Penghindaran pencetus asma merupakan bagian dari tata laksana non- medikamentosa pada asma anak selain tata laksana KIE, baik pada pasien maupun keluarganya. Serangan asma bisa terjadi akibat dua faktor, yaitu kegagalan dalam farmakoterapi jangka panjang dan kegagalan menghindari faktor pencetus, ketika faktor pencetus ini bisa menyebabkan keadaan yang tidak ada gejala menjadi bergejala atau yang gejalanya ringan menjadi berat.
Telah diketahui banyak faktor risiko terhadap kejadian asma pada anak, tetapi ada dua faktor besar yang dipercaya sangat berperan pada kejadian asma, yaitu faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik hampir tak dapat dimodifikasi lagi dalam tata laksana penghindaran pencetus. Sedangkan faktor lingkungan dalam hal ini diklasifikasikan dalam beberapa kategori, antara lain alergen hirupan (indoor dan outdoor), iritan, kondisi komorbid, dan faktor lain.
pengobatan dinaikkan, serta penentuan kapan harus mencari pertolongan medis sehingga memberi keleluasaan pada anak dalam menentukan sendiri perubahan paduan pengobatan berdasarkan gejala dan penilaian PFM.
Dalam pelaksanaannya, RAA berisi catatan harian asma yang diisi setiap hari untuk memonitor keadaaan tidur malam, gejala asma, aktivitas, dahak, peak flow rate (PFR), pemakaian obat harian, dan penggunaan inhaler.
Pemantauan harian ini mempergunakan tiga zona warna:
• Zona hijau menunjukkan 80-100% dari nilai terbaik anak, biasanya tanpa gejala dan mengisyaratkan tetap menggunakan obat pengendali asma.
• Zona kuning menunjukkan Asthma of Physical Effort (APE) 50-80%, gejala sudah tampak seperti batuk, wheezing, pilek/selesma, napas berat dan cepat, gelisah, serta mengurangi aktivitas bermain. Ini mengisyaratkan penggunaan obat pereda sebagai tambahan obat.
• Zona merah yang menunjukkan APE <50%, gejala asmanya semakin berat meskipun sudah diberi pengobatan ‘zona kuning’, kesulitan makan, berbicara, berjalan dan bermain, serta gelisah sampai penurunan kesadaran merupakan keadaan gawat darurat dan harus segera menghubungi dokter atau rumah sakit.
Penerapan RAA ini terutama ditujukan pada pasien asma persisten, anak dengan kendali asma yang buruk, serta adanya riwayat eksaserbasi asma.
Kartu Aksi Asma (KAA)
Program KIE di sekolah diterapkan dalam bentuk Kartu Aksi Asma (KAA) berisi identitas anak dan nomor telepon untuk dapat dihubungi bila terjadi kekambuhan, rencana tata kelola asma harian dan rencana saat darurat.
Rencana tata kelola harian berisi:
• Identifikasi faktor pencetus asma seperti aktivitas, infeksi, makanan, debu dan lainya
• Pengendalian lingkungan sekolah
• Monitor PFR
• Rencana pengobatan harian.
