BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Pada tahap pengumpulan data, penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis telah mengadakan perkenalan dan menjelaskan maksud penulis yaitu untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien sehingga pasien atau dan keluarga terbuka dan mengerti secara kooperatif.
Identitas pasien : pada dasarnya pengkajian antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak banyak kesenjangan, tinjauan pustaka yang didapat usia yang rentan menderita diabetes mellitus >30 tahun dan sebagian besar banyak dijumpai pada perempuan disbanding laki-laki.
(Mardhiyah, 2017). Pada tinjauan kasus didapat data pasien berumur 55 tahun dan pada jenis kelamin perempuan. Antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak ditemukan perbedaan yang signifikan.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena identitas pasien yang dialami pasien sama dengan identitas pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu usia yang rentan menderita diabetes mellitus >30 tahun dan sebagian besar banyak dijumpai pada perempuan dibanding laki-laki.
4.1.2 Riwayat Keperawatan
4.1.2.1 Keluhan utama : pada tinjauan pustaka pada pasien dengan Diabetes Mellitus biasanya mengalami penglihatan kabur, lemas, takikardi, banyak kencing, kesemutan pada kaki atau tungkai bawah, luka yang sukar sembuh dan terjadi penuruan berat badan. Pada tinjauan kasus didapatkan data pasien menyeluh nyeri karena adanya ulkus di kaki kanannya.
(Mardhiyah, 2017). Pada tinjauan kasus tidak ada kesenjangan dengan tinjauan pustaka dikarenakan sama-sama ditemukan dengan data yaitu sering kesemutan, penurunan berat badan, nyeri pada luka yang sukar sembuh, adanya kemerahan pada sekitar luka, adanya pus.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena keluhan utama yang dialami oleh pasien sama dengan keluhan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu sering kesemutan, penurunan berat badan, nyeri pada luka yang sukar sembuh, adanya kemerahan pada sekitar luka, adanya pus.
4.1.2.2 Riwayat Penyakit saat ini : pada tinjauan pustaka didapatkan keadaan pasien yang menderita diabetes mellitus dengan keluhan kesemutan, luka sukar sembuh, menurunnya berat badan, banyak kencing dan menurunnya
ketajaman penglihatan. (Mardhiyah, 2017). Sedangkan hasil dari tinjauan kasus diperoleh hal yang sama yaitu kesemutan, luka sukar sembuh dan menurunnya berat badan. Pada tinjauan kasus tidak ada kesenjangan dengan tinjauan pustaka dikarenakan sama-sama ditemukan data yang sama antara lain kesemutan, penurunan berat badan, luka sukar sembuh, , nyeri akut, adanya kemerahan di sekitar luka, adanya pus.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena Riwayat Penyakit saat ini yang dialami oleh pasien sama dengan Riwayat Penyakit saat ini pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu sering kesemutan, penurunan berat badan, nyeri pada luka yang sukar sembuh, adanya kemerahan pada sekitar luka, adanya pus.
4.1.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu : pada tinjauan pustaka didapatkan riwayat penyakit dahulu seperti adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, arterosklerosis. (Mardhiyah, 2017). Sedangkan hasil tinjauan kasus diperoleh hal yang sama yaitu adanya riwayat diabetes mellitus selama 7 tahun yang lalu dan saat ini terdapat luka di kaki kanannya. Pada tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak ditemukan kesenjangan yang signifikan.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena Riwayat Penyakit Dahulu yang dialami oleh pasien sama dengan Riwayat Penyakit Dahulu pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu terdapat luka di kaki nya
4.1.2.4 Pada Pemeriksaan Fisik B1 (Breathing) : menurut tinjauan pustaka di dapat inspeksi : bentuk dada simetris, tidak ada retraksi otot bantu nafas, terkadang terpasang alat bantu nafas. Pada palpasi RR >22x/menit, vocal fremitus sama antara kanan dan kiri, susunan ruas tulang belakang normal.
Pada auskultasi tidak ditemukan suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler. (Mardhiyah, 2017). Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : bentuk dada simetris, tidak ada alat bantu nafas, tidak ada retraksi otot bantu nafas. Pada palpasi RR dalam batas normal, vocal fremitus sama antara kanan dan kiri, susunan ruas tulang belakang normal.
Pada auskultasi tidak ditemukan suara nafas tambahan dan suara nafas vesikuler.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena pernafasan yang dialami oleh pasien sama dengan pernafasan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu bentuk dada simetris, tidak ada alat bantu nafas, tidak ada retraksi otot bantu nafas, RR dalam batas normal, vocal fremitus sama antara kanan dan kiri, susunan ruas tulang belakang normal.
Pada auskultasi tidak ditemukan suara nafas tambahan dan suara nafas vesikuler.
4.1.2.5 Pada pemeriksaan fisik B2 (Blood) : pada tinjauan pustaka didapatkan inspeksi : penyembuhan luka yang lama. Pada palpasi ictus cordis tidak teraba, nadi >84x/menit, irama regular, CRT <2 detik, pulsasi kuat lokasi radialis. Pada perkusi suara redup, pada auskultasi bunyi jantung normal.
(Mardhiyah, 2017). Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi
tidak nyeri dada, tidak terjadi sianosis. Pada palpasi ictus cordis tidak teraba di ICS 5 midclavikula kiri ukuran 1 cm, nadi 82x/menit, irama regular. Pada perkusi suara redup. Pada auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 normal, tidak ada bunyi jantung tambahan seperti gallop ataupun murmur.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem kardiovaskuler yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem kardiovaskuler pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu tidak nyeri dada, tidak terjadi sianosis, ictus cordis tidak teraba di ICS 5 midclavikula kiri ukuran 1 cm, nadi 82x/menit, irama regular, bunyi jantung S1 dan S2 normal, tidak ada bunyi jantung tambahan seperti gallop ataupun murmur.
4.1.2.6 Pada Pemeriksaan Fisik B3 (Brain) : pada tinjauan pustaka didapatkan kesadaran bisa baik ataupun menurun (composmentis, apatis, somnolen, stupor, koma), klien bisa pusing, kesemutan, sering mengantuk, tidak ada gangguan memori. (Mardhiyah, 2017). Pada tinjaun kasus didapatkan kesadaran pasien composmentis, GCS 456, orientasi baik, klien merasa pusing dan tidak terjadi kelainan nervus cranialis.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem persyarafan yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem persyarafan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu kesadaran pasien
composmentis, GCS 456, orientasi baik, klien merasa pusing dan tidak terjadi kelainan nervus cranialis.
4.1.2.7 Pada Pemeriksaan Fisik B4 (Bladder) : pada tinjaun pustaka didapatkan inspeksi : bentuk kelamin normal, kebersihan alat kelamin bersih, frekuensi berkemih normal/tidak (bau, warna, jumlah, tempat yang digunakan). Biasanya mengalami masalah pada saluran kencing seperti polyuria, anuria, oliguria. (Mardhiyah, 2017). Pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : bentuk kelamin pasien normal, kebersihan alat kelamin bersih, frekuensi berkemih 2-3x dalam sehari, bau khas, warna kuning, tempat yang digunakan kamar mandi. Jumlahnya 500 cc/24 jam.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem perkemihan yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem perkemihan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu bentuk kelamin pasien normal, kebersihan alat kelamin bersih, frekuensi berkemih 2-3x dalam sehari, bau khas, warna kuning, tempat yang digunakan kamar mandi.
Jumlahnya 500 cc/24 jam.
4.1.2.8 Pada Pemeriksaan Fisik B5 (Bowel) : pada tinjauan pustaka didapatkan inspeksi : keadaan mulut mungkin kotor, mukosa bibir kering atau lembab, lidah mungkin kotor, ada kesulitan menelan atau tidak, bisa terjadi mual muntah, penurunan berat badan, polifagia, polidipsi. Pada palpasi adakah nyeri abdomen. Pada perkusi didapatkan bunyi timpani. Pada auskultasi terdengar peristaltic usus. Kebiasaan BAB di rumah dan saat MRS, bagaimana konsistensi, warna, baud an tempat yang digunakan.
(Mardhiyah, 2017). Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : keadaan mulut pasien bersih, mukosa bibir lembab, gigi bersih, tidak mengalami kesulitan menelan, bentuk bibir normal, kebiasaan gosok gigi 1x sehari, kebiasaan BAB 1x sehari konsistensi lembek, warna coklat, bau khas, tempat yang digunakan kamar mandi. Pada perkusi suara abdomen timpani. Pada auskultasi peristaltic usus normal 8x/menit.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem pencernaan yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem pencernaan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu keadaan mulut pasien bersih, mukosa bibir lembab, gigi bersih, tidak mengalami kesulitan menelan, bentuk bibir normal, kebiasaan gosok gigi 1x sehari, kebiasaan BAB 1x sehari konsistensi lembek, warna coklat, bau khas, tempat yang digunakan kamar mandi, suara abdomen timpani, peristaltic usus normal.
4.1.2.9 Pada pemeriksaan fisik B6 (Bone) : pada tinjauan pustaka didapatkan inspeksi : kulit tampak kotor, jika ada luka observasi luka, kedalaman luka, ada pus atau jaringan mati atau tidak, luas luka, ada oedema atau tidak, lokasi luka. Pada palpasi kelembaban kulit lembab, akral hangat, turgor kulit baik, kekuatan otot dapat menurun, pergerakan sendi dan tungkai bisa mengalami penurunan. Pada perkusi adakah fraktur, dislokasi.
(Mardhiyah, 2017). Sedangan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : kemampuan pergerakan sendi bebas, terdapat luka di plantar pedis dextra, terjadi kemerahan sekitar luka, berbau, ada pus, luas luka 6-7 cm, kedalaman luka 1-2 cm, tidak terjadi eodema, kebersihan kulit bersih. Pada
palpasi ditemukan akral hangat, turgor kulit baik, tidak ada oedema, kekuatan otot normal. Pada perkusi tidak ada dislokasi dan fraktur.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem muskuloskletal yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem muskuloskletal pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu terdapat luka dikakinya
4.1.2.10 Pada pemeriksaan fisik B7 (Penginderaan) : pada tinjauan pustaka didapatkan inspeksi : penglihatan mata mulai kabur, ketajaman penciuman normal, ada secret atau tidak, ketajaman pendengaran normal, bentuk telingan normal dan ketajaman pendengaran normal. (Mardhiyah, 2017).
Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : konjungtiva anemis, sclera putih, tidak ada palpebra dan tidak strabismus, ketajaman penglihatan baik. Pada hidung bentuk normal, mukosa hidung lembab, tidak ada secret, ketajaman penciuman normal. Pada telingan bentuk normal, ketajaman pendengaran normal, tidak terpasang alat bantu, perasa, peraba dalam batas normal dan baik.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem penginderaan yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem penginderaan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu penglihatan mata mulai kabur, ketajaman penciuman normal, ada secret atau tidak, ketajaman pendengaran normal, bentuk telingan normal dan ketajaman pendengaran normal.
4.1.2.11 Pada pemeriksaan fisik B8 (Endokrin) : pada tinjauan pustaka didapatkan inspeksi : adakah luka gangrene, jika ada lokasi gangrene, kedalaman, ada pus atau tidak, bau, luas gangrene. Terjadi polidipsi, polifagi, poliuri, biasanya terjadi penurunan atau peningkatan pada berat badan atau bahkan kehilangan bagian tubuhnya. (Mardhiyah, 2017).
Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi : terdapat luka gangrene di plantar pedis dextra, luka terdapat pus, berbau, adanya kemerahan disekitar luka, tidak terjadi nekrosis, belum ada tanda-tanda granulasi, luka luka 6-7 cm, kedalaman luka 1-2 cm. bentuk bundar dan berongga. (P: nyeri ulkus dikaki, Q: cekot-cekot, R: Plantar pedis dextra, S: 7, T: nyeri pada saat ditekan).
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena di sistem endokrin yang dialami oleh pasien sama dengan di sistem endokrin pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu adanya luka gangren