• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kualitas Pendidikan SDM Guru Menuju Era Society 5.0

Dalam dokumen (Membangun SDM Unggul di Era Society 5.0 untuk (Halaman 140-144)

Siklus II: Pertemuan I, II, dan III

3. Pengembangan Kualitas Pendidikan SDM Guru Menuju Era Society 5.0

Pendidikan merupakan dua konsep yang berbeda pada generasi sekarang, namun memiliki keterkaitan yang saling memengaruhi satu sama lain.

Pendidikan memerlukan SDM yang kompeten sebagai aset bagi proses pengembangan generasi milenial yang siap akan problematika dan tantangan.

SDM guru yang kompeten tersebut dicapai melalui proses pengembangan, sehingga SDM menjadi bagian penting dalam proses pengembangan pendidikan bagi generasi milenial. Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen saling yang saling terkait secara fungsional bagi tercapainya pendidikan yang berkualitas. Komponen SDM dapat dikatakan menjadi komponen strategis, karena dengan SDM berkualitas dapat mendayagunakan komponen lainnya, sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi pendidikan.

SDM bidang Pendidikan adalah kompetensi fungsional yang dimiliki tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai seorang pendidik, kita harus memiliki tanggung jawab untuk membawa mereka bertahan dengan kehidupan yang akan datang dan mempersiapkan peserta didik kita dengan skill masa depan, di mana revolusi digital muncul dengan menekankan pembaharuan serba teknologi. Banyak pihak yang belum menyadari akan adanya perubahan tersebut terutama di kalangan pendidik, padahal semua itu adalah tantangan generasi muda pada era sekarang. Generasi muda yang sering disebut generasi milenial mempunyai tantangan sendiri menghadapi era revolusi digital. Revolusi digital mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Revolusi Industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang

126

memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan tak terduga menjadi fenomena yang akan sering muncul pada era revolusi Industri 4.0. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi industri juga diikuti dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia dengan mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi (Nurjani, 2018).

Terdapat dua jenis pengembangan SDM, antara lain: (1) pengembangan SDM secara formal yaitu SDM yang ditugaskan oleh lembaga untuk mengikuti pendidikan atau latihan, baik yang dilaksanakan oleh lembaga tersebut maupun lembaga diklat. Pengembangan SDM secara formal dilakukan karena tuntutan tugas saat ini maupun masa yang akan datang. Dengan demikian, jenis pengembangan ini dapat memenuhi kebutuhan kompetensi SDM yang bersifat empiricalneeds dan predictiveneeds bagi eksistensi dan keberlanjutan lembaga;

(2) pengembangan SDM secara informal yaitu pengembangan kualitas SDM secara individual berdasarkan kesadaran dan keinginan sendiri untuk meningkatkan kualitas diri sehubungan dengan tugasnya.

Simpulan

Secara umum, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dan kebijakan untuk masalah kualifikasi akademik guru, di antaranya dengan tugas belajar dan izin belajar serta bantuan belajar bagi guru. Namun, karena penyebarannya tidak merata dan tidak adanya pengawasan yang ketat, maka kebijakan itu hanya berlaku bagi guru-guru yang berusia muda, sementara guru-guru yang sudah tidak muda lagi hanya bisa bertahan hingga menunggu pensiun dengan kualitas seadanya. Begitu banyaknya pekerjaan guru sebagai pekerja profesional, namun upah yang diterima tidak bisa dikatakan dapat menyejahterakan kehidupannya.

Upah yang diterima guru hanya cukup untuk kebutuhan makan dan kebutuhan sehari-hari saja, sedangkan untuk biaya peningkatan profesionalisme masih sangat jauh.