Tabel 7.2. Faktor pencetus asma dan cara penghindaran No. Pencetus Cara Penghindaran
1. Tungau debu
rumah (TDR) • Membersihkan lantai dari debu setiap hari, lakukan pengisapan dengan high-efficiency particulate air (HEPA) filter setiap minggu
• Menggunakan sprei, sarung bantal dan selimut ‘mite impermeable’
dengan pori-pori lebih kecil dari 10 µm
• Membersihkan perabot-perabot rumah yang potensial menyimpan debu minimal 2 minggu sekali
• Memasukkan mainan ke dalam freezer semalaman atau mencucinya dengan air hangat secara teratur
• Menjemur kasur yang mengandung kapuk serta karpet di bawah sinar matahari selama minimal 3 jam setiap minggu atau menggantinya dengan spring bed, atau jika tidak memungkinkan membungkusnya dengan plastik
• Mencuci dan merendam dengan air hangat (minimal 60oC) sprei, kain penutup pintu dan jendela minimal seminggu sekali, atau menjemurnya di bawah sinar matahari
• Mencuci karpet yang berbulu atau mengantinya dengan karpet berbahan dasar plastik
• Mengupayakan udara ruangan bebas debu dengan menggunakan exhaust fan, serta membersihkan dan mengganti saringan udara secara teratur
• Menyingkirkan koran dan majalah bekas dari ruang tempat anak beraktivitas
• Tidak menumpuk buku lebih dari 3 buah dalam satu tumpukan
• Menghindari boneka bulu atau mencucinya minimal seminggu sekali
• Menurunkan kelembaban ruangan dengan penggunaan air conditioning atau dehumidifier
• Ganti karpet dengan matras yang mudah dibersihkan
• Ganti furnitur yang menyimpan dan susah dibersihkan dari debu
• Hindari tinggal di bawah lantai dasar (ground level)
2. Asap rokok • Memaksimalkan ventilasi udara dan penggunaan pembersih udara
• Orangtua atau anggota keluarga yang merokok mutlak menghentikan kebiasaan merokok
• Jika terpaksa, setidaknya tidak merokok di dalam rumah terutama pada saat anak berada di dalamnya
3. Kecoa • Memberantas kecoa dengan menggunakan pestisida, insektisida, dan memasang perangkap
• Menutup akses masuk ke dalam rumah
• Membuang sisa-sisa makanan 4. Serbuk sari/
pollen • Menutup pintu pada saat angin kencang di musim serbuk sari
• Mengurangi aktivitas yang menyebabkan paparan
• Segera mandi setelah melakukan aktivitas yang terpapar dengan serbuk
• sariMenggunakan HEPA filter
• Menggunakan exhaust fan di rumah pada saat kadar serbuk sari yang tinggi
5. Jamur • Membersihkan jamur dari dalam rumah
• Menutup lubang di dinding/atap yang bocor dan retak
• Mengurangi kelembaban serta menjaga rumah tetap kering
Anggapan bahwa asma dapat disembuhkan atau dikendalikan hanya dengan obat-obatan akan membuat penyakit asma semakin parah karena penghindaran faktor pencetus ini merupakan upaya utama dalam tata laksana asma. Dengan penghindaran pencetus yang adekuat, kebanyakan asma dapat dikendalikan walau terkadang tanpa obat asma. Sedemikian pentingnya penghindaran pencetus hingga Dolovich J. dkk. (1983) mengemukakan: “Thus, strategies to avoid offending substances are potentially
‘curative’ and require the dedicated attention of the therapist.”
Peranan pajanan alergen dalam perjalanan perkembangan asma melalui dua proses bertingkat, yaitu pajanan yang menyebabkan terjadinya sensitisasi dan pajanan pada individu yang telah tersensitisasi akan menyebabkan berkembangnya asma. Gambaran patologi asma terutama oleh karena sensitisasi alergen dan inflamasi atopi diantaranya perubahan fibrotik jaringan di sekitar lumen jalan napas, hipertrofi dan hiperplasia otot polos, hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus, dan kerusakan epitel jalan napas. Paparan ini juga mampu menyebabkan terjadinya sensitisasi alergen, hiperresponsif jalan napas, dan gambaran remodelling (hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus, penebalan membran basalis, dan kerusakan epitel).
Walaupun pada beberapa hasil penelitian terakhir yang dilakukan bahkan dengan meta-analisis menilai penghindaran alergen termasuk di antaranya tungau debu rumah dan binatang peliharaan tidak memberi manfaat dalam pengendalian asma, namun beberapa penelitian lain justru menyimpulkan bahwa penghindaran alergen masih merupakan tindakan yang sangat bermanfaat.
