BAB II LANDASAN TEORI
B. Pendidikan Pesantren
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan ialah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.31 Sedangkan menurut pendapat lain menyatakan bahwa “pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuan sebagai mana mestinya.32
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan seseorang secara sadar terhadap perkembangan jasmani dan rohani.
Unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan dalam hal ini adalah:
30 Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, (Jogjakarta: Ar- Ruz Media, 2013), h. 321-322.
31 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu., h. 1.
32 Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan., h. 14.
a. Usaha (kegiatan), usaha itu bersifat bimbingan (pimpinan atau pertolongan) dan dilakukan secara sadar;
b. Ada pendidik, pembimbing, atau penolong;
c. Adanya yang dididik atau si terdidik;
d. Bimbingan itu mempunyai dasar dan tujuan;
e. Dalam usaha itu tentu ada alat-alat yang dipergunakan.33
Atas dasar unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan sebagai suatu kegiatan yang memiliki tujuan hendaknya semua aspek dalam pendidikan harus terpenuhi agar apa yang yang menjadi tujuan dapat tercapai.
2. Pengertian Pesantren
Perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.34 “Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, umumnya dengan cara non-klasikal, dimana seorang kyai mengajar ilmu agama Islam kepada santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahas Arab oleh para ulama- ulama Arab pada abad pertengahan, para santri biasanya tinggal di pondok.35 Pendapat lain menyatakan “pondok pesantren sebagai tempat mengaji, belajar agama Islam. Sedangkan pesantren diartikan tempat orang yang belajar/menuntut pelajaran agama Islam.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat dipahami bahwa Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam. Dikatakan seperti itu karena di dalam pendidikan Pesantren fokus pembelajarannya
33 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu., h. 3-4.
34Yasmadi, Modernisasi Pesantren , (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 61.
35A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sukses Offest, 2008), h. 242.
adalah pendidikan agama Islam, di mana sebuah asrama atau pondok menjadi tempat tinggal para santri.
Beberapa metodologi pembelajaran yang biasa digunakan di Pesantren yakni:
Metodologi pembelajaran yang dipergunakan di pesantren umumnya menggunakan metode wetonan dan sorogan. Metode wetonan adalah metode pembelajaran dengan pola kyai membaca teks kitab tertentu dihadapan santri secara masal-kolektif, kemudian santri mendengar dan menyimak apa yang dibaca dan diceritakan oleh kyai tersebut. Metode sorogan adalah metode pembelajaran dengan melibatkan santri secara individual malalui kegiatan membaca kitab di hadapan kyai, kemudian kyai mendengarkan dan menunjukan kesalahan-kesalahannya.36
Berkaitan dengan metodologi pembelajaran di atas pada umumnya dipergunakan di kebanyakan pondok pesantren, akan tetapi dengan masuknya modernisasi pendidikan di pondok pesantren metode pembelajarannya juga ikut berkembang.
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki dua macam tujuan terbentuknya yakni tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan terbentuknya pondok pesantren adalah: (1) tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubalig Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya; (2) tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta dalam mengamalkan dan mendakwahkannya dalam masyarakat.37
Berdasarkan dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa tujuan terbentuknya pondok pesantren adalah dalam rangka membimbing atau membina anak didik agar menjadi manusia yang memiliki ilmu agama.
36 Ibid., h. 244-255
37Suyanto, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 235.
Tidak cukup sampai di situ, harapannya adalah anak didik dapat mengamalkan ilmu-ilmu agama yang telah diajarkan di Pesantren dan mampu mendakwahkannya di masyarakat sekitar mapun masyarakat luas.
3. Unsur-Unsur Pesantren
Unsur-unsur pokok Pesantren yang membedakan dengan lembaga pendidikan lainnya yaitu:
a. Pondok;
Merupakan tempat tinggal kiai bersama para santrinya. Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
b. Adanya masjid;
Sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Masjid yang merupakan unsur pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi sebagai tempat melakukan shalat berjama’ah setiap waktu shalat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar.
c. Santri;
Merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu:
1) Santri mukim
Ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
2) Santri kalong
Yaitu santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren.
Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.
d. Kiai;
Merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pengajaran. Karena itu kiai adalah salah satu unsur yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren.
e. Kitab-kitab Islam klasik;
Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab klasik yang dikarang para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan Bahasa Arab.38
Pendapat lain menyatakan bahwa unsur-unsur pesantren ada lima:
pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kyai.
Namun berdasarkan kenyatan di lapangan unsur-unsur pokok itu dapat dikemukakan: pondok, masjid, santri, pengajaran ilmu-ilmu agama, dan kyai.39
Berdasarkan dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Pesantren setidaknya memiliki beberapa unsur-unsur pokok yang masing-
38Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), h. 142-144.
39Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 27.
masing saling menunjang dalam eksistensi sebuah pesantren. Unsur-unsur itu adalah: pertama seorang kyai sebagai model, tauladan maupun guru yang ucapan-ucapannya dan perilakunya akan dicontoh santri maupun komunitas di sekitar Pesantren. Kedua, santri merupakan seseorang yang belajar di Pesantren. Ketiga, masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Keempat, pondok sebagai tempat tinggal kyai dan santri. Kelima, kitab-kitab klasik sebagai media pengajaran yang disampaikan oleh kyai kepada para santri. Akan tetapi pengajaran ilmu-ilmu agama tidak mesti bersumber dari kitab-kitab klasik.
4. Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pesantren
Sistem yang ditampilkan Pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam pendidikan pada umumnya yaitu:
a. Menggunakan sistem pendidikan tradisional, dengan ciri adanya kebebasan penuh dalam proses pembelajarannya, terjadinya hubungan interaktif antara kyai dan santri;
b. Pola kehidupan di pesantren menojolkan semangat demokrasi dalam praktik memecahkan masalah-masalah internal non-kurikuler;
c. Peserta didik (para santri) dalam menempuh pendidikan di pesantren tidak berorientasi semata-mata mencari ijazah dan gelar, sebagaimana sistem pendidikan di sekolah formal;
d. Kultur pendidikan diarahkan untuk membangun dan mengarahkan para santri agar hidup sederhana, memiliki idealisme, persaudaraan, persamaan, percaya diri, kebersamaan, dan memiliki keberanian untuk hidup di masa depan;
e. Dalam sejarahnya, alumni pesantren umumnya tidak bercita-cita untuk menjadi atau menguasai kedudukan (jabatan) di pemerintahan, karena itu mereka juga sulit untuk bisa dikuasai oleh pemerintah.40
40 A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan., h. 244.
Sesuai dengan arus kemajuan zaman diikuti pula dengan masuknya ide-ide pembaruan pemikir Islam di Indonesia maka pesantren telah mengalami perubahan.
Berkaitan dengan kehidupan politik nasional dan masuknya era reformasi sekarang ini, justru pesantren terkesan ada perubahan orientasi sistem penyelenggaraan pendidikannya. Pada awalnya sistem modernitas dunia pendidikan belum masuk ke pesantren, tetapi sekarang ini terjadi perubahan yang cukup mendasar. Bukti modernisasi sistem penyelenggaraan pendidikan di pesantren ini dapat dilihat dari aspek sarana dan prasarana gedung bangunannya sudah dibentuk seperti bangunan gedung mewah, gedung megah, fasilitas pembelajarannya sudah banyak yang menggunakan teknologi modern, seperti computer, TV, internet, laboratorium bahasa asing, dan lainnya.
Metodologi pembelajarannya sudah ada yang mulai menggunakan model pembelajaran aktif (active learning) dan model mengajar interaktif (interactive learning) dan lain sebagainya. Orientasi alumni pesantren sekarang ini juga sudah nampak gejala berubah, yakni mulai mengincar jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, mulai dari tingkat daerah sampai pusat.41
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Pesantren semakin adaptif terhadap kemajuan zaman. Atas dasar itu peluang Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang akan menciptakan manusia seutuhnya akan semakin terbuka.
Sistem pendidikan dan pengajaran di Pesantren dewasa ini dapat digolongkan kepada tiga bentuk yaitu:
a. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara nonklasikal (sistem bandungan dan sorogan) di mana seorang kiai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.
b. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut di atas,
41 Ibid., h. 245.
tetapi hanya santrinya tidak disediakan pondokan dikomplesk pesantren, namun tinggal tersebar di seluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (santri kalong), di mana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem wetonan, yaitu cara santri datang berduyun-duyun pada waktu- waktu tertentu.
c. Pondok pesantren dewasa ini merupakan gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang membrikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandungan, sorogan ataupun wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun merupakan santri kalongan, yang dalam istilah pendidikan pondok modern memenuhi kriteria pendidikan nonformal, serta menyelenggarakan pula pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai banyak tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masing-masing.42
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa di samping tetap mempertahankan sistem ketradisionalannya, pesantren juga mengembangkan dan mengelola sistem pendidikan madrasah. Begitu pula, untuk mencapai tujuan bahwa nantinya para santri mampu hidup mandiri.
5. Macam-Macam Pendidikan Pesantren
Secara garis besar, Pesantren sekarang ini dapat dibedakan kepada dua macam yaitu:
1. Pondok pesantren yang mempertahankan sistem pendidikan dalam bentuk aslinya. Pondok pesantren tipe ini tidak memiliki tingkat sebagaimana yang kita kenal sekolah (madrasah). Kelas atau kelompok yang ada yaitu penggolongan pada ilmu yang dipelajari, seperti kelompok pengajian tafsir, kelompok pengajian fiqih, kelompok pengajian nahwu, kelompok pengajian sorof, dan seterusnya.
2. Pondok pesantren yang menyesuaikan dengan tuntunan zaman dan perkembangan kemajuan di lapangan pendidikan. Pondok pesantren ini menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah dalam mendidik santri-santrinya di samping pengajian kitab sebagaimana yang dilakukan oleh pondok pesantren tipe pertama. Karena itu penjenjangan belajar santri sebagai berikut: Tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, bahkan perguruan tinggi. Namun demikian
42 Hasbullah, Sejarah Pendidikan., h. 146-147.
baik pondok pesantren tipe pertama maupun tipe kedua, semuanya masih memegangi ciri-ciri khusus pondok pesantren, yaitu:
a) Ada kiai yang mengajar dan mendidik;
b) Ada santri yang belajar dari kiai;
c) Ada masjid;
d) Ada pondok/asrama tempat para santri bertempat tinggal.43 Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa pendidikan Pesantren dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu Pesantren tradisional dan Pesantren modern. Pada Pesantren tradisional pembelajarannya masih tetap mempertahankan pelajaran kitab-kitab klasik dan belum diberikan pengetahuan umum. Sedangkan pada Pesantren modern telah menerapkan pengajaran madrasah memberikan ilmu agama dan ilmu umum, serta memberikan pendidikan keterampilan.