• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

BAB III METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipilih memegang peran penting dalam menjamin kevalidan dan keabsahan hasil penelitian. Sebelum melakukan analisis data, langkah penting yang harus dilakukan adalah melakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

a. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk menentukan tingkat kevalidan atau keabsahan instrumen tes. Selain itu, uji validitas juga dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur dan memilki hasil yang dapat diandalkan dan diterima. Pada penelitian ini, akan menggunakan metode uji validitas Bivariate Pearson yang disebut juga dengan Korelasi Produk Momen Pearson. Untuk melakukan uji validitas, dilakukan pemeriksaan nilai

46 signifikansi (Sig.). Instrumen dianggap valid jika nilai signifikansi < 0.05, sedangkan instrumen dianggap tidak valid jika nilai signifikansi > 0.05 (Sukardi, 2022:155-162). Rumus dari Korelasi Product Momen Pearson adalah sebagai berikut.

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑

∑ ∑

Keterangan:

r = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y

∑ = jumlah perkalian antara variabel x dan y

∑ = jumlah dari kuadrat nilai x

∑ = jumlah dari kuadrat nilai y

∑ = jumlah nilai x kemudian dikuadratkan ∑ = jumlah nilai y kemudian dikuadratkan

Tabel 3.3 Interpretasi Validitas

Nilai Keterangan

0.000-0.199 Sangat Rendah 0.200-0.399 Rendah

0.400-0.599 Cukup 0.600-0.799 Tinggi

0.800-1.000 Sangat Tinggi

Sumber: YouTube Rahmi Ramadhani, 2020 a. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk menentukan tingkat konsistensi atau stabilitas suatu instrumen pengukuran. Selain itu, uji ini juga memastikan bahwa instrumen tersebut memberikan hasil yang seragam dan dapat diandalkan dari waktu ke waktu (Sukardi, 2022:162). Pengujian reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach‟s (Advernesia, 2020) dengan rumus sebagai berikut.

47

Keterangan:

= reliabilitas yang dicari

N = jumlah item pertanyaan yang di uji

∑ = jumlah varians skor tiap-tiap item

= varians total

Untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi, maka dapat dilihat pada tabel berikut berdasarkan kriteria menurut Gilford.

Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Reliabilitas

Nilai Keterangan

0.20 Reliabilitas sangat buruk 0.20 0.40 Reliabilitas buruk

0.40 0.70 Reliabilitas cukup 0.70 0.90 Reliabilitas baik

0.09 1.00 Reliabilitas sangat baik Sumber: Sudaryono, 2018

2. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk memastikan apakah distribusi data sesuai dengan distribusi normal atau tidak. Jika data tidak terdistribusi normal, maka analisis data mungkin tidak valid, dan hasil analisis mungkin tidak dapat diandalkan. Rumus uji Normalitas Shapiro Wilk adalah sebagai berikut.

Keterangan:

T3 = Konversi Statistik Shapiro Wilk D = Koefisien test Shapiro Wilk Xn-i+1 = Angka ke n-i+1 pada data Xi + Angka ke I pada data

48

Signifikansi uji nilai T3 dibandingkan dengan nilai tabel Shapiro Wilk, untuk dilihat posisi nilai probabilitasnya (p).

Tabel 3.5 Data Nilai Residual Nilai probabilitas (p) Keterangan

p>0.05 Normal (diatas rata-rata)

0.05<p Tidak normal (di bawah rata-rata) Sumber: R. Hans, 2023

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilaksanakan untuk memastikan varians dalam setiap sampel pada suatu populasi sama. Hasil uji homogenitas juga membantu dalam memutuskan data dapat dianalisis atau tidak. Rumus uji homogenitas untuk Kuder Richardson atau K-R21 (Sukardi, 2022:168) adalah sebagai berikut.

Keterangan:

= reliabilitas untuk keseluruhan tes K = jumlah item dalam tes

= varian semua tes X = rerata skor

Data yang dilakukan pengujian dikatakan homogen berdasarkan nilai signifikansinya.

Tabel 3.6 Probabilitas Homogen Nilai signifikansi (p) Keterangan

>0.05 Homogen (kelompok data berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama)

<0.05 Tidak homogen (kelompok data berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama) Sumber: Sukardi, 2022:167

49 3. Analisis Data

a. Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi memungkinkan untuk menentukan apakah ada hubungan linier atau non linier antara variabel independen (gim edukasi Lazarus) dan variabel dependen (hasil belajar). Apabila diperoleh koefisien regresi dengan persamaan yang positif, maka terdapat pengaruh positif antar dua variabel yang berbeda. Sebaliknya, apabila koefisien regresi bernilai negatif, maka terdapat pengaruh negatif antar dua variabel. Analisis regresi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana dengan rumus sebagai berikut.

Keterangan:

y = variabel dependen x = variabel independen

= interserep (nilai y saat x=0)

= koefisien regresi (menunjukkan perubahan dalam y untuk setiap perubahan dalam x)

b. Uji-t (Independent Sample Test)

Uji-t dilakukan untuk membandingkan dua sampel dengan tujuan memastikan perbedaan antara kedua sampel tersebut signifikan atau tidak (Sukardi, 2022:114-117). Berikut ini adalah rumus yang digunakan dalam uji-t.

Keterangan:

t = nilai uji-t

x1 dan x2 = rata-rata dari dua sampel populasi s1 dan s2 = deviasi dari dua sampel populasi n1 dan n2 = ukuran sampel dari dua populasi

d0 = hipotesis nol (perbedaan antara dua rata-rata yang diharapkan)

50 Nilai uji-t kemudian digunakan untuk melihat nilai signifikansi dari data hasil penelitian. Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0.05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sebaliknya, jika nilai Sig, (2-tailed) > 0.05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Dalam penelitian ini, proses perhitungan akan dilakukan dengan menggunakan SPSS untuk memudahkan proses perhitungan data. Berikut ini disajikan langkah-langkah yang bisa digunakan dalam menghitung data menggunakan SPPS. Output dari SPPS yang telah ada kemudian dibandingkan dengan kriteria indeks prestasi yang telah diperoleh sebelumnya untuk kemudian dapat disimpulkan.

51 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Pada penelitian ini proses pengambilan data pada responden dibagi menjadi dua kesempatan yang berbeda dengan tujuan agar tidak mengganggu jam pelajaran lain di UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal II Kota Makassar, penelitian pertama dilaksanakan pada 27 Februari 2023 sampai dengan 1 Maret 2023 di kelas eksperimen dalam hal ini kelas IV-B sejumlah 27 orang. Data yang diambil dari kelas eksperimen adalah skor hasil mengerjakan post-test setelah penerapan gim edukasi Lazarus sebagai media pembelajaran di dalam kelasnya dengan mengikuti modul ajar. Penelitian kedua dilaksanakan pada 27 Februari 2023 sampai dengan 28 Februari 2023 di kelas kontrol dalam hal ini kelas IV-A sejumlah 26 orang. Data yang diambil pada penelitian ini adalah data skor hasil belajar peserta didik tanpa pemberian intervensi berupa gim edukasi Lazarus.

1. Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas

Validitas penelitian ini dihitung dengan mempertimbangkan jumlah soal yang valid. Sebanyak 53 peserta didik menjadi sumber data dan data tersebut dianalisis menggunakan SPSS 21. Teknik pengujian yang digunakan adalah korelasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson), dengan tujuan untuk mengkorelasikan skor masing-masing item dengan skor total.

52 Untuk menetapkan kevalidan instrumen atau item-item pertanyaan, akan dilakukan uji 2 sisi dengan sig. 0.05, dengan instrumen pertanyaan dianggap valid jika nilai sig. < 0.05 dan instrumen pertanyaan dianggap tidak valid jika nilai sig.

> 0.05. Tabel berikut memuat item soal yang valid dan tidak valid, hasil dari analisis statistik menggunakan SPSS 21.

