• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pengetahuann Keluarga Kunjungan 6 DX 1

Gangguan Pola Tidur B.d Ketidakmampuan Keluarga mengenal masalah kesehatan

Terminasi :

Keluarga Tn.R Mengatakn senang atas kehadiran perawat dan Tidak Lupa perawat menyampaikan beberapa pesan untuk Keluarga

Mengatakan Tidur 5 Jam Saja , An.G Mengatakan saat ini sering insomnia ,Kantung Mata Terlihat Kehitaman Pasien AN.G terlihat Tidak Fokus saat di ajak berkomunikasi ,Ny.A Tampak bingung mengenai masalah anak remajanya

Hasil Pengkajian di 1 Juli 2021 Pada Keluarga Tn.R pada An.A An.A Juga mengatakan Bahwa dirinya susah tidur dan kecanduan Game online , mengatakan juga bahwa Nafsu Makan berkurang , An.A Mengatakan bahwa susah tidur , Tiur hanya 5 jam, AnA Juga khawatir dengan Pola Tidurnya An.G mengeluh kemampuan beraktivitas menurunAn.A Mengatakan saat ini sering insomnia Ibu mengatakan Bahwa Lumayan cukup banyak mengethui mengenai Remaja , Keluarga mengatakan keinginan untuk mengetahui lebih tentang Remaja dan Keluarga memilliki Tujuan Untuk meningkatkan gaya hidup sehat,Kantung Mata Terlihat Kehitaman, An.G mengeluh kemampuan beraktivitas menurun Tampak keinginan Ny.S Mengetahui Tentang Remaja Baik

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001; dalam Jahja, 2012), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja telah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga

mengembangkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengholah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Kekuatan pemikiran remaja yang sedang berkembang membuka cakrawala kognitif dan cakrawala sosial baru. Pemikiran mereka semakin abstrak (remaja berpikir lebih abstrak daripada anak-anak), logis (remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah), dan idealis (remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin.

Mereka berpikir tentang ciriciri ideal diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia); lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka; serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah interpretasi ilmiah atas data hasil pengkajian yang interpretasi ini digunakan perawat untuk membuat rencana, melakukan implementasi, dan evaluasi (Widagdo, 2016).

Menurut Mubarak (2012) dalam (Febrianti, 2018) diagnosis keperawatan keluarga dianalisis dari hasil pengkajian terhadap masalah dalam tahap perkembangan keluarga, lingkungan keluarga, struktur keluarga, fungsi-fungsi keluarga, koping keluarga, baik yang bersifat aktual, resiko, maupun sejahtera dimana perawat memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan tindakan keperawatan bersama-

sama dengan keluarga, berdasarkan kemampuan, dan sumber daya keluarga.

Mubarak (2012) merumuskan diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan data yang didapatkan pada pengkajian. Komponen diagnosis keperawatan meliputi problem atau masalah, etiology atau penyebab, dan sign atau tanda yang selanjutnya dikenal dengan PES

Berdasarkan Hasil Pengkajian dan Analisa pada Klien 1 yaitu ada 2 Diagnosa Defisit pengetahuan keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan dan Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan.

Berikut Pembahasan Diagnosa Klien1 :

a. Defisit pengetahuan Keluarga Tn.H B.D Ketidakmampuan Keluarga mengenal masalah kesehatan. Berdasarkan PPNI (2017) Gejala dan Tanda Mayor dan yang Muncul adalah menanyakan masalahyang di hadapi, menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukan persepsi yang Keliru .di tandai dengan Pola komunikasi keluarga Kurang baik jika AnG masalah lebih memilih untuk di pendam Ibu mengatakan An. G Bahwa anak Remajanya An.G Lebih terlihat diam bila memiliki masalah, Jarang membicaraknnya ke Orang tua An.G Juga mengtakan demikian Ny.A Mengatakan Terutama An. G Yang akhir-akhir ini lebih jarang berkomunikasi Ny.A Tampak bingung mengenai masalah anak remajanya

Hubungan antara orangtua dan anak sangat penting untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dan diri sendiri. Selain itu juga dapat membantu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif pada anak. Penelitian menyebutkan bahwa hubungan antara orangtua dan anak yang hangat, terbuka, dan komunikatif; terdapat batas yang wajar antar usia; menyampaikan alasan terkait hal-hal yang tidak boleh dilakukan anak, akan meningkatkan rasa percaya diri dan juga performa di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Selain itu anak akan lebih terhindar dari hal-hal negatif seperti, depresi dan penggunaan narkoba.

ada masa remaja-dewasa muda, orangtua memiliki tugas dan peran baru seiring dengan berubahnya kebutuhan anak pada masa ini.

