BAB VI STANDAR PENGELOLAAN KSP/USP
D. Pengelolaan Aset dan Hutang KSP/USP
6) Beban Pajak
Beban Pajak adalah beban yang dikeluarkan koperasi berkaitan dengan penghasilan Badan.
D. Pengelolaan Aset dan Hutang KSP/USP
e. Harta benda yang diperoleh dari donasi/ hibah
3. Harta benda yang diperoleh tersebut harus secara transparan dan akuntabel dapat dipertanggungjawabkan oleh pengurus pada Rapat Anggota Tahunan.
4. Mengenai hal penghapusan atau penjualan
Penghapusan dan atau penjualan harta benda KSP/USP dapat dilakukan dengan syarat-syarat:
a. Karena sudah rusak, tidak layak pakai atau kadaluarsa b. Untuk menambah likuiditas atau untuk kepentingan
KSP/USP
c. Untuk memperoleh keuntungan atau manfaat dari hasil penjualan tersebut
5. Penghapusan dan atau penjualan harta benda tersebut dilakukan secara terbuka atau melalui lelang berdasarkan Rapat Pengurus dan Pengawas yang dipertanggunjawabkan pada Rapat Anggota Tahunan.
6. Pengurus dan Pengelola harus tetap memperhatikan agar pinjaman beredar tetap pada tingkat ideal dan sekaligus menurunkan tingkat kelalaian pinjaman dibawah 5%.
7. Rasio likuiditas seperti rasio asset lancar dan pinjaman harus diperhatikan yakni nilai aset lancar adalah 200% (Dua ratus persen) atau 2 (dua) kali hutang lancar atau sesuai yang diputuskan dalam Rapat Anggota.
8. Produk-produk simpanan, khususnya yang belum diminati oleh anggota perlu dievaluasi dan dilakukan survey sesuai kebutuhan anggota sebagai dasar menciptakan produk simpanan.
9. Cadangan Umum harus diperhatikan dan penggunaannya diatur sesuai Rapat Pengurus dan Pengawas yang dipertanggunjawabkan dalam Rapat Anggota.
A. Kesejahteraan Anggota
Sejalan dengan prinsip Koperasi dan GCG Koperasi yakni keadilan, maka kesejahteraan anggota adalah yang paling utama untuk diperhatikan. Kesejahteraan anggota diberikan antara lain:
1. Keadilan dalam pembagian SHU sesuai modal dan jasa.
2. Hak memberikan suara melalui Rapat Anggota.
3. Hak mendapatkan pelayanan yang baik dari pengurus / pengelola KSP/USP.
4. Pemberian suku bunga pinjaman yang tidak memberatkan anggota KSP/USP.
5. Pemberian bonus dan manfaat akhir tahun kepada anggota KSP/USP berdasarkan jasa.
B. Kesejahteraan Pengurus, Pengelola dan Pengawas KSP/USP Dalam meningkatkan kinerja pengurus, pengelola dan pengawas agar KSP/USP berkembang dan berjalan secara berkesinambungan, maka perlu diperhatikan kesejahteraan pengurus/pengelola/pengawas yang meliputi:
1. Pengupahan yang memadai sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR)atau Peraturan Perundangan Daerah dan Peraturan Perundangan Ketenagakerjaan yang berlaku.
2. Mendapatkan pengupahan diluar jam kerja, yang besarnya disepakati dalam Rapat Anggota dan Pengurus.
3. Mendapatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja.
4. Tidak mendapatkan diskriminasi dalam bekerja.
5. Prasarana, sarana dan lingkungan yang nyaman dan mendukung dalam bekerja.
6. Ketenangan dalam melakukan pekerjaan.
7. Mendapatkan pendidikan dan pelatihan dalam bekerja.
8. Hak memperoleh istirahat, cuti dan libur pada saat bekerja sesuai peraturan dan undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku.
