BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
Tabel 4.13 Garis Persamaan Regresi
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 19.615 2.708 7.243 .000
Implemetasi Kurikulum 2013 .275 .092 .332 2.991 .004
a. Dependent Variable: Pembentukan Karakter
Berdasarkan coefficients yang ada dalam garis persamaan regresi, maka dapat dilihat kolom B yang diketahui constant sebesar 19.615, dan implementasi kurikulum 2013 sebesar 0.275. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa persamaan garis regresinya adalah 𝑌′ = 19.615 + 0.270 𝑋. Sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variable X terhadap variable Y adalah positif. Sedangkan berdasarkan diketahui nilai thitung 2.991 > ttabel 1.993 sehingga dapat disimpulkan bahwa variable X (implementasi kurikulum 2013) berpengaruh terhadap variable Y (Pembentukan karakter).
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang.
Implementasi kurikulum 2013 merupakan sebuah penerapan aktivitas pengajaran dalam bentuk interaksi antara guru dan peserta didik dibawah naungan sekolah yang orientasi pembelajaran dalam konteks adalah untuk menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan efektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa). Dalam hal ini yang menjadi prioritas utama dari peneliti adalah bagaimana penguatan sikap yang akan dituangkan dalam pembentukan karakter peserta didik di Sekolah. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan memperkuat proses pembejaran dan penilaian autentik untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.3 Adapun indikator yang menjadi kriteria keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang akan diteliti adalah tumbuhnya sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara utuh di kalangan peserta didik. Kriteria tersebut telah menjadi rangkaian dari kompetensi inti yang akan dicapai di kurikulum 2013, karena implementasi kurikulum 2013 lebih fokus dan berangkat dari karakter serta kompetensi yang akan dibentuk, baru memikirkan untuk mengembangkan tujuan yang akan dicapai.
Pada pembahasan ini akan menguraikan bagaimana implementasi kurikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang pada peserta didik kelas XI. Dalam proses penelitian ini, peneliti melakukan observasi pada proses pembelajaran PAI yang dilakukan oleh guru PAI. Sebelum memasuki inti
3Abdul Majid dan Chaerul Rochman, Pendekatan Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum 2013, h. 1.
pembelajaran dari materi PAI, guru terlebih dahulu membuka pelajaran dengan memberikan renungan dan nasehat terlebih dahulu agar peserta didik berminat memulai pelajaran dengan baik hal ini juga dilakukan untuk memberikan penguatan sikap terhadap peserta didik agar memiliki karakter yang baik. Nasehat ini juga bertujuan agar peserta didik dapat mengetahui alasan mengapa mereka harus belajar dan mengapa mereka harus mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik.
Dalam proses pembelajaran inti guru melakukan strategi dan metode pembelajaran yang berbasis student center, yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Peserta didik dituntut untuk lebih aktif , inovatif, serta kreatif dalam setiap proses pembelajaran sebagaimana yang ditetapkan dalam kurikulum 2013. Implementasi kurikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI diharapkan dapat memberikan penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana) serta pengetahuan (tahu apa) kepada peserta didik. Setelah diterapkannya kurikulum 2013 setiap guru khususnya guru PAI dituntut untuk terus kreatif dalam setiap pengelolaan kelas agar materi PAI yang diajarkan dapat tersampaikan kepada peserta didik dengan baik sehingga mereka tidak hanya tahu teori tetapi lebih dari itu yakni memaknai sampai ke menghayati setiap materi ajar PAI sehingga lebih muda untuk mengamalkan.
Berdasarkan pengujian analisis data, diperoleh nilai pada masing-masing variabel. Berdasarkan hasil angket, skor total variabel implementasi kurikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 2153, skor teoritik tertinggi variable ini tiap responden adalah 10 x 4 = 40, karena jumlah responden 58 orang, maka skor kriterium adalah 74 x 40 = 2960. Sehingga
implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI adalah 2153 : 2960 = 0.7273 atau 72.73% dari kriteria yang ditetapkan, jadi variable implementasi kurikulum 2013 termasuk dalam kategori sedang.
