BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Penelitian Terdahulu
Cheng dkk. (2008) melakukan penelitian tentang hubungan antara kualitas auditor dan human capital di Taiwan. Dari hasil empiris, didapatkan bahwa kualitas auditor berhubungan secara positif terhadap human capital serta investasi perusahaan pada human capital menentukan kualitas audit yang diberikan pa da klien. Cara untuk memastikan kelangsungan hidup, flesibilitas, dan abilitas, maka perusahaan harus mengembangkan, mendidik, dan memberi training auditor pada semua level yang dipersiapkan untuk menunjukkan audit berkualitas tinggi saat ini.
Carolita dkk. (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh terhadap pengalaman kerja, independensi, objektifitas, integrasi, kompetensi, dan komitmen organisasi terhadap kualitas hasil audit pada Kantor Akuntan Publik di Semarang. Menyatakan bahwa kompetensi dan independensi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit, namun pengalaman kerja, objektifitas, integritas dan komitmen organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.
Riswan (2012) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa komitmen organisasi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit pada KAP di Bandar Lampung.
Yana Aisyah (2013) melakukan penelitian tentang hubungan antara human capital dan kualitas auditor pada Bank BRI Kantor Inspeksi Semarang. Dari hasil empiris, disimpulkan bahwa human capital berpengaruh positif terhadap kualitas auditor. Semakin tinggi tingkat pendidikan, pengalaman kerja, tingkat kualifikasi profesi, dan CPD maka semakin tinggi pula kualitas auditor yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
Bouhawia (2015) dengan hasil penelitiannya juga menyatakan bahwa pengalaman, kompetensi dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada KAP di Libya.
Septiadi (2017) menyatakan bahwa human capital memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan. Dalam penelitiannya, human capital bernilai positif artinya memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kinerja perusahaan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Di Kabupaten Tabalong
Maria (2018) meneliti mengenai pengaruh independensi, kualitas sumber daya manusia, dan pengalaman kerja terhadap kualitas audit di PT.
Pos Indonesia Surabaya Pusat. Dalam penelitiannya, independensi dan pengalaman kerja singnifikan terhadap kualitas audit, dimana semakin tinggi independensi dan intensitas yang dimiliki seorang auditor maka akan
meningkatkan kualitas audit dan pengalaman kerja yang dihasilkan oleh auditor.
Rahmatia dkk. (2019) meneliti mengenai pengaruh human capital dan spiritual capital terhadap kualitas audit. Dalam penelitiannya, menunjukkan bahwa human capital berpengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas audit di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kondisi ini memperlihatkan bahwa semakin baik human capital yang dimiliki oleh seorang auditor maka kualitas audit yang dihasilkan pun semakin baik. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa human capital auditor mempunyai pengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas audit.
Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan persepsi responden mengenai human capital sangat baik. Proses analisis ketiga indikator yakni keahlian (pendidikan & pengalaman), kompetensi dan komitmen organisasi (hubungan antar personal dengan organisasi) menunjukkan bahwa ketiga indikator tersebut mampu mendeskripsikan variabel human capital.
Natalia dkk. (2020) meneliti tentang pengaruh independensi, pengalaman kerja, due professional care dan akuntabilitas terhadap kualitas audit pada KAP di wilayah Jakarta Pusat. Dalam penelitian tersebut menyimpulkan bahwa seluruh komponen human capital secara simultan berpengaruh terhadap kualitas audit, namun secara parsial hanya pengalaman kerja yang tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua pengalaman kerja yang dimiliki seorang auditor dapat mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan. Berikut ini
disajikan mengenai ringkasan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini.
Tabel 2.1
Tabel Penelitian Terdahulu
No
Peneliti (Tahun Penelitian)
Judul Penelitian
Metode Analisis
Hasil Penelitian
1. Yu-Shu Cheng, Yi-Pei Liu, dan Chu Yang Chien (2008)
The Association Between Auditor Quality And Human Capital
Kuantitatif Dari hasil empiris, didapatkan bahwa kualitas auditor berhubungan secara positif terhadap human capital serta investasi perusahaan pada human capital menentukan kualitas audit yang diberikan pada klien.
