BAB III METODE PENELITIAN
5.2 Putusan Hakim dalam perkara penyalahgunaan narkotika putusan
yang dilakukan adalah dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama dua belas tahun dan denda paling banyak delapan miliar rupiah.
lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.”66
Penjatuhan putusan merupakan salah satu tahap didalam proses penegakan hukum yang paling menarik perhatian publik. Mengenai putusan apa yang akan dijatuhkan majelis hakim, tergantung dari hasil musyawarah yang bertolak dari surat dakwaan yang dikaitkan dengan bukti-bukti dan segala sesuatu yang terungkap selama proses persidangan.
Sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan, majelis hakim harus terlebih dahulu dapat memahami secara mantap semua unsur tindak pidana yang didakwakan, memahami unsur-unsur dari kesalahan beserta kemampuan pertanggungjawaban pidana yang melekat pada diri pelaku.
Putusan hakim merupakan puncak dari suatu perkara yang sedang diperiksa dan diadili oleh hakim tersebut. Oleh karena itu tentu saja hakim membuat keputusan harus memperhatikan segala aspek didalamnya.
Pengambilan keputusan kepada terdakwa hendaknya hakim dapat melihat dengan cermat kesesuaian fakta-fakta yang ada dengan bukti-bukti yang dihadirkan dipersidangan sehingga dalam menjatuhkan suatu keputusan tidak yang menyimpang dari yang seharusnya dan tidak melanggar hak asasi yang dimiliki oleh terdakwa.
Hakim Pengadilan Negeri Makassar bapak Riyanto Aloysius, S.H., mengatakan dalam memutus suatu perkara haruslah melihat terlebih dahulu bukti,
66Pasal 1 Angka 11 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
dan menghubungkannya dengan keterangan dari para saksi dan keterangan terdakwa barulah hakim menjatuhkan pidana.67
Menurut Riyanto Aloysius S.H., Hukuman itu sebagai efek jera dan lapas sebagai tempat pembinaan agar saat kembali ke masyarakat mereka sudah baik.
Namun penilaian buruk masyarakat terhadap mereka yang pernah melakukan tindak pidan terkadang menjadi pendorong mereka melakukan hal yang sama.
Kebanyakan orang seperti mereka ini orang” yg membutuhkan, orang yg tidak punya pekerjaan sehingga apabila kita merujuk pada UUD mereka ini merupakan tanggungan negara. Apakah negara disini sudah mampu menanggung orang miskin yang ratusan juta, belum tentu akhirnya tujuan pembinaan juga belum tentu sesuai. 68
Hakim Pengadilan Negeri Makassar bapak Riyanto Aloysius, S.H., menegaskan kesesuaian putusan hakim terkait penyalahgunaan narkotika dengan upaya pemberantasan narkotika tentu menurut hakim itu sudah sesuai. Karena hakim bertanggungjawab dalam memberikan putusan, dalam hal ini hakim dalam melaksanakan tugasnya, untuk menerima, memeriksa, dan memutuskan perkara yang diajukan kepadanya diamanatkan pertanggungjawaban tersebut tidak hanya dijatuhkan kepada hukum, dirinya sendiri ataupun masyarakat luas. Apabila dalam pemeriksaan hasilnya terbukti bersalah maka ia harus dihukum.69
67 Hasil wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H., selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar, 13 Februari 2020.
68 Hasil wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H., selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar, 13 Februari 2020.
69 Hasil wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H., selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar, 13 Februari 2020.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Riyanto Aloysius S.H., yang berpendapat bahwa untuk memutus suatu perkara hakim harus melakukan banyak pertimbangan baik itu pertimbangan yuridis (hukum), hakim dalam memutus harus melihat dari segi sosiologis, melihat dari sosial masyarakat dan bagaimana latar belakangnya, dan segi fisolofis (keadilan).70
Karena hakim dalam memutuskan perkara harus melakukan pertimbangan yaitu pertimbangan yang bersifat yuridis dan pertimbangan yang bersifat non yuridis. Pertimbangan yuridis adalah pertimbangan yang didasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan oleh undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat dalam putusan. Pertimbangan yang bersifat yuridis itu diantaranya adalah dakwaan jaksa penuntut umum, keterangan saksi, keterangan terdakwa, barang bukti, pasal-pasal dalam undang-undang yang berkaitan dengan perkara. Pertimbangan yang bersifat non yuridis yaitu: dampak perbuatan terdakwa (filosofis) yaitu hakim dalam memutuskan perkara melihat dari sudut bagaimana dampak perbuatan terdakwa terhadap korban yang menjadi perbuatan terdakwa tersebut, dan melihat dampak bagi masyarakat luas, dan kondisi diri terdakwa, maksudnya kondisi fisik maupun psikologis dari terdakwa termasuk status sosial terdakwa. Kondisi fisik yang dimaksud adalah usia dan tingkat kedewasaan terdakwa, sedangkan yang dimaksud dengan keadaan psikologi adalah keadaan terdakwa sebelum melakukan tindak pidana, pikiran atau keadaan kejiwaan terdakwa yang tidak normal. Status sosial dalam masyarakat maksudnya
70 Hasil wawancara dengan Riyanto Aloysius, S.H., selaku Hakim Pengadilan Negeri Makassar, 13 Februari 2020.
status yang dimiliki terdakwa didalam masyarakat yaitu apakah pejabat, polisi, kuli bangunan, petani, buruh dan sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara putusan pidana yang dijatuhkan oleh hakim Riyanto Aloysius, S.H, pada dasarnya hasil putusan tersebut memunculkan sesuatu hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Hakim harus mempertimbangkan segala aspek tidak hanya pembalasan saja namun juga bersifat edukatif, memberika efek jera kepada masyarakat yang lain dan keputusan tersebut sudah menyangkut demikian, semua harus dipertimbangkan baik dari sisi korban maupun terdakwa dan hal tersebut sudah terdapat dalam putusan. 71
71 Wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Makassar, pada tanggal 13 Februari 2020.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka penulis berkesimpulan sebagai berikut:
1. Pertanggungjawaban pelaku penyalahgunaan narkotika tidak dilakukan hanya dengan pembuktian oleh hakim, hakim juga harus perpatokan dengan syarat pemidanaan. Syarat pemidanaan terdiri dari tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Unsur tindak pidana adalah perbuatan yang melawan hukum dan tidak ada alasan pembenar. Sedang unsur pertanggungjawaban adalah pembuat yang terdiri dari mampu bertanggungjawab, kesalahan, dan tidak ada alasan pemaaf.
2. Putusan hakim dalam perkara penyalahgunaan narkotika telah sesuai dengan upaya pemberantasan narkotika di kota Makassar karena hakim dalam memutuskan suatu perkara telah melakukan berbagai pertimbangan yaitu yuridis (hukum), filosofis (keadilan) sesuai dengan program pemerintah dalam memberantas narkotika, dan sosiologi (sosial) melihat aspek sosiologis terdakwa dalam masyarakat.
5.2 Saran
Melalui skripsi ini penulis menyampaikan beberapa saran yang terkait dengan penelitian penulis, antara lain:
1. Dalam menangani kasus penyalahgunaan narkotika harus ada kerjasama yang seimbang antara aparat pemerintahan dan masyarakat sehingga program pemerintah dalam memberantas narkotika semakin optimal.
2. Pemerintah harus membuat suatu lembaga pendidikan yang aktif berperan serta dalam mendukung setiap kegiatan pemerintah dalam mensosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkotika, atau pemeriintah juga dapat melakukan pengoptimalan sosialisasi Undang-Undang Narkotika khususnya peraturan mengenai peran serta masyarakat dalam pemberantasan narkotika.
3. Hakim dalam memutus perkara sebaiknya menjatuhkan pidana seberat- beratnya kepada pelaku agar pelaku jera dan tidak terjadi pengulangan tindak pidana dan calon pelaku lainnya mengurungkan niatnya dalam menjalankan tindak pidana.
DAFTAR PUSTAKA A. BUKU
Abdoel Djamali. 2014. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Adami Chazawi. 2010. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana Bagian I. Jakarta: Rajawali Pers.
Chairul Huda. 2015. Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Erdianto Efendi. 2011. Hukum Pidana Indonesia. Bandung: PT Refika Aditama.
Hanafi Amrani dan Mahrus Ali.2015. Sistem Pertanggungjawaban Pidana Perkembangan dan Penerapan. Jakarta: Rajawali Pers.
Hari Sasangka. 2003. Narkotika dan Psikotripika dalam Hukum Pidana.
Bandung: Mandar Maju.
Lilik Mulyadi. 2010. Seraut Wajah Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Mahrus Ali. Dasar-dasar Hukum Pidana. Badung: PT Sinar Grafika.
Moeljatno. 2009. Asas-asas Hukum Pidana, edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
P.A.F. Lamintang. 2013. Dasar-dasar untuk Mempelajari Hukum Pidana yang Berlaku di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Rodliyah dan Salim HS. 2019. Hukum Pidana Khusus (Unsur dan Sanksi Pidananya). Depok: PT RajaGrafindo Persada.
Roeslan Saleh. Pikiran-pikiran Tentang Pertanggung Jawaban Pidana. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Ruslan Renggong. 2016. Hukum Pidana Khusus. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Soedjono Dirdjosisworo. 2005. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Syaiful Bakhri. 2012. Kejahatan Narkotika dan Psikotropika Suattu Pendekatan melalui Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta: Gramata Publishing.
Taufik Makaro. 2005. Tindak Pidana Narkotika. Bogor: Ghalia Indonesia.
Teguh Prasetyo. Hukum Pidana, edisi revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Zainal Abidin. 2014. Hukum Pidana 1. Jakarta: Sinar Grafika.
B. WEBSITE
Andi Akbar .2017. PertimbanganHakim dalam Menjatuhkan Pidana.Makassar.
http://seniorkampus.blogspot.com. Diakses pada bulan juni 2016 pukul 09.00 WIB.
C. PERUNDANG-UNDANGAN
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika