• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data dan Analisis

Dalam dokumen persepsi guru rumpun pendidikan agama islam (Halaman 93-131)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data dan Analisis

Dalam konsep reward dan punishment terdiri dari pengertian, bentuk-bentuk, langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan, serta hasil pemberian keduanya. Akan tetapi dalam persepsi guru, khususnya guru rumpun PAI berbeda-beda dalam memahami pemberian reward dan punishment. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut.

Wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa guru rumpun PAI kelas VII-VIII mengenai konsep reward dan punishment menunjukkan beberapa pandangan yang berbeda terkait dengan konsep tersebut. Berikut ini adalah ringkasan dan analisis dari wawancara dengan masing-masing guru:

Menurut Ibu Nayla An'umi, reward dan punishment merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan penting. Ia menganggap reward sebagai respon positif dan punishment sebagai respon negatif terhadap perilaku peserta didik. Pandangan ini menekankan pada manfaat dan tujuan dari pemberian reward dan punishment kepada peserta didik.

“Keduanya ditinjau atas dasar kemanfaatan dan tujuan ketika pemberian atas keduanya kepada peserta didik. Reward menurut saya adalah respon atas hal positif, sedangkan punishment sebaliknya adalah respon atas hal negatif.”114

Bapak Hayat mengapresiasi penggunaan konsep reward dan punishment dalam pendidikan, yang telah digunakan dalam waktu yang lama di pesantren dan sekolah formal. Ia melihat manfaat dan tujuan yang jelas dari penggunaan keduanya. Reward bagi Bapak Hayat adalah ganjaran atas perilaku baik, serupa dengan sistem pahala dalam agama Islam,

114 Nayla An’umi, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 10 Mei 2023.

sementara punishment adalah hukuman atas perilaku buruk, serupa dengan sistem dosa dalam agama Islam.

“Saya senang sekali atau mengapresiasi adanya teori reward dan punishment tersebut, yang mana keduanya telah lama digunakan utamanya digunakan di pendidikan baik itu di pesantren maupun sekolah formal. Lama digunakan keduanya dilihat dari manfaat dan tujuannya yang sangat jelas. Contohnya mendorong peserta didik untuk semangat dalam belajar dan memberikan rambu-rambu agar peserta didik tidak melakukan pelanggaran.”115

Menurut Bapak Umar Sidik, reward dan punishment adalah pemberian yang diberikan oleh guru kepada peserta didik dalam konteks pendidikan. Ia memahami reward sebagai hadiah atas hasil positif, sedangkan punishment bisa bersifat preventif (pencegahan) atau represif (hukuman atas tindakan yang telah dilakukan).

Reward sendiri saya mengartikan hadiah atas hasil positif, sedangkan punishment saya mengartikan baik sifatnya preventif atau represif, atau bisa juga dua-duanya digunakan.”116

Bapak Suparlan mengartikan reward sebagai penghargaan dan simpati yang diberikan kepada peserta didik atas pencapaian mereka, baik dalam prestasi maupun akhlak baik. Punishment, menurutnya merupakan tindakan atas pelanggaran terhadap peraturan sekolah, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.

Reward itu sebagai wujud penghargaan dan simpati kepada peserta didik atas pencapaiannya, entah memiliki prestasi, atau akhlak yang baik, baik itu akhlak pribadinya maupun secara sosial. Sedangkan punishment adalah wujud atas tindakan yang menyimpang dari apa yang telah diberlakukan dalam lingkup pendidikan ya peraturan sekolah, maupun itu tertulis atau tidak.”117

115 Hayat, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 11 Mei 2023.

116 Umar Sidik, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 15 Mei 2023.

117 Suparlan, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 15 Mei 2023.

Menurut Ibu Hidayatul Wasiah, reward dan punishment merupakan alat pendidikan yang bisa digunakan dengan ketat atau tidak. Reward adalah pemberian atas perilaku baik, sedangkan punishment adalah hukuman atas perilaku buruk.