2. Metha Kartika Carolita (2012)
Pengaruh
Pengalaman Kerja, Independensi, Objektifitas, Integritas,
Kompetensi, Dan Komitmen
Organisasi
Terhadap Kualitas
Kuantitatif Penelitian tersebut
menyatakan bahwa
kompetensi dan independensi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit, namun pengalaman kerja, objektifitas, integritas, dan komitmen organisasi
Hasil Audit. (Studi Pada Kantor Akuntan Publik Di Semarang)
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.
3. Riswan (2012) Pengaruh
Independensi dan Komitmen
Organisasi
Terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Kantor Akuntan Publik Di Bandar Lampung, bandung, dan Jakarta)
Kuantitatif Dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa komitmen organisasi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit pada KAP di Bandar Lampung.
4. Yana Aisyah (2013)
Analisis Pengaruh Human Capital Terhadap Kualitas Auditor (Studi Empiris Pada Bank Bri Kantor Inspeksi Semarang).
Kuantitatif Penelitian tersebut menyatakan bahwa human capital berpengaruh positif terhadap kualitas auditor.
Semakin tinggi tingkat pendidikan, pengalaman kerja, tingkat kualifikasi profesi, dan CPD maka semakin tinggi pula kualitas auditor yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
5. Bouhawia (2015)
The Effect Of Working
Experience, Integrity,
Competence, And Organizational Commitment On Audit Quality (Survey State Owned Companies In Libya).
Kuantitatif Dengan hasil penelitiannya juga menyatakan bahwa pengalaman, kompetensi dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada KAP di Libya.
6. Septiadi Wirawan (2017)
Pengaruh Human Capital, Structural Capital, Dan Customer Capital Terhadap Kinerja Perusahaan Pada Perusahaan Daerah Air Minum (Pdam) Di Kabupaten
Tabalong
Kuantitatif Penelitian tersebut menyatakan bahwa human capital berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
7. Maria Yedina Labu (2018)
Pengaruh Independensi, Kualitas Sumber
Kuantitatif Dalam penelitiannya, independensi dan pengalaman kerja singnifikan terhadap
Daya Manusia, Dan Pengalaman Kerja Terhadap Kualitas Audit.
kualitas audit, dimana semakin tinggi independensi dan intensitas yang dimiliki seorang
auditor maka akan
meningkatkan kualitas audit dan pengalaman kerja yang dihasilkan oleh auditor.
8. Rahmatia kamba, Nasrullah Dali, Mulyati Akib (2019)
Kuantitatif Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa human capital berpengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas audit di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Tenggara.
9. Natalia
Anggraini dan Apry Linda Diana (2020)
Pengaruh Independensi, Pengalaman Kerja, Due Professional
Care Dan
Akuntabilitas
Terhadap Kualitas Audit.
Kuantitatif Mengenai penelitian tersebut menyimpulkan bahwa seluruh komponen human capital secara simultan berpengaruh terhadap kualitas audit, namun secara parsial hanya pengalaman kerja yang tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
C. Kerangka Pemikiran
Menurut Sugiyono (2017:60) mengemukakan bahwa, kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah Tingkat Pendidikan Formal (X1), Pengalaman Kerja (X2), dan Kualifikasi Profesi (X3) sebagai variabel bebas dan Kualitas Auditor (Y) sebagai variabel terikat. Dalam kerangka human capital, tingkatan pendidikan formal dalam tiap individu dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan dan nilai jual individu tersebut. Auditor dianggap tidak dapat memenuhi standar auditing tanpa pendidikan formal yang layak dan pengalaman di lapangan. Auditor yang memiliki gelar akademis yang tinggi diasumsikan akan bekerja lebih baik dengan mengimplementasikan pengetahuan dan potensi intelektualnya dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya.
