• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Israel

Dalam dokumen PDF Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Halaman 80-89)

Rancangan pemulihan lantas dikerjakan dalam pemilihan Allah atas sebagian manusia yang dikhususkan bagi-Nya. Walau umat manusia telah menyalahi tatanan penciptaan, keturunan Adam tetaplah imago Dei. Maksudnya, manusia masih merepresentasikan Pencipta dalam konteks kehidupan yang bertaut dengan dosa.

Bagaimanapun, berkaca dari pembunuhan Habel (Kej. 4:1−16),187 pengkhususan dilakukan agar keturunan Adam membangun kebiasaan untuk hidup kudus. Dengan demikian, pemilihan dapat bekerja secara eksklusif demi mendatangkan manfaat bagi dunia yang tidak memiliki intensi untuk melakukan apa yang benar.188

Dalam pemilihan, Allah tidak tunduk pada kapabilitas manusia. Berangkat dari Abraham sebagai individu sampai kepada Israel sebagai bangsa, Allah memilih berdasarkan keputusan bebas-Nya. Garis keturunan yang disoroti pun menegaskan

187Tidak seluruh keturunan Adam hidup benar di hadapan Allah. Kain, misalnya, hidup dalam kedengkian dan berakhir dengan membunuh Habel⎯adiknya. Kain tidak merepresentasikan gambar dan rupa Allah yang kudus dan benar. Dosa yang dilakukannya menandai penyangkalan terhadap Allah sebagai Pencipta serta kekacauan awal tatanan mengenai kepemilikan darah dan kehidupan manusia.

Penjelasan lebih lanjut lihat Gerhard von Rad, Genesis: A Commentary, terj. John H. Marks, Old Testament Library (Philadelphia: Westminster, 1972), 106.

188Paul R. House, Old Testament Theology (Downers Grove: IVP Academic, 2012), 73.

pemilihan Allah berdasarkan prerogatif ilahi-Nya.189 Pemilihan niscaya merupakan kebebasan Allah yang menempatkan identitas orang-orang pilihan pada tujuan awal penciptaan. Oleh karena itu, orang-orang pilihan (Israel) yang dipilih Allah dapat menjadi “a display-people, a showcase to the world of how being in covenant with Yahweh changes a people.”190

Di sisi lain, pemilihan memperkenalkan adanya keterikatan antara ciptaan dan Pencipta-Nya. Sejak Abraham sampai pada Daud, Allah mengenakan janji bukan demi keharmonisan tatanan semata.191 Konsep perjanjian mengungkapkan perdamaian relasi antara orang-orang pilihan-Nya dengan Yahweh (Kej. 6:18; 12:1−3; Kel. 6:7;

2Sam. 7:12−16). Perjanjian Allah lantas melibatkan pengudusan dan pendewasaan orang-orang pilihan-Nya.192 Sebagaimana Allah memilih Israel untuk suatu tujuan yang kudus, “they are chosen to be God's own treasured possesion! but election is not just for privilege: it is for service, for the sake of the nations. If they live under his reign they will be a ‘kingdom of priests’ and a ‘holy nation’ (Ex. 19:56).193

189James McKeown, Genesis, The Two Horizons Old Testament Commentary (Grand Rapids:

Eerdmans, 2008), 225.

190John I. Durham, Exodus, Word Biblical Commentary 3 (Waco: Word, 1987), 263.

Penekanan oleh penulis.

191Dalam Kejadian, setidaknya ada 3 tema janji yang mempersatukan keseluruhan

kitab⎯keturunan, berkat, dan tanah. Inti dari ketiganya adalah pemulihan relasi antara Pencipta dan ciptaan. Lihat McKeown, Genesis, 203.

192Bruce K. Waltke, “The Kingdom of God in the Old Testament: The Covenants,” dalam The Kingdom of God, ed. Christopher W. Morgan dan Robert A. Peterson, Theology in Community (Wheaton: Crossway, 2012), 73.

193Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 65; bdk. Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 47. Dalam bukunya, penulis menerangkan bahwa Allah dalam janji-Nya akan menyempurnakan lebih daripada sekadar pembentukan suatu negara/wilayah/bangsa. Allah bekerja dalam kasih-Nya untuk memulihkan seluruh keluarga di bumi melalui Abraham.

Ada tiga tokoh yang dikhususkan Allah dan mengambil peran cukup dominan⎯Abraham, Musa, dan Daud. Setelah kejatuhan, ketiga tokoh tersebut berdialog dengan Allah sebagai umat yang dikhususkan dan diikat oleh perjanjian.

Secara ringkas, sinopsis pemilihan Israel dapat dideskripsikan demikian: melalui perjanjian Abraham, Allah memilih sebagian orang, tanah, dan sumpah atasnya;

kemudian dengan Musa, Allah mengembangkan bangsa yang kudus; dan dengan Daud, Allah menyerahkan tempat kediaman abadi bagi Israel.194 Ada beberapa tokoh lain yang turut mewarnai pertunjukan, tetapi Allah memilih keturunan Abraham sebagai tanda dimulainya bangsa baru untuk memberkati bangsa lain.195 Melaluinya, Allah mendidik umat untuk hidup kudus sampai karya Kristus dinyatakan.

Tragedi air bah (Kej. 7:1−24) pascakejatuhan, lebih lanjut, menunjukkan kemerosotan moralitas manusia. Meski Nuh hidup taat, menara babel (Kej. 11:1−9) menjadi saksi bisu penyimpangan tatanan ciptaan Allah yang kudus. Allah lantas memanggil Abram sebagai jawaban atas konsekuensi dosa seraya menahan murka- Nya.196 Setidaknya ada tiga hal yang dinyatakan Allah, yakni panggilan untuk pergi ke negeri yang Allah tunjukkan, Abram nantinya menjadi bangsa yang besar, dan bangsa lain akan mendapat berkat melalui kehadirannya (12:1−3).197 Artinya, Abram dipilih Allah demi membalik kehidupan manusia yang kelam akibat dosa.198

194Waltke, “The Kingdom of God,” 74.

195Ibid., 78.

196Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 55.

197Nama ini dikenakan sebelum Allah memperbarui perjanjian-Nya. Namun ketika Allah mengulang janji-Nya, namanya diubah menjadi “Abraham” sebagai tanda bahwa ia akan menjadi bapa sejumlah bangsa yang besar (17:5−8).

198Michael Carr Whitworth, The Epic of God: A Guide to Genesis, Guides to God’s Word

Secara konkret, pembalikan itu ditunjukkan melalui janji-Nya mengenai keturunan dan tanah. Tindakan ini tidak sekadar mempersoalkan perkara properti semata, tetapi keturunan dan tanah kembali menggemakan situasi Eden. Sebelum dosa menginterupsi, tanah ialah kepunyaan Allah yang di atasnya manusia tinggal tetap. Di tanah yang dibuat-Nya, manusia dipanggil untuk bertanggung jawab atas

eksistensinya (1:28). Itu sebabnya, secara eksplisit, pengkhususan Allah dan tema janji-Nya menyatakan rancangan pemulihan kondisi ciptaan seperti halnya Eden.199

Walau demikian, orang-orang pilihan Allah perlu memiliki iman seraya membiasakan hidup kudussesuai dengan standar Allah. Iman selayaknya menjadi kepercayaan kepada Allah yang menentang kebanggaan diri dalam relasi perjanjian manusia dan Allah.200 Tatkala Sarai mandul misalnya, Allah kembali menjanjikan keturunan melalui analogi bintang di langit (15:5).201 Seperti halnya bintang di langit, banyaknya keturunan Abram akan hidup berkuasa atas negeri yang Tuhan janjikan (25:18−21). Namun, kebenaran diperhitungkan kepada Abram melalui iman percayanya (15:6) sehingga Allah pun menepati janji-Nya (21:1−7).

panggilan paling dramatis dalam seluruh tindak−tutur Allah dalam Alkitab. Bukan hanya kisah panggilannya yang radikal, melainkan panggilan Abram menjadi titik balik dalam drama penebusan.

Malah, Whitworth menamainya sebagai awal baru (genesis) bagi narasi kepahlawanan Allah (the epic of God).

199Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 47.

200Ibid., 48–9.

201Iman juga ditunjukkan Abram ketika Ishak⎯anaknya yang tunggal⎯hendak

dipersembahkan kepada Allah (22:1−19). Ishak hendak disembelih sebagai korban bakaran, tetapi Abram memberikan Ishak kepada Tuhan dan meletakkannya di atas mezbah. Hal ini menandai bahwa Abram percaya bahwa Allah akan menyediakan apa yang ia butuhkan (Jehovah Jireh). Oleh karena itu, Ibrani 11 mengawali rekam jejak Abram dengan kalimat “karena iman…” (Ibr. 11:8, 11, 17−19) begitu pula dengan beberapa pahlawan iman lainnya.

Dalam pengertian konkret, iman juga ditunjukkan melalui liturgi kehidupan orang-orang pilihan Allah⎯ritual penyembahan dan sunat (12:7; 17:9−14). Habituasi liturgis bukan saja memungkinkan manusia mengetahui standar kekudusan Allah, tetapi menggerakkan hati yang mendamba tujuan penciptaan sehingga timbul

penyembahan yang benar.202 Agustinus pun pernah menyatakan, “[Y]ou have made us for yourself, and our heart is restless until it rests in you.”203 Persembahan korban bakaran dan sunat karenanya menguntai kembali relasi yang terpisahkan akibat dosa.

Dengan demikian, liturgi pengudusan menunjukkan iman yang hadir dalam tindakan sekaligus hati yang berorientasi pada destinasi asali⎯restorasi.

Keturunan Abram kemudian makin banyak sehingga menjadi ancaman bagi raja Mesir (Kel.1:1−7). Untuk itu, Allah mengangkat Musa⎯nabi pada era

baru⎯untuk memimpin orang-orang pilihan-Nya sebagai suatu bangsa menuju tanah perjanjian. Walaupun keturunan Abram tidak imun terhadap dosa, Allah yang setia kemudian membebaskan mereka dari penindasan (1:9−14 bdk. Kej. 15:14). Pada momen inilah, Allah menyatakan identitas-Nya (Kel. 3:6) dan menggunakan nama Yahweh (3:15) sebagai peringatan akan tindakan Allah yang membebaskan Israel dari Mesir.204 Melalui peristiwa keluaran, Allah kembali menujukkan identitas dan

rancangan pemulihan-Nya atas ciptaan.

202Pernyataan di atas dinyatakan penulis berdasarkan pandangan Smith mengenai manusia yang juga digerakan oleh hati (καρδίας)⎯titik tumpu kerinduan fundamental atau orientasi alam bawah sadar manusia kepada dunia. Menurutnya, manusia akan selalu berorientasi kepada suatu tujuan kehidupan yang baik dan sifatnya pembiasaan. Penjelasan lebih lanjut lihat James K.A. Smith, You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit (Grand Rapids: Brazos, 2016), 14−5.

203Augustine, Confessions 1.1.1.

204Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 61. Dalam terjemahan indonesia, kata Yahweh (הוהי) dituliskan dengan kata “TUHAN”.

Secara dramatis, perjalanan pemulihan ciptaan melibatkan pembebasan bangsa Israel melalui tragedi 10 tulah (7:14−12:42). Menanggapi pertanyaan Firaun (5:2),205 Allah menyatakan kuasa-Nya atas semesta dan seluruh ciptaan. Hoffmeier juga menegaskan, “What the plagues of Exodus show is the inability of the obstinate king to maintain (ma’at). Rather, it is Yahweh and his agents Moses and Aaron, who overcome in the cosmic struggle, demostrating who really controls the forces of nature.”206 Dalam kondisi tersebut, tulah terakhir membawa Israel terbebas dari cengkraman Firaun. Kendati Firaun berubah hati sehingga berusaha menangkap orang Israel kembali, Allah meloloskan mereka dengan membelah laut Teberau (14:15−31).

