• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penutupan USP dan Pembubaran KSP

BAB V PENDIRIAN, PENGEMBANGAN JARINGAN&

C. Penutupan USP dan Pembubaran KSP

1. Penutupan USP dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut:

1) Rapat pleno pengurus membuat keputusan tentang penutupan USP dan membentuk tim penyelesai. Tim penyelesai diberi hak wewenang dan kewajiban untuk menyelesaikan penutupan USP.

2) Tim penyelesai yang diangkat berdasarkan perundang- undangan dan ketentuan pemerintah akan turut serta dalam menyelesaikan pembubaran atau kewajiban USP kepada pemberi pinjaman atau pemilik dana atau anggota.

3) Tim penyelesai bertanggung jawab langsung kepada pejabat yang berwenang.

4) Keputusan penutupan disampaikan kepada pejabat yang berwenang.

5) Hasil penyelesaian dilaporkan oleh tim penyelesai kepada pengurus USP yang bersangkutan.

Selama dalam proses penyelesaian ,USP tersebut tetap ada atau dibekukan dengan sebutan “Usaha simpan pinjam dengan predikat penilaian kesehatan “Dalam Pengawasan Khusus” dihentikan sementara kegiatan usahanya sampai dapat memperbaiki struktur keuangannya, dengan ketentuan:

a. Bila harta kekayaan USP tidak mencukupi untuk penyelesaian kewajibannya pada pihak ketiga, maka Anggota wajib menanggung kerugian masing- masing terbatas pada simpanan pokok dan simpanan wajib yang telah disetorkan oleh Anggota yang bersangkutan pada USP, serta modal penyertaan yang dimilikinya.

b. Untuk tanggungan anggota, kerugian yang diderita oleh USP pada akhir tahun buku ditanggulangi dari dana cadangan.

c. Apabila penggantian kerugian tersebut tidak dapat dipenuhi, maka Rapat Anggota memutuskan membebaskan bagian kerugian yang belum terpenuhi ditutup/ atau diperhitungkan dengan Sisa Hasil Usaha (SHU) tahun-tahun yang akan datang.

6) Pejabat yang berwenang mencabut menutup atau membekukan atau membubarkan ijin usaha simpan pinjam USP yang telah ditutup atau dibekukan tersebut.

2. Pembubaran Koperasi Simpan Pinjam dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut:

Dalam hal pembubaran koperasi, dilakukan mekanisme sebagai berikut:

1) Pembubaran KSP dilaksanakan berdasarkan rapat anggota atau keputusan pembubaran yang disahkan oleh Pejabat Berwenang.

2) Pengurus KSP mengajukan pertimbangan kepailitan kepada pejabat yang berwenang.

3) Rapat anggota luar biasa dapat dilakukan apabila KSP tidak lagi memberikan manfaat kepada anggota.

4) Dalam hal Rapat Anggota memutuskan pembubaran KSP harus melibatkan tim penyelesai.

5) Pejabat yang berwenang menetapkan keputusan pembubaran koperasi berdasarkan putusan pailit yang ditetapkan pengadilan negeri setempat.

6) Keputusan pembubaran KSP harus diberitahukan kepada anggota dan pihak ketiga.

7) Keputusan pembubaran KSP tidak berlaku bagi pemberi dana dalam hal ini pemberi pinjaman apabila keputusan pembubaran KSP belum diterima.

8) Mekanisme pembubaran KSP diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga KSP.

9) Terdapat bukti-bukti bahwa KSP yang berangkutan telah melanggar dan tidak memenuhi ketentuan Undang- undang Koperasi, yakni merugikan anggota dalam bentuk keuangan.

10) Kegiatan KSP tersebut bertentangan dengan ketertiban umum/ kesusilaan.

11) Kelangsungan hidupnya tidak dapat dipertahankan lagi atau pailit

A. Kelembagaan KSP/USP Koperasi

Dalam penyusunan Standar Operasional KSP dan USP Koperasi, setiap organ dalam KSP dan USP harus mengikuti azas Good Corporative Governance KSP/USP dan prinsip Koperasi sesuai dengan etika, standar kualitas, dan sesuai peraturan perundangan dan penegakan hukum. Standar Operasional ini disusun dalam bentuk petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan KSP/USP.