C. Program Jaminan Ketenagakerjaan dan Kesehatan
Sesuai salah satu prinsip dalam rangka mewujudkan tata koperasi yang baik (Good Co-operative Governance) yakni untuk meningkatkan profesionalime pengurus dan menjaga kesinambungan koperasi, maka KSP/USP perlu melaksanakan program penjaminan antara lain:
1. Untuk Pengurus, Pengelola dan Pengawas perlu diberikan Program Penjaminan Kesehatan, Penjaminan Kecelakaan Kerja, dan Penjaminan Kematian atau Program Penjaminan Hari Tua.
2. Untuk Anggota, perlu diberikan Program Penjaminan Kematian.
3. Untuk anggota, pendaftaran dilakukan secara kolektif atau individu dan iuran dibayar oleh KSP/USP, yang dananya diambil dari potongan simpanan wajib atau dari Sisa Hasil Usaha.
4. Untuk anggota, besarnya iuran yang dibayarkan disesuaikan dengan kemampuan atau besarnya simpanan wajib anggota KSP/USP.
5. Untuk Pengurus, Pengelola dan Pengawas, pendaftaran dilakukan secara kolektif atau individu dan iuran dibayar
oleh KSP/USP, besarnya iuran yang dibayarkan berasal dari biaya operasional KSP/USP sesuai prosentase dalam besarnya iuran pada jenis program jaminan.
6. Denda keterlambatan pembayaran atau kurang bayar akibat laporan tidak sesuai ditanggung dan dibayarkan oleh KSP/USP.
7. Untuk penambahan iuran untuk peningkatanfasilitas dan manfaat Program Jaminandiserahkan kepada Rapat Anggota.
8. Pelaksanaan program jaminan dapat bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) atau lembaga penjaminan lain yang memiliki reputasi sesuai dengan Rapat Anggota.
9. Untuk pemilihan Jenis dan Lembaga Jaminan diserahkan kepada keputusan Rapat Anggota.
10. Untuk besarnya manfaat tergantung pada lembaga asuransi yang memberikan jaminan tersebut.
D. Program Jaminan Kecelakaan Kerja
1. Memberikan perlindungan atas risiko-risiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju KSP/USP atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.
2. Iuran dibayarkan oleh pemberi kerja yang dibayarkan (bagi Pengurus dan Pengelola atau Pengawas), tergantung pada tingkat risiko lingkungan kerja, yang besarannya dievaluasi paling lama 2 (tahun) sekali, dan mengacu pada mekanisme sebagai berikut:
a. Untuk tingkat risiko sangat rendah dengan iuran sebesar 0,24% dari upah sebulan;
b. Untuk tingkat risiko rendah dengan iuran sebesar 0,54%
dari upah sebulan;
c. Untuk tingkat risiko sedang dengan iuran sebesar 0,89%
dari upah sebulan;
d. Untuk tingkat risiko tinggi dengan iuran sebesar 1,27%
dari upah sebulan;
e. Untuk tingkat risiko sangat tinggi dengan iuran 1,74%
dari upah sebulan.
3. Masa kadaluarsa klaim selama selama 2 (dua) tahun dihitung dari tanggal kejadian kecelakaan. KSP/USP harus tertib melaporkan baik secara lisan (manual) ataupun elektronik atas kejadian kecelakaan kepada lembaga penjamin asuransi selambatnya 2 kali 24 jam setelah kejadian kecelakaan, dan KSP/USP segera menindaklanjuti laporan yang telah dibuat tersebut dengan mengirimkan formulir kecelakaan kerja tahap I yang telah dilengkapi dengan dokumen pendukung.
E. Program Jaminan Kesehatan
1. Program ini memberikan jaminan kesehatan dari mulai pencegahan,pencegahan, pelayanan di klinik kesehatan, rumah sakit, kebutuhan alat bantu, dan pengobatan.
2. Iuran sebesar 4.5% dari gaji dengan ketentuan 4% (empat persen) dibayar oleh KSP/USP yang dibayarkan dari biaya operasional KSP/USP dan 0.5% (setengah persen) dibayar oleh Peserta (Pengurus, Pengawas dan Pengelola KSP/USP) dari potongan gaji yang diterima setiap bulan.
