Intensi Allah untuk memulihkan ciptaan bermula dari tindak−tutur Allah yang mengizinkan kehadiran makhluk di luar diri-Nya sendiri. Nyatanya, babak pertama dimulai dengan berita bahwa Allah menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:1).135 Dauphinais dan Levering menanggapi bahwa, “this announcement sets up the entire scriptures, which recount the relationship between the infinite Creator and his finite creatures.”136 Berita penciptaan, tidak dipungkiri, memperkenalkan Allah sebagai tokoh utama drama serta sentral keseluruhan nilai, makna, dan tujuan ciptaan.137 Untuk itu, pengerdilan ataupun pengabaian terhadap inisiator penciptaan akan menghancurkan keseluruhan drama penebusan.
Pembukaan babak penciptaan juga dapat dimaknai melalui relasi antara seniman dan karya seninya. Tatkala karya seni menjadi saksi pekerjaan kreatif sang seniman, ciptaan pada skala tertentu, turut memperkenalkan Penciptanya. Seperti halnya berada pada pameran seni, pembacaan kitab Kejadian membuat seseorang diliputi oleh keindahan dari lukisan-lukisan yang megah sampai seorang lain
135Kata Ibrani bara dalam menjelaskan tindak−tutur Allah mencipta ialah kata yang hanya dikenakan pada aktivitas yang dilakukan Allah. Dalam hal ini, kitab Kejadian menekankan Allah sebagai satu-satunya pribadi yang dapat mencipta, tetapi tidak diciptakan. Pernyataan penulis berkaca dari pembahasan Douglas J. Moo dan Jonathan A. Moo, Creation Care: A Biblical Theology of the Natural World, Biblical Theology for Life (Grand Rapids: Zondervan, 2018), bab 3, ePub.
136Michael Dauphinais dan Matthew Levering, Holy People, Holy Land: A Theological Introduction to the Bible (Grand Rapids: Brazos, 2005), 23. Penekanan oleh penulis.
137J. Richard Middleton, “A New Heaven and a New Earth: The Case for a Holistic Reading of the Biblical Story of Redemption,” Journal for Christian Theological Research 11 (2006): 74, diakses 6 September 2021, AtlaSerials PLUS. Berdasarkan diskusi akademik artikel jurnal, ciptaan dalam pernyataan ini dapat diartikan sebagai keseluruhan budaya manusia dalam segala kompleksitas dan kepenuhannya dan tidak terbatas pada materi semata.
mendekatinya dan berkata, “Anda jadi ingin bertemu dengan senimannya, bukan?”138 Pengalaman serupa pernah diungkapkan pemazmur seraya merenungkan semesta yang menggemakan kemuliaan Allah (Mzm. 19:1−7). Tampaknya, rasa kagum terhadap Sang Seniman menjadi konsekuensi alamiah saat ciptaan menyelami pekerjaan-Nya yang baik dan indah. Jadi, bagaimana babak penciptaan membawa penonton berjumpa dengan Aktor itu?
Adegan 1: Creation ex Nihilo
Pada pembukaan babak, Allah memulai penciptaan dengan mencipta dua kediaman yang berbeda⎯langit dan bumi. Sementara langit menunjuk pada alam transenden,139 bumi dipersiapkan sebagai panggung bagi manusia untuk tinggal menetap. Dalam keadaan bumi yang belum berbentuk, gelap gulita, dan Roh Allah melayang-layang atasnya (1:2); Allah berfirman. Perlahan tapi pasti, 8 kali Allah melalui tindak−tutur-Nya membawa ciptaan pada kehidupan yang mulanya sama sekali belum berbentuk.140 Ciptaan terbentuk, ruang dan waktu tercipta, manusia, tumbuhan, dan hewan berada beriringan; hal itu lantas dinilai baik adanya (1:31).
Seraya keberadaan tercipta dari ketiadaan, tindak−tutur Allah memperlihatkan identitas-Nya. Pertunjukan kuasa-Nya, di satu pihak, memperkenalkan kedaulatan
138Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 33.
