• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Sikap sosial

a. Pengertian Sikap

Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relative menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengaan demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya20.

Sikap adalah kecendrungan seseorang melihat “sesuatu”

secara mental yang mengarah pada prilaku yang ditujukan pada orang lain, ide, obyek dan kelompok tertentu. Sikap adalah

19Ibid, h. 5

20Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h.

118.

predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek. Sikap merupakan variabl laten yang mendasari, mengarahkan dan mempengaruhi prilaku. Jadi, sikap merupakan pendirian seseorang dalam bertindak atau melakukan sesuatu tindakan tertentu atau pendirian dalam merespons suatu objek tertentu dalam kehidupan.

Dalam pengertian umum, sikap dipandang sebagai seperangkat reaksi-reaksi afektif terhadap objek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu.Dengan demikian, sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh bawaan (factor intern) seseorang, serta tergantung terhadap objek tertentu.

Menurut prof. Dr.Mar’ at, meskipun belum lengkap Allport telah menghimpun sebanyak 13 pengertian mengenai sikap.Dari 13 pengertia itu dapat dapat dirangkum menjadi 11 rumusan mengenai sikap. Rumusan umum tersebut adalah:

1. Sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (attitudes are learned).

2. Sikap selalu dihubungkan dengan objek seperti manusia, wawasan, peristiwa maupun ide (attitudes have referent).

3. Sikap diperoleh dengan berinteraksi dengan manusia lain baik dirumah, sekolah, tempat ibadat ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan atau percakapan (attitudes are social learnings).

4. Sikap sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek (attitudes have readiness to respond).

5. Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif, seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negative atau ragu (attitudes are affective).

6. Sikap memiliki tingkat intensitas terhadap objek tertentu yakni kuat atau lemah (attitudes are very intensive)

7. Sikap bergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai, sedangkan disaat dan situasi yang berbeda belum tentu cocok (attitudes have a time dimension).

8. Sikap dapat bersifap relative consistent dalam sejarah hidup individu (attitudes have duration factor).

9. Sikap merupakan bagian dari konteks persepsi ataupun kognisi individu (attitude are complex).

10. Sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan (attitudes are evaluations)

11. Sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indicator yang sempurna atau bahkan tidak memadai (attitudes are inferred)21.

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa sikap merupakan predis posisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap objek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi.Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara kompleks. Sikap yang ditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berfikir, merasa dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap suatu objek.

Sifat keperibadian yang harus dimiliki oleh guru, misalnya dapat menerima orang lain, berfikiran terbuka, berpandangan luas, menghargai orang lain, objektif dan menyadari keadaan diri sendiri. Sifat-sifat keperibadian seperti ini memiliki latar belakang kemampuan dasar seperti sikap toleransi, menghormati martabat orang lain, percaya terhadap diri sendiri, dapat dipercaya, jujur dan suka menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan.

21Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), h. 215.

Nilai-nilai ini sebagai cerminan guru dalam proses pembelajaran dikelas22.

Berdasarkan uraian diatas sikap merupakan hasil dari proses belajar dan berfikir, sikap tidak terbentuk sejak lahir, tetapi sikap terbentuk dari pengalaman dan proses interaksi sehari-hari dengan orang lain.

b. Pengertian Sikap Sosial

Sikap sosial adalah cara menghadapi orang lain setelah mendapat pengalaman yang berulang kali dalam pergaulan. Sikap social mereka setelah masuk sekolah tampaknya mulai terjadi perubahan besar,yangdahulunya hanya berhadapan dan bergaul dengan teman sebaya yang berasal dari satu kampung saja sekarang pergaulannya telah mulai luas. Wawasan sosialnya mulai luas, sehingga sikap sosialnya yang dahulu agak kaku, sekarang telah menjadi luwes (tidak kaku) ia mudah menyesuaikan diri dengan keadaan barunya, karena ia telah menjadi warga sekolah tanpa ada perbedaan status social dan lingkungan antar peserta didik lainnya23.

Sikap sosial yang terbuka dalam pergaulan ini hendaknya oleh sekolah dikembangkan, sehingga jiwa kesosialan ini, kebangsaannya semakin berkembang melalui bidang studi sejarah perjuangan bangsa (PSPB), ilmu bumi dan sebagainya.Bila ada sekelompok peserta didik yang tampaknya kurang dalam pergaulannya, seperti cenderung mengisolasi diri, membentuk kelompok tertentu yang mengarah kepada pemisahan diri atau eksklusif, maka tugas pendidik memperbaiki sikap jiwa mereka dan kembali mengarahkan kepada pergaulan sosial.Salah satu

22Sjarkawi, Pembentukan Keperibadian Anak (Jakarta: PT Bumi Aksara,2010), h. 30.