Perubahan yang terjadi pada masa ini adalah perubahan secara fisik, kognitif, dan juga sosial. Anak akan mulai melepaskan diri dari ketergantungan pada keluarga dan mulai fokus pada kehidupan sosial di luar rumah. Tantangan bagi orangtua adalah bagaimana harus menyeimbangkan antara mempertahankan ikatan dalam keluarga dan meningkatkan otonomi anak seiring dengan bertambahnya usia dan pendewasaan pada anak. Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa orangtua yang tetap mempertahankan komunikasi yang baik dan hangat memiliki anak dengan luaran lebih baik dalam kehidupan sosialnya, tidak menggunakan narkoba, mengalami gangguan cemas

dan depresi yang lebih sedikit daripada anak dengan orangtua yang tidak menjaga komunikasi pada masa remaja-dewasa muda

Keberhasilan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas.

Peran keluarga utamanya orangtua sangat penting dalam membentuk lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan pengertian. Mengapa peran keluarga utamanya orangtua sangat penting? Lingkungan paparan pertama dan tersering bagi anak-anak adalah keluarga. Pembentukan karakter dan proses tumbuh kembang pertama kali dimulai dari sini. Anak-anak harus dipersiapkan sedini mungkin untuk menjadi penentu kehidupannya nanti. Harus dipersiapkan untuk bisa membuat keputusan sendiri dan tumbuh menjadi pribadi yang kompeten di masyarakat. Proses ini dapat didapatkan sedini mungkin tergantung pada lingkungan tempat tinggal anak dibesarkan.Kondisi yang optimal di rumah, pemenuhan nutrisi yang cukup, dan interaksi antar orangtua maupun dengan anak sangat mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak.

Orangtua bertanggungjawab untuk menyediakan lingkungan yang aman, memantau aktivitas anak, membantu mengembangkan emosi sosial dan kognitif, serta menyediakan arahan dan panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyediakan lingkungan rumah yang aman dan kondusif, anak akan senang bermain, mengeksplorasi hingga menemukan berbagai hal baru yang dapat meningkatkan level

perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Harapannya kelak dapat menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan produktif (Pengetahuan, 2017)

Berdasarkan dari Hasil Studi di atas Kasus di atas Maka dapat di ambil asumsi Bahwa Edukasi Pola Asuh yang dilakukan oleh Peneliti ke orang tua pada anak khususnya remaja Dapat Mengatsi Defisit Pengetahuan Keluarga, Sesuai dengan penelitian Robiatul adawiyah dalam resolusi Majelis Umum PBB (Pamilu, 2007) fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya Keluarga Sejahtera

b. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan

Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan adalah gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat fakor eksternal.Berdasarkan ( PPNI,2017 ) Gejala Tanda Mayor dan Minor Mengeluh sulit Tidur , Mengeluh sering Terjaga , Tidak PUas Tidur, Kemampuan beraktivitas menurun, Pada Klien di Tandai Dengan An.G mengatakan Bahwa Khawatir dengan Tidurnya karena terlalu banyak main HP, An.G Mengatakan Tidur 5 Jam Saja, An.G Mengatakan saat ini sering insomnia,Kantung

Mata Terlihat Kehitaman Pasien AN.G terlihat Tidak Fokus saat di ajak berkomunikasi .

