• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan

C. Pembahasan

Berdasarkan pada inti pembahasan yang telah di letakkan peneliti dan sesuai dengan paparan dan temuan data yang telah di cantumkan dalam bab sebelumnya, pada bab ini akan di uraikan dalam bentuk analisis mengenai apa yang telah peneliti dapatkan ketika melakukan observasi dan wawancara di lapangan. Sibling Rivalry dapat diartikan sebagai persaingan antar saudara, sikap terhadap saudara, beberapa contohnya seperti iri hati, dan merasa tidak adil, entah itu karena ada perbedaan yang anak lihat terhada

116 Hasil wawancara dengan anak insial J, Rabu 28 November 2023

117 Hasil wawacara anak insial C, Sabtu 2 November 2023

55

perlakuan yang diberikan oleh orang tua pada saudaranya.118 Sigmund Freud menyebutkan bahwa persaingan antar saudara kandung ini merupakan persaingan untuk cinta orang tua.119 Hal yang dipaparkan oleh Sigmund Freud sejalan dengan apa yang peneliti dapatkan di lapangan melalui hasil observasi dan wawancara, yang dimana didapatkan bahwa salah satu penyebab dari terjadinya sibling rivalry yaitu karena anak merasa ada perbedaan yang diberikan oleh orang tua pada saudaranya yang lain termasuk dalam hal kasih sayang dan rasa cinta.120

Hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di Lingkungan Mapak Indah, dari sepuluh responden orang tua dan anak generasi alpha di sebutkan bahwa semua anak memiliki rasa cemburu dengan saudara kandungnya baik itu keluarga yang memiliki anak dengan lintas generasi ataupun tidak, semuanya pernah merasakan cemburu, seperti saat adik nya lebih dekat dengan ibunya ataupun sebaliknya, kemudian saat salah satu saudara yang di bela oleh orang tua, bahkan saat salah satu di belikan mainan atau semacamnya dapat menimbulkan cemburu antara saudara kandung, namun dalam hal ini terdapat dua jenis orang tua, maksud nya disini yaitu ada orang tua yang peka dan mengetahui bahwa anak nya sedang merasakan cemburu dengan saudara kandungnya, namun ada juga orang tua yang tidak mengetahui hal tersebut. Hal ini terlihat saat di lakukannya wawancara dengan para subjek yakni ibu dan anak. Pada saat di tanyakan apakah anak pernah merasakan atau menunjukkan cemburu terhadap saudara kandungnya atau tidak, kemudian ibu tersebut mengatakan bahwa anaknya tidak pernah, namun saat hal serupa di tanyakan pada anak, jawaban yang dikatakan oleh anak tersebut sebaliknya.121

Orang tua merupakan salah satu alasan terjadinya persaingan antar saudara atau yang biasa disebut dengan sibling rivalry, tetapi di sini orang tua cenderung tidak sadar dan tidak paham, ketika

118 Dwi Nastiti, Buku Ajar Thematic..., hlm 17

119 Dian Putriana, dkk, SMC Guide: Sibling Management..., hlm. 3

120 Hasil observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah

121 Hasil observasi dan wawancara di lingkungan mapak indah

56

pertikaian antar saudara kandung terjadi orang tua membiarkan hal tersebut terjadi, di sebutkan bahwa hal hal seperti persaingan dan perkelahian antara saudara kandung sudah merupakan hal yang lumrah atau biasa terjadi. Dalam teori memang di katakan bahwa sibling rivalry ini adalah hal yang biasa terjadi di dalam sebuah keluarga, tetapi sibling rivalry ini disebutkan harus mendapatkan perhatian dari orang tua, karena jika penanganan yang tidak tepat di berikan dapat menimbulkan masalah yang terus bekelanjutan kedepannya.122

Pertengkaran jika terus di pupuk dari kecil akan terus menerus meruncing hingga anak beranjak dewasa dan anak akan terus merasa bersaing dan juga saling memiliki rasa iri, dengki, perselisihan antar keluarga.123 Hal seperti ini juga peneliti temukan saat di lapangan, orang tua yang kerap kali membiarkan jika terjadi perselisihan antara anak nya dan tidak melerai, dalam artian orang tua tidak terlalu memperhatikan hal seperti ini, karena mereka beranggapan bahwa itu hal yang biasa terjadi dan akan berhenti dengan sendirinya. Pada Lingkungan Mapak Indah Kec.

