• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Sumber Data

Dalam dokumen 2021 SUCHITRA PERMATASARY 4515060045.pdf (Halaman 61-73)

BAB III METODE PENELITIAN

3.2 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yuridis normatif yaitu penelitian yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori, konsep, asas, serta peraturan perundang undangan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Data Primer, yaitu data yang berupa sejumlah keterangan atau fakta yang secara langsung dalam hal ini wawancara yang diperoleh dari pihak yang terkait yaitu hakim.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil kajian pustaka, yakni buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen, serta bahan atau sumber lain yang menjadi faktor penunjang dalam penelitian ini.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu sebagai berikut:

a. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan dengan cara menginventarisasikan dan mengutip buku-buku literatur ilmu hukum, serta karangan-karangan ilmiah dan catatan- catatan kuliah yang ada kaitannya.

b. Studi Lapangan

Penelitian lapangan ini bertujuan untuk memperoleh data langsung. Studi lapangan ini dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

a) Dokumentasi, yaitu cara mendapatkan data yang sudah ada dan di dokumetasikan pada instansi yang terkait.

b) Wawacara, yakni penulis melakukan Tanya jawab langsung kepada pihak responde dalam hal ini pihak yang terkait, yaitu hakim.

3.4 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya akan dikumpulkan dan di analisis secara kualitatif yaitu analisis yang menguraikan isi serta akan dibahas dalam bentuk penjabaran dengan memberi makna sesuai perundang-undangan yang berlaku sehigga tiba pada kesimpulan yang berdasarkan dengan penelitian ini.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Pertanggungjawaban Pelaku Penyalahgunaan Narkotika dalam Perkara Penyalahgunaan Narkotika Putusan No. 1691/Pid.Sus/2018/PN.Mks.

1. Posisi Kasus

Awal mulanya kejadian terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa pada hari kamis tanggal 19 Juli 2018 sekitar jam 12.00 WITA yang saat itu sedang berada di rumah di datangi oleh Ulla yang mengatakan bahwa terdakwa ditunggu oleh Mas Jo di Ujung Lorong. Kemudian terdakwa menemui Mas Jo dan Mas Jo kemudian menyuruh terdakwa mengantar barang sambil menyerahkan 1 bungkus rokok Surya Pro berisi 3 sachet plastic bening berukuran sedang berisikan kristal bening yang diduga shabu terlakban hitam.

Terdakwa kemudian menanyakan kemana barang ini akan diantar dan Mas Jo mengatakan di depan di pinggir jalan. Terdakwa kemudian bertanya lagi mana orangnya yang kemudian dijawab oleh Mas Jo orangnya ada di luar memakai jaket merah. Kemudian Mas Jo berpesan agar barangnya disimpan dulu lalu kemudian uangnya diambil dan dihitung sebesar Rp. 3.300.000,-.

Selanjutnya terdakwa dengan membawa 1 bungkus rokok Surya Pro berlakban hitam yang berisi 3 sachet plastic bening diduga shabu. Terdakwa berdiri di pinggir jalan M. Tahir Kel. Jongaya Kec. Tamalate, Kota Makassar tidak lama terdakwa dihampiri oleh seorang laki-laki yang menanyakan barangnya kemudian terdakwa berkata mana uangnya dulu. Lelaki tersebut berkata barangnya dulu siapa tahu palsu. Terdakwa kemudian menunjukkan 1 bungkus rokok Surya Pro

yang terlakban hitam. Selanjutnya lelaki tersebut mengambil bungkusan itu dan membukanya. Lelaki tersebut yang merupakan petugas kepolisian kemudian memegang tangan terdakwa dan tidak lama beberapa petugas kepolisian lainnya datang. Selanjutnya terdakwa dan barang bukti diserahkan ke Ditresnarkoba Polda Sulsel. Barang Bukti Narkotika Babkrim N0. 2748/NNF/VII/2018 tanggal 25 Juli 2018 menyimpulkan bahwa barang bukti yang diperiksa milik Terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joe adalah benar 3 sachet plastic berisikan Kristal bening dengan berat netto 2, 1925 gram positif mengandung metafetamina terdaftar dalam Golongan I nomor urut 61 Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 7 tahun 2018 tentang perubahan penggolongan narkotika di dalam lampiran UURI No. 35 Tahun 2009.

