• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak sibling rivarly dan pola asuh otoriter orang tua generasi anak generasi alpha (Studi di Lingkungan Mapak Indah Kec. Sekarbela. Kota Mataram)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Dampak sibling rivarly dan pola asuh otoriter orang tua generasi anak generasi alpha (Studi di Lingkungan Mapak Indah Kec. Sekarbela. Kota Mataram)"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

Sibling Rivarly dan Pola Asuh Otoriter Orang Tua Generasi Y Terhadap Interaksi Sosial Anak Generasi Alpha (Studi di Lingkungan Mapak Indah Kec. Sekarbela. Kota Mataram

OLEH :

Qanitah Dwi Putri Mardiahni NIM. 200303017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2023

(2)

Sibling Rivarly dan Pola Asuh Otoriter Orang Tua Generasi Y Terhadap Interaksi Sosial Anak Generasi Alpha (Studi di

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Sosial

OLEH :

Qanitah Dwi Putri Mardiahni NIM. 200303017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2023

(3)

i

(4)

ii

(5)

iii

(6)

iv

(7)

v Motto

(QS. Asy-Syuara: 62)

(8)

vi

PERSEMBAHAN

tua tercinta yaitu bapak dan

mama asi, material dan

segala hal baik yang telah diberikan, sehingga dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Kepada kakak kakak dan adik ku, terima kasih telah memberikan semangat dan dukungan sehingga mampu menyelesaikan karya ini. Tidak lupa juga untuk dosen pembimbing, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan juga memberikan arahan pada skripsi ini, sehingga dapat terselesaikan dengan baik. Kepada para sahabat dan teman teman seperjuangan ku, terima kasih telah menemani dan memberikan dukungan selama ini.

(9)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat dan hidayah Nya peneliti dapat menyusun skripsi ini. Tidak lupa sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW.

Penulis menyadari betul bahwa proses penulisan skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih pada pihak pihak yang telah membantu, sebagai berikut.

1. Muhammad Awwad, M.Pd.I, sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktunya di tengah kesibukan untuk memberikan motivasi, bimbingan dan koreksi mendetail tanpa ada kata bosan yang menjadikan skripsi ini lebih matang.

2. Dr. Khairy Juanda, M.Si dan Syamsul Hadi, M.Pd. sebagai penguji yang telah memberikan saran dan masukan sebagai penyempurnaan skripsi ini.

3. Dr. Mira Mareta, M.A. sebagai Kepala Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.

4. Dr. Muhamad Saleh, M.A. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

5. Rektor UIN Mataram yang telah memberikan wadah bagi penulis untuk menuntut ilmu dan selalu memberikan bimbingan dan wawasan ilmu selama menjalankan perkuliahan di UIN Mataram.

6. Bapak, dan mama, terima kasih atas semua dan segala hal baik yang telah diberikan, sehingga dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

(10)

viii

Semoga Allah SWT. senantiasa membalas semua kebaikan yang telah membantu peneliti selama ini, peneliti sangat menyadari masih banyak terdapat kekuranagan dalam skripsi ini, maka peneliti sangat mengharapkan saran dan kritik agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Mataram...

Penulis

Qanitah Dwi Putri Mardiahni NIM : 200303017

(11)

ix Daftar Isi

Halaman Sampul ...

Halaman Judul ...

Persetujuan Pembimbing ... i

Nota Dinas ... ii

Pernyataan Keaslian Skripsi ... iii

Pengesahan Dewan Penguji ... iv

Halaman Motto ... v

Halaman Persembahan ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xi

Daftar Bagan ... xii

Daftar Lampiran ... xiii

Abstrak ... xiv

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan ManfaatPenelitian ... 7

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 8

E. Telaah Pustaka ... 9

F. Kajian Teori ... 13

1. Sibling Rivalry ... 13

2. Pola Asuh ... 16

3. Anak ... 25

4. Interaksi Sosial ... 27

G. Metode Penelitian 1. Jenis dan Pendekatan ... 28

2. Lokasi Penelitian ... 29

3. Sumber Data ... 29

4. Teknik Pengumpulan Data ... 30

5. Teknik Analisis Data ... 33

6. Validitas Data ... 35

H. Sistematika Pembahasan ... 36

(12)

x

BAB II Bentuk Sibling Rivalry dan Pola Asuh Otoriter Orang Tua Generasi Y di Lingkungan Mapak Indah Kec. Sekarbela. Kota. Mataram

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 38

B. Paparan Data dan Temuan ... 40

C. Pembahasan ... 54

BAB III Dampak Sibling Rivalry dan Pola Asuh Otoriter Orang Tua Generasi Y terhadap Interaksi Sosial Anak Generasi Alpha di Lingkungna Mapak Indah. Kec. Sekarbela. Kota. Mataram A. Paparan Data dan Temuan ... 69

B. Pembahasan ... 76

BAB IV Penutup A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 87

Daftar Pustaka ... 89

Lampiran ... 92

(13)

xi

Daftar Tabel

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Lingkungan Mapak Indah Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Anak Lingkungan Mapak Indah

(14)

xii Daftar Bagan

Bagan 2.1 Struktur Organisasi Lingkungan Mapak Indah

(15)

xiii

Daftar Lampiran Lampiran 1. Lampiran Dokumentasi Kegiatan Lampiran 2. Lembar Observasi

Lampiran 3. Pedoman Wawancara Lampiran 4. Panduan Penentuan Subjek Lampiran 5. Kartu Konsul

Lampiran 6. Surat Izin Penelitian (Dari Kampus UIN Mataram) Lampiran 7. Surat Izin Penelitian (Dari BANGKESBANGPOL) Lampiran 8. Surat Izin Desa (Dari Kelurahan Jempog Baru)

Lampiran 9. Hasil Cek Plagiasi (Dari Perpustakaan UIN Mataram)

(16)

xiv

DAMPAK SIBLING RIVALRY DAN POLA ASUH OTORITER ORANG TUA GENERASI Y TERHADAP INTERAKSI SOSIAL ANAK GENERASI ALPHA (STUDI DI LINGKUNGAN MAPAK

INDAH KECAMATAN SEKARBELA. KOTA MATARAM) ABSTRAK

Oleh

QANITAH DWI PUTRI MARDIAHNI NIM : 200303017

Penelitian ini di latar belakangi mengenai masalah sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dampak dari sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian ini di ketahui bahwa masih ada orang tua generasi Y yang menggunakan pola asuh otoriter, seperti komunikasi yang terjadi hanya satu arah, orang tua yang bersikap tegas dalam artian anak tidak boleh melanggar apa yang telah di tentukan orang tua, menghukum anak, dan membatasi keinginan anak. Orang tua juga tidak terlalu memperhatikan mengenai sibling rivalry yang kerap kali terjadi pada anak anak mereka seperti, marah, melukai, cemburu, dan memaki yang terjadi anatar saudara kandung. Pola asuh otoriter dan sibling rivalry ini memberikan dampak pada interaksi sosial anak, di antaranya yaitu anak menjadi pemalu, jika berjalan cenderung menunduk ke bawah, tidak mau kalah atau selalu ingin menang, dan apa yang di katakan harus di dengarkan oleh teman teman nya yang lain. Tidak hanya itu hal tersebut dapat menimbulkan anak menjadi membenci saudara kandungnya, anak menjadi ringan tangan, dan suka berkata yang kurang sopan pada orang lain.

Kata Kunci : Sibling Rivalry, Pola Asuh Otoriter, Interaksi Sosial.

(17)

1 BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang

Orang tua menurut Thamrin Nasution adalah orang yang bertanggung jawab atas suatu keluarga atau suatu rumah tangga.

Orang tua juga dapat di definisikan sebagai orang dewasa yang akan membawa anaknya sampai perkembangan dewasa.1 Orang tua merupakan panutan yang mempengaruhi perkembangan karakter anak nantinya. Orang tua tidak hanya mengajarkan tetapi orang tua juga melakukan, sebab anak masih membutuhkan segala sesuatu yang bersifat nyata.2

Orang tua generasi Y disini adalah generasi yang lahir pada tahun 1980 sampai dengan tahun 2000, generasi Y atau yang lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial merupakan generasi yang peka terhadap perubahan informasi, gaya hidup dan juga gadget.3 Sedangkan anak generasi A atau yang biasa disebut dengan anak generasi alpha disini adalah lanjutan dari generasi Z. Generasi A adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010 dan menjadi generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa. Anak generasi alpha berada pada usia keemasan, yang di mana periode ini perkembangan anak terjadi sangat pesat dan tak akan terulang lagi pada periode berikutnya.4

Tempat dimana anak pertama dapat berinteraksi yaitu adalah keluarga. Tentu sangat besar pengaruh keluarga dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian anak. Salah satu faktor dalam keluarga yang memiliki peran dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian anak adalah pola asuh yang di terapkan

1

Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol 2, Nomor 1, 2020, hlm.

78. 2 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), hlm.

415.

3 Harries Mdiistriyanto, dkk, Generasi Milenial Tantangan Membangun Komitmen Kerja/Bisnis dan Adversity Quotient (AQ), (Tanggerang: Indigo Media, 2020), hlm. 8.

4

Jurnal Educhild (Pendidikan & Sosial), Vol. 8, Nomor 2, 2019), hlm 66

(18)

2

oleh orang tua.5 Hurlock membagi pola asuh orang tua ke dalam tiga macam yaitu, pola asuh permissive, pola asuh otoriter dan pola asuh demokratis.6

Sedangkan pola asuh dalam Islam disini memliki konsep tersendiri yakni konsep pola asuh dalam Islam lebih berorientasi pada praktik pengasuhan, bukan pada gaya pola asuh dalam sebuah keluarga. Nashih Ulwan mendiskripsikan pengasuhan yang lebih mengarah pada pola pendidikan yang berpengaruh terhadap anak, yaitu pola asuh yang bersifat keteladanan, bersifat nasehat, pola asuh dengan perhatian atau pengawasan, pendidikan dengan adat kebiasaan, dan perhatian terhadap moral anak. 7

Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan saat ini masih terdapat orang tua generasi Y yang tidak paham mengenai bagaimana penerapan pola asuh yang baik pada anak. Bahkan tidak jarang juga orang tua menyamaratakan semua anak mereka, salah satu contoh yang peneliti temukan saat melakukan observasi yaitu, mengenai kemampuan anak, banyak orang tua yang menganggap bahwa ketika anak nya yang satu bisa matematika maka anaknya yang lain juga harus bisa, bahkan orang tua tersebut secara terang terangan menyebutkan anak nya bodoh, dan lebih pintar anak yang satu nya, hal tersebut dikatakan di depan anak tersebut dan terdapat juga orang lain disana. Padahal setiap anak memiliki kemampuan ataupun ciri khas yang berbeda beda, bahkan anak kembar sekalipun tidak bisa memiliki kemampuan ataupun ciri khas yang seratus persen sama, pasti mereka memiliki perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.8

Individu disini mempunyai pengertian yaitu suatu kesatuan yang masing masing memiliki ciri khasnya, dan karena itu tidak

5 Bahran Taib, Analisis Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Moral Anak , Jurnal Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini , Vol. 3, Nomor 1, 2020, hlm. 128.

6 ng Tua Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Anak (Studi Kasus Pada Masyarakat Dayak di Kecamatan Halong Kabupaten Jurnal Kewarganegaraan, hlm 35.

7 Ulin Nafiah, dkk, Jurnal

Studi Kemahasiswaan, Vol. 1, Nomor 2, 2021, hlm. 162.

8 Hasil observasi yang dilakukan peneliti di lapangan

(19)

3

ada dua individu yang sama, satu dengan yang lainnya berbeda, hal ini di paparkan oleh Hamalik.9 Perbedaan individu dapat dilihat dari dua segi, diantaranya yakni, segi horizontal dan segi vertikal. Dari segi horizontal, setiap individu berbeda dengan individu lainnya dalam aspek mental, contohnya seperti, tingkat kecerdasan, kemampuan, minat, ingatan, emosi, kemauan dan lain sebagainya.

Dari segi vertikal, tidak ada dua individu yang sama dalam aspek jasmani seperti bentuk ukuran, kekuatan, dan daya tahan tubuh. Jadi setiap anak tidak bisa disama ratakan apalagi dibanding bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut sangat berdampak pada anak.10

Pada observasi yang peneliti temukan di lapangan, tidak sedikit pula orang tua yang mengharuskan anak untuk mengikuti apa yang mereka inginkan tanpa mendengarkan pendapat dari anak tersebut, contohnya seperti anak ingin bertanya mengenai suatu hal yang basic, tetapi orang tuanya tidak suka jika anaknya banyak bertanya, maka anak tersebut di minta untuk diam tanpa alasan dan dengan intonasi suara yang keras, padahal di usia anak anak tersebut memang masih banyak rasa penasaran dan ingin tahunya. Namun saat ibunya mengatakan diam maka anak tersebut harus diam, jika dia berbicara ibu tersebut akan marah.11

Tidak hanya itu, dari hasil wawancara peneliti kepada anak disebutkan bahwa ketika terjadi perkelahian tidak jarang adik nya yang selalu di bela dan kakaknya yang selalu di marahi oleh ibu nya.

Hal tersebut yang terkadang membuat salah seorang anak timbul rasa tidak suka, iri dan rasa persaingan di dalam dirinya. Orang tua cenderung tidak memperhatikan hal hal tersebut.12

Padahal secara teori sibling rivalry atau persaingan antar saudara merupakan hal yang biasa di dalam keluarga namun sibling rivalry harus mendapatkan perhatian orang tua karena penanganan yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah yang berkelanjutan.

9

Jurnal Inspirasi, Vol. 1, Nomor. 1, 2017, hlm. 74.

10 hlm. 74.

11 Observasi dilakukan dengan subjek Y

12 Hasil wawancara

(20)

4

Bila pertengkaran yang terus menerus dipupuk sejak kecil akan terus meruncing saat anak anak beranjak dewasa, anak anak akan terus bersaing dan saling memiliki rasa iri, dengki dan perselisihan saudara kandung atau yang biasa disebut dengan sibling rivalry bisa berkelanjutan sepanjang hidup anak. Sibling rivalry sendiri merupakan fenomena persaingan yang menimbulkan kecemburuan antara saudara kandung.13

Sibling rivalry seperti ini sering kali terjadi di lapangan, namun seringkali orang tua tidak memahami mengenai hal tersebut.

Membanding bandingkan anak, memperlakukan anak berbeda secara terang terangan dapat menimbulkan sibling rivalry, tetapi di lapangan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa hal hal tersebut dapat menimbulkan masalah pada anak, entah itu sekarang ataupun kedepannya. Banyak orang tua yang menganggap hal tersebut adalah hal yang bisa, sehingga banyak dari orang tua yang cenderung membiarkan masalah masalah tersebut terjadi. Dan hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang serius untuk anak entah itu saat ini ataupun kedepannya.14

Dampak serius yang di timbulkan akibat dari terjadi nya sibling rivalry yaitu timbulnya rasa iri terhadap saudaranya sendiri, timbulnya rasa benci terhadap saudaranya, seperti yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara kepada anak yang di perlakukan dengan dibeda bedakan oleh orang tuanya yaitu, jika di tanya apakah mereka sayang dengan saudaranya dan mereka menjawab tidak, tidak hanya itu bahkan ada yang sampai tidak memberikan saudaranya untuk tidur di rumahnya, dalam artian jika ada adiknya yang tidur di rumah orang tua nya, tidak jarang adiknya melarang kakaknya untuk ikut tidur di rumahnya, kakaknya di minta untuk tidur di rumah nenek dan kakeknya, dan begitupun sebaliknya. Hal tersebut sampai membuat anak beranggapan bahwa saudaranya lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari pada dirinya, hal tersebut membuat anak merasa berkecil hati dan menimbulkan rasa

13 11

Tahun di Cisarua Kabupa Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, Vol. 4, Nomor. 2, 2018, hlm. 164.