4.4.2 Pembentukan Karakter
Pembentukan karakter diartikan sebagai suatu usaha atau proses yang dilakukan untuk menanamkan hal positif pada peserta didik yang bertujuan untuk membangun karakter yang sesuai dengan norma dan kaidah moral dalam bermasayarakat. Ada tiga faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter peserta didik yaitu (1) lingkungan keluarga sebagai wadah pendidikan pertama dan utama seorang anak, (2) lingkungan sekolah sebagai tempat peserta didik mengembangkan potensi dirinya, (3) lingkungan masyarakat sebagai tempat mereka berkreasi dan berinteraksi. Untuk membentuk karakter peserta didik yang baik di sekolah telah diajarkan pendidikan moral yang tujuannya untuk mewujudkan perilaku yang mengedepankan keimanan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan moral juga dapat diartikan sebagai Pendidikan Karakter yang akan membentuk karakter baik pada peserta didik. Namun, yang menjadi kriteria penelitian ini adalah hanya pada tumbuhnya sikap secara utuh di kalangan peserta didik baik itu sikap religius maupun sikap sosial yang terdiri atas sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kerja keras dan percaya diri.
Dari observasi peneliti dapat melihat bahwa guru yang mengajar di kelas XI sangat baik terhadap disiplin waktu karena pembelajaran selalu dimulai tepat waktu, peserta didik yang terlambat masuk kelas pada saat pembelajaran berlangsung diberikan sanksi berupa pengurangan nilai dalam mata pelajaran PAI. Hal ini diharapkan dapat membiasakan peserta didik untuk bersikap disiplin. Mengecek
kehadiran peserta didik merupakan hal pertama yang dilakukan pendidik pada saat masuk di kelas, ini dilakukan agar pendidik lebih mengenal peserta didik yang diajarnya. Hal ini juga meruapakan tahap awal untuk mengenal dan mengetahui karakter masing-masing peserta didik.
Selain penguasaan materi, pendidik juga harus mampu menciptakan dan membangun sebuah interaksi, baik interaksi antara pendidik dan peserta didik maupun interaksi antara sesama peserta didik hal ini dilakukan untuk membangun karakter kerja sama dari peserta didik. Kakarter peserta didik dapat dibentuk dengan adanya interaksi yang terjalin dengan baik dengan pendidik dan peserta didik lainnya.
Karkter kerja sama ini dibentuk dengan melakukan sebuah kegiatan kelompok.
Sehingga pendidik dalam hal ini guru PAI memberikan tugas kelompok kepada peserta didik yang akan didiskusikan bersama teman sekelompoknya. Setelah hasil diskusi didapatkan, masing-masing kelompok mempersentasekan hasil diskusi mereka. Sedangkan kelompok yang lain harus memperhatikan dan menanggapi ataupun memberikan pertanyaan setelah satu kelompok selesai mempersentasekan hasil diskusinya. Kegiatan ini diharapkan pendidik agar dapat membangun dan membentuk karakter kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras serta kepercayaan diri dari peserta didik.
Masing-masing peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda, yang mahir dalam kognitif namun kurang dalam psikomotoriknya dan begitu pun sebaliknya ada yang unggul dalam psikomotoriknya namun kurang dalam kognitifnya, maka pendidik harus memainkan perannya sebagai pendidik yang peka terhadap peserta didik dalam artian pendidik harus melihat kondisi peserta didiknya.
Pendidik harus bijaksana dalam memilih peserta didik yang memang membutuhkan
sentuhan penguatan dalam artian pendidik harus memberikan penguatan yang tepat pada sasaran untuk membangun rasa kepercayaan diri peserta didik.
