• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen meningkatkan kemampuan berbahasa anak (Halaman 141-151)

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan

B. Pembahasan

Dalam pelaksanaan kegiatanpembelajaran pada siklus I, terlebih dahulu telah disusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran dengan tujuan sebagai model atau skenario pembelajaran dengan menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari pada siswa di RA Ar-Rahman tersebut. Hal yang dipersiapkan peneliti yaitu lembar observasi aktivitas guru dan siswa sebagai alat untuk guru dan peneliti menilai aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Selain itu peneliti juga mempersiapkan lembar observasi bagi siswa untuk mengukur sejauh mana peningkatan kemampuan berbahasa anak dengan diterapkannya kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari.

125

Pada kegiatan di siklus I dan siklus II tahapan-tahapan telah dilaksanakan dengan sesuai harapan yaitu terlaksana dengan baik sehingga memberikan dampak yang sangat baik bagi diri siswa yaitu mampu peningkatan kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari.Kegiatan pada siklus I dilakukan dengan dua kali pertemuan yaitu dilaksanakan pada hari jum’at tanggal 20 Mei dan hari sabtu tanggal 21 Mei 2022. Proses kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari sudah sesuai dengan tema yang disiapkan peneliti dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian ( RPPH). Kegiatan yang dilakukan peneliti dan guru dalam proses pembelajaran dikelas difokuskan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari. Hasil dari penelitian pada percobaan siklus I terlihat masih banyak sekali kekurangan dari guru dan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga peneliti melanjutkan pembelajaran pada tahap siklus II dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan- kekurangan yang terjadi pada siklus I.

126

Pada percobaan pembelajaran siklus I masih banyak kekurangan dan hal-hal yang harus diperbaiki, sehingga belum terlihatnya peningkatan kemampuan berbahasa anak yang sesuai dengan harapan peneliti yaitu dengan katagori baik atau sangat baik.

Masih ada beberapa anak yang belum tuntas dalam proses pembelajaran yaitu dari 18 anak 10 diantaranya tuntas dan 8 anak lainnya masih belum tuntas dengan presentase ketuntasan klasikal 55,55% dengan nilai rata-rata 69,16. Dari hasil ketuntasan tersebutdpat disimpulka bahwa peningkatan kemampuan berbahasa anak secara klasikal belum memenuhi kriteria ketuntasan anak.

Karena ketuntasan klasikal itu sendiri apabila>85% jumlah anak yang tuntas.

Pada siklus II prosedur yang dilakukan sama dengan prosedur pada siklus I, Siklus II dilaksanakan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Kegiatan pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 Mei dan 24 Mei 2022. Hasil dari penelitian pada siklus II menunjukkan peningkatan yang sangat baik terhadap kemampuan berbahasa anak. Karena dari hasil data yang diperoleh katuntasan anak dalam proses pembelajaran

127

dikatagorika dengan sangat baik yaitu dari 18 anak 17 diantaranya tuntas dan 1 diantaranya belum tuntas dengan presentase ketuntasan klasikal 94,44% dengan nilai rata-rata 95,27. Dengan hasil akhir pada siklus II yang dikatagorikan snagat baik sehingga peningkatan kemampuan berbahasa anak memenuhi kriteria ketuntasan anak yaitu apabila >85% jumlah anak yang tuntas.

Jika dari hasil data di atas bahwa adanya peningkatan yang terjadi dari siklus I sampai dengan siklus II.Dapat dilihat pada siklus I kemampuan berbahasa anak belum meningkat sesuai dengan harapan peneliti.Namun pada siklus II peningkatan kemampuan berbahasa anak sangat meningkat.

Observasi aktivitas guru pada siklus I pada pertemuan pertama mendapat nilai sebesar 56,66% dengan kategori sedang dan pertemuan kedua mendapat nilai sebesar 73,33% dengan kategori baik, peningkatan terjadi pada siklus I di pertemuan kedua meingkat cukup baik akan tetapi belum memenuhi ketuntasan anak. Sehingga diberlakukannya siklus II.

