• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.5 Pengembangan Hipotesis

2.5.5 Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Tax Avoidance

Manajemen laba adalah proses manajer untuk ikut campur dalam proses penyusunan laporan keuangan yang bertujuan memenuhi kepentingan pribadi atau suatu kelompok. Manajemen laba merupakan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk mempengaruhi laba perusahaan. Kemudian salah satu motivasi perusahaan melakukan manajemen laba adalah motivasi pajak. Manajemen laba dilakukan untuk mempengaruhi pajak melalui perencanaan pajak sehingga dapat mengubah pendapatan kena pajak yang nantinya mengubah beban pajak perusahaan (Kamila &

Martini,2013).

Bedasarkan teori agensi konflik agensi terjadi ketika terdapat perbedaan kepentingan antara manajer dan pemerintah, pemisahan fungsi antara manajer dan pemerintah ini menyebabkan asimetri infomarsi dimana manajer dianggap lebih mengetahui informasi dan keadaan perusahaan sehingga lebih leluasa dalam memnipulasi data keuangan. Pemerintah menginginkan perusahaan agar dapat membayarkan pajaknya secara maksimal namun perusahaan berusaha menekean beban pajaknya sampai seminimal mungkin. Manajemen dapat menggunakan manajemen laba untuk me-

manage laba perusahaan sehingga beban pajaknya menjadi lebih sedikit. Hal ini menyebabkan nilai CETR yang rendah, nilai CETR yang rendah menunjukkan kemungkinan perusahaan melakukan tax avoidance. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Septiadi et al., 2017) yang mengatakan bahwa manajemen laba berpegaruh negative dan signifikan terhadap tax avoidance. Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipoteis yang dapat dirumuskan adalah :

H5 : Manajemen laba berpengaruh negative dan signifikan terhadap tax avoidance.

2.5.6 Manajemen laba memediasi pengaruh Komisaris independent terhadap Tax Avoidance

Komisaris independent merupakan pihak yang tidak terikat oleh siapapun yang bertugas untuk melakukan pengawasan pada perusahaan agar kegiatan operasional perusahaan menjadi baik sesuai dengan tatanan yang perusahaan yang semestinya.

Ditinjau dari teori agensi menjelaskan pemisahan kekuasaan antara agent dan principal. Setiap individu mempunyai target yang berbeda untuk mencapai target mereka demi kesejahteraan diri sendiri. Perbedaan kepentingan ini yang mendorong manajer untuk semakin meningkatkan profit demi kesejahteraan sendiri, sedangkan agent termotivasi untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya untuk meningkatkan bonus. Pemisahan kekuasaan tersebut dapat menyebabkan perbedaan fungsi yang disebut diferensiasi fungsi. Perusahaan dianggap lebih mengetahui kondisi perusahaan sehingga semakin besar kemungkinan untuk melakukan Tindakan kecurangan yang dapat merugikan investor dengan melakukan manajemen laba.

30

Berdasarkan teori agensi hubungan antara manajemen laba dan tax avoidance adalah manajemen laba dilakukan sebagai bentuk motivasi pajak untuk melakukan tax avoidance. Tax avoidance yaitu upaya yang dipilih perusahaan untuk mengurango beban pajak perusahaan dengan menfaatkan celah-celah peraturan perpajakkan. Laba memperngaruhi langsung terhadap beban pajak yang dibayarkan, agen dinilai lebih mengetahui tentang kondisi perusahaan. Hal itu kemudian dimanfaatkan agen (manajer untuk mengatur laba sesuai dengan kebijakan akutansi yang dipilih baik dengan menaikkan laba atau menurunkan laba untuk menekan beban pajak. Oleh karena itu kehadiran komisaris independent memiliki peran yang penting untuk membantu terciptanya tata kelola perusahaan yang baik. Semakin banyak jumlah komisaris independent, maka semakin baik pula pengawasan terhadap kecurangan yang mungkin akan dilakukan oleh manajer.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Anggana & Prastiwi, 2013) mengatakan bahwa komisaris independent berpengaruh negative terhadap manajemen laba dan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Septiadi et al.,2017) menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh negative dan signifikan terhadap tax avoidance. Semakin banyak jumlah komisaris independent menjadika semakin baik pula pengawasan terhadap manajemen. Manajemen akan berhati-hati dalam mengambil keputusan sehingga laporan keuangan menjadi transparan dan dapat menekan Tindakan kecurangan. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diambil hipotesis bahwa :

H6 : Manajemen laba dapat memediasi antara komisari independent terhadap tax avoidance secara negative.