23Fuad Ikhsan, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2005), h.82.

upaya misalnya melalui kegiatan olah raga, atau kegiatan yang menghendaki orang banyak seperti gotong royong membersihkan kelas atau halaman sekolah.Manfaat dari sikap sosial yang terbuka ini supaya peserta didik tidak merasa dicampakkan oleh orang yang ada disekitarnya, bergaul dengan orang-orang disekilingnya juga dapat memberikan pengalaman serta dapat belajar dari orang lain.

Menurut Linda dan Richard Eyre, contoh selalu menjadi guru yang baik sekaligus berdampak luas, lebih jelas, dan lebih berpengaruh dari pada perkataan.24Hal itu mudah dipahami mengingat kecendrungan meniru ada pada setiap manusia, bukan saja pada anak-anak melainkan juga orang dewasa.Hanya saja terdapat pebedaan dalam intensitasnya. Menurut Ramayulis, dalam segala hal, anak merupakan peniru yang ulung. Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak.25 Senada dengan pendapat itu, Imam Bawani mengemukakan bahwa anak-anak pada usia tertentu cenderung meniru dan mengambil alih apa saja yang ada, tanpa mengetahui manfaat dan mudharatnya.26

24Linda dan Richard Eyre, Mengajar Nilai-Nilai Kepada Anak(Jakarta: Gramedia,1995), h.29

25Jalaludin dan Ramayulis.Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), h.

30.

26Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan Dalam Konteks Pendidikan Islam, (Surabaya:

Bina Ilmu, 1990), h103

Manusia banyak belajar tentang berbagai kebiasaan dan tingkah laku melalui proses peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku kedua orang tua dan saudara-saudaranya, kecendrungan anak untuk belajar melalui peniruan menyebabkan pendekatan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Bahkan manusia pada umumnya senantiasa cenderung meniru yang lainnya dan dalam hal ini Rasulullah SAW merupakan teladan yang terbaik bagi umat Islam27.

Seorang guru harus mencerminkan sikap-sikap yang baik kepada peserta didiknya untuk ditiru dan sebagai proses dalam membentuk sikap sosial baik didalam kelas maupun diluar kelas.

Pendidikan moral yang didapat oleh seseorang akan dapat membantu orang tersebut dalam pembentukan keperibadian yang baik dan moralitasnya. Pendidikan budi pekerti adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur28.

Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang adalah amal saleh, amanah, baik sangka bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berdisiplin, berhati lapang, beriman dan bertaqwa, bersemangat, bersyukur, bertenggang rasa, bertanggung jawab, bijaksana,cerdas, cermat, hemat, ikhlas, jujur, menghargai

27Bukhari Umar, Hadis Tarbawi ,(Jakarta: Amzah, 2015), h. 190.

28Ibid, h.22

orang lain, menghargai pendapat orang lain29 dan masih banyak lagi perilaku positif yang harus ditanamkan pada diri seseorang dalam bergaul baik dirumah, sekolah dan masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas sikap sosial yaitu Sikap yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan dirumah, sekolah, tempat ibadat ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan atau percakapan. Dan dalam lingkungan siswa mampu berdisiplin, berhati lapang, beriman dan bertaqwa, bersemangat, bersyukur, bertenggang rasa, bertanggung jawab, bijaksana, das, cermat, hemat, ikhlas, jujur, menghargai orang lain, menghargai pendapat orang lain.

c. Bentuk-Bentuk Sikap Sosial

Dalam pergaulan sehari-hari, tidak pernah terlepas dari apa yang dinamakan beraktivitas, dari kenyataan inilah setiap orang bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan perkembangan masing-masing individu tersebut. Dengan demikian, setiap orang harus mampu berinteraksi dan memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Adapun bentuk-bentuk sikap sosial dapat dibedakan menjadi dua yaitu30:

1) Sikap positif

29Ibid, h.34.

30Ani endriani, “bentuk-bentuk-sikap-sosial”, dalam

http://aniendriani.blogspot.co.id/2011/03, diakses tanggal 04 oktober 2017, pukul 7.54 WITA.