Fase remaja adalah fase tumbuh kembang dengan karakteristik terdapat perubahan penting dalam fungsi kognitif, perilaku, sosial, dan emosional sesuai perkembangan biologis, serta adanya fungsi dan tuntutan baru dalam lingkungan keluarga maupun sosial. Pada remaja terdapat perubahan dramatis dalam pola tidur-bangun meliputi durasi tidur berkurang, waktu tidur tertunda, dan perbedaan pola tidur pada hari kerja dan akhir pekan. Maka, kualitas tidur remaja juga cenderung berkurang.1 Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian epidemiologi mengungkapkan bahwa jumlah anak remaja yang mengalami gangguan tidur semakin meningkat.2 Penelitian Ohida dkk3 terhadap siswa SLTP dan SMU menunjukkan prevalensi gangguan tidur yang bervariasi mulai dari 15,3% hingga 39,2%, bergantung pada jenis gangguan tidur yang dialami. Penelitian yang dilakukan oleh Bruni dkk4 mengenai gangguan tidur dengan menggunakan metode Sleep Disturbances Scale for Children mendapatkan prevalensi gangguan tidur pada populasi kontrol 73,4%. Di Indonesia, belum ada penelitian epidemiologi yang dilakukan untuk mengetahui gangguan tidur pada remaja. Gangguan tidur merupakan suatu kumpulan kondisi yang dicirikan dengan gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada seorang individu.5 Gangguan tidur pada remaja dipengaruhi berbagai faktor, baik medis maupun non-medis. Faktor-faktor non-

medis yang mempengaruhi tidur antara lain jenis kelamin, pubertas, kebiasaan tidur, status sosioekonomi, keadaan keluarga, gaya hidup, dan lingkungan yang berhubungan dengan gangguan tidur. Sedangkan faktor medis yang mempengaruhi tidur antara lain berbagai gangguan neuropsikiatri dan penyakit kronis, seperti asma dan dermatitis atopi.3,6,7 Diagnosis gangguan tidur pada remaja sulit ditegakkan, karena keluhan gangguan tidur seringkali tidak disampaikan oleh remaja, selain itu pada usia remaja pola tidur tidak lagi menjadi pusat perhatian orang tua. Oleh karena itu gangguan tidur pada remaja seringkali tidak terdiagnosis dan akhirnya tidak diobati dengan baik (Adelina Haryono, 2009)

Berdasarkan Dari hasil studi kasus di atas maka dapat di ambil asumsi penulis bahwa Penerapan Edukasi Pola tidur yang cukup dan baik dapat mengurangi Gangguan Pola Tidur . Menurut Penelitian Edukasi Pola Tidur merupakan salah satu intervensi keperawatan yang efektif dalam mengatasi masalah tidur pada remaja. diberikan salah satunya dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai Edukasi Pola Tidur yang cukup dan baik. Edukasi Pola tidur merupakan serangakaian upaya promosi kesehatan tidur yang terdiri dari rangkaian rekomendasi lingkungan dan perilaku tidur untuk menciptakan kualitas tidur yang optimal (Mardalifa, 2018 )

Berikut Pembahasan Diagnosa Klien 2 :

a. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan

Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidakmampuan Keluarga Mengenal masalah kesehatan adalah gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat fakor eksternal.Berdasarkan ( PPNI,2017 ) Gejala Tanda Mayor dan Minor Mengeluh sulit Tidur , Mengeluh sering Terjaga , Tidak PUas Tidur, Kemampuan beraktivitas menurun , Pada Klien di Tandai dengan An.A Juga mengatakan Bahwa dirinya susah tidur dan kecanduan Game online , , An.A Mengatakan bahwa susah tidur , Tidur hanya 5 jam, AnA Juga khawatir dengan Pola Tidurnya An.G mengeluh kemampuan beraktivitas menurunAn.A Mengatakan saat ini sering insomnia, Tampak Kantung Mata Kehitaman