Cheng et al. (2009) dalam pebryanto (2013), menyarankan bahwa capaian pendidikan pada auditor dapat meningkatkan kualitas dari audit pemerintah, serta pencapaian pendidikan menjamin kualitas tenaga kerja.
Untuk hubungan tingkat pendidikan formal dengan kualitas audit, peneliti mengacu pada penelitian Pebryanto (2013), yang menunjukkam bahwa variabel independen yakni tingkat pendidikan formal berpengaruh positif dan signifikaan tergadap kualitas auditor. Pengalaman kerja erat kaitannya dengan lama masa kerja dan banyaknya pemeriksaan yang dilakukan auditor. Semakin lama masa kerja auditor maka akan mempengaruhi dalam profesionalitasnya. Pengalaman adalah salah satu sumber
peningkatan keahlian auditor yang dapat berasal dari pengalaman- pengalaman dalam bidang audit dan akuntansi. Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui proses yang bertahap. Contohnya: pelaksanaan tugas-tugas pemeriksaan, pelatihan ataupun kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan keahlian auditor. Selain itu, pengalaman juga mempunyai arti penting dalam upaya perkembangan tingkah laku dan sikap seorang auditor.
Untuk hubungan pengalaman kerja auditor dengan kualitas auditor, peneliti mengacu paada penelitian yang dilakukan oleh Pebryanto (2013), yang menunjukkan bahwa variabel independen yaitu pengalaman kerja auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas auditor. Tingkat kualifikasi profesi atau biasa disebut Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) merupakan program pendidikan lanjutan bagi para lulusan fakultas ekonomi program studi akuntansi. Menurut Cheng et al. (2009) dalam Pebryanto (2013: 13) menyatakan bahwa disamping pencapaian pendidikan dan pengalaman kerja pada auditor, tingkat kualifikasi juga dapat mempengaruhi kualitas auditor yang lebih baik.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
D. Hipotesis
Menurut Sugiyono (2017) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Karena sifatnya masih sementara, maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui data empiris yang terkumpul.
Terdapat empat variabel utama human capital. Yaitu tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan tingkat kualifikasi profesi yang berhubungan dengan kualitas auditor. Berikut hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini.
Human Capital Tingkat Pendidikan
Formal (TKF-X1)
Pengalaman Kerja (PK-X2)
Tingkat Kualifikasi
Profesi (TKP-X3)
Kualitas Auditor
(Y)
1. Tingkat Pendidikan Formal Auditor Dan Kualitas Auditor
Hipotesis pertama difokuskan terhadap hasil pendidikan formal yang dicapai oleh auditor. Dalam kerangka human capital, tingkatan pendidikan formal dalam tiap individu dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan dan nilai jual individu tersebut. Auditor dianggap tidak dapat memenuhi standar auditing tanpa pendidikan formal yang layak dan pengalaman di lapangan. Auditor yang memiliki gelar akademis yang tinggi diasumsikan akan bekerja lebih baik dengan mengimplementasikan pengetahuan dan potensi intelektualnya dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya.
Cheng et al. (2009) dalam pebryanto (2013), menyarankan bahwa capaian pendidikan pada auditor dapat meningkatkan kualitas dari audit pemerintah, serta pencapaian pendidikan menjamin kualitas tenaga kerja. Untuk hubungan tingkat pendidikan formal dengan kualitas audit, peneliti mengacu pada penelitian Pebryanto (2013), yang menunjukkam bahwa variabel independen yakni tingkat pendidikan formal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas auditor. Jika semakin tinggi tingkat pendidikan formal auditor, maka semakin tinggi pula kualitas audit. Hal ini dikarenakan pendidikan formal yang baik dapat meningkatkan sumber daya manusia dan akan berpengaruh pada hasil audit. Dari uraian tersebut maka peneliti mengambil hipotesis pertama:
H1 = Tingkat Pendiddikan Formal Auditor Berpengaruh Positif Terhadap Kualitas Auditor
2. Pengalaman kerja auditor dan kualitas auditor
Pengalaman kerja erat kaitannya dengan lama masa kerja dan banyaknya pemeriksaan yang dilakukan auditor. Semakin lama masa kerja auditor maka akan mempengaruhi dalam profesionalitasnya.
