• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Postur Kerja

Dalam dokumen Ergonomi dan Faal Kerja (Halaman 52-61)

POSTUR KERJA

C. Postur Kerja

2. Pengukuran Postur Kerja

Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui sikap kerja yang menghubungkan antara tekanan fisik dengan risiko keluhan otot rangka (Yazdanirad et al., 2018). Alat yang digunakan untuk mengukur evaluasi ergonomi cukup banyak dan bervariasi. Menurut Yazdanirad et al. (2018)

41 beberapa metode observasi postur tubuh yang berkaitan dengan risiko gangguan sistem muskuloskeletal:

a. Metode Ovako Working Analysis System (OWAS)

Metode OWAS merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi postur kerja dengan hasil berupa kriteria postur kerja sehingga dapat digunakan untuk merancang metode kerja dan tempat kerja berdasarkan ilmu ergonomi yang baik.

Metode ini didasarkan pada suatu penggolongan sistematis yang sederhana dalam mengambil sikap yang dikombinasikan dengan tugas – tugas dalam pekerjaan.

Penggunaan metode OWAS untuk menilai postur kerja statis, dinamis dan mengangkat beban dengan durasi yang singkat. Metode OWAS ini juga dikembangkan untuk mengidentifikasi sikap kerja yang tidak aman yang dapat menimbulkan cedera otot khususnya low back pain (Brandl et al., 2017). Menurut Gómez et al. (2017) metode OWAS memiliki sensitivitas paling tinggi dibandingkan dengan metode analisis dalam penilaian sikap kerja.

Metode ini memungkinkan untuk melakukan identifikasi pada beberapa posisi yaitu punggung, lengan dan kaki dengan pemberian kode pada masing – masing posisi.

Metode ini juga mengidentifikasi apakah pekerja melakukan pekerjaan dengan posisi lutut menekuk atau tidak (Gómez et al., 2017; Kee, 2020, 2022)

b. Metode QEC (Quick Exposure Checklist)

Metode QEC merupakan salah satu metode pengukuran beban postur yang dapat digunakan untuk mengetahui resiko cedera gangguan otot rangka (musculoskeletal disorders) yang menitik beratkan pada tubuh bagian atas yaitu punggung, leher, lengan, bahu, dan pergelangan tangan. Metode ini mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh pekerja dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang pengamat dan juga pekerja itu sendiri. QEC dapat membantu mencegah terjadinya work-related musculoskeletal disorders seperti

42

gerak berulang, gaya tekan, postur janggal, dan durasi kerja (Ericsson et al. , 2012; Oliv et al. , 2019).

c. Metode Rapid Upper Analysis System (RULA)

Metode ini prinsip dasarnya hampir sama dengan metode OWAS dan REBA. Metode RULA merupakan suatu metode dengan menggunakan target postur tubuh untuk mengestimasi risiko terjadinya gangguan otot skelet, khususnya pada anggota tubuh bagian atas (upper limb disorders), seperti adanya gerakan repetitif, pekerjaan diperlukan pengerahan kekuatan, aktivitas otot statis pada otot skelet. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko gangguan MSD posisi pekerja dilakukan dalam posisi duduk dan gangguan anggota tubuh bagian atas sering terjadi (Kee, 2022). Pada metode ini, penilaian anggota tubuh dibagi dalam dua segmen yang membentuk dua kelompok yaitu grup A dan B. Grup A meliputi bagian lengan atas dan bawah, serta pergelangan tangan. Grup B meliputi leher, punggung dan kaki. Setelah diperoleh total skor Grup A dan B, dimodifikasi dengan penambahan skor pada pertimbangan dua faktor, dimasukkan ke dalam Grand skor akhir C dan D untuk menentukan tingkat aksi (action levels) yang dibuat dengan rentan nilai 1 (tidak ada risiko) sampai nilai 4 (mengindikasikan perlu adanya perbaikan segera karena berada pada tingkat risiko tinggi (McAtamney & Nigel Corlett, 1993; Kee, 2020, 2022).

43 Gambar 3. 1 Analisis Metode Rapid Upper Analysis System (RULA)

Sumber: McAtamney & Nigel Corlett, 1993.

d. Metode REBA (Rapid Entire Body Assessment)

Metode REBA merupakan metode penilaian postur kerja yang melibatkan seluruh tubuh yang mengalami perubahan mendadak dalam posisi kerja. Metode ini adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja (Hignett &

McAtamney, 2000). Penilaian postur kerja dengan metode ini dengan cara pemberian skor risiko antara satu sampai lima belas, yang mana skor yang tertinggi menandakan level yang mengakibatkan risiko yang besar (bahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari bahaya kerja. Penilaian menggunakan REBA tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan dan melakukan penilaian umum pada daftar kegiatan yang mengindikasikan perlunya pengurangan risiko yang disebabkan oleh postur kerja (McAtamney & Nigel Corlett, 1993; Kee, 2020, 2022).

44

Gambar 3. 2 Analisis Metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) Sumber: McAtamney & Nigel Corlett, 1993.

e. Metode ROSA (Rapid Office Strain Assessment)

Metode ROSA adalah daftar periksa berbaris diagram yang dikembangkan untuk dengan cepat mengukur paparan faktor risiko terhadap pekerja di tempat kantor. Faktor risiko yang dimasukkan ke dalam alat ukur ini diatur ke dalam beberapa sub bagian seperti kursi, monitor, telepon, mouse, dan keyboard. Sub bagian ini menekankan faktor risiko dari masing- masing komponen tempat kerja kantor (Shariat et al., 2018).

f. Metode PATH (Posture, Activity, Tools, and Handling) Metode PATH adalah salah satu metode penilaian postur kerja yang dikembangkan untuk menilai bahaya ergonomis dalam pekerjaan konstruksi jalan raya. Saat ini metode PATH dapat digunakan untuk bidang konstruksi bangunan dan bidang pertanian. Metode ini

45 mengevaluasi bagian tubuh (badan, tangan dan kaki), alat kerja, berat barang, dan manual handling. Pada penilaian bagian tubuh, metode PATH mengadaptasi penilaian metode OWAS (Abrahão et al., 2012; Kucera & Lipscomb, 2010).

46

DAFTAR PUSTAKA

Abrahão, R. F., Ribeiro, I. A. V, & Tereso, M. J. A. 2012. Workload composition of the organic horticulture. Work Reading Mass.

41(1): 5355–5360.

argata, W. F. (2021). Hubungan Antara Masa Kerja, Durasi Kerja, Produktivitas Kerja, Dan Postur Kerja Terhadap Keluhan Musculoskeletal Pada Pekerja Pemetik Teh Di Pt Pagilaran Jatiboja.

Skripsi

Zizah, N. (2016). Hubungan gerakan berulang dengan kelelahan kerja pada pekerja pemetik daun teh di Perkebunan Teh Kemuning

Karanganyar. Retrieved from

https://digilib.uns.ac.id/dokumen/54052/Hubungan- gerakan-berulang-dengan-kelelahan-kerja-pada-pekerja- pemetik-daun-teh-di-Perkebunan-Teh-Kemuning- Karanganyaar

Brandl, C., Mertens, A., Schlick, C.M., 2017. Ergonomic analysis of working postures using OWAS in semi-trailer assembly, applying an individual sampling strategy. International Journal of Occupational Safety and Ergonomics. 23: 110–117 Ricsson, P., Björklund, M., & Wahlström, J. (2012). Exposure

assessment in different occupational groups at a hospital using Quick Exposure Check (QEC) - a pilot study. Work (Reading, Mass.), 41 Suppl 1, 5718–5720.

https://doi.org/10.3233/WOR-2012-0929-5718

Gómez-Galán, M., Pérez-Alonso, J., Callejón-Ferre, Á.-J., & López- Martínez, J. 2017. Musculoskeletal disorders: OWAS review.

Industrial Health. 55(4): 314–337.

Hajaghazadeh, M., Marvi-milan, H., Khalkhali, H., Mohebbi, I., 2019. Assessing the ergonomic exposure for construction workers during construction of residential buildings. Journal of Work. 62: 411–419.

47 Hellig, T., Rick, V., Mertens, A., Nitsch, V., & Brandl, C. (2019).

Investigation of observational methods assessing workload of static working postures based on surface electromyography.

Work, 62(2), 185–195. https://doi.org/10.3233/WOR-192854 Hignett, S., McAtamney, L., 2000. Rapid entire body assessment

(REBA). Applied Ergonomics.31: 201–5.

Kee, D. 2020. An empirical comparison of OWAS, RULA and REBA based on self-reported discomfort. International Journal of Occupational Safety and Ergonomics. 26(2): 285–295.

Kee, D. 2022. Systematic Comparison of OWAS, RULA, and REBA Based on a Literature Review. International Journal of Environmental Research and Public Health. 19(1), 595.

Kucera, K. L., & Lipscomb, H. J. 2010. Assessment of physical risk factors for the shoulder using the Posture, Activity, Tools, and Handling (PATH) method in small-scale commercial crab pot fishing. Journal of Agromedicine. 15(4): 394–404.

McAtamney, L., Nigel Corlett, E., 1993. RULA: a survey method for the investigation of work-related upper limb disorders.

Applied Ergonomics. 24: 91–9.

Mohammadipour, F., Pouranjbar, M., Naderi, S., & Rafie, F. 2018.

Work-related Musculoskeletal Disorders in Iranian Office Workers: Prevalence and Risk Factors. Journal of Medicine and Life. 11(4): 328–333.

Neubert, M. S., Karukunchit, U., & Puntumetakul, R. (2017).

Identification of influential demographic and work-related risk factors associated to lower extremity pain perception among rice farmers. Work, 58(4), 489–498.

https://doi.org/10.3233/WOR-172649

Nur Aisyah, N. (2022). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders Pada Pemetik Teh Di Pt.Mitra Kerinci Kabupaten Solok Selatan Tahun 2022.

Oliv, S., Gustafsson, E., Baloch, A. N., Hagberg, M., & Sandén, H.

2019. The Quick Exposure Check (QEC) - Inter-rater

48

reliability in total score and individual items. Applied Ergonomics. 76: 32–37.

Shariat, A., Cleland, J. A., Danaee, M., Kargarfard, M., Moradi, V., &

Bahri Mohd Tamrin, S. 2018. Relationships between Cornell Musculoskeletal Discomfort Questionnaire and Online Rapid Office Strain Assessment Questionnaire. Iranian Journal of Public Health. 47(11): 1756–1762.

Septiani, A., Achiraeniwati, E., Asad, N. R., & Rejeki, Y. S. (2022).

Upaya Perbaikan Teknik Pengangkatan Beban Yang Ergonomis Bagi Pekerja Pemetik Daun Teh Di Perkebunan Teh Pangalengan. ETHOS: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian

Kepada Masyarakat, 10(1), 85–92.

https://doi.org/10.29313/ethos.v10i1.7990

Yazdanirad, S., Khoshakhlagh, A., Habibi, E., Zare, A., Zeinodini, M., Dehghani, F., 2018. Comparing the effectiveness of three ergonomic risk assessment methods—RULA, LUBA, and NERPA—to predict the upper extremity musculoskeletal disorders. Indian Journal of Occupation Environment and Medicine. 22: 17

49

BAB

4

Dr. Noverial, SpOT

A. Pendahuluan

Gerakan berulang, atau repetitive motion, adalah fenomena yang sering dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan dan pekerjaan. Konsep ini merujuk pada aktivitas atau gerakan yang dilakukan berulang kali dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks industri, gerakan berulang sering terkait dengan tugas-tugas spesifik yang kecil dan berulang.

(Shorrock and Williams, 2017)

Dalam dunia kerja, gerakan berulang telah menjadi perhatian khusus dalam bidang ergonomi dan kesehatan pekerja. Gangguan pada siku, lengan, pergelangan tangan, dan tangan sering dikaitkan dengan tugas berulang dan siklus kerja singkat pada jalur perakitan industri. Implikasi dari gerakan berulang ini dapat menyebabkan tantangan fisik, psikologis, dan ergonomis yang signifikan. Tiga faktor utama telah diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya Cumulative Trauma Disorders (CTD) yang muncul dari pekerjaan komputer kantor, yaitu: repetisi, postur, dan kekuatan. Repetisi, khususnya, ditekankan sebagai faktor utama, dengan pekerjaan seperti entri data yang memerlukan lebih dari 10.000 ketukan per jam menjadi salah satu tugas dengan kejadian CTD tertinggi.

(Lehto and Buck, 2008)

Namun, gerakan berulang tidak hanya terbatas pada lingkungan industri. Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan

REPETITIVE

Dalam dokumen Ergonomi dan Faal Kerja (Halaman 52-61)