14 Hasil observasi di lapangan

(21)

5

penuh dengan kebencian, seperti contoh yang peneliti lihat dilapangan yaitu, saudara yang saling membenci antara satu dengan yang lainnya.15

Jika sibling rivalry dibiarkan dan di anggap masalah yang sepele oleh orang tua, maka hal tersebut bisa terus terjadi sampai anak dewasa, dan menimbulkan ketegangan antara satu dengan yang lainnya dan dapat menumbuhkan rasa benci yang lebih besar kepada saudara bahkan orang tuanya.16

Orang tua juga seringkali menuntut anak untuk bisa atau dapat melakukan sesuatu hal sesuai dengan apa yang diinginkan dan dicita citakan oleh mereka, padahal tidak jarang anak dan orang tua memiliki perbedaan pendapat dalam beberapa hal, namun disini pada akhirnya sifat otoriter yang digunakan oleh orang tua. Pada saat anak melakukan suatu kesalahan orang tua sering kali tidak memberi perhatian kepada anaknya, orang tua cenderung lebih sering marah, menakut nakuti anak tentang suatu hal yang di takuti anak, bahkan terdapat juga yang memberikan respon atau reaksi dengan amarah yang kasar, seperti mencubit, memukul dan lain sebagainya.17

Fenomena kesalahan pola asuh sangat banyak terjadi di lapangan saat ini entah itu seperti kekerasan fisik, mental dan lain sebagainya. 18 Tentu hal tersebut tidak dapat membuat anak menjadi bebas dan leluasa dalam berekspresi. Seperti jika anak banyak bertanya, orang tua cenderung sering menyuruh anak mereka untuk diam, tidak jarang juga mereka mengatakan anak mereka cerewet, banyak omong dan lain sebagainya.19

John Locke memberikan pandangan yakni bayi yang dilahirkan seperti tabula rasa atau kertas kosong, pikiran anak merupakan hasil dari pengamalan dan proses belajar melalui lingkungan dan

15 Hasil wawancara dengan subjek anak generasi alpha

16

Jurnal Audhi, Vol. 2, Nomor.

1. 2019, hlm. 30.

17 Ibid, hlm 30

18 Hamdanah HM., Psikologi Perkembangan, (Jawa Timur: Setara Press, 2009), hlm. 66

19 Hasil observasi peneliti di lapangan

(22)

6

diperoleh melalui indera membentuk manusia menjadi individu yang unik.20

Tahap perkembangan anak, jika ditarik garis besarnya dimulai dari masa bayi sampai dengan masa akhir dipengaruhi oleh faktor biologi dan lingkungan. Jika tugas perkembangan anak tidak terselesaikan atau terpenuhi dengan baik maka, hal tersebut dapat berdampak negative terhadap kehidupan anak.21

Anak adalah generasi penerus bangsa, keberadaan anak penting untuk menentukan bagaimana nasib sebuah bangsa ke depannya.

Maka dari itu faktor pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku, dan interaksi sosial anak. Wujud pola asuh otoriter mempunyai ciri khas orang tua yang suka memberi hukuman, mempunyai sifat tegas, kurang mempunyai simpati dan mengungkapkan kasih sayang, kerap menghalangi keinginan anak, serta memberi paksaan agar anak mematuhi peraturan yang dibuat. Kecenderungan pola asuh otoriter mengakibatkan anak menjadi mudah gugup, ragu-ragu, tidak disiplin dan inisiatif.22 Pola asuh yang tidak baik akan membentuk dan berdampak pada kepribadian anak yang tidak baik pula.23

Padahal disini generasi Y yang menjadi orang tua disebut sebagai generasi yang peka terhadap perubahan informasi, gaya hidup, dan juga gadget, dan jika kita lihat sudah banyak sekali informasi yang di berikan oleh para ahli entah itu melalui gadget ataupun yang lainnya mengenai pola asuh yang baik, dan persaingan yang terjadi pada anak atau sibling rivalry. Tetapi disini orang tua seakan tidak peduli dengan hal itu. Ini lah yang menjadi salah satu alasan peneliti menganfkat judul ini.

20 Kayyis Fithri Ajhuri, M.A, Psikologi Perkembangan Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Yogyakarta: Media Pustaka, 2019), hlm 104

21 Journal of

Innovative Counseling, Vol, 3. Nomor. 2, 2019, hlm. 83.

22 Lisda Yuni Mardiah, dkk, "Dampak Pengasuhan Otoriter Terhadap Perkembangan Sosial Anak", JCE (Journal of Childhood Education), Vol. 5, Nomor 1, 2021, hlm. 83.

23 Ibid, hlm 88

(23)

7 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah peneliti jelaskan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu,

1. Bagaimana bentuk perilaku sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y di Lingkungan Mapak Indah Kec.

Sekarbela, Kota Mataram?

2. Bagaimana dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha di Lingkungan Mapak Indah Kec. Sekarbela, Kota Mataram?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui,

a. Untuk mengetahui bentuk perilaku sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y di Lingkungan Mapak Indah, Kec. Sekarbela, Kota Mataram.

b. Untuk mengetahui dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha di Lingkungan Mapak Indah, Kec.

Sekarbela, Kota Mataram.

2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis

Manfaat dari dilakukan nya penelitian ini yaitu agar mampu menambah pengetahuan dan memperluas pengetahuan mengenai apa saja dampak yang ditimbulkan dari sibling rivalry dan pola asuh otoriter terhadap interaksi sosial anak di lingkungan mapak indah.

b. Secara Praktis

1) Bagi orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi orang tua yang sedang melakukan pola asuh pada anak mereka menggunakan pola asuh otoriter, khususnya bagi orang tua di lingkungan mapak indah, kelurahan jempong baru, kecamatan sekarbela, yang dimana anak mereka masih berada dalam fase anak anak. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan

(24)

8

gambaran dan mengetahui bagaimana dampak pola asuh otoriter dan sibling rivalry pada interaksi sosial anak.

2) Bagi Pembaca

Manfaat bagi pembaca yaitu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi, bahan referensi dasar untuk penelitian lainnya yang berkaitan dengan dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha, khususnya di lingkungan mapak indah pada tahun 2023.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Peneliti membuat batasan dalam melakukan penelitian ini, peneliti hanya membahas kepada hal hal yang ada hubungannya dengan rumusan masalah yang sudah di tuliskan Sibling Rivalry dan Pola Asuh Otoriter Orang Tua Generasi Y Terhadap Interaksi Sosial Anak Generasi Alpha Studi di Lingkungan Mapak Indah, Kec.

2. Setting Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan tempatnya di Lingkungan Mapak Indah. Kelurahan Jempong baru. Kecamatan Sekarbela. Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), lokasi ini merupakan tempat yang strategis bagi peneliti untuk melakukan pebelitian mengenai dampak sibling rivalry dan pola asuh otoriter orang tua generasi Y terhadap interaksi sosial anak generasi alpha.

Alasannya disini yakni karena masih banyak orang tua generasi Y yang membiarkan terjadinya sibling rivalry pada anak anak mereka, dan mengenai pola asuh yang di terapkan oleh orang tua generasi Y di lingkungan mapak indah, kec. Sekarbela kota Mataram ini masih menggunakan pola asuh otoriter, pdahal generasi Y di sebut sebagai generasi yang melek akan perubahan informasi, dan perkembangan gadget, yang dimana sudah banyak para ahli yang berbicara dan memberikan informasi baik di media cetak maupun media sosial mengenai sibling rivalry dan pola asuh yang baik untuk di berikan pada anak, tetapi disini

(25)

9

masih banyak sekali orang tua generasi Y yang seakan akan menutup mata mengenai hal tersebut, dan menganggap bahwa apa yang di lakukan pada anak nya merupakan yang terbaik tanpa ada nya diskusi dengan anak terlebih dahulu.

