• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaluran Dana

BAB 1 PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Penyaluran Dana

a. Pengertian Penyaluran Dana

Menurut Muhammad penyaluran dana merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilaukukan sendiri maupun lembaga.19

Pembiayaan merupakan aktivitas utama yang dilakukan Baitul mal wat tamwil (BMT), karena berhubungan dengan pendapatan. Pembiayaan adalah suatu fasilitas yang diberikan Baitul mal wat tamwil (BMT) kepada anggotanya untuk menggunakan daya yang telah dikumpulkan Baitul mal wat tamwil (BMT) dari anggotanya. Pembiayaan pada Baitul mal wat tamwil (BMT) adalah menganut prinsip syariah, yang dimaksud prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hokum islam antara pihak Baitul mal wat tamwil (BMT) dengan Pihak lainnya untuk melakukan pembiayaan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah.20

Dalam pinbuk syariah pembiyaan merupakan dana yang ditempatkan Baitul mal wat tamwil (BMT) kepada anggotanya untuk membiayai kegiatan usahanya atas dasar jual beli dan perkongsian (syirkah). Ada berbagai jenis pembiayaan yang

19 Muchdarsyah sinungan, Manajemen Dana Bank Edisi Ke -2, (Jakarta: bumi aksara, 1997). Hlm 84.

20 Nurul Huda, DKK. Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis Dan Sejarah, (Jakarta: kencana Prenada Media Groub, 2012), hlm 290.

19

dikembangkan oleh Baitul mal wat tamwil (BMT), yang semuanya mengacu pada akad syirkah dan akad jual beli. Dari akad kedua ini dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh Baitul mal wat tamwil (BMT) dan anggotanya dan semuanya ini mengacu pada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) sebagai pedoman.

Di antara pembiayaan yang sudah umum dikembangkan oleh Baitul mal wat tamwil (BMT), yaitu :21

a. Pembiayaan Bai‟u Bitsaman Ajil (BBA)

Merupakan pembiayaan dengan akad jual beli yakni suatu perjanjian pembiayaan yang disepakati antara Baitul mal wat tamwil (BMT) dengan anggotanya, di mana Baitul mal wat tamwil (BMT) menyediakan dananya untuk sebuah investasi dan/

atau pembelian barang modal dan usaha anggotanya yang kemudian proses pembayarannya dilakukan secara angsuran.

Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh peminjam (anggota) yaitu jumlah atas harga barang modal dan mark-up yang disepakati.

b. Pembiayaan Murabahah (MBA)

Merupakan pembiayaan yang berakad jual beli dimana prinsip yang digunakan sama seperti pembiayaan Bai‟u Bitsaman

21 Ibid, hlm.291

20

Ajil, hanya saja yang membedakannya yaitu proses pengembaliannya dibayarkan pada saat jatuh tempo.

c. Pembiayaan Mudharabah (MDA)

Merupakan pembiayaan dengan akad syirkah yakni perjanjian pembiayaan antara Baitul mal wat tamwil (BMT) dan anggota di mana Baitul mal wat tamwil (BMT) menyediakan dana untuk menyediakan modal kerja sedangkan peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usahanya.

d. Pembiayaan Musyarakah (MSA)

Merupakan pembiayaan dengan akad syirkah yakni penyertaan Baitul mal wat tamwil (BMT) sebagai pemilik modal dalam suatu usaha yang mana antara risiko dan keuntungan ditanggung bersama secara berimbang dengan porsi penyertaan.

e. Pembiayaan Al-Qordul Hasan

Merupakan pembiayaan dengan akad ibadah yakni perjanjian pembiayaan antara Baitul mal wat tamwil (BMT) dengan anggotanya. Hanya anggota yang dianggap layak yang dapat diberi pinjaman ini. Secara umum, produk pembiayaan yang berlaku di Baitul mal wat tamwil (BMT) dibagi menjadi empat prinsip, yakni sebagai berikut:22

a. Prinsip bagi hasil.

22 Ibid, hlm.291-292

21

Pada dasarnya bagi hasil adalah produk inti bagi Baitul mal wat tamwil (BMT), karena mengandung keadilan ekonomi dan social. Dengan bagi hasil BMT akan turut mengandung hasil keuntungan maupun kerugian terhadap uasaha yang dibiayainya.

Setelah terjadi akad pembiayaan tersebut, Baitul mal wat tamwil (BMT) masih mempunyai tanggung jawab lainnya. Jika dilihat dari sisi administrative system ini memang terasa rumit dan sulit, tetapi dari sisi lain keadilan dari bagi hasil menjadi sangat penting. System bagi hasil dalam Baitul mal wat tamwil (BMT) dapat diterapkan dengan empat model, yaitu

1. Mudharabah, yakni

Perjanjian antara dua belah pihak yakni pemilik modal

\uang atau barang) dengan pengusaha. Dalam perjanjian ini pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek atau usaha dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian. Pemilik modal tidak dibenarkan membuat usulan dan melakukan pengawasan.

Apabila usaha yang diawasi mengalami kerugian, maka kerugian tersebut sepenuhnya akan ditanggung pemilik modal, kecuali kerugian itu terjadi disebabkan karena penyelewengan dan penyalahgunaan pengusaha.23

2. Musyarakah

23 Veithzal Rivai, dan Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep dan Aplikasi. (Jakarta: PT.Bumi Aksara.2010). hlm, 62

22

Perjanjian antara dua pihak atau lebih yakni pemilik modal (uang atau barang) untuk membiayai suatu usaha. Dimana keuntungan dari usaha tersebut dibagi sesuai dengan perjanjian antara pihak-pihak tersebut, yang tidak harus sama dengan porsi modal masing-masing pihak.

