BAB II Tinjaun Pustaka
G. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan yang penting bagi penulis dalam melakukan penelitian. Dengan menjadikan penelitian-penelitian terdahulu sebagai referensi, penulis dapat memperbanyak teori-teori untuk kepentingan kajian penelitian dan juga untuk mencari tahu apakah langkah penulis sudah tepat atau tidak. Adapun yang penulis temukan beberapa penelitian mengenai strategi pemasaran atau yang berkalitan dengan objek penelitian, antara lain:
Tabel: Penelitian terdahulu
NO Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Anjelina Markus
Herman Nayoan Stefanus Sampe
Peran Lembaga Adat Dalam Menjaga Ketertiban Dan
Keamanan Masyarakat Di Desa Salurang Kecamatan Tabukan Selatan Tengah
1.Menyangkut peranan lembaga adat di tengah tengah masyarakat sebagai lembaga yang kredibilitasnya teruji di masyarakat tentunya membawa dampak yang sangat positif di kalangan
43
Kabupaten Kepulauan Sangihe
2018
masyarakat dengan hadirnya lembaga ini serta berjalannya fungsi lembaga adat dengan baik, dampak pada maksimanya upaya dari pemangku kepentingan lain yang misalnya Babinsa yang berasal dari angkatan darat dan Babinkamtibmas yang merupakan aparat kepolisian dalam menjaga keamanan di desa salurang
2 Pendekatan secara kultur adat dan budaya yang di lakukan oleh lembaga adat dalam menjelankan perannya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Desa salurang di rasa cukup
44
berhasil dalam menekan angka kriminalitas dan tentunya berimbas terjaganya serta
terpeliharanya keamanan di desa salurang yang berimbas pada kualitas kehidupan masyarakat yang ada di desa salurang yang selalu terasa
terhindar dari ancaman fisik malupun psikis 3 Masyarakat
memerlukan panduan khusus yang tertulis secara baku untuk aturan aturan adat istiadat sebagai panduan dasar dalam kehidupan bermasyarakat ,karna desa salurang sebagai desa adat
45
4 Sudah terjadi degradasi atau lunturnya nilai nilai adat istiadat yaitu nilai nilai yang luhur dalam kehidupan bermasyarakat dari generasi milenial yang di akibatkan oleh perkembangannya budaya di luar budaya tradisional
2. Alinun Zahria (2020)
Peranan Lembaga Adat Dalam Melestarikan Budaya Lokal Masyarakat Desa Betung Bedarah Timur Kecamatan Tebo Ilir Kabupaten Tebo
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpukan bahwa peran lembaga adat Desa Betung Bedarah Timur Kacamatan Tebo Ilir Kabupaten Tebo dalam melestarikan budaya lokal masyarakat desa Betung Berdarah Timur sangat negatif atau kurang berperan, karena lembaga adat di desa
46
Betung Bedarah Timur cenderung mengerti terhadap peran masing- masing, tetapi aktivitas yang dilakukan belum terlalu sempurna atau belum terealisasikan.
Kurangnya peranan lembaga adat diakibatkan kurangnya satu,
kurangnya pemahaman anggota lembaga adat sendiri terhadap adat istiadat desa, kedua karena memegang dua peranan/rangkap dua jabatan sehingga lembaga adat sulit untuk
mengontrol dan
melaksanakan program kerja, dan ketiga kurangnya pensosialisasian,
47
musyawarah, yang dilakukan lembaga adat pada masyarakat desa Betung Bedarah Timur.
3. Hendral Mondong
Peran Pemerintah Desa dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasi penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Peranan pemerintah desa dalam
meningkatkan partisipasi masyarakat bagi
terlaksananya pembangunan sudah berperan dengan baik dalam rangka
mengimplementasikan kebijakan sehubungan dengan peningkatan partisipasi masyarakat.
2) Kemudian dilihat dari segi kemampuan
pemerintah desa dalam
48
menggerakkan partisipasi masyarakat sudah
mampu, sesuai dengan informasi yang ada.
3) Terdapat beberapa faktor penghambat, namun hal yang demikian masih dapat diantisipasi oleh pemerintah yang dalam hal ini adalah kepala desa atau dengan sebutan lain hukum tua lewat motivasi-motivasi yang disampaikan langsung serta selalu meningkatkan efektifitas kerja dan setiap aparatur pemerintah.
