• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Setelah melakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas, kemudianakan dilakukan analisis ANCOVA untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan oleh peneliti terbukti atau tidak.ANCOVA dianalisis dengan bantuan SPSS 22.

Tabel. 4.10

Uji Analisis ANCOVA Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

NO Kelas Taraf

Signifikansi Nilai Sig Kategori

1 Eksperimen 5% 0,000 Ada pengaruh

2 Kontrol 0.000 Ada pengaruh

Berdasarkan tabel diatas yang merupakan hasil analisis ANCOVA menggunakan bantuan SPSS 22, menunjukkan bahwa nilai signifikasi aktivitas yaitu 0,000 0,05 dan hasil belajar 0,000 0,05 yang artinya H0 ditolah, yang berarti bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap berpikir kreatif IPAberpengaruh signifikan. (Data hasil Uji ANCOVA terlampir pada lampiran 9)

Keterlaksanaan pembelajaran pada penelitian ini diukur menggunakan lembar observasi baik pada kelas Eksperimen maupun kelas Kontrol. Data pada penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa lembar observasi.Lembar observasi diisi oleh observer tiap kali pertemuan. Dimana pada penelitian ini peneliti menggunakan empat kali pertemuan baik itu pada kelas Eksperimen maupun kelas Kontrol. Adapun yang menjadi observer pada penelitian ini yaitu teman sebaya sebanyak 1 orang yaitu Ermawati. Jenis lembar observasi yang digunakan yaitu jenis chek list yang digunakan untuk memperoleh data keterlaksanaan pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan hasil penelitian untuk keterlaksanaan pembelajaran pada penelitian ini, dapat diperoleh bahwa persentase keterlaksanaan pembelajaran pada kelas Eksperimen dan kelas Kontrol berbeda. Pada kelas Eksperimen dan kontrol ada empat kali pertemuan, dimana pada kelas eksperimen jumlah langkah-langkah pembelajaran pada pertemua pertama sampai pertemuan keempat berjumlah yaitu 19. Sedangkan pada kelas kontrol pertemuan pertama sampai ketiga yaitu 15 dan keempat yaitu 13. Pada kelas eksperimen jumlah langkah yang terlaksana dari 19 langkah yang direncanakan yaitu pada pertemuan pertama yaitu 14 langkah dengan persentase yang diperoleh yaitu 78,9% dengan kategori baik, pertemuan kedua jumlah lagkah yang terlaksana dari 19 langkah yaitu 14 langkah dengan persentase yaitu 73,6% dengan kategori baik,

pertemuan ketiga jumlah langkah yang terlaksana dari 19 langkah hanya 16 langkah dengan persentase yaitu 84,2% dengan kategori sangat baik dan pertemuan keempat jumlah langkah yang terlaksana dari 19 langkah hanya 14 langkah dengan persentase yaitu 73,6% dengan kategori baik.

Sedangkan pada kelas kontrol jumlah langkah yang terlaksana pada pertemuan pertama hanya 14 langkah saja dari 15 langkah yang direncanakan dengan persentase yang diperoleh pada pertemuan yaitu 93% dengan kategori sangat baik, pertemuan kedua jumlah langkah yang terlaksana hanya 13 langkah saja dari 15 langkah yang direncanakan dengan persentase 86% dengan kategori sangat baik, pada pertemuan ketiga jumlah langkah yang terlaksana yaitu hanya 14 langkah saja dari 15 langkah yang direncanakan dengan persentase yaitu 93% dengan kategori sangat baik dan pada pertemuan keempat jumlah langkah yang terlaksana yaitu hanya 12 langkah saja dari 13 langkah yang direncanakan dengan persentase yaitu 92,3% dengan kategori sangat baik . Apabila kedua kelas dibandingkan maka kelas kontrol memiliki persentase yang sangat baik dalam keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dibandingkan kelas Eksperimen.

b. Berpikir kreatif siswa

Berpikir kreatif merupakan ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif inilah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-

produk yang inovatif dan adanya ciri-ciri seperti, mampu mengarahkan diri pada objek tertentu, mampu memperinci suatu gagasan, mampu menganalisis ide-ide dan kualitas karya pribadi, mampu menciptakan suatu gagasan baru dalam pemecahan masalah.73 Pada penelitian ini untuk mengukur berpikir kreatif siswa menggunakan emapat indikator yaitu kemampuan berpikir lancar, kemampuan berpikir luwes, kemampuan berpikir orisinil dan kemampua berpikir elaborasi.

Nilai rata-rata pretest kelompok siswa eksperimen sebelum dilakukan proses pembelajaran adalah 29,33. Setelah dilakukan proses pembelajaran nilai rata-rata posttest menjadi sebesar 79,80, sehingga masuk dalam kategori baik. Peningkatan ini disebabkan kelompok siswa eksperimen selama kegiatan pembelajaran menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Selama kegiatan pembelajaran siswa menjadi terlatih untuk mencari dan menemukan konsep melalui kegiatan pengalaman langsung. Pendapat ini juga didukung pernyataan Wiwin Ambarsaril, Slamet Santosa, dan Maridi, Inkuiri terbimbing merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola pembelajaran kelas memberi pengalaman langsung dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain.74

73Utami Munandar. “Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hlm 45.

74 Wiwin Ambarsari1, Slamet Santosa, dan Maridi, “Penerapan Pembelajaran Inkuiry Terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Sains Dasar pada Pelajaran Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri Surakarta.”Vol no 5 Januari 2013. hlm. 3

Nilai rata-rata pretest kelompok siswa kontrol sebelum dilakukan proses pembelajaran adalah 39,60. Setelah dilakukan proses pembelajaran nilai rata-rata post test menjadi sebesar 58,63, sehingga masuk dalam kategori cukup. Pada kelompok siswa kontrol walaupun berpengaruh signifikan, peningkatan ini lebih sedikit dibandingkan kelompok siswa eksperimen. Hal ini karena selama kegiatan pembelajaran kelompok siswa kontrol menerapkan pembelajaran tanpa penerapan suatu model atau pembelajaran konvensional seperti ceramah. Pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran yang biasa dilakukan guru berupa ceramah, diskusi dan penugasan. Selama kegiatan pembelajaran kelompok kontrol lebih didominasi penerapan metode ceramah. Metode ceramah menempatkan posisi siswa sebagai pendengar dan pencatat dan keterbatasan kemampuan pada tingkat rendah. Hal tersebut yang menyebabkan guru kurang memahami sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan sehingga berdampak pada nilai rata-rata yang masuk kategori cukup.

Keberhasilan suatu penerapan model pembelajaran juga tidak lepas dari pemberian suatu lembar kerja siswa, selain memberikan pengalaman langsung melalui penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatifnya. Temuan penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Fiza Sulastri, Lisa Utami dan Zona Octarya pada tahun 2019 dalam jurnal yang berjudul ”Pengaruh

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Berbantuan Lembar Kerja Siswa Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Pada Materi Koloid”, pada nilai Sig. (2-tailed) diperoleh 0,00 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka berarti H0 ditolak dan Ha diterima sehingga terdapat perbedaan signifikan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) berbantuan lembar kerja siswa berbasis inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi koloid.75

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, nilai rata-rata kelas eksperimen pada lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing lebih tinggi dari lembar kerja siswa biasa pada kelas kontrol. Hal ini disebabkan karena pada lembar kerja kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing memiliki langkah kerja yang menuntun siswa untuk mendapatkan pengalaman secara langsung, mampu berfikir sesuai dengan yang mereka amati dilapangan tidak hanya menjadi pendengar saja tetapi mampu menuntun siswa mengembangkan cara berfikir melalui sintak model inkuiri terbimbing sehingga memudahkan siswa untuk memahami materi dan melaksanakan praktikum. Kegiatan siswa pada setiap pertemuannya yaitu siswa melakukan diskusi dengan sesama kelompoknya dalam melaksanakan percobaan dan mengerjakan latihan pada lembar kerja siswa yang tersedia. Keterlibatan langsung setiap siswa

75Fiza Sulastri, Lisa Utami dan Zona Octarya, “Jurnal Pendidikan Kimia dan Terapan”Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Berbantuan Lembar Kerja Siswa Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Pada Materi Koloid” Konfigurasi, Volume 3, Nomor 1, 2019. hlm 17

dan interaksi yang baik antara siswa tersebut dalam menemukan informasi menjadikan siswa tersebut lebih mudah memahami materi sehingga hasil yang diperoleh siswa menjadi lebih baik.

