يِذَّلا )
C. Pembahasan Temuan
1. Penerapan metode qiraati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di Ma’had Al-
Markazul Islami Pattani Thailand Selatan
Tujuan pendidikan merupakan komponen penting dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Adapun tujuan Ma’had Al-Markazul Islami (Chumchon Islam Seksa Foundation School) adalah peserta didik yang unggul dalam pembelajaran al-Qur’an dan bahasa asing seperti yang tertera dalam brosur penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2016/2017. Jadi penerapan metode qiraati diterapkan di sekoah ini untuk tujuan agar peserta didik dapat unggul dalam pembelajaran al-Qur’an.
Hal ini sesuai dengan visi dan misi qiraati, “unggul dalam baca tulis al-Qur’an pengalaman al-Qur’an dan berakhlaqul karimah”.118
Pembelajaran al-Qur’an menggunakan metode qiraati merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri dan memiliki alokasi waktu tersendiri hal ini sebagai tertera dalam jadwal mata pelajaran.
118 Syafruddin, Studi al-Qur’an, 100.
Penerapan metode qiraati di Ma’had Al-Markazul Islami terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik, yang awal mulanya dipelopori oleh Ustadzah Cikni’yoh Mustapa dan Ustadz Syafi’i Ahmad. Dibandingkan dengan sebelum menerapkan metode ini. Dengan berbagai bukti guru yang memiliki syahadah serta peserta didik yang lulus tashih dan mendapatkan syahadah setiap tahunnya.
2. Pelaksanaan metode qiraati dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an di Ma’had A-Markazu Islami Pattani Thailand Selatan
Membaca al-Qur’an merupakan kunci dalam menguasai segala bidang ilmu pengetahuan. Karena a- Qur’an merupakan sumber ilmu bagi kita. Termasuk bidang ilmu pendidikan Agama Islam yang tak dapat dipungkiri lagi pasti menggunakan al-Qur’an sebagai rujukan pertama.
Kemampuan membaca al-Qur’an hendaknya mulai diterapkan pada diri anak sejak dini. Dan untuk meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an ini perlu sebuah metode pembelajaran al-Qur’an. Kita tahu banyak sekali macam dari metode pembelajaran al-Qur’an, salah satunya adalah metode qiraati dari Indonesia.
a. Waktu pelaksanaan metode qiraati
Berdasarkan penyajian data diatas, waktu pelaksanaan pembelajaran a-Qur’an dengan menggunakan metode qiraati pada tahun pelajaran 2016/2017 di Ma’had Al-Markazul Islami berdasarkan hasil wawancara tersebut adalah terbagi menjadi dua waktu. Pada semester ganjil dilaksanakan pada pagi hari (pukul 07.50 - 08.55), sebelum kegiatan belajar mengajar formal dilaksanakan dengan diawali dengan shalat Dhuha berjamaah sedangkan pada semester genap dilaksanakan pada siang hari sebelum istirahat shalat Dzuhur berjamaah yaitu pada (pukul 11.20 - 12.20).
Durasi pembelajaran al-Qur’an (qiraati) sebagaimana ditetapkan oleh sekolah yaitu selama 1 jam.
Di sekolah ini, pelaksanaaan pembelajaran qiraati dalam setiap kelasnya terdiri dari 8-14 orang, baik di tingkat jilid, gharib atau al-Qur’an.
Menurut Syafruddin, kelas ideal untuk jilid 1 dalam setiap kelasnya adalah 15 orang dan untuk jilid 2 keatas, idealnya dalam setiap kelas terdiri dari 20 orang peserta didik dengan 1 orang guru.119
119 Syafruddin, Studi al-Qur’an, 103.
Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa sekolah ini telah memenuhi standar kelas ideal sebagaimana teori yang dikemukakan Syafruddin.
b. Amanah metode qiraati
Di Ma’had Al-Markazul Islami, tidak semua guru yang ada disana dapat mengajar materi qiraati, hanya orang-orang tertentu dan memiiki syahadah. Atau bagi yang belum memiliki syahadah harus mengikuti pembinaan qiraati barulah diperbolehkan mengajar.
