BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Perbedaan Kemampuan Belajar
1. Pengertian Perbedaan Kemampuan belajar siswa
Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertikal. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan, emosi, dan sebagainya. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. (Massofa, 2011 : 5).
Kemampuan berasal dari kata dasar “mampu” yang mempunyai arti dapat atau bisa. Kemampuan juga disebut kompetensi. Ada beberapa pengertian mengenai kemampuan, diantaranya adalah kesanggupan, sanggup, dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah. Sedangkan ditinjau dari segi bahasa Indonesia, kemampuan merupakan kesanggupan seseorang untuk berinteraksi di suatu masyarakat bahasa, antara lain mencakupi sopan santun.
Menurut Chaplin dalam kutipan Musa Saputra (2011 : 4) kemampuan mengandung pengertian kecakapan, ketangkasan, bakat dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan. Menurut Akhmad Sudrajat (2008 : 3) Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Dapat dicontohkan, setelah selesai mengikuti proses pembelajaran (kegiatan tatap muka ), pada akhir pelajaran siswa diuji oleh guru tentang materi
yang disampaikannya (tes formatif). Ketika siswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan guru, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter).
Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.”
Dengan demikian dapat dipahami bahwa perbedaan kemampuan belajar siswa adalah : perbedaan kecakapan, ketangkasan, bakat dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam memperoleh suatu perubahan tingkah laku dari hasil belajar baik perubahan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotorik ( Keterampilan).
Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar dikelas. Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar dan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dimiliki oleh siswa.
2. Jenis-Jenis perbedaan kemampuan belajar siswa
Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek yang masing-masing memilki ciri-ciri tertentu;
a. Aspek kecerdasan, atau dari segi intelektual. Siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi.
b. Aspek psikologis, mencakup minat, bakat, perhatian dan juga kemandirian. Minat dan perhatian sangat mempengaruhi perkembangan individu. Didalam salah satu asas diktatik lama disebutkan bahwa dengan adanya perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan guru, maka isi dari materi pelajaran akan terserap dengan baik. Minat turut menentukan perbedaan hasil belajar .
c. Aspek biologis atau keadaan Jasmani, keadaan jasmani tiap siswa berbeda-beda. Perbedaan itu terdapat pada struktur badan (tinggi, berat, dan koordinasi anggota badan), cacat badan (gangguan pada penglihatan, sakit menahun, mudah pusing kepala, dan lain- lain), gangguan penyakit tertentu. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efisiensi dan kegairahan belajar, mudah lelah, kurang berminat melakukan berbagai kegiatan, dan akan mempengaruhi hasil belajar;
d. Penyesuaian Sosial dan Emosional, keadaan sosial dan emosi individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berbagai sikap sosial dan emosional, adalah pendiam, pemalu, pemberani, mudah bereaksi, senang bekerjasama, suka mengasingkan diri, mudah terpengaruh, sensitif, senang menggantungkan diri kepada orang lain. Tingkah laku sosial dan emosional ini dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi sekitarnya.
e. Keadaan Keluarga. Keadaan keluarga besar pengaruhnya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilater belakangi perbedaan keadaan keluarga. Pengaruhnya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal pengalaman sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerjasama, pola pikir, dan lain-lain.
f. Prestasi Belajar, perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh faktor-faktor kematangan, latar belakang pribadi, sikap dan bakat terhadap pelajaran, jenis mata ajaran yang diberikan, dan sebagainya .
3. Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa.
Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan;
karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu, terdapat keyakinan serta kepribadian terbawa
pembawaan (heredity) dan lingkungan. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari bahwa apa yang dirsakan oleh banyak anak, remaja, atau dewasa merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor- faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkugan. Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik- karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu ata sejauh mana seseorang dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
4. Kemampuan yang Dimiliki Guru dalam Menghadapi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap siswa yang masing-masing individunya berbeda, maka seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Menemukan perbedaan individu siswa
Setiap individu siswa berbeda satu dengan lainnya, hal ini pengaruhi banyak faktor yang membentuk kepribadian setiap siswa.
Perbedaan individu siswa dapat dikelompokan menjadi:
1) Perbedaan vertikal yaitu perbedaan pada segi fisik setiap individu, misal; tinggi - sedang - pendek, gemuk - sedang - kurus, sehat - tidak sehat dan lain sebagainya.
2) Perbedaan horizontal yaitu perbedaan pada segi psikis dan sosial setiap individu, misal; kemampuan, bakat, minat, emosi, hasil belajar dan lain sebagainya.
