commit to user
95 Sumber : analisa pribadi
commit to user
96 Gambar 23. Eksisting Kawasan
Sumber : analisa pribadi
Besaran serta lokasi site kawasan yang direncanakan ditentukan dengan mencocokan kebutuhan besaran minimal dengan kondisi eksisting dan kriteria standart sebuah kawasan salah satunya adalah path dan edge pada kawasan. Site kawasan yang direncanakan harus mencakupi rumah adat asli karena perencanaan kawasan dibuat untuk melindungi benda cagar budaya yang ada. Ilustrasi pada gambar diatas menjelaskan area site kawasan yang mencakup wilayah Rumah adat Eksisting.
Jika dilihat dari gambar diatas lokasi site harus memiliki jalur pencapaian serta batas sebuah kawasan (edge) sebagai pembeda. Edge kawasan yang akan direncanankan dapat menggunakan jalan yang ada maka dari itu lokasi site harus memiliki batasan berupa jalan eksisting.
Gambar 24. Jalan Eksiting Sumber : analisa pribadi
Rumah adat Betawi
Area Lokasi yang akan dijadikan Site
Jalan yang dapat dijadikan pembatas /
edge yaitu Jl.Pangeran &
Jl.Kober
commit to user
97 Dari pertimbangan yang telah di sebutkan maka ditentukan site kawasan yang direncanakan adalah sebagai berikut :
Gambar 25. Luasan Site Sumber : analisa pribadi
Site terletak di Kelurahan Balekambang Kecamatan Kramat, Jakarta Timur Jati. Site diapit oleh Jalan Pangeran dan jalan Kober yang juga berfungsi sebagai edge dalam kawasan.
Luas site 61,232 m2 dengan keliling mencapai 1,081m , KDB 20 % sesuai dengan RTRW Lokasi.
Kontur tanah kawasan cukup variatif dengan bagian datar dari jalan manunggal hingga jalam pucung dan menurun cukup drastis dari jalan Pucung hingga kali Ciliwung.
Site sebagian besar terdiri dari permukiman penduduk dan sebagian kecil area kebun salak .
Pencapaian site dari pusat kota Jakarta menempuh waktu selama 33 menit.
Dapat dicapai dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi dari motor hingga bus.
Dilalui Angkutan umum 07 jurusan Pasar Rebo - Cililitan
Infrastuktur seperti jalan, listrik, saluran air bersih & kotor telah lengkapa karena merupakan daerah pemukiman
Batasan site :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan permukiman Penduduk
commit to user
98 Pemukiman penduduk di sebelah utara terbilang cukup padat namun memiliki suasana yang asri.
b. Sebelah Timur Berbatasan dengan Jalan Manunggal Dan permukiman Penduduk
Jalan manunggal merupakan jalan yang cukup kecil lebar jalan ini ±3 meter. Selain jalan manungga sebelah timur berbatsan dengan pemukiman penduduk.
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Kober dan Kantor kelurahan Balekambang
Jalan Kober yang berbatsan dengan Site merupakan jalan yang kecil seperti Jalan Manunggal jalan ini memiliki lebar ±3 meter. Selain berbatsan dengan jalan Kober kawasan berbatasan dengan Kantor Kelurahan Balekambang serta permukiman penduduk.
d. Sebelah Barat site berbatasan dengan Kali Ciliwung
Sebelah Barat Site berbatasan dengan Kali ciliwung dengan kontur lahan yang cukup terjal serta berbatasan dengan Wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan khususnya Kecamatan Pasar Minggu.
commit to user
100 Analisa pengolahan site bertujuan untuk mendapatkan respon bangunan terhadap site terkait perletakan dan penataan bangunan berikut karakteristik kawasan, orientasi dan lain-lain. Analisa pengelohan site meliputi analisa elemen Kawasan, pencapaian, pola sirkulasi, view, kebisingan, klimatologi, dan kontur.
a. Analisa Pencapaian
Analisa ini bertujuan untuk mengidentifikasi akses menuju ke dalam site yang akan berakibat pada peletakan main entrance baik ke site maupun ke dalam bangunan, side entrance, dll.
Letak site pada kawasan Betawi yang direncanakan dapat diakses dari beberapa jalan diantaranta jalan pucung yang membelah kawasan, jalan manunggal, maupun jalan pangeran yang terhubung ke jalan raya Condet.