Sekarbela. Kota Mataram di temukan banyak sekali bentuk bentuk sibling rivalry yang terjadi pada anak. Berikut ini merupakan bentuk bentuk sibling rivalry yang kerap kali terjadi antara saudara kandung :

1. Marah

Marah merupakan salah satu bentuk sibling rivalry yang timbul pada anak. Rasa marah yang di rasakan oleh anak di sebabkan oleh suatu hal yang tidak mereka inginkan atau harapan terjadi.124

Pada hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lingkungan mapak indah, di sebutkan bahwa penyebab dari timbulya marah antar saudara kandung ini karena banyak hal, diantaranya yaitu anak anak ketika sedang dalam keadaan

122 sibling rivalryy

123 Ibid, hlm 164

124 Alfina Laili Duumirrotin, dkk, Sibling Rivakry

Jurnal Penelitian Psikologi, (Vol. 9. No. 2. 2022), hlm 108

57

tenang bermain hp tetapi di ganggu oleh saudara kandungnya yang lain, kemudian ketika dipanggil oleh teman nya untuk bermain bersama tidak di beri izin oleh orang tua jika tidak mengajak adik nya karena adik nya menangis ingin ikut, dan saat kakak meminta tolong pada adik untuk membelikan barang di warung. Hal hal seperti itu yang kemudian menimbulkan rasa marah antara saudara kandung, amarah yang timbul antar saudara kandung ini biasanya terjadi dengan intonasi suara yang menjadi lebih tinggi, saling bersautan bicara dengan suara yang keras dalam artian disini yaitu saling berteriak, dan tidak mau mengalah antara satu dan yang lain.

Sibling rivalry yakni marah terhadap saudara, memiliki faktor peyebab yang berbeda beda, seperti adanya perbedaan terjadinya marah dengan keluarga yang memiliki anak dengan berbeda generasi atau lintas generasi. Hal ini di buktikan dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan dengan ibu yang memiliki inisial A dan K, yang memiliki anak lintas generasi yakni anak generasi Z dan juga anak generasi alpha, dimana ibu tersebut sama sama menjelaskan bahwa anak mereka yang gerasi alpha kerap kali marah kepada kakak nya yang generasi Z karena mereka yang terlalu sering meminta tolong kepada adik mereka, dan iseng mengganggu adik mereka entah itu ketika sedang bermain ataupun sedang duduk diam, bahkan tidak jarang mereka mengganggu adiknya, seperti mengatakan jika orang tua nya lebih sayang dengan kakaknya tersebut dan adiknya tidak di sayang, hal ini yang kerap kali menimbulkan marah pada anak yang lintas generasi.125

Keluarga yang memiliki anak dengan generasi yang sama, penyebab terjadi nya marah pada anak karena hal yang berbeda dengan keluarga yang memiliki anak dengan lintas generasi, dimana penyebab terjadinya marah pada anak sesama generasi yaitu karena rebutam bermain hp, mainan, dan marah ketika ingi bermain, tetapi diminta ibunya untuk mengajak adiknya bermain. Namun disini orang tua atau keluarga yang memiliki

125 Hasil wawancara ibu dengan insial A dan S

58

anak dengan jenis kelamin yang sama yaitu perempuan perempuan, intensitas terjadinya marah antar saudara akan lebih sering, haal ini berlaku baik dengan anak yang berbeda generasi maupun sama generasi. Berbeda dengan orang tua yang memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda yakni laki perempuan, atau bahkan yang sama sama laki, intensitas terjadinya marah tidak terlalu nampak.126

