• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengungkapan Risiko Kredit dengan Pendekatan standar

Dalam dokumen Unggul (Halaman 156-160)

Manajemen Risiko melakukan fungsi koordinasi dan sosialisasi seluruh proses di CiMB niaga, serta

C. Pengungkapan Kuantitatif

9. Pengungkapan Risiko Kredit dengan Pendekatan standar

k. Tabel 2.6.a. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan nilai – Bank secara individual

no. Keterangan Posisi Tanggal laporan 31 Desember 2012

CKPn individual CKPn Kolektif

(1) (2) (3) (4)

1 Saldo awal CKPN 1,281,297 2,102,356

2 Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan

2a. Pembentukan CKPN pada periode

berjalan 135,001 904,260

2b. Pemulihan CKPN pada periode berjalan - -

3 CKPN yang digunakan untuk melakukan

hapus buku atas tagihan (37,346) (482,422)

4 Pembentukan (pemulihan) lainnya (27,361) (204,065)

saldo akhir CKPn 1,351,591 2,320,129

l. Tabel 2.6.b. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan nilai – Bank secara Konsolidasi Dengan Perusahaan anak

no. Keterangan Posisi Tanggal laporan 31 Desember 2012

CKPn individual CKPn Kolektif

(1) (2) (3) (4)

1 Saldo awal CKPN 1,281,297 2,102,356

2 Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan

2a. Pembentukan CKPN pada periode

berjalan 135,001 993,194

2b.Pemulihan CKPN pada periode berjalan - -

3 CKPN yang digunakan untuk melakukan

hapus buku atas tagihan (37,346) (482,422)

4 Pembentukan (pemulihan) lainnya (27,361) (204,065)

saldo akhir CKPn 1,351,591 2,409,063

9. Pengungkapan Risiko Kredit dengan

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia, eksposur kredit yang termasuk dalam perhitungan ATMR kredit standar mencakup:

• Eksposur aset dalam neraca dan kewajiban serta kontinjensi dalam transaksi rekening administratif, namun tidak termasuk posisi trading book yang telah dihitung dalam ATMR risiko pasar dan penyertaan yang telah diperhitungkan sebagai faktor pengurang modal.

• Eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan.

• Eksposur transaksi penjualan dan pembelian instrumen keuangan yang dapat menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan setelmen.

ATMR kredit pendekatan standar dihitung dengan metodologi sebagai berikut:

• Mengalikan tagihan bersih dengan bobot risiko atas eksposur Perusahaan, dimana bobot risiko ditetapkan berdasarkan peringkat terkini dari debitur/ pihak lawan transaksi atau surat berharga, sesuai dengan kategori portofolio.

Berikut formula perhitungan: Tagihan Bersih x Bobot Risiko

• ATMR kredit yang timbul karena kegagalan setelmen dapat dihitung dengan metodologi sebagai berikut:

– Transaksi delivery vs payment (DvP)

Memperhitungkan hasil perkalian antara selisih positif antara nilai wajar transaksi dengan nilai kontrak dan presentase tertentu yang ditetapkan berdasarkan jumlah hari kerja pelampauan settlement date dan 12.5%.

Berikut formula perhitungan: Selisih Positif Antara Nilai Wajar Transaksi dengan Nilai Kontrak x % Tertentu x 12.5%

– Transaksi non delivery vs payment (non DvP)

Memperhitungkan faktor pengurang modal sebesar nilai kas atau nilai wajar instrumen keuangan yang telah diserahkan Perusahaan.

Perusahaan menggolongkan seluruh eksposur kredit yang dimilikinya ke dalam kategori portofolio yang penetapannya berdasarkan pada debitur atau pihak lawan transaksi untuk menentukan bobot risiko, sebagai berikut:

no. Kelompok Tagihan Bobot

1. Tagihan kepada Pemerintah Indonesia

0%

2. Tagihan kepada Pemerintah Negara Lain

Peringkat AAA s.d AA- 0 %

Peringkat A+ s.d A- 20 %

Peringkat BBB+ s.d BBB- 50 %

Peringkat BB+ s.d B- 100 %

Peringkat dibawah B- 150 %

Tanpa Peringkat 100 %

3. Tagihan kepada Entitas Sektor Pulik

Peringkat AAA s.d AA- 20 %

Peringkat A+ s.d BBB- 50 %

Peringkat BB+ s.d B- 100 %

Peringkat dibawah B- 150 %

Tanpa peringkat 50 %

4. Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional Memenuhi Kriteria Bobot Risiko 0%

0 %

Peringkat AAA s.d AA- 20 %

Peringkat A+ s.d A- 50 %

Peringkat BBB+ s.d B- 100 %

Peringkat dibawah B- 150 %

Tanpa Peringkat 50 %

5. Tagihan Jangka Pendek

Peringkat Jangka Pendek A1 20 % Peringkat Jangka Pendek A2 50 %

no. Kelompok Tagihan Bobot Peringkat Jangka Pendek A3 100 % Peringkat Jangka Pendek

lainnya

150 %

Peringkat AAA s.d BBB- 20 %

Peringkat BB+ s.d B- 50 %

Peringkat dibawah B- 150 %

Tanpa Peringkat 20 %

6. Tagihan Jangka Panjang

Peringkat Jangka Pendek A1 20 % Peringkat Jangka Pendek A2 50 % Peringkat Jangka Pendek A3 100 % Peringkat Jangka Pendek

lainnya

150 %

Peringkat AAA s.d AA- 20 %

Peringkat A+ s.d BBB- 50 %

Peringkat BB+ s.d B- 100 %

Peringkat dibawah B- 150 %

Tanpa peringkat 50 %

7 Kredit beragun Rumah Tinggal

LTV <= 70% 35 %

70% < LTV <= 80% 40 % 80% < LTV <= 95% 45 % 8 Kredit Beragun Properti

Komersial

100%

9 Kredit Pegawai/ Pensiunan 50%

10 Tagihan kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel

75%

11 Tagihan kepada Korporasi

Peringkat Jangka Pendek A1 20 % Peringkat Jangka Pendek A2 50 % Peringkat Jangka Pendek A3 100 % Peringkat Jangka Pendek

lainnya

150 %

Peringkat AAA s.d AA- 20 %

Peringkat A+ s.d A- 50 %

Peringkat BBB+ s.d BB- 100 %

Peringkat dibawah BB- 150 %

Tanpa peringkat 100 %

12 Tagihan yang telah Jatuh Tempo

Kredit Beragun Rumah Tinggal 100 % Selain Kredit Beragun Rumah

Tinggal

150 %

Kategori Portofolio yang Menggunakan Peringkat

Berdasarkan pendekatan standar, perhitungan ATMR untuk beberapa kategori portofolio didasarkan pada external rating dan sebagian lagi sudah ditentukan langsung bobot risikonya seperti tergambar pada tabel diatas. Namun oleh karena hampir seluruh debitur bank tidak memiliki rating sehingga memperoleh bobot risiko 100% mengingat nasabah-nasabah tersebut masuk kedalam kategori unrated.

lembaga Peringkat yang Digunakan Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/30/DPNP, tanggal 30 Oktober 2009, lembaga pemeringkat yang diakui oleh Bank Indonesia diantaranya adalah Pefindo, Fitch Indonesia, Moody’s Indonesia, Fitch, Moody’s dan S&P. Bank menggunakan rating dari diterbitkan dari lembaga pemeringkat yang diakui dalam SEBI tersebut. Pada portofolio surat berharga, sebagian besar memiliki external rating terutama dari Pefindo dan Fitch Rating Indonesia. Dengan demikian, data tersebut dapat digunakan dalam perhitungan ATMR untuk risiko kredit ini.

Perusahaan secara internal mengembangkan model rating untuk segmen korporasi yang kedepannya akan diterapkan secara internal, sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas proses pemberian kredit dan mengacu pada rencana implementasi Basel II. Satuan Kerja Manajemen Risiko melakukan konsolidasi dan memfinalisasi model rating yang sudah dikembangkan dengan Business Unit dan Credit Reviewer dan juga mempersiapkan infrastuktur yang dibutuhkan.

Pengungkapan Risiko Kredit Pihak lawan (Counterparty Credit Risk)

Counterparty credit risk merupakan risiko kredit yang timbul akibat transaksi dengan pihak lawan (counterparty) dari transaksi treasuri maupun transaksi non-treasuri. Dalam pemberian fasilitas terkait dengan risiko kredit counterparty khususnya atas instrumen FX and

Manajemen Risiko

Derivatif, risiko yang dihadapi oleh Perusahaan meliputi risiko akibat kegagalan penyerahan kewajiban oleh pihak lawan pada tanggal penyelesaian transaksi (risiko setelmen) dan risiko yang disebabkan kegagalan pihak lawan sebelum tanggal penyelesaian transaksi (risiko pre-setelmen). Penilaian risiko pre-setelmen dilakukan dengan memperhitungkan nilai wajar atas transaksi (Mark to Market), dalam hal ini nilai wajar kontrak yang bernilai positif, ditambah dengan potensi pergerakan nilai wajar tersebut yang dipengaruhi oleh variable pasar (Potential Future Exposure).

Potential Future Exposure (PFE) adalah seluruh potensi keuntungan dari suatu perjanjian/

kontrak transaksi tresuri selama umur kontrak (seperti produk spot, forward, derivatif dll) yang ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari nilai nosional perjanjian/kontrak transaksi tersebut. PFE menggunakan metode Parametric simulation dan Historical Simulation dalam menentukan besarnya kerugian terbesar yang dapat dialami Perusahaan terhadap transaksi treasuri seperti transaksi nilai tukar, surat berharga, option dan derivative lain.

Kerangka kerja PFE ini disetujui oleh MRC.

Perusahaan menerapkan batasan transaksi yang mensyaratkan bahwa perjanjian transaksi dengan pihak lawan dapat dilakukan melalui induk perjanjian (master agreement) yang telah diakui secara Internasional seperti ISDA (International Swaps and Derivatives

Association). Dalam rangka mengurangi ekposur risiko kredit, Perusahaan mewajibkan kepada nasabah atau pihak lawan tertentu untuk memberikan tambahan jaminan berupa kas atau instrumen serupa lainnya, melakukan perjanjian secara bilateral melalui skema CSA (Credit Support Annex), maupun dengan perjanjian netting (Netting Agreement) dimana tagihan dan kewajiban derivatif kepada pihak lawan dapat dioff-set satu sama lain.

Dalam dokumen Unggul (Halaman 156-160)