Dalam buku Interaksi Sosial dijelaskan bahwa: “Bentuk sikap sosial yang positf seseorang yaitu berupa tenggang rasa, kerjasama, dan solidaritas”31. Selanjutnya dalam buku Metodologi Ilmu Pengetahuan Sosial dijelaskan bahwa: “ Sikap sosial dapat dilihat dari adanya kerjasama, sikap tenggang rasa, dan solidaritas”32

Dari kedua pendapat tersebut diatas, maka tidak ada perbedaan yang mendasar dimana yang termasuk dalam bentuk sikap sosial adalah aspek kerjasama, aspek solidaritas, dan aspek tenggang rasa. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat dari masing-masing bentuk-bentuk sikap sosial tersebut.

a) Aspek Kerjasama

Kerjasama merupakan suatu hubungan saling bantu membantu dari orang-orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan. Dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa: “ Kerjasama adalah kecenderungan untuk bertindak dalam kegiatan kerja bersama-sama menuju suatu tujuan”33

Dengan demikian sikap kerjasama adalah merupakan suatu kecenderungan untuk bertindak dalam kegiatan kerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

31Nawawi, Intereksi Sosial (Jakarta: Gunung Agung, 2000), h.33

32Soetjipto dan Sjaefieoden, Metodologi Ilmu Sosial (Jakarta: rineka cipta, 1994), h.44

33Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h.89

Selanjutnya dalam buku Pedoman Umum Budi Pekerti dijelaskan bahwa: “Ciri-ciri orang yang mampu bekerjasama dengan orang lain adalah berperan dalam berbagi kegiatan gotong royong tidak membiarkan teman atau keluarga mengalami suatu masalah secara sendiri dan bersikap mengutamakan hidup bersama berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah”34

b) Aspek Solidaritas

Solidaritas mempunyai arti adanya kecenderungan seseorang dalam melihat ataupun memperhatikan keadaan orang lain. Menurut Gerungan dalam bukunya Psikologi Sosial dijelaskan bahwa: “Solidaritas dapat diartikan sebagi kecenderungan dalam bertindak terhadap seseorang yang mengalami suatu masalah yakni berupa memperhatikan keadaan orang tersebut”35. Dengan demikian solidaritas merupakan salah satu bentuk sikap sosial yang dapat dilakukan seseorang dalam melihat ataupun memperhatikan orang lain terutama seseorang yang mengalami suatu masalah.

c) Aspek Tenggang Rasa

34Depdikbud,Pedoman Pembinaan Program Bimbingan di Sekolah, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h.28.

35Ibid, h.52.

Dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa:

“Tenggang rasa adalah seseorang yang selalu menjaga perasaan orang lain dalam aktifitasnya sehari-hari”36. Selanjutnya dalam buku Pedoman Pedoman Umum Budi Pekerti dijelaskan bahwa: “Sikap tenggang rasa dapat dilihat dari adanya saling menghargai satu sama lain, menghindari sikap masa bodoh, tidak menggangu orang lain, selalu menjaga perasaan orang lain, dalam bertutur kata tidak menyinggung perasaan orang lain, selalu menjaga perasaan orang lain dalam pergaulan dan sebagainya”37. Dengan demikian dari pendapat ahli jelaslah bahwa tenggang rasa adalah perwujudan sikap dan prilaku seseorang dalam menjaga, menghargai dan menghormati orang lain.

2) Sikap negatif38

Sikap negatif : sikap yang menunjukan atau memperlihatkan, penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma- norma yang berlaku dimana individu itu berada.

36Ahmadi, Psikologi..., h.34.

37Depdikbud, Pedoman..., h.29.

38Himasio Unsyiah, “sikap-sosial”, dalam http://himasio-unsyiah.blogspot.co.id/2011/10, diakses tanggal 04 oktober 2017, pukul 7.56 WITA

Sikap positip atau negatif tentu saja berhubungan dengan norma. Orang tidak akan tahu apakah sikap seseorang itu positif atau negatif tanpa mengetahui norma yang berlaku.

Oleh karena itu untuk menentukan apakah sikap seseorang itu positif atau negatif perlu dikonsultasikan dengan norma yang berlaku.

Disamping itu masing- masing kelompok atau kesatuan sosial memiliki norma- norma sendiri- sendiri yang mungkin saling berbeda atau bahkan bertentangan. Sikap yang diperlihatkan oleh individu dalam kelompok A dianggap atau dinilai sebagai sikap yang negatif, belum tentu sikap yang sama yang diperlihatkan oleh anggota kelompok B juga dinilai sebagai sikap negatif. Masalah sikap negatif atau positif selalu berurusan atau berhubungan dengan norma yang berlaku.