Fase remaja adalah fase tumbuh kembang dengan karakteristik terdapat perubahan penting dalam fungsi kognitif, perilaku, sosial, dan emosional sesuai perkembangan biologis, serta adanya fungsi dan tuntutan baru dalam lingkungan keluarga maupun sosial. Pada remaja terdapat perubahan dramatis dalam pola tidur-bangun meliputi durasi tidur berkurang, waktu tidur tertunda, dan perbedaan pola tidur pada hari kerja dan akhir pekan. Maka, kualitas tidur remaja juga cenderung berkurang.1 Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian epidemiologi mengungkapkan bahwa jumlah anak remaja yang mengalami gangguan tidur semakin meningkat.2 Penelitian Ohida dkk3 terhadap siswa SLTP dan SMU menunjukkan prevalensi gangguan tidur yang

bervariasi mulai dari 15,3% hingga 39,2%, bergantung pada jenis gangguan tidur yang dialami. Penelitian yang dilakukan oleh Bruni dkk4 mengenai gangguan tidur dengan menggunakan metode Sleep Disturbances Scale for Children mendapatkan prevalensi gangguan tidur pada populasi kontrol 73,4%. Di Indonesia, belum ada penelitian epidemiologi yang dilakukan untuk mengetahui gangguan tidur pada remaja. Gangguan tidur merupakan suatu kumpulan kondisi yang dicirikan dengan gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada seorang individu.5 Gangguan tidur pada remaja dipengaruhi berbagai faktor, baik medis maupun non-medis. Faktor-faktor non- medis yang mempengaruhi tidur antara lain jenis kelamin, pubertas, kebiasaan tidur, status sosioekonomi, keadaan keluarga, gaya hidup, dan lingkungan yang berhubungan dengan gangguan tidur. Sedangkan faktor medis yang mempengaruhi tidur antara lain berbagai gangguan neuropsikiatri dan penyakit kronis, seperti asma dan dermatitis atopi.3,6,7 Diagnosis gangguan tidur pada remaja sulit ditegakkan, karena keluhan gangguan tidur seringkali tidak disampaikan oleh remaja, selain itu pada usia remaja pola tidur tidak lagi menjadi pusat perhatian orang tua. Oleh karena itu gangguan tidur pada remaja seringkali tidak terdiagnosis dan akhirnya tidak diobati dengan baik (Adelina Haryono, 2009)

Berdasarkan Dari hasil studi kasus di atas maka dapat di ambil asumsi penulis bahwa Penerapan Edukasi Pola tidur yang cukup dan

baik dapat mengurangi Gangguan Pola Tidur . Menurut Penelitian Edukasi Pola Tidur merupakan salah satu intervensi keperawatan yang efektif dalam mengatasi masalah tidur pada remaja. diberikan salah satunya dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai Edukasi Pola Tidur yang cukup dan baik. Edukasi Pola tidur merupakan serangakaian upaya promosi kesehatan tidur yang terdiri dari rangkaian rekomendasi lingkungan dan perilaku tidur untuk menciptakan kualitas tidur yang optimal (Mardalifa, 2018 )

b. Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga

Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga adalah Pola Adaptasi anggota keluarga dalam mengatasi situasi yang di alam klien secara efektif dan menunjukkan keinginan serta kesiapan Untuk Meningkatkan Kesehatan Keluarga dan Klien .

Berdasarkan PPNI ( 2017 ) Gejala Tanda Mayor dan Minor Anggota keluarga menetapkan Tujuan Untuk meningkatkan gaya hidup sehat, keluarga menetapkan sasaran untuk meningkatkan kesehatan, Mengidentifikasi pengalaman yang emngoptimalkan sejahtera , berupaya menjelaskan dampak krisis terhadap perkembangan , mengungkapkan minat dalam membuat kontak dengan orang lain yang mengalami situasi yang sama pada Klien di Tandai dengan Ibu mengatakan Bahwa Lumayan cukup banyak mengethui mengenai Remaja , Keluarga mengatakan keinginan untuk mengetahui

lebih tentang Remaja dan Keluarga memilliki Tujuan Untuk meningkatkan gaya hidup sehat, Tampak keinginan Ny.S Mengetahui Tentang Remaja Baik

Kesiapan peningkatan koping keluarga yaitu pola adaptasi anggota keluarga dalam mengatasi situasi yang dialami klien secara efektif dan menunjukkan keinginan serta kesiapan untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan klien (Ns. Aprisunadi, 2017)

Dari kesiapan peningkatan koping keluarga penulis melakukan Intervensi Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, Berikan kesempatan untuk bertanya, Jelaskan penangana masalah Kesehatan ,Anjurkan menggunakan fasilitas kesehatan , Ajarkan Pemeliharaan kesehatan .