Shaffer menyebutkan bahwa perasaan marah yang timbul pada anak juga akibat dari perlakuan yang berbeda dari orang tua dan anak meelampiaskan kepada saudara kandungnya.127 Hal ini seperti yang dilakukaan oleh ibu dengan inisial Y, yang dimana ketika kakak nya ingin bermain adik nya harus ikut, namun ketika adiknya bermain ibunya tidak melakukan hal yang sama yang dilakukan pada kakaknya. Anak dengan inisial C juga mengatakan bahwa ibunya memberi perlakuan yang berbeda ketika dia dan adiknya berbuat salah, anak dengan inisial C mengatakan bahwa ketika dia yang berbuata salah ibunya atau yang biasa di panggil mama marah, namun ketika adiknya yang berbuat salah tidak di marah.128

2. Memaki

Makian disini dapat diartikan sebagai ungkapan yang menggunakan kata kata yang terkesan kasar. Makian dalam bentuk sibling rivalry ini biasanya terjadi pada saudara kandung yang di gunakan untuk mengekspresikan ketidak sukaan anak, dimana hal ini di pergunakan tujuannya untuk menyinggung dan menyakiti hati saudaranya.129 Hal yang peneliti dapatkan saat melakukan observasi dan wawancara di Lingkungan Mapak Indah mengenai hal ini yaitu, saudara yang berbicara menggunakan kata kata yang tidak sopan kepada saudara kandungnya yang lain, seperti ketika adik berbicara tidak menggunakan kata kata kakak, tetapi menggunakan kata kata kamu, kemudian hal hal yang tidak pantas di ucapkan

126 Hasil observasi dan wawancara

127 David R. Shaffer, Developmental Psychology ..., hlm 482

128 Hasil wawancara dengan ibu Y, dan anak insial C dan J

129 Alfina Laili Duumirrotin, dkk, , hlm 108

59

keluar dari adik, ataupun sebaliknya, seperti kamu jelek, kamu bau bahkan terdapat juga yang sampai mengeluarkan kata kata kotor.130

Anak anak yang kerap mengeluarkan kata kata kotor cenderung sering terjadi pada anak yang memiliki generasi yang sama dengan saudara kandung nya dalam suatu keluarga yakini generasi alpha, hal ini terlihat dari hasil observasi yang peneliti lakukan di Lingkungan mapak indah, yang dimana dalam keseharian yang mereka lakukan ketika ada perselisihan antara saudara tersebut kemudian keadaan sudah semakin panas, kata kata kotor tersebut kerap kali terucap. Hal ini berbada dengan anak yang berbeda generasi di dalam suatu keluarga, yang di mana pada saat penelitian melakukan observasi dan juga wawancara kepada ibu dan anak yang brsangkutan, dikatakan bahwa mereka tidak penah mengucapkan kata kata kotor pada saudaranya baik itu pada adik ataupun kakak nya. Namun lain halnya dengan kata kata yang tidak pantas di ucapkan keluar dari saudaranya, seperti kamu jelek, kamu bau dan semacamnya, hal ini dilakukan oleh anak yang memiliki lintas generasi dan juga sama generasi.

Mengeluarkan kata kata yang tidak sopan ataupun tidak pantas baik dari adik, ataupun kakak, merupakan bentuk dari perilaku agresif verbal yang di lakukan oleh anak. Bentuk perilaku ataupun aksi agresif yang di ungkapkan untuk melukai ataupun menyakiti perasaan orang lain tersebut dapat berupa umpatan, celaan, atau makian, ejekkan, fitnah, dan ancaman yang di keluarkan dalam bentuk kata kata.131

3. Melukai

Adanya sibing rivalry yang terjadi pada anak generasi alpha, kerap kali berbentuk saling menyakiti dan melukai antara satu dan yang lainnya. Melukai disini dilakukan dengan berbagai

130 Hasil observasi di lingkungan mapak indah

131 Sibling Rivalry Pada Anak Usia 2-3 Tahun

Jurnal Riset Pendidikan Guru PAUD (JRPGP), (Vol. 2. No. 1.

2022), hlm 18

60

tindakan fisik yang menimbulkan rasa sakit, seperti memukul, menjambak dan lain sebagainya.132

Pada observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di Lingkungan Mapak Indah, memukul, menjambak dan semacamnya kerap kali di lakukan antara saudara kandung, berbagai macam faktor penyebabnya, beberapa diantaranya yaitu, yang pada awal nya main karate karate an menjadi serius, saat saling brebutan untuk bermain hp, bahkan ada juga yang tidak tau penyebabnya, maksudnya disini adik nya lagi duduk diam, tiba tiba kakak nya datang menjambak ataupun sebaliknya.133

Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lapangan salah satu bentuk sibling rivalry ini terjadi pada semua subjek, entah itu saudara yang memiliki jenis kelamin perempuan perempuan, laki laki ataupun laki perempuan, mereka semua pernah melakukan salah satu bentuk sibling rivalry ini yaitu memukul dan menjambak, jadi memukul dan menjambak merupakan hal yang kerap kali dilakukan saudara kandung di setiap keluarga yang peneliti observasi dan wawancara, tetapi faktor yang menyebabkan hal ini yang berbeda pada setiap keluarganya, seperti faktor yang menyebabkan saudara lintas generasi yakni generasi Z dan generasi alpha memukul dan menjambak dilakaukaan karena iseng, dimana hal ini di lakukan terlebih dahulu oleh kakak kemudian adiknya membalas hal serupa. Namun hal ini berbeda dengan anak yang memiliki saudara yang satu generasi yakni dari generasi alpha, yang menyebabkan terjadinya bentuk sibling rivalry melukai yakni memukul dan juga menjambak karena di sebabkan oleh saling rebutan hp, mainan, main main bahkan ada yang karena kesal dengan saudara kandungnya, dan tidak tau perasaan kesal tersebut muncul karena apa. Pada saudara dengan generasi yang sama ini kerap kali sibling rivalry

132 Alfina Laili Duumirrotin, dkk,

133 Hasil observasi dan wawancara di lapangan

61

seperti menjambak dan memukul ini di lakukan oleh adik nya terlebih dahulu.134

Orang tua yang memilki anak dengan jenis kelamin yang sama yaitu perempuan perempuan akan lebih kerap menjambak saudaranya, hal ini terjadi pada keluarga yang memiliki anak dengan generasi yang sama ataupun berbeda, namun pada anak yang memiliki jenis kelamin yang berebeda yaitu laki perempuan, atau bahkan yang memiliki jenis kelamin yang sama yaitu laki laki intensitas terjadinya lebih sedikit, hal ini terjadi baik dengan yang lintas generasi ataupun tidak. Lain hal nya dengan memukul, hal ini terjadi antar saudara, yang dimana terjadi pada semua anak baik yang memiliki jenis kelamin yang sama, berbeda, atauoun pada anak yang mempunyai saudara dengan lintas generasi ataupun tidak, tetapi disini anak yang memiliki saudara dengan lintas generasi lebih tau batasan dalam hal memukul.135

Melukai atau melakukan kekerasan secara terang terangan, yang dimana anak melakukan tindakan ini kepada saudaranya entah itu adik ataupun kakanya di depan ibu dan bapaknya secara nyata, maka hal ini disebut sebagai salah satu tanda tanda dari reaksi sibling rivalry atau persaingan antar saudara kandung, maka dari itu orang tua di harapkan mampu mengenali tanda tanda sibling rivalry tersebut.136

4. Cemburu

Cemburu yang timbul pada saudara kandung mengacu pada perasaan iri, persaingan ataupun yang lainnya. Hal seperti ini terjadi jika salah satu saudara kandung memiliki rasa bahwa saudara kandungnya yang lain mendapaatkan hal yang lebih dari orang tua nya entah itu seperti perhatian, kasih sayang ataupun semacamnya.137

134 Hasil Observasi dan Wawancara di Lingkungan Mapak Indah

135 Hasil Observasi dan Wawancara di Lingkungan Mapak Indah

136 tang Sibling

Rivalry...

137 Alfina Laili Duumirrotin, dkk,

62

Bentuk cemburu yang terjadi pada anak di lingkungan mapak indah saat peneliti melakukan observasi dan wawancara, di temukan bahwa anak laki laki dan perempuan sangat berbeda mengekspresikan bentuk kecemburuan yang mereka rasakan. Jika pada, ketika sedang cemburu mereka tidak mau untuk mengatakan langsung kepada orang tua, mereka cenderung gengsi, dan mereka mengekspresikan cemburu tersebut dengan cara mencari perhatian kepada orang tua, agar orang tua melihat dan memperhatikan mereka. Hal ini berbeda dengan anak perempuan, dimana anak perempuan jika mengalami cemburu atas perhatian orang tua yang tertuju pada salah satu saudaranya, maka mereka akan langsung berbicara, seperti melayangkan protes kepada orang tua nya mengapa selalu kakak atau adiknya saja, sedangkan dia tidak. Saudara yang memiliki lintas generasi yakni generasi Z dan generasi alpha juga mengalami hal yang sama, jika di dalam persaudaraan yang lintas generasi ini, kakak yang ketika mengalami cemburu terhadap apa yang orang tuanya lakukan cenderung tidak berbicara mengenai apa yang di rasakan, hal ini terbalik dengan apa yang adiknya alami yang di mana ketika merasakan cemburu atau kakaknya lebih dekat dengan orang tua nya langsung berbicara.138

Penyebab dari terjadinya sibling rivalry yang peneliti temukan di lapangan di sebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu melihat saudaranya lebih dekat dengan ibu atau bapaknya, karena melihat saudara nya yang selalu di bela oleh ibu atau bapaknya, dan bahkan karena hanya salah satu anak yang di belikan mainan atau barang, hal tersebut dapat menjadi penyebab dari timbulnya cemburu pada anak .139

Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lapangan dari sepuluh orang tua generasi Y, dua diantaranya mempunyai anak lintas generasi, yaitu generasi Z dan generasi alpha. Kemudian dari sepuluh orang tua yang menjadi subjek

138 Hasil Observasi dan Wawancara di Lingkungan Mapak Indah

139 Hasil observasi dan wawancara peneliti di Lingkungan Mapak Indah

63

penelitian satu orang tua memiliki anak dengan jenis kelamin perempuan perempuan yakni keluarga dari ibu dengan inisial Y, satu orang tua dengan inisial A memiliki anak yang sama jenis kelamin yang dimiliki, yakni laki laki, dan delapan orang tua lainnya yaitu ibu dengan inisial P, E, N, K, R, S, M, L memiliki anak perempuan dan laki laki. Orang tua generasi Y di lingkungan mapak indah didapatkan masih menggunakan pola asuh otoriter terhadap anak mereka, entah itu yang sama generasi maupun lintas generasi, orang tua tersebut memberikan pola asuh yang sama pada anak mereka, baik yang generasi Z maupun generasi alpha.140

Hurlock menjelaskan bahwa pola asuh yang di berikan oleh orang tua terdapat tiga macam yakni mulai dari pola asuh permisive, pola asuh demokratis dan salah satunya yaitu pola asuh otoriter.141Gunarsa menyebutkan bahwa pola asuh otoriter adalah pola asuh yang menerapkan aturan dan juga batasan mutlak yang harus di taati, tanpa memberi kesampatan pada anaka untuk berpendapat, dan jika anak tidak menaati maka orang tua memberi hukuman kepada anak.142

Dalam lingkungan mapak Indah, di temukan bahwa orang tua generasi Y masih ada yang menggunakan pola asuh otoriter, padahal dikatakan bahwa generasi Y merupakan generasi yang paling dekat dengan perkembangan informasi, dan juga gadget yang masih menerapkan pola asuh otoriter kepada anak anak mereka. Adapun bentuk dari pola asuh otoriter tersebut sebagai berikut :

1. Komunikasi satu arah

Pola asuh dapat di katakan sebagai pola asuh otoriter apabila tidak adanya komunikasi dua arah yang terjadi pada orang tua dan anak, yang dimana orang tua hanya selalu ingin di dengarkan tanpa mau mendengarkan apa pendapat dari anak.

Orang tua dengan pola aasuh otoriter biasanya tidak mengenal

140 Hasil observasi dan wawancara

141

142 Ibid, hlm 35

64

kompromi dan dalam dalam hal komunikasi biasanya bersifat satu arah.143

Hasil observasi dan wawancara yang peneliti temukan di lingkungan mapak indah bahwa orang tua generasi Y kerap kali tidak mendengarkan apa yang anak katakan atau tanyakan.