Pengalaman adalah salah satu sumber peningkatan keahlian auditor yang dapat berasal dari pengalaman-pengalaman dalam bidang audit dan akuntansi. Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui proses yang bertahap. Contohnya: pelaksanaan tugas-tugas pemeriksaan, pelatihan ataupun kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan keahlian auditor. Selain itu, pengalaman juga mempunyai arti penting dalam upaya perkembangan tingkah laku dan sikap seorang auditor. Pengalaman yang diperoleh auditor menunjukkan dampak bagi penambahan tingkah laku yang dapat diwujudkan melalui keahlian yang dimiliki untuk lebih mempunyai kecakapan yang matang.
Pengalaman-pengalaman yang didapat auditor, memungkinkan berkembangnya potensi yang dimiliki oleh auditor melalui proses yang dapat dipelajari.
Untuk hubungan pengalaman kerja auditor dengan kualitas auditor, peneliti mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Pebryanto (2013), yang menunjukkan bahwa variabel independen yaitu pengalaman kerja auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas auditor. Jika semakin tinggi pengalaman kerja auditor, maka semakin tinggi pula kualitas auditor. Hal ini dikarenakan seseorang dapat menilai kinerja sesuai dengan tingkat pengalaman yang dimilikinya. Dari uraian tersebut, maka peneliti mengambil hipotesis kedua :
H2 = Pengalaman Kerja Auditor Berpengaruh Positif dan signifikanTerhadap Kualitas Auditor
3. Kualifikasi profesi pada auditor dan kualitas auditor
Kualifikasi profesi atau biasa disebut Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) merupakan program pendidikan lanjutan bagi para lulusan fakultas ekonomi program studi akuntansi. Menurut Cheng et al.
(2009) dalam Pebryanto (2013: 13) menyatakan bahwa disamping pencapaian pendidikan dan pengalaman kerja pada auditor, tingkat kualifikasi juga dapat mempengaruhi kualitas auditor yang lebih baik.
Berdasarkan bukti empiris yang diperoleh dari penelitian sebelumnya, maka peneliti mengambil hipotesis ketiga:
H3 = Tingkat kualifikasi profesi berpengaruh positif terhadap kualitas auditor
29 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kausal. Menurut Sugiyono (2016:37) penelitian kausal adalah hubungan yang bersifat sebab- akibat antarvariabel.
Sedangkan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu metode yang bertujuan untuk menggambarkan benar tidaknya fakta-fakta yang ada serta menjelaskan tentang hubungan antar variabel yang diteliti dengan Cara mengumpulkan data, mengelolah, menganalisis, dan menginterpretasikan data dalam pengujian hipotesis statistic, sehingga dapat teruji kebenarannya (Sugiyono, 2016: 47). Dalam hal ini adalah untuk menganalisis pengaruh human capital terhadap kualitas auditor pada Perbankan di Bursa Efek Indonesia.
B. Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini berlokasi di Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI)- Unismuh Makassar yang berlokasi Jl. Sultan Alauddin No.259, Gn. Sari, Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221. Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan tepatnya pada bulan juli-agustus tahun 2021, meliputi persiapan dan pelaksanaan.
