• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan dan Temuan

Dalam dokumen pengembangan ensiklopedia digital (Halaman 119-135)

C. Kerangka Penelitian

3. Pembahasan dan Temuan

a. Jenis Tumbuhan Obat yang Digunakan Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Madura Desa Sotabar

Berdasarkan tabel 4.1 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan sangat bervariasi dan menunjukkan bahwa spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Madura Desa Sotabar merupakan kelompok tumbuhan angiospermae. Keanekaragaman tumbuhan angiospermae ini dapat dilihat dari jumlah keseluruhan spesies yang dimanfaatkan, yakni terdapat 69 spesies, yang termasuk dalam kelas Monocotyledoneae yaitu 20 spesies dan yang termasuk kelas Dycotyledoneae yaitu 49 spesies.

Adapun sumber pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan obat diantaranya yaitu memiliki pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat secara turun-temurun dari orang tua/keluarga, memiliki pengehuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat dari tetangga sekitar, mempelajari kemudian mepraktikkannya, memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat ketika merawat salah satu dari anggota keluarga yang sakit dan banyak pengetahuan dari orang sekitar

Berdasarkan wawancara dan pengamatan yang dilakukan saat penelitian, dapat diketahui bahwa masyarakat Madura diDesa Sotabar memliki beberapa sumber dalam memperoleh tumbuhan yang digunakan sebagai bahan dalam pengobatan tradisional yaitu dengan cara mencari dilahan liar, budidaya dan adapula yang dibeli. Tumbuhan obat yang tumbuh liar diantaranya: alang-alang (Tamarindus indica L.), asam (Tamarindus indica L.), bidara (Ziziphus mauritiana Lamk.), ciplukan (Physalis angulata L.), jamblang (Syzgium cumini Merr), jarak pagar (Jatropha curcas L.), kemangi(Ocinum basilicum L.), kersen (Muntingia calabura L.), labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl.), meniran (Phyllanthus urinaria L.), paria (Momordica charantia L.), pepaya (Carica papaya L.), srikaya (Annona squamosa L.), simbukan (Paederia foetinda L), tapakliman (Elephantopus scaber L).

Selain memperoleh tumbuhan obat dengan mencari dilahan liar, masyarakat juga memperoleh tumbuhan obat dengan cara membudidayakan sendiri seperti dipekarangan rumah, halaman rumah dan sawah. Bibit yang ditanam biasanya didapatkan dari masyarakat lain yang juga menanam tumbuhan obat tersebut dan juga dengan cara membeli dipasar. Pembudidayaan tumbuhan obat dilakukan agar ketika tumbuhan obat tersebut dibutuhkan maka akan lebih mudah untuk mendapatkan, sehingga tidak kesulitan ketika akan membuat ramuan obat tradisional. Selain itu terdapat jenis tumbuhan yang sengaja ditanam

karena keberadaannya jarang ditemukan, dapat dijadikan sebagai tanaman hias dan bernilai ekonomis.

Tumbuhan obat yang dibudidayakan oleh masyarakat Madura Desa Sotabar diantaranya: beluntas (Phuchea indica Less.), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), binahong (Andredera cordifolia (Ten.) Steenis), cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.), delima (Punica granatum L.), jagung (Zea mays L.), jahe (Zingiber officinale Rosc.), jambu biji (Psidium guajava L.), jati (Tectona grandis L. f.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia subsp. aurantifolia Swingle), kamboja (Adenium obesum (Forssk.) Roem. & Schult.), kapuk (Ceiba pentandra (L.) Gaertn), katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.), kunyit (Curcuma domestica Val), kunyit putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe), kedongdong (Spondias dulcis Forst), kelapa (Cocos nucifera L.), kelor (Moringa oleifera Lamk.), kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. &

Thomson), kencur (Curcuma domestica Val) lengkuas (Kaempferia galanga L.), lidah buaya (Aloevera (L.) Burm. f.), mangga (Mangifera indica L.), melati (Jasminum sambac (L.) Aiton), mengkudu (Morinda citrifolia L.), mentimun (Cucumins sativus L.), mimba (Azadirachta indica A. H. L. Juss), mint (Mentha piperita L.), nangka (Artocarpusn heterophyllus Lam.), pacar (Lawsonia inermis L.), pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb), pinang (Areca catechu L.), pisang (Musa paradisiaca L.), sawo (Manilkara zapota (L.) P. Royen), seledri (Apium graveolens L.), serai (Cymbopogon citarus (DC.) Staps), simbukan

(Paederia foetinda L), singkong (Manihot esculenta Crantz), sirih (Piper betle L.), sirsak (Annona muricata L.), temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb), turi (Sesbania grandiflora Pers.), temulawak (Curcuma xathorrhizza Roxb.), dan temukunci (Boesenbergia pandaruta (Roxb.) Schlecht).