Orang tua yang memiliki anak dengan lintas generasi yaitu generasi Z dan generasi alpha, dengan adanya saudara yang lintas generasi ini menjadikan anak menjadi lebih berani untuk berkomunikasi dengan orang tuanya, dalam artian disini yaitu mereka lebih berani untuk berbicara dan mengemukakan pendapat pada orang tua mereka, dibandingkan dengan orang tua yang memiliki anak dengan satu generasi, yakni generasi alpha. Saudara yang satu generasi tersebut memang pernah untuk melayangkan pertanyaan, sanggahan ataupun pendapat pada orang tua mereka, tetapi intensitannya tidak sebanyak anak yang memiliki saudara lintas generasi, mereka yang memiliki saudara dengan generasi yang sama yaitu generasi alpha lebih banyak ketakutan yanag mereka rasakan ketika akan berbicara ataupun bertanya pada orang tuanya. Orang tua yang memiliki anak dengan lintas generasi ataupun tidak tetap sama pada dasarnya menggunakan pola asuh otoriter, yang dimana mereka tetap tidak mendengarkan apa yang menjadi keluh dan kesah anaknya, namun disini pada orang tua yang memiliki anak dengan lintas generasi menjadi lebih ekstra. Anak biasanya melayangkan pendapat atau melawan bicara terhadap aturan aturan yang telah di tetapkan oleh orang tua mereka, namun orang tua tetap pada apa yang telah mereka katakan, tidak ingin di sanggah dan di bantah, seperti saat orang tua meminta anak tidur siang, anak yang mengatakan belum terlalu siang untuk tidur dan masih ingin bermain sebentar, tetapi ibu tetap menyuruh anak untuk tidur. Tidak hanya itu, saat orang tua meminta kakaknya mengajak adik nya saat bermain dan kakak nya protes, ibu tetap menyuruh untuk mengajak adiknya bermain, jika tidak di ajak, keduanya diam di dalam rumah.

143 Buyung Surahman, Korelasi Pola Asuh Attachment..., hlm 13

65

Bahkan jika anak mandi dan ibu nya merasa anak nya tidak harum, atau tidak bersih anak akan diminta untuk mandi lagi.144 Hal yang telah di tuangkan dan di dapatkan dari hasil observasi dan juga wawancara yang peneliti lakukan di lapangan menunjukkan bahwa orang tua tersebut masih menggunakan pola asuh otoriter, dimana orang tua yang otoriter adalah sebutan yang di berikan bagi orang tua dengan pola pengasuhan yang diktator, kaku, dan juga tanpa komunikasi pada anak.145

2. Orang tua bersikap tegas

Orang tua yang otoriter menentukan batasan batasan yang tegas pada anak, dan orang tua tidak memberikan anak untuk berbicara. Menurut Bjorklund orang tua yang memiliki gaya pola asuh otoriter menerapkan peraturan untuk anaknya dengan ketat dan sepihak, tanpa adanya kesempatan untuk anak berbicara dan juga berdialog. 146

Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di Lingkungan Mapak Indah, para orang tua generasi Y tegas terhadap anak mereka, terutama dalam hal memberi aturan aturan, aturan yang di buat atau di tetapkan oleh orang tua tersebut tanpa adanya pendapat atau diskusi dengan anak, dan anak tidak boleh melanggar apa yang telah di tetapkan. Dari hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan terlihat bahwa orang tua yang memiliki anak dengan lintas generasi, yakni generasi Z dan generasi alpha lebih sedikit ekstra dalam menetapkan aturan yang telah di buat, hal ini sama dengan orang tua yang memiliki anak dengan jenis kelamin laki laki, berbeda halnya dengan ketika dalam satu keluarga memiliki anak yang berjenis kelamin sama yakni perempuan, anak akan menjadi cenderung pasrah dan mengikuti apa yang orang tuanya katakan, terdapat perlawanan namun intensitasnya tidak sebanyak orang tua yang memiliki anak dengan jenis kelamain

144 Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lingkungan mapak indah

145 Lisda Yuni Mardiah, dkk

146 H. Maimun, Psikologi Pegasuhan : Mengasuh..., hlm 55

Dokumen terkait