2.5.7 Manajemen laba memediasi pengaruh Corporate Social Responsiility terhadap Tax Avoidance

Teori agensi menjelaskan tentang motivasi melakukan manajemen laba adalah dipengaruhi oleh konflik kepentingan anatara agen dan principal dalam mencapai tingkat kemakmuran yang dikehendaki. Manajemen laba dilakukan sebagai upaya yang dilakukan oleh manajer untuk mengintervensi laporan keuangan agar sesuai dengan target yang ingin dicapai, laba juga yang nantinya mempemgaruhi pajak secara langsung, yaitu dengan menaikkan beban/biaya sehingga laba yang dilaporkan menjadi lebih kecil. Jika laba yang dihasilkan kecil maka beban pajak yagn dibayarkan akan semakin sedikit.

Perusahaan menyadari dalam menjalankan bisnis diperlukan adanya dukungan dari masyarakat, berdasarkan teori legitimasi bahwa perusahaan harus menjalankan kegiatan bisnis berdasarkan nilai-nilai justis untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat, legitimasi ini penting bagi perusahaan untuk memenuhi harapan etis perusahaan. Legitimasi didapatkan perusahaan melalui apa yang diberikan kepada masyarakat, untuk mendapatkan hal tersebut perusahaan melakukan CSR. CSR merupakan tanggungjawab perusahaan untuk melakukan kegiatan bisnis yang bertanggung jawab terhadap masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan berdampak positif bagi lingkungan. Dengan melakukan CSR maka perusahaan akan mendapatkan respon positif dimata investor yang nantinya dapat mengurangi atau menutupi Tindakan kecurangan yang dilakukan manajer. Namun dengan diungkapkanya CSR membuat informasi keuangan menjadi jelas dan transoaran sehingga laporan keuangan menjadi terpecaya dan dapat diandalkan. Semakin jelas

32

transparansi dalam laporan keuangan dapat menekan kemungkinan manajer untuk berbuat kecurangan. Ketika perusahaan terbuka dalam pengungkapan informasi keuangan perusahaan maka akan membatasi manajer untuk melakukan manajemen laba. Sebaliknya perusahaan yang terutup infrimasi keuanganya cenderung melakukan berbagai praktik kecurangan salah satunya manajemen laba.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi & Noviari,2017) menyatakan bahwa CSR berpengaruh negative terhadap penghindaran pakak dan menurut penelitian ( Alexander & Palupi,2020) menyebutkan bahwa CSR berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah :

H7 : Manajemen laba dapat memediasi anatar Corporate Social Responsibility terhadap Tax Avoidance secara negative.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Definisi dan Pengukuran Variabel

3.1.1 Variabel independent

Menurut Sugiyono (2019 : 61) variable independent adalah variable yang memberikan pengaruh/perubahan terhadap variable dependen. Variable independent pada penelitian ini adalah : Komisaris independent dan Corporate Social Responsibility.

1. Komisaris independent

Komisaris independent merupakan alat pengawasan yang dimiliki oleh perusahaan guna terciptanya tata kelola yang baik. Komisaris independent adalah pihak yang tidak terikat oleh apapun sehingga dapat melakukan pengawasan maksimal terhadap aktivitas bisnis perusahaan untuk meminimalisir kemungkinan yang dilakukan oleh manajer.

Komisaris independent dihitung menggunakan proporsi jumlah komisaris independent dalam perusahaan. Semakin banyak jumlah komisaris independent dalam perusahaan maka dapat mengingkatkan pengawasan untuk menekan Tindakan kecurangan yang dilkakukan oleh manajer. Berdasarkan (Andriyani,2008) dalam jurnal (Dicky&Saputra,2017) komisaris dapat diukur menggunakan rumus sebagai berikut :

34

2. Corporate Social Responsibility

Corporate social responsibility merupakan bentuk tanggungjawab perusahaan kepada masyarakat dan stakeholder, sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk menjalankan bisnis secara etis dan berkontribusi terhadap pembangunan sekitar.

Kemudian salah satu kewajiban perusahaan kepada masyarakat adalah dengan membayarkan pajak dengan tepat waktu, ketika perusahaan taat membayar pajak maka perusahaan telah bertanggungjawab terhadap kepentingan masyarakat sekitar.

Oleh karena itu semakin tinggi tingkat csr perusahaan maka semakin tinggi tingkat CSR perusahaan maka semakin berkurang pula keinginan perusahaan untuk melakukan kecurangan pajak. Menurut Priomario dalam (Ratu & Hermanto,2020) rumus yang digunakan untuk mengukur CSR yaitu dengan menggunakan CSRI (Corporate Social Responsibility) yang dirumuskan sebagai berikut :

3.1.2 Variabel Intervening

Variable intervening merupakan variable yang dapat mempengaruhi variable dependen dan independent secara tidak langsung. Variable intervening pada penelitian ini adalah manajemen laba salah satu upaya perusahaan untuk mempengaruhi pajaknya adalah dengan melakukan manajemen laba. Perusahaan

yang diindakasi melakukan manajemen laba meningkatkan beban sehingga dapat meminimalisir beban pajak.

Manajemen laba diukur menggunakan Discretionary accurual dengan modified jones model (1991) dalam jurnal (Septiadi et al.,2017) yaitu dapat dirimuskan sebagai berikut :

3.1.3 Variabel dependen

Variable dependen merupakan varibel yang sangat dipengaruhi oleh variable lainnya.

Variabel dependen pada penelitian ini adalah Tax Avoidance.

Tax avoidance merupakan upaya perusahaan untuk mempengaruhi beban pajaknya secara legal pada undang-undang perpajakkan untuk mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan celah undang-undang yang berlaku. Hal yang

36

umum dilakukan perusahaan adalah dengan dengan melakukan income increasing atau decreasing pada pendapatan perusahaan yang dapat mempengaruhi beban pajak.

Pada penelitian ini Tax Avoidance diukur menggunakan Cash ETR. Menurut (Huseynov dan kalmm,2012) CETR diukur menggunakan rumus sebagai berikut :

𝐸𝑇𝑅 = beban pajak laba sebelum pajak 3.2 Populasi dan sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan laporan keuangan perusahaan manufaktur selama periode 2018-2020. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah Teknik pengambilan sampel pada suatu populasi yang memiliki kesamaan dengan kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2018-2020.

2. Laporan keuangan yang disajikan tahunan menggunakan mata uang rupiah (Rp).

3. Perusahaan manufaktur yang tidak mengalami rugi selama tahun 2018- 2020.

4. Memiliki data laporan keuangan yang lengkap.

3.3 Sumber dan Jenis Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui situs Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu www.idx.co.id. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder penelitian ini bersumber dari laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode tahun 2018-2020.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Metode Studi Pustaka

Metode studi Pustaka yaitu metode menghimpuni informasi, studi kepustakaan merupakan kajian teoritis, referensi serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pengumpulan data melalui dokumen-dokumen,baik secara tertulis,gambar,foto maupun dokumen elektronik yang mendukung dalam proses penulisan.

3.5 Teknik Analisis

Teknik analisis adalah proses analisis data sehingga dapat ditarik kesimpulan yang kemudian diitrepertasikan yang nantinya bermanfaat untuk peneliti dalam membaca dan memahami sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

3.5.1 Analisis statistic deskriptif

38

Metode analisis statistik despkriptif adalah metode statistic yang menganalisa data secara deksriptif atas data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum. Pada penelitian ini oenulis menganalisis data yang tertera pada laporan keuangan seperti laba bersih, ekuitas,dan neraca.

3.5.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik merupakan uji prasyarat sebelum melakukan penelitian lebih lanjut terhadap data yang telah dikumpulkan agar dapat menghasilkan program regresi yang memenuhi kriteria BLUE (Best linier unbiased estimator). Ketika model regresi sudah memenuhi BLUE maka hasil tersebut dapat digunakan sebagai estimator yang terpecaya dan handal. Untuk mendapatkan hasil blue maka diperlukan serangkaian uji lanjut yaitu Uji normalitas Uji multikolineritas, Uji heterokedasitas, dan Uji Autokolerasi.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi memounyai distribusi normal atau tidak normal (Ghozali,2018). Uji normalitas pada penelitian ini diuji menggunakan uji One sample Kolmogorov Smirnoff,yaitu apabila nilai signifikansi diatas 5% atau 0,05 maka data terdistribusi secara normal begitupun sebaliknya. Kemudian untuk analisis grafik yang digunakan untuk penelitian ini adalah menggunakan grafik histogram dan profitability plot. Profitability digunakan untuk membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dan distribusi normal. Dasar pengambilan keputusan dari pengujian menggunakan analisis grafik ini adalah :

a. Grafik histogram dinhatakan normal jika garis disekitar diagonal menyebar dan searah dengan garis diagonal. Maka model regresi dinyatakan normal.

b. Sebaliknya grafik histogram dinyatakan tidak normal jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak sesuai atah garis diagonal, maka model regresi tidak normal.

2. Uji multikolineritas

Pengujian multikolineritas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukanya kolerasi antar variable (Ghozali,2018). Untuk menentukan terjadi atau tidak terjadinya multikolineritas dilihat dari nilai toleransi dan nilai variance inflation factor (VIF) jika nilai VIF kurang dari 10 atau nilai tolerance lebih dari 0,01 maka dinyatakan tidak ada multikolineritas.namun jika terjadi moltikolineritas maka peneliti dapat melakukan transformasi variable,penambahan data observasi atau menghilangkan salatu varibel independent yang mempunyai korelasi linier yang kuat (Ghozali,2018).

3. Uji Autokorelasi

Auto korelasi dapat terjadi karena adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu sama lain. Model regresi yang baik yaitu model yang tidak terdapat autokorelasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji Durbin watso untuk mengetahui terjadi atau tidaknya autokorelasi pada model regresi yang digunakan. Kriteria sebagai berikut :

1) Jika angka DW dibawah -2 berarti terjadi autokorelasi positif.

2) Jika angka DW berada pada -2 sampai +2 menunjukkan tidak terjadi autokorelasi.

40

3) Jika angka DW diatas +2 menunjukkan terjadi autokorelasi negative.

4. Uji Heterokedasitas

Uji Herterokedasitas bertujuan untuk mrenguji apakah model regresi yang digunakan terjadi ketidaknyamanan varian dari residual pengamatan satu dan lainnya. Model regresi yang baik adalah yang tidak memiliki heterokedasitas. Untuk mengetahui ada tidaknya heterokedasitas pada model regresi yaitu dengan cara melihat grafik scatterplot atau dari nilai prediksi variable terikat yaitu SRESID dengan residual eror ZPRED. Apabila tidak terdapat pola tertentu dan tidak menyebar diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu y maka model regesi tidak terdapat heterokedasitas (Ghozali,2018). Selain itu dilihat melalui grafik scatterplot heterokedasitas juga dapat dilihat melalui uji gletser yaitu melakukan uji regresi variable bebas pada nilai residual yang telah diabsolutkan. Untuk mengatahui apakah ada data mengandung heterokedasitas atau tidak, dapat didasrkan pasa asumsi berikut (Setiawan,2020) :

1) Apabila hasil uji gletser ditemukan bahwa nilai signifikansi dari variable independent terhadap nilai absolut residual lebih kecil dari taraf signifikasi yang ditentukan (0,05) maka dapat dikatakan mengandung heterokedasitas.

2) Apabila dari hasil uji gletser ditemukan bajwa nilai signifikansi dari variable independent terhadap nilai absolut residual lebih besar dari taraf signifikansi yang ditentukan (0,05), maka data yang digunakan dalam penelitian dapat dikatakan tidak mengandung heterokedasitas.