Peristiwa keluaran membentuk kembali identitas Israel sebagai satu bangsa kepunyaan Allah. Allah kemudian menambahkan hukum Taurat yang merefleksikan karakter-Nya, mengekspresikan intensi awal penciptaan, dan menguduskan bangsa Israel (20:1−17).207 Paul Copan juga menerangkan bahwa melalui hukum-Nya “Ia [Allah] membantu menciptakan budaya bagi bangsa tersebut. Dengan demikian, Allah mengadaptasi berbagai idealisme-Nya kepada sebuah bangsa yang sikap dan

tindakannya telah dipengaruhi oleh berbagai struktur yang secara mendalam telah rusak.”208 Allah tidak lagi berbicara sebagai Pribadi yang abstrak, tetapi Kemah Suci

205LAI mencatatkan bagian ini demikian, “Tetapi Firaun berkata: ‘Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.’”

206James Karl Hoffmeier, Israel in Egypt: The Evidence for the Authenticity of the Exodus Tradition, ed. ke−2 (New York: Oxford University Press, 1999), 153.

207Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 68.

208Paul Copan, Is God a Moral Monster?: Memahami Allah Perjanjian Lama, terj. Timotius Fu (Malang: Literatur SAAT, 2016), 81. Penekanan oleh penulis; Bdk.Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 69. Hukum Allah, lebih jauh, menggambarkan kontur fundamental dari kekudusan manusia. Oleh karena itu, ketaatan pada hukum perlu disahkan sebagai liturgi kehidupan bersama bangsa Israel.

diinisiasikan sebagai tempat kediaman-Nya yang penuh kemuliaan (40:34−38).

Dalam perjanjian-Nya dengan Musa, bangsa Israel akan menyembah serta menjumpai Allah yang berkenan diam di tengah-tengah mereka (29:45−46).

Adapun Kemah Suci melampaui fungsinya sebagai ruang penyembahan bangsa Israel. Sepanjang naskah drama penebusan, Kemah Suci dapat dikatakan sebagai “an emblem of the full restoration of God's presence within the whole of his creation.209 Peristiwa di gunung Sinai, misalnya, mengabadikan kulit muka Musa yang bercahaya setelah bercakap-cakap dengan Allah (34:29). Jika sebelumnya perjumpaan langsung antara Allah dan manusia tidak dimungkinkan, di atas gunung Sinai tempat Allah berdiam, Musa tinggal dekat dengan Allah pada hari ke−7 dalam segala kekudusan dan kemuliaan-Nya (24:16−18). Seperti halnya Allah beristirahat bersama umat-Nya pada hari ke-−7, Kemah Allah atas semesta pascakejatuhan memurnikan serta memulihkan seluruh ciptaan-Nya.210

Tidak lagi terasing dari Allah, Israel dipanggil dan dimungkinkan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia. Allah melalui Yosua memimpin bangsa Israel hingga dapat menduduki tanah perjanjian (Yos. 11:16−17). Walau dosa tidak

terdeportasi dari semesta (Bil. 20:12, Hak. 21:25), Allah bekerja mendatangkan Kerajaan Allah di dunia secara kontinu dan dinamis. Di tengah-tengah Israel, Allah menguduskan bangsa-Nya melalui hakim-hakim dan raja-raja pilihan-Nya. Kerajaan

209Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 72.

210Hari ke−7 umumnya menunjukkan peristirahatan Allah atas tindak−tutur-Nya mencipta.

Meski demikian, Walton mengamati bahwa “istirahat” sesungguhnya mengekspresikan kehendak Allah untuk tinggal berdiam bersama ciptaan-Nya. Setelah tatanan ciptaan diselesaikan, semesta ada sebagai tempat kediaman-Nya yang kudus dan sempurna. Penjelasan lebih lanjut lihat John H. Walton,

“Creation,” dalam Dictionary of the Old Testament: Pentateuch, ed. T. Desmond Alexander dan David W. Baker, IVP Bible Dictionary (Downers Grove: InterVarsity, 2003), 161.

Allah karenanya merepresentasikan komunitas yang diregenerasi sehingga dalam dan melaluinya, kehendak Allah akan digenapi.211

Ironisnya, Allah mengadakan kembali perjanjian-Nya dengan Daud walaupun Israel masih didapati tidak setia. Pada masa ini, kerajaan menjadi komponen baru dalam perjanjian-Nya.212 Alkitab mencatat bahwa Allah berjanji untuk mengokohkan kerajaan Daud (2Sam. 7:12−16). Lebih jauh, terdapat empat aspek penting dalam perjanjian dengan Daud: kerajaannya akan mengenal kedamaian dan peristirahatan dari musuh-musuhnya, raja Israel akan memiliki relasi bapa−anak dengan Allah, mewarisi takhta abadi, dan membangun Bait Suci bagi Allah.213 Namun, janji-Nya baru digenapi pada masa pemerintahan Salomo⎯anak Daud (1Raj. 8:14−21).

Pada masa awal pemerintahan Salomo, Israel hidup benar di hadapan Allah.

Allah mengaruniakan hikmat pada Salomo agar Israel hidup dalam ketetapan Allah (1Raj. 3:6−14). Kondisi Israel dapat dideskripsikan secara ringkas demikian:

Solomon’s time is thus one of the great fullfilment of promises. Israel is now a great nation, which has claimed its homeland as promised, and the LORD is at rest in its midst.... Jerusalem is established as the capital of Israel, with the temple and the King’s residence within its walls. This marks a new chapter in the story of Israel.214

211Robert Henry Charles, A Critical History of the Doctrine of a Future Life: In Israel, in Judaism, and in Christianity (London: Adam and Charles Black, 1899), 84.

212Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 94.

213Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 97.

214Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 97.

Walau demikian, seperti halnya Daud, Salomo menghadapi kegagalannya untuk taat pada Allah (1Raj. 11:1−13). Bangsa Israel kemudian hidup dalam pembuangan dan penghukuman Yahweh membawa penderitaan dan dukacita bagi umat pilihan-Nya.215

Pada hakikatnya, karya pengudusan Allah dalam pemilihan Israel mengekspos degradasi moral seluruh umat manusia akibat dosa. Betapa pun orang-orang pilihan- Nya dipakai untuk membalik keadaan, pemulihan belum sepenuhnya tercapai. Dapat dikatakan bahwa “[b]y revealing the elements of a holy people (e.g, a holy Law, mediator, faith, sacrificial liturgy), and by foreshadowing holy land through liturgical time and place (Mount Sinai, the tabernacle/ark), the covenants give hope; and yet they do not change the fallen nature of the recipients.”216 Oleh karena itu, manusia yang berdosa memerlukan perantara yang kudus dan tidak bercacat. Melalui-Nya, jalan penderitaan menjadi jalan pemulihan satu-satunya bagi seluruh ciptaan.

Babak kedua, akhirnya, dapat dimaknai sebagai tindak−tutur Allah yang melanjutkan misi pemulihan-Nya dengan memilih sebagian orang. Berangkat dari Abram sampai nabi-nabi-Nya, Allah mengadakan perjanjian demi mendidik umat dalam kekudusan dan penyembahan yang benar. Akan tetapi, manusia yang hidup dalam dosa tidak mampu menerapkan hidup selaras dengan telos penciptaan. Ketaatan ditunjukkan oleh sebagian orang pilihan-Nya, tetapi tetap memuat kegagalan. Dalam kondisi inilah, Allah mempersiapkan panggung bagi Mesias yang akan datang untuk menebus dosa dan menyatakan berita keselamatan.

215Masa pembuangan identik dengan kehadiran nabi-nabi pilihan yang menyuarakan penghakiman-Nya. Di masa ini, Israel menghadapi titik terendah sebagai akibat ketaktaatannya.

Penggambaran dosa Israel paling baik ditunjukkan oleh keseluruhan hidup nabi Hosea dan keluarganya (Hos. 1). Biarpun demikian, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya dengan menyatakan visi pemulihan seperti yang disampaikan oleh nabi-nabi Allah. Kedatangan Mesias/Juruselamat ke dunia diinisiasikan agar pemulihan ciptaan dapat digenapi.

216Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 90.

Dalam dokumen PDF Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Halaman 80-89)

Dokumen terkait