A. KERAJINAN KAIN TENUN GEDOGAN PRINGGASELA 1. Sejarah Kain Tenun Pringgasela 1.Sejarah Kain Tenun Pringgasela
7) Penduduk Penderita Cacat Mental dan Fisik
5) Jumlah Penduduk Menurut Pemeluk Agama/Kepercayaan
Desa Pringgasela memiliki penduduk berjumlah 8968 Jiwa dan semuanya adalah Beragama Islam
6) Jumlah Penduduk Menurut Etnis
Penduduk Desa Pringgasela didominasi Etnis Sasak , kendati terdapat juga penduduk yang memilik Etnis lain, hal ini dikarenakan adanya mutasi penduduk yang disebabkan berbagai faktor, seperti : Pekerjaan , Perkawinan dan lain sebagainya.Lebih jelasnya struktur penduduk berdasarkan etnis adalah sebagai berikut :
Tabel 4 : Etnis Penduduk Desa Pringgasela No Jenis Etnis
Jenis Kelamin
Jumlah
L P
1 Sasak 4537 4288 8825
2 Jawa 15 5 30
3 Cina 0 0 0
4 Samawa 56 67 123
5 Mbojo 0 0 0
Jumlah 4608 4360 8968
Sumber : Sekretariat Kantor Desa Pringgasela
7) Penduduk Penderita Cacat Mental dan Fisik
Keberadaan penduduk yang mengalami cacat mental dan fisik Desa Pringgasela dapat dilihat sebagaimana tabel berikut ini :
76
a. Strategi Pengembangan Usaha Tenun Tradisional Gedogan Di Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada bulan Mei-Juli. Penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan kualitatif dan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara. Penelitian ini dilakukan di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur.
Strategi pengembangan usaha yang dilakukan yaitu dengan cara tetap mempertahankan motif, kualitas tenun baik dari segi bahan baku, ukuran, motif dan corak tenun serta selalu mengikuti permintaan pasar yang membuat pelanggan lebih loyal atau akan tetap berlangganan dalam usaha tersebut tidak hanya itu dalam mengembangkan usaha tersebut juga sering diadakannya pelatihan agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja, meningkatkan produktivitas kerja, mengurangi biaya karena waktu yang terbuang akibat kesalahan-kesalahan dan bisa meningkatkan mutu hasil kerja.
Pernyataan di atas didasarkan hasil dari wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan salah satu pelaku usaha
77
yang juga merupakan ketua atau pemimpin dalam usaha industri kain tenun yang ada di Pringgasela yaitu atas nama Muhammad Maliki yang merupakan owner atau pemilik UMKM Sentosa tenun Pringgasela sebagai berikut:
“Usaha kerajinan kain tenun yang ada di Pringgasela ini memang sudah ada Jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia,tidak heran jika sekarang banyak dikenal orang, cara saya dan para pengrajin lainnya serta pemerintah Desa dalam mengembangkan usaha ini yaitu dengan tetap mempertahankan kualitas bahan, baku, dan motif corak lainnya”.63
Apa yang dikemukakan oleh Bapak Maliki di atas juga di perkuat oleh kepala Desa Pringgasela atas nama Bapak Mul'an yang juga sempat peneliti wawancarai beliau mengungkapkan:
“Usaha kain tenun yang ada di Desa Pringgasela bisa berkembang hingga saat ini itu semua tidak lepas dari dukungan pemerintah Desa dan apresiasi masyarakat serta pemuda-pemudi yang hingga saat ini masih semangat berkreasi lewat kain tenun yang dibuat. Bukan hanya itu tetapi dalam proses pemasaran pun usaha tenun ini juga mengikuti permintaan para konsumen atau pelanggan yang kadang- kadang biasanya itu mereka punya kriteria khusus Jika pelanggan yang menetapkan harga maka produknya akan disesuaikan dengan harga yang disepakati, dan jika pelanggan yang memberikan karakteristik produk yang diinginkan maka harga akan disesuaikan setelah produk dibuat”.64
63Bapak Maliki, Wawancara,Jum’at 13 Mei 2022
64Bapak Mul’an, Wawancara Kamis 12 Mei 2022
78
Bukan hanya pernyataan dari Pak Maliki dan Kepala Desa Pringgasela yaitu Pak Mul'an saja. Peneliti juga menanyakan hal ini kepada salah satu pengrajin atau penenun yang ada di Desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela sebagai berikut:
"Usaha tenun ini sudah menjadi mata pencaharian kami disini khususnya bagi Ibu rumah tangga yang tidak bekerja , dalam mengembangkan usaha ini kami juga mengembangkan diri sendiri seperti mengikuti pelatihan yang di adakan oleh tenaga ahli, agar bisa membuka pikiran kita semua untuk dapat terus berkreasi membuat produk-produk baru yang menarik pelanggan dan layak dipasarkan agar tidak hanya itu itu saja"65 Bukan hanya Ibu Rohayati saja tetapi diperkuat juga oleh Ibu Ela Isnanini yang juga sempat peneliti wawancarai yang merupakan pengrajin tenun
"Semenjak adanya usaha tenun di Desa kami ini setidaknya dapat membantu dan merubah sedikit demi sedikit perekonomian kami. Allhamdulilah seiring berjalannya zaman usaha ini semakin berkembang dan juga di kenal banyak orang. Keterampilan dan kreatifitas kami para penenun disini juga semakin berkembang karena sering juga diadakannya pelatihan dan rapat untuk membahas hambatan dan kekurangan . Dengan adanya pelatihan-pelatihan kami disini para pengrajin bisa lebih kreatif dan dapat menghasilkan barang baru yang tidak hanya sebuah kain tenun saja akan tetapi juga seperti sepatu, tas, syall dan lain-lain.66
Diperkuat lagi dengan pendapat Ibu Artini salah satu pengrajin tenun di Pringgasela
65Ibu Rohayati, Wawancara Jum’at 13 Mei 2022.