Hasil observasi aktivitas belajar anak pada siklus II mendapat peningkatan dari pertemuan pertama yaitu 90% dengan kategori

128

sangat baik dan pertemuan ke dua yaitu mengalami peningkatan dengan nilai 100%.Dengan demikian berdasarkan hasil dari pembahasan di atas dan perolehan nilai terjadi peningkatan pada kemampuan berbahasa anak dari siklus I ke siklus II baik dari aktivitas belajar anak maupun aktivitas belajar guru.

Kemampuan berbahasa anak tidak dikuasai dengan sendirinya.

Akan tetapi kemampuan berbahasa akan diperoleh melalui proses pembelajaran atau memerlukan upaya dalam pengembanganya.

Anak mempelajari bahasa dengan berbagai macam cara yakni meniru, menyimak, mengekspresikan dan juga bermain. Untuk melatih anak berkomunikasisecara lisanyaitu dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan anak berinteraksi dengan teman dan orang lain, guru dapat mendesain berbagai kegiatan yang memungkinkan anak untuk mengungkapkan perasaanya..62 Adapun meningkatkan kemampuan berbahasa anak dengan menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari pada siswa di RA Ar-Rahman mampu membantu dalam peningkatan kemampuan berbahasa anak, karena permainan boneka

62Slamet Suyanto, Pembelajaran Untuk Anak Tk. (Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional, 2005), hlm.175.

129

jari adalah permainan edukatif yang memberikan manfaat luar biasa bagi para guru di sekolah yang dari segi pembuatanyya mudah dan bahan yang tentunya tidak sulit didapatkan.63

Hasil temuan data pada penelitian ini sesuai dengan pendapatDjuko bahwa “Bercerita atau mendongeng adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Melalui cerita-cerita atau dongeng yang baik, seseungguhnya anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas, bahkan bisa dikatakan bahwa cerita ternyata bisa menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian anak-anak.64 Dengan bercerita anak lebih cepat dalam menangkap dan mengingat apa yang sudah di dengarnya, bagi anak mendengarkan suatu hal yang menarik akan membuat anak lebih cepat untuk memahami apa yang disampaikan dan nilai yang ingin disampaikan melalui bercerita atau mendongeng.

63Agus Sumitra, dkk, Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Menggunakan Media Boneka Jari, Jurnal Tunas Siliwangi, Vol. 6, Nomor 1, April 2020, hlm, 2.

64Djuco, Meningkatkan Minat Membaca Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Dengan Gambar Di Paud Andini Kelurahan Bulotada Timur Kecamatan Sipatana Kota Gorontalo, Jurnal FIP UNG, Volume 04, No.01, hlm.671-681

130

Faktor yang mendukung keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar adalah tersedianya media pembelajaran yang membantu siswa dalam mengungkapkan bahasanya, suasana belajar pun akan terlihat lebih menarik. Sesuai dengan yang dikatakan Ngalim Purwanto bahwa “Sekolah yang cukup memiliki perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak.65Oleh karena itu penting sekali bagi sekolah dan guru untuk menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, dengan adanya media pembelajaran guru dan peserta didik lebih mudah dalam menyampaikan pelajaran dan menerima pembelajaran.

Aspek perkembangan bahasa yang dinilai peneliti berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (PERMENDIKBUD) Republik Indonesia No.137 Tahun 2014, ada tiga tahapan perkembangan bahasa, yaitu memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan. Perkembangan bahasa yang peningkatannya sangat terlihat adalah perkembangan

65NgalimPurwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 2007), hal.105

131

mengungkapkan bahasa yang indikatornya yaitu anak mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, anak mampu berkomunikasi secara lisan, anak mampu melanjutkan cerita atau dongeng yang sudah di dengar. Dalam proses kegiatan bercerita menggunakan media boneka jarikemampuan mengungkapkan bahasa anak sangat berkembang dengan baik terutama ketika anak mampu dalam berkomunikasi secara lisan dan mampu melanjutkan cerita atau dongeng yang sudah didengarkan anak.

Kemampuan anak dalam mengulang kembali isi dari cerita yang didengarkan menjadi point utama dalam penelitian ini, karena dengan mampunya anak mengulangkembali isi dari cerita yang sudah didengarkan maka secara tidak langsung indikator-indikator dari perkembangan bahasa yang lain akan mampu dikuasi anak.

Mengulangi kembali isi cerita menggunakan media boneka jari mampu meningkatkan anak dalam indikator berkomunikasi secara lisan yaitu dengan anak mengingat kembali apa yang sudah didengakan dan dituangkan langsung melalui bercerita kembali dihadapan guru dan teman-temannya.

