Ringkasan Klasifikasi Biaya Perusahaan Manufaktur
BAB 9 BAB 9
9.5 Pengukuran Prestasi Atau Kinerja Perusahaan
Akuntansi pertanggungjawaban adalah penyusunan pelaporan prestasi yang dihubungkan dengan individu atau manajer suatu unit organisasi, yang menekankan pertanggungjawaban dapat dibuat untuk pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba dan pusat investasi.
Pusat biaya diukur prestasinya dengan membandingkan antara biaya sesungguhnya dengan biaya menurut anggaran. Pusat pendapatan diukur prestasinya dengan membandingkan antara pendapatan sesungguhnya dengan pendapatan menurut anggaran. Adapun pusat laba diukur dengan membandingkan antara laba yang diperoleh dengan laba menurut anggaran.
Bagaimana mengukur pusat investasi atau unit organisasi yang terdesentralisasai?
Dalam mengukur kinerja pusat investasi tidak hanya diukur dari laba yang diperoleh, tetapi juga harus dihubungkan dengan investasi pada pusat tersebut. Terdapat dua metode untuk mengukur kinerja pusat investasi, yaitu return on investment (ROI) dan residual income (RI).
1. Return on Investment (ROI)
ROI merupakan produk dari marjin pusat investasi dikalikan dengan perputaran investasi. Komponen marjin merupakan ukuran kemampuan manajemen untuk mengendalikan beban operasi berkenaan dengan penjualan. Semakin rendah beban operasi per rupiah penjualan, maka semakin tingggi marjin yang diperoleh.
Komponen perputaran investasi dari rumus ROI adalah ukuran jumlah penjualan yang dapat dihasilkan dalam suatu pusat investasi untuk setiap rupiah yang diinvestasikan dalam asset operasi.
Rumus untuk menghitung ROI adalah sebagai berikut:
ROI = Laba Investasi
ROI juga dapat dirinci sebagai berikut:
ROI = Perputaran investasi x profit margin
Adapun perputaran investasi dan profit margin adalah sebagai berikut:
Perputaran investasi = Penjualan Investasi Profit margin = laba
Penjualan Jadi ROI menjadi:
ROI = Penjualan x Laba
Investasi Penjualan
ROI = Laba
Investasi Berikut contoh penggunaan ROI:
Diketahui informasi dari salah satu divisi pada suatu perusahaan sebagai berikut :
Penjualan Rp 40.000.000
Laba Rp 14.000.000
Investasi (awal tahun) Rp 25.000.000 Maka ROI dapat dihitung sebagai berikut:
ROI = Laba
Investasi
= Rp 14.000.000 Rp 25.000.000
= 48%
Semakin tinggi ROI, maka semakin efektif pula divisi tersbut dalam mendayagunakan aktivanya untuk mendulang laba.
Kebaikan ROI:
a. ROI mendorong manajer divisi untuk memperhatikan hubungan antara penjualan, biaya dan investasi.
b. ROI mendorong manajer divisi untuk menghemat biaya.
c. ROI mencegah investasi yang dipandang berlebihan.
Sementara kelemahan ROI, diantaranya:
a. ROI mendorong manajer untuk tidak melakukan investasi yang akan menurunkan ROI divisi, meskipun sebenarnya investasi tersebut menaikkan laba perusahaan secara keseluruhan.
b. ROI mendorong manajer untuk memfokuskan laba jangka pendek (short run) yang merugikan perusahaan dalam jangka panjang (long run).
Manajer-manajer investasi diharapkan dapat mendongkrak ROI divisinya, oleh karena itu terdapat tiga cara bagi manajer pusat investasi untuk meningkatkan ROI, diantaranya:
a. Peningkatan penjualan
Peningkatan penjualan dapat dilakukan dengan cara menaikkan harga jual produk tanpa harus meningkatkan biaya variabel per unit ataupun biaya tetap.
Kenaikkan penjulan juga dapat meningkatkan perputaran aktiva sepanjang tidak terjadi kenaikkan proporsional dalam aktiva. Sasarannya adalah mencapai tingkat laba bersih tertinggi dari penjualan tertentu dan penjualan tingkat tertinggi dari dasar investasi tertentu.
b. Pemangkasan beban
Terdapat beberapa pola yang dapat digunakan dalam program pemangkasan beban, yaitu:
- Menelaah biaya tetap diskresioner, baik unsure-unsur biaya maupun program-program yang membentuk satu paket biaya tetap diskresioner dan kemudian dapat mencari biaya yang dapat dipotong dengan segera.
- Mencari cara-cara untuk membuat para karyawan bekerja secara lebih efisien.
- Menelaah biaya-biaya masukan sumber daya untuk kegiatan-kegiatan usaha dan mampu mengupayakan pilihan yang paling murah.
c. Pengurangan asset
Manajer-manajer yang kinerjanya dievaluasi dengan memakai ROI akan menemukan fakta bahwa pengguntingan kelebihan investasi dapat mempunyai pengaruh signifikan terthadap perputaran aktiva. Pengaruh investasi-investasi yang tidak perlu kerap memerlukan pelepasan maupun penghapusan aktiva- aktiva yang tidak produktif maupun tidak lagi dipergunakan.
Manfaat utama analisa ROI adalah bahwa metode ini memaksa manajer- manajer pusat investasi untuk lebih berhatihati dalam pemilihan dan pemanfaatan aset-aset operasi perusahaan dan mempertimbangkan pentingnya kaitan profitabilitas dengan neraca dan laporan laba rugi.
2. Metode Laba Residual
Salah satu cara untuk memusatkan perhatian pada nilai rupiah daripada rasio adalah dengan memakai laba residu untuk mengevaluasi kinerja divisional.
Laba residu adalah kelebihan laba operasi divisional di ats jumlah minimal laba operasi yang dikehendaki.
Ketika laba residu dipakai untuk mengukur kinerja, maka tujuannya adalah untuk memaksimalkan jumlah laba residu, bukan memaksimalkan keseluruhan angka ROI. Dalam menilai kinerja dengan menggunakan metode laba residu, divisi-divisi dibebankan dengan biaya kesempatan dari modal untuk berbagai kategori aktiva yang dipergunakan. Biaya-biaya modal yang berlainan dapat dikenakan pada berbagai kategori aktiva seandainya perusahaan mengehndaki memasukkan suatu premi risiko ke dalam biaya modal untuk berbagai jenis aktiva.
Laba residu dihitung sebagai berikut:
Laba residu = Laba operasi – (aset perusahaan x tingkat ROI)
Diketahui informasi dua divisi pada PT Bekasi Raya selama bulan Agustus 2007 adalah sebagai berikut:
Divisi A Divisi B
Laba operasi Rp 420.000.000 Rp 504.000.000
Tingkat minimal laba operasi
(2.100.000.000 x 15%) Rp 315.000.000
(4.200.000.000 x 15%) Rp 630.000.000
Laba residu Rp 105.000.000 (Rp126.000.000) Maka berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut, maka terlihat bahwa divisi A mempunyai laba residu positif dibandingkan divisi B, meskipun mempunyai laba bersih yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan divisi A mempunyai lebih sedikit asset dibandingkan dengan divisi B. Sehingga dapat disimpulakan bahwa divisi A memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan divisi B.
9.6 RINGKASAN
1. Perusahaan yang benar-benar terpusat (centralized) adalah perusahaan yang segala keputusan perencanaan dan operasinya digariskan oleh menajemen puncak.
Desentralisasi (decentralization) adalah delegasi otoritas atau wewenang pengambilan keputusan kepada jajaran manajemen yang lebih rendah di dalam sebuah organisasi.
2. Pusat-pusat pertanggungjawaban an otoritas pengambilan keputusan yang diembankan kepada manajer. Tiga jenis pusat pertanggungjawaban dalah pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba dan pusat investasi. Setiap jenis pusat pertanggungjawaban menyatakan secara tidak langsung pembagian hak-hak keputusan dan dengan suatu sistem pengukuran kinerja berlainan.
3. Akuntansi pertanggungjawaban adalah penyusunan pelaporan prestasi yang dihubungkan dengan individu atau manajer suatu unit organisasi, yang menekankan pertanggungjawaban dapat dibuat untuk pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba dan pusat investasi.
4. Pusat biaya diukur prestasinya dengan membandingkan antara biaya sesungguhnya dengan biaya menurut anggaran. Pusat pendapatan diukur prestasinya dengan membandingkan antara pendapatan sesungguhnya dengan pendapatan menurut anggaran. Adapun pusat laba diukur dengan membandingkan antara laba yang diperoleh dengan laba menurut anggaran.
5. Bagaimana mengukur pusat investasi atau unit organisasi yang terdesentralisasai?
Dalam mengukur kinerja pusat investasi tidak hanya diukur dari laba yang diperoleh, tetapi juga harus dihubungkan dengan investasi pada pusat tersebut.
Terdapat dua metode untuk mengukur kinerja pusat investasi, yaitu return on investment (ROI) dan residual income (RI).