BAB I PENDAHULUAN
C. Pernikahan beda agama
Pergaulan manusia saat ini semakin luas, tidak dapat dihindari yang namanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Masalah muncul, apakah hukumnya sah perkawinan muslim dengan non muslim?
Peristiwa di atas menyangkut perkawinan antar agama yang dapat meliputi: perkawinan orang beragama Islam (pria/wanita) dengan orang beragama non Islam (pria/wanita). Perkawinan antar agama yang dimaksud ini dapat terjadi antara:
1. Calon isteri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam, baik ahl al-kita>b maupun musyrik.
2. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam, baik ahl al-kita>b maupun musyrik.39
Akibat hukum dari perkawinan antar agama adalah apabila perkawinan antar agama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun ahl al-kita>b, maka para ulama Imamiyah sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya
38 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, 135
39 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam , (Jakarta: Haji Masagung, 1994), 4.
sepakat bahwa wanita muslimah tidak boleh kawin dengan laki-laki non muslim meskipun ahl al-kita>b.40 Hal ini berarti apabila perkawinan antar agama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun ahl al-kita>b, maka ulama fiqh sepakat hukumnya tidak sah.41 Selanjutnya apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan perempuan yang tergolong ahl al-kita>b, terdapat beberapa pendapat antar ulama fiqih
1. Abdullah ibnu Umar melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan perempuan ahl al-kita>b, Sebab menurutnya Allah Swt. Telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak mengetahui kemusyrikan yang lebih besar daripada kemusyrikan seseorang yang menyatakan bahwa Tuhannya adalah Nabi Isa As.
Sesungguhnya Isa hanyalah seorang hamba Allah.42
2. Jumhur ulama fiqh membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahl al-kita>b. Argumen mereka adalah, penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam surat al Ma’idah ayat 5, pendapat Sayyid Sabiq, ahli fiqh Mesir menjelaskan bahwa walaupun boleh seorang laki- laki beragama Islam mengawini wanita ahl al-kita>b namun hukumnya makruh.43 Sekalipun jumhur ulama fiqh sepakat tentang kebolehan seorang laki-laki beragama Islam mengawini wanita ahl al-kita>b, namun
40 Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj. Masykur AB, et al,
‚Fiqih Lima Mazhab‛, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000), 336
41 Abdul Aziz Dahlan, et al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid IV, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), 1409
42 Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah Juz II, 179
43 Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah Juz II, 179
mereka berbeda pendapat dalam menentukan wanita ahl al-kita>b itu sendiri.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama melalui fatwa yang dikeluarkan pada tanggal 29 Juli 2005 Nomor: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005, MUI Pusat mengharamkan semua bentuk pernikahan beda agama, termasuk pernikahan laki-laki Muslim dengan non muslim, walaupun dari kalangan ahl al-kita>b dan menganggap perkawinan tersebut tidak sah. Alasannya karena kerusakan (mafsadah) yang ditimbulkan dari pernikahan beda agama itu lebih besar daripada kebaikan (maslahah) yang didatangkannya, terutama bagi kaum Muslimin. Dalam hal ini, MUI mengambil kaidah fiqh mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) daripada menarik kemaslahatan.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, pasal 2, pernikahan diartikan sebagai akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidha untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah, pada pasal 3 perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.44 Tujuan perkawinan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, dapat terwujud, apabila didasari oleh rasa kepercayaan di antara (keduanya) suami isteri. Dalam perkawinan seringkali terjadi perselisihan, karena tidak adanya saling percaya. Hal ini berakibat adanya saling curiga, ketidaktenangan dan dapat menjadi saling menuduh yang tidak beralasan. Sehingga berujung pada perceraian.
44 Pasal 2 dan 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam Tim Permata Press. tt. Kompilasi Hukum Islam (KHI), 2
Sejalan dengan itu, bahwa langgengnya kehidupan dalam rumah tangga sangatlah didambakan oleh Islam, akad untuk selamanya sampai meninggal dunia, dengan demikian suami-isteri dapat merindukannya, merasakan nikmatnya kasih sayang dan ikatan perkawinan adalah merupakan ikatan paling suci dan paling kokoh.