Berdasarkan Hasil Studi mengenai kesiapan peningkata pengetahuan keluarga yang di dapatkan dari hasil penelitian . Diharapkan dengan Edukasi Penanganan masalah kesehatan Remaja Pengetahuan keluarga yang sudah ada Semakin bertambah , Terbukti dengan sebelum dilakukan penatalaksanaann Pengetahuan Keluarga sebenarnya baik tetapi perlu di tambah , Pada Kunjungan 3 Ny.S Selaku ibu dari An.A mengatakan memahami mengenai peneganan kesehatan remaja , Tampak pengetahuan Ny.S Mengenai penanganan masalah kesehatan remaja semakinn meningkat . Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha menjelaskan siapa dirinya dan apa

perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remajaPenanganan Masalah Kesehatan Remaja dengan Mengembangkan potensi remaja, Memandirikan remaja,Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Dari semua hal yang perlu, harus, dan telah diterapkan, semuanya bermuara pada pentingnya penerapan pola hidup sehat baik secara fisik dan psikis. Penerapan hidup sehat dilakukan dengan prinsip Menerapkan pola hidup sehat (Makanan yang halal dan alami, Kebiasaan makan yang sehat,Tegas/ disiplin, Tidak mudah terpengaruh), Memiliki gaya hidup cermat (Menghargai waktu, Menjaga tujuan utama, Sederhana, Memiliki perencanaan, Keseimbangan pengelolaan uang, Keseimbangan beraktivitas, Menghindari hal-hal yang berlebihan), Memiliki keimanan yang kuat (Penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, Menjadikan agama sebagai pedoman hidup, Beribadah sesuai dengan tuntutan agama, Keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani, Berpikir kritis

sebelum bertindak Utamakan menjaga kehormatan dan mematuhi etika (Catio, 2013)

3. Intervensi Keperawatan

Menurut buku PPSDM Keperawatan Keluraga dan Komunitas Komprehensif (2016) Perencanaan keperawatan keluarga merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan. Setelah perawat merumuskan diagnosis keperawatan, langkah berikutnya adalah menyusun perencanaan tindakan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah klien dan keluarga.

Perencanaan keperawatan juga dapat diartikan juga sebagai suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menurunkan, atau mengurangi masalah-masalah klien. Perencanaan ini merupakan langkah ketiga dalam membuat suatu proses keperawatan.

Peneliti Telah Membuat Intervensi Keperawatan sesuai dengan Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) .Menurut SIKI, Terdapat empat Tindakan dalam Intervensi keperawatan yan terdiri dari Observasi, Terapeutik, Edukasi dan Kolaborasi .

Intervensi Keperawatan yang dilakukan Oleh peneliti Pada Klien 1 dengan Diagnosa Defisit pengetahuan B.d Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan Observasi Identifikasi Kesiapan dan kemauan menerima informasi Teraupetik Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan,Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai

kesepakatan, Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi Jelaskan Pola Hubungan antara orang tua dan remaja, Ajarkan Mengenai sikap-sikap menghadapi perilaku remaja, Ajarkan Cara berkomunikasi dengan remaja, Anjurkan meminimakan ggangguan rutinitas keluarga dengan memfasilitasi aktifitas rutin keluarga (Makan bersama, Disukusi Keluarga)

Pada Diagnosa Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Ketidakmampuan Keluarga mengenal masalah kesehatan Observasi Identifikasi kesiapan dan menerima Informasi, identifikasi Pola aktivitas dan Tidur, identifikasi Faktor penganggu Tidur Teraupetik Sediakan Materi dan media pengatran Aktivitas dan Jadwalkan pemberian pendidikan Kesehatan Sesuai Kesepakatan, Berikan Kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya Edukasi, Jelaskan pentingnya tidur Cukup, Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur, Anjurkan menghindri Makanan/minuman yang meganggu tidur.