Selain memperoleh tumbuhan obat secara liar dan budidaya, masyarakat juga memperoleh tumbuhan dengan cara membeli, karena masyarakat umumnya tidak membudidayakan tumbuhan tersebut, tidak terdapat disekitar tempat tinggal dan sulit ditemukan disekitar tempat tinggal masyarakat. Tumbuhan obat yang diperoleh dengan cara membeli diwarung terdekat atau pasar diantaranya: bawang putih (Allium sativum L.), bawang merah (Allium cepa L.), dadap(Erythrina variegata L.), dringo (Acorus calamus L.), gingseng jawa (Talinum paniculatum (Jacq) Gaertn.), kayu manis (Cinnamomum zeylanicum Bl.), kayu oleh (Helicteres isora L.), manggis (Garcinia mangostana L.), pare (Momordica charantia L.), dan wortel (Daucus corata L.).

Nilai Use Value (UV) digunakan untuk melihat penggunaan tumbuhan obat paling banyak digunakan oleh masyarakat desa Sotabar sebagai obat tradisional. Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 4.2 jenis-jenis tumbuhan yang memiliki nilai Use Value (UV) yang tinggi adalah kunyit (0,78), temulawak (0,62), jahe (0,59), sirih (0,56), katuk (0,53), pandan (0,46), lidah buaya (0,43), jeruk nipis (0,43), jambu (0,40) dan belimbing wuluh (0,37). Beberapa tumbuhan obat lain seperti Paria

(0,31), mimba (0,28), mint (0,09), meniran (0,03) dan tumbuhan yang lain masuk dalam nilai UV yang sedang dan rendah. Tiga spesies dengan nilai UV tertinggi yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Madura di Desa Sotabar diantaranya kunyit, jahe dan temulawak.

Spesies tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Madura Desa Sotabar sebagai obat adalah kunyit (Curcuma domestica Val.) karena banyak tumbuh liar, mudah dibudidayakan dan memiliki khasiat sebagai obat. Bagian yang digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Kandungan kimia kunyit diantaranya kurkuminoid, kurkumin, minyak atsiri dan vitamin C (Kasim dan Yusuf, 2020: 49).

Berdasarkan kandungan kimia tersebut rimpang kunyit memiliki khasiat diantaranya menurunkan panas, mengobati Typus (tipes), menambah nafsu makan, mengobati pegal linu, menjaga kesehatan, mengobati penyakit lambung, mencret, batuk, pilek dan demam.

Jahe (Zingiber officinale Rosc), bagian yang digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Kandungan kimia dari jahe diantaranya minyak atsiri (camfen, limonene, farsonesen) (Hidayat dan Napitupulu, 2015:

147). Berdasarkan kandungan tersebut rimpang kunyit memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, mengobati stroke, patah tulang, meredakan batuk, menjaga kesehatan dan melancarkan darah kotor.

Teulawak (Curcuma xanthorrizza Roxb), bagian yang digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Kandungan kimia temulawak

diantaranya minyak atsiri, minyak terbang (anetol, pinen dan kamfe) dan minyak lemak (Kurdi, 2010: 343). Berdasarkan kandungan tersebut rimpang kunyit memiliki khasiat untuk menambah nafsu makan, menjaga kesehatan, mengobati kencing manis, komplikasi, kista, asam lambung, nyeri haid, perawatan pasca melahirkan, melancarkan darah kotor, dan pegal linu.

Spesies tumbuhan obat yang memiliki nilai Use Value (UV) baik tertinggi maupun terendah merupakan suatu keragaman. Keragaman tersebut menunjukkan perbedaan pemanfaatan oleh masyarakat Madura di Desa Sotabar. Spesies tumbuhan obat dengan nilai Use Value (UV) tertinggi oleh masyarakat Madura Desa Sotabar menunjukkan bahwa tumbuhan obat tersebut lebih sering digunakan, lebih banyak diketahui khasiatnya, dan level kepercayaan masyarakat untuk mengobati penyakit menggunakan tumbuhan obat tersebut cukup tinggi. Tumbuhan obat yang memiliki nilai Use Value (UV) tinggi juga dapat menggambarkan kelimpahan dari jenis tumbuhan obat tersebut (Yusro dkk., 2019:61).

Sedangkan spesies tumbuhan obat yang memiliki nilai Use Value (UV) rendah menunjukkan bahwa sedikit dalam pengetahuan dan pemanfaatannya tentang khasiat dari tumbuhan obat tersebut kurang dikenal, jarang untuk digunakan oleh masyarakat atau memang keberadaannya yang sulit didapatkan, karena pengetahuan mengenai tumbuhan obat merupakan warisan turun menurun. Sehingga secara langsung ataupun tidak langsung berdampak pada rendahnya tingkat

penggunaan masyarakat terhadap spesies tumbuhan obat tersebut.

Beberapa jenis tumbuhan obat yang menunjukkan UV rendah perlu mendapat perhatian karena jika semakin tidak dikenal dan kurang dimanfaatkan, maka potensi hilangnya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan obat tersebut akan sangat besar.

Pendokumentasian pengetahuan masyarakat melalui kajian yang dilakukan seperti ini diharapkan dapat melestarikan pengetahuan dan budaya lokal dalam memanfaatkan tumbuhan obat, serta meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan menggunakan tumbuhan obat (Yusro dkk., 2019:264)

Nilai Informan Consensus Factor (ICF) merupakan suatu indikator yang menunjukkan kesepakatan masyarakat dalam menggunakan satu atau beberapa jenis tumbuhan untuk kategori penggunaan tertentu. Nilai Informan Consensus Factor (ICF) berkisar antara 0 - 1, semakin tinggi nilai Informan Consensus Factor (ICF) maka tingkat atau derajat kesepakatan atau kehomogenitasan masyarakat dalam menggunakan jenis tumbuhan tertentu untuk kategori pengobatan penyakit tertentu sangat besar (Yusro dkk, 2019: 246). Hasil penelitian menunjukan masyarakat Madura Desa Sotabar menggunakan 69 spesies tumbuhan dengan 48 manfaat umbuhan obat yang disebutkan oleh masyarakat. Berdasarkan tabel 4.3 jenis-jenis tumbuhan nilai Informan Consensus Factor (ICF) yang mempunyai nilai 1 yaitu pengobatan untuk keracunan (1), melancarkan ASI (1), sakit mata (1), mimisan (1),

menyuburkan rambut (1), hitung tersumbat (1), peluruh kentut (1), susah BAB (1), diare (1), patah tulang (1), perawatan untuk bayi kurus (1), perawatan mandi setelah sakit (1), sakit gigi (1), mata rabun (1), dan magh (1). Tingginya nilai ICF tersebut menunjukkan bahwa terdapat kehomogenan informasi yang diberikan oleh informan yang berbeda, sehingga satu jenis tumbuhan atau beberapa jenis tumbuhan obat yang disepakati dan dipercaya oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tersebut memiliki potensi untuk diteliti lebih lanjut terkait dengan bioaktivitasnya maupun identifikasi komponen senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya (Yusro dkk., 2019: 270).

b. Bagian Tumbuhan yang Digunakan Sebagai Bahan Obat Tradisional Oleh Masyarakat Madura Desa Sotabar

Dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat oleh masyarakat di Desa Sotabar, berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah bagian daun. Hal ini terbukti dengan adanya persentase organ daun yang mencapai 42,25%. Dari persentase tersebut terdapat jenis tumbuhan yang dimanfaatkan daunnya untuk obat diantaranya: asam (Tamarindus indica L.), beluntas (Phuchea indica Less.), bidara (Ziziphus mauritiana Lamk. ), binahong (Andredera cordifolia (Ten.) Steenis), dadap (Erythrina variegata L.), delima (Punica granatum L.), jambu biji (Psidium guajava L.), jarak pagar (Jatropha curcas L.), jati (Tectona grandis L.f.), kapuk (Ceiba pentandra (L.) Gaertn), katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.), kelor (Moringa oleifera

Lamk.), kemangi (Ocinum basilicum L.), kersen (Muntingia calabura L.), kedongdong (Spondias dulcis Forst), lidah buaya (Aloevera L.), mangga (Mangifera indica L.), mint (Mentha piperita L.), melati (Jasminum sambac (L.) Aiton), mimba (Azadirachta indica A. H. L. Juss.), nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.), pacar (Lawsonia inermis L.), pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb.), paria (Momordica charantia L.), sawo (Manilkara zapota (L.) P. Royen), simbukan (Paederia foetida L.), sirih (Piper batle L.), sirsak (Annona muricata L.), srikaya (Annona squamosa L.), turi (Sesbania grandiflora Pers.).

Penggunaan pada daun merupakan yang terbanyak dikarenakan perbedaan ketersediaan daun yang lebih banyak dibandingkan dengan bahan lain (seperti, akar buah, bunga dan batang) (Anggraeni, 2013:31).

Juga terdapat keuntungan menggunakan daun sebagai obat, karena daun memiliki serat yang lunak sehingga lebih mudah untuk mengekstrak (zat-zat) yang akan digunakan sebagai obat (Hara, 2013: 42). Lebih banyak jenis senyawa kimia yang berkhasiat obat seperti flavonoid, saponin, tanin, fenol dan alkoloid, juga ditemukan pada organ daun.

Dengan kandungan kimia ini daun memiiki potensi obat yang cukup banyak (Yulianti, 2014: 46). Selain itu penggunaan daun sebagai bagian untuk pengobatan selain tidak merusak spesies tumbuhan obat, bagian daun juga mudah dalam hal pengambilan dan peracikan ramuan obat (Fakhrozi, 2009: 35). Daun merupakan bagian dari organ tumbuhan dan banyak digunakan sebagai obat tradisional karena tekstur daun pada

umumnya lunak. Zat yang banyak dalam daun adalah minyak atsiri, fenol, dan klorofil. Daun memiliki regenerasi yang tinggi untuk kembali bertunas. Meskipun daun merupakan tempat fotosintesis, namun tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan suatu tumbuhan. Selain karena mudah didapat dan tidak tergantung musim. Dibandingkan dengan kulit, batang, dan akar bagian daun lebih mudah diramu (Hamzari, 2008: 34).

Penggunaan daun sebagai obat tidak akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup tumbuhan apabila daunnya diambil. Pengambilan daun yang digunakan sebagai obat tidak akan merusak karena daun mudah tumbuh kembali. Organ tumbuhan yang perlu dibatasi penggunaannya adalah bagain batang, akar, kulit, umbi dan kayu karena penggunaan bagian-bagian tumbuhan ini dapat langsung mematikan tumbuhan (Elfrida dkk., 2017: 24-25).

Bagian (organ) tumbuhan yang banyak digunakan juga adalah bagian buah. Hasil persentase menunjukkan bahwa masyarakat Madura Desa Sotabar memanfaatkan bagian buah sebagai obat sebesar 18,31%.

Tumbuhan yang dapat dimanfaatkan buahnya untuk pengobatan tradisional antara lain: belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.), jagung (Zea mays L.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia L. subsp. aurantifolia Swingle), kayu ules (Helicteres isora L.), kelapa (Cocos nucifera L.), mentimun (Cucumis sativus L.), labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl.), manggis (Garcinia mangostana L.), mengkudu (Morinda citrifolia L), pepaya (Carica papaya L.), pinang

(Areca catechu L.), dan pisang (Musa paradisiaca L.). Buah mengandung banyak unsur potensial pembersih sisa-sisa makanan dari usus besar yang juga dapat menghemat energi karena tidak memerlukan proses pencernaan yang panjang, buah memberikan energi lebih cepat karena gulanya bisa langsung diserap oleh tubuh. Buah juga tempat penyimpanan cadangan makanan yang mengandung sejumlah besar provitamin karbohidrat dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia (Zaman, 2009).

Selain daun dan buah, bagian (organ) tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah rimpang, yaitu sebesar 15,49%. Umumnya masyarakat Madura Desa Sotabar menggunakan rimpang tumbuhan sebagai obat dari golongan Zingiberaceae (rimpang-rimpangan) antara lain: jahe (Zingiber officinale Rosc.), jahe merah (Zingiber officinale var rubrum Theilade), kencur (Kaempferia galanga L.), kunyit (Curcuma domestica Val.), kunyit putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe), lengkuas (Alpinia galanga Sw.), temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.), temukunci (Boesenbergia pandaruta (Roxb.) Schlecht), temulawak (Curcuma xathorrizza Roxb.) dan dua jenis tumbuhan dari famili yang berbeda yaitu dringo (Acorus calamus L.) dan gingseng jawa (Talinum paniculatum (Jacq) Gaertn.). Rimpang beberapa tumbuhan telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Madura Desa Sotabar karena kandungan kimia dari beberapa rimpang sangat dibutuhkan oleh tubuh, misalnya temulawak (Curcuma zathorriz) salah satunya mengandung

minyak atsiri (Kurdi, 2010: 342) yang dapat mngobati kencing manis, komplikasi, melancarkan darah, pegal linu, melancarkan darah kotor, penambah nafsu makan, kista, asam lambung, nyeri haid, dan perawatan pasca melahirkan.

Bagian (organ) tumbuhan yang juga digunakan sebagai obat adalah batang sebesar 7,04%, tumbuhan yang banyak dimanfaatkan batangnya diantaranya pisang (Musa paradisiaca L.), jamblang (Syzgium cumini Merr.), kayu manis (Cinnamomum zeylanicum Bl.), serai (Cymbopogon citarus (DC.) Staps),dan sirih (Piper batle L.).

Bagian (organ) tumbuhan yang juga digunakan untuk obat adalah seluruh bagian tumbuhan sebesar 7,04%, tumbuhan yang banyak dimanfaatkan keseluruhan diantaranya: alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. var. major Hubb.), ciplukan (Physalis angulata L.), meniran (Phylanthus urinaria L.), seledri (Apium graveolens L.), dan tapak liman (Elephantopus scaber L.).

Bagian (organ) tumbuhan yang juga digunakan untuk obat adalah umbi sebesar 5,63%, tumbuhan yang dimanfaatkan umbinya diantaranya: bawang merah (Allium cepa L.), bawang putih (Allium sativum L.), singkong, (Manihot utilisima Crantz), dan wortel (Daucus corata L.).Umbi berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, sehingga kandungan didalamnya terakumulasi disatu bagian tersebut (Mulyanah, 2019:127)

Bagian (organ) tumbuhan yang jarang dimanfaatkan atau sedikit dimanfaatkan adalah bunga, biji dan getah. Hanya ada beberapa tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pengobatan. Hasil persentase data dari hasil wawancara dengan beberapa responden menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sotabar sangat jarang memanfaatkan organ tumbuhan berupa bunga (1,41%), biji (1,41%) dan getah (1,41%). Tumbuhan yang dimanfaatkan bunganya hanya 1,41%, tumbuhan yang dimanfaatkan bunganya adalah kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson).

Tumbuhan yang dimanfaatkan bijinya hanya 1,41%, tumbuhan yang dimanfaatkan bijinya adalah pare (Momordicana charantia L.).

Tumbuhan yang dimanfaatkan getahnya hanya 1,41%, contoh tumbuhan yang dimanfaatkan getahnya adalah Kamboja (Adenium obesum (Forssk.) Roem. & Schult.).

c. Cara Pengolahan Tumbuhan Menjadi Ramuan Obat Tradisional Oleh Masyarakat Madura Desa Sotabar

Pemanfaatan tumbuhan obat dapat menggambarkan tingkat pengetahuan botani masyarakat, semakin besar pemanfaatan tumbuhan obat, maka semakin tinggi pengetahuan dan potensi untuk memanfaatkan tumbuhan obat (Zaman, 2009: 53). Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Madura Desa Sotabar beragam, dan biasanya tumbuhan obat dimanfaatkan berdasarkan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat, satu spesies tumbuhan obat tidak hanya digunakan untuk mengobati satu jenis

penyakit saja akan tetapi satu spesies tumbuhan obat dapat digunkan untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Begitu pula sebaliknya, satu jenis penyakit dapat juga disembuhkan dengan beberapa spesies tumbuhan obat.

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Madura di Desa Sotabar. Masyarakat Madura Desa Sotabar memanfaatkan tumbuhan obat sebagai obat tradisional masih sederhana, menggunakan peralatan yang sederhana, baik pengolahan maupun penggunaan tumbuhan obat, diantaranya:

1) Obat yang dimakan: dimakan langsung/dikonsumsi segar, dimasak dibuat sayur.

2) Obat yang diminum: direbus lalu diminum, ditumbuk diperas diambil sarinya lalu diminum, diparut diperas diambil sarinya lalu diminum, diminum tanpa direbus, dikukus diparut lalu diminum, dijus lalu diminum, dibakar direndam lalu diminum, dipanaskan diatas api diremas disaring lalu diminum.

3) Penggunaan luar: direbus lalu dibuat mandi, ditumbuk lalu ditempelkan, ditumbuk lalu dibalurkan, diremas lalu dibalurkan, direbus lalu dikompreskan, dioleskan langsung, digulung disumbatkan, diteteskan, direndam dan air rendaman digunakan untuk mandi.

Perbedaan cara pemanfaatan masing-masing tumbuhan obat tergantung dari bentuk tumbuhan dan penyakit yang ingin diobati. Hal ini bertujuan agar zat-zat yang terkandung dalam setiap tumbuhan dapat keluar dan berfungsi dalam menyembuhkan secara cepat. Pengolahan dengan cara yang berbeda memiliki efek yang berbeda dalam mengobati atau menyembuhkan penyakit. Bila ditinjau secara keseluruhan dari cara pengolahan dan penggunaan tumbuhan obat, masyarakat Madura Desa Sotabar lebih banyak mengolah dengan cara direbus dan penggunaanya dengan cara diminum.

Proses ekstraksi dengan teknik direbus menggunakan pelarut air yang merupakan cara tradisional masyarakat dalam mempersiapkan ramuan, yang diduga secara efektifitas dalam mengeluarkan zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan lebih cepat jika dibandingkan dengan cara lain (Yusro dkk., 2019: 65). Tumbuhan obat yang diolah dengan cara direbus dapat mengurangi rasa hambar dan pahit dibandingkan dengan dikonsumsi langsung, setelah direbus lebih steril karena dapat membunuh bakteri yang patogen (Novianti, 2014: 11). Cara penggunaan dengan meminum adalah cara tertinggi dalam menggunakan ramuan.

Menurut (Yusro dkk., 2019: 65) dengan proses meminum ramuan, efektivitas dan aktivitasnya dalam mengobati penyakit jauh lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan cara ditempel ataupun cara yang lain, walaupun hal ini terkadang disesuaikan dengan kondisi penyakit yang diderita seseorang.

Dalam proses pengolahannya tumbuhan yang diolah dapat berupa bahan tunggal maupun campuran, baik itu campuran dengan tumbuhan obat lain maupun campuran dengan bahan lain, seperti garam, telur ayam, telur burung dara, madu, cuka, minyak kayu putih, minyak sayur, minyak tanah dan gula batu yang digunakan sebagai bahan tambahan untuk menjadi satu ramuan. Dilihat dari bentuk ramuannya masyarakat Desa Sotabar tidak hanya menggunakan satu jenis tumbuhan obat saat mengolah tumbuhan obat, tetapi menggunakan lebih dari satu jenis tumbuhan atau ganda yang dicampur atau diramu antara satu tumbuhan dengan tumbuhan lain karena dengan mencampurkan tumbuhan yang mempunyai khasiat yang sama diyakini dapat mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu jika digunakan secara lengkap akan menyembuhkan penyakit dengan cepat, namun pengolahan tumbuhan obat harus sesuai dengan takarannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Yulianti (2014: 154) megungkapkan bahwa tujuan penggunaan lebih dari satu bagian tumbuhan agar khasiatnya lebih lengkap karena masing- masing bagian mempunyai kandungan kimia, sehingga jika digunakan semua maka akan lebih cepat mengobati bermacam-macam suatu penyakit tetapi tetunya pengobatan tersebut harus dilakukan dalam jumlah yang sesuai dan tidak berlebih-lebihan.

B. Penelitian Tahap II (Pengembangan Eniklopedia Digital)

Dalam dokumen pengembangan ensiklopedia digital (Halaman 119-135)

Dokumen terkait