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Uji Validitas Soal Instrumen Tes Pilihan Ganda Nomor

Soal

Pearson Correlation

Nilai

Signifikan Kesimpulan Interpretasi

1 0.868 0.000 Valid Sangat Tinggi

2 0.639 0.000 Valid Tinggi

3 0.833 0.000 Valid Sangat Tinggi

4 0.284 0.039 Valid Rendah

5 0.655 0.000 Valid Tinggi

6 0.833 0.000 Valid Sangat Tinggi

7 0.510 0.000 Valid Cukup

8 0.765 0.000 Valid Tinggi

9 0.330 0.160 Tidak Valid Rendah

10 0.302 0.280 Tidak Valid Rendah

11 0.218 0.118 Tidak Valid Rendah

12 0.564 0.000 Valid Cukup

13 0.669 0.000 Valid Tinggi

14 0.272 0.049 Valid Rendah

15 0.427 0.001 Valid Cukup

Berdasarkan data yang terdapat pada tabel di atas, terdapat tiga soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 9, nomor 10, dan nomor 11. Oleh karena itu, ketiga soal tersebut dinyatakan tidak berlaku dan tidak akan dihitung.

b. Uji Reliabilitas

Berdasarkan hasil uji validitas sebelumnya, terdapat tiga soal yang tidak valid dan tidak diikutsertakan dalam perhitungan uji reliabilitas. Sebuah instrumen dianggap reliabel jika memiliki nilai Semakin kecil nilai , semakin

53 banyak item yang tidak reliabel. Dalam penelitian ini, ditemukan tingkat reliabilitas sebesar 0.867 yang menunjukkan bahwa instrumen penelitian dapat dipercaya dan memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi. Berikut adalah tabel hasil uji reliabilitas yang dihasilkan oleh SPSS 21.

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas N Nilai α Tingkat Signifikasi 5%

12 0.876 0.05

2. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan menggunakan uji normalitas residual dengan melihat signifikansi Shapiro-Wilk. Dalam pengujian ini, nilai signifikansi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, dimana jika nilai signifikansi lebih besar dari 0.05, maka distribusi data dianggap normal, sedangkan jika nilai signifikansi kurang dari 0.05, maka distribusi data dianggap tidak normal.

Data hasil belajar, pada post-test di kelas eksperimen nilai signifikansinya 0.054 dan pada post-test di kelas kontrol nilai signifikansinya 0.98. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelas yang digunakan terdistribusi normal.

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar IPS

Kelas

Shapiro-Wilk

N Nilai

Statistik

Nilai Signifikan

Tingkat Signifikansi 5%

Hasil Belajar

IPS

Kelompok

Eksperimen 27 0.925 0.54 0.05

Kelompok

Kontrol 26 0.934 0.98 0.05

54 b. Uji Homogenitas

Untuk menentukan varians data pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen atau tidak, dilakukan pengujian homogenitas terhadap sebaran instrumen soal pilihan ganda. Dalam pengujian ini, nilai signifikansi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, dimana jika nilai signifikansi lebih besar dari 0.05, maka distribusi data dianggap homogen, sedangkan jika nilai signifikansi kurang dari 0.05, maka distribusi data dianggap tidak homogen.

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh signifikansi sebesar 0.433 >

0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa soal hasil belajar peserta didik yang diajar melalui metode tatap muka dengan menggunakan media pembelajaran gim edukasi Lazarus memiliki varians yang sama (homogen). Berikut ini adalah hasil pengolahan data homogenitas berdasarkan SPSS 21.

Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Belajar IPS Hasil Belajar IPS

Uji Levene df1 df2 Nilai Signifikan

Tingkatan Signifikansi 5%

0.625 1 51 0.433 0.05

3. Analisis Data

a. Uji Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi memungkinkan untuk menentukan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Berdasarkan tabel yang diberikan, diketahui bahwa nilai konstanta ( ) adalah 81.061 dan nilai koefisien regresi ( adalah 0.060. Oleh karena itu, persamaan regresinya dapat ditulis sebagai berikut.

55 Y=

Y=81.061+0.060X Penjelasan:

1. Konstanta sebesar 81.061 mengandung arti bahwa nilai konsisten variabel hasil belajar adalah sebesar 81.061.

2. Koefisien regresi X sebesar 0.060 menyatakan bahwa setiap penambahan 1%

nilai gim edukasi Lazarus, maka nilai hasil belajar bertambah sebesar 0.060.

3. Koefisien regresi tersebut bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel X terhadap Y adalah positif.

Tabel 4.5 Koefisien Regresi Linear Sederhana

Model

Koefisien tidak Standar Koefisien Standar B

(Nilai Koefisien) Standar Error Beta

Konstan 81.061 4.968

Gim Edukasi 0.06 0.159 0.76

b. Uji-t (Independent Sample Test)

Uji independent sample test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata dua sampel yang tidak berpasangan. Uji t dilakukan dengan melihat nilai signifikansi dari data penelitian. Jika nilai sig. (2-tailed) < 0.05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pada kelas IV-A dan kelas IV-B. Sebaliknya, jika nilai sig, (2-tailed) > 0.05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pada kelas IV-A dan kelas IV-B.

Tabel berikut ini menunjukkan hasil pengolahan data melalui SPSS, nilai rata-rata dari kedua kelas menunjukkan perbedaan yang signifikan kelas

56 eksperimen atau kelas IV-A memiliki nilai rata-rata 82.44, sedangkan kelas kontrol atau kelas IV-B memiliki nilai rata-rata 28.04. Selain dari Mean atau rata- rata, dapat dilihat juga Standar Deviation bahwa di kelompok eksperimen Standar Deviation lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini berarti terdapat resiko yang lebih kecil pada instrumen yang digunakan.

Tabel 4.6 Nilai Statistik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Kelas N Rata-rata Standar

Deviasi

Standar Error

Rata-rata Hasil

Belajar IPS

Kelas

Eksperimen 27 82.44 10.959 2.109

Kelas

Kontrol 26 28.04 14.203 2.785

Berdasarkan tabel sebelumnya, telah terlihat adanya perbedaan signifikan antara kedua kelas tersebut. Selanjutnya, dari data yang disajikan, dapat dilihat nilai Sig. (2-tailed) adalah 0.000 < 0.05. Fakta ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar peserta didik di kelas kontrol (kelas IV- A) dan kelas eksperimen (kelas IV-B). Berikut ini merupakan hasil uji-t menggunakan Independent Sample Test.

57 Tabel 4.7 Hasil Uji t (Independent Sample Test)

Uji Levene dengan Perasamaan

Varian

Uji t dengan Persamaan Rata- rata

F Sig. t df

Sig. (2- tailed) Hasil

Belajar IPS

Equal variances assumed

.625 .433 15.648 51 .000

Equal variances not assumed

15.572 47.022 .000

B. Pembahasan

Penelitian dilakukan di UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal II Kota Makassar pada peserta didik kelas IV-B sebagai kelompok eksperimen dan kelas IV-A sebagai kelompok kontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari gim edukasi Lazarus pada meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik. Penelitian dengan menggunakan gim edukasi Lazarus sebagai media pembelajaran dilaksanakan di dua kelas, yaitu kelas IV-A sebagai kelompok kontrol dan kelas IV-B sebagai kelompok eksperimen. Proses pembelajaran di kelas eksperimen menggunakan gim edukasi Lazarus yang ditampilkan melalui layar proyektor, sedangkan kelas kontrol tidak menggunakan media pembelajaran gim edukasi Lazarus. Sampel penelitian terdiri dari total 53 peserta didik, dengan kelas IV-B terdiri dari 27 peserta didik dan kelas IV-A terdiri dari 26 peserta didik. Pada awalnya, sampel terdiri dari 55 peserta, tetapi dua peserta didik sakit pada saat instrumen tes diberikan, satu dari kelas IV-A dan

58 satu dari kelas IV-B. Materi yang diajarkan adalah “Cerita tentang Daerahku”

sebagai mata pelajaran IPS yang terdiri dari tiga sub-bab. Untuk mengumpulkan data pengujian hipotesis, peneliti mengajarkan materi pada kelas eksperimen sebanyak empat kali pertemuan, yaitu tiga kali pertemuan dilakukan dalam bentuk belajar-mengajar dan satu kali pertemuan dilakukan dalam bentuk pemberian instrumen tes pilihan ganda (post-test). Dalam penelitian ini, ditemui beberapa kendala selama proses pelaksaannya yakni ketersediaan sarana yang belum memadai dan gim edukasi Lazarus yang masih memiliki beberapa kekurangan.

