• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Prinsip-prinsip Syariah Pasar Modal

BAB II PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP SYARIAH DALAM

B. Penerapan Prinsip-prinsip Syariah pada Bursa Efek

2. Penerapan Prinsip-prinsip Syariah Pasar Modal

Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan NTB.

Penerapan Prinsip-Prinsip Syariah Pasar Modal Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2015 mengenai akad, sebagai berikut:

“Akad syariah adalah perjanjian atau kontrak tertulis antara para pihak yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.”66

Dalam implementasi penerapan Prinsip-Prinsip Syariah Pasar Modal Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2015 mengenai akad, Ibuk Maribella Syawiluna (Staf Administrator Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan NTB), menuturkan:

“Akad Syariah ialah perjanjian atau kontrak tertulis yang digunakan Bursa Efek Indonesia antara lain; saham syariah menggunakan akad musyarakah, kemudian untuk sukuk menggunakan akad ijarah dan mudharabah, sedangkan reksadana syariah menggunakan akad wakalah, Exchange Traded Fund (ETF) Syariah, Efek Beragun Aset (EBA) Syariah, dan Dana Investasi Real Estal (DIRE) Syariah menggunakan akad-akad yang tidak bertentangan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.”67

Ibu Maribella Syawiluna (Staf Administrator Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan NTB) menyebutkan akad yang digunakan dalam transaksi pasar modal syariah, sebagai berikut:

1) Ijarah ialah perjanjian (akad) antara pihak pemberi sewa/pemberi jasa (mu’jir) dan pihak penyewa/pengguna jasa (musta’jir) untuk memindahkan hak guna (manfaat) atas suatu objek Ijarah yang dapat

66 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.04/2015 pasal 4, Tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

67Maribella Syawiluna, (Staf Administrator Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan NTB) Wawancara, Mataram, 25 Agustsus 2020.

berupa manfaat barang dan/atau jasa dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa dan/atau upah (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan objek Ijarah itu sendiri.

2) Istishna adalah perjanjian (akad) antara pihak pemesan/pembeli (mustashni’) dan pihak pembuat/penjual (shani’) untuk membuat objek Istishna yang dibelioleh pihak pemesan/pembeli (mustashni’) dengan kriteria, persyaratan, dan spesifikasi yang telah disepakati kedua belah pihak.

3) Kafalah adalah perjanjian (akad) antara pihak penjamin (kafiil/guarantor) dan pihak yang dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/orang yang berutang) untukmenjamin kewajiban pihak yang dijamin kepada pihak lain (makfuullahu/orang yang berpiutang).

4) Mudharabah (qiradh) adalah perjanjian (akad) kerjasama antara pihak pemilikmodal (shahib al-mal) dan pihak pengelola usaha (mudharib) dengan cara pemilik modal (shahib al-mal) menyerahkan modal dan pengelola usaha (mudharib) mengelola modal tersebut dalam suatu usaha.

5) Musyarakah adalah perjanjian (akad) kerjasama antara dua pihak atau lebih (syarik) dengan cara menyertakan modal baik dalam bentuk uang maupunbentuk aset lainnya untuk melakukan suatu usaha.

6) Wakalah adalah perjanjian (akad) antara pihak pemberi kuasa (muwakkil) danpihak penerima kuasa (wakil) dengan cara pihak pemberi kuasa (muwakkil) memberikan kuasa kepada pihak penerima kuasa (wakil) untuk melakukantindakan atau perbuatan tertentu.68

Efek Syariah berdasarkan Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2015 sebagai berikut:

“Efek Syariah ialah efek sebagaimana dimaksud akad secara pengelolaan, kegiatan usaha, asset yang menjadi landasan akad, cara pengelolaan, kegiatan usaha dan/atau asset yang terkait dengan

68 Dokumentasi Bura Efek Indonesia, www.idx.co.id, diunduh tanggal 30 Agustus 2020.

efek dimaksud dan penerbitnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.69

Pernyataan Bapak Arta Sasmita (Executive Trainer Bursa Efek Indonesi Kantor Perwakilan NTB), mengenai efek syariah dalam implementasi di Bursa Efek Indonesia, dalam penuturannya:

“Perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia adalah perusahaan yang tidak beroperasi di bidang yang mengandung unsur riba, maisir, garaar dan yang melanggar aturan prinsip- prinsip syariah.70

Dewan Pengawas Syariah (DPS) Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2015, sebagai berikut:

“Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah dewan yang bertanggung jawab memberikan nasihat dan saran serta mengawasi pemenuhan prinsip syariah di pasar modal terhadap pihak yang melakukan kegiatan syariah di pasar modal.”71

Pernyataan Bapak Arta Sasmita (Executive Trainer Bursa Efek Indonesi Kantor Perwakilan NTB), mengenai Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam, menuturkan:

“Bursa Efek Indonesia memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertanggung jawab memberikan nasihat dan saran serta mengawasi pemenuhan prinsip syariah di pasar modal terhadap pihak yang melakukan kegiatan syariah di pasar modal, Dewan Pengawas Syariah (DPS) diangkat dan diberhentikan di Lembaga Keuangan Syariah melaui RUPS setelah mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional.”72

69 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.04/2015 pasal 4, Tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

70Arta Sasmita , (Executive Trainer Kantor Perwakilan NTB), Wawancara, Mataram, 25 Agustsus 2020.