Maulana Muhammad Ali dalam bukunya The Religion of Islam memaparkan bahwa dalam Al-Qur’an, perkawinan itu disebut mis\aq (perjanjian), yaitu perjanjian antara suami dan isteri. Firman Allah Swt
َفْيَكَو ُوَنوُذُخْأَت ْدَقَو
ىَضْفَأ ْمُكُضْعَ ب ىَلِإ
ٍضْعَ ب َنْذَخَأَو ْمُكْنِم
اًقاَثيِم ِلَغ اًظي
( ءاسنلا : 02 )
Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-isteri). Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. (Q.S. An-Nisaa: 21).45
Ikatan perkawinan (akad nikah) dilakukan dengan menyatakan persetujuan oleh kedua belah pihak, pihak suami dan pihak isteri, dihadapan saksi-saksi dan inilah satu-satunya yang paling penting. Menurut jumhur ulama, rukun pernikahan ada lima dan masing-masing rukun itu memiliki syarat-syarat tertentu.46
Hukum Islam yang ditempatkan UU Perkawinan sebagai dasar keabsahan perkawinan bagi umat Islam memunculkan ketentuan yang berbeda mengenai perkawinan beda agama antara pria muslim dan wanita ahl
45 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, 81
46 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), 71
al-kita>b. Al-Qur’an membolehkannya, sementara Kompilasi Hukum Islam melarangnya. 47
Ibnu Mundzir berkata: tidak ada keterangan dari seorang pendahulu pun yang mengharamkan jenis pernikahan ini. Ibnu umar pernah ditanya seseorang tentang hukum nikah seorang laki-laki dengan wanita nasrani atau Yahudi, maka dijawab: Allah mengharamkan menikahi wanita musyrik untuk orang mu’min, serta belum pernah diketahui sedikitpun tentang paling besarnya larangan seorang wanita yang Tuhannya sama dengan nabi Isa, atau merupakan seorang hamba, dari hamba-hamba Allah.48
Imam Qurtubi meriwayatkan dari Nahha>s: pendapat ini membedai dari pendapat sekolompok orang yang mendasari pada hujjah. Karena sesungguhnya telah dibolehkan menikahi perempuan ahl al-kita>b, serta telah dikerjakan oleh beberapa sahabat, diantara mereka adala Ustman, Tolhah, Ibnu Abbas, Ja>bir, Hudaifah. Dan diantara tabi’in Said bin Musayyab, Said bin Jubair, Hasan, Mujahid, Towwas, Ikrimah, asy-Sya’bi, Dohhak.
Dari beberapa dalil al-Qur’an yang telah menjelaskan tentang pernikahan beda agama, tidak ada satupun yang bertentangan, karena lafadz
‚
كرشلا
‛ tidak mencakup ahl al-kita>b juga, sehingga sangat jelas perbedaan antara musyrik dengan ahl al-kita>b.49 Sesuai firman Allah:( ُةَنِّ يَ بْلا ُمُهَ يِتْأَت ىَّتَح َنيِّكَفْ نُم َنيِكِرْشُمْلاَو ِباَتِكْلا ِلْىَأ ْنِم اوُرَفَك َنيِذَّلا ِنُكَي ْمَل ةنيبلا
: 2 )
47 Anshori, Hukum Perkawinan Islam, 218
48 Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah Juz II, 504
49 Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah Juz II, 504
Orang-orang yang kafir dari golonga ahl al-kita>b dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata (QS al-Bayyinah: 1)50
Akan tetapi, jenis pernikahan ini meskipun dibolehkan namun beberapa ulama’ memakruhkan untuk melakukan pernikahan jenis ini, karena ditakutkan akan terikut agamanya kepada agama istrinya. Apabila perempuan itu merupakan kafir harbi51 lebih dimakruhkan, karena potensinya kafir harbi lebih banyak diperangi, selain itu sebagian ulama’ juga mengharamkan menikahi kafir harbi. Sehingga secara tidak langsung yang diperbolehkan adalah menikahi kafir dzimmi52.
Hikmah dibolehkannya menikahi ahl al-kita>b adalah untuk tetap menyambungkan hubungan persaudaraan antara ahl al-kita>b dengan Islam.
Karena dalam pernikahan adanya pergaulan, pertemuan, mendekatkan antar keluarga, sehingga bisa saling belajar isi Islam, serta mengetahui hakikat, dasar, dan percontohan agama Islam. Hal itu semua merupakan rahasia dari beberapa rahasia kedekatan antar muslim dengan ahl al-kita>b. Menjadi petunjuk menuju agama yang benar. Bagi setiap orang yang berkehendak menikahi ahl al-kita>b, hendaklah menjadi tujuan utama. 53
50 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, 598
51 Seorang kafir yang tidak bermukim di negera Islam,
52 Seorang kafir yang bermukim di negara Islam dan tunduk pada aturan negara Islam.
53 Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah Juz II, 505
D. Dalil hukum tentang pernikahan beda agama