3.5.3 Uji Linier Berganda

Uji linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variable bebas dan terikat. Sehingga ditemukan persamaan regresi sebagai berikut :

Persamaan substructural pertama menguji secara langsung Komisaris independent dan Corporate social responsibility terhadap Tax avoidance :

Y1 = β1X1+ β2X2 + 𝜀1

Persamaan substructural kedua menguji secara tidak langsung pengaruh komisaris independent dan Corporate social responsivility melalui manajemen laba sebagai variable intervening.

Sehingga diperoleh keterangan sebagai berikut :

• Analisis pengaruh X1 melalui Y1 terhadap Y2

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui pengaruh yang diberikan X1 terhadap Y2 sebesar β3 sedangkan pengaruh tidak langsung X1 melalui Y1 terhadap Y2 adalah perkalian antara nilai β1 (Beta X1 terhadap Y1) dengan nilai β5 (Beta Y1 terhadap Y2).

42

• Analisis pengaruh X2 melalui Y1 terhadap Y2

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui bahwa pengaruh yang diberikan X2 terhadap Y2 sebesar β 4 sedangkan pengaruh tidak langsung X2 melalui Y1 terhadap Y2 adalah perkalian antara nilai β2 (beta X2 terhadap Y1) dengan nilai β5 (beta Y1 terhadap Y2). Jika hasil menunjukkan bahwa pengaruh langsung < pengaruh tidak langsung maka hal ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung X (X1 dan X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Y (Y1 dan Y2).

3.5.4 Uji Kebaikan Model

3.5.4.1 Uji Signifikansi stimulant (Uji satistik F)

Uji kebaikan model (Uji goodness of fit) merupakan uji regresi model yang menguji nilai actual secara statistic untuk mengatahui apakah model regresi yang digunakan sudah layak. Uji kebaikan model digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variable independent terhadap dependenya.kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut :

• Jika nilai sig F kurang dari 0,05 maka hipotesis diterima atau dengan kata lain semua variable independent berpengaruh secara signifikan terhadap variable dependen.

• Jika nilai sig F lebih dari 0,05 maka hipotesis ditolak, atau dengan kata lain semua variable independent tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variable dependen.

3.5.4.2 Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar hubungan linier variable bebas yang diteliti terhadap variable terikar. Uji nilai

koefisien determinasi yaitu antara 0-1. Seingga jika nilai R mendekati 1 menandakan semakin kuat kemampuan variable independent dalam menjelaskan variable dependenya.

3.5.4.3 Uji Parsial (Uji T)

Uji parsial digunakan untuk menguji apakah variable independent secara terpisah dapat mempengaruhi variable dependenya. Penelitian ini diukur melalui nilai t statistic untuk menunjukkan tingkat signifikansi pada pengujian hipotesis , untuk mencari nilai T statistic yaitu dengan melakukan prosedur bootstrapping.adapun kriteria yang digunakan menurut (Ghozali,2016) adalah :

• Jika nilai sig F Uji T lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak, artinya tidak ada pengaruh antara variable independent terhadap variable dependen.

• Jika nilai sig Uji T lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis diterima, artinya terdapat pengaruh antar variable independent terhadap variable deoenden.

3.5.4.4 Uji Sobel

Uji sobel merupakan metode pengujian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variable mediasi yaitu manajemen laba. Pengujian hipotesis mediasi pada penelitian ini menggunakan prosedur yang dikembangkan oleh sobel (1982) yang dikenal dengan uji sobel (Ghozali,2018) yang dirumuskan sebagai berikut :

44

Untuk menguji signifikan pengaruh tidak langsung secara parsial, maka dihitung dengan rumus sebagai berikut (Ghozali,2018) :

Apabila hasil pengujian z lebih dari 1,96 maka terjadi pengaruh mediasi.