2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Berdasarkan posisi kasus diatas, jaksa penuntut umum, mendakwa kepada pelaku dengan dakwaan alternatif yang terbukti melanggar Pasal 112 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yaitu setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman dipidana dengan pidana singkat empat tahun dan paling lama 12 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 800 juta dan paling banyak Rp. 8 miliar.

3. Tuntutan Penuntut Umum

Atas keterangan saksi-saksi di persidangan yang merupakan fakta hukum, Penuntut Umum menuntut terdakwa yang pada intinya mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan putusan yaitu:

1. Menyatakan terdakwa Ruslan alias Ullang Bin Daeng Joa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika, melanggar Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana dalam dakwaan Penuntut Umum.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berdasarkan pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan dikurangi selama terdakwa ditahan.

3. Menyatakan barang bukti berupa:

 3 (tiga) sachet plastic klip brisi Kristal bening jenis shabu didalam

pembungkus rokok surya pro dengan berat netto seluruhnya 2,1925 gram.

Dirampas untuk dimusnahkan

4. Menetapkan agar terdakwa membayar membayar biaya perkara Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).

4. Amar Putusan

Adapun amar putusan pengadilan negeri Makassar dalam perkara tindak pidana penyalahgunaan narkotika pada perkara Nomor:

1691/Pid.Sus/2018/PN.Mks terhadap terdakwa Ruslan alias Ullang Bin Daeng Joa seperti berikut:

1. Menyatakan terdakwa Ruslan alias Ullang Bin Daeng Joa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Memiliki atau menyimpan Narkotika Golongan I bukan tanaman”.

2. Menjatuhkan Pidana atas diri terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan 6 (enam) bulan penjara.

3. Menetapkan lamanya terdakwa berada dalam tahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

4. Menetapkan terdakwa tetap berada dalam tahanan.

5. Menetapkan barang bukti berupa:

 3 (tiga) sachet plastic klip berisi Kristal bening jenis shabu didalam pembungkus rokok surya pro dengan berat netto seluruhnya 2,1925 gram.

 Dirampas untuk dimusnahkan

6. Membebankan kepada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).

Berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan dari barang bukti dan beberapa pertimbangan-pertimbangan, maka hakim menyatakan terdakwa Ruslan alias Ullang Bin Daeng Joa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan menjatuhkan pidana penjara selama lima tahun dan denda sebesar sebesar Rp. 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan 6 (enam) bulan penjara.

5. Analisis Penulis

Berdasarkan putusan Nomor 1691/Pid.Sus/2018/PN.Mks. Menyatakan bahwa terdakwa Ruslan alias Ullang Bin Daeng Joa terbukti secara sah dan meyakinkan

bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan dijatuhkan pidana atas dirinya dengan pidana 5 (lima) tahun penjara.

A. Kemampuan bertanggungjawab

Didalam KUHP tidak ada ketentuan tentang arti kemampuan bertanggungjawab, kemampuan bertanggung jawab dalam hubungannya dengan sifat melawan hukum subjektif. Artinya untuk memiliki pertanggung jawaban pidana pada diri pembuat apabila keadaan jiwanya normal sehingga memiliki kesadaran atau keinsyafan bahwa perbuatan yang (akan) dilakukan itu perbuatan buruk, dilarang baik menurut hukum maupun masyarakat. Bagi orang pada umumnya (normal) tentu memahami atau mengerti sifat celaan sehingga ia mampu menghindarinya. Bila dengan kemampuan itu ia masih melakukan perbuatan yang disadarinya buruk, ia dipersalahkan atas perbuatannya itu dan ia harus bertanggung jawab dan bentuk tanggung jawabnya adalah ia dipidana.