F. Program Jaminan Kematian
1. Memberikan manfaat uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja.
2. Besaran iuran minimum jaminan kematian bagi peserta penerima gaji atau upah (Pengurus,Pengelola dan Pengawas KSP/USP) adalah sebesar 0,30% (nol koma tiga puluh persen) dari gaji atau upah sebulan.
3. Besaran iuran minimum jaminan kematian bagi peserta anggota KSP/USP sebesar Rp 6.800,00 (enam ribu delapan ratus Rupiah) setiap bulan.
4. Besaran iuran ini ditentukan melalui keputusan rapat anggota.
G. Program Jaminan Hari Tua
1. Program Jaminan Hari Tua memberikan perlindungan dasar bagi tenaga kerja. Tujuan utamanya adalah memberikan jaminan keamanan dan kepastian terhadap risiko ekonomi.
2. Untuk Pengurus, Pengelola dan Pengawas KSP/USP dikenakan iuran sebesar 5,7% dari upah, dengan ketentuan 2% dibayar sendiri melalui potongan gaji dan 3,7%
dibayarkan oleh KSP/USP dari biaya operasional.
3. Untuk anggota didasarkan pada daftar iuran dipilih oleh peserta sesuai penghasilan peserta masing-masing sesuai kebijakan lembaga penjamin.
Resiko permodalan akan semakin menjadi tantangan dalam pengelolaan koperasi, dalam jangka panjang sehingga diperlukan adanya perencanaan permodalan yang baik, dimana modal usaha awal pada setiap pendirian KSP Primer dan KSP Sekunder yang dihimpun dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggotanya dan dapat ditambah dengan hibah. Oleh karena itu diperlukan adanya pengaturan tentang permodalan sebagai berikut:
(1) Modal usaha awal KSP Primer sebagaimana dimaksud adalah dalam bentuk deposito pada KSP/USP Pemerintah dengan rincian sebagai berikut :
a. Modal KSP Primer dengan wilayah keanggotaan dalam daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sebesar Rp15.000.000,- (lima belas juta rupiah).
b. Modal KSP Primer dengan wilayah keanggotaan lintas daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi ditetapkan sebesar Rp75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah).
c. Modal KSP Primer dengan wilayah keanggotaan lintas daerah Provinsi ditetapkan sebesar Rp375.000.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah).
d. Modal disetor atas nama KSP dan USP Koperasi dan hanya bisa dicairkan dengan tanda tangan Bendahara dan salah seorang pengurus KSP dan USP.
(2) Modal usaha awal KSP Sekunder sebagaimana dimaksud adalah dalam bentuk deposito pada KSP/USP Pemerintah dengan rincian sebagai berikut :
a. Modal KSP Sekunder dengan wilayah keanggotaan dalam daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sebesar Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
b. Modal KSP Sekunder dengan wilayah keanggotaan lintas daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi ditetapkan sebesar Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).
c. Modal KSP Sekunder dengan wilayah keanggotaan lintas daerah Provinsi ditetapkan sebesar Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
d. Modal awal KSP dan USP dalam bentuk deposito maksudnya untuk menjamin bahwa dana itu ada dalam keadaan likuid yang sewaktu-waktu dapat dicairkan untuk keperluan pengembangan usaha koperasi.
(3) Setiap pembentukan USP Koperasi Primer atau USP KoperasiSekunder, wajib menyediakan modal tetap yang dipisahkan dari aset koperasi, dalam bentuk deposito pada KSP/USP pemerintah yang ditetapkan sebagai berikut : a. modal awal pembentukan USP Koperasi Primersebesar
Rp15.000.000,- (lima belas juta rupiah);
b. modal awal pembentukan USP Koperasi Sekunder sebesar Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
(4) Ketentuan tentang permodalan dan pengembangannya diatur dalam Peraturan Deputi Bidang Pembiayaan.