1. Organisasi dan Manajemen KSP /USP Koperasi

a. Adanya pengelolaan administrasi yang baik berhubungan dengan aspek legal operasional koperasi.

b. Dilakukannya perencanaan jangka pendek (bulanan)dan jangka panjang (tahunan)

c. Terpenuhinya kelengkapan administrasi dan peraturan- peraturan perundangan yang berlaku.

d. Pendokumentasian dokumen yang menyengkut keuangan dan tata kelola organisasi

e. Dalam operasional manajemen hendaknya dilakukan penyusunan program kerja bulanan, melakukan rapat dan evaluasi bulanan dan pembuatan notulen setiap rapat.

f. Peningkatan kesejahteraan pengurus dan pengelola sejalan dengan peningkatan kesejahteraan anggota

g. Menggalakkan promosi dengan menyediakan dana promosi sesuai dengan rapat anggota

h. Papan nama koperasi harus mencerminkan keberadaan koperasi agar mudah diketahui oleh anggota dan masyarakat.

i. Kebijakan pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan pengurus, pengawas, pengelola dan anggota, termasuk persyaratan mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Pendidikan hendaknya diupayakan secara mandiri apabila sudah ada yang mengikuti pelatihan menjadi fasilitator .

j. Adanya pembagian tugas yang jelas antara organ-organ dalam koperasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab serta hak dan wewenangnya.

k. Adanya pemberian jaminan kesehatan dan asuransi jiwa kepada setiap anggota Koperasi dan pengurus.

2. Pengelolaan organisasi

a. Adanya Sistem manajemen SDM yang terdiri dari perekrutan, seleksi pegawai dalam kepengurusan dan pengelolaaan yang dilakukan secara transparan

b. Reorganisasi yang berkesinambungan dengan memberikan wewenang kepada pengurus baru melalui pelatihan dan pendidikan

c. Jenjang karir yang jelas sesuai dengan remunerasi dan prestasi diberikan kepada pengurus dan pengelola melalui rapat anggota

d. Efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia pengelola dan pengurus koperasi sesuai dengan bertambahnya anggota

e. Penyusunan struktur organisasi yang fleksibel dan dapat mengantisipasi kebutuhan sumber daya manusia yang akan datang

f. Pemberian insentif bagi seluruh organ yang mendorong peningkatan koperasi

B. Manajemen Usaha KSP/USP 1. Simpanan

a. Kegiatan menghimpun dana KSP/USP dalam bentuk simpanan dan tabungan.

b. Pemberian nama produk simpanan koperasi merupakan wewenang pengurus.

c. Simpanan diberikan imbalan jasa dalam bentuk bunga yang besarnya ditetapkan Rapat Anggota.

d. KSP dan USP Koperasi wajib menjamin keamanan simpanan dan tabungan anggota, calon anggota, koperasi lain dan atau anggotanya.

e. Setiap anggota wajib menyimpan simpanan pokok atas namanya pada KSP/USP sebagai simpanan awal, yang nominalnya ditentukan dalam anggaran Rumah Tangga.

f. Calon anggota dianggap sah menjadi anggota setelahmelunasi simpanan pokok.

g. Simpanan wajib anggota dibayar per bulan yang besarnya ditentukan dalam Rapat Anggota.

h. Tanda bukti pembayaran simpanan pokok maupun simpanan wajib diterbitkan dalam bentuk buku simpanan anggota.

i. Pada waktu keanggotaannya berakhir, simpanan pokok maupun simpanan wajib, wajib dikembalikan oleh KSP/USP secara komulatif setelah dikurangi dengan biaya administrasi.

j. Setiap anggota didorong untuk menyimpan dalam bentuk / atau jenis simapanan lainnya yang ditetapkan dan diputuskan melalui Rapat Anggota.

k. Dalam usaha menghimpun dana, koperasi dapat mengadakan simpanan dalam berbagai jenis sesuai dengan kebutuhan anggota.

l. Terhadap simpanan ini diberikan jasa/ bunga atau bagian hasil tertentu yang besarnya ditetapkan dalam Rapat Anggota.