58 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi sampel penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2018-2020. Teknik pengambilan sampe yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan purposive sampling, dan kemudian diperoleh jumlah sampel sebanyak 73 perusahaan yang memenuhi kriteria. Penjelasan pengambilan kriteria sampel kemudian dapat dijelaskan sebagai berikut :

Berdasarkan analisa tersebut dengan pengamatan yang dilakukan sepanjang 3 tahun yaitu dari tahun 2018-2020 dengan sampel perusahaan sebanyak 73 perusahaan, maka diperoleh jumlah data observasi sebanyak 219 data observasi. Variable yang dikumpulkan yaitu meliputi komisaris independent, CSR, tax avoidance dan

59

manajemen laba. Berdasarkan penelitian tersebut, maka dapat disajikan daftar perusahaan sebagai berikut :

61

4.2 Analisis data

4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistic deskriptik adalah analisis statistic yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai karateristik masing-masing variable penelitian yang didapatkan melalui proses pengumpulan, peringkasan data dan kemudian disajikan dalam data variable penelitian. Data statistic dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut :

Berdasarkan table diatas maka diperoleh hasiil bahwa Tax avoidance memiliki nilai minimum sebesar 0,0127 dengan nilai maksimum sebesar 0,9621 dan nilai rata – rata 0,2785789 ; nilai standar deviasi 0,1453314. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam penelitian ini memiliki rata- rata agresitivitas pajak yang lumayan rendah, dilihat melalui standar deviasi (0,1453314) penyimpangan data lebih rendah dibanding rata-rata 0,2785789 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebar dengan baik.

Variabel manajemen laba diketahui memiliki nilai minimum 0,0189 dengan nilai maksimum sebesar 1,1436 dan nilai rata-rata 0,411292; nilai standar deviasi 0,2093368. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam penelitian ini memiliki rata-rata nilai manajemen laba yang lumayan tinggi, dilihat melalui standar deviasi (0,2093368). Penyimpangan data lebih besar dibanding dengan rata-rata 0,411292 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebar dengan baik.

Variabel Corporate social responsibility diketahui memiliki nilai minimum 0,1209 dengan nilai maksimum sebesar 0,3846 dan nilai rata-rata 0,248079; nilai standar deviasi 0,2093368. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam penelitian ini memiliki rata-rata nilai Corporate social responsibility yang lumayan tinggi, dilihat melalui standar deviasi (0,2093368).

Penyimpangan data lebih kecil dibanding dengan rata-rata 0,248079 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebar dengan baik.

Variable komisaris independent diketahui memiliki nilai minimum 0,20 dengan nilai maksimum sebesar 0,75 dan nilai rata-rata 41,19336; nilai standar deviasi 9,8210464. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam penelitian ini memiliki rata-rata nilai komisaris independent yang tinggi, dilihat melalui standar deviasi (9,8210464). Penyimpangan data lebih kecil dibanding rata-rata 41,19336 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebar dengan baik.

63

4.2.2. Asumsi Klasik

Uji asumsi klasi merupakan uji prasyarat yang harus dilakukan sebelum melakukan penelitian lebih lanjut yang terdiri dari :

1. Uji normalitas

Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kolmogorov Smirnov, profitability plot, dan grafik histogram.

Berikut hasil uji normalitas menggunakan grafik histogram dan profitability plot :

berdasarkan gambar 4.1 grafik histogram menampilkan bentuk kurva pada garis histogram beerbentuk lonceng yan gmenunjukkan data terdistribusi secara normal.

Selanjutnya hasil pengujian profitability plot sebagai berikut :

Pada gambar 4.2 dapat dilihat bahwa data tersebar pada sekitar diagonal dan mengikuti arah garis, sehingga dapat dinyatakan bahwa data telah terdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil uji diatas, maka diperoleh hasil pengujian statistic menggunakan Kolmogorov-smirnof sebagai berikut :

65

Berdasarkan table diatas bahwa dengan nilai data observasi 219 data, menunjukkan nilai Kolmogorov-smirnof sebesar 0,049 dengan nilai signifikansi sebesar 0,200 yaitu lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pengujian variable penganggu berdistribuswi normal, sehingga pengujian tersebut telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan pada pengujian selanjutnya.

2. Uji multikolineritas

Uji multikolineritas digunakan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antar variable indepoenden atau bebas yang dapat diketahui melalui nilai toleransi atau nilai variance inflaction factor (VIF) nilai tolerance > 10% dan nilai VIF <10, maka disimpulkan bahwa tidak ada multikolineritas. Hasil pengujian multikolineritas disajikan sebagai berikut :

Dokumen terkait