Hal ini telah sesuai dengan amanah qiraati untuk para guru qiraati, menurut penyusunya yaitu KH. Dahlan Salim Zarkasy yaitu “tidak semua orang boleh mengajar qiraati tapi semua orang boleh diajari qiraati”. Dan
“wajib mengadakan pembinaan guru-guru yang belum bersyahadah”.
Di sekolah ini juga, sebanyak 7 orang guru sudah memiliki syahadah qiraati. Itu artinya, sekilah ini telah melaksanakan amanah qiraati untuk lembaga yang berbunyi “minimal ada 1 orang guru yang bersyahadah”.
Sehingga hak itu sudah dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan ini diperbolehkan dan layak untuk menerapkan metode qiraati.
c. Prisip Dasar Metode Qiraati
Prinsip-prinsip dasar pembelajaran dalam metode qiraati ada dua, prinsip untuk guru dan peserta didik. Berdasarkan penyajian data diatas bahwa guru pengajar qiraati di Ma’had Al-Markazul Islami harus berpegang pada prinsip yang ditentukan qiraati yaitu tidak boleh menuntun bacaan peserta didik ketika mengajar, guru hanya boleh member cntoh bacaan sekadar 1 baris saja. Dan ketika bacaan peserta didik ada yang salah, hanya diperbolehkan menegur dan menunjuk letak kesalah membacanya.
Karena kendala utama yang dihadapi oleh kepala bagian al-Qur’an sekolah ini adalah masih ada guru yang menaikkan halaman peserta didik atas dasar kasihan, sehingga ketika tashih kepada kepala bagian al- Qur’an sekolah, banyak peserta didik yang tidak lulus.
Ini menunjukkan bahwa pendidikan masih belum tegas dalam menjalankan proses belajar mengajar di kelas.
Teori yang dikemukakan oleh penyusun qiraati, KH. Dahlan Salim Zarkasy bahwa prinsip dasar yang harus dipegang oleh guru ada dua, tiadak menuntun (DAK-TUN) dan teliti waspada tegas (TI-WAS-GAS).120
120 Korcab Lumajang, Sistem Pengajaran Metode Qiraati, 5.
Hal ini berarti bahwa prinsip dasar qiraati untuk guru di sekolah ini belum dilaksanaan dengan baik.
Karena dari dua prinsip itu, hanya 1 prinsip yang dilaksanakan.
Begitu juga dengan cara membaca peserta didik di sekolah ini lebih ditekankan pada tartib, atau belajar mandiri tanpa dituntun guru. Dan hal ini juga telah sesuai dengan prinsip peserta didik yang pertama seperti yang dikemukakan oleh penyusunnya, KH. Dahlan Salim Zarkasy yang tercantum dalam buku Syafruddin yaitu cara Siswa Aktif dan Mandiri (CBSA+M).121
Sedangkan berkenaan dengan prinsip peserta didik yang kedua, di sekolah ini belum dilaksanakan dengan maksimal. Beberapa keluhan dari pengajar qiraati sendiri baik dari guru tingkat jilid 1 sampai tingkat al- Qur’an, menurut mereka masih ada peserta didik yang belum lancar, fasih bahkan ada yang belum paham kaidah tajwaid bagi mereka yang akan khatam.
Padahal teori tentang prinsip dasar untuk peserta didik yang kedua mengemukakan bahwa dalam
121 Syafruddin, Studi al-Qur’an, 107.
membaca peserta didik harus “Lancar Cepat Tepat dan Benar (LCTB)”.122
Jadi prinsip dasar qiraati yang digunakan di Ma’had Al-Markazul Islami ini belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik, baik prinsip dasar guru maupun peserta didik.
d. Target Metode Qiraati
Di Ma’had Al-Markazul Islami, target yang diharapkan dengan pembelajaran qiraati ini adalah “agar pengajar mampu meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an dengan tartil dan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid”. Di lembaga ini juga menggunakan cara membaca/tempo bacaan tartil, membaca dengan lambat/pelan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan tahqiq, membaca dengan bacaan yang lebih lambat dari tartil, lazim digunakan untuk mengajarkan al-Qur’an sehingga peserta didik lebih mudah untuk mempraktekkannya.
Menurut penyusun dan pengarang qiraati, target metode qiraati adalah mampu membaca al-Qur’an dengan bacaan taeti dan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid yang mutawatir dari Rasulullah SAW, bukan
122 Syafruddin, Studi al-Qur’an, 107.
hanya dapat membaca al-Qur’an. Begitu juga kaitannya dengan teori tempo bacaan kaitannya dengan kemampuan membaca al-Qur’an dalam bukunya Ummi Rif’ah, terbagi menjadi empat jenis, yaitu: 1) tartil, 2) tahqiq, 3) hadr, 4) tadwir.123 Berdasarkan teori tersebut, target di sekolah ini sudah sangat representatif untuk dijadikan sebagai sasaran untuk meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an.
Untuk mencapai target tersebut, dalam pembelajarannya buku panduan yang digunakan sekolah ini adaah buku jilid 1-3 serta buku gharib. Buku panduan 3 jilid ini sebagaimana tercantum dalam buku bahwa buku itu karangan KH. Dahlan Salim Zarkasy dan penerbitnya dari Selangor, Malaysia sedangkan buku gharib yang digunakan tidak memiliki judul
“gharib/musykilat” akan tetapi “Panduan Membaca al- Qur’an Al-Karim Mushaf Rasm Usmani”, karya orang Pattani.
Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh KH.
Dahlan Salim Zarkasy bahwa beliau menyusun berbagai
123 Ummi Rif’ah, Pedoman Tilawah, 9.
macam buku qiraati sesuai dengan usia peserta didiknya, antara lain untuk SLTP/SLTA.124
Berdasarkan hal tersebut, menurut peneliti buku yang digunakan sudah mengacu pada ketentuan qiraati dan sudah mencakup indikator kemampuan membaca al- Qur’an. Bahkan terdapat nilai lebihnya ketika mengajarkan gharib, karena buku yang digunakan mengandung materi yang memiiki nilai lebih.
e. Materi pelajaran Qiraati
Di Ma’had Al-Markazul Islami materi yang diberikan kepada peserta didik dibagi menjadi dua macam yaitu materi pokok dan materi tambahan. Adapun materi pokok qiraati yang diberikan di sekolah ini adalah mampu membaca al-Qur’an dengan lancar dan benar.
Adapun materi julid 1 yang diajarkan di sekolah ini sebagaimana tercantum dalam buku panduan jilid 1, secara garis besar meliputi: pengenalan huruf-huruf hijaiyah, pelafalan makharijul huruf yang tepat, bacaan huruf berangkai dalam 1 suku kata, pengenalan harakat, dan angka Arab. Materi jilid 2 secara garis besar adalah mengenai bacaan mad, perbedaan “al” syamsiyah dan qomariyah, huruf lin. Materi jilid 3 secara garis besar
124 Korcab Lumajang, Sistem Pengajaran Metode Qiraati, 5.
adalah pendalaman ilmu tajwid dan makharijul huruf seperti ikhfa’, ghunnah, tarqiq tafkhim dalam lafadz jalaah, iqlab, qolqolah, fawatihussuwar, hukum nun mati, mim mati, nun tasydid dan mim tasydid, dan terakhir tentang membaca bacaan al-Qur’an yang sesungguhnya (latihan membaca sebagian surah Yasin dan Shad).
Sedangkan buku gharib yang digunakan tidak seperti buku gharib di Indonesia. Dalam buku karangan orang Pattani ini, terdiri dari 3 bagian. Diawali dengan materi pelajaran sejarah pengumpulan al-Qur’an kemudian bagian kedua dan ketiga membahas tentang bacaan gharib dan musykilat dalam al-Qur’an. Hal ini sudah sesuai dengan indikator kemampuan membaca al- Qur’an yaitu menguasai bidang tajwid, tepat pengucapan makharijul huruf dan gharib. Hal ini menjadi nilai lebih tersendiri bagi sekolah ini. Karena selain mengajarkan bacaan gharib pada peserta didik juga mengajarkan sejarah al-Qur’an khususnya sejarah pengumpulannya.
Berdasarkan hasil temuan di lapangan, peneliti menemukan materi bagian pertama pada buku ini telah disampaikan dan diajarkan kepada peserta didik tingkat gharib.
Adapun materi penunjang (tambahan) yang menjadi materi qiraati di sekolah ini adalah sebagaimana yang tertera dalam buku penilaian qiraati milik sekolah tahun pelajaran 2016/2017 seperti menghafal asmaul husna, surat-surat pendek dalam juz 29 dan 30, bacaan wirid setelah sholat fardhu, do’a harian (dari bangun tidur sampai tidur kembali). Berikan dengan materi surat-surat pendek yang terdapat dalam juz 29 dan 30, materi ini dijadikan bahan evaluasi kenaikkan jilid.
Berdasarkan temuan data di sekolah ini, materi tambahan lain untuk peserta didik yang tinggal di pondok adalah dengan mewajibkan mereka untuk menghafal 5 ayat perhari (misal: surah al-Muk), dan setorannya setiap minggu sekali kepada pengasuh pondok, dalam hal ini Ustadz Syafi’i Ahmad.
g. Kelebihan dan Kekurangan Metode Qiraati
Berkaitan dengan kelebihan metode ini, juga tidak lepas dari pandangan pengajar atau peserta didik qiraati sendiri di masing-masing lembaga. Berdasarkan penyajian data sebelumnya bahwa disekolah ini pelaksanaan metode qiraati terbukti efektif dan membuat peserta didik mudah cepat lancar membaca al-Qur’an sekaligus dengan tajwidnya. Dengan waktu kurang dari 2
tahun, peserta didik dapat khatam al-Qur’an 30 juz (binnadhor) serta ada yang telah lulus tashih dan mendapatkan syahadah (ijazah). Di sekolah ini telah terbukti dengan salah satu peserta didik yang bernama Salwani Akhong yang dalam kurang lebih 3 tahun sudah memiliki syahadah qiraati. Dan sekarang mengajar peserta putri jilid 3. Selain itu terdapat petunjuk mengajar pada setiap halaman buku sehingga mudah bagi guru untuk mengajar serta dapat prinsip bagi guru dan peserta didik.
Sedangkan salah satu kekurangan metode ini adalah kelulusan qiaati tidak ditentukan oleh waktu, khususnya yang terjadi di sekolah ini bahwa peserta didik kelas 3 Sanawi ada yang masih duduk di kelas gharib, sehingga ia tak wajib untuk lulus qiraati. Akan tetapi bagi peserta didik yang sudah di tingkat al-Qur’an maka mereka harus cepat-cepat menyelesaikan dengan belajar setiap hati agar lulus qiaati.
Begitu pula teori qiraati tentang kelebihan dan kekurangan qiraati, sebagaimana tercantum dalam buku Syafruddin yang menyatakan bahwa kelebihan qiraati adalah peserta didik dapat membaca dengan lancar serta menguasai ilmu tajwid dan gharib. Serta dapat petunjuk
mengajar pada setiap halaman buku sehingga mudah bagi guru untuk mengajar serta terdapat prinsip bagi guru dan peserta didik.125
Berdasarkan hal diatas bahwa karena kelulusan qiraati tidak di tentukan oeh waktu, bulan ataupun tahun, sehingga tidak semua peserta didik yang lulus sekolah juga lulus qiraati, dan hal tersebut telah sesuai dengan teori yang ada.
3. Evluasi Metode Qiraati dalam meningkatkan