“Pengertian Reward dan punishment menurut saya adalah alat pendidikan yang dapat digunakan secara ketat atau tidak. Jadi reward memang secara pengertian adalah pemberian atas perilaku yang baik setelah dilakukannya perbuatan, dan punishment secara pengertian diartikan sebagai hukuman atas perilaku buruk setelah dilakukannya perbuatan.”118

Secara umum, semua guru memiliki pemahaman bahwa reward adalah pemberian atas perilaku baik, sementara punishment adalah hukuman atas perilaku buruk. Namun, terdapat perbedaan dalam penekanan mereka terhadap aspek-aspek seperti manfaat, tujuan, pencegahan, dan penghargaan terhadap prestasi atau akhlak baik. Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam interpretasi dan pemahaman terhadap konsep reward dan punishment di dalam konteks pendidikan.

Hasil wawancara mengenai bentuk-bentuk reward dan punishment mencakup pernyataan dari beberapa guru rumpun PAI dan peserta didik mengenai bentuk-bentuk reward dan punishment yang diberikan kepada peserta didik.

Ibu Nayla An’umi memberikan hadiah berupa permen dan buku kepada peserta didik yang mampu menjawab pertanyaan dan memiliki hasil ulangan harian yang bagus sebagai bentuk reward. Tujuannya adalah untuk memberikan semangat dalam belajar. Sedangkan bentuk punishment, Ibu

118 Hidayatul Wasiah, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 10 Mei 2023.

Nayla An’umi memberikan hukuman berupa penambahan hafalan hadits dan berdiri di depan kelas selama 15 menit. Hukuman ini diberikan jika peserta didik tidak mampu menghafal haidts yang telah ditentukan atau saat peserta didik ramai atau telat masuk kelas. Beliau mengatakan bahwa:

“Bentuk reward yang saya berikan kepada peserta didik berupa hadiah dan diberikannya nilai tinggi. Reward saya berikan ketika peserta didik diberikan pertanyaan mampu menjawab dan hasil ulangan harian nilainya bagus. Sedangkan punishment yang saya berikan berupa penambahan hafalan hadits dan berdiri di depan kelas selama 15 menit.”119

Hal tersebut dibenarkan oleh Iklima Nabila Putri selaku salah satu peserta didik yang diajar langsung oleh Ibu Nayla selaku guru rumpun PAI MaPel Alquran Hadits, dengan menyatakan bahwa:

“Untuk bentuk-bentuk reward yang tadi sampean sebutkan itu benar mas dan saya sendiri yang merasakan. Contoh reward yang saya peroleh dari Ibu Nayla pada semester ini berupa hadiah buku hadits pilihan. Untuk bentuk punishment-nya juga benar mas. Jadi untuk teman-teman tidak ada sama sekali yang telat masuk.”120

Bapak Hayat memberikan hadiah berupa pembebasan pembayaran SPP selama dua bulan dan hadiah sesuai keinginan peserta didik yang berprestasi baik akademik maupun non-akademik sebagai bentuk reward.

Sedangkan bentuk punishment, Bapak Hayat memberikan hukuman yang mendidik, seperti hafalan ayat suci Alquran dan tambahan tugas, serta mengkonfirmasi kepada orang tua peserta didik untuk hafalan surat-surat tertentu. Hukuman juga diberikan jika peserta didik tidak mengerjakan tugas harian atau melanggar terus-menerus. Beliau mengatakan bahwa:

119 Nayla An’umi, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 10 Mei 2023.

120 Iklima Nabila Putri, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 24 Mei 2023.

“Saya memberikan reward kepada peserta didik berupa hadiah, yaitu memberikan hadiah apapun yang peserta didik inginkan dan pembebasan pembayaran SPP selama dua bulan. Untuk punishment yang saya berikan adalah hukuman yang mendidik mas, tidak hukuman secara fisik maupun mental kepada peserta didik.