C. Definisi operasional variabel
Sugiyono (2017:39) menjelaskan variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, Kemudian ditarik kesimpulannya. Di dalam penelitian ini dipergunakan 2 jenis variabel yaitu:
1. Variabel independen (bebas)
Menurut sugiyono (2017:39) mendefinisikan variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Dalam penelitian ini variabel bebas (X) dilihat dari human capital dengan lima indikator yaitu:
1) Tingkat pendidikan formal (X1)
Pada perbankan terdiri dari auditor dengan berbagai jenis tingkat pendidikan. Pembentukan human capital yang baik juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. Pendidikan juga merupakan modal dalam menunjang kompetensi seseorang.
Dengan demikian pendidikan formal baik, meningkatkan human capital dan akan berpengaruh pada hasil audit. Pendidikan terdiri dari pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal biasanya memiliki jenjang tertentu dan terdapat bukti berupa ijazah.
Sedangkan pendidikan informal bersifat jangka penddek dan khusus.
Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat pendidikan formal adalah lama pendidikan yang telah ditempuh. Indikator
tingkat pendidikan menurut lestari dalam Kevin Djordian (2021:12), yaitu:
a. Pendidikan formal
Indikatornya berupa pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh setiap pekerja yang meliputi Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi
b. Pendidikan informal
Indikatornya berupa sikap dan kepribadian yang dibentuk dari keluarga dan lingkungan
Menurut UU SIDIKNAS No. 20 (2003), indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian jurusan. Terdiri dari:
b. Jenjang pendidikan
1) Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
2) Pendidikan menengah: Jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.
3) Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
c. Kesesuaian jurusan adalah sebelum karyawan direkrut terlebih dahulu perusahaan menganalisis tingkat pendidikan dan kesesuaian jurusan pendidikan karyawan tersebut agar
nantinya dapat ditempatkan pada posisi jabatan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya tersebut. Dengan demikian karyawan dapat memberikan kinerja yang baik bagi perusahaan.
2) Pengalaman Kerja (X2)
Pengalaman Kerja adalah Pengetahuan atau keterampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang akibat dari perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu dan dinilai latar belakang pribadi, bakat, dan minat sikap dan kebutuhan, serta keterampilan dan kemampuan teknik.
Menurut Renica Anggraeny S. (2012) indikator yang diukur dalam variabel pengalaman adalah lama auditor bekerja pada bidang audit. Pengalaman diukur dari dari tahun sejak auditor bekerja di bidang audit menjadi auditor.
Menurut Foster dalam kevin Djordian (2021:15) menyatakan bahwa dimensi pengalaman kerja dapat dilihat dari lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimilik,serta jenis pekerjaan:
(1) Lama waktu atau masa kerja
Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
(2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang dibutuhkan oleh karyawan.
Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan.
Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan
(3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek- aspek teknik peralatan dan teknik pekerjaan.
3) Tingkat Kualifikasi Profesi
Kualifikasi Profesi adalah pendidikan khusus untuk memperoleh suatu keahlian yang diperlukan untuk memperoleh sesuatu.
Menurut Renica Anggraeni S. (2012) menyatakan bahwa indikator untuk mengukur kualifikasi profesi auditor adalah dengan pendidikan profesi yang telah ditempuh sehingga resmi menjadi akuntan. Untuk perhitungan variabel ini menggunakan variabel dummy.
Menurut Haryomo Dwi P. (2019) menyimpulkan bahwa indikator kualifikasi profesi di ukur dari data/riwayat tingkat atau jenjang pendidikan formal terakhir yang di capai oleh PNS, yaitu:
1. Jenjang Doktor atau Strata 3 (S3)
2. Jenjang Master/Megister atau Strata 2 (S2) 3. Jenjang Sarjana (S1)/Diploma 4 (D4) 4. Jenjang Diploma 3 (D3)
5. Jenjang Diploma 1 (D1)/Diploma (D2)/Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)/sederajat
6. Dibawah SLTA 2. Variabel dependen (terikat)
Menurut (2017:39) variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kualitas Auditor (Y).