(1) Kegiatan usaha simpan pinjam meliputi : a. menghimpun simpanan dari anggota;
b. memberikan pinjaman kepada anggota, calon anggota koperasi yang bersangkutan, koperasi lain dan atau anggotanya dan
c. mengelola keseimbangan sumber dana dan penyaluran pinjaman.
(2) Calon anggota koperasi sebagaimana dimaksud, dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan wajib menjadi anggota koperasi.
(3) Kegiatan usaha simpan pinjam dengan koperasi lain dilakukan melalui kemitraan yang dituangkan dalam perjanjian tertulis.
(4) Kegiatan usaha simpan pinjam dilaksanakan dengan tata kelola yang baik, menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko, serta mematuhi peraturan yang terkait dengan pengelolaan usaha simpan pinjam.
(5) KSP dan USP Koperasi dilarang melakukan kegiatan usaha pada sektor riil secara langsung.
(6) KSP sekunder dan koperasi sekunder yang memiliki unit simpan pinjam dilarang memberikan pinjaman kepada perorangan.
(7) Koperasi wajib memiliki sistem informasi pelayanan anggota sebagai alat pengendalian dan pengambilan keputusan.
(8) Pengelola wajib merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan simpanan, tabungan masing-masing penyimpan serta pinjaman yang disalurkannya, kecuali dalam hal yang diperlukan untuk kepentingan proses pengawasan, peradilan dan perpajakan.
(9) Pengurus dan Pengelola wajib memberikan kesempatan dan memberikan bantuan kepada Pejabat yang berwenang untuk memeriksa buku, dokumen dan berkas-berkas yang ada padanya dalam rangka memperoleh kebenaran dan segala keterangan serta penjelasan yang dilaporkan oleh KSP dan USP Koperasi.
(10)Koperasi wajib memasang papan nama pada kantor pusat dan kantor jaringan usaha.
(11)Pengembangan iklim usaha yang kondusif dilakukan dengan:
a. menerbitkan ijin usaha simpan pinjam;
b. pedoman pengelolaan kegiatan usaha simpan pinjam;
c. pedomanpenguatan kapasitas kelembagaanKSP dan USP Koperasi;
d. pedoman literasi dan sosialisasi;
e. pedoman penumbuhan usaha simpan pinjam oleh koperasi;
f. pedoman pengawasan;
g. pedoman penetapanstandar kelayakan dan kepatutan pengurus, standar kompetensi pengelola;
h. pedoman pelaksanaan tugas pengawas (12) Pemberian bimbingan dilakukan dalam bentuk:
a. pemberdayaan dan pengembangan usaha simpan pinjam koperasi;
b. penerapan penilaian kesehatan usaha simpan pinjam;
c. penerapan prinsip kehati-hatian usaha simpan pinjam koperasi;
d. meningkatkan akses pembiayaan melalui perkuatan permodalan;
e. pengembangan berbagai skim pembiayaan; dan
f. pemanfaatan modal penyertaan, obligasi dan surat hutang dan pengembangan koperasi sekunder yang berfungsi sebagai koordinator jaringan kerjasama usaha antar koperasi.
(13)Kemudahan dan perlindungan dalam bentuk:
a. advokasi danbantuan hukum;
b. kerja sama dan kemitraan;
c. lembaga konsultasi dan pendampingan ushaa;
d. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi; dan e. penerapan teknologi tepat guna.
A. Resiko Pinjaman Bermasalah
Adalah kondisi dimana Peminjam mengingkari janjinya atau melakukan wan prestasi membayar bunga dan atau Pinjaman pokok yang telah jatuh tempo, sehingga terjadi keterlambatan pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah yang strategis dalam menangani peminjaman bermasalah ini sesuai dengan prosedur dalam Good Cooperative Governance.