Adapun hasil persentase perindikator pada kelas eksperimen dan kontrol berbeda-beda. Berdasarkan nilai ketercapaian indikator kemampuan berpikir kreatif pada indikator berpikir lancar kelas eksperimen pada saat postest memperoleh nilai persentase 91,00%

sedangkan kelas kontrol pada saat pretest memperoleh nilai persentase 65,62%, hal ini didukung karena ketika pembelajaran guru membimbing peserta didik mengamati kegiatan diskusi, melaksanakan praktikum dan pengamatan langsung.

Keberhasilan indikator kemampuan berpikir kreatif pada indikator berpikir luwes kelas eksperimen pada saat postest memperoleh nilai persentase 74,66% sedangkan kelas kontrol pada saat postest memperoleh nilai persentase 51,38%, hal ini didukung karena ketika pembelajaran pendidik membimbing peserta didik mengamati kegiatan diskusi, melaksanakan praktikum dan pengamatan langsung, sesuai dengan keterlaksanaan sintaks model pembelajaran inkuiri terbimbing pada sintaks merumuskan masalah dan membuat hipotesis, melalui keempat sintaks ini peserta didik lebih dilatih untuk menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi dari masing-masing tiap kelompok.

Keberhasilan indikator kemampuan berpikir kreatif pada indikator berpikir orisinil kelas eksperimen pada saat postest memperoleh nilai persentase 75,33% sedangkan kelas kontrol pada saat postest memperoleh nilai persentase 56,94%, hal ini didukung karena ketika pembelajaran guru membimbing peserta didik mengamati kegiatan diskusi, melaksanakan praktikum dan melakukan pengamatan, sesuai dengan keterlaksanaan sintaks model pembelajaran inkuiri terbimbing pada sintaks mengumpulkan data dan menguji hipotesis, melalui kegiatan mengumpulkan data dan menguji hipotesis ini secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir orisinil yaitu mampu melahirkan ungkapan baru yang unik serta mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak biasa dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang dapat mendorong peserta didik melahirkan ide baru tanpa dibatasi oleh pendidik dengan pembuatan madding materi kelainan dan gangguan serta teknologi yang ada pada sistem gerak manusia.

Keberhasilan indikator kemampuan berpikir kreatif pada indikator berpikir elaboratisi kelas eksperimen pada saat postest memperoleh nilai persentase 73,33% sedangkan kelas kontrol pada saat postest memperoleh nilai persentase 54,16%, hal ini didukung karena ketika pembelajaran pendidik membimbing peserta didik untuk mengamati kegiatan diskusi, melaksanakan praktikum dan pengamatan langsung, sesuai dengan keterlaksanaan sintaks model pembelajaran inkuiri terbimbing pada sintaks mengumpulkan data dan menguji hipotesis, melalui kedua sintaks ini

dengan kegiatan praktikum peserta didik secara tidak langsung telah terlatih memperkaya dan mengembangkan suatu gagasannya pada saat menguji hipotesis berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum tersebut.

