BAB II. KAJIAN TEORI
D. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajarkan materi secara kompleks dan dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia (Budianto Moch. A. K., 2016: 12). Sejalan dengan pendapat tersebut, Slavin dalam Nurdyansyah dan Fahyuni E. F. (2016: 12) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif menghalalkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok, membolehkan terjadinya ide dalam suasana yang nyaman sesuai falsafah konstruktivisme.
Selain itu, Supriyono A. (2011: 54) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis dan bentuk- bentuk kerja kelompok dipimpin oleh guru dan diarahkan oleh guru. Menurut Nurdyansyah dan Fahyuni E. F (2016: 54) pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan suatu bentuk pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif atau bekerjasama yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang heterogen.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kelompok yang anggotanya
16 terdiri dari empat atau enam orang dan dipimpin dan diarahkan oleh guru sehingga tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia dapat tercapai.
b. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nurdyansyah dan Fahyuni E. F (2016: 59) ada beberapa karakteristik dari pembelajaran kooperatif, diantaranya:
1. Pembelajaran Secara Tim
Setiap anggota tim harus membuat anggotanya belajar dan harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif
Fungsi dari manajemen kooperatif yaitu fungsi manajemen sebagai perencanaan yaitu dimana pembelajaran dilaksanakan sesuai perencanaan dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan, fungsi manajemen sebagai organisasi yaitu pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif dan fungsi manajemen sebagai kontrol adalah pembelajaran kooperatif memerlukan kriteria yang sudah ditentukan atas keberhasilan pembelajaran melalui tes maupun non tes.
3. Kemauan Untuk Bekerjasama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh kerjasama kelompok.
17 4. Keterampilan Bekerja sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktekkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara kelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai yang telah ditetapkan.
c. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Nurdyansyah dan Fahyuni, E. F (2016: 64) mengemukakan bahwa langkah-langkah dari pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap yaitu:
1. Penjelasan materi, tahapan ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok.
2. Belajar kelompok, tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
3. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis yang dilakukan secara individu atau kelompok.
4. Pengakuan tim, penetapan tim yang paling menonjol dan tim paling berprestasi diberikan penghargaan atau hadiah dengan tujuan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.
18 d. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Nurhadi dkk, dalam Thobroni, M., dan Mustofa, A. S. (2013: 290-291) menyatakan bahwa kelebihan dari pembelajaran kooperatif adalah:
1. Siswa mudah melakukan penyesuaian sosial;
2. Siswa dapat mengembangkan kegembiraan belajar sejati;
3. Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan informasi, perilaku sosial dan pandangan;
4. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen pada siswa;
5. Meningkatkan keterampilan metakognitif pada siswa;
6. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau sifat egois pada siswa;
7. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan pada siswa;
8. Menghilangkan perasaan keterasingan siswa akibat kesendirian;
9. Menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian siswa yang sehat dan berintegrasi;
10. Membangun rasa persahabatan antara siswa;
11. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan pada siswa;
12. Mencegah terjadinya kenakalan pada siswa dimasa remaja;
13. Menimbulkan perilaku rasional pada siswa;
19 14. Berbagai macam keterampilan sosial yang diperlukan untuk
memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan;
15. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia, khususnya sesama siswa;
16. Menyelesaikan tugas.
Selain mengemukakan kelebihan dari model pembelajaran kooperatif Nurhadi dkk, dalam Thobroni, M., dan Mustofa, A. S. (2013:
290-291) juga mengemukakan bahwa pada penerapan model pembelajaran kooperatif, selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kekurangan apabila tidak dilaksanakan secara maksimal. Siswa akan menganggap bahwa proses pembelajaran yang berlangsung hanyalah belajar sambil refreshing.
2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
Menurut Rusman dalam Budiyanto Moch. A. K. (2016: 156) Metode Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Lorna Curran. Selain itu Suyatno dalam Supriatin Ade Ipin (2017: 2) mengungkapkan bahwa model make a match adalah suatu model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartu yang mereka dapat.
20 Model pembelajaran make a match adalah suatu model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya Suyatno dalam Rahyuni Sang A.P, dkk. (2014: 3).
Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tipe make a match adalah suatu teknik pembelajaran kelompok dimana siswa mencari kartu jawaban dari kartu soal yang mereka dapat.
3. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Make a Match Nurdyansyah dan Fahyuni F. E. (2016: 77) menjelaskan bahwa penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Langkah- langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan materi yang diajarkan (satu sisi kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban).
b. Setiap siswa mendapat satu kartu kemudian siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
c. Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban).
d. Siswa dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu pemberian poin.
21 e. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f. Kesimpulan.
4. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran make a match
Kelebihan Metode Pembelajaran Make A Match (MaM) menurut Budianto Moch. A. K. (2016: 157) yaitu:
a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik.
b. Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan.
c. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
d. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi.
e. Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.
Kekurangan Metode Pembelajaran Make A Match (MaM) yaitu:
a. Jika metode ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang.
b. Pada awal-awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenisnya.
c. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan.
d. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan, karena mereka bisa malu.
e. Menggunakan metode ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.