BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pada dasarnya, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match memberikan perubahan yang signifikan kepada siswa terutama pada kemampuan menyelesaikan pecahan sederhana dan perubahan sikap dan aktivitas siswa pada proses pembelajaran, hal ini berdasarkan data hasil analisis kuantitatif dan kualitatif.
Analisis data kualitatif diperoleh dari skor rata-rata hasil belajar siswa siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 15,79 dengan nilai rata-rata pada siklus I sebesar 67,63 sedangkan pada siklus II sebesar 83,42. Berikut ini disajikan grafik peningkatan nilai rata-rata siswa pada siklus I dan siklus II:
Grafik 4.1. Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
92 Untuk persentase hasil belajar yang dikelompokkan dalam empat kategori juga mengalami peningkatan. Peningkatan persentase hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II tersebut disajikan pada grafik dibawah ini:
Grafik 4.2. Persentase Hasil Belajar Siswa siklus I dan II
Berdasarkan grafik 4.2 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II untuk kategori sangat baik mengalami peningkatan sebesar 21.07% yaitu pada siklus I 2,63% sedangkan pada siklus II naik menjadi 23,37%. Siswa yang masuk dalam kategori baik mengalami peningkatan sebesar 52,63% pada siklus I yaitu 10,52% pada siklus II naik menjadi 63,15%. Untuk siswa yang masuk kategori cukup pada siklus I yaitu 28,95% turun pada siklus II menjadi 2.63% sehingga mengalami penurunan persentase sebesar 55,27%. Siswa yang masuk kategori kurang pada siklus I yaitu 57,9% turun pada sisklus II menjadi 10,52% sehingga mengalami penurunan sebesar 47,38%.
2.63%
23.70%
10.52%
63.15%
28.95%
2.63%
57.90%
10.52%
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
Siklus I Siklus II
Persentase Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
Sangat baik Baik Cukup Kurang
93 Sementara peningkatan ketuntasan hasil belajar pada pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II siswa kelas III SDN. Centre Mangalli disajikan dalam grafik berikut ini:
Grafik 4.3. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II Grafik di atas menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus I persentase siswa yang tuntas adalah 42,1% dan pada siklus II naik menjadi 89,5%. Untuk persentase siswa yang tidak tuntas pada siklus I yaitu 57,9% dan pada siklus II turun menjadi 10,5%.
Analisis data kualitatif diperoleh dari data sikap dan aktivitas siswa.
Pada siklus I sikap dan aktivitas siswa mengalami perubahan pada siklus II.
Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jumlah kehadiran siswa pada siklus I mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 88% dan pada siklus II mencapai 99%.
42.1%
89.5%
57.9%
10.5%
Siklus I Siklus II
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I dan Siklus II
Tuntas Tidak Tuntas
94 2. Siswa yang memperhatikan guru pada saat pembelajaran siklus I sebesar
33,3% dan pada siklus II sebesar 77%.
3. Siswa yang bertanya kepada guru tentang materi yang belum jelas pada saat pembelajaran pada siklus I yaitu 16% dan pada siklus II yaitu 20%.
4. Siswa yang memberikan tanggapan tentang materi pada siklus I yaitu 15,7% dan pada siklus II yaitu 20%.
5. Siswa yang mampu mencari pasangan dari kartu yang didapat pada siklus I sebesar 15% dan pada siklus II sebesar 65%.
6. Siswa yang dapat berdiskusi dan bekerjasama dengan pasangannya pada siklus I sebesar 21% dan pada siklus II sebesar 29%.
7. Siswa yang mampu mempersentasekan hasil diskusinya dengan pasangannya pada siklus I yaitu 22% dan pada siklus II yaitu 32,4%
8. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembelajaran berlangsung pada siklus I sebesar 54,4% dan pada siklus II sebesar 22%.