B. Faktor Penyebab Pinjaman Bermasalah
1. Rendahnya kemampuan KSP/USP dalam melakukan analisis permohonan Pinjaman antara lain:
a. pinjaman diberikan tanpa pendapat atau saran dari komite Pinjaman, taksasi nilai jaminan lebih tinggi dari nilai riil.
b. pinjaman diberikan kepada KSP/USP yang belum berpengalaman;
c. daftar keuangan dan dokumen pendukung yang diserahkan kepada KSP/USP adalah hasil rekayasa, serta KSP/USP tidak memperhatikan laporan pihak ketiga yang kurang mendukung permohonan debitur.
Lemahnya sistem informasi, pengawasan,dan administrasi Pinjaman;
d. penarikan dana Pinjaman sebelum dokumen Pinjaman selesai, surat teguran atas tunggakan kepada Peminjam tidak disertai dengan tindakan riil;
e. KSP/USP jarang mengadakan analisis arus kas, status Pinjaman, KSP/USP tidak mengawasi penggunaan Pinjaman, komunikasi antara KSP/USP dengan Peminjamkurang lancar;
f. tidak ada rencana dan jadwal yang tegas mengenai pembayaran kembali, KSP/USP tidak meminta dan menerima neraca rugi/laba, KSP/USP gagal menerapkan sistem dan prosedur tertulis mereka, KSP/USP mengabaikan cerukan debitur, serta KSP/USP tidak berhasil meninjau kondisi fasilitas produksi debitur.
2. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam proses pinjaman, yakni:
a. Pinjaman diberikan dengan dasar kolusi, korupsi dan nepotisme;
b. PengurusKSP/USP terlalu dominan dalam proses pengambilan keputusan
c. Pinjaman dan tidak adanya pengawasan terhadap pengelola.
3. Lemahnya pengikatan jaminan yang kurang sempurna.
C. Kriteria Pinjaman Bermasalah 1. Kurang Lancar
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari;
b. Sering terjadi cerukan;
c. Frekuensi mutasi rekening relative rendah;
d. Terjadi pelanggaran kontrak yang telah diperjanjikan selama 90 hari;
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi peminjam;
f. Dokumentasi pinjaman yang lemah;
2. Diragukan
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari;
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen;
c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari;
d. Terjadi kapitalisasi bunga;
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian Pinjaman maupun pengikatan jaminan.
3. Macet
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 270 hari;
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru;
c. Dari segi hukum, maupun segi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.
D. Penanganan Pinjaman Bermasalah
Upaya yang dilakukan KSP/USP dalam kegiatan usaha simpan pinjam agar Peminjamdapat memenuhi kewajibannya diselesaikan melalui asas kekeluargaan terlebih dahulu sebelum memasuki ranah hukum peradilan perdata, antara lain melalui:
penurunan suku bunga Pinjaman, pengurangan tunggakan bunga Pinjaman, pengurangan tunggakan pokok Pinjaman, perpanjangan jangka waktu Pinjaman, penambahan fasilitas Pinjaman, pengambilalihan aset Peminjamsesuai dengan ketentuan yang berlaku.
A. Manajemen Resiko Pada Penghimpunan Dana KSP/USP Koperasi
1. Berkaitan dengan pengelolaan KSP/USP pada umumnya:
Perkembangan pesat usaha KSP/USP serta bertambahnya cabang KSP/USP perlu didukung dengan penerapan manajemen risiko dan tata kelola terintegrasi yang efektif dan efisien, dan tetap sejalan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.
2. Berkaitan dengan Manajemen Risiko:
a. Risiko Pinjaman
- Dalam penyaluran kredit, agar dihindari risiko konsentrasi yang terlalu besar terhadap satu grup/industri tertentu.
- Berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar Rupiah, agar limit pinjaman valas dapat dimonitor dan dikaji ulang bila diperlukan.
b. Risiko Operasional
Dari segi risiko operasional, yang perlu mendapat perhatian khusus adalah aspek pengamanan teknologi informasi agar keunggulan BCA dalam transactional banking dapat terjaga.
c. Risiko Reputasi
Dengan semakin meningkatnya komunikasi interaktif masyarakat luas melalui social media dan peranan BCA sebagai transaction bank, agar dipastikan adanya monitoring serta pemberian respon yang tepat waktu.
d. Risiko Stratejik
- Agar dikembangkan konsep lean organization dan perencanaan ketersediaan
- sumber daya manusia yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan BCA.