Perbuatan pidana dapat dipertanggungjawabkan jika telah memenuhi unsur- unsur tindak pidana. Pertanggungjawaban dapat terjadi jika sebelumnya seseorang telah melakukan kesalahan dalam suatu tindak pidana. Ada dua syarat yang perlu dipenuhi untuk dapat memidanakan seseorang adalah perbuatan yang dilarang atau perbuatan pidana dan sikap batin. Seseorang tidak dapat dijatuhi pidana atau mempertanggungjawabkan perbuatan pidana yang telah dilakukan jika tidak melakukan perbuatan pidana.

Berdasarkan fakta yang diperoleh selama persidangan dan berdasarkan berita acara pemeriksaan yang menyatakan bahwa Terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa dalam menyampaikan keterangannya di pengadilan maupun saat

melakukan tindak pidana, terdakwa melakukannya dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani serta sadar akan dampak dari tindakannya. Tidak ditemukan adanya alasan pembenar, alasan pemaaf, dan hal-hal yang menjadi alasan penghapusan penuntutan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Makassar yang menangani dan memutus kasus ini yakni bapak Riyanto Aloysius, S.H, bahwa pertanggungjawaban pidana pelaku penyalahgunaan narkotika tidak dilakukan hanya dengan cara pembuktian oleh hakim dan undang-undang yang berlaku saja, namun juga harus berpatokan dengan syarat pemidanaan yang terbagi atas tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana.”63

Syarat pemidanaan terbagi dua yaitu: tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Unsur tindak pidana yaitu perbuatan yang terdiri dari mencocoki rumusan delik, melawan hukum, dan tidak ada alasan pembenar. Sedangkan unsur pertanggungjawaban pidana yaitu pembuat yang terdiri dari mampu bertanggungjawab, adanya kesalahan, dan tidak ada alasan pemaaf. Penjatuhan pidana oleh hakim bersifat objektif dan subjektif. Objektivitas berdasarkan pemeriksaan dalam persidangan sedangkan subjektivitas berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh Hakim dalam menjatukan putusan pemidanaan. Penjatuhan pidana yang bersifat subjektivitas juga harus mengandung sifat objektivitas.

Di dalam pengadilan untuk memutus suatu perkara hakim harus melalui pembuktian. Alat bukti yang sah menurut undang-undang yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

63 Hasil Wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H, selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar. 13 Februari 2020

Berdasarkan hasil wawancara dengan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Makassar bapak Riyanto Aloysius, S.H, bahwa pertanggungjawaban pidana tidak lepas dari peranan hakim untuk membuktikan unsur-unsur pertanggungjawaban pidana itu sendiri karena apabila unsur-unsur tersebut tidak dapat dibuktikan maka seseorang tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban. Di tahun 2020 ini saja sudah ada beberapa kasus penyalahgunaan narkotika di kota Makassar belum lagi kasus penyalahguaan narkotika di daerah lain di Indonesia. Menurutnya sebagai hakim yang memutus, pertanggungjawaban pelaku penyalahgunaan narkotika itu sendiri apabila dinyatakan bersalah maka ia wajib menjalani isi putusan yaitu dengan dia menjalani pidananya. Dengan dia menjalani pidananya berarti dia sudah menjalankan tanggungjawabnya.64

Bentuk pertanggungjawaban pelaku adalah dengan ia menjalankan pidana yang dijatuhkan kepadanya. Karena dalam pertanggungjawaban pidana, beban pertanggungjawaban dibebankan kepada pelaku pelanggaran tindak pidana berkaitan dengan dasar untuk menjatuhkan sanksi pidana.

Bapak Riyanto Aloysius, S.H., selaku hakim Pengadilan Negeri Makassar menegaskan, yang dipertanggungjawabkan orang itu adalah tindak pidana yang telah dilakukannya. Terjadinya pertanggungjawaban pidana karena telah ada tindak pidana yang dilakukan seseorang. Kesalahan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk memidana seseorang. Tanpa itu pertanggungjawaban pidana

64 Hasil Wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H, selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar. 13 Februari 2020

tidak akan pernah ada. Makanya dalam hukum pidana dikenal asas “tiada pidana tanpa kesalahan”.65

B. Kesalahan

Berkenaan dengan unsur kesalahan yakni harus ada perbuatan pidana, berdasarkan fakta-fakta dipersidangan terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa telah terbukti melakukan perbuatan pidana dimana telah dipenuhinya unsur- unsur dalam pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yakni:

1. Unsur Setiap Orang

Bahwa yang dimaksud dengan setiap orang menunjukkan kepada pelaku tindak pidana yang merupakat subyek hukum sebagai pemegang hak dan kewajiban yang cakap serta mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum. Yang dimaksud setiap orang dalam perkara ini Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa yang identitasnya telah disebutkan dalam surat dakwaan dan telah dibenarkan oleh terdakwa dan diperkuat oleh keterangan saksi, alat bukti surat, barang bukti sehingga perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan.

2. Unsur tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika Golongan I

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi yang disumpah dan keterangan terdakwa sendiri maka diperoleh fakta bahwa benar pada pada tanggal 19 juli 2018 sekitar pukul 12.00 Wita saat terdakwa berada di rumah terdakwa di jalan M Tahir Kel Jongaya Kec Tamalate Kota Makassar

65 Hasil Wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H, selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar. 13 Februari 2020

didatangi oleh Ulla yang mengatakan bahwa terdakwa ditunggu oleh Mas Jo di ujung lorong. Kemudian terdakwa menemui Mas Jo saat itu mas jo mengatakan pada terdakwa untuk mengantarkan barang sambil menyerahkan 1 bungkus rokok Surya Pro berisikan 3 sachet plastic bening berukuran sedang berisikan Kristal bening diduga sabu terlakban hitam.

Terdakwa kemudian bertanya diantar kemana dan mas jo menjawab di depan di pinggir jalan. Terdakwa kemudian menanyakan mana orangnya dan dijawab oleh mas jo ada di luar pakai jaket merah simpan dulu barang itu baru kau ambil uangnya hitung. Terdakwa kemudian membawa bungkus rokok surya pro berlakban hitam tersebut dan berdiri di pinggir jalan M Tahir. Tidak lama terdakwa dihampiri oleh seorang laki-laki mengatakan mana barangnya dan terdakwa menajawab mana uangnya.

Lelaki tersebut meminta untuk menunjukkan barangnya dulu. Terdakwa kemudian menunjukkan 1 bungkus rokok surya pro tersebut. Selanjutnya lelaki tersebut mengambil bungkusan dan membukanya. Kemudian lelaki tersebut memegang tangan terdakwa dan barang bukti diserahkan ke ditresnarkoba Polda Sulsel.

C. Tidak ada alasan pemaaf

Alasan pemaaf menyangkut pertanggungjawaban seseorang terhadap suatu tindak pidana yang dilakukannya. Alasan ini menghapuskan kesalahan orang yang melakukan tindak pidana atas dasar beberapa hal yaitu:

1. Tidak dipertanggungjawabkan

2. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas

3. Daya paksa

Berdasarkan fakta dalam persidangan bahwa terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa telah terbukti bersalah melakukan perbuatan pidana yakni memiliki, menguasai narkotika jenis sabu tanpa dilengkapi ijin dari pihak yang berwenang. Serta perbuatan yang dilakukannya telah terbukti melawan hukum karena telah terpenuhinya unsur-unsur dalam Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, berdasarkan hal tersebut terdakwa tidak ditemukannya hal-hal yang dapat melepaskan terdakwa dari pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf. Oleh sebab itu terdakwa Ruslan alias Ullang bin Daeng Joa dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi dan fakta hukum dalam pengadilan serta berdasarkan pertimbangan hakim, maka majelis hakim memutus terdakwa dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan 6 (enam) bulan penjara.

Shabu-shabu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika mengandung metafetamina dan termasuk narkotika golongan I. Penyalahgunaan narkotika golongan I akan dijerat dengan pasal 111 sampai dengan pasal 116 Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pertanggungjawaban pidana

yang dilakukan adalah dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama dua belas tahun dan denda paling banyak delapan miliar rupiah.

Dalam dokumen 2021 SUCHITRA PERMATASARY 4515060045.pdf (Halaman 61-73)

Dokumen terkait