Persentase sikap dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II tersebut disajikan pada grafik di bawah ini:
95
Siklus I Siklus II
Jumlah Siswa Yang Hadir 88% 99%
Siswa Yang Memperhatikan
Guru 33.30% 77%
Siswa Yang Bertanya Kepada Guru Tentang Materi Yang Belum Jelas
16% 20%
Siswa Memberikan
Tanggapan 15.70% 20%
Siswa Yang Mampu Mancari Pasangan Dari Kartu Yang
Telah Didapatkan
15% 65%
Siswa Dapat Berdiskusi Serta Bekerjasama Dengan
Pasangannya
21% 29%
Siswa Mampu Mempersentasekan Hasil
Dari Berdiskusi Dengan Pasangannya
22% 32.40%
Siswa Melakukan Kegiatan lain Pada Saat Pembelajaran Berlangsung
54.4% 22%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
Persentase Sikap dan Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran Pada Siklus I dan Siklus II
Grafik 4.4. Persentase Sikap dan Aktivitas Siwa Siklus I dan Siklus II Berdasarkan grafik 4.4 di atas menunjukkan bahwa jumlah kehadiran siswa pada siklus I mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 11% dari 88% menjadi 99%, untuk siswa yang memperhatikan guru pada saat proses pembelajaran pada siklus I yaitu 3,3% dan pada sikulus II menjadi 77%
sehingga mengalami peningkatan sebesar 73,7%, siswa yang bertanya kepada guru tentang materi yang belum jelas mengalami peningkatan sebesar 4%
96 pada siklus I yaitu 16% dan pada siklus II menjadi 20%. Siswa yang memberikan tanggapan pada siklus I yaitu 15,7% dan pada siklus II meningkat menjadi 20% sehingga mengalami peningkatan sebesar 4,3%, siswa yang mampu mencari pasangan dari kartu yang telah didapatkan mengalami peningkatan persentase sebesar 50% pada siklus I yaitu 15% dan pada siklus II menjdai 65%. Untuk siswa yang dapat berdiskusi dan bekerjasama dengan pasangannya mengalami peningkatan sebesar 8% pada siklus I sebesar 21%
pada siklus II naik menjadi 29%, siswa yang mampu mempersentasekan hasil diskusi dengan pasangannya pada siklus I sebesar 22% pada siklus II naik menjadi 32,4% sehingga mengalami peningkatan sebesar 10,4%. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembelajaran berlangsung pada siklus I yaitu 54,4% turun pada siklus II yaitu 22% sehingga mengalami penurunan sebesar 32,4% dari jumlah keseluruhan siswa.
Rata-rata persentase sikap dan aktivitas siswa pada aspek positif mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II. Rata-rata persentase pada aspek positif siklus I selama proses pembelajaran yaitu 30,14% dan siklus II yaitu 54,4%. Sedangkan untuk sikap dan aktivitas siswa pada aspek negatif mengalami penurunan, pada siklus I yaitu 49% dan siklus II yaitu 22%. Rata- rata persentase sikap dan aktivitas siswa pada aspek positif dan aspek negative selama proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada diagram berikut:
97 Grafik 4.5. Rata-Rata Persentase Sikap dan Aktivitas Siswa Pada Aspek
Positif dan Aspek Negatif Siklus I dan Siklus II
Respons siswa terhadap pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match sangat efektif terhadap pembelajaran karena berdasarkan persentase pada aspek respons positif, siswa yang menjawab “ya”
sebesar 95,79% dan persentase pada aspek respons negatif, siswa yang menjawab “tidak” sebesar 92,62% dan telah mencapai indikator yang telah ditetapkan yaitu respon positif mencapai 75%.
Berdasarkan pembahasan dan pola grafik yang mengalami peningkatan maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan siklus II. Sikap dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran mengalami perubahan yang positif dan respon siswa pada aspek positif yang tinggi semakin menguatkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil
30.14%
49.00%
50.40%
22.00%
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
Siklus I Siklus II
Aspek Positif Aspek Negatif
98 belajar matematika materi pecahan sedarhana pada siswa kelas III SDN.
Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa
99 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan sederhana pada siswa kelas III SDN. Centre Mangalli dari siklus I dan siklus II dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi pecahan sederhana pada siklus I mengalami peningkatan yang sigifikan pada siklus II. Pada siklus I siswa yang tuntas dan telah mencapai KKM sebanyak 16 siswa atau sekitar 42,1% sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu 34 siswa atau sekitar 89,5% dari jumlah siswa seluruhnya. Untuk siswa yang tidak tuntas dan tidak mencapai KKM pada siklus I sebanyak 22 siswa atau sekitar 75,9% sedangkan pada siklus II turun menjadi 4 siswa atau sekitar 10,5% dari jumlah keseluruhan siswa dengan nilai rata- rata yang mengalami peningkatan pada siklus I yaitu 67,63 sedangkan pada siklus II naik menjadi 83,42.