Pedoman Nasional Asma Anak 2015
Gambar7.1.Rencana Aksi Asma (RAA)
DAFTARPUSTAKA
Nama (Pasien) :_____________________________ No. Telp Dokter : ___________________________ Dokter :______________________________________________________ No. Telp Rumah Sakit/Instalasi Gawat Darurat : ____________________________________________________ Tanggal : ________________________ Kondisi Baik Tidak batuk, wheezing, sesak di dada, atau napas yang pendek saat siang atau malam hari Dapat melakukan aktivitas sehari‐hari Dan, jika menggunakan peak flow meter (PFM) : Peak flow : lebih dari _______________________(80% atau lebih dari peak flow terbaik saya) Hembusan udara terkuat saya : _________________
Minumlah obat pengendali jangka panjang di bawah ini setiap harinya (termasuk satu obat anti radang) Nama obat Cara Pemakaian Obat ___________________________ ___________________________________ ___________________________ ___________________________________ ___________________________ ___________________________________ ___________________________ ___________________________________ Asma Memburuk Batuk, wheezing, sesak di dada, atau napas pendek, atau Terbangun di malam hari karena asma, atau Dapat melakukan beberapa, namun tidak semua aktivitas sehari‐hari ‐ Atau ‐ Peak flow : _____________ sampai _________________ (50 sampai 79% dari peak flow terbaik saya) Tambahkan obat pereda kerja pendek dan lanjutkan pemakaian obat pengendali □ 2 atau □ 4 semprot, setiap 20 menit, maksimal 2 kali ____________________ □ nebulisasi, maksimal 2 kali (agonis β2 kerja pendek) Jika gejala (dan peak flow, jika menggunakan peak flow meter) membaik ke ZONA HIJAU setelah 1 atau 2 kali menggunakan obat‐obatan di atas: □ Lanjutkan pemantauan pengobatan anda untuk memastikan anda tetap di zona hijau ‐ Atau ‐ Jika gejala anda (dan peak flow, jika menggunakan peak flow meter) tidak membaik ke ZONA HIJAU setelah 2 kali menggunakan obat‐obatan di atas: □ Segera ke fasyankes/UGD untuk tata laksana lebih lanjut
Pertama Waspada! Napas sangat pendek, atau Obat‐obatan kerja pendek tidak membantu, atau Tidak dapat melakukan aktivitas sehari‐hari, atau Gejala sama atau memburuk setelah 24 jam di ZONA KUNING Atau Peak flow : Kurang dari __________ (50% dari peak flow terbaik saya) Gunakan obat ini: □ ________________________ (agonis β2 kerja pendek) □ ________________________ (steroid minum) Telepon dokter anda SEKARANG. Datanglah ke rumah sakit atau telpon ambulan jika: □ Anda masih di zona merah setelah 15 menit DAN □ Anda belum bisa bertemu dengan dokter anda □ Kesulitan berjalan dan berbicara karena napas pendek □ Bibir atau ujung jari menjadi kebiruan
Gunakan □ 2 atau □ 4 semprot obat pereda kerja pendek DAN Datang ke rumah sakit atau telepon ambulans __________ SEKARANG! (NO. TELEPON)
ZONA HIJAU
ZONA KUNING ZONA MERAH TANDA BAHAYA Lihat halaman belakang untukmengetahui apa yang dapat anda lakukan untuk menghindari pencetus asma anda
Kedua
Sebelum berolahraga □ _________________ □ 2 atau □ 4 semprot dipakai 5 menit sebelum berolahraga
No. Pencetus Cara Penghindaran 6, Rontokan
hewan (animal danders)
Mengeluarkan hewan peliharaan dari dalam rumah. Butuh waktu sekitar 4-6 bulan setelah ditinggalkan oleh hewan peliharaan hingga alergennya menghilang.
Membersihkan dan mencuci permukaan/tempat-tempat yang pernah ditempati oleh hewan tersebut secara teratur, seperti matras bahkan jika memungkinkan dibuang.