139Middleton, “A New Heaven,” 96. Daripada berbicara dalam arti lokasi/tempat secara fisik, Middleton memberi penegasan tentang fungsi langit atau surga sebagai alam transenden yang tidak dapat dijangkau manusia. Untuk itu, kata heaven lebih sesuai dimaknai sebagai kerajaan Allah.
140Brian J. Walsh dan J. Richard Middleton, The Transforming Vision: Shaping a Christian World View (Downers Grove: InterVarsity, 1984), 45.
bahkan eksklusivitas-Nya atas seluruh ciptaan. Di lain pihak, tindak−tutur Allah mengekspos kasih dan belas kasihan-Nya.141 C.S. Lewis dalam bukunya The Four Loves menggambarkan kasih Allah dengan sangat menawan,
God, who needs nothing, loves into existence wholly superfluous creatures in order that He may love and perfect them. He creates the universe, already foreseeing… the buzzing cloud of flies about the cross, the flayed back pressed against the uneven stake, the nails driven through the mesial nerves, the repeated incipient suffocation as the body droops, the repeated torture of back and arms as it is time after time, for breath’s sake, hitched up.
If I may dare the biological image, God is a ‘host’ who deliberately creates His own parasites; causes us to be that we may exploit and ‘take advantage of’
Him. Herein is love. This is the diagram of Love Himself, the inventor of all loves.142
Faktanya, penciptaan menyoroti kasih Allah yang dinyatakan-Nya dengan penuh kebebasan kala mencipta makhluk yang tidak seharusnya ada.
Lebih jauh, penciptaan tidak dapat dimaknai sebagai rancangan abstrak semata.
Creation ex nihilo sesungguhnya menunjukkan tindak−tutur Allah mengeja desain ciptaan dari ketiadaan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam Hexaemeron, Basil the Great menunjukkan karakteristik substansi cakrawalayang Allah ciptakan demikian,
“the firmament owes its origin to water, we must not believe that it resembles frozen water or any other matter produced by the filtration of water; as for example, rock crystal, which is said to owe its metamorphosis to excessive congelation…. We cannot compare the firmament to one of these substances.”143 Melalui eksplorasi yang
mendetail, Basil merenungkan keindahan serta kekhasan cakrawala ini sebagai
141Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 23.
142C.S. Lewis, The Four Loves (San Francisco: HarperOne, 2017), 116. Penekanan oleh penulis.
143Basil, The Sacred Writings of Saint Basil, terj. Philip Schaff (Altenmünster: Jazzybee Verlag, 2012), Homily III.
perwujudan eksistensi Allah.144 Walsh dan Middleton mengungkapkan hal yang senada: “[T]he picture is of the Creator crafting and structuring the creation with skill, measuring out the ocean, setting bounds, marking the horizon, fixing the heavens and clouds in their places. In all this, wisdom is God’s ‘craftsman.’”145
Dengan ini, inisiatif Allah mencipta dari suatu ketiadaan merupakan satu- satunya tindak−tutur yang memungkinkan ciptaan untuk berpartisipasi. Formasi awal babak penciptaan bukanlah Allah ditambah ciptaan, tetapi ciptaan yang diciptakan supaya dapat berpartisipasi dalam keberadaan Allah.146 Ciptaan justru mendapatkan identitas serta martabatnya dalam keterikatan dengan Penciptanya. Malah,
tindak−tutur Allah mencipta tanpa motif tersembunyi mengimplikasikan bahwa ciptaan ialah pemberian yang sepenuhnya tidak pantas, cuma-cuma, dan ada sejak mulanya sehingga memungkinkan terwujudnya relasi antarmakhluk yang dicirikan oleh pemberian diri Pencipta kepada ciptaan-Nya.147 Akibatnya, keseluruhan partisipasi ciptaan dalam keberadaan Pencipta mengindikasikan pemberian bebas Pencipta sebagai makna kehidupan ciptaan.