71 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.04/2015 pasal 4, Tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

72Arta Sasmita , (Executive Trainer Kantor Perwakilan NTB), Wawancara, Mataram, 25 Agustsus 2020.

Tugas, tanggungjawab dan wewenang Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai berikut:

1. Memastikan dan mengawasi kesesuaian kegiatan operasional pasar modal terhadap fatwa yang telah ditetapkan oleh DSN-MUI..

2. Menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional dan produk yang diikeluarkan emiten.

3. Memberikan opini dari aspek Syariah terhadap pelaksanaan operasional pasar modal secara keseluruhan dan laporan publikasi.

4. Mengkaji produk dan jasa baru yang belum ada fatwa untuk dimintakan fatwa kepada Direksi, Kominsaris dan DSN-MUI.

5. Menyampaikan hasil pengawasan Syariah sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan kepada Direksi, Kominsaris dan DSN-MUI.73

Mengenai Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2015, sebagai berikut:

“Ahli Syariah Pasar Modal adalah orang perseorangan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang syariah atau badan usaha yang pengurus dan pegawainya memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang syariah.”74

Persyaratan wajib yang dipenuhi untuk mejadi Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM), sebagai berikut:

a. Integritas mencakup:

1) Cakap melakukan perbuatan hukum.

2) Memiliki akhlak dan moral yang baik.

73 Dokumentasi Bura Efek Indonesia, www.idx.co.id, diunduh tanggal 30 Agustus 2020.

74 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.04/2015 pasal 4, Tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

3) Tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan/atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan

4) Tidak pernah dikenakan sanksi dalam menjalankan Kegiatan Syariah di Pasar Modal karena tidak sesuai dengan Prinsip Syariah di Pasar Modal, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini, dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait dengan syariah di bidang Pasar Modal selama 3 (tiga) tahun terakhir.

5) Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin, pembatalan persetujuan, dan/atau pembatalan pendaftaran oleh Otoritas Jasa Keuangan selama 3 (tiga) tahun terakhir.

6) Dalam waktu 5 (lima) tahun terakhir tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi pengurus yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perusahaan dinyatakan pailit.

7) Memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang- undangan.

8) Memiliki komitmen terhadap pengembangan Pasar Modal syariah.

9) Memiliki sikap independen dalam melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal.

b. Kompetensi mencakup:

1) Memiliki pendidikan paling rendah strata 1 (satu) atau sederajat.

2) Memiliki pengetahuan memadai di bidang pasar modal, dibuktikan dengan memiliki sertifikat yang diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan dan diterbitkan oleh lembaga pendidikan khusus di bidang pasar

modal berdasarkan rekomendasi dari Komite Standar Keahlia, memiliki izin orang perseorangan dari Otoritas Jasa Keuangan sebagai Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek, atau Wakil Manajer Investasi atau terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal atau memiliki pengalaman kerja pada institusi pengawas Pasar Modal dan/atau organisasi yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang tentang Pasar Modal untuk mengatur dan/atau mengawasi industri Pasar Modal dengan ketentuan: paling sedikit 2 (dua) tahun pada posisi manajerial atau paling sedikit 5 (lima) tahun pada posisi pelaksana, dalam bidang tugas dan fungsi yang terkait pengaturan dan/atau pengawasan Pasar Modal.

3) Memiliki pengetahuan memadai di bidang syariah muamalah yang dibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga yang diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan.

4) memiliki rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional dan Majelis Ulama Indonesia.75

Penyelenggaraan perdagangan efek syariah di Bursa Efek Indonesia telah memiliki dasar atau hukum fiqih yang kuat dan mekanisme berkelanjutan. Sekarang ini pasar modal syariah juga diperkuat dengan adanya fatwa DSN-MUI Nomor 80 tentang penerapan prinsip syariah, dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar regular bursa efek.

75 Dokumentasi Bura Efek Indonesia, www.idx.co.id, diunduh tanggal 30 Agustus 2020.

Dengan adanya fatwa prinsip syariah tersebut, masyarakat, investor pasar modal dan calon investor dapat memperhatikan perinsip syariah sehingga tidak ada keraguan lagi.

Dari hasil penilitan yang dilakukan peneliti dalam penerapan prinsip- prinsip syariah di Bursa Efek Indonesia khususnya Kantor Perwakilan NTB berdasarkan Peraturan OJK Nomor: 15/POJK.04/2015. Bursa Efek Indonesia di Kantor Perwakilan NTB menggunakan akad dalam transaksi pasar modal syariah, yaitu akad ijarah, istishna, kafalah, mudharabah, musyarakah dan wakalah. Seperti saham syariah menggunakan akad musyarakah, kemudian untuk sukuk menggunakan akad ijarah dan mudharabah, sedangkan reksadana syariah menggunakan akad wakalah, Exchange Traded Fund (ETF) Syariah, Efek Beragun Aset (EBA) Syariah, dan Dana Investasi Real Estal (DIRE) Syariah menggunakan akad-akad yang tidak bertentangan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

C.Mengembangkan Pasar Modal Syariah pada Bursa Efek Indonesia