Ada beberapa rekomendasi untuk kebijakan pemerintah tentang pengembangan guru di era society 5.0, antara lain: (1) Kebijakan SDM di dunia pendidikan era society 5.0 harus dilakukan dengan cara mengintegrasikan berbagai aspek yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan nasional; (2) Kebijakan yang harus dilakukan terhadap kurangnya pengembangan diri dari guru dapat melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang terdiri dari tiga unsur kegiatan, yaitu: pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif yang terus didorong dimulai dari satuan pendidikan masing-masing; (3) Pemerataan jumlah guru di seluruh wilayah kesatuan Republik Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil dan tidak bertumpuknya jumlah guru di daerah-daerah tertentu; dan (4) Upah guru harus disesuaikan dengan tugas dan fungsinya yang begitu berat yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengubah watak dan

127 peradaban bangsa. Setidaknya, guru tidak lagi memikirkan tentang kebutuhan hidupnya agar mereka bisa fokus dengan pekerjaannya.

Untuk peningkatan sumber daya manusia, baik guru maupun kepala sekolah, diperlukan pembinaan secara nasional yang berkelanjutan, sehingga mampu menjawab tantangan dunia industri atau menghadapi era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0. Untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration).

Diharapkan guru menjadi pribadi yang kreatif, mampu mengajar, mendidik, menginspirasi, serta menjadi suri teladan, menghasilkan SDM unggul dengan beradaptasi di era Society 5.0. Perlu adanya kebijakan pemerintah tentang pengembangan guru di era Society 5.0 yang berkaitan dengan (1) standardisasi kualifikasi akademik guru minimal D4/S1 yang harus sesuai antara disiplin ilmu guru dengan mata pelajaran yang diampunya, (2) pengembangan diri guru agar menjadi kompeten, profesional, dan berkualitas melalui berbagai pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, (3) pengangkatan guru untuk memenuhi kekurangan jumlah guru, terutama di daerah-daerah terpencil, dan (4) upah guru yang harus sesuai agar kebutuhan hidup guru terpenuhi dan dapat fokus dengan pekerjaan profesionalnya. Beberapa tantangan dunia pendidikan Indonesia di Revolusi Industri 4.0, sebagai berikut: (a) Kesiapan pemerintah menyongsong era Pendidikan 4.0, (b) Pendidikan dituntut untuk berubah, (c) Era pendidikan dipengaruhi oleh Revolusi Industri 4.0, (d) Pendidikan 4.0 dikenal dengan cyber system, proses pembelajaran kontinu tanpa batas ruang dan waktu, (e) Indonesia lambat merespon revolusi industri 4.0.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Kepala SMA Negeri 7 Denpasar yang sudah memberikan izin dan dukungan dalam penelitian ini.

128 Referensi

Indonesia, K. P. (2020). Edcomtech. 61–66.

JDIH BPK RI. (2005). Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005. Standar Nasional

Pendidikan, 1, 1–95.

http://peraturan.go.id/inc/view/11e44c4eb77760a08616313231363039.html Krismiyati, K. (2017). Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan

Kualitas Pendidikan di SD Negeri Inpres Angkasa Biak. Jurnal Office, 3(1), 43.

https://doi.org/10.26858/jo.v3i1.3459

Manizar, E. (2017). Peran Guru Sebagai Motivator Dalam Belajar. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2), 204–222.

Masyarakat, K. (2013). Undang-Undang Nomor Undang-Undang Nomor.

Mufidah, Y. I. (2019). Pengembangan Sumber Daya Pendidik. Ta’dibia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 8(1), 75. https://doi.org/10.32616/tdb.v8.1.97.75-84 Ningrum, E. (2016). Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Pendidikan.

Jurnal Geografi Gea, 9(1). https://doi.org/10.17509/gea.v9i1.1681

Nurjani, N. P. (2018). Disrupsi Industri 4.0; Implementasi, Peluang Dan Tantangan Dunia Industri Indonesia. Jurnal Ilmiah Vastuwidya, 1(2), 23–32.

https://steemit.com/indonesia/@iqbalsweden/

Sabri, I. (2019). Peran Pendidikan Seni Di Era Society 5 . 0 untuk Revolusi Industri 4.0. Seminar Nasional Pascasarjana 2019, 2(1), 342–347.

https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/snpasca/article/view/302

129

CHAPTER II

TRANSFORMASI PEMBELAJARAN BERBASIS

Dalam dokumen (Membangun SDM Unggul di Era Society 5.0 untuk (Halaman 140-144)