66Ibu Ela Isnaini, Wawancara Jum’at 13 Mei 2022
79
“Diperkuat lagi dengan pendapat Ibu Artini salah satu pengrajin tenun di pringgasela. Adapun harga produk tenun tersebut dijual dengan harga Rp. 160.000 sampai Rp.
300.000 per produk, bahkan ada yang sampai Rp.1.
000.000 per produknya. Harga yang ditetapkan pengrajin sebanding dengan kualitas produk, karena cara pembuatan kerajinan tenun ini sangat rumit dan untuk menyusun pola tenunnya memerlukan ketelitian sehingga tidak semua orang ahli dalam pembuatan kerajinan tenun tersebut.”67 Bukan hanya wawancara terhadap Ibu Ela Isnaini saja tetapi peneliti juga mewawancarai Nuzulia Rismayani yang berprofesi sebagai mahasiswa di Universitas Hamzanwadi yang juga merupakan pemudi Desa Pringgasela .
“Sebenarnya tenun tradisional gedogan Lombok ini keberadaannya sudah cukup lama hanya saja jarang banyak diketahui oleh orang-orang lokal karena mereka hanya sIbuk berlomba-lomba membeli barang-barang luar,tanpa mengetahui bahwa sebenarnya di dalam daerahnya sendiri mengahsilkan kerjinan tangan yang sangat indah. Di Desa saya ini hampir sebagian besar mengandalkan sektor pertanian untuk menopang kehidupan sebagiannya lagi juga masyarakat disini meluangkan waktunya untuk mengerjakan tenunan agar dapat menambah-nambah penghasilan. Sebgaian yang lebih memilih Pendidikan dan ada juga yang lainnya memilih menjadi TKI untuk menyambung hidup atau mensekolahkan anak-anaknya”68 Tidak hanya itu peneliti juga mewawancarai salah satu pengrajin/penenun aktif yaitu Ibu Sri Handayani mengenai ragam motif .
“Pilihan ragam dan motif yang ada di usaha Kerajinan tenun Pringgasela sangat banyak dan bervariasi mulai dari motif sundawa yang sedang popular dan sempat dipakai
67 Ibu Artini,Wawancara Rabu 11 Mei 2022
68 Nuzulia Rismayani, Wawancara Jum;at 13 Mei 2022
80
peraga di Tokyo, Dubai, dan Berlin. Selain sundawa ada juga motif ragi bayan hitam, motif sari menanti berbelah songket, motif dulang emas, memiliki motif songket 3 lajur disetiap kelompoknya, motif pasung bayan yang digunakan untuk mengobati orang sakit gila, motif ragi genil untuk selimut pengantin diberikan oleh orang tua pengantin, motif ragi berincik dengan ciri khas kotak-kotak kecil. Motif pasung bayan, ragi berincik dan ragi genil merupakan motif leluhur yang berusia 70 tahun dan disimpan secara turun- temurun. Motif-motif leluhur yang banyak disimpan oleh para penenun memiliki kecendrungan bermotif kotak dan berwarna gelap seperti biru tua atau hitam”
Peneliti juga kembali mewawancarai salah satu pemilik Showroom atau Gudang tempat kerajinan kain tenun ini dikumpulkan yaitu Bapak Maliki mengenai proses promosi dan pemasaran serta siapa saja sasaran pasarnya.
“Setelah semua pengrajin telah menyelesaikan hasil tenunnya maka setelah itu di serahkan atau di masukan ke dalam showroom dengan harga yang sudah di tentukan, harga yang pengrajin/penenun jual kepada pemilik showroom beda dengan harga yang dipasarkan kembali oleh pemilik showroom kepada konsumen. Maka dari itu proses pemasaran yang dilakukan dengan cara pengrajin/penenun menjual hasil tenunannya kepada si pemilik showroom dan nanti pemilik showroom akan memasarkannya ke masyarakat luas, dengan cara promosi melalui social media seperti Facebook,Instagram dan Watshapp. Tidak hanya itu proses pemasaran juga dilakukan melalui marketplace seperti Shopee dan Lazada.
Sasaran pasarnya bukan hanya masyarakat dalam negeri saja tapi juga luar negeri”
81
b. Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman dalam Pengembangan Usaha Tenun yang ada di Desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur dengan menggunakan Analisis SWOT
Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan pada usaha produk kerajinan tenun di Desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur, membandingkan antara faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dengan faktor eksternal peluang (opportunity) dan ancaman (threats) sebagai berikut: