SEJARAH ZAKAT INDONESIA
C. Perkembangan Pengelolaan Zakat Pada Era Reformasi
Perkembangan Zakat di Era Pemerintahan Reformasi (2001-Sekarang) Tahap V : Tahap Penguatan Institusi dan Sinergi
Krisis ekonomi dan politik pada penghujung periode 1990-an meninggalkan berbagai permasalahan kepada anak bangsa. Era reformasi, oleh karenanya, ditandai dengan berbagai perubahan dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat Indonesia. Di bidang politik, pemerintah diwarnai dengan bermunculan partai-partai politik baru yang menyuarakan berbagai aspek reformasi. Hukum mulai serius ditegakkan, yang terlihat dari semakin seriusnya pemerintah menangani korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang mewarnai pemerintah Indonesia. Sementara di bidang ekonomi, berbagai upaya dilakukan untuk membangun kembali perekonomian Indonesia dengan titik berat untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan menciptakan fundamental ekonomi yang lebih kuat.
Pengelolaan zakat yang lebih baik dari masyarakat dan pemerintah Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan strategi pengentasan kemiskinan di tanah air.
Dalam rangka memperkuat institusi zakat dan mengoptimalkan pengelolaan zakat di Indonesia, pada tahun 2001 Departemen Agama RI membentuk Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf melalui keputusan Menteri Agama RI Nomor 1/2001. Dalam Peraturan perundangan ini dijelaskan mengenai ketentuan pengelolaan dan pengumpulan zakat, pendayagunaan dan alokasi dana zakat, serta upaya dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, langkah-langkah terkait yang telah dilakukan Depertemen Agama, pembinaan lembaga pengelola zakat, serta hal-hal lainnya yang terkait dengan pengelolaan wakaf. Hal-hal ini menunjukkan bahwa pemerintah berharap departemen Agama berada pada garis terdepan dalam pelaksanaan mandat UU No 23/2011 mengenai pengelolaan zakat.
97
Selain pemerintah pusat dan Departemen Agama, Pemerintah daerah juga mulai akomodasi pelaksanaan UU No. 23/2011 dan KMA No. 373/2003 (sebelumnya KMA No.
581/1999) untuk mengoptimalkan pelaksanaan zakat di daerah. Berbagai daerah di tanah air mengeluarkan Peraturan Daerah (perda) zakat di daerah masing-masing. Kota Cilegon adalah daerah pertama yang menetapkan zakat di Indonesia. Kota Cilegon memiliki perda zakat yakni perda No. 4/2001 tentang Pengelolaan Zakat di Cilegon, yang kemudian diperkuat dengan SK walikota Cilegon No 451.12/Kep.326.Huk/2001 tanggal 17 September 2001.
Daerah-daerah lain yang juga menetapkan perda zakat setelah itu antara lain Kabupaten Serang dan Lombok Timur (2002). Kabupaten solok Sumatera Barat (2003) dan Kabupaten Tanggerang dan Provinsi Banten (2004). Menurut studi litbang Departemen Agama, hingga akhir tahun 2006 terdapat kurang lebih 24 daerah di Indonesia baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang telah memiliki perda zakat.
Pada periode ini juga marak didirikan berbagai badan/lembaga amil zakat di seluruh pelosok tanah air. Berdasarkan data Direktorat Urusan Agama Islam, hampir seluruh BAZIS tingkat provinsi telah terbentuk pada tahun 1996. BAZIS tingkat kabupaten berjumlah 277 BAZIS, BAZIS tingkat kecamatan berjumlah 3.160 buah, sedangkan BAZIS tingkat desa/kelurahan berjumlah 38.117 buah. Dengan banyaknya pemekaran kabupaten/kotamadya akhir-akhir ini, jumlah tersebut telah mengalami peningkatan, walaupun angka pastinya belum tersedia pada saat ini. Sementara jumlah UPZ, baik di dalam maupun di luar negeri, saat ini telah mencapai 66 institusi. Di beberapa daerah, Badan Amil Zakat bahkan membentuk Unit Salur Zakat (USZ) khusus untuk mengelola dana zakat tersebut. Jumlah dan jaringan ini juga terus mengalami peningkatan setiap tahun seiring dengan semakin besarnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk membayar ZISWAF.