Pemberian hukuman ini ketika peserta didik tidak mengerjakan tugas harian yang saya berikan atau tidak hafal ketentuan ayat suci Alquran yang sudah ditentukan sebelumnya.”121

Hal tersebut dibenarkan oleh Gladys Intan Kris selaku salah satu peserta didik yang diajar langsung oleh Bapak Hayat selaku guru rumpun PAI MaPel Akidah Akhlak, beliau dengan menyatakan bahwa:

“Iya mas untuk Bapak Hayat sendiri itu kalau ngasih sesuatu berupa hadiah kepada teman-teman kelas. Tapi teman saya yang peringkat itu memang dikasih pembebasan pembayaran SPP selama dua bulan, dan itu dari Bapak Hayat langsung. Untuk hukuman sendiri. beliau sering menghukum teman-teman di kelas dengan menyuruh hafalan dan juga menulis ayat Alquran.”122

Bapak Umar Sidik memberikan reward berupa penambahan nilai, pujian lisan, gerakan tubuh, dan hadiah, sebagai bentuk reward. Sedangkan bentuk punishment, Bapak Umar memberikan hukuman berupa teguran, berdiri di depan kelas, dan menempatkan peserta didik di bangku awal. Jika pelanggarannya serius, hukuman dapat dilaporkan ke guru PA atau BP.

Beliau mengatakan bahwa:

Reward yang saya berikan itu harus ada syaratnya. Contohnya ketika peserta didik mampu menuntaskan tugas, biasanya saya berikan reward dalam bentuk lisan, gerakan tubuh, dan hadiah. Dan untuk bentuk punishment yang saya berikan berupa teguran hukuman berdiri di depan kelas, menempatkan posisi peserta didik di bangku awal.”123

121 Hayat, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 11 Mei 2023.

122 Gladys Intan Kris, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 17 Mei 2023.

123 Umar Sidik, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 15 Mei 2023.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu peserta didik yang diajar langsung oleh Bapak Umar Sidik selaku guru rumpun PAI MaPel fikih, Ega Pratama Riyadi mengatakan bahwa:

Reward yang sering beliau berikan kepada teman-teman saat pembelajaran langsung itu bentuk pujian mas. Untuk yang berupa hadiah sendiri itu diberikan saat semester akhir. Dan juga beliau menyuruh peserta didik yang gaduh pindah posisi duduknya ke depan.”124

Bapak Suparlan memberikan reward berupa penambahan uang saku, pujian, dan apresiasi simbolis seperti ucapan dan acungan jempol, sebagai bentuk reward. Sedangkan bentuk punishment, Bapak Suparlan memberikan hukuman berupa tambahan tugas, berdiri di depan kelas, push-up, dan mengaji Alquran. Hukuman diberikan jika peserta didik tidak disiplin, misalnya rambut panjang, kuku tidak rapi, telat masuk, gaduh, atau tidur saat pembelajaran.

“Untuk bentuk reward yang saya berikan itu pertama berupa nilai tambahan bagi peserta didik yang aktif dalam pembelajaran, berprestasi atau mengikuti olimpiade dalam MaPel PAI. Yang kedua berupa apresiasi simbolis, entah ucapan bagus, naik, mantap, pintar dan acungan jempol. Dan yang ketiga berupa hadiah yang kecil berupa penambahan uang saku, jajan di kopsis, buku tulis, dan sebagainya. Sedangkan punishment yang saya berikan berupa tambahan tugas, berdiri di depan kelas, push up, mengaji Alquran ketika peserta didik tidak disiplin. Untuk yang berat saya serahkan ke wali kelas dan BP, contohnya merokok, berkelahi, dan bolos.”125 Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu peserta didik yang diajar langsung oleh Bapak Suparlan selaku guru rumpun PAI MaPel Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Alquran Hadits, Ahmad Alfinur Fahmi

124 Ega Pratama Riyadi, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 25 Mei 2023.

125 Suparlan, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 15 Mei 2023.

mengatakan bahwa:

“Untuk pemberian hadiah saat pelajaran Bapak Suparlan itu ada, seperti teman saya waktu itu dikasih uang saku sebesar lima ribu rupiah, karena dia aktif saat pembelajaran berlangsung. Dan juga kalau teman-teman kelas itu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beliau, biasanya dalam bentuk apresiasi saja, contohnya beliau bilang bagus, acungan jempol, atau tepuk tangan dari beliau sendiri dan teman-teman kelas yang lain Untuk pemberian hukuman, beliau sering menghukum teman-teman kelas saya. Soalnya untuk di kelas VII I beliau selain guru MaPel sekaligus menjadi wali kelas. Jadi kalau ada salah satu peserta didik melanggar, beliau langsung yang menghukum. Untuk bentuk hukumannya itu kalau ada anak yang rambutnya panjang atau kukunya, itu biasanya dikasih pilihan mau cukur sendiri atau dicukur langsung oleh beliau ketika ada yang membuat gaduh atau tidur saat pembelajaran, beliau itu menyuruh anak tersebut untuk berdiri selama 30 menit. Dan juga beliau memberikan hukuman push-up atau lari-lari di lapangan, ketika ada yang main sepak bola di depan kelas saat diluar jam pelajaran olahraga.”126