4) Dalam pelaksanaan tugas pemerintah sebagai administrator dalam bidang pembangunan dan kemasyarakatan sudah
49
dapat dikategorikan berhasil, karena para pemerintah desa dan aparatur pemerintah sering terjun langsung ke lapangan untuk
memantau ataupun untuk mengawasi langsung setiap kegiatan pembangunan yang sementara dilaksanakan.
H. Kerangka Konsep Penelitian
Dalam peraturan menteri dalam negri Nomor 18 tahun 2018 Tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa Menyebutkan bahwa Lembaga Adat Desa atau sebutan lainnya yang selanjutnya disingkat LAD adalah lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa
Pasal 2
Tujuan pengaturan LKD dan LAD meliputi:
a. mendudukkan fungsi LKD dan LAD sebagai mitra Pemerintah Desa dalam meningkatkan partisipasi masyarakat;
50
b. mendayagunakan LKD dan LAD dalam proses pembangunan Desa;dan c. menjamin kelancaran pelayanan penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
Dalam Perda Mamasa Nomor 5 Tahun 2017 pasal 7
Tujuan Pemberdayaan dan Pengembangan Lembaga Adat adalah :
Untuk meningkatkan sumber daya manusia dan membentuk suatu wadah lembaga yang mengarah pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tidak merubah nilai, kaidah dan kegiatan sosial yang tumbuh dan berkembang agar lebih berdaya guna dan berhasil untuk menunjang kelancaran pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan;
Namun tidak dapat dipungkiri sampai sekarang Lembaga adat yang ada di Desa Balla Satanetean, Kec. Balla, Kab. Mamasa seakan-akan menjadi pelengkap di pemerintahan desa saja. Padahal lembaga adat juga mempunyali peran penting dalam kegiatan pemerintahan di desa. Lembaga adat seharusnya menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana mestinya.
Sumberdaya pembangunan secara efektif guna peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan.
Pembangunan desa merupakan suatu strategi yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat tertentu.
Berangkat dari masalah yang terjadi, peneliti ingin melihat bagaimana pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan desa di Desa Balla Satanetean, Kec. Balla, Kab. Mamasa. Serta bagaimana peran lemaga adat dalam kegiatan pemerintahan di Desa Balla Satanetean, Kec. Balla. Kab.
51
Mamasa. Adapun gambaran kerangka konseptual dalam penelitian yang akan dilakukan, adalah sebagai berikut :
PERANAN LEMBAGA ADAT DALAM PEMBANGUNAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEMBANGUNAN DESA
1. Fisik Desa
2. SDM 1. Peningkatan Pertisipasi
2.
OPTIMALISASI PEMBANGUNAN DESA
2. Peningkatan produktivitas
52
BAB III
METODE PENELITIAlN A. Jenis Pendekatan Dan Penelitian
Menurut Moleong (2005:4), pendekatan deskriptif kualitaltif yaitu pendekatan penelitian dimana data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar-gambar dan bukan angka. Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, video , dokumentasi pribadi, catatan, atau memo dan dokumentasi lainnya.
Pada penelitian ini akan menggambarkan dan memahami adanya peristiwal di dalam masyarakat yang dianggap termasuk ke dalam penyimpangan sosial dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan yang bercirikan deskriptif kualitatif ini bertujuan mengkaji dan mengklarifikasi mengenali adanya suatu fenomenal yang terjaldi di dalam masyarakat. Suatu fenomena atau kenyataan di masyarakat yang mengungkapkan jika dengan adanya metode deskriptif kualitatif bisa dijadikan prosedur untuk memecahkan masalah yang sedang diteliti. Masalah yang sedang diselidiki adalah berdasarkan fakta-fakta yang ada dan tampak di dalam masyarakat.
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Berdasarkan judul yang diangkat, maka lokasi penelitian bertempat di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa.
Waktu penelitian yang dilakukan kurang lebih 2 bulan sehingga memperoleh data yang akurat mengenali permasalahan penulis yang telah
53
diteliti.
C. Sumber Data Penelitian
Menurut Moleong (2005:157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Adapun sumber data yang akan digunakan penelitian ini meliputi:
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari hasi wawancara dan pengamatan secara mendalam kepada para informannya langsung yaitu Camat, Kepala Desa, Ketua Lembaga Adat, Kepala Dusun, Tokoh Masyarakat di daerah setempat tentang Peran Lembaga Adat dalam pembangunan Desa.
b. Data sekunder merupakan data yang relevan yang berasal dari buku-buku, dan bahan referensi lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan dana desa terkhusus dibidang Perencanaan, Pelaksanaan dan Pertanggung jawaban.
Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui media yang sifatnya melengkapi data primer seperti literatur, jurnal ilmiah, koran, dan majalah yang erat kaitannya dengan penelitian ini.
D. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang paham atau pelaku yang terlibat langsung permasalahan penelitian sehingga dapat memberikan informasi yang sesuai dengan realita adapun informan dari penelitian ini adalah:
1. Ketua Lembaga Adat Kecamatan Balla 1 orang
2. Kepala Desa Balla Satanetean 1 orang
3. Ketua Lembaga Adat Desa Balla Satanetean 1 orang
54
4. Sekretaris Lembaga Adat Desa Balla Satanetean 1 orang
5. Aparat Desa Balla Satanetean 2 orang
6. Kepala Dusun 1 orang
7. Masyarakat 2 orang
Tabel: Nama, jabatan, pendidikan dan agama informan
No NAMA JABATAN PENDI
DIKAN
AGAMA
1 Thomas D Ketua Lembaga Adat
Kecamatan Balla
SMA Kristen
KK Yusuf R.Demmandulu’, S.Th Kepala Desa Balla Satanetean S1 Kristen
3 Amos B Ketua Lembaga Adat Desa
Balla Satanetean
SMA Kristen
4 Demianus Demmangambo’, S.E
Sekretaris Lembaga Adat Desa Balla Satanetean
S1 Kristen
5 Depparepo Aparat Desa Balla Satanetean SMA Kristen
6 Yohanis Aparat Desa Balla Satanetean SMA Kristen
7 Daniel Kepala Dusun SMA Kristen
8 Yohana p, A.md Masyarakat D3 Kristen
9 Daniel D, S.ip Masyarakat S1 Kristen
E. Deskripsi Fokus Dan Indikator Penelitian
Deskripsi fokus penelitian adalah penjelas atau uraian dari masing- masing dari fokus yang diamati untuk memberi kemudahan dan kejelasan
55
tentang pengamatan. Tujuan dari fokus penelitian ini ialah sebagai pembatas dalam penyelidikan kualitatif serta penelitian untuk mengidentifikasi data mana yang berguna dan mana yang tidak penting (Moleong, 2010).
Tabel: Variabel dan indikator penelitian
VARIABEL INDIKATOR
Pembagunan Desa Pembangunan Fisik
SDM
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan nilai peran Peningkatan produktivitas
F. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara (interview), observasi lapangan (pengamatan), dan dokumentasi.
Adapun jenis data metode tersebut akan dijelaskan sebagai berikut : a. Wawancara Mendalam
Peneliti melakukan wawancara langsung terhadap informan yang bersangkutan dengan masalah penelitian ini. Wawancara antara peneliti dan informan falce to falce kemudian mengajukan beberapa pertanyaan yang menjadi inti masalah penelitian kepada informan, selanjutnya para informan ini memberikan jawaban menurut mereka masing-masing. Metode ini dikenal dengan teknik wawancara deep interview yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambi bertatap muka antara pewawancara dengan informan, dengan atau tanpa
56
menggunakan pedoman (guide) wawancara.
b. Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan tinjauan, pengamatan, dan pencatatan data terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan penelitian. Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat semua peristiwa secara langsung, melalui hidup langsung bersama, ikut merasakan, juga ikut dalam aktivitas dalam kehidupan objek pengamatan. Maksud dari teknik ini yaitu untuk mengetahui kebenaran atau fakta yang ada di lapangan (Moleong, 2010: 125).
c. Dokumentasi
Peneliti melakukan dokumentasi pelaksanaan kegiatan penelitian melalui foto atau gambar, sebagai bukti fisik pelaksanaan penelitian. Jadi, dokumen menurut pandangan diatas dapat dipahami sebagai catatan tertulis yang berkaitan dengan masalah atau peristiwa yang perlu dipersiapkan dalam mendukung suatu penelitian
G. Teknik Pengabsahan Datal Penelitian
Teknik pengabsahan data atau biasa juga disebut uji validitas dan realiabilitas data memiliki keterkaitan antara deskripsi dan eksplanasi.
Terdapat dua macam validitas, yaitu validitas internal dan validitas eksternal.
Validitas internal adalah penelitian kualitatif disebut kredibilitas, yaitu hasil penelitian memiliki tingkat kepercayaan tinggi yang sesuai dengan fakta dilapangan. Kemudian validitas eksternal dalam penelitian kualitatif disebut transferabilitas. Hasil penelitian kualitatif memiliki standar transferabilitas
57
tinggi bilamana pembaca memperoleh gambaran/ pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian.
H. Teknik Analisis Datal Penelitian
Pengabsahan data adalah untuk menjamin bahwa semua yang telah diamati dan diteliti penulis sesuai dengan data yang sesungguhnya ada dan memang benar-benar terjadi. Hal ini dilakukan penulis untuk memelihara dan menjamin bahwa data tersebut benar, baik bagi pembaca maupun subjek penelitian
Guna memperoleh tingkat keabsahan data penulis menggunakan triangulasi, yaitu mengadakan perbandingan antara sumber data yang satu dengan yang lain. Sebagaimana yang dikemukakan Moleong, bahwa
“Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data tersebut”.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ialah triangulasi sumber dan triangulasi teknik atau metode. Triangulasi dengan sumber, berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal demikian dapat dicapai dengan jalan:
1. membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
58
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang-orang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berasda, orang pemerintahan.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan Sedangkan triangulasi teknik atau metode, menggunakan berbagai metode pengumpulan data untuk menggali data sejenis. Pada triangulasi ini, terdapat dua strategi yaitu :
a. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa tehnik pengumpulan data.
b. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama
59
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Profil kota Mamasa
Kabupaten Mamasa terletas di Provinsi Sulwesi Barat, yang mayoritas penduduknya bersuku Toraja (barat), pada umumnya Agama mayoritas penduduknya adalah Kristen Protestan dimana terdapat 532 gereja yang semuanya adalah GTM (Gereja Toraja Mamasa). Luas wilayah ini 3.006 km persegi. Secara tofografi Kabupaten Mamasa ini masuk dalam kategori daerah dengan dataran tinggi dengan ketinggian 13 KM dari permukaan laut. Kondisi fisik terdiri dari daerah daratan tinggi yang memiliki sudut lereng 0-8 % skala maberry. Secara geologi Kabupaten Mamasa ini memiliki tanah yaitu tanah keras, gambut, dan tanah persawahan. Potensi sumber daya airnya juga melimpah (cukup besar). Secara iklim, Kabupaten Mamasa ini masuk dalam kategori daerah sub tropis yangterdiri dari 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
a. Keadaan Geografis
Secara geografis Kabupaten Mamasa terletak pada 20 3 9'216" Lintang Selatan dan 30 19'288" Lintang Selatan dan 1190 0' 216" Bujur Timur dan 1190 38'114" Bujur Timur. Batas administratif Kabupaten Mamasa bagian utara adalah Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
Di sebelah selatan, ada Kabupaten Polewali, provinsi Sulawesi Barat. Di sebelah
60
timur terdapat kecamatan Saluputti, kabupaten Tana Toraja dan di sebelah barat terdapat kecamatan Tapalang Malunda, provinsi Sulawesi Barat.
b. Peta Administrasi Kabupaten Mamasa
c. Kependudukan
Jumlah penduduk pada 17 kecematan, 168 desa dan 13 wilayah kelurahan pada total luas wilayah sekitar 3006 km persegi sebanyak 203.599 jiwa.
61
d. Topografi
Topografi Kabupaten Mamasa bervariasi dari dataran rendah, berbukit hingga pegunungan dengan kemiringan yang sangat curam. Daerah dengan kemiringan di atas 40% menempati luasan terluas yaitu 238.670 Ha (78,74%) dan terdapat hampir di seluruh kecamatan. Bagian wilayah yang memiliki kemiringan 0–8% menempati wilayah terkecil, yaitu hanya sekitar 2.410 Ha atau 2,41% dari luas wilayah Kabupaten Mamasa.
Dapat dilihat bahwa topografi Kabupaten Mamasa didominasi oleh dataran tinggi. Dengan keunikan dataran tinggi tersebut, potensi unggulan di Kabupaten Mamasa meliputi kehutanan, pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan air tawar, dan pariwisata.
e. Klimatologi a). Iklim
Seperti daerah lain di Indonesia, Kabupaten Mamasa juga memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pola musim dipengaruhi oleh angin muson barat dan timur yang berlangsung setiap enam bulan sekali setelah mengalami masa transisi.
b). Temperatur, kelembapan, dan suhu udara
Kondisi udara di Kabupaten Mamasa masih alami, bersih dan bebas dari polusi udara. Hal ini dikarenakan secara ekologi, kawasan Mamasa masih memiliki kawasan hutan yang berfungsi untuk diperhatikan dan menyerap udara kotor yang masuk ke udara. Selain itu, kegiatan yang
62
menyebabkan pencemaran udara belum signifikan memperburuk kondisi udara, karena kawasan hutan tetap lebih besar dari areal yang digunakan.
Suhu udara bervariasi sesuai dengan ketinggian dan jarak dari pantai.
Kelembaban relatif tinggi, berkisar antara 60-90% dan suhu rata-rata 16-30 derajat Celcius. Kondisi ini sangat kondusif untuk dijadikan destinasi pariwisata.
c). Cerah hujan
Curah hujan di Kabupaten Mamasa relatif tidak merata. Curah hujan yang relatif tinggi terdapat pada musim hujan dari bulan September sampai Desember dan relatif rendah pada musim kemarau yang berlangsung dari bulan Januari sampai Agustus. Keadaan curah hujan dipantau dari beberapa pengamatan seperti stasiun geoa kelas II, Departemen Pertanian, Lembaga Penelitian. Curah hujan tahunan rata-rata adalah 2000 mm/tahun. Bahkan di stasiun Rantekarua, jumlah curah hujan di atas 4000 mm/tahun. Pada tahun 2015, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dan terendah pada bulan Juli.
2. Desa Balla Satanetean
Desa Balla Satanetean adalah salah satu desa dalam wilayah administrasi Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa. pada tanggal 15 maret 1991 Desa Balla Satantean Terbentuk hasil pemekaran dari Desa Balla induk, Kepala Desa Pertama dipimpin oleh Marten Deppa, di jabat dengan 2 priode.
63
a. Sejarah pemerintahan
Nama Kepala Desa Masa Jabatan
Marthe Deppa 1987-2003
Yeheskiel Demmakanan 2003-2012 Yusuf R. Demmandulu’, S.Th 2012- 2022
b. Kondisi Umum Desa
Desa Balla Satanetan memiliki 10 dusun di antaranaya: Dusun minanga, Dusun Peu’, Dusun Ranteliang, Dusun Balla Tangga, Dusun Simbuang Batu, Dusun Batarirak,, Dusun Bamba batu, Dusun Ne’amba, Dusun Bamba Lempan, Dusun Balla Kalua’.
64
Data Potensi Desa Balla Satanetean 1. Jumlah rumah : 351 2. Jumlah rumah ibadah :
-Masjid : 1
-Gereja Pantekosta : 2 -Gereja khatolik : 1 -Gereje Protestan : 7 3. Sarana Pendidikan :
-TKN : 1
-SD : 2
-SMP : 2
-SMK : 1
4. Pasar Desa : 1 5. Perkantoran :
-Kantor Camat : 1
-Kantor Desa : 1
-Kantor BPP : 1
-Kantor Penyulu KB : 1
- Puskesmas : 1
6. Posyandu : 2
Jenis pekerjaan warga ada yang PNS, Petani, Tukang dan pekerjaan paling dominan adalah petani sawah.
65
Berbagai permasalahan di Desa Balla Satanetean secara umum masih seputar pembangunan yang masih kurang dan permasalahan yang hampir dirasakan hampir semua masyarakat adalah masalah pertanian seperti bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Luasnya kebun kakao yang dimiliki masyarakat namun tidak memberikan hasil yang baik karena selalu gagal panen.