Hasil data penilaian pretest dan postest peserta didik menyatakan banyak memberikan pengaruh terhadap tipe model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Srifujiyati, Kamaluddin, dan Marungkil Pasaribu pada tahun 2018 dalam jurnal yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA Negeri 5 Palu”, bahwa terdapat perbedaan keterampilan berpikir kreatif antara kelompok siswa yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) dengan kelompok siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.76

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti efektifnya suatu penggunaan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat diarahkan untuk mencari tahu dan menemukan suatu pembuktian terhadap kesimpulan dari materi sistem gerak. Penerapan proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan kesempatan

76Srifujiyati, Kamaluddin, dan Marungkil Pasaribu, “Jurnal Pendidikan Fisika“Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA Negeri 5 Palu” Vol. 6 No. 1, 2018. hlm 3

terhadap siswa untuk mengerjakan serangkaian tahap pembelajaran secara mandiri melalui Lembar Kerja Siswa yang telah disusun agar mampu mengungkap keterampilan berpikir kreatif serta memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan sendiri.

c. Uji Hipotesis

Setelah diperoleh hasil berpikir kreatif siswa pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka dilakukan analisis data.

Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu menggunakan analisis ANCOVA.Namun, sebelum melakukan analisis ANCOVA terlebih dahulu haru melakukan uji normlitas dan homogenitas.

Dengan hanya melihat data berpikir kreatif IPA menggunkan tes uraian yang valid sebanyak 10 item soal cukup membuktikan bahwa pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh positif terhadap berpikir kreatif IPA, sehingga kita harus melakukan analisis ANCOVA untuk mengetahui apakah model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh positif terhadap berpikir kreatif IPA. Namun, sebelum melakukan analisis ANCOVA terlebih dahulu kita harus melakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas, dilakukannya uji normlitas dan homogenitas ini untuk mengetahui apakah data yng kita miliki terdistribusi normal atau homogen. Adapun syarat data dikatakan terdistribusi normal dan homogen yaitu apabila nilai sig 0,05 maka data tersebut dapat dikatakan terdistribusi normal dan homogen, tapi

jika data tersebut nilai sig 0,05 maka data tersebut tidak terdistribusi normal dan homogen.

Uji normalitas tes kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan bantuan SPSS 22 dapat dilihat pada Tabel 4.8. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa data kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui nilai (Sig) untuk semua data baik pada uji kolmogorov-smalrnov maupun uji Shapiro-wilk maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Kemudian pada uji homogenitas kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan bantuan SPSS 22. Berdasarkan Tabel 4.2 di atas diketahui nilai signifikansi (Sig) 0,58 , sehingga dapat disimpulkan bahwa varians data kelas eksperimen dan data kelas kontrol adalah sama atau homogen artinya kedua sampel berasal dari populasi yang sama (homogen).

Setelah uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas terpenuhi analisis dapat dilanjutkan pada pengujian hipotesis. Berdasarkan Tabel 4.3, diketahui bahwa nilai (Sig) (2-tailed) 0,000 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima sehingga terdapat pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap berfikir kreatif IPA pada sub materi sistem gerak pada manusia. Temuan penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Finna Oktavia Susanti, Muhammad Muttaqin, Milla Listiawati pada tahun 2017 dalam jurnal yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berfikir

Kreatif Siswa pada Materi Sistem Ekskresi”, pada hasil uji hipotesis menyatakan sesungguhnya hasil penelitian di kelas yang menggunakan model inkuiri terbimbing menghasilkan pengaruh yang lebih baik dibandingkan siswa yang tidak menggunakan model konvensional.77 Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung, terlihat bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berfikir kreatif memberikan pengaruh yang lebih baik hal ini sesuai dengan rata-rata hasil posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibandingan dengan nilai rata-rata kelas kontrol. Inkuiri terbimbing memiliki kelebihan salah satu dapat meningkatkan kemampuan intelektual peserta didik karena peserta didik diberi kesempatan mencari tahu serta menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang diberikan, sehingga peserta didik dapat mengembangkan ide-ide serta dapat meningkatkan kemampuan berfikir kreatifnya.

Salah satu proses berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kreatif.