1 Kualitas Auditor (Y)
Kualitas auditor adalah Kadar baik buruknya auditor dalam melaksanakan kegiatan audit. Pada penelitian ini kualitas auditor diukur melalui proksi ukuran KAP. Semakin besar ukuran KAP maka kualitas audit yang dihasilkan semakin tinggi. Untuk mengukur kualitas auditor, peneliti menggunakan variabel dummy.
Variabel dummy dalam penelitian untuk menentukan kualitas auditor ini adalah KAP Big Four dan non Big Four, auditor yang termasuk dalam KAP Big Fourdan rekan diberi lambang 1 dan yang non Big Four diberi lambang 0. KAP Big 4ini yaitu KAP Price Waterhouse Coopersyang bekerjasama dengan KAP Haryanto Sahari dan rekan, KAP KPMG (Klynveld Peat Marwick Goerdeler), yang bekerjasama dengan KAP Siddharta dan Widjaja dan rekan, KAP Ernst and Young, yang bekerjasama dengan KAP Purwantono, Sarwoko dan Sandjaj, dan rekan, dan KAP Deloitte Touche Thomatsu, yang bekerjasama dengan KAP Osman Bing Satrio dan rekan.
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel
Nama variabel Definisi Operasional pengukuran Skala Kualitas
Auditor (Y)
Jika perusahaan diaudit oleh KAP Big 4 = 1, dan jika diaudit oleh KAK non Big 4 = 0
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP)
Nominal
Tingkat Pendidikan Formal (X1)
Pendidikan yang ditempuh oleh auditor hingga ke perguruan tinggi maka nilai
=1, jika tidak = 0
Lamanya
pendidikan yang ditempuh oleh auditor
Nominal
Pengalaman Kerja (X2)
Jumlah tahun auditor melakukan perikatan dengan perusahaan yang sama, tahun perikatanperiode pertama dimulai dengan angka 1 dan ditambah dengan angka 1 untuk tahun berikutnya.
Lamanya hubungan perusahaan kerja sama antara auditor dan perusahaan
Interval
Tingkat Kualifikasi Profesi
Pengukuran akan
menggunakan variabel dummy dilihat jika auditor memiliki data/riwayat jenjang pendidikan profesi maka nilai
= 1, jika tidak = 0
Auditor yang memiliki jenjang pendidikan profesi
Nominal
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2017:80). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020 yang berjumlah 43 perusahaan.
2. Sampel
“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan tidak memungkinkan mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu maka menggunakan sebagian sampel yang di ambil dari populasi tersebut” (Sugiyono, 2017: 81). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan suatu kriteria tertentu.
Adapun kriteria sampel penelitian adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020
2. Perusahaan perbankan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum tahun 2016
3. Perusahaan perbankan yang memiliki laporan audit dan laporan tahunan dan melaporkan laporan audit dan laporan tahunan secara lengkap di Bursa Efek Indoenesia untuk tahun 2016-2020.
Sampel penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1. AGRO Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk 2. BABP PT Bank MNC Internasional Tbk.
3. BBCA Bank Central Asia Tbk 4. BBKP Bank Bukopin Tbk
5. BBNI Bank Negara Indonesia Tbk 6. BBHI Bank Harda Internasional Tbk
7. BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 8. BBTN Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 9. BCIC PT Bank JTrust Indonesia Tbk.
10. BDMN Bank Danamon Indonesia Tbk
11. BEKS PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk.
12. BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk 13. BNBA Bank Bumi Arta Tbk
14. BNGA Bank CIMB Niaga Tbk
15. BNII PT Bank Maybank Indonesia Tbk 16. BNLI Bank Permata Tbk
17. BSWD Bank of India Indonesia Tbk
18. BTPN Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk
19. BVIC Bank Victoria International Tbk 20. MAYA Bank Mayapada Internasional Tbk 21. MCOR Bank Windu Kentjana International Tbk 22. MEGA Bank Mega Tbk
23. PNBN Bank Pan Indonesia Tbk.
24. SDRA PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk.