• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengaruh Komisaris Independen terhadap tax avoidance

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independent berpengaruh negative dan signifikan terhadap tax avoidance. Komisaris independent merupakan pihak yang bertugas secara independent untuk melakukan pengawasan dan memberikan masukan terhadap manajemen.

Proporsi komisaris independent yang memadai menjadikan komisaris independent lebih jeli terhadap Tindakan kecurangan seperti tax avoidance.

Hal ini sesuai dengan teori agensi yaitu komisaris inedependen berfungsi sebagai salah satu alat bagi prinsipa untuk meminimalisir terjadinya konflik agensi. Sehingga semakin banyak komisaris independent dapat menekan praktik tax avoidance.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi,2019) dan (Wardani & Mursiyati,2019) yang menunjukkan bahwa komisaris independent berpengaruh negative terhadap tax avoidance.

2. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Tax Avoidance

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSR tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Hal ini menunjukkan bahwa besar atau kecilnya CSR tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Ketidakonsistenan pada hasil penelitian ini dikarenakan perusahaan pada penelitian ini melakukan manajemen laba income increasing yaitu dengan menaikkan laba, sehingga tingginya laba menyebabkan naikknya beban pajak perusahaan hal ini kemudian tidak sesuai dengan konsep dari tax avoidance. Penyebab lainya adalah pelaporan CSR cenderung dilakukan perusahaan hanya untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

Hal ini tidak sesuai dengan teori legitimasi bahwa legitimasi dibutuhkan perusahaan untuk menambah nilai-nilai positif untuk dari masyarakat yang menjadikan perusahaan tidak akan melakukan Tindakan yang dapat mempengaruhi legitimasi masyarakat seperti tax avoidance.

Oleh karena itu CSR dinilai belum cukup untuk mengurangi adanya praktek tax avoidance.hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wijayanti et al.,2016) dan (Wardani et al.,2018) yang menunjukkan bahwa CSR tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

3. Pengaruh Komisaris Independent terhadap Manajemen Laba

77

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independent berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Maka semakin banyak komisaris independent maka dapat menekan manajemen laba.

Hasil penelitian ini menunjukkan perusahaan sudah sadar akan pentingnya peran komisaris independent dalam melakukan pengawasan.

Tingginya nilai komisaris independent dan nilai manajemen yang tidak terlalu tinggi menandakan bahwa komisaris independent sudah berhasil dalam melakukan pengawasan dan memberikan nasihat sehingga menjadikan keputusan akuntansi yang diambil menjadi tepat dan akhirnya dapat menekan manajemen laba.

Hal ini sesuai dengan teori agensi untuk terciptanya suatu tata kelola yang baik manajemen lab adapt diminimalisir dengan adanya komisaris independent yang melakukan pengawasan secara langsung terhadap kinerja manajemen. Proporsi komisaris independent yang memadai dapat menciptakan suatu tata kelola yang baik sehingga dapat menekan adanya praktik manajemen laba.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Pratomo & Indah,2023) dan (Syahreza et al.,2016) yang mengatakan bahwa komisaris independent berpengaruh negative terhadap manajemen laba.

4. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Manajemen Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSR berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Maka semakin aktif perusahaan dalam melakukan CSR dapat menekan Tindakan manajemen laba.

Penelitian ini menunjukkan nilai CSR yang tinggi dibandingkan dengan nilai manajemen labanya. Perusahaan yang semakin aktif dalam melaporkan kegiatan CSRnya menjadikan lebih terbuka terhadap informasi keuangan perusahaan. Sehingga pihak luar akan semakin mudah dalam melakukan pengawasan terhadap berjalanya operasional perusahaan dan akhirnya menekan Tindakan kecurangan yang dilakukan oleh manajer. Sehingga semakin terbuka perusahaan terhadap informasi keuanganya maka semakin kecil pula Tindakan manajemen laba.

Hal ini sesuai dengan teori legitimasi bahwa perusahaan membutuhkan legitimasi untuk menjalankan bisnisnya. Perusahaan melakukan CSR untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat dan mendapatkan citra positif dari masyarakat. Perusahaan yang melakukan CSR cenderung lebih terbuka terhadp laporan keuanganya sehingga dapat menekan manajemen laba.

Hasil ini sesuai dengan penelitian yagn dilakukam oleh (Ricardo,2015) dan (Alexander et al.,2020) menunjukkan bahwa CSR berpengaruh negative dan signifikan terhadap manajemen laba.

