• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMK MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING (PJBL)

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional MIPA 2017 (Halaman 78-82)

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMK

model PjBL dapat meningkatkan motivasi belajar siswa meski hanya sampai pada tingkatan sedang [8].

Hasil-hasil tersebut di atas semuanya dengan subyek penelitian siswa sekolah umum.

Hal ini mendorong dilakukannya kajian sejenis dengan subjek siswa SMK yang memiliki keterampilan untuk menghasilkan karya-karya yang kreatif [9]. Secara umum siswa SMK sebagian besar memiliki motivasi akademik yang tidak terlalu besar karena orientasi mereka menempuh pendidikan adalah untuk memperoleh keterampilan yang berguna secara langsung untuk bekerja. Beberapa pelajaran yang bersifat akademik formal seperti fisika cenderung tidak diminati [10]. Oleh karena itu, penelitian tentang peningkatan motivasi belajar siswa SMK dengan PjBL menjadi sangat penting.

Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji efektifitas model Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan motivasi siswa SMK untuk belajar fisika.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada siswa SMK Muhammadiyah Kajen kelas XI TKR 1 (Teknik Kendaraan Ringan) yang berjumlah 36 siswa. Teknik penelitian dengan memberikan perlakuan berupa pembelajaran model Project Based Learning (PjBL) pada materi induksi elektomagnetik. Pembelajaran PjBL tersebut dilakukan selama 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan setiap kelompok mengajukan rencana proyek yang akan dibuat. Pertemuan kedua, setiap kelompok membuat proyek sesuai dengan rencana. Pertemuan ketiga, setiap kelompok mengumpulkan laporan proyek dan mempresentasikan hasil proyek.

Teknik pengumpulan data diperoleh melalui angket motivasi dan lembar wawancara.

Angket motivasi diberikan sebelum dan setelah pembelajaran materi induksi elektomagnetik. Angket motivasi dan lembar wawancara menggunakan model motivasi ARCS yang diadaptasi dari Keller [11]. Aspek motivasi ARCS meliputi perhatian (attention), keterkaitan (relevance), percaya diri (convidance), dan kepuasan (satisfaction).

Angket motivasi berupa angket skala likert yang terdiri dari 25 item pernyataan positif dan negatif. Setiap item pernyataan memiliki rentang skor antara 1 sampai 5.

Pernyataan positif memiliki skor maksimal 5 sedangkan pernyataan negatif memiliki skor maksimal 1. Hasil angket dilakukan analisis persentase untuk setiap aspek motivasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan dekriptif kualitatif.

HASIL DAN DISKUSI

Data hasil analisis angket motivasi sebelum dan setelah menggunakan model pembelajaran Project Based Learning disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase Aspek Motivasi No. Aspek Motivasi Pertemuan

Awal (%)

Petemuan Akhir (%) 1 Perhatian (Attention) 63,56 85,56 2 Keterkaitan (Relevance) 66,13 79,33 3 Percaya diri (Confidence) 56,56 82,78 4 Kepuasan (Satisfaction) 68,89 75,33

Data pada Tabel 1. menunjukkan bahwa hasil angket motivasi siswa setelah pembelajaran menggunakan Project Based Learning menunjukkan peningkatan pada semua aspek motivasi. Model PjBL dapat meningkatkan motivasi aspek perhatian (attention) karena pada model ini siswa dituntut aktif dalam menentukan topik proyek yang akan dibuat. Eksplorasi topik dapat melalui brainstorming, mindmapping, dan

daftar pertanyaan. Tahap penentuan topik tersebut menimbulkan rasa ingin tahu sehingga menghasilkan perhatian siswa untuk belajar fisika.

Rasa ingin tahu yang muncul, ternyata memotivasi secara intrinsik untuk memperhatikan pada proyek kelompok lainnya, sehingga mereka saling bertukar pengalaman dalam pembelajaran secara langsung untuk memperoleh informasi.

Pembelajaran yang memunculkan rasa ingin tahu membuat siswa merasa perlu belajar tanpa disuruh belajar [12].

Pada saat proses wawancara siswa menjelaskan bahwa mereka merasa tertantang dengan proyek yang harus dikerjakan. Dengan antusias mereka yakin akan keberhasilan menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Adanya perhatian siswa terhadap pembelajaran menunjukkan bahwa mereka mempunyai minat untuk belajar.

Minat merupakan sumber motivasi yang kuat untuk belajar [13].

Peningkatan pada aspek keterkaitan (relevance) terjadi karena model PjBL mengharuskan siswa untuk membuat proyek yang merupakan aplikasi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Saat wawancara mereka menjelaskan bahwa baru menyadari ternyata fisika erat kaitannya dengan dunia nyata. Pembelajaran PjBL mendorong siswa melakukan penyelidikan terkait masalah dunia nyata, memberikan mereka semangat belajar dan pengajaran menjadi efektif [7].

Model PjBL dapat meningkatkan aspek percaya diri (convidance). Rasa percaya diri siswa meningkat saat mereka mulai merancang proyek. Tahap ini membuat siswa merasa sebagai ilmuwan yang menggunakan ilmunya untuk menghasilkan sebuah proyek.