Pada hakikatnya, pengertian berpikir kreatif berhubungan dengan penemuan sesuatu, mengenai hal yang menghasilkan sesuatu yang baru dengan menggunakan sesuatu yang telah ada. Sejalan dengan pendapat Yeni Rachmawati bahwa selain memiliki pikiran yang terbuka, pemikiran kreatif membangun hubungan di antara hal-hal yang berbeda. Membangun hubungan adalah hal yang alami bagi manusia. Otak manusia senang menemukan pola, yaitu dengan menghubungkan satu hal dengan hal

77Finna Oktavia Susanti, Muhammad Muttaqin, Milla Listiawati, “Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa pada Materi Sistem Ekskresi”. Vol 7 No 1. Februari 2017, hlm 4-5

lainnya untuk menemukan makna.78 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif IPA Kelas VIII MTs. Nahdlatul Mujahidin NW Jempong Tahun Pelajaran 2019/2020 pada sub materi sistem gerak pada manusia.

78Yeni Rachmawati, Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak Usia Taman Kanak- kanak, (Jakarta, Kencana, 2010), hlm. 13

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan untuk menjawab rumusan masalah bahwa pada uji hipotesis dengan bantuan SPSS 22 yaitu kemampuan berpikir kreatif pada materi sistem gerak manusia diperoleh taraf signifikan 0,00 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan Ho ditotak, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sehingga model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif IPA Kelas VIII MTs. Nahdlatul Mujahidin NW Jempong Tahun Pelajaran 2019/2020 pada sub materi sistem gerak pada manusia.

B. Saran

1. Peserta Didik

Bagi peserta didik memaksimalkan pemikiran kreatif yang ada upaya menggali potensi diri.

2. Pendidik

Bagi pendidik mampu mengimplementasikan pelaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada mata pelajaran IPA agar meningkatkan pemikiran kreatif.

3. Madrasah

Anggota sekolah agar mampu memajukan taraf dan kapasitas pendidikan dengan menyediakan pemahaman menyesuaikan model pembelajaran yang sinkron dengan materi pelajaran yakni memanfaatkan model pembelajaran inkuiri terbimbing.

4. Peneliti Lain

Penyusun menyadari bahwa penelitian ini bukanlah penelitian yang sempurna dan kemampuan yang dimiliki terbatas, maka perlu disiapkan riset penyelidikan lanjut tentang model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap peningkatan pemikiran kreatif terutama pada mata pelajaran IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Pullaila, Sri Redjeki,dan Dadi Rusdiana,”Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor” (Jurnal Penelitian Pendidikan IPA vol.I No.3, November 2007)

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 31

Arikunto, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006, hlm. 134 Budi Purwanto, “Belajar yang Efektif dan Kreatif‟”, (Jakarta : Ganesa, 2004),

hlm. 41

Damayanti, D.S., Ngazizah, N., & Setyadi, “ Pengembangan Lembar Kerja Siswa

(LKS) Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Listrik Dinamis SMA Negeri 3 Purworejo Kelas X Tahun Pelajaran 2012/2013”. (Radiasi 2013), 3(1), hlm. 58-62

David A. Jacobsen ,at.all. “Methods for Teaching”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009) Ed ke-8 hlm.209

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Model-model Pembelajaran IPA (Bandung: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru IPA, 2000), hlm. 23

Daryanto, Panduan Proses Pembelajaran, (Jakarta, Publisher, 2009), hlm. 146 Dewi Susilawati, Tes dan Pengukuran. (Sumedang : UPI Sumedang Press, 2018),

hlm. 14

Eko Prasetyo, Ternyata Penelitian Itu Mudah, (Penerbit Edunobi, 2015), hlm. 38 Euis Yuniastuti, Peningkatan Keterampilan Proses, Motivasi, dan Hasil Belajar

Biologi dengan Strategi Pembelajaran Inkuiry Terbimbing Pada Siswa Kelas VII SMP Kartika V-I Blikpapan. hlm. 3

Finna Oktavia Susanti, Muhammad Muttaqin, Milla Listiawati, “Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa pada Materi Sistem Ekskresi”. Vol 7 No 1. Februari 2017, hlm 4-5

Fiza Sulastri, Lisa Utami dan Zona Octarya, “Jurnal Pendidikan Kimia dan Terapan”Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Berbantuan Lembar Kerja Siswa Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Pada Materi Koloid” Konfigurasi, Volume 3, Nomor 1, 2019. hlm 17

Hendra Surya, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar ,(Jakarta, Gramedia, 2011), hlm. 199

Khodijah, Nyayu, Psikologi Belajar, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2006), hlm 81

Elaine B. Johnson, Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, (Bandung, kaifa, 2011), hlm. 216

Karunia Eka Lestari dan M. Ridwan Yudhanegara, Penelitian Pendidikan Matematika (Bandung: PT Refika Aditama, 2015), hlm. 164

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), hlm.79

Observasi, Selasa, 27 November 2018)

Istiana (siswi MTs. Nahdlatul Mujahidin NW Jempong) Wawancara, Selasa 27 November 2018)

Iskandar, „‟Meningkatkan kreativitas Pembelajaran bagi guru‟‟, (Jakarta : PT.

Bestari Buana Murni, 2010), hlm. 15

Liliawati dan Puspita. (2010). Evektivitas Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa. Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010. Universitas Pendidikan Indonesia . Bandung: Tidak Diterbitkan, hlm. 425

Mulyasa.„‟Menjadi Guru Profesional menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan‟‟. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007). Hlm: 109 Maxwell, Berpikir Lain Dari Yang Biasanya (Thinking For A Change), (Batam:

Karisma Press, 2004), hlm: 82

Maulana, Dadan Juanda, dkk. Ragam Model Pembelajaran di Sekolah Dasar.

(Sumedang: UPI Sumedang Press, 2015). hlm.46

Munandar, Utami “Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hlm 45

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2013), hlm. 211

Srifujiyati, Kamaluddin, dan Marungkil Pasaribu, “Jurnal Pendidikan Fisika“Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA Negeri 5 Palu” Vol. 6 No. 1, 2018. hlm 3

Siswono, Tatag Yuli Eko. “Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa Dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpadu Dengan Model Wallas Dan Creative Problem Solving (CPS) Di SMP NEGERI 4 Dan SMP NEGERI 26 Surabaya”. (Buletin Pendidikan Matematika, 2004, Volume 6 Nomor 2)

Muri A. Yusuf (ed), Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 77-78.

Muallimuna, Penerapan Pendekatan Inkuiry Pada Mata Pembelajaran IPA untuk Mengembangakan Karakter Siswa di SDN 01 Kota Bangun‟‟. Vol 3 No 1, Oktober 2017. hlm.30-33

Ninit Alfianika, Metode Penelitian Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm.

Riduwan, Metode & Teknik Menyusun Proposal Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 55.

Sugiyono, Metode Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, (Bandung:

Alfabeta, 2014), hlm. 80.

Siti Sumarnah (Guru MTs. Nahdlatul Mujahidin NW Jempong ) Wawancara, Selasa 27 November 2018)

Standar Nasional Pendidikan, (Jakarta: Asia Mandiri. Pasal 1,2006). hlm. 238 Syaiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2013),

hlml.61

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta, Rineka Cipta, 2003), hlm. 147

Syarifuddin, Inovasi Baru Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018). hlm. 66

Suryosubroto. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. (Jakarta: Rhineka Cipta, 2009). hlm 185

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu‟‟. (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2012), hlm.

51

Tilaar, Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2012), hlm.51

Tanieredja, Model-Model Pembelajaran Inovasi, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm.

56.

Ucu Cahyana, Abdul Kadir, dan Monalisa Gherardini. Relasi Kemampuan Berpikir Kritis dalam Kemampuan Literasi Sains pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Tahun 2006 No 1, Mei 2017. hlm. 1

Utami Munandar, “Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah‟‟, (Jakarta :Gramedia Widiasarana Indonesia,2002),hlm.246

Wiwin Ambarsaril, Slamet Santosa, dan Maridi, Penerapan Pembelajaran Inkuiry Terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Sains Dasar pada Pelajaran Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri Surakarta. Vol no 5 Januari 2013.

hlm. 3

Yeni Rachmawati, Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak Usia Taman Kanak-kanak, (Jakarta, Kencana, 2010), hlm. 13

Dokumen terkait