2. Pinjaman

Pelaksanaan pemberian pinjaman oleh KSP dan USP Koperasi wajib memperhatikan prinsip pemberian pinjaman yang sehat.

a. Dalam menyalurkan pinjaman, KSP dan USP Koperasi menetapkan suku bunga pinjaman yang besarnya ditentukan dalam Rapat Anggota.

b. Pemberian pinjaman diutamakan untuk memenuhi kebutuhan anggota.

c. Koperasi sekunder dilarang memberikan pinjaman kepada perorangan secara langsung.

d. Perhitungan Kebutuhan Pinjaman

Perhitungan pinjaman dengan menggunakan suku bunga yang tetap adalah sebagai berikut:

Besar Pinjaman :

(P) ={1/1+(i X n)}x n x Maksimum Angsuran per bulan Keterangan:

P = Pokok atau besar pinjaman yang dapat diberikan 1 = Konstanta

i = Suku bunga tetap per bulan n = Jangka waktu pinjaman (bulan)

Dalam hal perhitungan besar pinjaman ini, besaran simpanan pokok dan wajib diperhitungkan.

Sedangkan perhitungan besaran pinjaman dengan menggunakan suku bunga efektif adalah sebagai berikut:

Besar Pinjaman (P)= (A/i )x (1-(1/(1+i)t)

Keterangan:

P = Pokok atau besar pinjaman yang dapat diberikan A = Angsuran Perbulan

i = Suku Bunga Efektif Per Bulan t = Jangka waktu Pinjaman Maksimal angsuran per bulan

Dalam hal perhitungan besar pinjaman ini, besaran simpanan pokok dan wajib diperhitungkan.

Maksimal angsuran ditentukan dari perhitungan sebagai berikut:

(% Debt to Income x Penghasilan per bulan)- Angsuran yang telah ada e. Besarnya Biaya Administrasi pinjaman adalah 1% dari

total pinjaman atau ditentukan oleh Rapat Pengurus dan Rapat Anggota.

f. Suku bunga KSP/USP adalah mengacu pada suku bunga yang ditetapkan pada suku bunga rata-rata pasar pada lembaga keuangan mikro dengan laju inflasi ditambah dengan biaya administratif dan biaya cadangan yang besarnya ditentukan dalam rapat anggota.

g. Simpan wajib pinjam akan dikembalikan setelah pinjaman lunas dan akan dimasukkan dalam tabungan jika tidak ambil lagi oleh peminjam.

h. Biaya bunga yang dikenakan kepada peminjam yakni anggota dapat dikompensaikan ke dalam Sisa Hasil Usaha sesuai dengan kesepakatan dalam Rapat Anggota Tahunan setelah dilakukan perhitungan besaran biaya dan manfaat.

i. Penghasilan masing-masing golongan peminjam ditentukan sebagai berikut:

1) Berpenghasilan tetap

Penghasilan peminjam adalah berupa gaji yang sifatnya tetap/permanan, tidak termasuk uang lembur, honor dan sebagainya.

2) Berpenghasilan tidak tetap

Penghasilan peminjam adalah berupa penghasilan dari bentuk insentif atau usaha yang setiap hari berubah besarannya.

j. Perhitungan besar pinjaman harus sesuai kesepakatan dalam Rapat Pengurus, Rapat Pengawas dan Rapat Anggota.

k. Dalam hal terdapat kelebihan dana setelah melaksanakan kegiatan pemberian pinjaman kepada anggota, calon anggota, koperasi lain dan anggotanya, maka KSP dan USP Koperasi sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam anggaran dasarnya, dapat menempatkan kelebihan dana tersebut dalam bentuk:

1) simpanan pada koperasi sekundernya;

2) giro, tabungan pada KSP/USP dan lembaga keuangan lainnya;

3) mengembangkan dana melalui sarana investasi lainnya meliputi pembelian saham, obligasi, reksadana, surat perbendaharaan Negara dan investasi di sektor keuangan dengan persetujuan rapat anggota.