Ibu Hidayatul Wasiah memberikan reward berupa penambahan nilai dan pujian dari beliau sendiri atau teman sejawat, sebagai bentuk reward.

Sedangkan bentuk punishment, Ibu Hidayatul Wasiah memberikan peneguran sebagai bentuk hukuman jika peserta didik tidak mengerjakan tugas. Dia memberikan kesempatan dan pendekatan kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas dengan batas waktu yang diberikan. Beliau mengatakan bahwa:

“Saya memberikan reward kepada peserta didik itu penambahan nilai dan pujian (dari beliau atau teman sejawat). Untuk penambahan nilai dan pujian kepada peserta didik dilakukan ketika peserta didik tuntas mengerjakan tugas. Untuk yang pujian dari teman sejawat, ketika diakhir pembelajaran saat evaluasi bersama dengan perwakilan dari masing-masing kelompok memberikan saran, kritik, dan bentuk apresiasi kepada kelompok lainnya, ini ketika pembelajarannya dilakukan menggunakan metode diskusi bersama.

Jikalau punishment sendiri sebenarnya saya sangat toleran sekali

126 Ahmad Alfinur Fahmi, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 17 Mei 2023.

kepada peserta didik, bentuknya hanyalah sebatas peneguran kepada peserta didiknya. Contohnya ada peserta didik yang tidak mengerjakan tugas, baik tugas dalam pembelajaran atau rumah. Saya hanya menegur kepada dia untuk mengerjakan dengan jangka dua sampai tiga jam kedepan dikumpulkan, ketika tidak dihiraukan saya masih memberikan waktu seminggu untuk menyelesaikan, dan ketika masih tidak dihiraukan atau tugasnya belum selesai, saya akan coba melakukan pendekatan dan bertanya alasan mengapa tidak mengerjakannya.”127

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu peserta didik yang diajar langsung oleh Ibu Hidayatul Wasiah selaku guru rumpun PAI MaPel Fikih, Nadhifa Khalishah Utomo mengatakan bahwa:

“Ibu Wasiah untuk memberi reward berupa hadiah itu memang tidak pernah sama sekali selama ini yang saya ketahui. Tapi untuk reward penambahan nilai, pujian langsung dari beliau dan teman-teman kelas itu memang terjadi. Soalnya beliau pernah bilang tidak akan mengarang soal nilai di raport kami dan berusahalah semampunya untuk aktif sekaligus semangat dalam pembelajaran. Dan juga pembelajarannya beliau itu seringkali membuat kami lebih aktif, dibandingkan beliau banyak menjelaskan. Sehingga bentuk-bentuk pujian pun terjadi ketika hampir selesai pembelajaran. Dan di kelas kami juga itu sering menggunakan metode diskusi. Untuk hukuman, beliau adalah salah satu guru tidak sama seperti guru yang lain.

Beliau sabar dalam menghadapi peserta didiknya yang seringkali gaduh atau ramai, hukumannya hanya berupa peneguran saja. Saya adalah salah satu peserta didik yang pernah ditegur oleh beliau, karena pada waktu itu saya tidak mengerjakan tugas. Jadi pendekatan kepada kami itu sangat dekat sekali, dan juga kelas kami pun jarang melakukan hal-hal yang tidak baik.”128

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan reward, guru-guru tersebut menggunakan berbagai bentuk hadiah, seperti permen, buku, kamus, uang saku, dan penambahan nilai.

Hadiah-hadiah ini diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada peserta didik yang berprestasi baik secara akademik maupun non-akademik. Beberapa

127 Hidayatul Wasiah, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 10 Mei 2023.

128 Nadhifa Khalishah Utomo, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 24 Mei 2023.

guru juga memberikan pembebasan pembayaran SPP sebagai reward kepada peserta didik yang mencapai peringkat tertentu di kelas.