Perbedaan individu diatas dipengaruhi oleh faktor keturunan (bakat) dan lingkungan. Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa.
b. Memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.
Setelah guru menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap individu, maka langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran yang disesuaikan dengan perbedaan tersebut agar setiap individu mampu berkembang sesuai dengan
kemampuan dan kecepatan yang dimiliki oleh masing-masing individu siswa. Mengajar siswa dengan kemampuan belajar cepat akan berbeda dengan mengajar siswa dengan kemampuan belajar kurang atau lambat.
Kemampuan yang berbeda dari setiap individu memerlukan pelayanan tersendiri bagi guru dalam upaya penyesuaian program pengajaran yang akan dibuat dan dilaksanakan. Tetapi hal ini tidaklah mudah bahkan sangat sulit dilakukan bagi mereka yang belum terbiasa dalam upaya pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.
Kesulitan-kesulitan yang paling mudah kita temukan dalam lingkungan disekitar kita misalnya; terbatasnya waktu yang disediakan oleh sekolah dalam suatu pertemuan pembelajaran di kelas akan membuat guru tidak maksimal dalam menemukan dan melayani siswa sesuai dengan perbedaan setiap individu walaupun hal ini sudah direncanakan dalam program pengajaran yang akan atau sedang dilaksanakan. Jika kesulitan-kesulitan yang dihadapi ini memang sangat sulit dipecahkan maka guru tidak perlu memaksakan diri sampai diluar batas kemampuannya. Minimal guru mampu melaksanakan pada tahap yang dapat dilaksanakannya, misal; terhadap siswa yang memiliki kemampuan cepat dalam menyerap materi pelajaran maka guru bisa saja memberinya materi atau tugas tambahan untuk dikerjakannya diluar sekolah, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang maka guru dapat memberinya materi yang sesuai untuknya. Siswa yang memiliki bakat menonjol bisa diberi kesempatan atau diberi fasilitas untuk
mengembangkannya sedangkan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar maka perlu dibantu agar siswa tersebut dapat mengatasi kesulitannya. Dan silahkan kembangkan menurut keadaan dan kemampuan dilingkungan sekolahnya masing-masing.
c. Melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa
Tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menerima materi yang diajarkan oleh seorang guru. Guru hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan berusaha menemukan dan mengatasi kesulitan belajar siswa dengan men-diagnosis kesulitan belajar siswa tersebut. Dan jika tingkat kesulitan belajarnya sangat sulit diidentifikasi maka tidak ada salahnya kita meminta bantuan guru lain atau guru yang berkompeten dalam hal ini dan ini biasanya guru bimbingan dan penyuluhan .
5. Indikator perbedaan Kemampuan Belajar Siswa
Siswa atau peserta didik adalah orang yang dengan sengaja datang kesekolah. Orang tuanyalah yang memasukkannya untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu dikemudian hari. Kepercayaan orang tua anak diterima oleh guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan.
Dengan begitu, jadilah guru sebagai pengemban tugas yang bertanggung jawab.
Tanggung jawab guru tidak hanya terdapat pada seorang anak, tetapi dalam jumlah yamg cukup banyak. Anak dengan jumlahnya yang cukup banyak itu tentu saja dari latar belakang kehidupan sosial keluarga dan masyarakat yamg cukup berlainan. Karenanya, anak-anak yang berkumpul di sekolah tentu mempunyai karakterstik yang bermacam- macam. kepribadian mereka ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang suka bicara, ada yang kreatif, ada yang keras kepala dan ada pula yang manja, namun intelektual mereka juga cukup bervariasi begitu juga dengan biologis mereka dengan struktur atau keadaan tubuh yang tidak selalu sama. Oleh karena itu, perbedaan anak pada aspek biologis, intelektual dan psikologis akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan pembelajaran di sekolah mempunyai tujuan untuk membantu memperoleh perubahan perilaku bagi setiap pelajar dalam rangka mencapai perkembangan optimal.oleh karena itu, pengenalan terhadap sifat-sifat individual peserta didik sangat perlu. Beberapa sifat peserta didik dalam pembalajaran yang dapat dijadikan indikator perbedaan kemampuan perbadaan kemampuan belajar siswa antara lain:
a. Siswa yang cepat dalam menerima pembelajaran
Siswa yang tergolong cepat dalam belajar pada umumnya dapat menyelesaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Pada umumnya mereka memiliki tingkat cerdasan diatas rata-rata.
b. Siswa yang lambat dalam menerima pelajaran
Menurut Abdul Haling (2007 : 138) Siswa yang tergolong lambat membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada waktu yang diperkirakan untuk memahami bahan ajar. Akibatnya, siswa golongan ini sering ketinggalan dalam belajar dan ini pula sebagai salah satu sebab tinggal kelas.
Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan pempengaruhi pengelolaan kelas oleh guru. Anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenagi pelajaran lain adalah perilaku anak yang bermula dari sikap mereka karena minat yang berlainan. Hal ini mempengaruhi kegiatan belajar anak. Biasanya pelajara yang disenangi dipelajari oleh siswa denagan senang hati. Sebaliknya, pelajaran yang kurang disenangi jarang dipelajari oleh anak, sehingga tidak heran bila materi dari pelajaran itu kurang dikuasai oleh siswa dan mengakibatkan hasil ulangan itu jelek.
Sederatan angka yang terdapat dalam rapor menjadi bukti berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar.
Daya serap anak terhadap pelajaran yang diberikan juga bermacam-macam. Oleh karena itu, dikenallah tingkat keberhasilan yang maksimal (istimewa), optimal (baik sekali), minimal (baik), dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai oleh setiap peserta didik.oleh karena itu, dalam menyampaikan pelajaran bagi anak didik yang memiliki daya serap yang kurang guru harus memperjelas materi yang akan diajarkan.
Rasulullah SAW mengajarkan hal tersebut melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
ْفَ ي ًلاْصَف اًمَلاَك َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِهللَّا ُلْوُسَر ُمَلاَك َناَك ْتَلاَق ُّللَّا اَهَِحَِر َةَشِئاَع ْنَع ْنَم ُّلُك ُوَُُه
ُوَعَِسَ
هاور(
)دواد وبا
Artinya :
Dari Aisyah Rahimahallah berkata, sesungguhnya perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)
c. Siswa yang mampu menunjukkan kreativitas dalam pembelajaran Siswa yang tergolong kreatif umumnya menunjukkan kreativitas dalam kegiatan tertentu, misalnya dalam melukis, menggambar, olah raga, organisasi, kesenian dan sebagainya. Mereka selalu ingin memecahkan persoalan, berani menanggung resiko dan lebih sering bekerja sendiri.
d. Siswa yang mempunyai prestasi belajar kurang dalam proses pembelajaran.
Menurut Abdul Haling (2007 : 139) Siswa golongan ini memiliki intelegensi yang tergolong tinggi namun prestasi belajarnya tergolong rendah. Gejalah ini biasanya timbul berkaitan dengan aspek motivasi, minat dan kebiasaan belajar.ciri-ciri kepribadian tertentu, dan pola-pola pengasuhan orang tua.
Menghadapi anak didik yang demikian maka guru oerlu memiliki kecakapan dalam melatih dan mengajak anak didik agar menumbuhkan minat dalam pembelajaran.
sebagai mana hadits rasulullah SAW yang berbunyi :
ٌةَبَبَش ُنَْنََو َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِِّبهنلا َلَِإ اَنْ يَ تَأ ٌكِلاَم اَنَ ثهدَح َلاَق َةَبَلاِق ِبَِأ ْنَع ُهَدْنِع اَنَُْقَأَف َنْوُ بِراَقَ تُم
ًمْوَ ي َنْيِرْشِع َ تْشا ْدَق اهنَأ هنَظَو اَُهلَ ف اًقْ يِفَر اًُْيِحَر َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِهللَّا ُلْوُسَر َناَكَو ًةَلْ يَلَو ا
اَنَلْىَأ اَنْ يَه
ْمُكْيِلْىَأ َلَِإ اْوُعِجْرا َلاَق ُهاَنْرَ بْخَأَف اَنَدْعَ ب اَنْكَرَ ت ْنهَُع اَنَلَأَس اَنْقَ تْشا ْدَق ْوَأ ْمُىْوُرُمَو ْمُىْوُُِّلَعَو ْمِهْيِف اوُُِقَأَف
ْلَ ف ُةَلاهصلا ْتَرَضَح اَذِإَف يِّلَصُأ ِنِْوُُُتْ يَأَر اََُك اوُّلَصَو اَهُظَفْحَأ َلاْوَأ اَهُظَفْحَأ َءاَيْشَأ َرَك َذَو ْمُكَل ْنِّذَؤُ ي
)ىراخبلا هاور( ْمُك ُرَ بْكَأ ْمُكهمُؤَ يْلَو ْمُكَدَحَأ
Artinya :
Dari Abi Qilabah katanya hadist dari Malik. Kami mendatangi Rasulullah SAW Dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya, beliau bersabda : kembalillah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka, beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Imam Bukhari)