Untuk membangun sikap jujur dari peserta didik, pendidik melakukan berbagai cara yang dianggap tepat dalam membangun dan membentuk sikap jujur dari peserta didik. salah satunya adalah dengan memberikan tugas essay kepada peserta didik tentang materi yang disampaikan guru yang harus di kerjakan perindividu dan tidak boleh ada yang sama isi essay nya. Ini dapat membangun dan membentuk sikap jujur, tanggung jawab, kerja keras dan disiplin dari peserta didik.
Untuk mengumpulkan informasi secara mendalam mengenai karakter baik peserta didik apakah sudah terbentuk atau tidak, peneliti melakukan sedikit pendekatan kepada peserta didik untuk melakukan sedikit interaksi secara langsung dengan peserta didik. Peneliti melakukan obrolan dengan peserta didik untuk sekedar menggali karakter mereka. Dalam proses interaksi tersebut peneliti juga sedang melakukan observasi dengan memberikan beberapa pertanyaan yang tidak disadari peserta didik bahwa dirinya sedang diteliti. Dari proses interaksi inilah peneliti dapat mengetahui bahwa setiap jum‟at ada kegiatan yasinan dan dzikir berjama‟ah di mushollah sebelum jam pelajaran di mulai setelah dzikir, sekolah mengadakan kegiatan kerja bakti untuk membersihkan area sekolah dan hal ini adalah kegiatan ini di pimpin langsung oleh guru Pendidikan Agama Islam yang telah diberi tanggung jawab oleh Kepala Sekolah. Ini menandakan bahwa guru PAI berusaha semaksimal mungkin untuk membentuk karakter dari peserta didik sebagaimana yang di instruksikan pemerintah pusat melalui kurikulum 2013.
Selanjutnya, skor total variable pembentukan karakter peserta didik yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 2281, skor tertinggi variable ini tiap responden
adalah 10 x 4 = 40, karena jumlah responden 58 orang, maka skor kriterium adalah 74 x 40 = 2960, sehingga pembentukan karakter peserta didik adalah 2281 : 2960 = 0.7706 atau 77.06% dari kriteria yang ditetapkan sehingga dapat dikatakan bahwa pembentukan karakter peserta didik termasuk dalam kategori sedang.
4.4.3 Pengaruh Implementasi Kurikulum 2013 Terhadap Pembentukan Karakter Peserta Didik
Implementasi kurikulum 2013 terdapat pengaruh ataupun hubungan yang signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) di kelas XI SMA Negeri 2 Pinrang. Berdasarkan uji pengaruh yang dilakukan peneliti melalui korelasi produk momen diperolehan nilai rhitung = 0.986 ≥ rtabel = 0.225 pada taraf signifikan 5% serta berdasarkan Kofisiensi korelasi yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0.986 kemudian dikuadratkan, maka diperoleh hasil 0.9721. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa besarnya tingkat pengaruh implementasi kurikulum 2013 terhadap pemebntukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) adalah sebesar 97.21%, dalam artian bahwa 2.79% lainnya dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diamati dalam penelitian ini yang berarti pula bahwa terdapat pengaruh implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang.
Selain itu, dapat pula dilihat pada uji regresi linier sederhana pengaruh implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang, diperoleh nilai koefisien regresi R = 0.332, serta nilai F = 8.948 pada taraf signifikansi 5%. Tigkat signifikansi sebesar 0.04 < 0.05, diketahui nilai thitung 2.991 > ttabel 1.993 sehingga dapat disimpulkan bahwa variable X (implementasi kurikulum 2013) berpengaruh terhadap variable Y
(Pembentukan karakter). Sehingga dari data tersebut maka hipotesis diterima. Regresi linear dilakukan untuk mengetahui hubungan fungsional antara satu variable dependent dan satu variable independent. Bentuk persamaan regresi berupa 𝑌′ = 19.615 + 0.270 𝑋.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis yang telah diuraikan dalam skripsi ini, yang membahas mengenai efektivitas implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMA Negeri 2 Pinranng yang studi kasusnya pada mata pelajaran PAI, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang berada pada kategori sedang yaitu dengan presentasi 72.73% dengan menganalisis hasil angket yang dibagikan kepada 74 responden, ini menunjukkan bahwa implementasi kutikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI diterapkan secara maksimal oleh Guru Pendidikan Agama Islam sehingga dapat memudahkan peserta didik dalam memahami, memaknai, dan menghayati setiap materi pendidikan agama Islam yang disampaikan oleh guru.