132

Kemudian aspek perkembangan bahasa yang sulit untuk dipahami dan ditiru anak yaitu pada perkembangan bahasa dibagian keaksaraan yang indikatornya adalah anak mampu mengenal huruf awal dari nama benda-benda yang di sekitarnya. Kegiatan peneliti dan guru pada pada indikator tersebut yaitu bercerita dengan media boneka jari menggunakan tiga macam tokoh karakter binatang yang ada dalam cerita tersebut.yang masing-masing dari tokoh binatang tersebut memiliki suara yang berbeda-beda.Dalam menirukan suara binatang yang berbeda dalam satu waktu ketika bercerita menjadi suatu tantangan dalam menggunakan media boneka jari, karena harus mampu berfikir cepat untuk mengalihkan antara suara karakter satu dan suara karakter lainnya.

Bercerita menggunakan media boneka jari menjadi hal yang baru dan pertama kali diterapkan dalam sekolah tersebut. Antusias anak sangat tinggi ketika peneliti menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari, jadi menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari pada anak di RA Ar-Rahman Lembar mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak sesuai

133

dengan aspek-aspek perkembangan bahasa yang diharapkan oleh guru dan peneliti.

134

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan paparan data dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari dapat meningkatkan kemampuan berbahasa melalui kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari di RA Ar-Rahman Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat Tahun Ajaran 2021-2022 Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kemampuan berbahasa anak .

Dari siklus I sampai pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata pada ketuntasan belajar siklus I yaitu 69,16 dan pada siklus II nilai rata-rata anak meningkat menjadi 95,27. Sedangkan nilai ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan dari siklus I sampai ke siklus II yaitu dari 55,55% menjadi 94,44%.

Pada aktivitas guru dari siklus I ke siklus II mengalamipenikatan juga, yaitu dari pertemuan pertama pada siklus I memperoleh nilai 56,66% meningkat dipertemuan ke dua menjadi 73,33%. Kemudian untuk siklus II pada pertemuan pertama yaitu

135

93,33% dan pertemuan ke dua terjadi peningkatan dengan perolehan nilai 100%. Kemudian aktivitas anak dari siklus I pertemuan pertama mendapat 63,33% dan pada pertemuan ke dua 76,66%. Sedangkan pada siklus II mengalami

peningkatandari perrtemuan pertama mendapat nilai 90% dan mengalami peningkatan pada pertremuan ke dua dengan perolehan nilai 100%. Jadi, berdasarkan hasil di atas dapat disumpulkan bahwa penerapan kegiatan bercerita mengguakan media boneka jari dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak di RA Ar-Rahman Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran diantaranya yaitu:

1) Bagi guru, hendaknya meningkatkan mutu pembelajaran dengan menerapkan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari untuk menarik minat belajar anak.

2) Bagi sekolah, khusunya RA Ar-Rahman diharapakan setelah penelitian selasai kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari ini tetap diterapkan untuk meningkatakan

136

kemampuan berbahasa anak, mengingat betapa antusias dan gembiranya ketika guru bercerita menggunakan media boneka jari.

3) Bagi anak, diharapakan lebih berperan aktif daam mengikuti setiap proses pembelajaran.

4) Bagi peneliti selanjutnya yang mengadakan penelitian sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah wawasan tentang penerapan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

137

DAFTAR PUSTAKA

Agus Sumitra, dkk, Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Menggunakan Boneka Jari, Jurnal Tunas Siliwangi, Vol. 6, Nomor 1, April 2020, hlm, 2.

Ajeng Rizki Safira, Media Pembelajaran Anak Usia Dini. Gersik:

Caremedia Communication, 2020.

Ardyah Rini Lapato, Meningkatkan Kemampuan Bahasa Melalui Metode Bercerita Dengan Media Audio Visual di Kelompok B TK Permata Bunda Lobu Mandiri, (Skripsi, Universitas Negeri Makassar, Makasar, 2020), hlm. 51.

Arniati, Teori Perkembangan Bahasa, Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, Vol. 1, Nomor 1, Agustus 2019, hlm, 140.

