BAB II. KAJIAN PUSTAKA
3. Pendekatan Pembelajaran
Masnur (2007:41) Contectual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)” adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa amembuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari- hari”. Sedangkan menurut Wina (2006:253) bahwa “pendekatan kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapnya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dn masyarakat (Depdiknas (2003:1).
Sementara Syaiful (2003:87) mengutarakan bahwa:
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat dipahami bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) adalah
konsep belajar dimana guru menghadirkan atau menciptakan situasi dunia nyata dalam kelas dan membantu siswa menghubungkan materi yang mereka pelajari dengan penerapannya dalam kehidupan sehari- hari. Sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna dan menarik, serta menekankan keterlibatan siswa dalam pembelajaran siswa secara penuh.
2) Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Ada beberapa karakteristik pada pendekatan kontekstual yang dikemukakan para ahli. Wina (2006:254) mengemukakan ada 5 (lima) karakteristik pembelajaran pendekatan kontekstual sebagai berikut:
1) Dalam CTL, pengetahuan yang akan diperoleh tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, 2) Pengetahuan diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari cara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya, 3) Pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, tetapi untuk dipahami dan diyakini, 4) Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupannya, 5) Melakukan refleksi sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Masnur (2008:43) secara lebih sederhana mendekripsikan karakteristik pembelajaran dengan cara menderetkan sepuluh kata kunci yaitu: 1) Kerjasama, 2) saling menunjang, 3) menyenangkan, tidak membosankan, 4) belajar dengan gairah, 5) pembelajaran terintegrasi, 6) menggunakan berbagai sumber, 7) siswa aktif, 8) sharing dengan teman, 9) siswa kritis, 10) guru kreatif.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat dipahami bahwa pada pendekatan kontekstual pembelajaran dilakukan dengan melibatkan guru dan siswa benar-benar aktif dan kreatif sehingga pembelajaran terlaksana secara efektif dan efisien.
3) Komponen dalam Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Menerapkan pembelajaran kontekstual mempunyai beberapa komponen yang harus diperhatikan. Johnson (2008:65) mengatakan bahwa siswa kontekstual menckup delapan komponen berikut ini:
1) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connection); 2) melakukan kegiatan yangsignifikan (doing signifikan work); 3) belajar yang diatur sendiri (self regulated learning); 4) bekerjasama (collaborating); 5) berfikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); 6) mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual); 7) mencapai standar yang tinggi (reaching high standarts); 8)menggunakan penelitian autentik (using autentik asesment).
Dalam Wina (2006:262) ada tujuh komponen utama yang mendasari penerapan pendekatan kontekstual yaitu:
a) Konstruktivisme (Constructivisme)
Pembelajaran yang bercirikan konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu. Pendangan konstruktuvisme menurut Nurhadi (2002:14) mengemukakan bahwa “strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan
seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan”.
Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman dan pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru. Dalam pendekatan ini tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
b) Inkuiri
Inkuiri adalah kegiatan inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Inkuiri diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Menurut Masnur (2007:45) prinsip yang dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah: 1) pengetahuan dan keterampilan akan lebih bermakna bila siswa menemukan sendiri; 2) informasi yang diperoleh siswa lebih mantap bila diikuti bukti; 3) siklus inkuiri:
observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan.
Menurut Nurhadi (2002:13) langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri) adalah: 1) merumuskan masalah, 2) observasi, 3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar,
laporan, 4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca.
c) Bertanya
Bertanya merupakan salah satu strategi pembelajaran konstektual. Bertanya dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong siswa mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, membimbing dan menilai kemampuan berfikir. Masnur (2007:45) hal yang perlu diperhatikan guru dalam komponen pertanya ini antara lain:
(1) Penggalian informasi informasi lebih efektif bila dilakukan melalui bertanya
(2) Konfirmasi terhadap yang telah diketahui lebih efektif melalui tanya jawab
(3) Pemantapan pemahaman lebih efektif apabila dilakukan lewat diskusi
Menurut Nurhadi (2002:14) kegiatan bertanya berguna untuk: kegiatan bertanya untuk: 1) menggali informasi; 2) mengecek pemahaman; 3) membangkitkan respon; 4) mengetahui keinginan, yang sudah diketahui siswa dan yang dikehendaki guru.
d) Masyarakat belajar (learning community)
Merupakan upaya guru mengaktifkan siswa dengan berbagai pengalaman siswa lain. Menurut Nurhadi (2002:15) “masyarakat
belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah antara guru dan siswa”. Di samping itu Masnur (2007:46) hasil kerjasama diperoleh dari kerjasama dengan pihak lain yang saling memberi dan menerima pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, yang terlibat pada dasarnya bisa menjadi nara sumber.
e) Pemodelan
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi. Nurhadi (2002:17) dalam pendekatan kontekstual guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan dapat didatangkan dari luar. Prinsip komponen modelling menurut Masnur (2007:46) adalah:
pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap bila ada contoh yang bisa ditiru.
f) Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari tentang apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.
