• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

2.1.8 Portofolio Saham

2.1.8.1 Pengertian Portofolio saham

Portofolio saham merupakan sekumpulan aset yang dikombinasikan untuk mendapat return yang maksimal dan risiko yang minimum. Kombinasi aset yang dimaksudkan dapat berupa aset real atau pun aset finansial. Pembentukan portofolio bertujuan untuk mendiversifikasikan saham yang ada. Di dalam portofolio ada dikenal dengan portofolio efisien dan optimal yang memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Tandelilin (2010), portofolio efisien adalah portofolio dengan return tertinggi pada risiko tertentu atau portofolio dengan risiko terendah pada return tertentu. Portofolio optimal adalah portofolio yang dipilih sesuai dengan preferensi investor dari himpunan portofolio set.

2.1.8.2 Risiko Portofolio Saham

Risiko portofolio saham merupakan penyimpangan atas keuntungan yang diharapkan karena adanya investasi terhadap keuntungan faktual. Penyimpangan yang semakin besar membuat risiko yang diterima juga semakin besar. Menurut Markowitz secara umum risiko portofolio dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke dalam portofolio dengan syarat bahwa return masing-masing sekuritas tidak berkorelasi secara positif dan sempurna.

Menurut Husnan (2009), risiko portofolio adalah kemungkinan penyimpangan keuntungan dari portofolio dengan keuntungan yang diharapkan dari portofolio. Dalam mencari risiko portofolio dihitung dengan rumus seperti di bawah ini :

.

di mana: σp2 : risiko porofolio βp2 : beta portofolio σm2 : risiko pasar

wi : bobot sekuritas i terhadap seluruh sekuritas dalam

portofolio

σei2 : risiko dari tiap sekuritas dalam portofolio

2.1.8.3 Return Portofolio Saham

Jogiyanto (2003) mengatakan bahwa return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return realisasi untuk masing-masing

sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut. Untuk perhitunganya dapat dilihat pada rumus di bawah ini :

asumsi: Rp : return realisasi portofolio

wi : bobot sekuritas i terhadap seluruh sekuritas dalam portofolio

Ri : return realisasi sekuritas ke i

Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return ekspektasi dari masing-masing sekuritas tunggal dalam portofolio. Seperti pada rumus di bawah ini :

.

asumsi: E(Rp) : return ekspektasi portofolio

wi : bobot sekuritas i terhadap seluruh sekuritas dalam

portofolio

E(Ri) : return ekspektasi sekuritas ke i

2.1.9 Portofolio Modern Markowitz

Pada Maret 1952 Harry Markowitz mengemukakan suatu model diversifikasi risiko yang efisien dalam Jurnal of Finance dengan judul Portfolio Selection. Artikel tersebut membuka pintu dimulainya teori portofolio modern.

Markowitz mengatakan bahwa proses pemilihan portofolio dibagi atas dua tahap.

Tahap pertama adalah mengobservasi sekuritas yang akan dipilih. Tahap kedua adalah memilih sekuritas yang akan dimasukkan dalam portofolio yang dilandasi oleh keyakinan terhadap kinerja sekuritas tersebut di masa yang akan datang.

Model Markowitz memberikan suatu cara tentang berinvestasi secara efisien dan optimal dengan membentuk portofolio optimal. Tujuan membentuk portofolio optimal adalah untuk memenuhi prinsip dalam berinvestasi

“memperoleh return pada tingkat yang dikehendaki dengan risiko yang paling minimum” yang bisa dilakukan dengan diversifikasi. Markowitz mengatakan bahwa investor dapat memaksimumkan expected return melalui diversifikasi sekuritas dalam portofolio karena saham–saham dalam portofolio saling berkorelasi. Sesuai dengan hukum “ large of number”, makin banyak sekuritas dalam portofolio, maka actual return portofolio tersebut akan mendekati expected return dan variansnya makin kecil. Lebih lanjut Markowitz mengatakan bahwa diversifikasi tidak dapat menghilangkan semua varians return sekuritas dalam portofolio dan portofolio yang mempunyai expected return maksimum tidak selamanya mempunyai varians minimum.