Ajarkan Faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (Bermain Game sebelum tidur)

Intervensi Keperawatan yang dilakukan Oleh peneliti Pada Klien 2 Diagnosa Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Ketidakmampuan Keluarga mengenal masalah kesehatan Observasi Identifikasi kesiapan dan menerima Informasi , identifikasi Pola aktivitas dan Tidur, identifikasi Faktor penganggu Tidur Teraupetik

Sediakan Materi dan media pengatran Aktivitas dan Jadwalkan pemberian pendidikan Kesehatan Sesuai Kesepakatan ,Berikan Kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya Edukasi, Jelaskan pentingnya tidur Cukup, Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur, Anjurkan menghindri Makanan / minuman yang meganggu tidur, Ajarkan Faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (Bermain Game sebelum tidur). Pada Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga ObservasiIdentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi Teraupetik Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi Jelaskan penangana masalah Kesehatan ,Anjurkan menggunakan fasilitas kesehatan ,Ajarkan Pemeliharaan kesehatan .

4. Implementasi Keperawatan

Tindakan perawat adalah upaya perawat untuk membantu kepentingan klien, keluarga, dan komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi fisik, emosional, psikososial, serta budaya dan lingkungan, tempat mereka mencari bantuan. Tindakan keperawatan adalah implementasi/pelaksanaan dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.

Pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan adalah dengan menerapkan teknik komunikasi terapeutik. Dalam melaksanakan tindakan perlu melibatkan seluruh anggota keluarga dan

selama tindakan, perawat perlu memantau respon verbal dan nonverbal pihak keluarga

Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Pada Klien 1 dan 2 dilakukan pada waktu yang bersamaan yaitu klien 1 7 juli 2021- 18 Juli ,Klien 2 7 Juli – 16 Juli 2021 . Implementasi di lakukan sesuai dengan intervensi yang di buat dan di sesuaikan dengan masalah keperawatan yang ditemukan pada Klien 1

Defisit Pengetahuan Berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah Kesehatan yaitu Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerimma Informasi ,Jelaskan dan sediakan Materi dan media Pendkes ,Beri kesematan Untuk Bertanya, Jelaskan Pola Hubungan Antara Orang Tua dan Remaja, Ajarkan mengenai Sikap Menghadapi Perilaku Remaja Ajarkan Komunikasi Dengan Remaja, Anjurkan Rutinitas bersama keluarga

Pada Diagnosa Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah Kesehatan yaitu Identifikasi Kesiapan Menerima Informasi ,,Identifitikasi Pola aktiitas dan Tidur Identifikasi Faktor penganggu Tidur ,Sediakan materi, Jadwalkan Pednkes , Beri kesempatan keluarga Untuk bertanya ,Jelaaskn pentingnya Tidur Cukup,Anjurkan menepati kebiasan Tidur ,Anjurkan menghindari makanan dan minuman yang menganggu Tidur , Ajarkan Faktor yang berkontribusi terhadap gangguan Tidur

Pada Klien 2

Diagnosa Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah Kesehatan yaitu Identifikasi Kesiapan Menerima Informasi ,,Identifitikasi Pola aktiitas dan Tidur Identifikasi Faktor penganggu Tidur ,Sediakan materi, Jadwalkan Pednkes , Beri kesempatan keluarga Untuk bertanya ,Jelaaskn pentingnya Tidur Cukup,Anjurkan menepati kebiasan Tidur ,Anjurkan menghindari makanan dan minuman yang menganggu Tidur , Ajarkan Faktor yang berkontribusi terhadap gangguan Tidur

Pada Diagnosa Kesiapan Peningkatan Pengetahuann Keluarga Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima Informasi ,Sediakan Materi dan dan Media Pendkes ,Jadwalkan Pendeks sesuai Kesepakatan Berikan Kesempatan Untuk bertanya ,JelaskanPenaganan Masala Kesehatan Remaja,Anjurkan menggunakan fasilitas kesehatan , Ajarkan Pemeliharaan kesehatan

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tindakan untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai, meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan. Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan.

Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi atau tindakan yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya.

Keefektifan ditentukan dengan melihat respon keluarga dan hasil,

Dalam dokumen 34. MUHAMMAD AKBAR NAIM ( P07220118094 ).pdf (Halaman 123-145)

Dokumen terkait