Siswa mendapat pengetahuan merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam penerapakn komponen refleksi dalam Masnur (2007:47) adalah:Perenungan merupakan respon atas kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diperoleh dan
berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima.
g) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan perkembangan belajar siswa. Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data merupakan gambaran perkembangan belajar siswa yang menekankan pada proses pembelajaran. Masnur (2007) menekankan prinsip penilaian autentik adalah: (1) Penilaian yang untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa;
(2) Penilaian dilakukan secara konprehensi; (3) Penilaian dilakukan oleh guru
4) Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual
Setiap pendekatan pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pendekatan kontekstual adalah: 1) pendekatan kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh baik fisik maupun otak untuk menemukan materi, bukan hasil dari pemberian orang lain; 2) kontekstual mendorong siswa agar dapat menemukan hubungn antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata; 3) kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupannya; 4) kegiatan pembelajaran dilakukan dengan diskusi kelompok; 5) pendekatan
kontekstual dapat digunkan di semua bidang studi (Wina, 2005:115).
Di samping kelebihan, pendekatan kontekstual juga mempunyi kekurangan. Kekurangan tersebut adalah: 1) karena pembelajaran kontekstual berorientasi siswa, maka siswa akan susah belajar karena tingkat perkembangan dan kemampuan siswa tidak sama; 2) dibutuhkan kesiapan dari segala aspek yang menunjang kelancaran pembelajaran, karena pembelajaran berlangsung di lingkungan alamiah; 3) pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi daripada hasil. (Samrit:2006).
5) Manfaat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sangat bermanfaat dalam mencapai tujuan pembelajaran. Manfaat pembelajaran kontekstual adalah siswa mampu memecahkan masalah yang dihadapi di kehidupannya sebagai anggota keluarga dan masyarakat, karena materi yang diberikan ke siswa adalah masalah kontekstual yakni masalah yang ada di lingkungannya (Nurhadi, 2003:5).
Kemudian dengan pembelajaran kontekstual dapat membuat siswa menjadi aktif dan kreatif dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam interaksi sosial, karena dalam pembelajaran siswa dibiasakan bekerja dengan kemampuan otak dan fisik dalam sebuah
kelompok. Dengan demikian siswa terlatih berkomunikasi dalam kelompok dan potensi yang ada dalam dirinya berkembang (Samrit, 2006). Selain itu, pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan siswa dalam aktivitas penting yang membuat mereka mengaitkan pelajaran akademis dengn konteks kehidupan nyata, sehingga siswa melihat makna dari pelajaran tersebut.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran kontekstual siswa diharuskan aktif dalam belajar, menemukan dan mengaitkan pembelajaran dalam kehidupannya sehari-hari sehingga apa yang diperoleh di sekolah menjadi lebih bermakna sehingga diharapkan siswa dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
6) Langkah-langkah Pembelajaran pada Pendekatan Kontekstual Pada kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berususan dengan strategi daripada memberi informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.
Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Untuk itu agar penggunaan pendekatan kontekstual dapat diterapkan dengan baik, maka harus mengikuti langkah-langkah
pembelajaran kontekstual itu sendiri. Menurut Nurhadi (2003:32) langkah-langkah pembelajaran kontekstual adalah:
a) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b) Laksanakan inkuiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan di semua bidang studi
c) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya d) Ciptakan masyarakat belajar
e) Tunjukkan model sebagai sebuah contoh pembelajaran
f) Lakukan refleksi diakhir pertemuan g) Lakukan penilaian yang sebenarnya
Dengan melaksanakan langkah-langkah di atas diharapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual akan terlaksana dengan baik.
b. Pendekatan Konvensional
Pendekatan konvensional merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran yang lebih berorientasi pada guru.
Pendekatan konvensional ini lebih mengarah kepada pendekatan tradisional. Dalam Nurhadi (2002) dinyatakan bahwa pada pendekatan tradisional mempunyai pandangan bahwa: siswa adalah penerima informasi secara pasif; siswa belajar secara individu; pembelajaran sangat abstrak dan teoritis; perilaku dibangun atas kebiasaan;
keterampilan dikembangkan atas dasar latihan; hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor; seseorang tidak melakukan yang
jelek karena dia takut hukuman; bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural; rumus itu ada di luar diri siswa yang harus diterangkan;
rumus adalah kebenaran absolut; siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah; pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep atau hukuman yang ada di luar diri manusia; guru adalah penentu utama proses pembelajaran; pembelajaran hanya terjadi dalam kelas; perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik.
Berdasarkan atas pandangan dari pendekatan di atas, maka pada pendekatan ini lebih mengutamakan kepada guru yang mengajar.
Dalam hal ini siswa hanya menerima secara pasif dari guru. Gurupun dalam melakukan pembelajaran hanya menggunakan media dan metode seadanya seperti menggunakan papan tulis biasa (black/white board). Di samping itu, sarana dan prasarana pembelejaranpun juga sederhana seperti buku cetak atau semacam LKS untuk mengisi latihan. Dengan demikian, pada pendekatan konvensional ini siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran. Siswa lebih bersifat pasif dan menerima apa yang dikatakan oleh guru.