Dari hasil evaluasi soal pilihan ganda sebanyak 12 nomor yang dilakukan pada kedua kelas dilakukan uji normalitas dan ditemukan bahwa nilai signifikansi hasil belajar kelompok eksperimen adalah 0.054 dan kelompok kontrol adalah 0.98. Sedangkan hasil uji homogenitas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.433.

Sukardi (2022) mengemukakan bahwa sebuah data dikatakan terdistribusi secara normal dan homogen apabila nilai signifikan lebih besar dari 0.05. Maka dari itu, diperoleh kesimpulan bahwa data tersebut terdistribusi secara normal dan homogen dan layak untuk dianalisis.

Setelah dilakukan pengujian pada data yang telah terdistribusi normal dan homogen, ditemukan bahwa analisis regresi linear sederhana dan uji-t (independent sample test) akan digunakan untuk menganalisis data. Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel X terhadap variabel Y, apakah itu pengaruh positif atau negatif. Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana melalui perhitungan pada SPSS 21 menunjukkan bahwa koefisien regresi memiliki nilai positif dengan persamaan koefisien regresi

59 Y=81.061+0.060X. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif variabel X atau gim edukasi Lazarus terhadap variabel Y atau hasil belajar peserta didik kelas IV.

Terdapat beberapa teori yang mendukung hasil ini, seperti Lisa Galarneau seorang peneliti game edukasi mengatakan bahwa game edukasi dapat membantu peserta didik belajar lebih efektif karena dapat membantu mengatasi kecemasan dan tekanan yang sering kali menghambat belajar. Pendapat lainnya seperti Magdalena (2023) yang menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat mengurangi rasa bosan pada peserta didik. Selain itu, Kustandi (2020) juga mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik dan sempurna. Salah satu media pembelajaran yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar adalah media pembelajaran yang berbasis CAI (computer assisted instruction), contohnya adalah gim edukasi.

Dengan adanya data yang ditemukan dan beberapa pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa media pembelajaran gim edukasi Lazarus berpengaruh positif dalam meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik. Selain itu, gim edukasi Lazarus dapat dikategorikan ke dalam media pembelajaran yang efektif dan interaktif digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan media pembelajaran ini dapat mengurangi rasa bosan dalam belajar serta makna pesan yang ingin disampaikan kepada peserta didik dapat tersalurkan secara maksimal dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

60 Hasil analisis regresi ditunjang dengan analisis menggunakan uji-t (independent simple test). Uji t bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil post-test antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000. Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0.05 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok tersebut. Perbedaan ini didukung oleh nilai rata-rata yang menunjukkan perbedaan yang cukup jauh antara kedua kelas, yakni kelompok eksperimen sebesar 82.44 sedangkan kelompok kontrol 28.04. Kelas eksperimen yang menggunakan gim edukasi Lazarus memiliki nilai rata-rata lebih tinggi daripada kelas kontrol yang tidak menggunakan media pembelajaran ini.

Data hasil uji-t sebelumnya mendukung teori belajar yang diungkapkan oleh Maria Montessori bahwa anak merupakan fokus utama dan mengharuskan orang dewasa sebagai pembimbing. Metode Montessori sejalan dengan teori belajar progressivisme bahwa anak memiliki kebebasan untuk belajar, baik dalam hal fisik maupun berpikir untuk mengembangkan bakat, kemampuan, dan kreativitas anak. Menurut John Dewey, teori progressivisme memandang bahwa melalui pendidikan peserta didik dapat mengembangkan dirinya serta memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Edukasi (2021) juga memiliki penelitian yang relevan dengan penelitian ini, di mana penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik. Hasil belajar kognitif sendiri dapat diartikan sebagai

61 kemampuan anak dalam mempelajari keterampilan dan konsep baru, memahami fenomena di lingkungannya, serta mengintegrasikan daya ingat dan keterampilan dalam menyelesaikan soal-soal sederhana. Temuan sebelumnya juga sejalan dengan penelitian Aquino dan Ching (2022) yang menunjukkan bahwa kegiatan belajar dianggap berhasil apabila telah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu, sumber belajar yang reflektif juga terbukti dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis menggunakan uji-t, serta teori- teori sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan gim edukasi Lazarus sebagai media pembelajaran mampu meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik.