- Mengantisipasi menurunnya net interest margin perbankan di masa depan, perlu dipersiapkan strategi peningkatan fee based income.
3. Berkaitan dengan Audit dan Kepatuhan:
a. Pendekatan berbasis risiko (risk based approach) menjadi penting bagi Audit Internal dalam melakukan penilaian/fungsi audit, sehingga Audit Internal dapat lebih fokus pada permasalahan atau unit bisnis yang berisiko tinggi.
b. Regulatory compliance perlu mendapat perhatian khusus dari semua jajaran, tidak hanya dari segi pengendalian internal dan Audit Internal tetapi agar mitigasi diadakan mulai dari front line.
Kegiatan transaksi penghimpunan dana KSP/USP Koperasi dapat dilakukan dari anggota, calon anggota, koperasi lain dan anggotanya dapat berupa tabungan, simpanan berjangka dan penyertaan, yang terdiri dari:
1. KSP/USP Koperasi diperbolehkan untuk melakukan penghimpunan dana dari calon anggota, Koperasi lain dan para anggotanya hanya jika KSP/USP Koperasi memiliki
kapasitas lebih atas dasar pertimbangan skala ekonomi dan efisiensi serta mendapat persetujuan dari Rapat Anggota.
2. Setiap penyimpan harus terlebih dahulu menjadi anggota/calon anggota Koperasi yang bersangkutan.
3. Penyetoran simpanan dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak harus pemilik simpanan,namun penarikan simpanan harus dilakukan oleh pemilik yang sah atau dapat dikuasakan kepada pihak lain dengan disertai surat kuasa.
4. Dalam rangka melindungi KSP/USP koperasi dari praktik pencucian uang, penerimaansimpanan dan dana penyertaan yang nilainya lebih dari Rp 100.000.000,- untuk setiap maupun beberapa kali transaksi dalam 1(satu) hari kerja.
5. Transaksi, baik yang berasal dari anggota, calon anggota, maupun koperasi lain dan atauanggotanya, KSP/USP koperasi harus memiliki standard operasional prosedur tertulis untukmengetahui asal-usul uang tersebut yang ditanda tangani oleh pihak penyimpan/penyertamodal.
6. KSP/USP Koperasi harus memiliki standar pelayanan simpanan yang terdiri dari:
1) Kebijakan penentuan tingkat bunga simpanan untuk anggota dan calon anggota, koperasi lain dan anggotanya.
2) Kebijakan balas jasa partisipasi dan simpanan anggota (simpanan pokok dan simpanan wajib) dari SHU.
3) Kebijakan perlindungan simpanan yang tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
Penetapan bunga tabungan didasarkan pada rumus sebagai berikut:
a. perhitungan saldo terendah setiap bulan didasarkan padaperhitungan antara jumlah saldo terendah dalam 1 (satu)bulan dikalikan dengan tingkat bunga perbulan:
Metode perhitungan bunga tabungan berdasarkan saldoterendah menghasilkan nilai bunga yang paling kecil biladibandingkan dengan metode saldo harian dan metode rata-rata.
Kelebihan metode ini, perhitungannya relatif lebih mudahdan menghasilkan biaya bunga yang paling murah bagiKSP/USP Koperasi. Di sisi lain nilai biaya bunga yang murah bagiKSP/USP Koperasi, menjadi nilai pendapatan bunga yangrendah pula bagi penabung sehingga tidak menarik calon penabung untuk menyimpan uangnya di KSP/USP Koperasi.
b. perhitungan saldo harian didasarkan pada perhitunganjumlah hari mengendap dibagi 365 (tiga ratus enam puluh lima) hari dikalikan dengan tingkat bunga pertahun dikalikandengan saldo selama hari mengendap x tk bunga/tahu n x saldo selama hari mengendap365Jumlah hari mengendap.