E. Telaah Pustaka 1.

Otor

bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoriter orang tua bagi kehidupan social anak. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif Kualitatif.

Responden dalam penelitian ini diambil dengan teknik pengumpulan data menggunakan identifikasi wacana dari jurnal-jurnal yang ada di internet. Untuk analisis data menggunakan reduksi data, display data, serta menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter sangat berpengaruh banyak terhadap kehidupan anak.

Dimana terdapat banyak pengaruh buruk dengan adanya pola asuh otoriter terhadap kehidupan anak. Dimana pola asuh otoriter mengakibatkan perilaku sosial anak akan menjadi buruk, pola asuh otoriter yaitu suatu perilaku membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah - perintah orang tua. Anak tidak memiliki kebebasan untuk berpendapat bahkan anak memiliki rasa takut yang tinggi karena takut berbuat salah dan anak takut akan hukuman yang diberikan oleh orang tua jika anak melakukan kesalahan, anak selalu merasa cemas bahkan tidak percaya diri serta dalam bersosial anak cenderung lemah. Cenderung suka menyendiri dan berdiam diri.24 Perbedaan dan persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Chintia Wahyuni Puspita Sari. Persamaan penelitian ini adalah sama sama menggunakan metode penelitian kualitatif. Perbedaannya yaitu peneliti ini menggunakan topik permasalahan yang lebih spesifik mengenai gambaran dampak sibling rivalry dan pola

24

Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol. 2. Nomor. 1, 2020, hlm. 76 80 .

(26)

10

asuh otoriter orang tua generasi Y pada interaksi soial anak generasi alpha. Subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah anak generasi alpha di lingkungan mapak indah, sedangkan subjek yang digunakan Chintia Wahyuni Puspita Sari yaitu pengumpulan data menggunakan identifikasi wacana dari jurnal-jurnal yang ada di internet.

2.

Orang Tua Dalam Penanganan Fenomena Sibling Rivalry Pada ujuan untuk menggambarkan bagaimana strategi penanganan yang dilakukan orang tua orang pada fenomena Sibling Rivalry pada anak usia pra sekolah 3-6 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini disebutkan bahwa masing masing orang tua memiliki strategi penanganan pada fenomena sibling rivalry ini. Strategi penanganan pada fenomena sibling rivalry pada anak pada 5 subjek penelitian hampir sama yakni tidak bersikap pilih kasih, tidak membandingkan anak satu sama lain, dan bersikap adil, serta juga mengajarkan sikap berbagi antar saudara kandung.

Begitu pula bagaimana masing masing peran orang tua dalam kehidupan anak.25 Persamaan pada penelitian ini adalah pada metode penelitian yang digunakan, yaitu metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun perbedaan pada penelitian Annisa Ayu Marhamah pembahasannya lebih berfokus pada strategi penanganan sibling rivalry, sedangkan pada penelitian ini berfokus pada dampak nya.

3.

Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Moral pola asuh otoriter orang tua terhadap perkembangan moral anak.

Metode yang digunakan yaitu metode kualitatuf. Hasil dari

25

Fenomena Sib Jurnal Audhi, Vol. 2. Nomor 1,

2019, hlm. 30 36.

(27)

11

penelitian ini yaitu pola asuh otoriter orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak. Pola asuh otoriter bisa berdanpak positif dan negatif. Dampak negatif dimana jika anak tidak merasakan kebahagian dengan aturan yang di berikan orang tua anak menjadi keras kepala, menjadi tidak disiplin, cenderung ragu, mudah gugup, merasakan ketakutan, cemas, merasa minder jika di bandingkan dengan orang lain, tidak mampu memulai aktifitas, serta kemampuan komunikasinya tergolong rendah. Pola asuh otoriter ini menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak, inisiatif dan aktifitasnya menjadi kurang, sering membangkang pada orang tua dan cenderung tidak lagi menghargai orang yang lebih tua. Namun pada penelitian-penelitian sebelumya yang sudah di lakukan oleh beberapa peneliti ada yang berpendapat bahwa, pola asuh otoriter juga berdampak positif terhadap perilaku moral anak, seperti, anak rajin ibadah dan sopan serta taat kepada orang tua. Meskipun pola asuh otoriter memiliki dampak negatif, tetapi pola asuh otoriter juga memiliki dampak positif pada perkembangan anak khususnya perkembangan moral anak.

Karena anak usia dini membutuhkan arahan dari orang tua untuk bisa mengembangkan aspek moralnya sehingga pola asuh otoriter bisa diterapkan pada orang tua yang memiliki anak usia dini untuk mengembangkan aspek moralnya agar tidak terjebak pada kenakalan remaja. kehidupan lingkungan dan budaya yang hampir setiap hari kita temui perilaku - perilaku yang di dapatkan di lingkungan masyrakat bahwa anak-anak tidak lagi menghargai orang yang lebih tua, suka membentak orang tua, dan tidak mau melakukan sholat atau ibadah, sehingga orang tua boleh menerapkan pola asuh otoriter karena sikap otoriter yang di terapkan oleh orang tua juga bisa mengubah tatanan nilai tertentu pada anak atau pada kehidupan keluarga.26 Persamaan penelitian ini adalah sama sama menggunakan metode kualitatif. Adapun perbedaannya adalah jika penelitian ini lebih

26 Bahran Taib,Analisis Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Moral Anak, Jurnal Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini , Vol. 3, Nomor. 1, 2020, hlm. 128 137.

(28)

12

berfokus melakukan observasi dan wawancara terhadap anak dan orang tua nya langsung, sedangkan penelitian Bahran Taib hanya menggunakan analisis analisis jurnal atau penelitian penelitian terdahulu.

4. Septian Andriyani, Dadan

tentang Sibling Rivalry pada Anak Usia 5-11 Tahun di Cisarua mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang sibling rivalry pada anak. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 5-11 tahun yang memiliki adik dengan jarak yang berdekatan dengan jumlah 48 orang. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan ibu tentang sibling rivalry hampir setengahnya dari responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 18 orang (37,5%). Hampir setengahnya dari responden memiliki latar belakang pendidikan SD yaitu sebanyak 23 orang (47,9%), dan sebagian besar berusia 20-35 tahun yaitu sebanyak 35 orang (72,9%). Hal ini dapat disebabkan salah satunya oleh sebagian besar ibu masih beranggapan bahwa sibling rivalry adalah sesuatu yang wajar dan sering terjadi pada anak-anak usia 5-11 tahun dan ibu beranggapan bahwa sibling rivalry muncul karena kesalahan orang tua sendiri karena orang tua terlalu tegas dalam menjalankan aturan kepada anak-anaknya.27 Adapun persamaan dan perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian Septian Andriyani. Persamaan penelitian ini yaitu, pada pokok pembahasan yang membahas mengenai sibling rivalry pada anak. Perbedaannya yaitu pada penelitian Septian Andriyani menggunakan metode penelitian kuantitaf, sedangkan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.

27 11

Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, Vol. 4. Nomor. 2. 2018, hlm. 162 170.

(29)

13 F. Kajian Teoritik

1. Sibling Rivalry

a. Definisi Sibling Rivalry

Sibling rivalry adalah persaingan antar saudara, sikap terhadap saudara, seperti, iri hati, merasa tidak adil.28 Pertengkaran yang terjadi antar saudara ini kerap didasari oleh rasa bersaing yang diwarnai oleh rasa permusuhan dan iri. Para psikolog menamakan persaingan antar saudara seperti yang terjadi pada kakak dan adik sebagai sibling rivalry, atau persaingan antar saudara sekandung.29

Shaffer menjelaskan bahwa sibling rivalry merupakan terjadinya persaingan, kecemburuan, kemarahan, dan juga kebencian antara saudara kandung yang menyangkut mengenai banyak hal seperti pendidikan dan kasih sayang orang tua.30

Menurut Freud persaingan saudara kandung adalah persaingan untuk cinta orang tua. Persaingan ini lebih banyak dilihat di masa kanak-kanak dibanding di masa dewasa.

Permusuhan yang dirasakan seorang anak terhadap saudara kandung biasanya tidak di katakan pada siapapun. Tetapi anak akan lebih menunjukkan dengan perilaku-perilaku yang tidak gampang untuk diterima orang tua dan lebih buruknya mereka akan bersikap menjauhi orang tua.31

Menurut ahli, perselisihan, perkelahian, pertengkaran, atau sekadar adu mulut yang terjadi diantara saudara merupakan suatu hal yang sangat biasa. Frekuensi terbanyak

28 Dwi Nastiti, Buku Ajar Thematic Apperception Test Dan Children Apperception Test ( Pengantar Dan Manual Penggunaan, (Sidoarjo: Umsida Press, 2018), hlm. 17.

29 Imam Ahmad Lbnu Nizar, Membentuk & Meningkatkan Disiplin Anak Sejak Dini, (Jogjakarta: Diva Press, 2009), hlm. 131.

30 David R. Shaffer, Developmental Psycology Childhood And Adolesence, 6th Ed, (Canada:

Thomson,Learning, 2002), hlm 482

31 Dian Putriana Latipun Rr. Siti Suminarti Fasikhah, SMCT Guide: Sibling Management Cooperative Technique untuk Mengurangi Persaingan Saudara Kandung pada Anak yang Memiliki Saudara Berkebutuhan Khusus, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2019), hlm. 3.

(30)

14

terjadi pada anak-anak usia sekolah, yakni sekitar usia 8-12 tahun, di mana berbagai aspek dan sarana persaingan sudah lebih berkembang dan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, persaingan akan berkurang dan semakin lama semakin berakhir setelah anak menginjak remaja. Namun, bukan berarti tidak mungkin rasa iri ini berlanjut sampai dewasa atau bahkan setelah mereka tua.32 b. Aspek Aspek Sibling Rivalry

1) Berperilaku agresif atau resesment (keksalan, kemaran, atau kebencian)

Perasaan kesal dan marah akibat dari perlakuan yang berbeda dari orang tua dilampiaskan keapada saudara kandungnya yakni kakak atau adik.

2) Kompetisi atau semangat untuk bersain (tidak suka mengalah)

Persaingan antar saudara kandung ini mengakibatkan salah satu antara saudara kandung berusaha menang dari saudaranya atau tidak suka mengalah dari saudaranya yang lain.

3) Perasaan iri dengan mencari perhatian

Perasaan iri ini biasanya ditunjukkan dengan mencari perhatian orang tua secara berlebihan.33

c. Faktor Penyebab Sibling Rivalry

Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya persaingan antar saudara kandung, beberapa faktor terjadinya persaingan saudara kandung tersebut di antaranya adalah :

1) Perasaan cemburu : akibat dari rasa cemburu yang timbul dengan saudaranya, anak selalu terpacu untuk melakukan pertengkaran.

2) Proses tahapan perkembangan: terjadinya persaingan antar saudara kandung salah satunya karena keterampilan sosial anak yang belum sepenuhnya matang.

32 Imam Ahmad Lbnu Nizar, Membentuk & Meningkatkan..., hlm. 132.

33 David R. Shaffer, Developmental Psychology..., hlm 482

(31)

15

3) Penciptaan identitas : anak mencari tahu siapa dirinya di dalam keluarga, kepribadian atau tingkat tempramen anak.

4) Modeling: anak melakukan apa yang mereka lihat.

5) Lapar, lelah, atau bosan 6) Kurang perhatian

7) Stress: hal ini terjadi baik pada orang tua maupun anak.34 Selain faktor yang disebutkan diatas, terdapat beberapa sebab mendasar lainnya yang bisa menimbulkan permusuhan pada saudara, walaupun biasa nya pemicu pertengkaran itu sendiri sering kali adalah hal sepele. Beberapa di antaranya, yaitu:

1) Pertama, berebut kasih sayang

anak seolah berlomba untuk merebut kasih sayang dengan cara menyenangkan hati ayah atau ibunya. Bila yang satu berhasil, yang lain kecewa, cemberut, lalu ngambek.

Semua ini mereka lakukan untuk menyenangkan hati ayah atau ibu nya, dengan harapan anak tersebut mendapat perhatian dan kasih sayang lebih dari saudara kandungnya. Setiap anak ingin dirinya yang paling disayang.35

2)

Terdapatnya anak emas dalam keluarga juga dapat menjadikan bibit timbulnya tingkah laku bersaing antar saudara.

3) Ketiga, tidak suka tapi tak kuasa

Aturan, teguran, atau perlakuan lain yang diberikan oleh orang tua yang sebenarnya berniat baik, belum tentu bisa diterima anak dengan baik pula. Karena tak kuasa melawan atau karena memang tidak memberi kesempatan pada anak untuk membantah, maka kekesalan yang di rasakan oleh anak kerap kali dilampiaskan pada hal lain.

34 Ibid, hlm. 4.

35 Imam Ahmad Lbnu Nizar, Membentuk & Meningkatkan..., hlm. 133.

(32)

16

4) Keempat, rasa yang kurang dihargai.36 d. Dampak Sibling Rivalry

Persaingan saudara kandung yang terjadi dapat bervariasi dalam intensitasnya, mulai dari hanya berupa gangguan sampai berupa kemarahan yang hebat. Anak dengan tempramen yang sulit akan lebih mudah tersinggung dan agresif terutama dengan saudara kandung dan juga teman sebayanya. Sehingga hal ini membuat anak kesulitan melakukan penyesuaian terhadap sosialnya hingga terjadinya persaingan saudara kandung. Sementara itu rasa iri dan kemarahan dapat menyebabkan anak memiliki perasaan tidak berharga hingga berujung pada depresi, kecemasan, dan keluhan somatik lainnya, hal ini jika tidak ditangani dengan tepat oleh orang tua.37

Pada umumnya, ketika anak beranjak dewasa persaingan yang terjadi antar saudara pada anak dapat hilang dengan sendirinya. Namun keadaan psikologis setelah itu dapat menjadi dampak yang merugikan untuk anak itu sendiri ataupun keluarganya. Dampak seperti keterampilan sosial yang tidak cukup baik, kurang mampu memecahkan masalah dengan baik, dan juga menyimpan dendam atau tidak memiliki hubungan yang baik dengan saudara di kemudian hari, jika perilaku bersaing tidak tertangani oleh ahlinya.38 2. Pola Asuh

a. Definisi Pola Asuh

Menurut kamus besar bahasa indonesia, pola memiliki arti corak, model, sistem, cara, bentuk, dan struktur yang tetap.

36 Ibid, hlm. 134.

37 Dian Putriana Latipun Rr. Siti Suminarti Fasikhah, SMCT Guide: Sibling Management..., hlm. 4.

38 Ibid, hlm 19

(33)

17

Sedangkan asuh berarti menjaga atau merawat dan mendidik, membimbing, dan memimpin.

Pola asuh adalah suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak, dimana orang tua memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan, dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orangtua agar anak dapat mandiri,tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal, memiliki rasa percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat,dan berorientasi untuk sukses.39

Sementara dalam perspektif psikologi pola asuh diartikan sebagai bentuk perhatian yang diberikan orang tua kepada anak untuk berkembang, artinya yaitu suatu proses untuk menjalin relasi antara orang tua dan anak sehingga akan timbul rasa percaya, rasa kasih dan sayang yang dijalin terus menerus secara berkesinambungan.40

Thoha, menjelaskan bahwa pola asuh orang tua merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orangtua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. selain itu juga merupakan pemberian aturan- aturan hidup yakni pengajaran dan pemberian sangsi jika melanggar dari orang tua untuk anak agar anak dapat menjadi baik sesuai apa yang diharapkan orang tua. Oleh karenanya pengasuhan orang tua adalah inetraksi positif/negatif antara orang tua dan anak yang meliputi kegiatan pemeliharaan, pembimbingan, pendidikan, serta pelatihan sikap mental kemandirian, tanggung jawab dan disiplin untuk mencapai proses menjadi dewasa.