2. Terjadi perubahan sikap dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran yang dibuktikan dengan terjadinya peningkatan yang positif pada siswa yang diperolehan dari hasil observasi. Rata-rata persentase pada aspek positif siklus I adalah 30,14% mengalami peningkatan pada siklus II
100 menjadi 54,4% sedangkan pada aspek negatif mengalami penurunan pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I rata-rata persentase sikap dan aktivitas siswa yaitu 49%, pada siklus II yaitu 22%.
3. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam aspek positif terhadap pembelajaran sebesar 95,7% dan dalam aspek negative terhadap pembelajaran sebesar 92.62%.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka beberapa saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
a. Bagi Guru:
1. Guru diharapkan dapat menggunakan pembelajaran kooperatif tipe make a match di dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Agar proses pembelajaran berjalan dengan aktif dan lancar guru dapat memilih model pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan dalam pembelajaran.
b. Bagi Siswa:
Diharapkan bagi siswa agar lebih memperhatikan guru ketika menjelaskan dan lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasinya di sekolah.
101 DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni Aisyah. 2020. Menegaskan Manusia Sebagai Objek dan Subjek Ilmu Pendidikan. Pelita Bangsa Pelestari Pacncasila. 15(2): 60-74.
Arikunto Suharsimi, Suhardjono, & Supriadi. 20015. Penelitian Tindakan Kelas Edisi Revisi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Astuti I Gusti Ayu, P. S. 2021. Penerapan Pembelajaran Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika. Inovasi Jurnal Guru , 7(15): 63- 65.
Assofi Muhammad, P. D. Damayani Aries T. & Rofian. 2019. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Faktor Persekutuan Besar dan Kelipatan Persekutuan Kecil melalui Model NHT Berbantu Media Papan Puzzle Berbintang. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 3(4): 513-514.
Baruna Antonius Rio. 2013. “Efektivitas Pembelajaran Remidial Dengan Menggunakan Alat Peraga Fraction Wall Pada Materi Pecahan Di Kelas IV SD Tarakanita Ngembesan. Yoyakarta”. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Santa Dharma, Yogyakarta.
Budiyanto, Moch. A. K. 2016. Sintaks 45 Metode Pembelajaran dalam Student Centred Learning (SCL). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang press.
Erawati Desi. 2015. “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Pecahan Sederhana Melalui Media Kartu Pecahan Di kelas III SD Negeri Kyai Mojo Yogyakarta”. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta
Estuwardani, N. A., & Mustadi, A. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif Dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik Kelas I Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 5(2), 157–172.
Fajri, Z. 2018. Bahan Ajar Tematik Dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013.
Pedagogik Jurnal Pendidikan, 5(1): 100-108.
Guantara, Gd., dkk. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 1(2): 1-10.
Hasbullah, H. & Wiratomo, Y. 2015. Metode, Model dan Pengembangan Model Pembelajaran Matematika. Jakarta: Unindra Press.
102 Heruman. 2016. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Indriani Fitriani. 2016. Kompetensi Pedagogik Mahasiswa Dalam Mengelola Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 Pada Pembelajaran Micro di PGSD UAD Yogyakarta. Elementary School 3, 3(3): 1-12.
Isant, Mr. 2018. Menyederhanakan, Membandingkan, dan Mengurutkan Bilangan Pecahan. https://guruisant.igi.my.id/2020/07/menyederhanakan- membandingkan-dan.html. Diakses pada tanggal 18 April 2021
Islam, S. 2017. Karakteristik Pendidikan Karakter; Menjawab Tantangan Multidimensional Melalui Implementasi Kurikulum 2013. Edureligia Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1): 89–101.
Kamarullah. 2017. Pendidikan Matematika di Sekolah Kita. Alkhawarizmi, 1(1):
21-32.
Kusumawati Yun & Ariguntar Panca. 2018. Tematik Terpadu Kurikulum 2013.
Surakarta: CV Putra Nugraha.
Lubis Maulana, A. & Azizan, N. 2020. Pembelajaran Tematik. Jakarta: Kenaca A.
Majid, A. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Rosdakarya.
