BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Perspektif Good Governance
8. Lingkungan:
a. Bersih
b. Lobby cukup c. Ruang tunggu d. Sejuk
e. Musik
dilihat dari apakah pemerintah telah berfungsi secara efesien dan efektif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah digariskan.
Good governance adalah cita-cita yang menjadi visi setiap penyelenggaraan negara di pelbagai belahan bumi, termasuk Indonesia.
Secara sederhana, good governace dapat diartikan sebagai prinsip dalam mengatur pemerintahan yang memungkinkan layanan publiknya efesien, sistem pengadilannya bisa diandalkan, dan administrasinya bertanggungjawab pada publik (Mas’oed, 2003:150).
Pada dasarnya good governance adalah penyelenggaraan pemerintah negara yang solid dan bertanggungjawab, serta efisien dan efektif, dengan menjaga kesinergian interaksi yang konstruktif di antara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat. Negara (peme- rintah) memegang peranan penting dalam mewujudkan governance karena fungsi pengaturan yang memfasilitasi sektor swasta dan masya- rakat, serta fungsi penyelenggaraan pemerintahan melekat padanya (Modul Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, 2004: 5).
Sedangkan Lembaga Administrasi Negara (2004:10) mengartikan governance sebagai proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public goods dan services. Lebih lanjut ditegaskan bahwa apabila dilihat dari segi aspek fungsional, governance dapat ditinjau dari apakah pemerintah telah berfungsi secara efektif dan efisien dalam upaya mencapai tujuan yang telah digariskan atau sebaliknya.
Berkaitan dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan, UNDP dalam LAN (2008 a :54) mengemukakan bahwa Systemic governance encompasses the processes and structures of society that guide political and socio-economic relationships to protect cultural and religius beliefs and values and to create maintenance and environment of health, freedom, security and with the opportunity to exercise capabilities that lead to a better life for all people (Kepemerintahan yang sistemik meliputi proses dan struktur masyarakat yang membina hubungan politik dan sosial- ekonomi untuk melindungi budaya dan keyakinan religius dan nilai- nilai dan menciptakan pemeliharaan dan kesehatan lingkungan, kebebasan, keamanan, dan dengan kesempatan untuk melatih kapabilitas menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik).
Unsur utama (domains) yang dilibatkan dalam penyelenggaraan pemerintahan (governance) menurut UNDP terdiri atas tiga komponen yakni :
1. The state (negara) pada masa yang akan datang mempunyai tugas penting yakni menciptakan lingkungan politik (political environment) guna mewujudkan pembangunan manusia yang berkelanjutan (sustainable human development) sekaligus meredefinisi peran pemerintah dalam integrasi sosial ekonomi, melindungi lingkungan, kemiskinan, menyediakan infrastruktur, desentralisasi dan demokratisasi pemerintah, memperkuat finansial dan kapasitas administrasi pemerintah daerah. Di samping itu, pemerintah juga perlu
memberdayakan rakyat (empowering the people) yang menghendaki pemberian layanan, penyediaan kesempatan yang sama secara ekonomi dan politik. Pemberdayaan tersebut akan terwujud apabila diciptakan suatu lingkungan yang kondusif dengan sistem dan fungsi yang berjalan sesuai dengan peraturan yang jelas.
2. The private sector (sektor swasta) akan memiliki peranan penting karena lebih berorientasi pada pendekatan pasar (market approach) dalam pembangunan ekonomi dan berkaitan dengan penciptaan kondisi di mana produksi barang dan jasa (good and services) dalam lingkungan yang kondusif untuk melakukan aktivitasnya dengan lingkup kerja “incentives and rewards” secara ekonomi bagi individu dan organisasi yang memiliki kinerja baik.
