BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
7. Pengecekan keabsahan Data
Setelah peneliti melakukan analisis data, langkah selanjutnya adalah menguji kredibilitas atau keabsahan data yang tujuannya untuk mengetahui apakah data yang diperoleh itu sesuai dengan keadaan di lapangan (lokasi penelitian). Keabsahan data ini bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang didapat oleh peneliti sesuai dengan apa yang ada dengan kenyataan di lokasi penelitian.
Untuk memperoleh data yang kredibel dan obyektif serta dapat dijamin keabsahannya, maka peneliti menggunakan beberapa teknik diantaranya (a) ketekunan pengamatandan (b) triangulasi.Berikut penjelasan mengenai masing-masing teknik.47.
a. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan isu atau yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.Ketekunan pengamatan ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data yang benar-benar rinci dan valid yang sesuai dengan realita dilapangan48.
b. Triangulasi
Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.
47 Lexy.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,2006), h.326
48Lexy.J. Moleong, Metodologi Penelitian, h. 327-329.
Triangulasi dengan sumber, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Pada triangulasi dengan teknik, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner.Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut,menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.49
Dalam penelitian ini peneliti telah melakukan triangulasi dengan sumber kaitannya dengan rumusan masalah yang sedang diteliti yaitu tentang pola interaksi pembelajaran serta implikasinya terhadap sikap sosial siswa.Menurut kepala madrasah, guru mata pelajaran aqidah akhlak menggunakan pola interaksi dalam kegiatan belajar mengajar didalam kelassesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat oleh guru tersebut.Dari hasil triangulasi dengan guru mata pelajaran aqidah akhlak, guru tersebut menggunakan pola interaksi pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga penyampaian materi lebih mudah dipahami
49Lexy.J. Moleong, Metode Penelitian, h. 241
oleh siswa. Sedangkan menurut sumber dari siswa kelas V yang telah dipilih, gurumata pelajaran aqidah akhlak menggunakan pola interaksi dalam proses pembelajaran, sehingga siswa lebih mudah untuk memahaminya dan tidak mudah bosan dengan satu kegiatan saja dalam satu mata pelajaran.
Dari triangulasi sumber yang telah dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa guru mata pelajaran aqidah akhlak menggunakan pola interaksi pembelajaran dalam mengajarkan aqidah akhlak sesuai dengan materi yang disampaikan, tujuannya supaya siswa mudah untuk memahami materi dan tidak bosan dengan satu interaksi saja didalam kelas.
Triangulasi sumber dari rumusan masalah yang kedua yaitu bagaimana implikasi dari pola interaksi pembelajaran dalam pembentukan sikap sosial siswa. Menurut guru mata pelajaran aqidah ahklak, guru memberikan contoh dengan berinteraksi langsung dengan siswa sehingga siswa akan tetap mengingat materi yang telah dipelajari karena telah mempraktikkan langsung didalam kelas. Siswa akan lebih mudah mengingat ketika sudah praktik daripada menghafal. Dengan melakukan praktik langsung guru juga mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa mampu memahami dan bersikap baik dilingkungannya.
Dari pola interaksi pembelajaran yang dilakukan oleh guru didalam kelas, siswa mendapat contoh atau teladan yang mereka
ikuti dilingkungannya, baik disekolah maupun diluar sekolah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implikasi dari pola interaksi pembelajaran dalam mata pelajaran aqidah akhlak yaitu, selain dari materi yang diajarkan untuk menanamkan sikap sosial kepada siswa, guru juga memberikan contoh secara langsung dan mengaitkannya dengan kehidupan-sehari-hari supaya siswa dapat memahami materi yang telah disampaikan dan mempraktikkannya dalam kehidupannya dalam bentuk sikap sosial.
Sedangkan yang dimaksud dengan triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data yang ditujukan untuk memperoleh informasi yang serupa.Triangulasi metode dilakukan secara bersamaan dalam suatu kegiatan wawancara dengan para responden yang ada pada MIN 2 Kota Mataram.Tujuan triangulasi ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih konsisten dan pasti.
Dalam triangulasi metode ini, peneliti menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang lebih konsisten. Dari metode wawancara yang telah dilakukan kepada sumber data bahwa pola interaksi pembelajaran yang digunakan oleh guru mata pelajaran aqidah akhlak disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan supaya siswa mudah untuk memahaminya. Kemudian dari metode observasi yang telah dilakukan oleh peneliti ketika proses belajar mengajar berlangsung,
guru mata pelajaran aqidah akhlak ketika berinteraksi didalam kelas menggunakan metode yang bervariasi, sesuai dengan pembahasan, mulai dari tanya jawab dan berdiskusi.
Sedangkan dari metode dokumentasi, guru mata pelajaran aqidah akhlak memang menggunakan pola interaksi dalam proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dapat disimpulkan bahwa guru mata pelajaran aqidah akhlak memang menggunakan pola interaksi pembelajaran dalam proses pembelajaran.
Triangulasi metode dari rumusan masalah yang kedua yaitu implikasi pola interaksi pembelajaran dalam pembentukan sikap sosial siswa.Dari metode wawancara dengan sumber data, implikasi dari pola interaksi pembelajaran ini siswa dapat mencontoh guru didalam kelas ketika mempraktikkan kemudian mempraktikkannya kembali dilingkungannya. Kemudian dari metode observasi, siswa mempraktikkan apa yang sudah mereka pelajari didalam kelas, siswa melakukan hal ini tidak hanya karena diajarkan didalam kelas teapi juga mencontoh hal-hal baik yang dilakukan oleh guru mereka ketika berada diluar kelas.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implikasi dari pola interaksi pembelajaran dapat menumbuhkan sikap sosial yang baik terhadap diri siswa, di dapat dari pelajaran yang diajarkan oleh guru dan juga sikap baik yang ditunjukkan guru dilingkungan sekolah.