Peserta didik dapat mengembangkan dirinya dan mampu menyelesaikan masalah selama proses pembelajaran dengan menggunakan gim edukasi Lazarus. Melaui gim edukasi Lazarus, peserta didik dibimbing untuk melakukan proses pembelajaran tetapi peserta didik yang menjadi fokus utama serta dapat mengembangkan kreativitas yang mereka miliki. Kelas eksperimen yang diberikan intervensi gim edukasi Lazarus menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang menandakan bahwa peserta didik dapat mempelajari keterampilan dan konsep baru serta mampu menyelesaikan soal-soal sederhana dengan benar. Tujuan belajar yang ditetapkan dalam penelitian ini juga berhasil dicapai. Oleh karena itu, gim edukasi Lazarus dapat dikategorikan sebagai media pembelajaran yang reflektif dan efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPS.

62 Dalam penelitian ini, faktor penunjang diidentifikasi melalui wawancara yang dilakukan dengan lima peserta didik dari kelas yang diberi intervensi berupa gim edukasi Lazarus. Hasil wawancara menunjukkan bahwa peserta didik telah memahami sebagian besar materi dalam gim edukasi Lazarus dan merasa senang serta antusias saat menggunakan gim tersebut. Mereka mampu menyelesaikan setiap rintangan yang ada dan tidak menemukan aspek yang tidak disukai selama pembelajaran dengan gim edukasi Lazarus.

Wawancara tersebut sejalan dengan teori belajar Behavioristik B.F. Skinner yang menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia, hewan, dan tumbuhan dapat dipelajari melalui interaksi dengan lingkungan yang dapat diamati oleh indera. Meskipun pikiran dan perasaan diakui sebagai faktor internal, namun hanya tingkah laku yang dapat diamati dan dipelajari oleh ilmuwan. Skinner memberikan contoh cara mengontrol tingkah laku manusia, yakni melalui kontrol sosial dan kontrol diri. Namun, semua kontrol pada akhirnya tergantung pada lingkungan. Sementara itu, menurut Ponto (2022), faktor eksternal yang memengaruhi hasil belajar meliputi faktor keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat. Faktor lingkungan sekolah dapat mencakup ketersediaan sarana dan prasarana untuk belajar, termasuk media pembelajaran.

Setelah menganalisis hasil wawancara dan teori terdahulu, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan gim edukasi Lazarus sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, minat, kemampuan, dan kepribadian peserta didik. Para peserta didik menunjukkan tingkah laku yang antusias dan senang dalam belajar dengan gim tersebut, serta menunjukkan kemampuan dan

63 kepribadian yang baik saat menggunakan gim edukasi Lazarus. Oleh karena itu, gim edukasi Lazarus dianggap sebagai salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik, termasuk dalam ketersediaan sarana belajar.

64 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh positif gim edukasi Lazarus dalam meningkatkan mata pelajaran IPS Kelas IV UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal II Kota Makassar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang menggunakan gim edukasi Lazarus memiliki rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang tidak menggunakan gim edukasi. Selain itu, peserta didik yang menggunakan gim edukasi Lazarus juga lebih antusias dan senang dalam belajar, serta mampu menyelesaikan masalah yang ada. Oleh karena itu, penggunaan gim edukasi Lazarus menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV di UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal II Kota Makassar.

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, penulis merekomendasikan saran untuk pengembangan pembelajaran di masa depan.

Guru perlu mempertimbangkan penggunaan pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran IPS, seperti gim edukasi Lazarus. Selain itu, perlunya fasilitas dan infrastruktur yang memadai dalam pembelajaran, termasuk internet.

Pengembangan gim edukasi juga perlu ditingkatkan agar tidak banyak kesalahan yang terjadi saat penggunaan media pembelajaran gim edukasi di dalam kelas.

Dokumen terkait