Asnawir, Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Azlin Atika Putri, Studi Tentang Kemampuan Berbicara Anak Usia 4-5 Tahun di TK Pertiwi Dwp Setda Provinsi Riau, Vol. 1, Nomor 2, April 2018, hlm. 115.

Badru Zaman, Cucu Eliyawati, Media Pembelajaran Anak Usia Dini, (Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia, 2010), hlm. 3.

Cecep Kustandi, Daddy Darmawan, Pengembangan Media Pembelajaran.

Jakarta: Kencana, 2020.

Chiara Dinda, Mengembangkan Bahasa Anak Usia Dini Melalui Media Audio Visual di Taman Kanak-Kanak Assalam 1 Sukarame Bandar Lampung, (Skripsi, FTK UIN Raden Intan Lampung, Lampung, 2017), hlm. 15.

Delvi, Niluh, Penerapan Metode Bercerita Berbantuan Media Boneka Jari Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Lisan Anak

138

Usia Dini, Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha, Vol. 2, Nomor 1, Desember 2014, hlm. 21.

Efrida Ita, Melkior Wewe, Emirensi Goo, Analisis Perkembangan Kemampuan Bahasa Anak Kelompok A Taman Kanak-Kanak, Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 3, Nomor 2, Desember 2020, hlm, 176.

Emil Nurwahyuni, Nenny Mahyudin, Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini Umur 5-6 Tahun Pada Masa New Normal di Taman Kanak- Kanak Ridhotullah Padang, Jurnal Cikal Cendikia, Vol. 2, Nomor 1, Juli 2021, hlm. 12.

Erisa Kurniati, Perkembangan Bahasa Pada Anak dalam Psikologi Serta Implikasinya dalam Pembelajaran, Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, Vol. 17, Nomor 3, Januari 2017, hlm. 48.

Ermi TS, Faktor Sosiokultural Dalam Pembelajaran Bahasa, Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 6, Nomor 1, Mei 2020, hlm, 4.

Fauziah Hanum, Peran dan Fungsi Bahasa Indinesia Dalam Manajemen Pemasaran, Jurnal Ecobisma, Vol. 1, Nomor 1, Januari 2014, hlm, 105.

Guslinda, Rita Kurnia, Media Pembelajaran Anak Usia Dini. Surabaya:

CV Jakad Publishing, 2018.

Isran Rasyid Karo-Karo, Rohani, Manfaat Media Dalam Pembelajaran, Jurnal AXIOM, Vol. VII, Nomor 1, Januari 2018, hlm, 94.

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Kelas. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

LifKhoru Ahmadi, dkk, Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta:

Presentasi Pustaka, 2011.

Lilis Madyawati, Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta:

Kencana, 2017.

139

Luh Tri Jayanti Swastyastu, Manfaat Media Pembelajaran Dalam Memperoleh Bahasa Kedua Anak Usia Dini, Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 5, Nomor 1, April 2020, hlm, 58.

Mu’alimin, Rahmat Arofah hari Cahyadi, Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktik.Pasuruan: Gading Pustaka, 2014.

Mudiya, Sri Watini, Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Melalui Media Boneka Jari Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Adifa Karang Mulya Kota Tanggerang, Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 5, Nomor 2, Juli 2021, hlm,

Muhammad Ardiansyah, Perkembangan Bahasa dan Deteksi Dini Keterlambatan Berbicara (Speech Delay) Pada Anak Usia Dini.

Kota Baru: Guepidia, 2020.

Mulyati, Terampil Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:

Pranadamedia Group, 2016.

Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Tehnik Evaluasi Pengajaran.

Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2008.

Ni Luh Ika Widyani, Teori dan Aplikasi Pendidikan Anak Usia Dini.

Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.

Nurbiana, Metode Pengembangan Bahasa. Jakatra: Universitas Terbuka dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011.

Nurul Hidayati, Khairulyadi, Upaya Institusi Sosial Dalam Menanggulangi Pengemis Anak Di Kota Banda Aceh, Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 2, Nomor 2, Mei 2017, hlm, 14.

Purwanto, Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

140

Qurratun Aini, Penerapan Media Boneka Jari Untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Di PAUD Elfa Pirak Bereunueun Kabupaten Pidie, (Skripsi, Fa kultas Tarbiyah dan Keguruan, Banda Aceh, 2018), hlm. 16.