Ukuran yang dipakai dalam portofolio Markowitz adalah koefisien korelasi. Koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa kedua aset bergerak searah sedangkan koefisien korelasi negatif menunjukkan bahwa kedua aset bergerak berlawanan. Menurut Markowitz, portofolio yang optimal adalah dengan mengombinasikan beberapa aset yang koefisien korelasi-nya kurang dari positif, disamping itu, apabila ada dua surat berharga yang return-nya sama tetapi risikonya berbeda, maka dipilih yang risiko rendah. Kumpulan portofolio efisien Markowitz terletak pada garis batas (efficient frontier) serangkaian portofolio

yang memiliki pengembalian maksimal untuk tingkat pengembalian tertentu. Inti dari efficient frontier Markowitz adalah bagaimana mengalokasikan dana ke masing-masing saham dalam portofolio untuk mencari titik maksimal portofolio.

Keterbatasan model Markowitz adalah penggunaan matriks kovarian dalam perhitungan varian portofolio sehingga teori Markowitz ini terlalu kompleks dan sulit untuk dianalisis bila jumlah saham semakin banyak, karena korelasi pada model markowitz bersifat tidak konstan serta banyak penyimpangan dikarenakan data untuk ekspektasi harus bersifat konstan, tidak boleh berubah-ubah sebab jika ekspektasi tidak akurat maka akan ada penyimpangan real dan ekspektasi yang besar.

2.1.9.1 Diversifikasi Markowitz

Model Markowitz melakukan diversifikasi dengan cara memperhatikan karakteristik aset, sehingga investor akan lebih selektif dalam memilih aset yang dapat menghasilkan manfaat optimal. Menurut Bayumashudi (2006) bahwa diversifikasi tidak hanya ditujukan untuk mengurangi risiko dengan mengurangi standar deviasinya tapi juga dengan mengurangi kovarian atau hubungan risiko antar aset investasi. Dengan melakukan kombinasi pada aset portofolio yang berbeda-beda, secara teori memungkinkan untuk mendapatkan tingkat risiko portofolio dari nol sampai nilai maksimalnya.

Teori diversifikasi portofolio Markowitz berusaha untuk mengurangi standar deviasi portofolio sehingga menghasilkan nilai mendekati nol, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi sebaran risiko yang mungkin terjadi.

Kovarian antara aset diharapkan sebisa mungkin menghasilkan efek negatif dan

koefisien korelasi memiliki nilai menjadi nol.

Kontribusi penting dari teori Markowitz adalah risiko portofolio bukan merupakan penjumlahan semua aset yang ada dalam portofolio, tapi harus dihitung dari kontribusi risiko aset tersebut terhadap risiko portofol

dikenal dengan kovarians).

2.1.9.2 Efficient Frontier

Sumber: Husnan (2009),

Menurut Jones (2007)

hasil yang diharapkan dari risiko portofolio dan terlihat dalam kumpulan efisien portofolio dari surat

Untuk mendapatkan portofolio pasar maka garis bersinggungan dengan

koefisien korelasi memiliki nilai -1 sehingga secara keseluruhan risiko portofolio

Kontribusi penting dari teori Markowitz adalah risiko portofolio bukan merupakan penjumlahan semua aset yang ada dalam portofolio, tapi harus dihitung dari kontribusi risiko aset tersebut terhadap risiko portofol

dikenal dengan kovarians).

Efficient Frontier

Gambar 2.2 Kurva Efficient Frontier

Husnan (2009), Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas

Menurut Jones (2007) efficient frontier adalah Markowitz

hasil yang diharapkan dari risiko portofolio dan return portofolio yang dapat terlihat dalam kumpulan efisien portofolio dari surat-surat berharga.