Secara umum masalah mendasar yang dialami oleh masyarakat Desa yaitu pemenuhan atas hak-hak dasar yang masih sangat rendah. Gambaran kondisi dan masalah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sarana dan Prasarana Permukiman - Jalan Desa
Jalan desa sebagian besar sudah di beton . Jalan yang menghubungkan antar dusun kondisinya pada umumnya berlubang atau tidak rata, berdebu pada musim kemarau. Kondisi jalan ini terjadi pada sebagian dusun, termasuk jalan tani yang biasa digunakan warga desa menuju dan kembali dari lahan pertanian atau perkebunan mereka.
- Kepemilikan Rumah
Rumah tinggal adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat, karena sebagai tempat inggal untuk masyarakat. Namun di Desa Balla Barat akibat kemiskinan, masih banyak rumah tangga yang memiliki rumah yang tidak layak huni, bahkan ada beberapa rumah tangga yang belum memiliki rumah, akibatnya masih menumpang di rumah orang tua atau keluarga
66
2. Pertanian dan Perkebunan
Usaha pertanian dan perkebunan adalah kegiatan pokok yang dilakukan warga untuk menopang kehidupan mereka. Kegiatan utama sekaligus menjadi sumber mata pencahaian adalah bertani/berkebun.
Tanaman pokok warga adalah padi, kakako dan kopi.
Usaha untuk bertani padi telah dilakukan dengan menggarap sawah, namun sangat terkendala pada peralatan untuk membuka lahan, sehingga petani tidak serempat menggarap sawah karena harus bergiliran untuk menggarap sawah. Masalah lainnya, karena mereka tidak mempunyai bibit unggul, wabah serangan hama, harga pupuk yang tidak terjangkau, kelompok tani tidak aktif serta penyuluh lapangan yang belum maksimal menjalankan tugasnya bagi masyrakat tani. Permasalahan untuk kebun kakao sangat parah karena pohon kakaonya sangat subur namun setelah panen buahnya menjadi busuk.
3. Peternakan
Mayoritas masyarakat memelihara babi, namun paling banyak satu rumah tangga tiga ekor . Dari beternak babi, masyarakat bisah memiliki penghasilan jika ternak babi mereka terjual, bahkan sampai membiayai anak mereka untuk berdekolah sampai pada perguruan tinggi. Yang menjadi persoalan kareana masyarakat Desa Balla Barat kekurangan bibit babi.
Selain itu, masyarakat Desa juga mempunyai lahan yang cukup luas untuk memelihara kerbau, namun bibit kerbau yang tidak ada. Kerbau juga
67
bagi masyarakat desa Balla Satanetean sangat potensial untuk dijadikan pengahasilan tetap bagi masyarakat, karena berkaitan dengan acara adat khususnya pesta upacara kematian yang sering dilakukan masyarakat Mamasa, dimana pesta upacara kematian jumlah kerbau yang disembelih bisah puluhan ekor bagitupun dengan babi.
4. Perekonomian
Ada beberapa kegiatan warga desa yang dianggap cukup memberi dukungan bagi usaha peningkatan perekonomian desa seperti hasil kebun kopi, Sayur, usaha kerajianan tenun, usaha anyaman tikar, usaha pertukangan, namun usaha ini masih sangat sederhana karena keterbatasan modal dan peralatan kerja, serta rendahnya kemampuan/keterampilan para pekerja sesuai bidang yang digeluti masyarakat
5. Kesehatan
Puskesmas Kecamatan Balla terletak di Desa Balla Satanetean jadi akses Masyarakat dekat,tapi yang menjadi persoalan adalah pegawai puskesmas cepat dan masyarakat yang sakit jarang di tangani. Obat obatannya juga kurang lengkap.
c. Sejarah Pembangunan Kantor Desa
Atas prakarsa dari seluru Warga Desa Balla Satanetan bergotong royong di bangun Kantor Desa secara darurat pada tahun 1987.Pada Tahun 2015 kantor Desa yang di bangun secara darurat di pindahkan ketempat yang sekarang dan mulai di bangun Kantor Desa lebih Layak dan di gunakan sampai sekarang