku keagamaan anak.
1) Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)
Pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orang tua agar anak tunduk dan patuh. Pada pola asuh otoriter, orang tua bersikap tegas, suka menghukum, dan cenderung
45 Ibid, hlm. 27.
46 Ibid, hlm. 28.
21
membatasi apa yang menjadi keinginan anak. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang inisiatif, cenderung ragu, mudah gugup, menjadi tidak disiplin dan juga nakal.
Menurut Bjorklund dan Bjorklund, Croacks dan Stein, orang tua yang otoriter berupaya untuk menerapkan peraturan bagi anaknya dengan ketat dan sepihak. Orang tua menuntut ketaatan penuh kepada anaknya tanpa memberi kesempatan anak untuk berdialog dan sangat dominan dalam mengawasi dan mengendalikan anaknya.
Diana Baumrind menjelaskan bahwa bentuk pola asuh otoriter memiliki ciri-ciri orang tua bertindak tegas, suka menghukum, kurang memberikan kasih sayang, kurang simpatik, memaksa anak untuk patuh terhadap peraturan, dan cenderung mengekang keinginan anak. Selain itu, pada pola asuh otoriter penerimaan orang tua rendah dan tuntutan orang tua tinggi.
Sedangkan menurut Saiful Bahri Djamarah, pada pola asuh otoriter orang tua cenderung sebagai pengendali atau pengawas, selalu memaksakan kehendak kepada anak, tidak terbuka terhadap pendapat anak, sangat sulit menerima saran dan cenderung memaksakan kehendak dalam perbedaan.
Menurut John. W. Santrock, pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang membatasi, menghukum, dan menuntut anak untuk mengikuti semua perintah orang tua. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberikan peluang kepada anak untuk berbicara.47 Pola asuh otoriter yang mempunyai
47 Dr. H. Maimun, M. Pd, Psikologi Pengasuhan: Mengasuh Tumbuh Kembang Anak dengan Ilmu, (Mataram: Sanabil, 2017), hlm. 55.
22
namun kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik, bersikap mengkomando seperti memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi, bersikap kaku atau keras, dan cenderung emosional dan bersikap menolak sangat berpengaruh terhadap perilaku anak secara umum termasuk perilaku keagamaan, sehingga anak akan menampakkan sikap mudah tersinggung, penakut, pemurung, tidak bahagia, gampang terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai masa depan yang jelas, dan tidak juga bersahabat.
2) Pola Asuh Demokratis
Menurut John. W. Santrock, pengasuhan demokratis mendorong anak untuk mandiri akan tetapi menetapkan batas-batas dan kontrol terhadap tindakan yang dilakukan anak. Orang tua juga mengedepankan musyawarah serta memperlihatkan kehangatan dan kasih sayang kepada anak. Orang tua melatih anak untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat disiplin.
Orang tua juga cenderung melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dengan cara meminta pendapat dan berdiskusi.
Bjorklund, Croacks dan Stein mengemukakan bahwa orang tua demokratis juga mempunyai seperangkat standar dan peraturan yang jelas. Orang tua juga menuntut anaknya untuk memenuhi aturan- aturan tersebut. Perbedaannya yaitu orang tua dengan pola asuh demokratis berupaya menerapkan peraturan tersebut melalui pemahaman bukan dengan paksaan. Orang tua berupaya menyampaikan peraturan peraturan tersebut dengan disertai penjelasan yang dapat dimengerti oleh anak. Dalam hal kontrol terhadap anak, orang tua juga menerapkannya. Tetapi kontrolnya dilakukan dengan menerapkan peraturan yang dapat dipahami akan
23
suasana hubungan yang hangat dan percakapan yang terbuka.
Orang tua yang demokratis biasanya bersikap penuh dengan pertimbangan, kesabaran, dan mencoba memahami perilaku anak. Pengawasan dilakukan secara tegas tetapi tidak membatasi dan terkontrol dengan tujuan untuk meningkatkan tanggung jawab pada anak agar lebih mandiri.48 3) Pengasuhan Memanjakan (indulgent parenting)
Gaya pengasuhan ini disebut juga permisif yakni serba membolehkan. Pengasuhan dengan gaya ini sangat identik dengan keterlibatan orang tua secara penuh dalam dunia anak, akan tetapi orang tua dalam hal ini tidak mengontrol dan menuntut seperti apa anak harus bersikap. Orang tua juga membiarkan anak melakukan apa yang dia inginkan. Dampak negatif dari gaya pengasuhan ini adalah anak tidak memiliki pengendalian diri yang baik dan selalu berharap mendapatkan apa yang diinginkan. Di samping itu anak juga jarang belajar menghargai orang lain, egosentris, tidak menuruti aturan, dan kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya.
Gaya pengasuhan memanjakanatau permisif ini tidak mengarahkan anak untuk menjadi individu yang matang atau dewasa, tetapi menjadikan anak tidak memahami identitas dirinya, karena penilaian yang tidak tepat tentang pribadi anak oleh orang tuanya sehingga akan berdampak kepada penilaian anak yang berlebihan, tidak merasa memiliki kewajiban yang berkaitan dalam urusan agama yang berdampak pada perilaku keagamaan yang tidak baik, seperti lalai, malas, dan tidak ada girah terhadap syariat agama.49
48 Ibid, hlm. 58.
49 Ibid, hlm. 59.
24
4) Pola Asuh Permisif (mengabaikan)
Pada pola asuh permissive ini, Sugihartono berpendapat bahwa orang tua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri, anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan juga tidak banyak dikontrol oleh orang tua. Bjorklund dan Bjorklund, Croacks dan Stein, menjelaskan bahwa orang tua dengan gaya permisif cenderung memberikan anaknya banyak kebebasan dan juga kurang memberi kontrol. Orang tua sedikit memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada anaknya. Ketika anaknya berbuat salah, orang tua cenderung membiarkan anak tanpa memberikan hukuman ataupun teguran.50
Pola asuh permissive memiliki ciri-ciri, diantaranya yaitu orang tua memberikan kebebasan kepada anak sebebas mungkin, ibu memberikan kasih sayang dan bapak bersikap yang longgar, orang tua tidak menuntut anak untuk belajar bertanggung jawab, orang tua juga tidak banyak mengatur serta mengontrol anak. Tri Marsiyanti dan Farida Harahap menjelaskan bahwa pola asuh permisif memberikan kebebasan yang besar kepada anak. Meskipun hubungan antara orang tua dan anak hangat, tetapi kontrol yang diberikan sangat sedikit.51
d. Aspek dan Ciri Ciri Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter lebih banyak menerapkan pola asuhnya dengan aspek-aspek sebagai berikut diantaranya yaitu, orang tua mengekang anaknya untuk bergaul dan memilih orang yang akan menjadi teman dekat anaknya, orang tua tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berdialog, mengeluh dan mengeluarkan pendapat, anak diharuskan menuruti keinginan orang tua tanpa
50 Ibid, hlm. 60.
51 Ibid, hlm. 62.
25
peduli keinginan dan kemampuan anak, orang tua menentukan aturan bagi anak dalam berinteraksi diluar maupun didalam rumah, orang tua menuntut anaknya untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan, tetapi tidak menjelaskan kepada anak mengapa anak harus bertanggung jawab.
Pola asuh otoriter memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Anak harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua.
2) Pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak sangat keci.
3) Orang tua yang tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.52