Rahmatul Ullya, Anizar Ahmad, Bahrun, Mengembangkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Metode Bercerita Dengan Media Boneka Jari Di PAUD Al Kamal Kabupaten Aceh Besar, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Vol. 4, Nomor 4, November 2019, hlm, 30.

Rina Devianty, Bahasa Sebagai Cermin Kebudayaan, Jurnal Tarbiyah, Vol. 24, Nomor 2, Juli 2017, hlm, 227.

Rina Devianty, Eksistensi Bahasa Indonesia Pada Masa Pandemi, Jurnal Nizhamiyah, Vol. X, Nomor 2, Juli 2020, hlm, 29.

Rini Purnawati, Dea Mustika, Pengembangan Media Boneka Jari Tema 5 Subtema 1 di Kelas 1 SDN 139 Pekan Baru, Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 5, Nomor 3, Oktober 2021, hlm, 37.

Risna Windika Cahyani, Irgi Setyawan, Cintya Nurika Irma, Analisis Penggunaan Bahasa Sebagai Alat Ekspresi Emosi Pada Film My Stupid Boss 2, Jurnal Membaca, Vol. 6, Nomor 1, April 2021, hlm, 65.

Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana, 2009.

Sirjon, Hana Falenta Yaung, Peningkatan Kemampuan Bahasa Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Penggunaan Media Boneka Jari Di Tk Pelangi Genyem Kabupaten Jayapura, Jurnal Pendidikan Anak, Vol. 7, Nomor 2, November 2021, hlm. 71.

Sisca Chrestiany, Implementasi Media Boneka Jari Dalam Mengembangkan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Kelompok B di Tk Kosgoro Surabaya, Jurnal PAUD Teratai, Vol.

7, Nomor 1, Desember 2018, hlm. 2.

141

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2018.

Suharsimi Arikunto, Peneltian Tindakan Kelas Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Susilowati, Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Cerita Bergambar Pada Anak Kelompok B TK Bhayangkari 68 Mondokan, (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2010), hlm. 43.

Yeni Rachmawati, Euis Kurniati, Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Kencana, 2010.

Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana, 2017.

Winda, Boneka Jari Sebagai Media Pembelajaran Kelas Rendah Sekolah Dasar, Jurnal EduHumaniora, Vol. 6, Nomor 1, Januari 2014, hlm. 17.

142

LAMPIRAN

143

Lampiran 1 Lembar Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Berbahasa Anak dalam Kegiatan Bercerita Menggunakan Media Boneka Jari

Perkembangan Bahasa

Indikator

Menerima Bahasa

a. Anak mampu memahami aturan dalam suatu permainan

Mengungkapkan Bahasa

a. Anak mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks

b. Anak mampu berkomunikasi secara lisan

c. Anak mampu melanjutkan cerita atau dongeng yang sudah didengarkan

Keakssaraan

a. Anak mampu mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang di sekitarnya

144

Lampiran 2 Lembar Keberhasilan Kemampuan Berbahasa anak Dalam Kegiatan Bercerita Menggunakan Media Boneka Jari NO Perkembangan Indikator Katagori Sk

or Deskripsi

1 Menerima Bahasa

Anak mampu memahami aturan

dalam suatu perminan

BSB 4 Anak sangat mehami aturan dalam kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari yaitu tidak berbicara, menyimak apa yang dikatakan peneliti dan

mendengarkan peneliti bercerita menggunakan media boneka jari.

BSH 3 Anak memahami aturan dalam kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari, namun terlihat anak sesekali berbicara dan tidak menyimak ketika peneliti bercerita menggunakan media boneka jari.

MB 2 Anak kurang dapat memahami aturan dalam kegiatan bercerita, terlihat anak banyak berbicara dan kurang menyimak ketika peneliti melakukan kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari.

BB 1 Anak tidak memahami aturan dalam kegiatan bercerita

menggunakan media boneka jari, anak hanya sibuk berbicara dan tidak meyimak peneliti ketika bercerita menggunakan media boneka jari.

145 2 Mengungkapka

n Bahasa

Anak mampu menjawab pertanyaan yang

lebih kompleks

BSB 4 Anak sangat mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan peneliti seputaran pertanyaan tentang nama dan jenis-

jenis binatang yang menjadi tokoh dalam kegiatan bercerita

menggunakan media boneka jari

BSH 3 Anak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan peneliti seputaran pertanyaan nama dan jenis-jenis binatang yang menjadi tokoh dalam kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari, namun anak masih terlihat malu-malu dalam menjawab pertanyaan tersebut.

