PENANGGULANGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
B. Penanggulangan PTM 1. Definisi
3. Pencegahan Faktor Resiko PTM
PTM merupakan sekelompok penyakit yang bersifat kronis, tidak menular dengan diagnosis dan terapi pada umumnya lama dan mahal. PTM muncul dari kombinasi faktor risiko yang tidak dapat diubah/dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat diubah/ dimodifikasi. Perilaku seperti penggunaan tembakau/rokok, konsumsi alkohol, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik merupakan perilaku yang menjadi faktor risiko dan berhubungan erat dengan empat PTM utama, yaitu penyakit Kardiovaskuler, Kanker, penyakit Pernapasan Kronis, dan Diabetes Mellitus sebagai penyebab kematian utama dari kelompok PTM. Perilaku merokok, konsumsi alkohol, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan gangguan metabolik berupa peningkatan tekanan darah, kelebihan berat badan/obesitas, tingginya kadar glukosa darah, dan peningkatan kadar kolesterol yang berpengaruh terhadap kejadian PTM.
Berbagai jenis PTM dapat dicegah dengan mengatasi faktor risiko yang terkait. PTM mempunyai faktor risiko perilaku yang sama yaitu merokok, kurang berolah raga, diet tidak sehat dan mengkonsumsi alkohol. Bila prevalensi faktor risiko menurun, maka diharapkan prevalensi PTM utama juga akan menurun. Rekomendasi Kementerian Kesehatan sebagai upaya untuk mencegah faktor risiko PTM dapat dilakukan antara lain dengan cara:
a. Menjaga pola makan sehat
b. Rajin untuk melakukan aktivitas fisik
c. Berusaha untuk berhenti/stop merokok atau menghindari agar tidak terpapar asap rokok
d. Melakukan deteksi dini secara berkala dengan mengukur tekanan darah, gula darah dan IMT/lingkar perut) Pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM meliputi 4 cara, yaitu:
a. Advokasi, kerjasama, bimbingan dan manajemen PTM b. Promosi, pencegahan dan pengurangan factor risiko
PTM melalui pemberdayaan masyarakat
c. Penguatan kapasitas dan kompetensi layanan kesehatan serta kolaborasi sektor swasta dan profesional
d. Penguatan surveilans, pengawasan dan riset PTM WHO mengusulkan beberapa intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengontrol PTM, seperti:
(1) peningkatan pajak tembakau dan alcohol; (2) tempat kerja dan publik harus bebas dari asap rokok; (3) memberi informasi kesehatan dan peringatan; (4) larangan iklan rokok, promosi, dan sponsorships; (5) akses terbatas untuk
alcohol; (6) melarang iklan alkohol; (7) mengurangi asupan garam dalam makanan; (8) penggantian lemak trans dengan lemak tidak jenuh ganda; dan (9) menyadarkan publik melalui media massa tentang diet dan aktivitas fisik.
Upaya preventif dan promotif dapat dilakukan sebagai cara pendekatan dalam mengatasi PTM dan pengendalian faktor resikonya.
Adapun pengendalian faktor risiko bisa dilakukan dengan menerapkan perilaku CERDIK:
C : Cek kondisi kesehatan secara berkala E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktifitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang I : Istirahat yang cukup
K : Kendalikan stress Cek Kesehatan Secara Berkala
a. Direkomendasikan memeriksakan diri dengan melakukan deteksi dini, khususnya yang berisiko tinggi PTM
b. Manfaatkan pelayanan kesehatan terdekat, saat ada keluhan, keluhan kecil atau tanpa keluhan
Enyahkan Asap Rokok
a. Merekomendasikan semua bukan perokok, untuk tidak mulai merokok
b. Manganjurkan semua perokok berhenti merokok dan membantu untuk berhenti merokok
c. Masyarakat yang menggunakan bentuk lain dari tembakau harus disarankan untuk berhenti
Rajin Aktivitas Fisik
a. Tingkatkan aktivitas fisik secara progresif untuk mencapai tingkat moderat (seperti jalan cepat), sedikitnya 30 menit perhari (lima hari dalam seminggu) b. Kontrol berat badan dan hindari kelebihan berat badan
dengan mengurangi makanan berkalori tinggi dan melakukan aktivitas fisik yang cukup
Diet Sehat
a. Kalori seimbang konsumsi gula tidak melebihi 4 sendok teh perhari, konsumsi garam dibatasi sampai <5 gram (1 sendok teh) perhari, kurangi garam saat memasak dan membatasi makanan olahan dan cepat saji b. Total konsumsi lemak 5 sendok makan perhari. Batasi
daging berlemak, lemak susu, dan minyak goreng, ganti minyak sawit dan minyak kelapa dengan zaitun, kedelai, jagung, minyak bunga matahari. Konsumsi buah dan sayuran 5 prosi (400-500 gram) perhari (1 porsi setara dengan 1 buah jeruk, apel, mangga, pisang atau 1 mangkok sayuran dimasak) Konsumsi ikan 3 kali perminggu, utamakan ikan berminyak seperti tuna, makarel, salmon
c. Tidak konsumsi minuman beralkohol Kendalikan Stres
Berpikir positif, tidur yang cukup, tertawa, berolahraga, meditasi, dengarkan musik, libatkan indera tubuh, lakukan
pemijatan, milliki sikap mental pemenang, bangun hubungan positif, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa 4. Deteksi Dini/Skrining PTM
Deteksi dini/skrining adalah upaya untuk mengetahui ada tidaknya faktor risiko atau gangguan kesehatan sejak dini. Skrining PTM merupakan salah satu Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang berorientasi kepada upaya promotif dan preventif dalam pengendalian PTM dengan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi. Masyarakat diperankan sebagai sasaran kegiatan, target perubahan, agen pengubah sekaligus sebagai sumber daya (Kemenkes, 2012).
Skrining PTM dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM mengingat hampir semua faktor risiko PTM tidak memberikan gejala pada yang mengalaminya.
Deteksi dini/skrining PTM bertujuan untuk menemukan serta mengenali tanda dan gejala sejak dini, sehingga dapat dicegah dan segera diobati agar tidak mengalami perburukan. Deteksi dini/skrining dapat dilakukan secara mandiri, bisa melalui kegiatan posbindu, atau kegiatan insidental di perkantoran, perusahaan, sekolah/kampus atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Deteksi dini/skrining dilakukan dimulai pada usia 15 tahun ke atas, atau telah memiliki faktor risiko PTM, dengan cara:
a. Melakukan pengukuran tekanan darah, gula darah, dan IMT (Indeks Massa Tubuh) secara berkala
b. Apabila hasil pengukuran tidak normal, maka harus segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
untuk diobati sesuai standar dan mematuhi anjuran dokter, selanjutnya melakukan skrining secara berkala c. Apabila hasil pengukuran masih dalam batas normal,
maka diharapkan tetap dapat menerapkan perilaku hidup sehat untuk mencegah faktor risiko penyakit dan mengulangi skrining setiap 6 bulan sampai 1 tahun/
sekali, sedangkan yang memiliki faktor risiko PTM disarankan melakukan skrining setiap 1-3 bulan/sekali d. Bagi perempuan menikah usia 30-50 tahun atau sudah
pernah melakukan hubungan seksual disarankan melakukan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) dan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) atau paps smear paling sedikit 3-5 tahun sekali di fasilitas pelayanan Kesehatan
e. Bagi peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dapat melakukan telekonsultasi atau telemedicine dengan dokter melalui Mobile JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), untuk aplikasi mobile JKN dapat diunduh melalui playstore