Memakai pembersih udara atau penyaring udara (exhaust fan)
Jika tidak memungkinkan untuk mengeluarkannya, berikan tempat tersendiri bagi hewan peliharaan jauh dari kamar tidur anak
Memandikan hewan peliharaan sedikitnya 2 kali dalam seminggu dapat mengurangi paparan terhadap alergen
Menghindari paparan terhadap binatang peliharaan terutama anjing dan kucing pada awal-awal kehidupan
7. Tikus Edukasi, eksterminasi, pembersihan serta penutupan tempat-tempat penampungan sampah
Penutupan makanan
Penutupan lubang serta dinding-dinding yang retak 8. Hirupan zat-
zat lain Hindari asap obat nyamuk bakar (juga semprotan dan elektrik), asap kayu bakar, minyak tanah, gas, asap bakaran sampah, asap bakaran hutan, polusi pabrik, asap kendaraan dan lain-lain
Menggunakan cerobong asap 9. Alergen
makanan Anak asma dengan alergi makanan, sebaiknya menghindari jenis makanan penyebab alergi seperti susu, telur, ikan, kacang, ragi, keju, gandum, dan coklat
Hati-hati pada zat dalam bahan makanan yang dapat memprovokasi terjadinya asma: sulfur dioksida, sodium benzoat, zat pewarna (alami/sintetis) seperti tartrazin, penyedap rasa (misalnya MSG), golongan salisilat (misalnya aspirin), anggur merah, asam lemak omega-6
10. Rinitis, sinusitis, dan infeksi virus lainnya
Kontrol terhadap infeksi pada rinitis atau sinusitis jika ada
Kendalikan influenza pada hidung dan sinus yang disebabkan karena infeksi maupun alergi
11. Exercise- induced asthma (EIA)
Pemanasan serta pendinginan yang benar sebelum atau sesudah melakukan aktivitas
Menggunakan inhalasi agonis β2 lepas lambat sebelum beraktivitas
Mengalihkan atau memodifikasi jenis olahraga atau aktivitas ke arah olahraga yang bersifat aerobik
12. Kegemukan Menurunkan berat badan pasien asma yang gemuk
13. Lain-lain Menghindari perubahan musim/cuaca, suhu AC yang terlalu dingin, atmosfer yang mendadak dingin, stress/emosional, refluks gastroesofageal, alergen obat-obatan tertentu, (mis. aspirin, penisilin, sefalosporin, eritromisin, tetrasiklin)
Daftar Bacaan
1. Asthma self-management goals for children 9 years and younger. Diunduh dari: http://www.chcs.org/usr_doc/Self_Management_Goals_for_Children.
2. Agarkhedkar SR, Bapat HB, Bapat BN. Avoidance of food allergens in child- hood asthma. Indian Pediatrics. 2005; 42:362-6.
3. Bachrier LB, Boner A, Carlsen KH, Eigenmann PA, Frischer T, Götz M, dkk. Diagnosis and treatment of asthma in childhood: a PRACTALL con- sensus report. Allergy. 2008;63:5-34.
4. Baxi SN, Phipatanakul W. The role of allergen exposure and avoidance in asthma. Adolesc Med State Art Rev. 2010;21:57–71.
5. Bedi RS. Patient education programme for asthmatics: indian perspective.
Indian J Chest Dis Allied Sci. 2007; 49:93-8.
6. Burns L, Cifaloglio C, Elwood L, Enoch JP, Geldmaker B, Hughes T, dkk.
Guidelines for Managing Asthma in Virginia Schools: A Team Approach.
Virginia Department of Health in collaboration with Virginia Department of Education and the Virginia Asthma Coalition. 2003. Diunduh dari : http://
www.doe.virginia.gov/support/health_medical/asthma/guidelines_manag- ing_asthma.pdf.
7. Castro-Rodríguez JA. Assessing the risk of asthma in infants and pre-scholl children. Arch Bronconeumol. 2006; 42:453-6.
8. Dykewicz MS. Rhinitis and sinusitis. J Allergy Clin Immunol. 2003;111:S520-9.
9. FitzGerald M, Batemen ED, Boulet LP, Cruz AA, Haahtela T, Levy ML, dkk. Global initiative for asthma: global strategy for asthma management and prevention updated 2012. Diunduh dari:www.ginasthma.org.
10. Gøtzsche PC, Hammarquist C, Burr M. House dust mite control measures in the management of asthma: meta-analysis. BMJ. 1998; 317:1105-10.