Metode perhitungan bunga simpanan berdasarkan saldo harian akan menghasilkan nilai bunga yang adil baik untuk penabungmaupun untuk KSP/USP Koperasi.
Hal ini dikarenakan setiapnilai saldo yang mengendap Bunga/Bulan (Rp) = Saldo terendah dalam 1
bulan X tingkat bunga/
bulan
Bunga (Rp) = (Jumlah hari mengendap/ 365)X tingkat bunga/ tahunke-n X Saldo selama hari mengendap
akan diberi bunga sesuai denganlamanya hari saldo tersebut mengendap. Ini dapat menjadidaya tarik calon penabung untuk menyimpan uangnya di KSP/USP, kelemahannya hanya terletak pada teknis perhitungannya yang relatif lebih rumit karena bunga dihitungterhadap setiap saldo yang mengendap selama satu bulan.
c. perhitungan saldo rata-rata didasarkan pada perhitunganjumlah total saldo dibagi dengan jumlah mutasi dikalikandengan tingkat bunga perbulan.
Metode perhitungan bunga simpanan berdasarkan saldo rata-rata akan menghasilkan nilai bunga yang sulit diprediksi karenafaktor lain yang menentukan selain saldo tabungan dan tingkatbunga adalah mutasi (frekwensi penyetoran atau pengambilan)yang dilakukan oleh penabung. Semakin sering penyetoran ataupengambilan dilakukan maka akan semakin kecil nilai bungayang diperoleh penyimpan. Hal ini dapat mendorong penabunguntuk menjadi penabung pasif.
7. Perhitungan bunga simpanan berjangka dilakukan berdasarkan rumus sebagai berikut :
a. Perhitungan secara umum didasarkan pada nilai nominaldikalikan dengan tingkat bunga perbulan;
Bunga/ Bulan (Rp)= (Jumlah total
saldo/Jumlah mutasi) X tingkat bunga/bulan
Bunga/ Bulan (Rp= Nilai Nominal X tingkat bunga/bulan
b. Apabila bunga simpanan dibayar dimuka didasarkanperhitungan antara jumlah nilai nominal dikalikan dengantingkat bunga perbulan dikalikan dengan jangka waktu dan setiap bulan dilakukan amortisasi untuk mengakui biaya bunga sampai jangka waktu simpanan berjangka itu berakhir.
8. Kebijakan balas jasa partisipasi simpanan anggota (simpanan dan simpanan wajib) dari SHU
Balas jasa partisipasi simpanan anggota dari SHU harus berdasarkanprinsip keadilan koperasi yaitu besarnya ditetapkan berdasarkan besarkecilnya nilai partisipasi simpanan anggota kepada koperasinya(KSP/USP Koperasi).
Metoda perhitungannya sebagai berikut:
9. Kebijakan perlindungan simpanan
Untuk memberikanperlindungan pada simpanan KSP/USP Koperasi, KSP/USP Koperasi dapat bekerja samadengan Asuransi Penjaminan Produk Simpanan atau dengan lembaga Induk Koperasi/Pusat koperasidari KSP/USP Koperasi sebagai Avalisnya.
KSP/USP Koperasi dapat memberikan perlindungan simpanan untuk para penyimpannyasepanjang tidak bertentangan dengan ketentuaan yang berlaku.
10. Pembagian Sisa Hasil Usaha atas dasar simpanan anggotadilakukan berdasarkan pada pembagian antara jumlah nilaipartisipasi simpanan anggota dengan total Bunga/ Bulan (Rp= Nilai Nominal X tingkat
bunga/bulan X Jangka Waktu
SHU Bagian Anggota Penyimpan X=(Nilai partisipasi simpanan “X”/Total partisipasi modal(simpanan seluruh anggota) X tingkat bunga/bulan