Dalam hal ini, pemberian Allah tidak diterjemahkan berdasarkan terminologi ciptaan. Pengukuran berdasar nilai moneter, misalnya, tidak valid mengingat uang
144Matthew Levering, Engaging the Doctrine of Creation: Cosmos, Creatures, and the Wise and Good Creator (Grand Rapids: Baker Academic, 2017), 130.
145Walsh dan Middleton, The Transforming Vision, 47. Penekanan oleh penulis. Dalam bukunya, penulis menggunakan Amsal 8 untuk menunjukkan hikmat/kebijaksanaan Allah dalam penciptaan. Satu sisi, hikmat nyatanya diciptakan dan dimiliki Allah bahkan sebelum dunia diciptakan (8:22). Di sisi lain, hikmat juga ada pada saat Allah menciptakan dunia dan seluruh isinya (1:27−31).
Oleh sebab itu, penciptaan bukan karya Allah yang sewenang-wenang. Penciptaan ialah perwujudan kebijaksanaan Allah sehingga segala sesuatu diciptakan dengan baik adanya.
146Simon Oliver, “Every Good and Perfect Gift Is from Above: Creation Ex Nihilo before Nature and Culture,” dalam Knowing Creation: Perspectives from Theology, Philosophy, and Science, ed. Andrew B. Torrance dan Thomas H. McCall (Grand Rapids: Zondervan, 2018), 33.
147Ibid., 35.
tidak membuat ciptaan menjadi ada. Konsepsi pemberian timbal balik (resiprokal) yang asimetris sendiri juga tidak cukup memadai untuk menjelaskan pemberian Allah.148 Meski demikian, pemberian yang berbalasan (resiprokal), paling tidak, dimungkinkan dalam konteks relasi Allah Tritunggal ataupun antarciptaan; sedangkan pertukaran sepihak (unilateral exchange) antara Allah dan ciptaan berbicara tentang kedatangan Allah yang memampukan ciptaan untuk menerima dan kembali pada Allah.149 Itulah sebabnya, keputusan Allah mencipta sesungguhnya berasal dari keinginan untuk berhubungan dengan dunia sebagai akibat dari kodrat-Nya yang telah melimpah pada diri-Nya sendiri.150 Allah menempatkan ciptaan sebagai penerima berdasarkan kebebasan-Nya dalam memberi dan mengasihi.
Apresiasi, perayaan, dan penyembahan atas pemberian Allah lantas dapat diidentifikasikan sebagai ekspresi paling natural dari ciptaan. Sebagaimana
penciptaan merupakan pemberian Allah; setiap kebaikan, keteraturan, dan keindahan ciptaan membangkitkan kekaguman akan Allah. Jonathan Edwards pun
mengekspresikan kekagumannya atas desain Allah demikian:
God’s excellency, his wisdom, his purity and love, seemed to appear in everything; in the sun, moon, and stars, in the clouds and blue sky, in the grass, flowers, trees, in the water and all nature; which used greatly to fix my mind. I often used to sit and view the moon for a long time, and in the day
148Ibid., 39. Hubungan resiprokal yang konkret dijumpai dalam relasi antara anak dan orang tuanya. Dalam hal ini, ada asimetri atau pengaturan yang tidak seimbang tentang kapasitas anak yang dinilai belum mampu memberi hadiah bahkan perlu bergantung pada orang tua atas keberlangsungan hidupnya. Sementara itu, orang tua ialah individu yang dinilai memiliki kapasitas lebih besar sehingga pemberian menjadi lebih “mudah.” Walau demikian, orang tua tidak menuntut barang atau objek yang sama sebagai timbal balik. Melalui pernyataan “terima kasih” ataupun senyuman dari anak itulah, orang tua telah mendapatkan pemberian balik dari sang anak. Masalahnya, Oliver menegaskan bahwa hal ini tidak dapat berlaku dalam relasi antara Pencipta dan ciptaan karena Allah tidak memberi dari sesuatu yang telah ada.
149Ibid., 39–40.