l. Jenis-jenis Pinjaman

Jumlah produk Pinjaman yang dapat kita jumpai dalam KSP/USP di indonesia masing-masing KSP/USP sangat banyak, terutama dikarenakan produk Pinjaman masing- masing KSP/USP telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan dari nasabah dan calon peminjam. Secara umum pinjaman KSP/USP juga memiliki banyak jenis produk Pinjaman, namun ada 3 jenis Pinjaman inilah yang akan berkembang menjadi jenis-jenis Pinjaman lain yang lebih spesifik. Ketiga jenis Pinjaman itu adalah Pinjaman Modal Kerja (PMK), Pinjaman Investasi (PI) dan Pinjaman Konsumtif (PK).

1) Pinjaman modal kerja

Pinjaman modal kerja adalah pinjaman yangdigunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya atau merupakan Pinjaman yang digunakan sebagai modal usaha.Biasanya Pinjaman jenis ini berjangka waktu pendek yaitu tidak lebih dari 1 (satu) tahun.Selain ituPinjaman modal kerja adalah Pinjaman yang digunakan untukmembiayaikebutuhan modal kerja peminjam. Contoh Pinjaman ini adalah untuk membiayai bahanbaku, membeli barang dagangan, membayar gaji karyawan dan modal kerja lainnya yang berkaitan dengan proses produksi KSP/USP.

Pinjaman yang diberikan KSP/USP kepada nasabah (peminjam) untuk memenuhi kebutuhan modal kerja peminjam.Pinjaman modal kerja memiliki jangka waktu pengembalian maksimal satu tahun.Pinjaman modal kerja yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan produksi baik peningkatan kuantitatif maupun kualitatif.

2) Pinjaman investasi

Pinjaman investasi (investment loan) adalah Pinjaman yang digunakan untuk keperluan modal usaha atau alat-alat produksi yang menunjang kegiatan operasional.Misalnya pabrik, kendaraan operasional, mesin-mesin, dll. Biasanya Pinjaman jenis ini berjangka waktu yang lebih panjang yaitu lebih dari 1 (satu) tahun. Dan umumnya jumlah Pinjaman yang disalurkan tergolong besar dan lebih besar dari Pinjaman modal kerja. Contoh Pinjaman ini adalah untuk pembelian mesin-mesin produksi, dan lain-lain. Pinjaman invetasi yaitu Pinjaman yang disalurkan oleh KSP/USP untuk pembelian barang-barang modal yaitu tidak habis dalam satu siklus usaha, maksudnya proses dari pengeluaran uang kas dan kembali menjadi uang kas tersebut akan memakan jangka waktu yang cukup panjang setelah beberapa kali perputaran.

Pinjaman investasi adalah Pinjaman yang digunakan untuk membiayai pembelian barang- barang untuk modal tetap dan tahap lama seperti tanah dan bangunan, mesin-mesin, kendaraan dan lain sebagainya.

3) Pinjaman konsumtif

Pinjaman konsumtif (consumer loan) adalah Pinjaman yang digunakan untuk keperluan pribadi dan tidak digunakan untuk keperluan usaha.

Pinjaman ini bersifat individual atau pemohon Pinjaman bukan berasal dari badan usaha atau badan hukum. Tujuan dari Pinjaman ini umumnya adalah untuk tujuan pembelian barang-barang konsumer seperti rumah, mobil, dan sepeda motor atau untuk tujuan keperluan rumah tangga seperti untuk pembayaran uang sekolah, dll.

m. Analisis Pinjaman

Analisis Pinjaman merupakan kegiatan mengantisipasi risiko-risiko yang akan mengganggu jalannya usaha peminjam, mengevaluasi target yang akan dicapai dan proses arus kas sebagai sumber pelunasan Pinjamannya.

Analisis Pinjaman diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukakan sebelum memberikan Pinjaman. Untuk mengungkapkan kemauan membayar dan kemampuan membayar dari calon peminjam untuk mengembalikan Pinjaman sesuai dengan yang diperjanjikan. Analisis Pinjaman adalah merupakan bagian dari proses persetujuan Pinjaman. Tujuan mengadakan analisis Pinjaman adalah mencari dasar yang rasional dan obyektif dalam memberikan keputusan atas suatu permohonan Pinjaman dari calon peminjam.

Analisis Pinjaman juga diartikan sebagai kajian yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatu pemberian fasilitas Pinjaman. Faktor kelayakan yang dinilai antara lain ; kelayakan usaha, kelayakan produk

dalam pasar, kelayakan keuntungan dan kemampuan pelunasan tepat waktu.

Analisis Pinjaman merupakan proses awal dari suatu sistem manajemen Pinjaman, dimana analisis yang dilakukan terhadap permohonan Pinjaman yang diajukan calon peminjam harus secermat mungkin atas dasar sistem yang ada. Apabila analisis Pinjaman yang dilakukan tidak atas dasar sistem yang ada, maka kemungkinan akan terjadinya Pinjaman macet semakin besar. Untuk itu perlu dipahami bahwa analisis Pinjaman tidak terpisahkan dari informasi yang diperlukan dalam analisis Pinjaman. Analisis Pinjaman memerlukan informasi yang relevan dengan Pinjaman dan kegiatan usaha, antara lain ;legalitas, kegiatan dan usaha KSP/USP, data historis, data proyeksi , data khusus seperti data jaminan dan upaya pengelolaan lingkungan hidup terutama bagi usaha yang berskala besar. Pada dasarnya analisis Pinjaman memiliki fungsi-fungsi : 1. Sebagai sarana untuk mengendalika risiko KSP/USP 2. Sebagai sarana untuk struktur/syarat Pinjaman baik

mengenai jumlah maupun jangka waktu Pinjaman.

3. Sebagai bahan pertimbangan pimpinan atau Direksi KSP/USP dalam mengambil keputusan.

4. sebagai dasar bagi KSP/USP dalam menentukan tingkat suku bunga Pinjaman dan jaminan yang disyaratkan untuk dipenuhi si calon peminjam.

Dalam proses kegiatan analisis Pinjaman itu sendiri terjadi interaksi antara KSP/USP (lender) KSP/ USP atau perorangan anggota (borrower), kegiatan usaha dan kondis ekonomi dalam suatu kerjasama yang saling

memberikan manfaat. KSP/USP melakukan analisis Pinjaman untuk mengetahui sektor yang terdapat pada usaha yang hendak dibiayai dan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan pembayaran kembali Pinjaman.

n. Tujuan analisis Pinjaman dimaksudkan untuk :

1) Membantu mengetahui risiko yang melekat pada proses kegiatan perPinjaman itu sendiri

2) Membantu mengetahui kemungkinan pelunasan (repayment) Pinjaman yang diberikan

Terkait dengan uraian ini maka dasar pemikiran analisis Pinjaman pada hakikatnya dilakukan untuk : 1) Meneliti dan memeriksa seseorang user atau badan

usaha pemakai Pinjaman dalam kaitannya dengan kegiatan usaha yang dilakukannya,

2) Melakukan analisis arus kasKSP/ USP dalam rangka mengetahui kemampuan KSP/ USP dalam mengembalikan Pinjamannya. Dalam hal ini termasuk menganalisi faktor-faktor yang mempengaruhi arus kas itu sendiri, seperti produksi, pemasaran, personil, keuangan.

Lebih lanjut arti pentingnya analisis Pinjaman yaitu : Bagi Peminjam : Besarnya Pinjaman yang diterima

sesuai kebutuhan, dan usaha yang dibiayai Pinjaman tersebut dapat diperkirakan untung ruginya terjamin.

o. Proses analisis Pinjaman

Sebagaimana diketahui Pinjaman merupakan kepercayaan, untuk menimbulkan kepercayaan pemberi Pinjaman (KSP/USP) perlu memeriksa semua data dan

informasi/keterangan atas si calon peminjam terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai :

(1) Obyek Pinjaman yang akan dibiayai

(2) Kemampuan mengembalikan hutang pokok, bunga dan kewajiban

(3) Menentukan jumlah Pinjaman yang layak diberikan (4) Jangka wktu Pinjaman

(5) Agunan, dan lain sebagainya

Kegiatan untuk menjawab pemasalahan- permasalahan tersebut di atas lazim disebut analisis Pinjaman, yang betujuan untuk meyakinkan si Pinjamanur/KSP/USP atas kemauan membayar dan kemampuan membayar dari si calon peminjam. Analisis Pinjaman yang di lakukan melalui suatu proses yaitu : (1) Pengumpulan data dan informasi

(2) Klarifikasi data/ informasi (3) Pengolahan data

(4) Membuat asumsi-asumsi

(5) Membuat proyeksi dan perhitungan atas kebutuhan dana

(6) Menentukan syarat-syarat Pinjaman yang akan diberikan kepada calon peminjam.

Dalam pelaksanaanya analisis Pinjaman dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain :

1) The Five C‟s Model yang dipopulerkan mengemukakan : Character, Capacity, Capital, Condition of economy, Collateral.

p. Manajemen Resiko dengan Pendekatan Prinsip 5C

Salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan oleh para KSP/USP dalam menganalisis Pinjaman yang diajukan oleh si calon peminjam adalah pendekatan Five C‟s model yang meliputi :

(1) Character (Watak)

Hal-hal yang dideteksi mencakup watak, kepribadian dan kejujuran, tanggung jawab, pengalaman, nama baik, entrepreneurship, moral serta sifat-sfat pribadi lainya yang dimilki si calon peminjam. Penilaian karakter peminjam merupakan hal yang sangat penting mengingat penilaian ini bertujuan untuk mengetahui kemauan membayar/

melunasi Pinjaman ( willingness to pay).

Penilaian aspek karakter lebih banyak bersifat kualitatif sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter si calon peminjam dapat ditempuh melalui upaya-upaya sebagai berikut :

1) Meneliti daftar riwayat hidup calon peminjam;

2) Meneliti reputasi calon peminjam dan lingkungan usahanya;

3) Meneliti apakah calon peminjam sering ke tempat-tempat perjudian;

4) Menggunakan Sistem Informasi untuk memeriksa catatanpinjaman bermasalah yang dilakukan oleh peminjam

5) Mengamati sampai sejauh mana ketekunan kerjanya dan hobi yang dimiliki;

6) Melihat umur dan kesehatan nasabah, untuk peminjam yang melebihi baik simpanan pokok dan wajibnya;

7) Melalui invesigasi Pinjaman : wawancara, trade cheking dan lain-lain.

(2) Capacity (Kemampuan)

Unsur yag dideteksi mencakup pengalaman dan kemampuan manajemen KSP/ USP yaitu produksi, pemasaran, sumber daya, keuangan dan lingkungan, tingkat laba usaha, Rasio Aset, Rasio Modal, Likuiditas usaha,Rasio Kewajiban dan Angsuran, kemampuan mengembalikan Pinjaman. Sumber informasi didapat dari proposal permohonan Pinjaman, riwayat hidup manajemen KSP/ USP, laporan kuangan KSP/ USP, perencanaan dan monitoring arus kas yang lalu, lokasi usaha, produksi, promosi dan lain-lain. Capacity adalah kemampuan riil dari calon peminjam untuk menjalankan usahanya atas dasar rencana yang telah dibuat, termasuk kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban keuangan dari kegiatan usaha yang dilakukan maupun yang akan dilakukan yang dibiayai dengan Pinjaman.

Pengukuran kapasitas ini dari calon peminjam dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan :

(1) Pendekatan historis yaitu menilai masa lalu dari si calon peminjam yang bersangkutan.

(2) Pendekatan keuangan, yaitu dengan menilai posisi neraca dan laporan rugi laba untuk beberapa periode terakhir untuk mengetahui

besarnya solvabilitas, likuiditas dan rentabilitas serta tingkat risiko usaha si calon peminjam.

