REKONSTRUKSI PENGATURAN FUNGSI DEWAN PERWAKILAN DAERAH
3. DI BIDANG PERTIMBANGAN
5.3 Pertimbangan dalam Pembahasan Bersama DPR dan Pemerintah
1. Memastikan terjadinya harmonisasi politik anggaran pemerintahan daerah dengan keputusan politik pemerintah pusat;
2. Memastikan penerbitan Peraturan Menteri Keuangan tentang petunjuk teknis DAK yang masa berlakunya multiyears dan fleksibel sesuai dengan mekanisme pengelolaan keuangan daerah;
3. Memastikan perlunya DAK pendidikan turut menyertakan anggaran sertifikasi dan penajaman pelatihan kompetensi (training fund) tenaga kerja; dan 4. Memastikan perlunya DAK “usulan daerah” tidak hanya
dalam bidang kemaritiman, tetapi juga konektivitas wilayah daratan yang menghubungkan antarpulau, antarprovinsi, dan antarkota kabupaten.
j. DPD RI berpandangan bahwa kinerja pemerintah pusat dan pemerintah daerah masih diwarnai isu tindak pidana korupsi yang menghambat percepatan pembangunan daerah yang disikapi secara hati-hati oleh pejabat pengelola anggaran, dan pejabat pengadaan barang dan jasa sehingga menciptakan situasi ketidakpastian mekanisme dan prosedur dalam pengadaan barang dan jasa
Pertimbangan DPD RI terhadap RUU Pertanggungjawaban Atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2014 telah disahkan pada Sidang Paripurna DPD RI ke-13 tanggal 9 Juli 2015 dan diserahkan ke DPR tanggal 9 Juli 2015.
5.3 Pertimbangan dalam Pembahasan Bersama DPR dan Pemerintah
Pada tahun sidang 2014-2015, DPD telah menyampaikan beberapa pandangan dan pendapat serta ikut dalam pembahasan RUU bersama DPR dan Pemerintah pada tingkat pertama yang terdiri dari Rapat Panitia Kerja (Panja), Rapat Tim Perumus (Timmus), dan Rapat Tim Sinkronisasi (Timsin). Adapun hasil pembahasan bersama tersebut terdiri dari:
(1) Pembahasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur,
Bab VI: Rekonstruksi Pengaturan Fungsi Dewan Perwakilan Daerah
Bupati, dan Walikota, Dan Perppu Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Sebagaimana perkembangan ketatanegaraan pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang mengatur pemilihan kepala daerah melalui DPRD, maka Pemerintah telah mengesahkan Perppu No. 1 Tahun 2014 yang mengatur kembali pemilihan kepala daerah secara langsung.
Konsekuensi terhadap terbitnya Perppu ini juga menyebabkan berubahnya beberapa peraturan dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Oleh karenanya Pemerintah juga mengesahkan Perppu No. 2 tentang Perubahan UU Pemerintahan Daerah.
DPD RI telah melakukan pembahasan bersama dengan Komisi II DPR dan Pemerintah yang pada prinsipnya meskipun alasan terbitnya Perppu berdasarkan kegentingan yang memaksa masih debatebel, namun mengingat urgensinya keberadaan Perppu tersebut untuk menghindari terjadinya kekosongan hukum dan memperhatikan penolakan masyarakat terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pilkada sangat tinggi, maka Pemerintah dan DPR serta DPD sepakat menyetujui Perppu disahkan menjadi UU, dengan catatan segera dilakukan revisi.
Pembahasan Perppu No. 1 dan Perppu No. 2 Tahun 2014 di Komisi II DPR RI dilakukan oleh Ketua Komite I (H. Akhmad Muqowam) dan Intsiawati Ayus.
(2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang dan RUU tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 2 Tahun2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Sesuai dengan kesepakatan bersama, DPR RI telah mengusulkan RUU terhadap Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (RUU Pilkada).
Rangkaian pembahasan terhadap RUU Pilkada dilakukan secara marathon dalam kurun waktu 11 s.d. 16 Februari 2015 dengan 12 pokok bahasan krusial yaitu:
a. Terkait dengan pemilihan secara berpasangan atau tidak berpasangan (paket atau non paket);
Rekonstruksi Pengaturan Fungsi dan Wewenang DPD di Indonesia
b. Terkait dengan uji publik sebagai salah satu tahapan penyelenggaraan Pilkada;
c. Penguatan pendelegasian tugas penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu);
d. Persyaratan usia calon kepala daerah (terkait dengan pendidikan dan persyaratan usia);
e. Persentase syarat dukungan penduduk;
f. Penentuan pemenang dalam Pilkada;
g. Kedudukan dan jumlah wakil kepala daerah;
h. Time frame/pelaksanaan Pilkada serentak;
i. Penjabat kepala daerah (Pit);
j. Tambahan pengaturan persyaratan calon kepala daerah;
k. Penyelesaian sengketa hasil Pilkada;
l. Dana penyelenggaraan Pilkada.
Sedangkan dalam pembahasan RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Normor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terdapat 5 pokok-pokok bahasan krusial diantaranya:
a. Terkait dengan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. DPD RI mengapresiasi telah diputuskan/sepakat dengan Kepala Daerah dalam menjalankan tugasnya di bantu seorang Wakil Kepala Daerah.
b. Tugas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diatur lebih jelas secara detail sebagai penyempurnaan UU No. 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
c. DPD RI mengapresiasi atas dimasukkannya substansi Pakta Integritas bagi syarat Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah agar Kepala Daerah terpilih dalam menjalankan tugasnya dapat membangun pemerintahan yang efektif dan efisien sesuai dengan komitmen yang tertuang dalam Pakta Integritas.
d. Mengingat Pilkada Serentak Gelombang I sebanyak 272, DPD RI mendorong agar Pemerintah berhati-hati dalam menentukan Penjabat Pemerintah dengan memperhatikan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
e. Pelaksanaan Pilkada Langsung yang telah dimulai pada tahun 2005 secara umum menghasilkan kebaikan dan kekurangan.
Bab VI: Rekonstruksi Pengaturan Fungsi Dewan Perwakilan Daerah
DPD RI mendorong Pemerintah agar memperhatikan terhadap pevaluasi pelaksanaan pilkada paling tidak 6 (enam) tahun terakhir.
Melalui pembahasan yang cukup melelahkan, maka pada tanggal 16 Februari 2015 telah diambil kesepakatan Tingkat I antara Komisi II DPR, Pemerintah, dan Komite I DPD terhadap RUU Pilkada dan RUU Pemda yang telah disahkan dalam Sidang Paripuma DPR RI tanggal 17 Februari 2015.
Pembahasan RUU Pilkada di Komisi II dilakukan oleh Anggota Komite I DPD yaitu: H. Akhmad Muqowam (Ketua Komite I), Benny Rhamdani (Wakil Ketua Komite I), Ahmad Kanedi (Anggota Komite I), dan Letjen. Purn. Nono Sampono (Anggota Komite I).
6.3 Analisis Rekonstruksi Fungsi DPD di bidang