• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dan Pengembangan

B. Kajian Teori

1. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan didefinisikan sebagai metode penelitian yang bertujuan untuk mencari temukan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan produk, sampai dihasilkannya suatu produk yang terstandarisasi sesuai dengan indikator yang ditetapkan (Yuberti, 2014:1-15). Penelitian dan pengembangan merupakan suatu masalah atau produk yang diteliti bukan hanya produk yang sudah ada kemudian di kembangkan dan dikaji ulang untuk menghasilkan tingkat keefektifan dan kebermanfaatan yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya (Nur sa’adah, 2020). Menurut Sugiyono (2016:297), penelitian pengembangan atau dalam bahasa inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan (R&D) adalah suatu metode penelitian yang digunakan untuk mendesain sebuah

produk dan menguji efektivitasnya. Produk yang dimaksud tidak selalu berbentuk hardware (buku, modul, alat bantu pembelajaran dikelas dan laboratorium), tetapi juga bisa perangkat lunak (software) seperti program untuk pengolahan data, pembelajaran dikelas, perpustakaan atau laboratorium, atau model pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, managemen dll.

Karakteristik umum dari penelitian pengembangan berbentuk siklus yang diawali adanya permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan mengembangkan suatu produk tertentu, bisa produk yang sudah ada dikembangkan untuk memksimalkan penggunaannya atau membuat sesuatu yang baru (Hamzah, 2019:11). Menurut Borg & Gall dalam Hamzah (2019:11) terdapat empat ciri utama pada penelitian R & D, yaitu:

1. Studying research findings pertinent to the product to be develop, melakukan studi atau penelitian awal guna mencari temuan-temuan penelitian yang berhubungan dengan produk yang hendak dikembangkan.

2. Developing the product base on this findings, mengembangkan produk berdasarkan pada hasil temuan penelitian awal.

3. Field testing it in the setting where it will be used eventually, dilakukan pengujian lapangan dalam setting atau situasi senyata mungkin dimana produk tersebut nantinya akan dipakai.

4. Revising it to correct the deficiencies found in the field-testing stage, tahap melakukan revisi guna memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada tahap pengujian lapangan.

Terdapat beberapa desain dalam penelitian pengembangan R & D, diantaranya pengembangan model Kemp, pengembangan model Dick and Carrey, pengembangan model Assure, pengembangan model Addie, pengembangan model Hannafin & Peck, pengembangan model Gagne and Briggs, pengembangan model Borg & Gall (Hamzah, 2019:30).

a. Pengembangan Model Kemp

Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program, dimana alur merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi.

b. Pengembangan Model Dick and Carrey

Sistem pendekatan model Dick dan Carrey memiliki kemiripan dengan model Kemp. Tahapan pengembangan pembelajaran model Dick dan Carrey sebagai berikut:

1. Identifikasi Tujuan

Analisa kebutuhan dilakukan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah pertama yang dilakukan untuk menentukan apa yang diinginkan setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelakaran yang dapat ditetapkan diperoleh dari analisa kebutuhan, berupa kesulitan-kesulitan siswa dalam praktik pembelajaran, dari analisa yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang atau beberapa keperluan untuk pembelajaran yang aktual. Yang dimaksud tujuan pembelajaran adalah kemampuan yang dapat diperoleh siswa setelah menyelesaikan pelajaran.

2. Melakukan Analisa Instruksional

Analisa instruksional dilakukan dengan menentukan kemampuan apa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menganilsa materi yang akan dipelajari.

Setelah mengidentifikasi tujuan-tujuan, langkah selanjutnya adalah menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Langkah terakhir dalam proses analisa tujuan pembelajaran untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang disebut sebagai entry behavior yang diperoleh untuk memulai pembelajaran.

3. Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal dan Karakterisitik Siswa Ketika melakukan analisa terhadap keterampilan- keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga dipertimbangkan keteramapilan awal yang telah dimiliki siswa. Keterampilan-keterampilan siswa yang ada saat ini, yang lebih disukai, dan sikap-sikap ditentukan berdasarkan karakteristik atau setting pembelajaran dan setting lingkungan tempat keterampilan diterapkan. Langkah ini adalah langkah awal yang penting dalam strategi pembelajaran.

a) Merumuskan tujuan kinerja. Berdasarkan analisa instruksional dan pernyataan tingkah laku awal siswa, kemudian dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan-pernyataan tersebut diperoleh dari analisa pembelajaran kemudian digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan yang dipelajari, kondisi pencapaian unjuk kerja, dan kriteria pencapaian unjuk kerja.