5.1.2 Pembentukan karakter peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang berada pada kategori sedang yaitu dengan presentasi 77.06% dengan menganalisis hasil angket yang diberikan kepada 74 responden, hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter peserta didik pada mata pelajaran PAI diterapkan dengan maksimal oleh Guru Pendidikan Agama Islam. Para guru berusaha sebisa mungkin untuk memberikan pendidikan karakter pada setiap materi ajarnya. Sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui dan memahami teori ajarnya tetapi juga memaknai sampai menghayati setiap
makna dalam materi ajar sehingga diharapkan dapat diterapkan di luar proses pembelajaran kelas.
5.1.3 Terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMA Negeri 2 Pinrang yang studi kasusnya pada mata pelajaran PAI. Adapun hasil perhitungan rhitung dan rtabel dalam hipotesis yang ditempuh untuk mencari pengaruh antara variable X (Implementasi kurikulum 2013) terhadap variable Y (pembentukan karakter peserta didik) yang menghasilkan rhitung 0.986 dan rtabel 0.225 yang artinya rhitung ≥ rtabel (0.986 ≥ 0.225) maka H1 diterima H0 ditolak. Pada taraf signifikan 5% serta berdasarkan Kofisiensi korelasi yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0.986 kemudian dikuadratkan, maka diperoleh hasil 0.9721. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa besarnya tingkat hubungan atau pengaruh implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI adalah sebesar 97.21%, dalam artian bahwa 2.79% lainnya dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diamati dalam penelitian ini yang berarti pula bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang, kemudian dilakukan uji regresi sederhana untuk mengetahui adanya pengaruh antara implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang diperoleh Bentuk persamaan regresi berupa 𝑌′ = 19.615 + 0.270 𝑋. Dengan ini dinyatakan adanya hubungan positif atau pengaruh implementasi kurikulum 2013
terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang.
5.2 Saran
Agar pembelajaran lebih berkualiatas dan menyenangkan, maka hendaknya pendidik harus lebih memaksimalkan implementasi kurikulum 2013 karena kurikulum ini menuntut para guru untuk lebih kreatif dalam mendesain proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik sehingga peserta didik dapat ikut aktif dalam proses pembelajaran dan itu akan mendatangkan sebuah kebaikan yaitu peserta didik nantinya tidak hanya mengerti dan memahami teori tentang materi PAI (Pendidikan Agama Islam) tetapi lebih dari itu yakni menghayati dan memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam mata pelajaran PAI tersebeut sehingga nantinya peserta didik dengan senang hati dapt mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam mata pelajaran PAI tersebut. Oleh karena itu, peneliti menyarankan:
5.2.1 Berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI yang tentunya diterapkan langsung oleh guru PAI yang berdasarkan hasil penelitian berada pada kategori sedang, akan tetapi sebagai saran akan lebih baik jika proses pengimplementasian kurikulum 2013 ini ditunjang dengan fasilitas memadai yang dapat lebih mempermudah peserta didik dalam memahami, memaknai sampai dengan menghayati materi PAI yang disampaikan oleh guru. Tingkat kreatifitas guru PAI dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI ini juga harus lebih ditingkatkan agar tidak ada kejenuhan yang dirasakan peserta didik pada saat belajaran materi PAI sehingga implementasi kurikulum 2013 ini akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik.
5.2.2 Berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMA Negeri 2 Pinrang, meskipun hasil penelitian menunjukkan mencapai pada kategori sedang, akan lebih baik jika pendidik lebih memperhatikan kebutuhan dan kondisi peserta didik, itu akan sangat membantu mereka dalam pembentukan karakter baik mereka. Oleh karena itu, pendidik harus menggunakan pendekatan yang tepat kepada peserta didik untuk mengetahui kebutuhan dan kondisi dari peserta didik agar mempermudah pendidik dalam mengambil tindakan mengenai pembentukan karakter mereka.
5.3 Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan sebelumnya,maka penulis mengajukan rekomendasi yang dipandang dapat berguna dalam menciptakan efektivitas implementasi kurikulum 2013 terhadap pembentukan karakter peserta didik, diantaranya yaitu:
5.3.1 Kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Pinrang diharapkan dapat mengadakan program atau kegiatan pelatihan guru dalam pengimplementasian kurikulum 2013 sehingga setiap pendidik dapat memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kurikulum yang berlaku saat ini yakni kurikulum 2013.
Selain itu diharapkan juga agar kepala sekolah dapat menyedian sarana dan prasarana yang memadai untuk mempermudah pengimplementasian kurikulum 2013 oleh para pendidik.
5.3.2 Kepada Pendidik di SMA Negeri 2 Pirang diharapkan dapat memaksimalkan lagi penggunaan ketermpilan pengelolaan kelas berdasarkan kurikulum 2013 sehingga dapat mempermudah peserta didik dalam memahami setiap materi ajar yang disampaikan.
5.3.3 Kepada Peserta didik di SMA Negeeri 2 Pinrang diharapkan dapat ikut berpartisipasi aktif dan kreatif dalam pembelajaran sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan efektif dan kegiatan memahami, mengerti, memaknai sampai pada mengahayati materi ajar dapat tercipta.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zainuddin. 2010. Pendidikan Agama Islam. Cet.3. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Amri Syafri, Ulil. 2014. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an. Cet ke-2. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 1986. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bima Aksara.
Baharuddin, 2017. Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Karakter Peserta Didik di SMA Negeri 1 Baranti Kabupaten Sidenreng Rappang. Skripsi Sarjana. Jurusan Tarbiyah dan Adab. Parepare.
Barnawi dan M. Arifin. 2012. Strategi dan kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Budinigsih, Asri. 2008. Pembelajaran Moral. Cet.1. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Darmawati. 2011. Mekanisme Kerja Guru Pendidikan Agama Islam dan Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 4 Tinambung Kec. Tinambung Kab. Polewali Mandar. Skripsi Sarjana. Sekolah Tinggi Agama Islam Parepare. Parepare.
Departemen Agama. 2006. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta: Dirjen Pendais.
Gonzalez-Mena, Janet. 2014. Foundations Of Early Childhood Education. New York. Mc Graw Hill.
Hasbullah. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
http://www.salamedukasi.com/2014/11/pengertian-tujuan-dan- karakteristik.html?m=1
https://smartstat.wordpress.com/2010/03/14/populasi-dan-sampel/
Idi, Abdullah. 2011. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Cet.1. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media.
Ismawati, Esti. 2012. Telaah Kurikulum dan Pengembangan Bahan Ajar.
Yogyakarta: Penerbit Omba.
Kasiram, Moh. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif . Cet.2. Jakarta:
UIN Maliki Press.
Kasiram, Moh. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Cet.2. Jakarta:
UIN Maliki Press.
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2007. Al Qur’an dan Terjemahannya.
Bogor: Halim Publishing dan Distributing.
Kesuma, Dharma, Cepi Triatna, dan Johar Permana. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Cet.2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Lickona, Thomas. 2015. Mendidik untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah dapat Memberikan Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab. Cet.4. Jakarta: Bumi Aksara.
Madia. 2015. Perencanaan Kurikulum PTKI Teori dan Praktek. Cet. 1. Yogyakarta;
The Phinisi Press.
Mahmudunnasir, Syed. 2005. Islam Konsepsi Sejarahnya. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Majid, Abdulz dan Chaerul Rochman. 2014. Pendekatan Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mostari, Mohammad. 2014. Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan. Cet.1.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mu‟in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoretik dan Praktik, Cet.1.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Muhaimin, Akhmad Azzet. 2013. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Cet.2.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta; PT Rajagrafindo Persada.
Mulyasa, H.E. 2016. Manajemen Pendidikan Karakter. Cet.5. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nata, Abuddin. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Cet.2. Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Ngainun, Naim. 2012. Character Building Optimalisasi Peran Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu dan Pembentukan Karakter Bangsa. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
Nurdin, Syafruddin dan Basyiruddin Usman. 2003. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Cet.2. Jakarta: Ciputat Press.
Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Teori dan Aplikasi. Cet.9. Jakarta: Rajawali Pers.
Putro Widoyoko, Eko. 2016. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Cet.5.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sairin, Weinata. 2001. Pendidikan yang Mendidik. Jakarta: Yudistira.
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. 2013. Pedoman Tulisan Karya Tulis Ilmiah.
Parepare: Kementrian Agama.
Simon Weinstein, Carol, Molly E. Romano, and Andrew. 2011. Elementary Classroom Management. New York: Mc Grow Hill.
Siregar, Syofian. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Perhitungan Manual dan SPSS. Cet.2.Jakarta: Kencana Pernadamedia Group.
Taufik Adrianto, Tuhana. 2012. Mengembangkan Karakter Sukses Anak di Era Cyber. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Cet.1. Jakarta: Kencana.
Zuriyah, Nurul. 2007. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori dan Aplikasi Cet. II. Jakarta: PT Bumi Aksara.
LAMPIRAN
KISI-KISI ANGKET
No. Variabel Indikator No. Item Jumlah
Butir
(+) (-)
1. Implementasi Kurikulum 2013
(X)
Tanggapan peserta didik
terhadap implementasi kurikulum 2013
pada mata pelajaran PAI oleh guru PAI
1, 2, 3, 4, 5
6, 7, 8, 9, 10
10
Jumlah 10
2. Pembentukan Karakter Peserta
Didik (Y)
Kegiatan untuk mempengaruhi agar peserta didik memiliki
sifat jujur, disiplin, tanggung jawab,
kerja sama, dan kerja keras.
11, 12, 13, 14, 15
16, 17, 18, 19,
20
10
Jumlah 10
ANGKET I. Identitas Responden
Nama responden :
Jenis kelamin : Laki-Laki Perempuan
Kelas :
II. Angket
Implementasi Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran PAI
Pembentukan Karakter Peserta Didik di SMA Negeri 2 Pinrang.
III. Petunjuk Pengisian
a. Bacalah pernyataan berikut dengan teliti.
b. Pilih alternatif jawaban yang benar-benar sesuai dengan keadaan adik-adik dan berilah tanda ceklis (v) pada kolom penilaian.
c. Jawablah dengan sejujurnya karena angket ini idak akan mempengaruhi pada nilai raport atau kenaikan kelas.
d. Jawaban angket ini akan dirahasiakan.
e. Atas partisipasi adik-adik diucapkan terima kasih.
IV. Kriteria Penilaian
SL= Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan.
SR= Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan.
KK= Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan atau sering tidak melakukan sesuai pernyataan.
TP= Tidak Pernah, apabila tidak pernah melakukan.
V. Daftar Pertanyaan
No. Dafatr Pernyataan. Kriteria Penilaian
1. Dengan menggunakan kurikulum 2013 guru ...
menyampaikan materi PAI dengan baik, menarik dan menyenangkan.
2. Kurikulum 2013 yang diterapkan dalam mata pelajaran PAI membuat saya ... memahami dengan baik mengenai materi pelajaran PAI yang disampaikan oleh guru.
3. Karena kurikulum 2013 menuntut guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar maka setiap kali pembelajaran PAI berlangsung guru ... menggunakan metode yang menarik dan menyenangkan.
4. Guru ... menggunakan media projektor seperti LCD atau menggunkan media yang menarik pada saat