98
Kecenderungan yang sama juga terjadi dengan LAZ, berdasarkan informasi dari Forum Zakat, terdapat lebih dari 200 :AZ di seluruh pelosok Indonesia. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari LAZ yang bergabung dengan FoZ yang merupakan koordinator bagi Lembaga Amil Zakat nonpemerintah di tanah air. Hingga pertengahan tahun 2008, tercatat 34 LAZ yang menjadi anggota FoZ ditambah dengan 2 BAZ (BAZNAS dan BAZIS DKI Jakarta). Sebagian besar di antara mereka merupakan lembaga independen yang memang mengkhususkan diri untuk mengelola dana zakat masyarakat serta tidak memiliki afiliasi dengan institusi lain. Namun terdapat pula LAZ yang berafiliasi dengan lembaga sosial kemasyarakatan atau korporasi tertentu, seperti halnya LAZ Muhammadiyah, Baitul Mal Muammalat dan LAZ Garuda Indonesia.
Di tahun 2006, beberapa peristiwa penting terjadi dan mewarnai dunia perzakatan nasional dan internasional. Pada tanggal 13-15 Maret 2006, diadakan perhelatan zakat antarbangsa di Kuala Lumpur, Malaysia. Konferensi ini dihadiri tidak kurang dari 200 dari berbagai institusi pengelola zakat di Asia Tenggara dan melahirkan Dewan Zakat Asia Tenggara (DZAT). DZAT merupakan wadah berhimpun para tokoh dan pelaku zakat di Asia Tenggara yang bertujuan untuk menjadi rujukan dalam memutuskan seputar permasalahan zakat, baik dalam hal fiqh dan manajemen pengelolaan zakat, di tingkat regional.
Terbentuknya DZAT merupakan cermin kesadaran bersama untuk lebih meningkatkan optimalisasi pemanfaatan zakat agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Berdirinya DZAT ini sekaligus menjadi simbol bagi pentingnya dilakukan sinergi antarpengelola zakat di negara-negara muslim.
Terinspirasi oleh DZAT, di tanah air, sebuah gebrakan juga terjadi dalam dunia zakat Indonesia di tahun 2006 tersebut. BAZNAS yang merupakan ujung tombak pengumpulan
99
dana zakat oleh pemerintah, mengadakan sinergi dengan Dompet Dhuafa Republika yang merupakan LAZ terbesar saat ini. Namun setahun kemudian, karena berbagai faktor, sinergi ini tidak dilanjutkan. Menariknya, semenjak awal 2008 wacana penyatuan dan sinergi antara BAZ dan LAZ kembali mengemuka. Dalam wacana ini, Departemen Agama berpendapat bahwa sebaiknya LAZ disatukan ke dalam tubuh BAZNAS dan bertindak sebagai UPZ (Unit Pengumpul Zakat) saja, sedangkan fungsi penyaluran zakat dijalankan langsung oleh kantor pusat. Tujuannya adalah agar distribusi zakat dapat dilakukan secara merata. Akan tetapi, pihak pengelola LAZ merasa bahwa ide tersebut belum siap untuk menyatukan pengelolaan zakat secara nasional. Ide tersebut sebaiknya dilakukan apabila pemerintah telah membentuk kementerian zakat dan wakaf sendiri. Selain itu, diharapkan sistem pengelolaan yang diterapkan pemerintah di masa yang akan datang adalah sistem koordinatif dan bukan komando. Saat ini, wacana ini masih terus berkembang dalam bentuk yang lebih formal yakni usulan Amandemen UU Pengelolaan Zakat oleh pemerintah dan berbagai unsur masyarakat di tanah air.