Selanjutnya Gunarsa mengatakan bahwa pola asuh adalah metode yang dipilih orang tua dalam mendidik anak-anaknya dan menggambarkan bagaimana orang tua memperlakukan anak.41 Sedangkan Casmini mengatakan bahwa pola asuh

39 Buyung Surahman, Korelasi Pola Asuh Attachment Parenting Terhadap

Perkembangan Emosional Anak Usia Dini, (Bengkulu: Cv. Zigie Utama, 2021), hlm. 11.

40 Hayati Nufus, La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan Belajar Anak , (Ambon: LP2M IAIN, 2020), hlm. 17.

41 Hayati Nufus, La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu ..., hlm. 16.

(34)

18

adalah cara orang tua memberlakukan, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai kedewasaan hingga upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan pada umumnya tercapai.42 b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Mindel dalam Walker menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua dalam keluarga, diantaranya yaitu :

1) Budaya setempat, yang meliputi norma, aturan dan adat serta budaya yang berkembang di daerah tertentu.

2) Ideologi orangtua, orangtua cenderung akan menurunkan ideologi yang dianut dengan harapan bahwa nilai-nilai yang ada dalam ideologi tersebut akan menjadi sikap mental dalam diri anak-anaknya.43

3) Letak geografis dan norma-norma etis. Letak suatu daerah akan menentukan kebiasaan dan budaya pada komunitas tertentu, seperti orang yang tinggal di daerah perkotaan tidak akan sama pola hidupnya dengan orang yang tinggal di wilayah pedesaan.

4) Orientasi religius orang tua yang menganut agama dan keyakinan. Orang tua yang mempunyai agama dan keyakinan tertentu selalu ingin anak-anaknya mengikuti agama dan keyakinannya.

5) Status ekonomi. Keadaan ekonomi seseorang sangat berpengaruh terhadap pola pengasuhan yang diberikan kepada anak-anaknya yang cenderung dianggap oleh orang tua sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak.

6) Bakat dan kemampuan orangtua. Orang tua yang cerdas akan sangat mudah memahami karakteristik, minat, dan bakat anak, sehingga pola pengasuhan orang tua disesuaikan dengan kondisi anak.

42 Ibid, hlm. 17.

43 Ibid, hlm. 25.

(35)

19

7) Gaya hidup, gaya hidup komunitas tertentu sangat menentukan pola asuh antara orang tua dan anak.

Wahyuni mengatakan bahwa dalam mengasuh dan mendidik anak, orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pengalaman masa lalu yang berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orang tua mereka, tipe kepribadian orang tua, nilai yang dianut orang tua, kehidupan orang tua dan alasan orang tua mempunyai anak.44

Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas ada beberapa faktor lain yang dianggap berpengaruh terhadap pola pengasuhan orang tua, antara lain adalah : 1) Faktor sosial ekonomi

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa orang tua yang berasal dari kelas ekonomi menengah cenderung lebih bersifat hangat dibanding orang tua yang berasal dari kelas sosial ekonomi bawah. Orang tua dari golongan ini cenderung menggunakan hukuman fisik dan menunjukkan kekuasaan mereka.

Orang tua dari kelas ekonomi menengah lebih menekankan pada perkembangan keingintahuan anak, kontrol dalam diri anak, kemampuan untuk menunda keinginan, bekerja untuk tujuan jangka panjang dan kepekaan anak dalam berhubungan dengan orang lain. Orang tua dari golongan ini lebih bersikap terbuka terhadap hal-hal yang baru.

2) Faktor tingkat pendidikan

Dari berbagai hal pendidikan ditemukan bahwa orang tua yang bersikap demokratis dan memiliki pandangan mengenai persamaan hak antara orang tua dan juga anak cenderung berkepribadian tinggi.

Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi dalam praktek pola asuhnya terlihat sering membaca artikel ataupun mengikuti kemajuan

44 Ibid, hlm. 26.

(36)

20

pengetahuan mengenai perkembangan anak. Dalam mengasuh anaknya mereka menjadi lebih siap dalam memiliki latar belakang pengetahuan yang luas, sedangkan orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan rendah memiliki pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan perkembangan anak, kurang menunjukkan pengertian dan cenderung mendominasi anak.45 3) Jumlah anak

Pola asuh yang diberikan orang tua juga dipengaruhi oleh jumlah anak yang dimiliki. Orang tua yang hanya memiliki 2-3 anak akan menggunakan pola asuh otoriter. Dengan digunakannya pola asuh ini orang tua beranggapan dapat tercipta ketertiban di dalam rumah.

4) Nilai-nilai yang dianut orang tua

Paham equalitarium menempatkan kedudukan anak sama dengan orang tua, dianut oleh banyak orang tua yang memiliki latar belakang budaya barat.

Sedangkan pada budaya timur orang tua masih menghargai kepatuhan anak.46

c. Macam Macam Pola Asuh

Dalam pandangan psikologi dijelaskan pula bahwa pola asuh otoritatif, demokratis, mengabaikan, dan memanjakan memberi pengaruh terhadap perkembangan anak termasuk pada perilaku keagamaannya. Berikut diuraikan pengaruh masing-masing pola asuh terhadap perilaku keagamaan anak.

1) Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)

Pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orang tua agar anak tunduk dan patuh. Pada pola asuh otoriter, orang tua bersikap tegas, suka menghukum, dan cenderung

45 Ibid, hlm. 27.

46 Ibid, hlm. 28.

(37)

21

membatasi apa yang menjadi keinginan anak. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang inisiatif, cenderung ragu, mudah gugup, menjadi tidak disiplin dan juga nakal.

Menurut Bjorklund dan Bjorklund, Croacks dan Stein, orang tua yang otoriter berupaya untuk menerapkan peraturan bagi anaknya dengan ketat dan sepihak. Orang tua menuntut ketaatan penuh kepada anaknya tanpa memberi kesempatan anak untuk berdialog dan sangat dominan dalam mengawasi dan mengendalikan anaknya.

Diana Baumrind menjelaskan bahwa bentuk pola asuh otoriter memiliki ciri-ciri orang tua bertindak tegas, suka menghukum, kurang memberikan kasih sayang, kurang simpatik, memaksa anak untuk patuh terhadap peraturan, dan cenderung mengekang keinginan anak. Selain itu, pada pola asuh otoriter penerimaan orang tua rendah dan tuntutan orang tua tinggi.

Sedangkan menurut Saiful Bahri Djamarah, pada pola asuh otoriter orang tua cenderung sebagai pengendali atau pengawas, selalu memaksakan kehendak kepada anak, tidak terbuka terhadap pendapat anak, sangat sulit menerima saran dan cenderung memaksakan kehendak dalam perbedaan.

Menurut John. W. Santrock, pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang membatasi, menghukum, dan menuntut anak untuk mengikuti semua perintah orang tua. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberikan peluang kepada anak untuk berbicara.47 Pola asuh otoriter yang mempunyai

47 Dr. H. Maimun, M. Pd, Psikologi Pengasuhan: Mengasuh Tumbuh Kembang Anak dengan Ilmu, (Mataram: Sanabil, 2017), hlm. 55.

(38)

22

namun kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik, bersikap mengkomando seperti memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi, bersikap kaku atau keras, dan cenderung emosional dan bersikap menolak sangat berpengaruh terhadap perilaku anak secara umum termasuk perilaku keagamaan, sehingga anak akan menampakkan sikap mudah tersinggung, penakut, pemurung, tidak bahagia, gampang terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai masa depan yang jelas, dan tidak juga bersahabat.

2) Pola Asuh Demokratis

Menurut John. W. Santrock, pengasuhan demokratis mendorong anak untuk mandiri akan tetapi menetapkan batas-batas dan kontrol terhadap tindakan yang dilakukan anak. Orang tua juga mengedepankan musyawarah serta memperlihatkan kehangatan dan kasih sayang kepada anak. Orang tua melatih anak untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat disiplin.

Orang tua juga cenderung melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dengan cara meminta pendapat dan berdiskusi.

Bjorklund, Croacks dan Stein mengemukakan bahwa orang tua demokratis juga mempunyai seperangkat standar dan peraturan yang jelas. Orang tua juga menuntut anaknya untuk memenuhi aturan- aturan tersebut. Perbedaannya yaitu orang tua dengan pola asuh demokratis berupaya menerapkan peraturan tersebut melalui pemahaman bukan dengan paksaan. Orang tua berupaya menyampaikan peraturan peraturan tersebut dengan disertai penjelasan yang dapat dimengerti oleh anak. Dalam hal kontrol terhadap anak, orang tua juga menerapkannya. Tetapi kontrolnya dilakukan dengan menerapkan peraturan yang dapat dipahami akan

(39)

23

suasana hubungan yang hangat dan percakapan yang terbuka.

Orang tua yang demokratis biasanya bersikap penuh dengan pertimbangan, kesabaran, dan mencoba memahami perilaku anak. Pengawasan dilakukan secara tegas tetapi tidak membatasi dan terkontrol dengan tujuan untuk meningkatkan tanggung jawab pada anak agar lebih mandiri.48 3) Pengasuhan Memanjakan (indulgent parenting)

Gaya pengasuhan ini disebut juga permisif yakni serba membolehkan. Pengasuhan dengan gaya ini sangat identik dengan keterlibatan orang tua secara penuh dalam dunia anak, akan tetapi orang tua dalam hal ini tidak mengontrol dan menuntut seperti apa anak harus bersikap. Orang tua juga membiarkan anak melakukan apa yang dia inginkan. Dampak negatif dari gaya pengasuhan ini adalah anak tidak memiliki pengendalian diri yang baik dan selalu berharap mendapatkan apa yang diinginkan. Di samping itu anak juga jarang belajar menghargai orang lain, egosentris, tidak menuruti aturan, dan kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya.

Gaya pengasuhan memanjakanatau permisif ini tidak mengarahkan anak untuk menjadi individu yang matang atau dewasa, tetapi menjadikan anak tidak memahami identitas dirinya, karena penilaian yang tidak tepat tentang pribadi anak oleh orang tuanya sehingga akan berdampak kepada penilaian anak yang berlebihan, tidak merasa memiliki kewajiban yang berkaitan dalam urusan agama yang berdampak pada perilaku keagamaan yang tidak baik, seperti lalai, malas, dan tidak ada girah terhadap syariat agama.49

48 Ibid, hlm. 58.

49 Ibid, hlm. 59.

(40)

24

4) Pola Asuh Permisif (mengabaikan)

Pada pola asuh permissive ini, Sugihartono berpendapat bahwa orang tua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri, anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan juga tidak banyak dikontrol oleh orang tua. Bjorklund dan Bjorklund, Croacks dan Stein, menjelaskan bahwa orang tua dengan gaya permisif cenderung memberikan anaknya banyak kebebasan dan juga kurang memberi kontrol. Orang tua sedikit memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada anaknya. Ketika anaknya berbuat salah, orang tua cenderung membiarkan anak tanpa memberikan hukuman ataupun teguran.50

Pola asuh permissive memiliki ciri-ciri, diantaranya yaitu orang tua memberikan kebebasan kepada anak sebebas mungkin, ibu memberikan kasih sayang dan bapak bersikap yang longgar, orang tua tidak menuntut anak untuk belajar bertanggung jawab, orang tua juga tidak banyak mengatur serta mengontrol anak. Tri Marsiyanti dan Farida Harahap menjelaskan bahwa pola asuh permisif memberikan kebebasan yang besar kepada anak. Meskipun hubungan antara orang tua dan anak hangat, tetapi kontrol yang diberikan sangat sedikit.51

d. Aspek dan Ciri Ciri Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter lebih banyak menerapkan pola asuhnya dengan aspek-aspek sebagai berikut diantaranya yaitu, orang tua mengekang anaknya untuk bergaul dan memilih orang yang akan menjadi teman dekat anaknya, orang tua tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berdialog, mengeluh dan mengeluarkan pendapat, anak diharuskan menuruti keinginan orang tua tanpa

50 Ibid, hlm. 60.

51 Ibid, hlm. 62.

(41)

25

peduli keinginan dan kemampuan anak, orang tua menentukan aturan bagi anak dalam berinteraksi diluar maupun didalam rumah, orang tua menuntut anaknya untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan, tetapi tidak menjelaskan kepada anak mengapa anak harus bertanggung jawab.

Pola asuh otoriter memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Anak harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua.

2) Pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak sangat keci.

3) Orang tua yang tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.52

3. Anak

a. Definisi Anak

Anak adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, anak pada dasarnya lahir dalam keadaan yang tidak berdaya tetapi memiliki potensi yang bisa dikembangkan dengan arahan dan bimbingan orang dewasa yakni orang tua.

Anak memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada orang tua terutama pada usia pra sekolah atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK).53 Sedangkan anak generasi alpha disini adalah anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 samapai dengan tahun 2019 dan dikenal menjadi generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa.54

b. Batasan Usia Anak

Anak generasi Alpha dijelaskan bahwa anak yang lahir pada tahun kelahiran 2010. Anak anak generasi Alpha ini merupakan kelahiran tahun 2010 keatas dengan usia tertua di

52 Buyung Surahman, Korelasi Pola Asuh Attachment enting Terhadap..., hlm. 13.

53 Dr. H. Maaimun, M.Pd., Psikologi Pengasuhan Mengasuh ..., hlm. 2.

54 . 66.

(42)

26

tahun 2019 yakni 9 tahun.55 Sedangkan Hurlock menjelaskan bahwa periode masa kanak kanak akhir mulai dari usia 6 tahun sampai kira kira usia 12 tahun atau sampai tiba saat individu menjadi matang seecara seksual. Anak yang terdapat pada masa kanak kanak akhir ini digolongkan sebagai anak usia sekolah, karena mereka sudah mulai memasuki sekolah atau dunia pendidikan yang serius, walaupun tetap pembelajaran yang ada di sekolah disesuaikan dengan anak anak tersebut.56

c. Karakteristik Anak

Karakteristik berasal dari kata karakter yakni sifat sifat kejiwaan, akhlak atau budipekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak, berubah menjadi karakteristik. Menurut kamus Bahasa Indonesia karakteristik yaitu mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Karakter seorang anak sering dipengaruhi oleh orang yang berada dilingkungan sekitarnya maupun orang-orang yang dekat dengannya, sehingga kerap kali kita lihat anak kecil menirukan tingkah laku dari orang-orang dekat dengannya seperti, orang tua, pengasuh nya atau teman bermain. Tidak jarang juga anak sering meniru tingkah laku dari tokoh yang ditontonnya ditelevisi. Tetapi karakter berbeda dengan kepribadian, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan kata lain kepribadian bersifat genetis.57

55 Harries Mdiistriyanto, dkk, Generasi Milenial... hlm. 8.

56 Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuaha Sampai Dengan Kanak Kanak Akhir, (Jakarta : Prenada, 2012), hlm. 248.

57 Dr. Meriyati, M.Pd, Memahami Karakteristik Anak Didik, (Lampung: Fakta Press, 2015), hlm. 5.

(43)

27 4. Interaksi Sosial

a. Definisi Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah hubungan sosial timbal balik yang dinamis, yang melibatkan hubungan antara orang orang, baik hubungan secara perorangan, antar kelompok kelompok manusia, ataupun antara individu dengan kelompok.58 Sedangkan menurut W.A. Gerungan merumuskan interaksi sosial sebagai suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakukan individu yang satu mempengaruhi yang lain, atau sebaliknya.59

b. Aspek aspek Interaksi Sosial

Terdapat beberapa aspek aspek dari interasi sosial, beberapa diantaranya yaitu :

1) Adanya hubungan

Setiap interaksi sudah pasti terjadi karena adanya hubungan, antar individu dengan individu, maupun individu dengan kelompok.

2) Adanya Individu

Setiap interaksi sosial menurut tampilannya individu individu yang melaksanakan hubungan.

3) Adanya tujuan

Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain.

4) Adanya hubungan dengan stuktur dan fungsional60 Interaksi sosial yang terdapat hubungan struktur dan fungsi kelompok ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok. Di samping itu tiap tiap kelompok memiliki fungsi di dalam kelompoknya.

58 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Rajawali Pers, 2012), hlm 55

59 Soetarno, Psikologi Sosial, (Yogyakarta : Kanisius, 1989), hlm 20

60 Slamet Sentosa, Dinamika Kelompok Edisi Revisi, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), hlm 11

(44)

28 c. Jenis jenis interaksi sosial

1) Interaksi Verbal

Interaksi verbal yaitu interaksi yang terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain.

Dalam interaksi verbal ini, proses terjadinya interaksi terlihat dari komunikasi atau saling tukar percakapan yang di sampaikan seseorang kepada orang lain.

2) Interaksi fisik

Interaksi fiisik ini merupakan interaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang mana mereka melakukan interaksi sosial dengan menggunakan fisik atau bahasa tubu. Seperti melalui ekspresi wajah, posisi tubuh, kontak mata dan lain sebagainya.

3) Interaksi emosional

Interaksi emosional adalah interaksi sosial yang terjadi manakala individu melaakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan. Seperti sedih, senang, malu dan lain sebagainya. emosional tidak bisa dipisahkan dari interaksi sosial.61

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dimana penelitian studi kasus ini mendalami suatu fenomena dalam kehidupan nyata. Tujuan penelitian studi kasus ini guna mempelajari secara intensif mengenai latar belakang kondisi sebuah unit sosial saat ini dan interaksi lingkungan.62

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang lebih difokuskan untuk mendeskripsikan keadaan sifat atau hakikat nilai suatu objek atau gejala tertentu.

Pendekatan kualitatif di gunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Tujuan dari peneliti menggunakan penelitian kualitatif ini untuk

61 M. Budyatna dan Leila MG, Teori Komunikasi Anntar Pribadi, (Jakarta: Kencana 2011), hlm 110

62 Feny Rita Fiantika, dkk, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Padang : PT. Global Eksekutif Teknologi, 2022), hlm 9

(45)

29

mendeskripsikan suatu kejadian atau peristiwa yang menjadi pusat peembahasan dari penelitian ini. Penelitian ini dapat menjelaskan secara mendalam mengenai suatu gejala, atau kejadian yang terjadi saat ini. Dengan harapan peneliti mendapatkan penjelasan secara mendalam mengenai ucapan, tulisan ataupun prilaku yang peneliti teliti.63

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada anak anak yang berada di lingkungan mapak indah, yang dilakukan pada tahun 2023.

Yang dimana lingkungan mapak indah berada di daerah lingkar selatan, perumahan mapak indah, kelurahan jempong baru dan kecamatan sekarbela, kota mataram, Nusa Tenggara Barat.

Peneliti mengambil tempat tersebut untuk melakukan penelitian karena di wilayah tersebut masih banyak orang tua generadi Y yang menggunakan pola asuh otoriter dan terdapat juga fenomena sibling rivalry. Selain itu, peneliti mengambil judul penelitian tersebut, karena banyak sekali para orang tua yang belum atau bahkan tidak mengerti mengenai pola asuh yang ada dan akan atau lagi digunakan. Terutama disini yaitu orang tua generasi Y. Padahal disini generasi Y adalah generasi yang peka terhadap perubahan informasi, gaya hidup dan gadget, dan sudah banyak informasi mengenai pola asuh baik di media sosial ataupun internet, tetapi masih banyak sekali orang tua yang kurang mendapatkan edukasi atau pengetahuan mengenai masalah tersebut. Sehingga itulah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di lingkungan tersebut, agar dapat menyadarkan para orang tua bahwa pentingnya pola asuh yang mereka terapkan.

3. Sumber Data a. Data Primer

Data primer merupakan data yang di dapatkan secara langsung dari hasil observasi dan wawancara subjek

63 Dr. H. Zuhri Absussamad,, S.I.K., M.Si, Metode Penelitian Kualitatif, (Makasar: CV.

Syakir Media Press), hlm. 81.

(46)

30

penelitian di lapangan. Dan sumber data ini di dapatkan dari subjek penelitian, baik dari wawancara ataupun observasi.64

Adapun yang menjadi data primer atau data utama, yakni :

1) Keluarga yang menunjukkan sistem pola asuh otoriter

2) Anak generasi alpha yang mengalami sibling rivalry b. Data Skunder

Data skunder merupakan data yang di dapatkan dari jurnal, buku dan lain sebagainya. Dan data primer yang diperoleh atau didapatkan oleh peneliti untuk mendukung penulisan pada penelitian yang peneliti lakukan, antara lain berupa dokumentasi, baik itu seperti foto, laporan, data statistik, arsip, artikel, gambar dan peta.65

4. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi (Pengamatan)

Observasi atau pengamatan berarti melihat dengan penuh perhatian. Dalam konteks penelitian, observasi diartikan sebagai cara-cara mengadakan pencatatan secara sistematis atau tersusun mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati tingkah laku individu atau kelompok yang diteliti secara langsung oleh peneliti. Margono mendefinisikan observasi secara lebih umum, yaitu dimanaa dijelaskan bahwa observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik atau tersusun terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.66

Peneliti disini melakukan observasi secara langsung, dimana observasi langsung atau pengamatan yang dilakaukan secara langsung adalah peneliti langsung melakukan

64 Dosen Jurusan Komunikasi FISIP Unib, Bunga Riset Komunikasi Edisi 2, (Banten : Desanta Muliavisitama, 2019 ), hlm. 181.

65 Ibid, hlm. 181.

66 Rahmadi, S.Ag., M.Pd.I, Pengantar Metodelogi Penelitian, (Banjarmasin : Antasari Press, 2011), hlm. 80.

(47)

31

pengamatan terhadap objek penelitiannya di tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Penlitian yang dilakukan tersebut dilakukan dengan teliti dan sistematis, dimanaa wilayah dan ruang lingkup observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Guna mendapakatkan hasil yang dapat digunakan. Dan tentu saat melakukan observasi atau penelitian, peneliti harus melakukan dengan sikap yang objective.67

Observasi atau pengamatan yang dilakukan peneliti dapat dijalankan dengan cara menulis segala informasi yang berhubungan dengan subjek penelitian yan

Gambar

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Lingkungan Mapak Indah  Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Anak Lingkungan Mapak Indah

Referensi

Dokumen terkait

pola asuh orang tua sebagai pembentuk karakter Qur’ani pada anak menunju kkan bahwa orangtua (keluarga sampel). menerapkan tiga jenis pola asuh;

Orang tua otoriter mempunyai pengawasan yang kuat pada anak- anak mereka, serta orang tua otoriter bisa jadi mencubit anak-anak mereka, membuat peraturan yang kaku, namun

Uraian latar belakang penelitian di atas menyatakan bahwa pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi bukan hanya

Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua otoriter dengan agresivitas pada

Hasil analisa data dengan model analisis regresi ganda dilaporkan bahwa terjadi hu- bungan yang signifikan antara kedua variabel bebas yaitu Pola Asuh Otoriter Orang

Dampak pola asuh orang tua tunggal (single parent) pada prestasi belajar siswa di SD N 08 Indralaya Palembang, yaitu: Anak yang diasuh dengan pola asuh otoritative (otoriter)

Berdasarkan berbagai penelitian, diketahui bahwa orang tua yang mengadaptasi pola asuh otoriter, memberikan tingkat kehangatan yang rendah dan menghukum anak dengan

Namun dibalik itu anak akan cenderung menjadi mudah tersingung, penakut, mudah terpengaruh dan mudah stress Dampak pola asuh otoriter tersebut berdasarkan observasi yang dilakukan