(3) Untuk koperasi besar, yakni Program Pengembangan Koperasi Skala Besar diarahkan untuk mewujudkan Koperasi yang memiliki aset paling sedikit Rp 10.000.000.000,00(sepuluh milyar rupiah) dan pendapatan kotor sebesar paling sedikit Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah)dan anggota paling sedikit 1.000 (seribu)

(4) orang dilakukan pendekatan edukasional yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus KSP/ USP si calon peminjam. Hal ini penting untuk KSP/ USP yang menghendaki kemempuan tehnologi tinggi atau memerlukan profesionalisme tinggi seperti rumah sakit (5) Pendekatan Manajerial yaitu menilai sejauh

mana kemampuan si calon peminjam dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin KSP/ USP.

(6) Pendekatan Teknis, yaitu menilai sejauh mana kemampuan calon peminjam dalam mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan, administrasi, keuangan bahkan kemampuan dalam merebut pangsa pasar.

Rasio yang perlu diperhatikan terkait dengan kapasitas peminjam adalah:

Rasio Hutang dan Pendapatan (Debt to Income Ratio/DTI)

DTI = (Angsuran tiap bulan/Penghasilan setiap bulan)X 100%

Merupakan prosentase dari penghasilan kotor tiap bulan yang digunakan untuk pembayaran angsuran pinjaman. Semakin besar rasio ini mengindikasikan semakin tinggi penghasilan kotor yang digunakan untuk angsuran pinjaman yang berarti semakin tinggi resiko

Rasio Penghasilan besih terhadap Angsuran Pokok dan bunga

(Debt Service Ratio/DSR)

DSR=(Penghasilan-Biaya)/(Angsuran Pokok+Bunga) Merupakan gambaran kemampuan riil peminjam untuk memenuhi kewajiban angsuran pokok dan bunga setelah penghasilan diperhitungkan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan.Untuk dapat memenuhi kewajiban pembayaran angsuran pinjaman, nilai Debt Service Ratio harus lebih dari 1.

Unsur yang dideteksi adalah struktur permodalan, sumber modal, penggunaan modal, modal kerja dan modal investasi, kemampuan pemupukan modal. Mengingat Pinjaman pada dasarnya hanya merupakan tambahan pembiayaan.

Hal ini diperlukan untuk mengukur sampai seberapa besar tingkat rasio likuiditas dan solvabilitasnya. Dengan modal sendiri dimaksudkan agar si calon peminjam lebih bertanggung jawab dalam menjalankan usaha. Apabila modal yang tertanam dalam usaha jauh lebih besar dari fasilitas

Pinjaman yang akan diberikan kepada calon peminjam, maka si calon peminjam tersebut akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan usahanya.

(3) Condition of economy ( kondisi ekonomi )

Unsur yang dideteksi antara lain ; ketahanan usaha yang dipilih, karakteristik komoditi, permintaan barang/jasa yang di hasilkan, kebijakan pemerintah, legal, lingkungan hidup. Kondisi perekonomian yang menyangkut atau mempengaruhi atau mendorong usaha si calon peminjam untuk mendapat perhatian.Penilaian kondisi perekonomian dimaksudkan untuk melihat kemampuan KSP/ USP si calon peminjam dalam memasarkan produk/jasa yang dihasilkan.

(4) Collateral (Jaminan )

Collateral adalah harta kekayaan si calon debiitur yang berfungsi sebagai jaminan tambahan agar si calon peminjam lebih serius dalam menjalankan usahanya. Unsur-unsur yang dideteksi antara lain;

jenis harta jaminan, barang bergerak, barang tdak bergerak, status hukum barang jaminan, kelengkapan dokumen, cara pengikatan. Pinjaman yang diberikan tidak terlepas dari risiko Pinjaman macet. Untuk mengatasi risiko tersebut maka dalam analisis Pinjaman diharuskan si calon peminjam menyediakan jaminan berupa harta benda miliknya sendiri atau pihak lain yag menjaminkannya, yang diikat sebagai agunan. Andai kata pada suatu saat ternyata si calon peminjam tidak mampu menyelesaikan Pinjamannya, Maka barang agunan