Analisa Pencapaian pada site berdasarkan kriteria sebagai berikut :
Kemudahan akses yang dicapai dari jalan yang berkaitan dengan site bagi seluruh pengguna
Tidak menimbulkan kemacetan di sekitar site
Kemudahan pencapaian dari jalan utama.
Keamanan akses keluar dan kedalam site.
Gambar 26. Batasan Site Sumber : analisa pribadi Jalan pucung
lebar jalan 6 meter, dilalui angkutan 07,jalan dua
arah
Jalan Kober lebar jalan3meter,jala
n dua jalur
Jalan pangeran lebar jalan 4 meter, jalan dua arah, akses penghungung
ke Jalan raya Condet
Jalan manunggal lebar jalan 3 meter, jalan dua arah, penghubung
jJL.Pangeran dan Jl. Kober
commit to user
101 Site kawasan Terbelah oleh Jalan pucung yang merupakan Jalan Utama kendaraan yang melintasi kawasan sehingga aktifitas kawasan dapat tergangu oleh padatnya aktifitas pada jalan tersebut. Selain itu kawasan akan terbagi menjadi dua bagian yang menyebabkan putusnya arus sirkulasi kawasan dengan kondisi tersebut maka dihasilkan analisa sebagai berikut:
Kawasan dapat diakeses langsung melalui jalan pucung sehingga membelah kawasan menjadi dua bagian. Pencapaian melalui jalan ini merupakan pencapaian yang paling mudah karena merupakan Jalan utama, namun memiliki efek samping membelah kawasan menjadi dua bagian.
Pencapaian dapat melalui Jalan Kober lalu berbelok ke jalan Manunggal dan pencapaian awal kawasan dari jalan manunggal.
Pencapaian melalui Jalan ini merupakan cara pencapaian yang aman Karena kawasan tidak akan tergangu dengan padatnya arus kendaraan di Jl.Pucung. namun entrance kawsan menjadi di sisi Timur yang kurang terlihat dari jalan utama.
Entrance dicapai tetap melalui Jl.pucung namun dilakukan rekayasa arus lalu lintas di sekitar kawasan. Yakni dengan memutarkan jalur yang membelah kawasan pada jalan pucung menjadi memutar ke arah Jl.kober - Jl.Manunggal –dan JL.di tepi utara site. Sehingga kawasan lebih steril dari kendaraan bermotor dan tidak terbelah oleh jalan umum. Cara ini merupakan cara yang cuku efektif namun perlu penanganan karena jalur di Jl.kober,dan Manunggal merupakan jalan kecil sehingga perlu penanganan khusus.
Pencapaian dapat melalui jalan Pangeran sebelah Timur dari jalan raya Condet. Namun jalan yang dilalaui berukuran kecil dan bukan
merupakan jalan yang dialalui angkutan umum.
b. Analisa Pola Sirkulasi
Analisa ini bertujuan untuk mendapatkan pola sirkulasi yang nyaman, aman dan teratur baik ke dalam maupun ke luar site, untuk pengguna kendaraan pribadi, kendaraan umum maupun pejalan kaki.
commit to user
102 Keempat jalan yang mengapit site adalah jalan dua lajur. Namun ketiga jalan adalah jalan permukiman yang memiliki lebar jalan yang kecil serta beberapa bagian kurang baik. Hal ini mengakibatkan terjadi ketidaknyamanan jika dilalui oleh kendaraan beroda empat. Berikut adalah Kriteria analisa Pola sirkulasi :
Sirkulasi tidak menimbulkan kemacetan dilingkungan sekitar.
Sirkulasi baik didalam maupun diluar site aman bagi semua pengguana
Pola sirkulasi disesuaikan konsep alur kegiatan kawasan.
Kondisi jalan pada site berukuran cukup kecil maka dari itu perlu dilakukan pengolahan jalur sirkulasi baik di luar maupun didalam site berikut adalah analisa pola sirkulasi :
Entrance Kawasan berada di daerah jalan Pucung tanpa ada pengalihan arus namun jalan sedikit dilebarkan. Kekerungannya rawan menimbulkan kepadatan lalu lintas
Entrance Kawasan berada di jalan pangeran dengan pengalihan arus mealalui jalan kober, manunggal, hingga pembuatan jalan baru di ujung utara site.
Entrance kawasan terletak di jalan Manunggal dan jalan dilebarkan.
Sirkulasi arus juga tetap dialihkan. Kekurangannya muka depan kawasan tidak nampak dari jalan utama yang ada di Site.
Pola sirkulasi Dalam site memiliki alur yang berkesinambungan dan runtut sehingga diusahakan site tidak terpecah belah.
Gambar 27. Pola Sirkulasi 1 1
commit to user
103 Sumber : analisa pribadi
Gambar 28. Pola Sirkulasi 2 Sumber : analisa pribadi
Gambar 29. Pola Sirkulasi 3 Sumber : analisa pribadi
c. Analisa View from Site
Analisa ini bertujuan untuk mendapatkan spot-spot menarik yang nantinya dapat menjadi pedoman dalam perletakan bukaan untuk mendapatkan pemandangan indah maupun pengolahan-pengolahan lain seperti fasad dan tata ruang.
Utara
Merupakan View kearah pemukiman Penduduk. View pada sisi ini kurang baik karena terlihat permukiman penduduk yang cukup padat.
Timur
2
3
commit to user
104 Merupakan View kearah pemukiman Penduduk. View pada sisi ini kurang baik karena terlihat permukiman penduduk yang cukup padat.
Selatan
Merupakan View kearah pemukiman Penduduk dan kantor kelurahan. View pada sisi ini kurang baik karena terlihat permukiman penduduk yang cukup padat.
Barat
Merupakan view kearah sungai serta wilayah Jakarta selatan.
Merupakan view yang paling bagus dari site karena berupa panorama alam dan pemandangan yang asri akibat masih banyaknya vegetasi.
Gambar 30. Analisa View from Site Sumber : analisa pribadi
d. Analisa View to Site
Analisa ini bertujuan untuk mendapatkan sisi fasad bangunan yang akan menjadi point of interest, agar pengunjung mudah menemukan bangunan yang direncanakan. Sisi tersebut juga harus berada di sisi yang memungkinkan untuk mendapatkan kesinambungan visual antar bangunan baru dan bangunan yang sudah ada.
Dari arah Utara
Site terilah cukup jelas pada bagian jalan pucung namun jika diliahat dari arah permukiman tidaj terlalu terliha karena terhalang permukiman yang cukup padat.
Dari arah Timur
commit to user
105 Site terlihat tidak cukup jelas pada bagian jalan pangeran. Namun jika dilihat dari Jalan raya Condet kurang terlihat jelas karena terhalang permukiman penduduk dan bangunan sekolah.
Dari arah Selatan
Site terlihat jelas karena pada bagian arah jalan Pucung. Site juga terlihat jelas dari kantor kelurahan Balekambang.
Dari arah barat
Site terlihat sanagat jelas terlibih bila dilihat dari arah sungai atau daerah jakarta Selatan yang berada di sebrang sungai.
Gambar 31. Analisa View to Site Sumber : analisa pribadi
e. Analisa Kebisingan
Analisa ini bertujuan untuk mengidentifikasi titik-titik kebisingan yang akan berpengaruh pada peletakan zona-zona ruang berikut penanganannya.
Dari arah Utara
Tingkat kebisingan cukup rendah karena berbatasan dengan permukiman penduduk.
Dari arah Timur
Titik kebisingan sedang, karena berbatasan dengan permukiman dan cukup dekat dengan Jalan raya Condet yang aktifitasnya cukup padat.
Dari arah Selatan
Titik kebisingan cukup tinggi, karena berbatasan dengan kantor kelurahan dan Jalan pangeran
commit to user
106
Dari arah Barat
Relative sama dengan arah utara namun intensitas kebisingannya lebih rendah karena kebisingan jalan raya teredam oleh banyaknya vegetasi disisi barat.
Gambar 32. Titik Kebisingan Sumber : analisa pribadi
f. Analisa Klimatologi
Analisa bertujuan untuk mengetahui pergerakan arah matahari dan angin yang akan berdampak pada respon bangunan terkait peletakan ruang, bukaan untuk mendapatkan penghawaan dan pencahayaan alami dan penanganan lain seperti sun shading, barrier, secondary skin dll.
Analisa matahari
Analisa ini mengidentifikasi pengaruh sinar matahari terhadap site melalui pergerakan matahari dari timur ke barat. Di sekitar site tidak ada bangunan tinggi sehingga tidak menimbulkan daerah bayangan.
Sinar matahari cukup terik sepanjang hari. Panas matahari paling terasa pada siang dan sore hari.
commit to user
107 Gambar 33. Arah Gerak Matahari
Sumber : analisa pribadi
Analisa angin
Analisa ini mengidentifikasi pengaruh angin terhadap site melalui pergerakan arah angin. Secara makro angin bergerak dari selatan ke utara. Tidak ada bangunan tinggi di sekitar site yang menghalangi arah angin. Banyaknya pepohonon juga menimbulkan angina mikro yang membuat hawa menjadi sejuk walaupun matahari bersinar terik.
Gambar 34. Titik Kebisingan Sumber : analisa pribadi
g. Analisa Kontur
Analisa ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontur pada site secara lebih detail yang nantinya akan berpengaruh pada bentuk massa bangunan, struktur, dan aspek lain yang berpengaruh.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya site memiliki kontur tanah yang Variatif denagn kondisi kontur yang relatif datar pada sisi timur dan
commit to user
108 curan dibagian tepi barat site. Sisi kontur yang beragam memungkinkan bangunan pada kawasan bervariatif dimana bangunan pada sisi barat dapat diolah secara atraktif menyesuaikan kontur eksisting.
h. Analisa Zonning Kawasan
Analisa Pengolahan tapak mengasilkan zonning akhir kawasan yang merupakan respon segala kondisi yang ada pada tapak. Zonning akhir kawasan juga ditentukan berdasarkan kebutuhan masing-masing zona yang ada pada kawasan. Berikut adalah kriteria masing- masing zona pada kawasan :
Zona Budaya
Zona Budaya memeiliki kriteria penempatan berada di sekitar rumah adat yang masih asli karena akan berkaitan satu sama lain. Zona budaya merupakan zona utama pada kawasan sehingga pencapaiannya harus mudah serta mudah terlihat terutama dari main entrance.
Intensitas cahaya yang masuk pada zona budaya diharapkan cukup tidak terlalu panas atau terlalu lembab.
Zona Penunjang
Zona penunjang berisi bangunan penunjang yang salah satunya berupa home stay maka dari itu selain akses yang harus mudah dicapai terutama dari entrance juga merupakan area yang tidak terlalu banyak kegiatan umum untuk wilayah home stay.
Zona Pengelola
Zona pengelola harus berada pada tempat yang paling mudah dicapai karena merupakan tempat untuk mencari informasi mengenai kawasan sehingg perletakannya harus ada di area depan.
Zona Parkir
Zona parkir harus mudah dicapai dari kedua entrance yang ada serta ditempatkan pada posisi yangstrategis.
Zona Wisata
Karena kegiatan wisata didominasi oleh wisata alam maka zona wista harus berada pada tempat yang kondisi goegrafisnya medukukung dapat berupa pepohonan atau daerah berkontur.
Zona Kuliner
commit to user
109 Zona kuliner merupakan salah satu zona akhir pada pola kegiatan kawsan sehingg dapat ditempatkan pada akhir pola sirkulasi kawasan.
Zona servis
Ditempatkan dekat dengan side entrance, tidak terlalu terlihat namun mudah diakses dari seluruh wilayah kawsan.
Gambar 35. Zoning pada Site Sumber : analisa pribadi
i. Analisa Elemen Kawasan
Analisa ini bertujuan untuk membentuk sebuah kawasan dengan memenuhi elemen elemen yang dibutuhkan sebuah kawasan berdasarkan teori Kevin Lynch. Analisa elemen kawasan berupa Path (jalur), Node (simpul) kawsan, Distric (Citra Kawasan), Landmark kawasan, Edge (tepian.)
Path (jalur)
Path atau jalau pada kawasan memiliki peran yang sangat penting terutama dalam menghubungan zona atau bangunan pada kawasan.
Path atau jalur pada kawasan diutamakan memiliki ciri tertentu yang dapat dijadikan identititas atau elemen pengarah pada kawasan aternatif pengolahan path pada kawasan antara lain meletakan tanda atau penunjuk jalan pada beberapa titik, mneyusun elemen lanskape atau pohon di sepanjang jalan, menggunakan street furniture yang seragam, menggunakan hardscape yang seragan pada jalur kawasan.
Node (simpul)
Simpul pada kawasan tercipta akibat pertemuan beberapa jalur sirkulasi yang ada pada kawasan yang dapat diisi dengan beberapa objek seperti komunal, sclupture, maupun penunjuk jalan. Pada tapak kawasan
commit to user
110 yang akan direncanakan terdapat vegetasi eksisting serta bangunan eksisting rumah adat yang dapat dijadikan sebagai titik simpul kawasan, titik simpul kawasan juga dapat diletakan pada pertemuan antar zona pada kawasan yang dapat dijadikan zona transisi antar kawasan.titik simpul kawasan juga dapat berupa komunal atau ruang ruang interaksi bagi pengguna.
Citra Kawasan
Pada site kawasan yang direncanakan citra kawasn diperlukan sebagai identitas kawsan terlebih kawsan yang direncanakan berupa kawsan budaya. Pengolahan citra kawasan yang berkaitan dengan tapak eksisting dapat menyesuaikan dengan kondisi eksisting yang ada. Sesuai dengan pendekatan regionalisme maka elemen elemen lokal digunakan dalam memunculkan citra kawasan. Elemen yang dapat di ambil untuk ememunculkan citra kawasan adalah site eksisting dengan lingkungan yang masih asri dapat dijadikan citra kawsan sebagai kawsan yang asri serta keberadaan rumah adat yang dapat diangkat menjadi sebuah kawasan budaya.
Landmark
Landmark menjadi sebuah simbol atau point of interest dari kawasan.
Pada tapak yang dapat di jadikan landmark antara lain bangunan rumah adat asli, kawasan perkebunan yang dapat diolah menjadi sebuah landmark kawasan, serta sungai yang bersebelahan dengan site dapat menjadi landmark kawasan.
Edge (tepian)
Pengolahan tepian atau pembatas sebuah kawasan yang ada pada site Kawasan yang direncanakan memiliki beberapa alternatif pengolahan diantaranya menggunakan batasan yang ada yakni jalan yang berada di tiga sisi site dapat menjadi pembeda sebuah kawasan lalu sungai pada sebelah barat site, serta dapat melakukan pengolahan dengan membuat pagar pembatas ataupun vegetasi sebagai pagar hidup kawasan yang direncanakan, selin itu gerbang atau gate juga dapat dijadikan sebuah batas kawasan.
commit to user
111
commit to user
112 5.5.2 Hardscape
Penggunaaan hardcape berfungsi sebagai pendukung kegiatan dalam site, khususnya kegiatan di luar bangunan seperti pedestrian, area parkir, dll.
Hardscape juga dapat berfungsi sebagai penunjuk jalan, elemen estetis, dan pendukung karakter pada landscape bangunan. Hardscape terdiri dari ground cover dan street furniture (taman, bangku, lampu jalan, pedestrian, trap, dll).
Berikut beberapa pilihan ground cover : a. Perkerasan aspal
Baik digunakan untuk jalur sirkulasi kendaraan karena mudah diaplikasikan, harganya murah, tahan lama, dan memiliki tekstur yang halus untuk ban kendaraan, sayangnya daya serap aspal sangat kecil sehingga kurang dapat menyerap air hujan.
b. Perkerasan beton
Memiliki kegunaan yang sama dengan aspal namun beton memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding dengan aspal. Sehingga beton cocok digunakan untuk lahan yang menahan beban besar. Kelemahan beton dapat mengalami keretakan atau patah selain itu beton juga memiliki daya serap yang kecil.
c. Perkerasan kerikil dan batu alam
Memiliki tekstur abstrak. Sering digunakan pada jalur sirkulasi pedestrian dan bagian-bagian landscape yang memerlukan elemen dekoratif. Batu alam memiliki tekstur yang menarik dan warna yang beranekaragam sehingga dapat didesain dengan lebih fleksibel. Memiliki daya serap air hujan cukup baik. Sayangnya jika kurang teliti dalam pengerjaan, batuan ini sering tercabut sehingga merusak bentuk yang telah dibuat pemeliharaan batu alam juga lebih sulit karena rawan terkena lumut.
commit to user
113 Gambar 37. Batu Alam
Sumber : google.com
d. Tanah padat
Memiliki daya serap air hujan yang baik dan berkesan sangat natural, namun sebagaimana sifat tanah yang lunak jika terkena air yang banyak.
Biasanya digunakan sebagai dasar dari perkerasan.
e. Tanah berumput
Memiliki daya serap air hujan yang baik dan tampilan yang menyegarkan sehingga biasa digunakan sebagai tanah untuk taman.ataupun area-area terbuka lain.
f. Paving
Memiliki bentuk yang beragam dan bertekstur kasar. Dapat digunakan untuk jalur pedestrian maupun kendaraan tetapi tidak terlalu kuat dalam menahan beban. Paving memiliki daya serap air yang cukup baik karena terdapat celah pada pemasangannya,tetapi bila pemasangan tidak baik paving akan mudah terlepas.
g. Grass block
Materialnya menyerupai paving tetapi memiliki lubang di bagian tengah sebagai tempat tumbuhnya rumput. Memiliki daya serap air yang lebih baik daripada paving. Baik digunakan untuk area luas yang membutuhkan perkerasan.
h. Unsur air
Dapat digunakan untuk mendukung estetika, sarana relaksasi visual ataupun pengontrol suhu mikro.dapat berupa air mancur, kolam, maupun waduk buatan.
commit to user
114 5.5.3 Soft Landscape
Soft Landscape merupakan seluruh vegetasi yang digunakan dalam site. Vegetasi mempunyai beberapa fungsi yaitu penyedia oksigen, pengikat air, sarana relaksasi visual, elemen estetika, barrier, dll. Terdapat beberapa alternative vegetasi menurut fungsinya, antara lain :
a. Vegetasi peneduh
Vegetasi yang berfungsi sebagai peneduh area-area terbuka dari panas matahari. Vegetasi ini merupakan pohon yang besar dan rimbun dengan batang yang kuat, mudah ditanam dan minim perawatan. Pohon peneduh yang digunakan pada kawasan adalah pohon peneduh daerah lokal seperti pohon nangka, mangga, dukuh, dan angsana.
Gambar 38. Vegetasi Peneduh Sumber : google.com
b. Vegetasi penyerap polusi
Vegetasi ini biasanya ditanam di pinggir-pinggir jalan raya dengan intensitas kendaraan yang tinggi. Pepohonan yang termasuk dalam kategori ini antara lain angsana, akasia dan oleander.
c. Vegetasi pengarah
Vegetasi yang mempunyai fungsi untuk mengarahkan sirkulasi baik pejalan kaki maupun kendaraan. Biasanya enggunakan pepohonan sejenis yang mengapit jalur sirkulasi.
d. Vegetasi pelantai
Vegetasi yang mempunyai fungsi seperti lantai. Biasa digunakan untuk taman, ataupun area-area terbuka lain. Vegetasi pelantai antara lain rumput, kacang hias dan herba berbunga.
commit to user
115 e. Vegetasi estetis
Vegetasi yang mempunyai fungsi sebagai penghias. Biasanya digunakan pad ataman-taman. Vegetasi yang digunakan adalah tanaman perdu, tanaman bunga, dan tanaman hias lainnya.
commit to user
116
Keberadaan RTH terbatas b. Sistem Tata Massa Majemuk
Berikut sifat-sifat system tata masa majemuk :
Bentuk lebih dinamis dan variatif
Ekspresi kurang kuat
Memerlukan lahan yang relative luas
Memiliki sirkulasi yang lebih beragam
Lebih fleksibel dalam perletakan RTH
5.6.2 Analisa Bentuk Massa
Bentuk massa diambil dari bentuk-bentuk bangunan Tradisional yang sudah ada sebelumnya. Terdapat beberapa bentuk yang dapat menjadi alternative bentuk dasar.
a. Kubus atau Balok
Bentuk ini diambil dari bagian tengah rumah tradisional Betawi.Bentuk ini sangat fleksibel untuk dikembangkan. Mudah dalam peletakan ruang dan sirkulasi. Sayangnya bentuk ini sudah terlalu umum digunakan dan memilki kesan kaku.
b. Prisma segitiga
Bentuk ini didapat dari bentuk atap rumah tradisional Betawi. Segitiga identik dengan bentuk yang kuat, energik, ekspresif dan stabil. Segitiga juga memiliki keindahan dalam pengembangan. Sayangnya bentuk ini kurang luwes dalam perletakan ruang.
c. Tabung
Bentuk ini didapat dari bentuk batang pohon Nangka yang merupakan vegetasi khas Betawi. Unsur lingkaran yang membentuk tabung memiliki kesan luwes dan atratif dan memiliki sudut pandang ke segala arah.
Sayangnya bentuk ini kurang efisien dalam perletakan ruang.