5. Pengaruh Manajamen Laba terhadap Tax Avoidance

Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Sehingga menunjukkan besar kecilnya

79

manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai manajemen laba yang positif dan lumayan tinggi hal ini dikarenakan perusahaan telah melakukan income increasing yaitu menaikkan laba. Ketika perusahaan melakukan income increasing maka menjadikan beban pajaknya bertambah. Naiknya beban pajak ini kemudian menjadikan kontradiksi dengan konsep tax avoidance.

Ketika melakukan tax avoidance maka perusahaan akan melakukan income increasing atau mengurangi labanya. Perbedaan kepentingan perusahaan dalam melakukan manajemen laba menjadikan manajemen laba tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Manuel et al.,2023) dan (Hanny,2019) yang mengatakan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

6. Manajemen Laba Memediasi Hubungan Komisaris Independen dan Tax Avoidance

Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba memediasi hubungan komisaris independent terhadap tax avoidance.hal ini menunjukkan komisaris independent terhadap tax avoidance dapat dimediasi oleh manajemen laba.

Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata nilai komisaris independent yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata manajemen laba dan tax avoidance. Hal ini menunjukkan komisaris independent telah berhasil

dalam berperan untuk meningkatkan pengawasan dan memberikan masukan terhadap manajemen dalam mengambil keputusan, sehingga dapat menekan praktik manajemen laba. Salah satu motivasi pajak adalah labanya,jika komisaris independent berhasil menekan manajemen laba maka secara tidak langsung juga meminimalisir Tindakan tax avoidance.

Hal ini sesuai dengan teori agensi yang menjelaskan tentang penghindaran konflik agensi yang dapat dihindari dengan meningkatkan pengawasan yang dilakukan oleh komisaris independent. Oleh karena itu proporsi komisaris independent yang memadai dapat meningkatkan pengawasan terhadap kinerja manajemen, sehingga menekan manajemen laba yang kemudian dapat menurunkan Tindakan tax avoidance. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen laba dapat memediasi hubungan komisaris independent terhadap tax avoidance secara negative.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Anggana & Prastiwi,2013) yang mengatakan komisaris independent berpengaruh negative terhadap manajemen laba dan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Septiadi et al.,2017) menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh negative dan signifikan terhadap tax avoidance.

7. Manajemen Laba Memediasi hubungan Corporate social responsibility dan Tax Avoidance

Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba memediasi hubungan CSR terhadap tax avoidance secara negative. Hal ini

81

menunjukkan CSR terhadap tax avoidance dapat dimediasi oleh manajemen laba.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai CSR yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata manajemen laba dan tax avoidance. Hal ini menunjukkan perusahaan yagn telah melakukan CSR lebih terbuka mengenai informasi keuangan perusahaan. Semakin terbukanya perusahaan terhadap informasi keuanganya menjadikan pihak luar menjadi lebih mudah dalam melakukan pengawasan. Meningkatnya pengawasan menjadikan laporan keuangan lebih akuntabel,yang dapat menekan praktik manajemen laba. Menurunya manajemen laba dapat mengurangi kecenderungan manajer untuk melakukan tax avoidance.

Hal ini sesuai dengan teori legitimasi yaitu tujuan dilakukanya CSR adalah untuk menciptakan legitimasi dari masyarakat. Semakin agresive perusahaan dalam melakukan manajemen laba, menyebabkan laporan keuangan menjadi bias dan tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

Dengan melakukan CSR menunjukkan bahwa perusahaan semakin terbuka terhadap informasi keuangan perusahaan, hal ini kemudian menjadikan laporan keuangan lebih akuntabel. Laporan CSR juga dapat memunculkan kepercayaan masyarakat kepada perusahaan yang menandakan perusahaan telah menjalankan perusahaan dengan beretika baik dan memikirkan masyarakat sekitar. Perusahaan yang mendapatkan nilai baik dari masyarakat cenderung tidak akan melakukan Tindakan yang dapat merugikan perusahaan seperti melakukan manajemen laba. Jika nilai

manajemen laba rendah maka perusahaan juga cenderung rendah dalam melakukan tax avoidance. Sehingga Tindakan manajemen laba juga dapat digunakan sebagai variable memdiasi antara CSR dan tax avoidance.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi &

Noviari,2017) menyatakan bahwa CSR berpengaruh negative terhadap penghindaran pajak dan menurut penelitian (Alexander & Palupi,2020) menyebutkan bahwa CSR berpengaruh negative terhadap manajemen laba.

83

BAB V

Dokumen terkait