b) Pengembangan tes acuan patokan, didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan. Berdasarkan tujuan pembelajaran kembangkan produk evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa melakukan tujuan pembelajaran.

c) Pengembangan strategi pengajaran, berdasar informasi dari lima tahap sebelumnya, dilakukan pengembangan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan akhir, meliputi: pra pembelajaran (pre-activity), penyajian informasi, praktik dan umpan balik (practice and feedback), pengetesan (testing), dan mengikuti kegiatan selanjutnya.

d) Pengembangan atau memilih pengajaran. Pada tahap ini, digunakan strategi pembelajaran untuk menghasilkan pengajaran, seperti pembelajaran untuk pebelajar, materi, tes dan panduan siswa.

e) Merancang dan melakukan evaluasi formatif. Evaluasi dilakuna untuk mengumpulkan data dan mengidentifikasi data tersebut.

Dalam merancang dan mengembangkan evaluasi formatif yang dihasilkan adalah instrumen atau angket penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data.

f) Revisi pembelajaran, adalah tahap mengulangi siklus pengembangan perangkat pembelajaran. Dari data evaluasi formatif yang telah dilakukan sebelumnya dianalisa dan diinterpretasikan.

c. Pengembangan model ASSURE

Model ASSURE merupakan suatu model formulasi untuk kegiatan pembelajaran atau disebut model berorientasi kelas.

Perencanaan pembelajaran model ASSURE meliputi 6 tahapan sebagai berikut:

1. Analyze Learnes (menganalisa siswa)

Pembelajaran biasa diberlakukan kepada sekelompok siswa atau mahasiswa yang mempunyai karakteristik tertentu.

2. State Standards and Objectives (merumuskan standar dan tujuan pembelajaran yang dicapai)

Standar diambil standar kompotensi yang ditetapkan.

Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

a) Gunakan format ABCD: A (audiens), B (behavior), C (conditions), D (degree).

b) Mengklasifikasikan tujuan, tujuan pembelajaran yang akan dilakukan cenderung ke domain konitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal.

c) Perbedaan individu berkaitan dengan kemampuan individu dalam menuntaskan atau memahami sebuah materi yang diberikan/dipelajari.

3. Select Strategies, Technology, Media, and Materials (memilih strategi, teknologi, media dan materi pembelajaran yang sesuai) Dalam memilih strategi pembelajaran hal yang harus diperhatikan adalah tidak ada satu metode yang paling baik dari metode yang lain dan tidak ada satu metode yang dapat menyenangkan/menjawab kebutuhan siswa secara seimbang dan menyeluruh, sehingga harus dipertimbangkan beberapa metode. Ketika memilih strategi, teknologi, media yang akan digunakan, menentukan materi yang akan digunakan, melibatkan tiga pilihan yaitu: 1) memilih materi yang sudah tersedia dan siap dipakai, 2) mengubah/modifikasi materi yang ada, 3) merancang materi dengan dsain baru.

4. Utilize Technoloy, Media and Materials

Pada tahap ini menggunakan teknologi, media dan material melibatkan perencanaan peran guru dalam menggunakan teknologi, media, dan materi. Dalam melakukan tahap ini terdapat lima proses “5P” yaitu:

a) Pratinjau (Preview), mengecek teknologi, media dan bahan yang akan digunakan untuk pembelajaran sesuai dengan tujuannya dan masih layak pakai atau tidak.

b) Mempersiapkan lingkungan belajar sehingga mendukung penggunaan teknologi, media dan materi dalam proses pembelajaran.

c) Mempersiapkan siswa sehingga mereka belajar dan tentu memperoleh hasil belajar yang maksimal.

d) Menyediakan (provide) pengalaman belajar (terpusat pada siswa), sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar dengan maksimal.

e) Require learner participation, yaitu mengaktifkan partisipasi siswa.

5. Require Learner Participation (merealisasikan partisispasi aktif siswa dalam pembelajaran)

Belajar merupakan suatu proses untuk mencoba berbagai perilaku, maka guru harus dapat merancang pembelajaran yang dapat melibatkan skema mental siswa serta pengalaman belajar yang bermakna.

6. Evaluate

Evaluasi dari revisi merupakan komponen yang paling pening untuk memgembangkan kualitas pembelajaran.

