AMIL DAN KODE ETIK AMIL
A. Kode Etik Amil Zakat Indonesia
1. Prinsip Etika Profesi
Amil zakat merupakan profesi yang diakui dalam Al-Qur’an pada surat AT-Taubah (9) ayat 60, yang artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai sesuatu ketetapan yang dijawabkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. Seorang Amil Zakat mempunyai kewajiban untuk menjaga disipin dan amanah melebihi yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan hukum positif.
Prinsip Etika Profesional dalam Kode Etik Profesi Amil Zakat Indonesia menyaratkan pengakuan profesi akan tanggung jawabnya kepada publik, yaitu muzzaki/ donatur, mustahik, mitra kerja dan masyarakat luas. Prinsip ini memandu Amil Zakat dalam memenuhi tanggungjawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini menuntut komitmen amil untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan mengorbankan kepentingan pribadi maupun golongan.
Prinsip Pertama: Tanggung Jawab Profesional
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang profesional, setiapAmil Zakat harus senantiasa menggunakan pertimbangan syari’ah, moral, dan professional dalam semua kegiatan yang dilakukan. Sebagai profesional, Amil Zakat mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, amil mempunyai tanggung jawab
105
kepada semua stakeholder. Amil Zakat juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerjasama dengan sesame Amil zakat untuk mengembangkan profesi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur diri dan lembaganya sendiri. Usaha kolektif semua Amil Zakat diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
Profesi Amil Zakat dapat tetap berada pada posisinya dengan terus menerus memberikan pelayanan pada tingkat yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dipegang teguh. Dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya, Amil Zakat mungkin mengadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.
Dalam mengatasi benturan ini, Amil Zakat harus bertindak dengan penuh integritas, dengan suatu keyakinan bahwa jika Amil Zakat memenuhi kewajibannya kepada publik maka kepentingan stakeholder, terutama muzzaki dan mustahik, akan terlayani sebaik-baiknya.
Prinsip Kedua: Kepentingan Publik
Setiap Amil Zakat berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menjaga kepercayaan publik dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi Amil Zakat memegang peranan penting di masyarakat, dimana public dari profesi Amil Zakat terdiri dari muzzaki, mitra kerja, pemerintah dan masyarakat secara umum bergantung kepada objektivitas dan integritas Amil Zakat dalam memelihara berjalannya fungsi pengelolaan dana masyarakat yang dilayani secara keseluruhan.
Ketergantugan ini menyebabkan programnya mempengaruhi kesejahteraan (ekonomi dan non-ekonomi) masyarakat dan negara.
106
Mereka yang memperoleh pelayan dari Amil Zakat mengarapkan Amil Zakat untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan amanah, integritas, objektivitas dan kepentingan untuk melayani publik. Amil Zakat diharapkan untuk memberikan pelayanan dan program yang berkualitasdengantingkatprofesionalisme yang konsistendenganPrinsipEtikaprofesiini.
Semua Amil Zakat mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan public kepadanya, Amil Zakat harus secara terus menerus menunjukkan dedikasinya untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Tanggung jawabAmil Zakat tidak semata-mata untuk memenuhi kepentingan muzzaki/ donator, tetapi juga harus mempertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada semua stakeholder lainnya (mustahik, mitra kerja, pemerintah dan masyarakat luas)
Prinsip Ketiga: Integritas
Untuk memelihara dan meningkatakan kepercayaan publik, setiap Amil Zakat harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Integritas adalah suatau elemen karakter yang mendasar timbulnya pengakuan profesional. Integritas mengharuskan soerang amil Zakat untuk antara lain, bersikap jujur dan obyektif tanpa harus mengorbankan rahasia muzzaki/ donator atau mustahik. Pelayanan dan kepercayaan public tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi. Integritas dapat menerima perbedaan pendapat yang jujur dan kesalahan yang tidak disengaja, tetapi tidak dapat menerima kecurangan dan peniadaan prinsip.
Prinsip Keempat: Netral dan Obyektif
Setiap Amil zakat harus menjaga netralitas dan obyektivitas sehingga bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Netralitas dan obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan amil.
107
Prinsip netralitas dan obyektivitas mengharuskan amil bersikap adil, tidak memihak, jujur, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. amil bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan netralitas dan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi.
Prinsip Kelima: Kompetensi dan Kehati-hatian
Setiap amil harus melaksanakan tugas profesionalnya dengan kehati-hatian syari’ah, kehati-hatian profesional, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan professional pada tingkat yang diperlukan.
Prinsip Keenam: Kerahasiaan
Setiap Amil harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan pelayanan/ jasa professional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila adalah dan kewajiban professional atau hokum untuk mengungkapkannya
Prinsip Ketujuh: Perilaku Profesional
Setiap amil harus berprilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawab kepada muzzaki, mustahik, mitra, sesame amil, dan masyarakat pada umumnya.
Prinsip etika profesi merupakan prinsip panduan amil zakat dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini menuntut komitmen amil untuk berperilaku terhormat, bahkan
108
dengan mengorbankan kepentingan pribadi maupun golongan. Terdiri dari 7 (tujuh) prinsip utama, yaitu:
a. Prinsip tanggung jawab profesi b. Prinsip kepentingan publik c. Prinsip integritas
d. Prinsip netral dan objektif
e. Prinsip kompetensi dan kehati-hatian f. Prinsip kerahasiaan
g. Prinsip perilaku profesional