Tabel 4.5

Bentuk-Bentuk Pemberian Reward dan Punishment Guru Rumpun PAI No Nama Guru

Rumpun PAI

Bentuk Reward Bentuk Punishment 1 Nayla An’umi,

S.Pd.I.

Memberikan hadiah berupa permen dan buku kepada peserta didik yang mampu menjawab pertanyaan dan memiliki hasil ulangan harian yang bagus

Penambahan hafalan hadits dan berdiri di depan kelas selama 15 menit. Hukuman ini diberikan jika peserta didik tidak mampu menghafal haidts yang telah ditentukan atau saat peserta didik ramai atau telat masuk kelas

2 Hayat, S.Ag. Pembebasan

pembayaran SPP selama dua bulan dan hadiah sesuai keinginan peserta didik yang berprestasi baik akademik

maupun non-

akademik

Hafalan ayat suci Alquran dan tambahan tugas, serta mengkonfirmasi kepada orang tua peserta didik untuk hafalan surat-surat tertentu

3 Umar Sidik, S.Ag, M.Pd.I.

Penambahan nilai, pujian lisan, gerakan tubuh, dan hadiah

Teguran, berdiri di depan kelas, dan menempatkan peserta didik di bangku awal. Jika pelanggarannya serius, hukuman dapat dilaporkan ke guru PA atau BP

4 Suparlan, S.Ag, M.Pd.I.

Penambahan uang saku, pujian, dan apresiasi simbolis seperti ucapan dan acungan jempol

Tambahan tugas, berdiri di depan kelas, push-up, dan mengaji Alquran. Hukuman diberikan jika peserta didik tidak disiplin, misalnya rambut panjang, kuku tidak rapi, telat masuk, gaduh,

atau tidur saat

pembelajaran.

5 Hidayatul Wasiah, M.Pd.I.

Penambahan nilai dan pujian dari beliau sendiri atau teman sejawat

Peneguran sebagai bentuk hukuman jika peserta didik tidak mengerjakan tugas.

Bentuk-bentuk reward ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada peserta didik dalam belajar. Dalam beberapa kasus, reward diberikan ketika peserta didik mampu menjawab pertanyaan dengan baik atau mencapai nilai yang bagus dalam ulangan harian atau ujian. Reward juga diberikan kepada peserta didik yang aktif dalam pembelajaran atau berprestasi dalam bidang tertentu, seperti mengikuti olimpiade atau meraih peringkat satu di kelas.

Selain reward, terdapat juga bentuk punishment yang diberikan kepada peserta didik sebagai bentuk pembinaan dan disiplin. Bentuk punishment yang umumnya digunakan adalah tambahan hafalan hadits, berdiri di depan kelas, menulis ayat suci Alquran atau hadits, peneguran, penempatan posisi duduk di bangku awal, dan tugas tambahan. Hukuman- hukuman ini diberikan ketika peserta didik tidak mampu menghafal hadits, melanggar tata tertib, atau tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Dalam pemberian reward dan punishment, para guru memiliki pendekatan yang berbeda. Beberapa guru memberikan reward dan punishment secara individual, sesuai dengan prestasi atau perilaku peserta didik secara personal. Sementara itu, ada juga guru yang memberikan reward dan punishment dalam bentuk kelompok atau tim, di mana peserta didik diberi kesempatan untuk memberikan apresiasi atau kritik kepada kelompok lain.

Pemberian reward dan punishment ini dilakukan sebagai upaya untuk memotivasi peserta didik dalam belajar, membentuk kedisiplinan, serta membentuk perilaku yang baik. Bentuk-bentuk reward dan punishment yang diberikan oleh para guru dapat disesuaikan dengan konteks dan karakteristik peserta didik, sehingga dapat memberikan efek positif dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat disimpulkan reward diartikan sebagai salah satu alat pendidikan yang diberikan kepada peserta didik ketika peserta didik setelah melakukan suatu hal yang baik atau mencapai sesuatu, sedangkan diartikan punishment sebagai salah satu alat pendidikan yang diberikan kepada peserta didik dengan tujuan agar sadar akan kesalahan yang diperbuat dan dan mempertimbangkan sesuatu yang akan dilakukan selanjutnya. Bentuk-bentuk pemberian reward dan punishment dilakukan oleh guru rumpun PAI kepada peserta didik dalam bentuk fisik dan juga non fisik. Contoh bentuk reward fisik berupa pemberian hadiah, non fisik seperti ekspresi verbal. Untuk punishment fisik seperti push up dan berdiri depan kelas, dan untuk non fisik berupa peringatan atau teguran dari guru rumpun PAI.

2. Persepsi Guru Rumpun PAI dalam Menerapkan Langkah-Langkah Reward dan Punishment untuk Membentuk Kedisiplinan Peserta Didik

Persepsi disinyalir memproyeksi awal terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh setiap manusia. Maka hal tersebut juga terjadi terhadap pemberian reward dan punishment. Di atas telah terpapar hasil wawancara

bagaimana persepsi guru rumpun PAI terhadap konsep reward dan punishment, kemudian persepsi tersebut mewujudkan terhadap langkah- langkah pemberian reward dan punishment, dengan tujuan pemberian reward dan punishment berjalan dengan tujuannya.

Ibu Kur Asriatun (wakil kepala madrasah bidang kurikulum) mendukung pemberian reward dan punishment yang diserahkan kepada guru MaPel, asalkan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik. Untuk reward, madrasah memberikan reward kepada peserta yang mendapatkan dari bidang akademik dan non-akademik. Hal ini sudah menjadi hasil musyawarah kepala madrasah dengan para wakilnya.

“Untuk pemberian reward dan punishment dari guru MaPel kepada peserta didik itu kami serahkan penuh kepada mereka, utamanya saat pembelajaran berlangsung. Kami dukung dan apresiasi kepada guru MaPel tersebut. Pemberian reward dari madrasah sendiri ada dua, yaitu pemberian reward dalam bidang akademik dan non akademik.

Untuk pembagiannya setiap reward-nya dari madrasah sudah menjadi ketetapan atau hasil musyawarah kami dengan kepala madrasah.”129

Pernyataan hasil wawancara tersebut dipertegas dengan observasi peneliti pada tanggal 29 Mei 2023. Adapun data yang peneliti dapatkan selama observasi, yaitu pihak madrasah memberikan reward kepada peserta didik yang juara I liga puisi se kabupaten Banyuwangi, juara I futsal dalam rangka Haornas tingkat Kabupaten, dan juara II taekwondo tingkat Nasional.

129 Kur Asriatun, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 30 Mei 2023.

Gambar 4.1

Madrasah memberikan reward kepada peserta didik yang berprestasi setelah upacara bendera di hari Senin

Ibu Hanik Setyowati (wakil kepala madrasah bidang kesiswaan) untuk punishment ada prosedur tertulis yang mengatur tindakan jika peserta didik melanggar peraturan dari madrasah. Hal itu sudah terdapat pada tata tertib peserta didik, bobot pelanggaran tata tertib, dan sanksi (hukuman) bagi peserta didik yang melanggar tata tertib (Lampiran 2). Jika guru MaPel tidak dapat menyelesaikan masalah, guru MaPel dapat bekerja sama dengan guru PA (Pendamping Akademik), dan jika guru PA masih tidak dapat menyelesaikan masalah, maka guru PA bekerja sama dengan guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) untuk menindaklanjuti. Pemberian punishment yang rendah tingkatannya dapat dilakukan dengan teguran dan nasihat.

“Untuk pemberian punishment, kami telah memberikan prosedur yang jelas, baik secara tertulis maupun tidak. Jika mendapati peserta didik melakukan pelanggaran yang tingkatannya rendah bisa langsung ditegur sekaligus memberi nasihat. Disini kami mencoba membangun budaya positif berupa saling memperhatikan dan menasehati, karena peserta didik kami banyak, sedangkan gurunya tidak sebanyak peserta didik.”130

130 Hanik Setyowati, diwawancara oleh Peneliti, Banyuwangi, 30 Mei 2023.

Dalam dokumen persepsi guru rumpun pendidikan agama islam (Halaman 93-131)

Dokumen terkait