BAB V HASIL, PEMBAHASAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN . 38
5.2 Pembahasan
5.2.1 Hubungan Antara Status Gizi (IMT) dengan Tekanan Darah
Pada penelitian ini, menunjukkan bahwa ada perbedaan proporsi antara variabel tekanan darah hipertensi dengan status gizi yang tidak obesitas (76,5%) dan obesitas (60%). Namun, hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi (IMT) dengan tekanan darah dengan nilai p> 0,05. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Apriany, dkk (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara IMT dengan tekanan darah. Adanya kemungkinan yang membuat tidak terdapat hubungan antara status gizi (IMT) dengan tekanan darah pada penelitian ini dapat disebabkan oleh faktor lain, yakni faktor karakteristik responden, konsumsi obat antihipertensi, pola hidup sehat, dan asupan makanan sehari-hari yang merupakan variabel tidak diteliti dalam penelitian ini.
Hubungan antara IMT dengan hipertensi telah dibuktikan oleh Anggara dan Prayitno (2013) yang menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara IMT dengan hipertensi (p < 0,05). Selain itu, uji statistik indeks massa tubuh dengan tekanan darah sistolik dan diastolik di Poliklinik Hipertensi dan Nefrologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (Greyti, 2014) juga menyebutkan bahwa ada hubungan indeks massa tubuh dengan tekanan darah, terlihat dari nilai dari korelasi Spearman yang menunjukkan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan hubungan lemah.
Seperti yang dijelaskan oleh Ramayulis (2010), hubungan hipertensi dengan berat badan lebih sangat kuat. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk menyampaikan oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Artinya volume darah yang beredar di pembuluh darah bertambah sehingga memberi tekanan yang lebih besar pada dinding pembuluh darah arteri.
Faktor lainnya, kebiasaan sering mengkonsumsi lemak jenuh seperti konsumsi gorengan, santan yang pekat, daging sapi, otak, jeroan
erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang terbukti mempunyai faktor resiko berhubungan dengan kejadian hipertensi. (Sheps, 2005) 5.2.2 Hubungan Antara Asupan Bahan Makanan Sumber Purin dengan
Tekanan Darah
Pada penelitian ini, menunjukkan bahwa ada perbedaan proporsi antara variabel tekanan darah hipertensi dengan asupan bahan makanan sumber purin yang normal (72,5%) dan tinggi (41,7%). Namun, hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan bahan makanan sumber purin dengan tekanan darah dengan nilai p> 0,05.
Adanya kemungkinan tidak ada hubungan tersebut disebabkan oleh salah satu faktor variabel antara (hiperuresemia) yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara langsung seperti yang telah dijelaskan dalam kerangka teori. Selain itu, faktor resiko seperti karakteristik responden yang tidak dihubungkan dengan tekanan darah juga menjadi salah satu kemungkinan yang mempengaruhi hasil penelitian ini.
Kemungkinan lainnya disebabkan oleh sebagian besar responden mempunyai asupan bahan makanan sumber purin <1000 mg/hr sebanyak 40 orang. Konsumsi purin pada responden <1000 mg/hr kemungkinan disebabkan karena mereka menyadari orang dengan tekanan darah tinggi tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan daging jerohan, seperti babat, usus, hati, dsb.
Menurut asumsi peneliti, responden sudah banyak terpapar mengenai pengetahuan diet makanan untuk orang hipertensi sehingga dapat membantu seorang penderita hipertensi untuk menjaga pola makan agar hipertensi yang diderita tidak semakin parah karena responden pada penelitian ini lebih banyak ditemukan pada kelompok usia ≥ 45 tahun.
Dengan bertambahnya usia maka tingkat pengetahuan akan berkembang sesuai dengan pengetahuan yang didapat menurut Wawan (2010) dan Mubarak (2007) juga menjelaskan bahwa pada dasarnya pengetahuan akan terus bertambah sesuai dengan proses pengalaman manusia yang dialami, sumber informasi baru didapatkan merupakan pengganti pengetahuan
yang telah diperoleh sebelumnya atau merupakan penyempurnaan informasi sebelumnya.
Makanan tinggi purin dikatakan berkontribusi terhadap peningkatan asam urat darah. Membatasi konsumsi purin yang tinggi atau dengan melakukan diet rendah purin akan dapat mencegah atau menurunkan kadar asam urat dalam darah. (Hensen, 2007) Beberapa kebiasaan makan akan mempengaruhi terhadap terjadinya penyakit hipertensi, diantaranya konsumsi lemak berlebihan dapat meningkatkan kejadian hipertensi, terutama pada asupan lemak jenuh dan kolesterol.
(Ramayulis, 2010) Pada umumnya lemak jenuh terdapat pada produk hewani. Semkain banyak lemak jenuh yang kita makan, semkain tinggi pula kadar kolesterol darah. (Paran, 2007) Makanan yang mengandung banyak kolesterol biasanya sekaligus mengandung asam urat yang banyak pula sehingga orang yang kadar kolesterol darahnya tinggi sering kadar asam urat darahnya juga tinggi. (Kertia, 2009) Kolesterol banyak terdapat dalam otak, lidah, hati, dan jeroan (usus, babat, ampela, limpa, ginjal, jantung, paru-paru), kuning telur, udang, kerang, daging sapi. (Harry, 2007) Makanan tersebut merupakan sebagian besar dari jenis bahan makanan sumber purin tinggi dan sedang (lihat tabel 3, halaman 10).
Penelitian dari Diantari tahun 2013, juga memperlihatkan bahwa besarnya asupan purin berpengaruh terhadap kadar asam urat. Jadi semakin tinggi konsumsi purin semakin tinggi pula kadar asam urat.
Kondisi ini dapat memicu terjadinya hiperurisemia.
Hubungan antara hiperurisemia dengan hipertensi semakin diperkuat oleh studi eksperimental dengan hewan percobaan tikus (Heinig dan Johnson, 2006 dalam Vardhani, 2010). Percobaan tersebut menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah tikus, 3 – 5 minggu setelah kadar asam urat mereka ditingkatkan melalui pemberian oxonic acid. Oxonic acid merupakan suatu inhibitor uricase yang bertugas menghambat kerja enzim uricase. Sedangkan cara kerja enzim uricase adalah mengubah asam urat menjadi allantoin yang lebih larut dan dapat diekskresi lewat urin. Mekanisme yang mendasari terjadinya hipertensi
pada percobaan tersebut adalah hiperurisemia menyebabkan vasokontriksi renal akibat penurunan kadar endothelial nitric oxide (NO), meningkatkan produksi renin pada macula densa ginjal, dan mengaktifkan sistem RAA (Renin – Angiotensin – Aldosteron).
Peningkatan kadar asam urat akan meningkatkan volume radikal bebas yang berpotensi merusak sel endotelium. Kerusakan sel tubuh akan menggangu kinerja tubuh dalam mengatur keseimbangan tekanan darah sehingga memicu peningkatan tekanan darah. Sejumlah studi telah mengungkapkan adanya kaitan erta antara hiperurisemia dan hipertensi.
Hiperurisemia memicu kerusakan dan penurunan fungsi ginjal yang menyebabkan tekanan darah meningkat secara permanen (Lingga, 2012)