11. Gøtzsche PC, Johansen HK. House dust mite control measures for asthma (review). Cochrane Database Syst Rev. 2008. h.4-5.
12. George M, Stoloff S. Teaching patients the critical components of asthma self-management. Journal of Asthma & Allergy Educators. 2012;3:10-9.
13. Gupta KB, Verma M. Nutrition and asthma. Lung India . 2007; 24:105-14.
14. Hillemeier MM, Gusic, M., Bai Y. Communication and education about asthma in rural and urban schools. Ambul Pediatr. 2006;6:198-203.
15. Jones MA. Asthma self-management patient education. Respir Care. 2008;
53:778 –84.
16. Kilburn SA, Lasserson TJ, McKean MC. Pet allergen control measures for allergic asthma in children and adults. Cochrane Database Syst Rev. 2001.
Issue 1. DOI: 10.1002/14651858.CD002989 .
Pedoman Nasional Asma Anak 2015
Cara mengendalikan hal‐hal yang dapat membuat asma anda memburuk Panduan ini menyarankan beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah serangan asma. Berikan tanda ceklis pada setiap pencetus yang anda ketahui dapat memperburuk asma anda dan tanyakan kepada dokter anda untuk mencari tahu jika ada memiliki pencetus lain. Lalu tetapkan dengan dokter anda langkah apa yang akan anda lakukan. Alergen □ Bulu/Serpihan kulit hewan Beberapa orang alergi terhadap serpihan kulit atau air liur kering dari hewan berbulu. Tindakan yang dapat dilakukan: Tidak memelihara hewan berbulu/unggas di dalam rumah Jika anda tidak dapat menjaga hewan peliharaan di luar rumah, Jangan biarkan hewan peliharaan anda masuk ke dalam kamar tidur anda dan tempat tidur lain kapanpun, dan jagalah agar pintu anda selalu tertutup Jangan gunakan karpet dan furnitur yang dilapisi kain. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan, jagalah hewan peliharaan anda dari furnitur yang dilapisi kain dan karpet □ Tungau debu rumah Banyak pasien asma yang alergi terhadap tungau debu rumah. Tungau debu rumah adalah kumbang kecil yang dapat ditemukan di seluruh bagian rumah: kasur bantal, karpet, furnitur yang dilapis kain, bed cover, pakaian, mainan, dan kain atau benda yang tertutup kain. Tindakan yang dapat dilakukan: Simpan kasur dengan membungkus di dalam pelindung bebas debu Simpan bantal di dalam pelindung bebas debu atau cuci bantal setiap minggu dengan air panas bersuhu di atas 55˚C untuk membunuh tungau Cuci seprai dan selimut dengan detergen dan pemutih untuk membunuh tungau Gunakan dehumidifier atau penyejuk ruangan terpusat untuk mengurangi kelembaban dalam ruangan hingga di bawah 60% (idealnya 30‐50%) Cobalah untuk tidak tidur atau berbaring di atas sofa yang dilapisi kain Jagalah mainan di luar kamar tidur atau cucilah mainan setiap minggu dengan air panas atau air dingin dengan detergen dan pemutih □ Kecoak Banyak pasien dengan asma yang alergi terhadap bangkai atau sisa‐sisa kecoak. Tindakan yang dapat dilakukan: Jagalah makanan dan sampah dalam tempat atau wadah tertutup. Gunakan bubuk, gel, atau pasta beracun (misalnya asam borat) atau perangkap untuk membunuh kecoak. Jika anda menggunakan semprotan untuk membunuh kecoak, jauhi ruangan sampai bau semprotan hilang □ Jamur di dalam rumah □ Serbuk sari atau jamur di luar rumah Jagalah jendela anda tetap tertutup Tetaplah di dalam rumah dengan jendela tertutup pada pagi hingga siang hari karena jumlah serbuk sari di udara meningkat pada saat tersebut Bila dosis tambahan obat anti radang dibutuhkan sebelum musim alergi dimulai, mintalah kepada dokter anda Iritan □ Asap rokok Jika anda merokok, berhentilah merokok atau tanya dokter anda cara yang dapat membantu anda agar berhenti merokok Ajak seluruh anggota keluarga untuk berhenti merokok Jangan merokok dalam rumah atau mobil □ Asap, bau, dan semprotan yang menyengat Jika memungkinkan, jangan memasak dengan kayu bakar, minyak tanah, atau perapian Hindari bau dan semprotan yang menyengat seperti parfum, bedak, cat, dan hair spray. Hal lain yang dapat menimbulkan gejala asma □ Penyedot debu Minta bantuan orang lain untuk menyedot debu seminggu atau dua minggu sekali. Berada di luar ruangan tersebut pada saat sedang disedot debunya dan beberapa saat setelahnya Jika ada yang sedang menyedot ruangan, gunakan masker anti debu (dari toko perkakas), gunakan kantung vakum dengan filter mikro atau kantung vakum dua lapis, atau kantung vakum dengan filter HEPA
□ Hal lainnya yang dapat memperburuk asma Sulfit (pengawet) pada makanan dan minuman: Jangan minum bir, anggur, atau buah yang dikeringkan, kentang yang telah diproses, atau udang, jika hal tersebut menimbulkan gejala asma Udara dingin : Lapisi hidung dan mulut dengan kain (selendang) saat udara dingin atau cuaca berangin Obat‐obatan. Beri tahu dokter tentang semua obat‐obatan yang anda konsumsi seperti obat flu, aspirin, vitamin, dan suplemen lainnya, dan obat beta bloker non selektif (termasuk dalam obat tetesmata)Betulkan keran, pipa, atau sumber air lain yang bocor dengan adanya jamur di sekitar sumber air tersebut Bersihkan permukaan yang berjamur dengan pembersih yang mengandung pemutih
30. Wheeler LS, Bartholomew LK, Boehm R, Brasler M, Constante C, Goldberg E, dkk. Managing asthma a guide for schools 2003. Diunduh dari: http://
www.nhlbi.nih.gov/health/prof/lung/asthma/asth_sch.pdf.
31. Woodfine L, Neal RD, Edwards RT, Linck P, Mullock L, Nethans N, dkk. En- hancing ventilation in homes of children with asthma: pragmatic randomised controlled trial. Br J Gen Prac. 2011; DOI: 10.3399/bjgp11X606636.
32. Yeatts K, Washington D, Sleath B, Ayala GX, Gilette C, Williams D, dkk.
Communication and education about triggers and environmental control strategies during pediatric asthma visits. Patient Educ Couns. 2012;86:63-9.
17. Liccardi G, Custovic A, Cazzola M, Russo M, D’Amato M,D’Amato G.
Avoidance of allergens and air pollutants in respiratory allergy. Allergy.
2001:56:705-22.
18. Maryland State Department of Education Student Services and Alternative Programs Branch. Management of student with asthma in school mary- land state school health services guideline 2006 .Diunduh dari:http://www.
marylandpublicschools.org/NR/rdonlyres/6561B955-9B4A-4924-90AE- F95662804D90/35018/Asthma_Guidelines_02272013_.pdf.
19. Matondang MA, Lubis HM, Daulay RM, Panggabean G, Dalimunthe W.
Peran komunikasi, informasi, dan edukasi pada asma anak. Sari Pediatri.
2009;10:314-9.
20. Murphy S, Bleecker ER, Boushey H, Buist AS, Busse W, Clark NM, dkk.
Practical guide for the diagnosis and management of asthma based on the expert panel report 2: guidelines for the diganosis and management of asth- ma. 1997. Diunduh dari: http://www.niehs.nih.gov/health/assets/docs_a_e/
asthma_action_plan_.pdf.
21. Myers TR. Guidelines for asthma management: a review and comparison of 5 current guidelines. Respir Care. 2008; 53:751–69.
22. National Heart, Lung, and Blood Institute. National asthma education and prevention program expert panel report 3: guidelines for the diagnosis and management of asthma full report 2007. Diunduh dari: http://www.nhlbi.
nih.gov/guidelines/asthma/asthgdln.pdf.
23. Platts-Mills T, Leung DYM, Schatz M. The role of allergens in asthma. Am Fam Physician. 2007;76:675-80.
24. Rahajoe N. Pengobatan pencegahan asma. Cermin Dunia Kedokteran. 1991;
69:45-9
25. Risnes KR, Belanger K, Murk W, Bracken MB. Antibiotic exposure by 6 months and asthma and allergy at 6 years: findings ina cohort of 1,401 us children. Am J Epidemiol. 2011;173:310-8.
26. Stevens CA, Wesseldine LJ, Couriel JM, Dyer AJ, Osman LM, Silverman M.
Parental education and guided self-management of asthma and wheezing in the pre-school child: a randomised controlled trial. Thorax. 2002;57:39–44.
27. Sin DD, Sutherland ER. Obesity and the lung : 4. Obesity and asthma. Tho- rax. 2008; 63:1018–23.
28. The International Study of Asthma and Allergies in Childhood. The glob- al asthma report 2011. International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.. Diunduh dari: http://www.globalasthmareport.org/.
29. Vichyanond P, Pensrichon R, Kurasirikul S. Progress in the management of childhood asthma. Asia Pac Allergy. 2012;2:15-25.
Sebagian besar pasien asma terkena rinitis dan sekitar 20-40% pasien dengan rinitis persisten akan berkembang menjadi asma. Rinitis selain sebagai faktor risiko terjadinya asma, juga merupakan salah satu faktor yang akan meningkatkan derajat keparahan asma dan penggunaan obat-obatan asma. Alergen yang ditengarai berpotensi menimbulkan rinitis dan asma adalah alergen indoor dan outdoor seperti tungau debu rumah (house dust mite), bulu binatang, dan pollen. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) merekomendasikan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya asma pada semua pasien dengan rinitis.
Rinitis alergi sering luput tidak terdiagnosis pada pasien asma dan sering pula tidak diobati dengan semestinya. Terbukti bahwa penelantaran pengobatan rinitis meningkatkan morbiditas asma. Tata laksana rinitis yang tepat akan memperbaiki gejala asma. Obat anti inflamasi termasuk steroid topikal, antileukotrien, dan antikolinergik dapat berperan efektif baik pada rinitis maupun asma. Tetapi, ada obat yang hanya efektif terhadap rinitis (misalnya antagonis H1) dan efektif terhadap asma (misalnya agonis β2).
Penelitian tentang penggunaan steroid intranasal untuk rinitis alergi menunjukkan perbaikan gejala nasal (bersin, rinorea, hidung buntu dan gatal), serta gejala okular jangka pendek. Oleh karena itu, cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa pengobatan rinitis alergi yang menyertai asma akan mengurangi gejala rinitis. Pertanyaannya adalah apakah pengobatan rinitis alergi akan memperbaiki kendali asma? Pada pasien dewasa, penggunaan steroid intranasal berhubungan dengan penurunan bermakna risiko perawatan darurat dan rawat inap terkait asma (adjusted OR: 0,75; KI95%: 0,62-0,91 dan 0,56; 0,42-0,76, berurutan). Kelompok ARIA merekomendasikan pemakaian steroid intranasal baik pada pasien dewasa maupun anak, walaupun bukti pada anak masih lebih rendah dibanding dengan pada dewasa.
Sinusitis merupakan komplikasi dari infeksi respiratori atas, rinitis alergi, atau bentuk lain dari obstruksi nasal. Sinusitis akut maupun kronik dapat memperburuk gejala asma. Diagnosis sinusitis, selain berdasarkan gambaran klinis, direkomendasikan pula untuk berdasarkan pemeriksaan penunjang seperti CT scan. Dokter perlu membedakan sinusitis viral dan sinusitis bakteri. Bila dicurigai infeksi bakteri dengan gejala menetap lebih dari 10 hari dan tidak membaik; panas tinggi yang didahului purulent nasal discharge sedikitnya 3-4 hari, atau perburukan gejala infeksi respiratori atas setelah sebelumnya menunjukkan gejala perbaikan (double sickening), direkomendasikan diberikan antibiotik.