3. muzara‟ah - mukhabarah (sector pertanian)

Yakni, memberikan lahan pertanian kepada si penggarep untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan tertentu (persentase) dari hasil panen tersebut.

4. musaqah (sector perkebunan).

Yakni, memberikan lahan pertanian kepada si penggarep untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan tertentu (persentase) dari hasil panen tersebut.

b. Prinsip juan beli.

Produk ini dikembangkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar yang mungkin tidak bias dimasukan dalam akad bagi hasil. Pada umumnya, dalam Baitul mal wat tamwil (BMT) akad jual beli yang sering dipakai ada tiga akad yaitu

1. Ba‟i al Murabahah

Bai „ al- murabahah yakni jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam murabahah penjual (dalam hal ini adalah pihak bank) harus

23

memberi tahu harga pokok yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan menjadi tambahannya.

2. Bai‟al Salam

Merupakan proses jual beli dimana pembayaran dilakukan secara advance manakala penyerahan barang dilakukan pada kemudian hari.

3. Bai‟al Istishna

Merupakan kontrak order yang ditandatangani bersama antara pemesan dengan produsen untuk pembuatan suatu jenis barang tertentu.

c. Prinsip Sewa

Sewa merupakan pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan perpindahan kepemilikan barang. Pada umumnya, di Baitul mal wat tamwil (BMT) akad ijarah atau sewa dikembangkan ke dalam bentuk akad Ijarah Muntahiya Bit Tamlik, yaitu akad sewa yang diakhir dengan jual beli.

d. Prinsip Jasa

Produk layanan jasa bagi Baitul mal wat tamwil (BMT) juga bersifat pelengkap terhadap berbagai layanan yang ada. Adapun pengembangan produk jasa layanan tersebut yaitu :24

24 Nurul Huda, DKK. Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis Dan Sejarah, (Jakarta: kencana Prenada Media Groub, 2012), hlm 293.

24

1. Al-wakalah, merupakan wakil atau pendelegasian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.

2. Al-kafalah merupakan pengalihan tanggung jawab dari satu orang kepada orang lain.

3. Al- hawalah merupakan akad pengalihan utang dari seseorang kepada orang lain yang sanggup menanggungnya.

4. Ar-rahn merupakan akad untuk menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.

5. Al-qard, merupakan bagian dari transaksi ta‟awuni atau tolong- menolong dan bukan komersial

Dari uraian diatas pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yaitu suatu kegiatan yang berupa penyediaan dana berupa uang dan barang dari pihak Baitul mal wat tamwil (BMT) kepada nasabah sesuai kesepakatan, yang mewajibkan pihak yang menerima dana untuk mengembalikan uang setelah jangka waktu tertenta yang sudah ditentukan dengan imbalan atau bagi hasil, yang didasari prinsip syariah yakni prinsip mudharabah, musyarakah dan ijarah.25

Dalam menjalankan operasionalnya, Baitul mal wat tamwil (BMT) dapat menjalankan berbagai jenis kegiatan usaha, baik yang berhubungan dengan keuangan maupun non keuangan.

25 Ibid , hlm.293

25

Adapun jenis-jenis usaha yang dilakukan Baitul mal wat tamwil (BMT) yang berhubungan dengan keuangan yaitu :

1. Setelah mendapatkan modal awal berupa simpanan pokok khusus, simpanan pokok, dan simpanan wajib sebagai modal dasar Baitul mal wat tamwil (BMT), selanjutnya Baitul mal wat tamwil (BMT) akan memobilisasi dana dengan mengembangkannya dalam aneka simpanan sukarela (semacam tabungan umum) dengan berasaskan akad mudharabah dari anggota yang berbentuk :26

a. Simpanan biasa b. Simpanan pendidikan c. Simpanan haji

d. Simpanan umrah e. Simpanan qurban f. Simpanan Idul Fitri g. Simpanan walimah h. Simpanan akikah

i. Simpanan perumahan (pengembangan dan perbaikan) j. Simpanan kunjungan wisata

k. Simpanan mudharabah berjangka )semacam deposito 1,3,6,12 bulan).

26 Andri soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta : kencana Prenada Media Groub, 2009), hlm 463.

26

Penggunaan akad pada wadi‟ah (titipan tidak berbagi hasil), diantaranya :

a. Simpanan yad al-amanah, yaitu titipan berupa dana zakat,infak, dan sedekah untuk disalurkan kepada yang berhak.

b. Simpanan yad ad-dhamanah, yaitu titipan giro yang sewaktu- waktu dapat diambil oleh anggota Baitul mal wat tamwil (BMT) yang menyimpan.

2. Kegiatan pembiayaan/ kredit usaha kecil bawah (mikro) dan kecil, yaitu meliputi :

a. Pembiayaan mudharabah, merupakan pembiayaan total dengan memakai mekanisme bagi hasil.

b. Pembiayaan musyarakah, merupakan pembiayaan bersama dengan memakai mekanisme bagi hasil

c. Pembiayaan murabahah, merupakan pemilikan atas suatu barang tertentu yang dibayar pada saat jatuh tempo.

d. Pembiayaan bay‟ bi saman ajil, merukan pemilikan suatu barang tertentu dengan mengunakan makanisme pembayaran cicilan.

e. Pembiayaan qard al-hasan, yaitu pinjaman tanpa adanya tambahan pengembalian terhadap pinjaman kecuali sebatas pembiayaan administrasi.27

27 Perwakilan Pinbuk Sumut, Ibid., hlm.4.A. Djazuli dan Yadi Janwari, Ibid., hlm.191.

27

Dokumen terkait