150J. Ryan Lister, The Presence of God: Its Place in the Storyline of Scripture and the Story of Our Lives (Wheaton: Crossway, 2015), bab 2, ePub.
spent much time in viewing the clouds and sky, to behold the sweet glory of God in these things; in the meantime singing forth, with a low voice, my contemplations of the Creator and Redeemer….151
Adapun kekaguman tidak identik dengan emosi yang cenderung tidak stabil. Setiap puji dan sembah justru merupakan pengakuan atas natur-Nya yang berbeda dari ciptaan⎯kebijaksanaan, kesempurnaan, kekudusan, dan kasih-Nya.
Lagi pula, alasan utama penciptaan adalah memang penyembahan. Di satu sisi, penyembahan memang merupakan tanggapan atas pernyataan keagungan Allah
melalui ciptaan (Why. 4:11). Sejak semula penciptaan diinisiasikan Allah sebagai Kerajaan-Nya sehingga seluruh ciptaan akan menyembah kepada-Nya.152 Di sisi lain, Allah menerangkan dengan jelas tentang penyembahan yang benar kepada-
Nya⎯ritual pengorbanan dan kemah Allah. Oleh sebab itu, penyembahan sepenuhnya bersifat natural sekaligus tertanam sebagai “pengaturan” bawaan ciptaan.
Melihat hal ini, penciptaan agaknya bukan hanya berbicara mengenai alam materi. Apabila susunan dan harmoni ada dalam pertimbangan Allah, realitas spiritual secara sengaja dirancangkan oleh Pencipta semesta. Ambil contoh, ekspresi harmonis penciptaan yang dicipta selama berhari-hari dari makhluk tidak bernyawa sampai kepada manusia sebagai makhluk rasional. Peningkatan kompleksitas dalam susunan penciptaan menerangkan bahwa ciptaan sebagai bait/kemah memiliki keteraturan dan harmoni inti yang misterius sehingga tujuan penciptaan perlu ditemukan dalam relasi
151Owen Strachan dan Douglas A. Sweeney, Jonathan Edwards on Beauty, The Essential Edwards Collection (Chicago: Moody, 2010), 52.
152Bartholomew dan Goheen, The Drama of Scripture, 34.
spiritual. Oleh sebab itu, realitas spiritual menunjukkan adanya ruang bagi ciptaan untuk memiliki relasi dengan Allah.153
Akhirnya, adegan pertama babak penciptaan menunjukkan bahwa penciptaan ialah pemberian Allah. Penciptaan tidak didasarkan pada kebutuhan akan kepuasan, kecacatan, dan kekurangan; melainkan kelimpahan serta kebebasan-Nya dalam mencipta, memberi, dan mengasihi. Lebih daripada itu, kebijaksanaan-Nya atas keteraturan serta keindahan penciptaan menyoroti identitas, makna, dan tujuan ciptaan⎯bukan didasarkan pada dominasi ataupun intimidasi. Maka dari itu,
penyembahan ialah ekspresi paling natural atas pemberian Allah Tritunggal sekaligus inisiasi Allah untuk memiliki relasi dengan ciptaan sejak mulanya.
Adegan 2: Hayat dan Maut
Umumnya, puncak babak penciptaan berkaitan dengan tindak−tutur-Nya atas penciptaan manusia pada hari ke−6. Dalam hal ini, manusia ditempatkan sebagai ciptaan paling kompleks dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Ortiz menegaskan bahwa manusia memiliki “the rational soul, whose being and wellbeing consist in turning to God in order to be what it was created to be.”154 Dengan perkataan lain, manusia memiliki akal budi yang memampukan mereka untuk dapat berelasi dengan Allah⎯mengasihi dan mengerjakan rancangan-Nya. Tujuan penciptaan karenanya
153Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 26−7. Realitas spiritual dapat dipahami dalam kaitan dengan kekudusan, kebaikan, susunan, harmoni, dan keadilan.