3. The civil society organizations (organisasi masyarakat sipil) merupakan wadah yang memfasilitasi interaksi sosial dan politik yang dapat memobilisasi pelbagai kelompok di dalam masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas sosial, ekonomi dan politik sekaligus melakukan check and balances terhadap kekuasaan pemerintah dan memberikan kontribusi yang memperkuat unsur (komponen) lainnya. Civil society juga merupakan penyalur partisipasi masyarakat dalam aktivitas sosial dan ekonomi kemudian mengorganisir mereka ke dalam suatu kelompok yang lebih potensial dalam memonitor lingkungan, kelangkaan akan sumber daya (resources depletion), polusi dan kekejaman sosial lalu memberikan kontribusi terhadap pembangunan
melalui destribusi manfaat yang merata dalam masyarakat dan menciptakan kesempatan baru bagi setiap individu guna memperbaiki
`standar hidup mereka. Hal terpenting lainnya adalah harapan yang akan memengaruhi penerapan kebijakan publik, serta sebagai sarana yang melindungi (protecting) dan memperkuat (strengthening) kultur, keyakinan agama dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Oleh karena itu, institusi dari governance meliputi tiga domain, yaitu state (negara atau pemerintah), private sector (sektor swasta atau dunia usaha, dan society (masyarakat), yang saling berinteraksi dan menjalankan fungsinya masing-masing. State berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif, private sector menciptakan pekerjaan dan pendapatan, sedangkan society berperan positif dalam interaksi sosial, ekonomi dan politik, termasuk mengajak kelompok dalam masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik. Hubungan ketiga komponen tersebut dalam penyelenggaraan pemerintahan (governance) dapat digambarkan :
Gambar 1:
Hubungan antarstakeholders
dalam Penyelenggaraan Pemerintahan
Sumber : Lembaga Administrasi Negara, 2008
State Private
Sector Society
Ketiga domain dalam governance, tampaknya domain state menjadi domain yang paling memegang peranan penting dalam mewujudkan good governance, karena fungsi pengaturan yang memfasilitasi domain sektor dunia usaha swasta dan masyarakat (society), serta fungsi administratif penyelenggaraan pemerintahan melekat pada domain ini. Peran pemerintah melakukan kebijakan- kebijakan publiknya sangat penting dalam memfasilitasi terjadinya mekanisme pasar yang benar, sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pasar dapat dihindari. Oleh karena itu, upaya-upaya perwujudan ke arah good governance dapat dimulai dengan membangun landasan demokratisasi penyelenggaraan negara dan bersamaan dengan itu dilakukan upaya pembenahan penyelenggara pemerintahan sehingga dapat terwujud good government.
Pada hakikatnya, penyelenggaraan pemerintahan ditujukan kepada terciptanya fungsi pelayanan publik (public service). Pemerintah yang baik cenderung menciptakan terselenggaranya fungsi pelayanan publik dan baik pula. Sebaliknya pemerintahan yang buruk mengakibatkan fungsi pelayanan publik tidak akan dapat terselenggara dengan baik. Dalam penyelenggarahan pemerintahan telah terjadi pergeseran paradigma dari paradigma rule goverment menjadi good governance. Dalam paradigma rule goverment penyelenggaraan pemeritahan, pembangunan dan pelayanan publik senantiasa menyadarkan pada peraturan perundang- undangan yang berlaku. Sementara itu, prinsip kepemerintahan yang baik
(good governance) tidak hanya terbatas pada penggunaan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melainkan dikembangkan dengan penerapan prinsip penyelengaraan pemerintahan yang baik yang tidak hanya melibatkan pemerintah atau negara (state) semata, tetapi harus melibatkan internal birokrasi maupun eksternal birokrasi.
Dalam penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, UNDP dalam LAN (2004: 20) mengidentifikasi adanya lima karakteristik, yaitu: (1) interaction (interaksi), melibatkan tiga mitra besar: pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat madani, untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya ekonomi, sosial, dan politik. (2) Communication (komunikasi), yang didalamnya terdapat beragam sistem jejaring dalam proses pengelolaan dan kontribusi terhadap kualitas hasil. (3) Self- enforcing process (proses penguatan sendiri), sistem pengelolaan mandiri dalah kunci keberadaan dan kelangsungan keteraturan dari pelbagai situasi kekacauan yang disebabkan oleh dinamika dan perubahan lingkungan, memberikan kontribusi terhadap partisipasi dan menggalakkan kemandirian masyarakat, dan memberikan kesempatan kreativitas dan stabilitas untuk pelbagai aspek kepemerintahan yang baik.
(4) Dynamic (dinamis), keseimbangan berbagi unsur kekuatan yang kompleks yang membuahkan persatuan, harmoni dan kerjasama untuk pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan, kedamaian dan keadilan, dan kesempatan merata untuk semua sektor dalam masyarakat
madani. (5) Dynamic interdependence (saling ketergantungan yang dinamis), antara pemerintah, kekuatan pasar dan masyarakat madani.
Sektor negara sebagai salah satu komponen kepemerintahan yang baik, terkait erat dengan tugas pokok dan fungsi lembaga penyelenggaraan kekuasaan, baik eksekutif, legeslatif, maupun yudikatif, dan menjadi domain yang terpenting dalam upaya mewujudkan kepemerintahan yang baik. Eksekutif (pemerintah) dituntut untuk menyelenggarakan kepemerintahan yang baik, antara lain dalam rangka menjadikan kesetaraan antara negara dan masyarakat. Kesetaraan inilah yang memfasilitasi terbentuknya masyarakat madani (civil society).
Ghambir Bhatta (dalam Sedarmayanti, 2009:7) mengungkapkan bahwa unsur-unsur utama governance, yaitu akuntabilitas (accountability), transparansi (transparancy), keterbukaan (opennes), dan aturan hukum (rule of law) ditambah dengan kompetensi manajemen (management comptence) dan hak-hak azasi manusia (human right).
Selanjutnya dikemukakan adanya empat unsur utama yang dapat memberikan gambaran suatu administrasi publik yang bercirikan good governance sebagai berikut:
1. Akuntabilitas. Mengandung arti adanya kewajiban bagi aparatur pemerintah untuk bertindak selaku penanggung jawab dan penanggung gugat atas segala tindakan dan kebijakan yang dietapkannya. Unsur ini merupakan inti dari kepemerintahan yang baik (good governance)
2. Transparansi. Kepemerintahan yang baik akan bersifat transparan terhadap rakyatnya, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Rakyat secara pribadi dapat mengetahui secara jelas dan tanpa ada yang ditutupi dalam proses perumusan kebijakan publik dan tindakan pelaksanaannya. Dengan kata lain, segala tindakan dan kebijaksanaan pemerintah baik di pusat maupun di daerah harus selalu dilaksanakan secara terbuka dan diketahui umum.
3. Keterbukaan. Prinsip ini menghendaki terbukanya kesempatan bagi rakyat untuk mengajukan tanggapan dan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya tidak transparan. Kepemerintahan yang baik yang bersifat transparan dan terbuka akan memberikan informasi/data yang memadai bagi masyarakat sebagai bahan untuk melakukan penilaian atas jalannya pemerintahan.
4. Aturan hukum (rule of law). Prinsip ini mengandung arti bahwa kepemerintahan yang baik mempunyai karakteristik berupa jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarkat terhada setiap kebijakan publik yang ditempuh. Oleh karena itu, setiap kebijakan publik dan peraturan perundang-undangan yang harus selalu dirumuskan, ditetapkan dan dilaksanakan berdasarkan prosedur baku yang sudah melembaga dan diketahui oleh masyarakat umum, serta memiliki kesempatan untuk mengevaluasinya.
Sementara Bob Sugeng Hadiwinata (dalam Santosa, 2008:131) menyatakan asumsi dasar good governance haruslah menciptakan
sinergi antara sektor pemerintah (menyediakan perangkat aturan dan kebijakan), sektor bisnis (mengembangkan roda perekonomian, dan sektor civil society (aktivitas swadaya guna mengembangkan produktivitas ekonomi, efektivitas, dan efisiensi).
Syarat bagi terciptanya good governance, yang merupakan prinsip dasar meliputi partisipatoris, rule of law (penegakan hukum), transparansi, responsiveness (daya tanggap), konsensus, persamaan hak, efektivitas dan efisiensi, dan akuntabilitas. Prinsip-prinsip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Partisipatoris, setiap pembuatan peraturan dan/atau kebijakan selalu melibatkan unsur masyarakat.
2. Rule of law, harus ada perangkat hukum yang menindak para pelanggar, menjamin perlindungan HAM, tidak memihak, dan berlaku pada semua warga.
3. Transparansi, adanya ruang kebebasan untuk memperoleh informasi publik bagi warga yang membutuhkan (diatur dalam undang-undang).
Ada ketegasan antara rahasia negara dengan informasi yang terbuka untuk memperoleh informasi.
4. Responsivitas, lembaga publik harus mampu merespon kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan “basic needs” (kebutuhan dasar) dan HAM (hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak budaya).
5. Konsensus, jika ada perbedaan kepentingan yang mendasar di dalam masyarakat, penyelesaian harus mengutamakan cara dialog/musyawarah menjadi konsensus.
6. Persamaan hak, pemerintah harus menjamin bahwa semua pihak, tanpa terkecuali dilibatkan di dalam proses politik tanpa ada satu pihak pun yang dikesampingkan.
7. Efektivitas dan efisiensi, pemerintah harus efektif (absah) dan efisien dalam memproduksi output berupa aturan, kebijakan, pengelolaan keuangan negara dan lain-lain.
8. Akuntabilitas, suatu perwujudan kewajiban dari suatu instansi pemerintahan untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misinya.
Selanjutnya, UNDP dalam LAN (2008 a: 67) mengemukakan bahwa karakteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik penyelenggaraan keperintahan yang baik (good governance) adalah meliputi:
1. Partisipasi (participation): Setiap orang atau warga masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya masing-masing. Partisipasi yang luas ini perlu dibangun dalam suatu tatanan kebebasan berserikat dan berpendapat, dan kebebasan untuk berpartisipasi secara konstruktif;
2. Aturan hukum (rule of law): Kerangka aturan hukum dan perundang- undangan haruslah berkeadilan, ditegakkan dan dipatuhi secara utuh (impartially), terutama aturan hukum tentang hak-hak asasi manusia;
3. Transparansi (transparancy): Transaparansi harus dibangun dalam kerangka kebebasan aliran informasi. Pelbagai proses, kelembagaan, dan informasi harus dapat diakses secara bebas oleh mereka yang membutuhkannya, dan informasinya harus dapat disediakan secara memadai dan mudah dimengerti, sehingga dapat digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi;
4. Daya tanggap (responsiveness): Setiap institusi dan prosesnya harus diarahkan pada upaya untuk melayani pelbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders);
5. Berorientasi konsensus (consensus orientation): Pemerintahan yang baik (good governance) akan bertindak sebagai penengah (mediator) bagi pelbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai konsensus atau kesepakatan yang terbaik bagi kepentingan masing-masing pihak, dan jika dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap pelbagai kebijakan dan prosedur yang akan ditetapkan pemerintah;
6. Berkeadilan (equity): Pemerintahan yang baik akan memberikan kesempatan yang sama baik terhadap laki-laki maupun perempuan dalam upaya mereka untuk meningkatkan dan memelihara kualitas hidupnya;
7. Efektivitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency): Setiap proses kegiatan dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang sebaik-baiknya pelbagai sumber-sumber yang tersedia;
8. Akuntabilitas (accountability): Para pengambil keputusan (decision makers) dalam organisasi sektor publik (pemerintah), swasta, dan masyarakat madani memilki pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada publik (masyarakat umum), sebagaimana halnya kepada para pemilik (stakeholders). Pertanggungjawaban tersebut berbeda-beda, bergantung apakah jenis keputusan organisasi itu bersifat internal atau eksternal;
9. Bervisi strategis (strategic vision): Para pimpinan dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) dan pembangunan manusia (human development), bersamaan dengan dirasakannya kebutuhan untuk pembangunan tersebut. Mereka juga memahami aspek-aspek historis, kultural, dan kompleksitas sosial yang mendasari perspektif mereka;
10. Saling keterkaitan (Interrelated): Bahwa keseluruhan ciri good governance tersebut di atas adalah saling memperkuat dan saling terkait (mutually reinforcing) dan tidak bisa berdiri sendiri. Misalnya, informasi semakin mudah diakses berarti transparansi semakin baik, tingkat partisipasi akan semakin efektif. Partisipasi yang semakin luas
akan berkonstribusi kepada dua hal, yaitu terhadap pertukaran informasi yang diperlukan bagi pengambilan keputusan, dan untuk memperkuat keabsahan atau legistimasi atas pelbagai keputusan yang ditetapkan. Tingkat legitimasi keputusan yang kuat pada gilirannya akan mendorong efektivitas pelaksanaannya, dan sekaligus mendorong peningkatan partisipasi dalam pelaksanaannya.
Kelembagaan yang responsif haruslah trasnparan dan berfungsi sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku agar keberfungsiannya itu dapat dinilai berkeadilan.
Dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (Tjokroamidjoyo dalam Modul LAN, 2004:21) mengemukakan good governance, khususnya dalam kata “good” (baik), berintegritas dari pelaksanaan governance itu apabila governance baik dalam pemerintahan, badan usaha, maupun kegiatan organisasi masyarakat dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Accountability (akuntabilitas), merupakan tanggung gugat dari pengurusan/penyelenggaraan, dari governance yang dilakukan.
Akuntabilitas adalah prinsip utama good governance.
2. Transparancy (transparansi), yaitu dapat diketahui oleh banyak pihak yang berkepentingan mengenai perumusan kebijakan (politik) dari pemerintah, organisasi, maupun badan usaha. Good governance tidak membolehkan cara-cara manajemen tertutup.
3. Openess (keterbukaan), yaitu pemberian informasi secara terbuka, untuk open free suggestion, dan terbuka terhadap krtitik yang dilihat sebagai partisipasi untuk perbaikan.
4. Rule of law (aturan hukum), yaitu keputusan dan kebijakan pemerintah, organisasi, badan usaha yang menyangkut masyarakat dan pihak ketiga, dilakukan berdasarkan hukum (peraturan yang sah). Jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap kebijakan publik yang ditempuh, juga dalam social economic transaction (transaksi sosial ekonomi).
5. Fairness (jaminan keadilan), A level of playing (perlakuan yang adil/kesetaraan) ini berlaku bagi pemerintah kepada masyarakat dalam pelayanan publik, perusahaan kepada pelanggan, dan lain sebagainya.
Dalam konteks penelitian ini, beberapa teori dari Bob Sugeng Hadiwinata, Tjokroamidjoyo, UNDP, LAN, Gambir Bhatta tentang prinsip-prinsip good governance yaitu: partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan responsivitas.yang dijadikan acuan dalam penelitian ini.