Mahanani, Ayu. 2018. “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Pecahan Sederhana Melalui Media Kartu Pecahan di Kelas III SD Negeri 2 Wates”. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Malawai, I. & Kadrawati, A. 2017. Pembelajaran Tematik (KOnsep Dan Aplikasi). Jawa Timur: CV. AE Media Grafika.
Marta, Rusdial. 2017. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Dengan Pendekatan Problem Solving Siswa Sekolah Dasar. Journal Cendekia:
Jurnal Pendidikan Matematika, 1(1): 24-37.
Murdiani. 2018. Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menjumlahkan Pecahan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Siswa kelas IV SDN Hariang Kecamatan Banua Lawas Kabupaten Tabalong. Jurnal Sagacious, 4(2): Hal 35-40.
Nurdyansyah & Fahyuni, F. E. 2016. Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013. Sidoarjo: Nizama Learning Centre.
103 Permatasari, E. A. 2014. Implementasi Pendekatan Saintifik Dalam Kurikulum
2013 Pada Pembelajaran Sejarah. Indonesia Journal of History Education, 3(1): 11-16.
Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahmah, Nur. 2013. Hakikat Pendidikan Matematika. Rumah Jurnal, 1(2) : 1-10.
Rahmayanti Ira, D. S & Koeswanti H. D. penerapan Model Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Siswa Kelas IV SD Negeri Diwak. Jurnal Pendidikan Matematika, 5(3): 209-218.
Rahyuni, Sang A. P., dkk. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Make A Match Berbantuan Media Kartu Gambar Untuk Meningkatkan Perkembangan Bahasa Anak. Journal PG PAUD Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1): 1- 10.
Sanjaya, W. H. 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pranemedia.
Sinambela Pardomuan, N. J. 2013. Kurikulum 2013 dan Implementasinya Dalam Pembelajaran. Generasi Kampus, 6(2): 17-29.
Suharni. 2021. Meningkatkan Keaktifan Hasil Belajar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Wide Game Pada Peserta Didik Kelas VIID SMP Negeri 13 Tegal. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 8(1): 87-92.
Sudjana, Nana & Ahmad Rivai. 2011. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Supriatin Ade Ipin. 2017. Penggunaan Kartu Make A Match Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Membedakan Jenis-Jenis Adaptasi. Jurnal Wahana Pendidikan, 4(2): 1-17.
Supriyono, Agus. 2011. A Cooperative learning teori dan aplikasi. Yogyakarta:
Pustaka pelajar.
Soyomukti, N. 2015. Teori-teori Pendidikan: Tradisional,(Neo)libera), Marxissosialis, Postmodern. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
Thobroni, M & Mustofa A. S. 2013.. Belajar dan Pembelajaran (Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional.
Yogyakarta: Ar-ruzz Media.
Triono, Urip. 2019. Kepemimpinan Transformasi dalam Pendidikan Formal, Non Formal dan Indormal. Sleman: Deepublish (Grup Penerbitan CV Budi Utama).
104 Ula Sidratul & Barutu Fabelia A. 2019. Pengaruh Model Kooperatif Tipe
Roundrobin Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTs Hidayatul Muta’allim Mengkirau Kecamatan Tasik Putripuyu Kabupaten Kepulauan Meranti. Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2): 21-27.
Unaenah Een & Sumantri, Muhammad S. 2019. Analisis Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Pada Materi Pecahan. Jurnal Basiedu 3(1): 106-111.
Untari, E. (2013). “Diagnosis Kesulitan Belajar Pokok Bahasan Pecahan Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar”. Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Ngawi, 13(1):
1-8.
Wahidin, Unang. 2013. Pendidikamn Karakter Bagi Remaja. Jurnal Pendidikan Islam, 2(3): 256-269.
Wafi, A. 2017. Konsep Dasar Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Edureligia Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2): 131-139.
Yusuf, H. 2019. Pokoknya Administrasi Pendidikan. Tulungagung: Cahaya Abadi.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : SDN Centre Mangalli Kelas / Semester : III (Tiga) / 2
Mata Pelajaran : Matematika
Jumlah Pertemuan : 1 X Pertemuan (Pertemuan 1 Siklus I) Alokasi Waktu : 2 X 35 Menit
A. Kompetensi Inti (KI) :
KI1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
KI3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengamati, mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI4. Menyajikan pengetahuan factual dalam bahasa yang jelas, sitematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar Indikator
3.4 Menggeneralisasi ide pecahan sebagai bagian dari keseluruhan menggunakan benda- benda konkret.
3.4.1 Mengenal pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret.
3.4.2 Mengidentifikasi pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret.
4.4 Menyajikan pecahan sebaga bagian dari keseluruhan menggunakan benda-benda konkret.
4.4.1 Menyajikan pecahan dalam bentuk benda konkret.
4.4.2 Menyelesaikan soal berkaitan dengan pecahan.
C. Tujuan Pembelajaran :
1. Dengan mengamati, siswa dapat mengenal pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret dengan tepat.
2. Dengan mengamati, siswa dapat mengidentifikasi pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret dengan tepat.
3. Dengan mengamati, siswa dapat menyajikan pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh menggunakan benda konkret.
4. Dengan mengamati, siswa dapat menyelesaikan soal berkaitan dengan pecahan
Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I
D. MAteri Ajar
Mengenal Pecahan Sederhana
Mengenal pecahan setengah, sepertiga, seperempat, dan seperenam.
Kue A
1. Satu dibagi 2 bagian yang sama.
2. Nilai tiap bagian satu per dua atau seperdua.
3. Yang diarsir 1 dari 2 bagian, nilainya 1 per 2 atau seperdua.
4. Lambang pecahan seperdua adalah ½ . 5. 1 disebut pembilang dan 2 disebut penyebut.
Kue B
1. Satu dibagi 4 bagian yang sama.
2. Nilai tiap bagian satu per empat atau seperempat.
3. Yang diarsir 1 dari 4 bagian, nilainya 1 per 4 atau seperempat. Lambang pecahan seperempat adalah ¼ .
4. 1 disebut pembilang dan 4 disebut penyebut.
E. Metode Pembelajaran
➢ Pendekatan : Saintifik
➢ Model : Kooperatif tipe make a match F. Media, Alat Bantu dan Sumber Belajar
1. Buku guru kurikulum 2013 tema 5 edisi revisi 2018 2. Buku siswa kurikulum 2013 tema 5 edisi revisi 2018 3. Whiteboard
4. Board maker 5. Media kartu
G. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
Waktu Kegiatan
Pendahuluan
1. Kelas dimulai dengan memberi salam, menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa.
2. Kelas dilanjutkan dengan do’a dipimpin oleh salah seorang siswa. Siswa yang diminta membaca do’a adalah siswa siswa yang hari ini datang paling awal. (Menghargai kedisiplikan
15 menit
siswa/PPK).
3. Siswa diingatkan untuk selalu mengutamakan sikap disiplin setiap saat dan manfaatnya bagi tercapainya cita-cita.
4. Menyanyikan lagu Garuda Pancasila atau lagu Nasional lainnya. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya menanamkan semangat Nasionalisme.
5. Siswa membaca senyap selama 10 menit teks bacaan pada buku siswa tentang “pengaruh perubahan cuaca pada kehidupan manusia”
(Penguatan program Literasi).
6. Guru menyampaikan tujuan pembajaran dengan mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe make a match.
Kegiatan Inti
Langkah-langkah Pembelajaran:
• Memancing pengetahuan siswa dengan menjelaskan konsep pecahan sederhana. Satu pisang dibagi dua, dapat kita tulis ½ (seperdua).
• Guru memberikan materi dengan memperkenalkan pecahan dan lambang pecahan sederhana.
• Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match.
• Guru membagi kartu berwarna putih dan berwarna merah yang telah dibuat secara acak.
• Guru memberi waktu beberapa menit kepada siswa yang memegang kartu berwarna putih yang berisi soal untuk memikirkan jawaban dari soal tersebut.
• Guru meminta siswa yang memegang kartu berwarna pink untuk membuka kartu yang mereka dapat dan menunjukkan kepada temannya.
• Guru meminta kepada siswa yang memegang kartu berwarna putih untuk mencari jawaban pada siswa yang memegang kartu berwarna pink.
• Pasangan siswa yang sudah dapat mencocokkan kartunya, kemudian saling duduk berdekatan.
• Siswa secara berpasangan mendiskusikan soal dan jawaban pada kartu.
• Siswa secara berpasangan naik ke depan kelas untuk mempersentasekan hasil diskusinya.
• Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari
40 menit
sebelumnya, demikian seterusnya.
• Guru memberikan penghargaan kepada pasangan yang paling cepat menemukan pasangannya.
• Guru memberi umpan bailk dan penguatan terhadap kerja siswa.
Kegiatan Penutup
A. Guru dan siswa melakukan refleksi mengenai kegiatan pembelajaran.
B. Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
C. Guru memberi tugas tambahan/ PR.
D. Salam dan doa penutup dipimpin oleh salah satu siswa (Religius)
15 menit
H. Penilaian Hasil Pembelajaran 1. Tekhnik Penilaian
✓ Tes menjawab soal pilihan ganda
✓ LKS
2. Skor Penilaian
✓ Setiap jawaban benar mendapat nilai = 10
✓ Nilai maksimal = 100
Skor = jumlah skor yang diperoleh x 100 Jumlah skor maksimal
3. Soal LKS
Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat!
1. Pecahan 4
6, angka empat pada pecahan tersebut merupakan … a. Angka
b. Pembilang c. Penyebut
2. Lambang pecahan seperdelapan adalah … a. 1
8
b. 8
8
c. 11
8
3. 2
8 angka delapan pada pecahan tersebut merupakan … a. Penyebut
b. Pembilang c. Angka 4. 1
3 biasa juga disebut … a. Satu bagi tiga b. Sepertiga c. Satu garis tiga
5. Bagian pembilang pada pecahan 5
10 adalah ..
a. 10 b. – c. 5
6. Lambang pecahan dari gambar berikut adalah …
a. 5
5
b. 5
1
c. 1
5
7. Bagian penyebut pada pecahan 4
7 adalah … a. –
b. 7 c. 4
8. Ibu membuat kue bolu. Satu Loyang kue bolu dipotong menjadi 2 bagian. Setiap potongan disebut …
a. Seperdua b. Sepertiga c. Seperempat
9. Ibu Siti menyediakan satu roti panggang untuk sarapan pagi. Roti tersebut dipotong menjadi 12. Setiap anggota keluarga akan mendapat berapa bagian roti?
a. Seperdua b. Seper duabelas c. Dua perduabelas
10. Buah jeruk merupakan salah satu buah segar jika dimakan pada saat udara panas. Andi ingin membagi jeruknya kepada Budi. Dari satu buah jeruk, Andi dan Budi akan mendapat seperdua bagian jeruk.
Seperdua dilambangkan dengan pecahan …
a. 2/2 b. 1/2 c. 2/1
Mangalli, Mei 2021 Peneliti,
(Musdalifah Syarief ) NIM. 105401130519 Mengetahui
Kepala UPT SDN Centre Mangalli,
( Sitti Mufida, S.Pd., M.Pd) NIP 19691014 199012 2 001
Guru Kelas III,
(Nurniati, S.Pd ) NIP. 19790101 201410 2 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : SDN Centre Mangalli Kelas / Semester : III (Tiga) / 2
Mata Pelajaran : Matematika
Jumlah Pertemuan : 1 X Pertemuan (Pertemuan 2 Siklus I) Alokasi Waktu : 2 X 35 Menit
A. Kompetensi Inti (KI) :
KI1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
KI3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengamati, mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI4. Menyajikan pengetahuan factual dalam bahasa yang jelas, sitematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar Indikator
3.4 Menggeneralisasi ide pecahan sebagai bagian dari keseluruhan menggunakan benda- benda konkret.
3.4.1. Mengenal macam-macam bilangan pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret.
3.4.2 Mengidentifikasi pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh dari benda konkret.
4.4 Menyajikan pecahan sebagai bagian dari keseluruhan menggunakan benda-benda konkret.
4.4.1 Menyajikan pecahan dalam bentuk benda konret.
4.4.2 Menyelesaikan soal berkaitan dengan pecahan.
C. Tujuan Pembelajaran :
1. Dengan mengamati, siswa dapat mengenal macam-macam bilangan pecahan sebagai bagian dari benda konkret secara tepat.
2. Dengan mengamati, siswa dapat mengidentifikasi pecahan sebagai bagian dari benda konkret secara tepat.
3. Dengan mengamati, siswa dapat menyajikan pecahan menggunakan benda konkret dengan benar.