154Jared Ortiz, “You Made us for Yourself”: Creation in St. Augustine’s Confessions (Minneapolis: Fortress, 2016), 31. Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Ortiz kala mengamati pandangan Augustine mengenai penciptaan⎯khususnya antara manusia dan binatang.
melibatkan pengudusan, partisipasi dalam persekutuan dengan Allah, dan kediaman Allah secara penuh.155
Adapun demikian, manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.156 Istilah imago Dei dapat dipahami dengan beberapa pengertian, tetapi panggilan untuk berkuasa atas seluruh ciptaan tidak dapat dipisahkan darinya (1:28).
Middleton menerangkan bahwa “the imago Dei refers to human rule, that is, the exercise of power on God's behalf in creation…. Said one way, humans are like God in exercising royal power on earth. Said in another way, the divine ruler delegated to humans a share in his rule of the earth.”157 Sewajarnya, imago Dei mengindikasikan bukan hanya citra diri manusia yang berujung pada perilaku narsistik. Pemaknaan yang tepat justru mengakui adanya tujuan berupa panggilan duniawi (earthly vocation) yang didasarkan pada pemilihan Allah untuk memelihara ciptaan di dunia.
Melalui desain inilah, Allah mencipta manusia dari debu tanah (materi) serta menghembuskan nafas hidup (nonmateri) ke dalam hidungnya sehingga manusia itu menjadi makhluk hidup (2:7). Tidak hanya itu, Allah turut memberikan Eden sebagai tempat tinggal agar manusia mengusahakan taman itu (2:15). Kitab Kejadian
mencatatkan bahwa “selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah Timur, disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu” (2:8). Untuk
155Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 28. Penulis menekankan bahwa perbedaan antara manusia dan binatang tidak dapat direduksi menjadi masalah materi/fisik. Kenyataan bahwa manusia memiliki akal budi menunjukkan adanya relasi spiritual (melampaui realitas
materi/fisik) yang Allah desain sejak mulanya.
156Pembahasan lebih lengkap terkait studi kata (linguistik-semantik) dari imago Dei lihat J.
Richard Middleton, The Liberating Image: The Imago Dei in Genesis 1 (Grand Rapids: Brazos, 2005), 43–60.
157Ibid., 88. Penekanan oleh penulis.
pertama kalinya, manusia kemudian hidup dan berada bersama Penciptanya. Eden kini menjadi tanah kudus bagi orang-orang kudus-Nya⎯Adam dan Hawa.158
Implikasi atas tindak−tutur Allah yang memberi kehidupan, selanjutnya, mewarnai pertunjukan relasi antara Pencipta dengan ciptaan-Nya. Ada dua hal yang signifikan dalam interaksi Pencipta–ciptaan, yakni relasi spiritual–jasmaniah dan tempat kudus Allah (cosmic temple). Walau saling melengkapi, penekanan yang diberikan tidaklah sama. Relasi spiritual–jasmaniah menanggapi dikotomi antara fisik dan nonfisik yang menghasilkan pengabaian terhadap citra diri manusia yang utuh.
Sementara itu, tempat kudus Allah mempertegas tujuan utama penciptaan. Jadi, sejak mula penciptaan mengindikasikan adanya keselarasan, keindahan, dan kebaikan pada seluruh ciptaan.
Visualisasi terbaik akan relasi spiritual–jasmaniah159 terlihat dalam kitab Kejadian tatkala Eden dicipta dengan presisi tinggi. Walau detail-detailnya tampak remeh, Eden menggambarkan potret kehidupan yang didambakan secara abstrak sekaligus konkret. J.R.R. Tolkien pernah mengatakan, “We all long for [Eden], and we are constantly glimpsing it: our whole nature at its best and least corrupted, its
158Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 29.
159Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, relasi spiritual merujuk pada kapasitas manusia untuk dapat berelasi dengan Allah. Artinya, interaksi antara Allah dan manusia di Eden sesungguhnya tidak terkurung pada utopia kehidupan yang berkelimpahan, abadi, dan bebas penderitaan⎯kendati aspek-aspek tersebut selalu ada sebagai konsekuensi alamiah. Malah, Eden menunjukkan kekudusan, kebaikan, dan keindahan yang dirancangkan-Nya sejak mula sehingga ciptaan dapat berinteraksi dekat dengan Penciptanya yang kudus. Relasi Pencipta−ciptaan juga bukanlah konsep yang abstrak, perkara mistis, dan hanya memerhatikan aspek kehidupan rohani (terpisah dari tubuh). Berdasar pada standar-Nya, Eden dirancangkan-Nya agar manusia dapat
berinteraksi dengan Allah serta seluruh ciptaan-Nya secara jasmaniah⎯terlibat dalam keseluruhan diri untuk merawat Eden dan pemenuhan kebutuhan jasmani.
gentlest and most humane, is still soaked with the sense of ‘exile.’”160 Nyatanya, Tolkien mengaitkan hasrat mendalam dan impresi manusia atas alam yang rusak sebagai natur yang tidak terpisahkan. Akhirnya, menjadi manusia yang diciptakan Allah berarti mendamba Eden secara spiritual sekaligus jasmaniah.
Tatanan Eden yang harmonis menerangkan konsepsi ini dengan lebih baik.
Pasalnya, kitab Kejadian menerangkan bahwa beberapa hal yang sifatnya jasmaniah atau eksternal ada di Eden, yakni pohon yang dapat dimakan buahnya, pohon kehidupan, dan pohon pengetahuan (2:9); sungai yang mengalir membasahi taman (2:10−14); dan segala binatang hutan serta burung di udara yang turut serta hidup bersama manusia (2:19). Beale menyimpulkan bahwa tatanan (fisik) Eden
merefleksikan kehidupan yang berlimpah dalam hadirat Allah.161 Walau benar demikian, tatanan Eden tidak mengabaikan tanggung jawab manusia melalui seluruh tubuhnya agar makna kelimpahan menjadi lebih utuh. Misalnya, larangan memakan buah dari pohon pengetahuan yang menyuarakan kekudusan Allah (2:17) ataupun perintah mengusahakan taman Eden bagi kemuliaan-Nya (2:15). Kedua perintah tersebut mengaitkan hal jasmaniah sebagai perwujudan yang diperlukan dari spiritualitas.
Dalam pengertian lain, realitas spiritual menjangkiti seluruh aspek jasmaniah ciptaan di Eden. Elior mengamati bahwa Eden sesungguhnya merupakan “a place of growth, bounty, eternity, and abundant kindness, limitless and free of consciousness,
160J.R.R. Tolkien, The Letters of J. R. R. Tolkien, ed. Humphrey Carpenter dan Christopher Tolkien (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2000), 110.
161G.K. Beale, God Dwells Among Us: Expanding Eden to the Ends of the Earth (Downers Grove: InterVarsity, 2014), 19.
memory and awareness....”162 Taman Eden bukan sekadar menunjukkan perkara tatanan fisik ciptaan, melainkan manusia dalam interaksinya dengan Tuhan dan sesama memperlihatkan relasi spiritual−jasmaniah. Ketiadaan rasa malu ketika manusia telanjang (2:25) dan kesatuan tubuh antara laki-laki dan perempuan
(2:23−24), misalnya. Keduanya merefleksikan keberadaan hikmat, kasih yang kudus, dan ketiadaan dosa dalam seluruh aspek jasmaniah manusia.163
Implikasi atas penciptaan materi dan nonmateri berikutnya ialah tempat kudus Allah sebagai kediaman-Nya. Dalam konteks Kejadian 2:4−3:24, Eden dapat
dimaknai sebagai tempat kudus Allah yang pertama.164 Eden umumnya juga diasosiasikan sebagai sentral dari langit dan bumi (kosmos) yang kudus. Namun, Walton mengamati bahwa interpretasi mengenai Eden sebagai sentral memang tidak memiliki dukungan informasi yang cukup kuat.165 Meski demikian, keterkaitan antara Eden dengan tempat kudus Allah (temple/tabernacle) dapat dibenarkan.