Terdapat tiga hal yang dilakukan dalam proses evaluasi dan revisi.

a) Menilai hasil pebelajar adalah mengembangkan kriteria berkaitan dengan unjuk kerja siswa, baik individual maupun kelompok. Penilaian diperlukan untuk mengukur tingkat pemahaman atau materi yang sudah dipelajari.

b) Menilai metode dan media pembelajaran adalah analisa reaksi pebelajar pada metode pembelajaran atau media yang digunakan dalam kegiatan pembelajar sangat penting untuk memperoleh data dengan cara yang halus.

c) Revisi adalah langkah melihat kembali hasil data evaluasi yang sudah dilakukan.

d. Pengembangan model ADDIE

ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate) adalah model pengembangan berorientasi kelas, menggunakan lima tahapan sebagai berikut:

1. Analyze (analisa)

Analisa yaitu melakukan analisa kebutuhan, mengidentifikasi masalah (kebutuhan) dan melakukan analisa tugas. Tahap analisa merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh siswa.

2. Design (desain atau perancangan)

Pada tahap mendesain langkah yang dilakukan: pertama, merumuskan tujuan pembelajaran yang spesific, measurable, aplicable, dan realistic. Selanjutnya menyusun tes didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Kemudian menentukan strategi pembelajaran media dan yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

3. Development (pengembangan)

Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba merupakan bagian dari langkah ADDIE, yaitu evaluasi.

4. Implementation (implementasi/eksekusi)

Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yan dibuat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diatur sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplemnetasikan. Implementasi materi pembelajaran bertujuan:

a) Membimbing siswa untuk mencapai kompetensi.

b) Menjamin terjadinya pemecahan masalah untuk mengatasi kesenjangan hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.

c) Memastikan bahwa akhir program pembelajaran siswa perlu memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan.

5. Evaluation (evaluasi/umpan balik)

Evaluasi adalah proses melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak.

Evaluais merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan

untuk memberikan nilai terhadap program pembelajaran untuk mengetahui beberapa hal yaitu:

a) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.

b) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari keikutsertaan dalam program pembelajaran.

c) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi siswa setelah mengikuti program pembelajaran.

e. Pengembangan model Hannafin & Peck

Model Hanafin dan Peck adalah model desain pembelajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase analisa keperluan, fase desain, fase penembangan dan implementasi. Model ini lebih berorientasi produk, melalui tiga fase:

1. Fase pertama, adalah analisa kebutuhan dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan mengembangkan media pembelajaran termasuk di dalamnya tujuan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran.

2. Fase kedua, adalah fase desain, informasi dari fase analisa dipindahkan kedalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan media pembelajaran. Fase desain bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut.

3. Fase ketiga, adalah fase pengembangan dan implementasi terdiri dari penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif dan sumatif.

f. Pengembangan Gagne and Brings

Pengembangan desain instruksional model Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang bekerja sebagai perancang atau desainer kegiatan instruksional maupun

pengembang instruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang instruksional. Model pengembangan instruksional Briggs bersandarkan pada prinsip keselarasan antara tujuan yang akan dicapai, starategi mencapainya, dan evaluasi keberhasilannya. Terdapat 12 langkah pengembangan desain instruksional Gagne dan Briggs, sebagai berikut:

1. Analisa dan identifikasi kebutuhan.

2. Penetapan tujuan umum dan khusus.

3. Identifikasi alternatif cara memenuhi kebutuhan.

4. Merancang komponen dari sistem.

5. Analisa: sumber-sumber yang diperlukan, sumber-sumber yang tersedia, kendala-kendala.

6. Kegiatan untuk mengatasi kendala.

7. Memilih atau mengembangkan materi pelajaran.

8. Merancang prosedur penelitian murid.

9. Uji coba lapangan: evaluasi formatif dan pendidikan guru.

10. Penyesuaian, revisi dan evaluasi lanjut.

11. Evaluasi sumatif.

12. Pelaksanaan operasional.

g. Pengembangan Borg & Gall

Model pengembangan Borg dan Gall menggunakan 10 langkah prosedural dalam pengembanganbahan ajar, langkah-langkah tersebut adalah:

1. Research and Information Collecting (Analisa Kebutuhan) 2. Planning (Perencanaan)

3. Develop Preliminary Form of Product (Pengembangan Produk Awal)

4. Preliminary Field Testing (Pengujian Terbatas) 5. Main Product Revision (Revisi hasil Uji Produk) 6. Main Field Testing (Uji Produk Utama)

7. Operational Product Revision (Revisi Produk)

8. Operational Field Testing (Uji coba Lapangan Skala Luas) 9. Final Product Revision (Revisi Produk Akhir)

10. Dissemination and Implementation (Desiminasi dan Pengunaan)

Dokumen terkait