MB 2 Anak cukup mampu dalam menjawab pertanyaan peneliti namun lebih banyak diam . BB 1 Anak tidak mampu dalam

menjawab pertanyaan peneliti seputaran pertanyaan tentang nama dan jenis binatang dalam tokoh cerita.

Anak mampu berkomunikasi

secara lisan

BSB 4 Anak sangat mampu berkomunikasi dengan lancar secara lisan yaitu dengan aktif bertanya dan mampu menjawab pertanyaan dari peneliti seputarar

BSH 3 Anak mampu berkomunikasi dengan lancar secara lisan yaitu dengan aktif bertanya dan mampu menjawab pertanyaan dari peneliti MB 2 Anak cukup mampu berkomunikasi

dengan lancar secara lisan yaitu

146

dengan cukup banyak bertanya dan mampu menjawab pertanyaan dari peneliti

BB 1 Anak belum mampu berkomunikasi dengan lancar secra lisan, anak masih malu-malu dalam

mengeluarkan pendapat dihadapan teman-temanya.

Anak mampu melanjutkan cerita atau dongeng yang sudah

didengarkan

BSB 4 Anak sangat mampu dan percaya diri dalam menyampaikan kembali isi dialog atau alur cerita yang disampaikan peneliti ketika bercerita menggunakan media boneka jari.

BSH 3 Anak mampu dan percaya diri dalam menyampaikan kembali isi dialog atau alur cerita yang disampaikan peneliti ketika bercerita menggunakan media boneka jari.

MB 2 Anak cukup mampu menceritakan kembali isi dialog atau alur cerita dengan sedikit merasa malu dan belum percaya diri.

BB 1 Anak kurang mampu dan kurang percaya diri dalam menceritakan kembali isi dialog atau alur cerita yang disampaikan peneliti dalam kegiatan bercerita menggunakan media boneka jari.

3 Keaksaraan

Anak mampu mengenal suara huruf awal dari

nama benda- benda yang di

sekitarrnya

BSB 4 Anak sangat mampu menirukan suara binatang yang menjadi tokoh dalam isi cerita yang didengarnya peneliti bercerita menggunakan media boneka jari

BSH 3 Anak mampu menirukan suara binatang yang menjadi tokoh dalam

147

isi cerita yang didengarnya ketika peneliti bercerita menggunakan media boneka jari

MB 2 Anak cukup mampu menirukan suara binatang yang menjadi tokoh dalam isi cerita, namun hanya mampu menirukan satu suara saja.

BB 1 Anak belum mampu dan merasa malu ketika menirukan suara binatang yang menjadi tokoh dalam isi cerita

102

Lampiran 3. Observasi Ketuntasan Individual Peningkatan Bahasa Anak pada Pertemuan I Siklus I

No Nama

Indikator Kemampuan Menerima Bahasa

Indikator Kemampuan Mengungkapkan Bahasa

A a b

BB MB BSH BSB BB MB BSH BSB BB MB BSH

1 Adrian Pradipta Amzari 1 1 2

2 Ahza Nazwan Al Islami 1 2 1

3 Al-mahya Shanum 1 1 1

4 Ayatul Husna 1 1 2

5 Baiq Umi Wasilatul

Nisa 1 1 1

6 Bilqis Pipit Humairo 1 1 1

7 Denis Renol Putra

Matanum 1 1 2

8 Devina Putri Oktavia 1 1 1

9 Dimas Syahreza 1 1 1

10 Ibnu Sabil 2 2 1

11 Mikaila Putra 1 1 1

12 Muhammad Azzam

Firdaus 1 2 2

13 Muhammad Davva Hari 2 2 `

14 Muhammad Syamsuri

Firdaus 1 1 1

15 Muhammad Ulul Azmi 1 1 1

16 Ninin Stiawati 1 1 1

17 Princessvanya Giswa

Samara 1 1 1

18 Tifandi Elvin Pradipta 1 1 2

Dalam dokumen meningkatkan kemampuan berbahasa anak (Halaman 141-151)

Dokumen terkait