Bagi Beale, Eden adalah memang tempat kediaman Allah yang kudus. Hal ini terlihat dalam paralel antara “Allah berjalan” di taman Eden (3:8) dengan tempat kudus bangsa Israel.166 Wenham pun berkomentar bahwa Eden bukan sebidang tanah
162Rachel Elior, “The Garden of Eden is the Holy of Holies and the Dwelling of the Lord,”
Studies in Spirituality 24 (2014): 67–8, diakses 14 September 2021, https://doi.org/10.2143/SIS.24.0.3053492.
163Dauphinais dan Levering, Holy People, Holy Land, 30.
164Lifsa Schachter, “The Garden of Eden as God’s First Sanctuary,” Jewish Bible Quarterly 41, no. 2 (2013): 74−5, diakses 14 September 2021, AtlaSerials PLUS.
165John H. Walton, The Lost World of Adam and Eve: Genesis 2−3 and the Human Origins Debate, The Lost World (Downers Grove: IVP Academic, 2015), 117.
166Beale mengusulkan beberapa bagian dalam Alkitab yang dinilai paralel dengan Allah
“berjalan” di tengah umat (Im. 26:12, Ul. 23:14, 2Sam. 7:6−7). Kendati demikian, Beale juga memberikan beberapa contoh lain yang menegaskan keterkaitan Eden dan tempat kudus Allah. Lihat Ibid; bdk. T. Desmond Alexander, From Paradise to the Promised Land: An Introduction to the Pentateuch, ed. ke−3 (Grand Rapids: Baker Academic, 2012), 124.
pertanian Mesopotamia, melainkan tempat perlindungan⎯tempat kediaman Allah dan tempat manusia menyembah Dia.167 Bagaimanapun juga, Eden maupun tempat kudus Allah dicirikan oleh kehadiran Allah yang kudus dan membawa hikmat.168 Alhasil, hasrat akan hidup dan tujuan manusia akan terpuaskan dalam hadirat-Nya.169
Di pihak lain, dalam konteks Kejadian 1:1−2:3, Middleton mengamati ciptaan sebagai “bangunan” tempat kudus Allah. Sebagaimana manusia diciptakan imago Dei, Amsal 3:19−20 dan 24:3−4 memuat paralel mencolok tentang triad of qualities
manusia dengan Allah.170 Menurutnya, manusia yang mengenakan kebijaksanaan dalam membangun tempat kudus Allah berarti merekapitulasi atau menggambarkan alam semesta milik-Nya sendiri.171 Maka dari itu, Middleton menerangkan bahwa cosmic temple merupakan “alam” suci bagi kediaman dan pemerintahan Allah sehingga semua makhluk (manusia dan bukan manusia) dipanggil untuk menyembah- Nya.172 Dalam konteks ini, ciptaan dapat dimaknai sebagai tempat kudus-Nya.
Hal ini tidak berarti bahwa Beale menyangkali konsep cosmic temple
Middleton⎯begitu pula sebaliknya. Middleton tampaknya memang menegaskan lebih cepat mengenai apa yang dinilai sebagai tujuan akhir dalam konsep Beale⎯ekspansi
167Gordon J. Wenham, “Sanctuary Symbolism in the Garden of Eden Story,” Proceedings of the World Congress of Jewish Studies 9 (1985): 19.
168Beale, God Dwells Among Us, 18.
169Ibid., 19.
170J. Richard Middleton, A New Heaven and a New Earth: Reclaiming Biblical Eschatology (Grand Rapids: Baker Academic, 2014), 46–7. Triad of qualities yang dimaksudkan Middleton ialah hikmat (ḥokmâ), pengertian (tĕbunâ), pengetahuan (daʿat).
171Ibid., 47.
172Ibid., 48. Pernyataan ini diungkapkan penulis berdasarkan pengamatan terhadap konsepsi paralel penciptaan langit dan bumi dengan pembangunan Kemah Pertemuan. Middleton mengamati bahwa Roh Kudus berkarya sehingga Bezaleel menunjukkan triad of qualities ketika membangun Kemah Pertemuan (Kel. 31:2−5; 35:30−35).