Keberhasilan proyek yang dihasilkan dapat menumbuhkan percaya diri pada siswa.

Pada saat presentasi, terlihat siswa yang awalnya rendah diri karena memiliki kemampuan matematis yang lemah dapat menjelaskan konsep dari produk yang dihasilkan dengan penuh rasa percaya diri. Pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengkonstruksi pemikiran dan temuan secara mandiri akan meningkatkan percaya diri [14].

Peningkatan pada aspek kepuasan (satisfaction) terlihat dari mereka berusaha menyelesaikan setiap masalah produk yang mereka temui. Sampai pada akhirnya mereka memiliki kepuasan ilmiah melihat produk yang mereka hasilkan sesuai dengan rencana. Proyek yang dikerjakan dapat dianggap puzzle yang dapat membangkitkan motivasi pada saat mengontrol, mengevaluasi, dan mengoperasikan proyek mereka sehingga membangkitkan kepuasan siswa dalam pembelajaran [7].

Aspek kepuasan (satisfaction) mengalami peningkatan yang lebih rendah dibandingkan aspek yang lain. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa belum mendapatkan hasil proyek yang maksimal karena terkendala kurangnya waktu pengerjaan. Tugas proyek lebih dekat dengan kenyataan sehingga secara profesional membutuhkan waktu yang lebih lama dari pembelajaran yang lain karena proyek lebih diarahkan untuk penerapan pengetahuan [15].

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning pada pelajaran fisika dapat meningkatkan empat aspek motivasi ARCS yang meliputi perhatian (attention), keterkaitan (relevance), percaya diri (convidance), dan kepuasan (satisfaction). Model pembelajaran Project Based Learning dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi siswa SMK belajar fisika.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih, penulis sampaikan kepada SMK Muhammadiyah Kajen yang telah memfasilitasi sarana dan prasarana dalam pelaksanaan penelitian ini.

REFERENSI

Depdiknas. 2006. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standa Nasional Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti.

Maknun, J, dkk. 2013. Analisis Kemahiran Generik yang dikembangkan Pelajaran Fisika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Topik Kinematika Partikel. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 1 (1): 1-14.

Doyan, A. & I. K. Y. Sukmantara. 2014. Pengembangan Web Intranet Fisika untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 10 (2): 117-127.

Luthvitasari, N., N.M. D. Putra, S. Linuwih. 2013. Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek pada Keterampilan Berpikir dan Kemahiran Generik Sains. Innovative Journal of Curriculum and Educational Technology, 2 (1): 159-164.

Kubiatko, M. & I. Vaculová. 2011. Project-Based Learning: Characteristic and The Experiences with Application in The Science Subjects. Energy Education Science and Technology Part B: Social and Educational Studies, 3 (1) : 65-74

S. Mihardi, M.B. Harahap, R.A. Sani. 2013. The Effect of Project Based Learning Model with KWL Worksheet on Student Creative Thinking Process in Physics Problems.

Journal of Education and Practice, 4 (25): 188-198.

Bagheri, M., dkk. 2013. Effect of Project Based Learning Strategy on Self-Directed Learning Skills of Educational Technology Students. Contemporary Educational Technology, 4 (1): 15-19.

Rahmini, Muris, B. D. Amin. 2015. Pengaruh Pembelajaran Berbasisis Proyek terhadap Motivasi Belajar Fisika Peserta Didik Kelas I MIPA SMA Negeri Sengkang. Jurnal Sains dan Pendidikan Fisika, 11 (2): 161-168.

Kisti, H. H. & N. A. Fardana. 2012. Hubungan antara Self Efficacy dengan Kreativitas pada Siswa SMK. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 1 (2): 52:58.

Junaedi, A. & C. Huda. 2010. Peningkatan Hasil Belaja Fisika Teknologi Melalui Pembelajaan Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization di Kelas I-AV Semester Genap SMK Futuhiyyah Mranggen Demak. JP2F, 1 (2): 141-148.

Keller. 2010. Motivational Design for Learning and Performance. New York: Springer.

Febriastuti, Y.D., S. Linuwih, Hartono. 2013. Peningkatan Kemandirian Belajar Siswa SMP Negeri 2 Geyer Melalui Pembelajaran Inkuiri Berbasis Proyek. Unnes Physics Education Journal, 2 (1): 27-33.

Yulianti, D & Fianti. 2010. Penerapan Model Bermain Berbasis Kontekstual untuk meningkatkan Minat Sains Siswa Sekolah Dasar. Lembaran Ilmu Kependidikan, 1 (1): 48-53.

Yuliati, D.I., D. Yulianti, S. Khanafiyah. 2011. Pembelajaran Fisika Berbasis Hands on Activities untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 7 (1): 23-27.

Kubiatko, M. & I. Vaculová. 2011. Project-Based Learning : Characteristic and The Experiences with Application in The Science Subjects. Energy Education Science and Technology Part B : Social and Educational Studies, 3 (1) : 65-74

PEMAHAMAN FISIKA KUANTUM TERHADAP VISUALISASI

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional MIPA 2017 (Halaman 78-82)

Garis besar

Dokumen terkait