Untuk mendapatkan portofolio pasar maka garis efficient frontier bersinggungan dengan capital allocation line (CAL). CAL terbentuk dari

keseluruhan risiko portofolio

Kontribusi penting dari teori Markowitz adalah risiko portofolio bukan merupakan penjumlahan semua aset yang ada dalam portofolio, tapi harus dihitung dari kontribusi risiko aset tersebut terhadap risiko portofolio (atau

Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas

adalah Markowitz trade off antara portofolio yang dapat surat berharga.

efficient frontier harus (CAL). CAL terbentuk dari

kumpulan aset-aset yang bebas dari risiko sehingga didapatkan portofolio yang lengkap, yaitu yang terdiri dari aset berisiko dan aset bebas risiko.

2.1.10 Model Indeks Tunggal

Menurut Zubir (2011) Single Index Model adalah sebuah teknik untuk mengukur return dan risiko sebuah saham atau portofolio. Model tersebut mengasumsikan bahwa pergerakan return saham hanya berhubungan dengan pergerakan pasar. Jika pasar bergerak naik, dalam arti permintaan terhadap saham meningkat, maka harga saham di pasar akan turun pula. Jadi, return saham berkorelasi dengan return pasar.

Menurut Bodie et. Al (2005), terdapat tiga asumsi dalam penggunaan model indeks tunggal :

a. The stock’s expected return if the market is neutral, that is, if the market’s excess return, rm – rf, is zero.

b. The component of zero due to movements in the overall market; βi is the security’s responsiveness to market movements.

c. The unexpected component due to unexpected events that are relevant only to this security (firm specific).

Model indeks tunggal (single index model) merupakan alternatif perhitungan yang dapat digunakan untuk menyederhanakan perhitungan di model Markowitz , model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Hal ini menyarankan bahwa return dari sekuritas mungkin berkorelasi karena adanya reaksi umum terhadap perubahan-perubahan nilai pasar. Dengan ini return dari indeks pasar umum dapat ditulis sebagai hubungan :

Ri =

a

i + βi Rm

asumsi :

Ri : tingkat keuntungan dari saham i

ai : bagian dari tingkat keuntungan saham i yang tidak dipengaruhi oleh perubahan pasar. Variabel ini merupakan variabel acak.

Rm : tingkat keuntungan indeks pasar.

βi : beta, yaitu parameter yang mengukur perubahan yang diharapkan pada Ri jika terjadi perubahan pada Rm

variabel ai dapat dipecah menjadi nilai yang diekspektasi αi dan kesalahan residu ei sebagai berikut :

a

i =

α

i +

e

i

subsitusikan kedua persamaan tersebut, maka akan mendapatkan persamaan model indeks tunggal sebagai berikut :

Ri =

α

i + βi Rm +

e

i

asumsi :

α

i : nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap return pasar.

e

i : kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol.

Persamaan ini merupakan persamaan regresi sederhana. Beta menunjukkan kemiringan (slope) garis regresi tersebut. Alpha menunjukkan intercept dengan sumbu Rij. Makin besar beta, makin curam kemiringan garis

tersebut dan sebaliknya. Dengan menghitung koefisien beta yang mencerminkan tingkat risiko masing-masing saham yang diamati, dan tingkat return saham, maka kita dapat menentukan excess return to beta (ERB) yang mencerminkan tingkat keuntungan yang sangat mungkin dapat dicapai. Untuk mendapatkan kandidat portofolio kuat, kita tinggal membandingkan ERB dengan Unique Cut Off Rate (C*) untuk menghasilkan saham-saham yang memiliki tingkat return yang tinggi dan risiko yang minimal yang dapat mengeliminasi risiko tidak sistematis. Jika suatu jenis saham angka Excess Return to Beta (ERB)-nya lebih besar dari angka batas C* maka saham tersebut masuk sebagai kandidat portofolio. Penentuan proporsi dana yang diinvestasikan dapat dilakukan dengan cara membagi persentase tingkat return dengan total proporsi investasi.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian portofolio saham telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, oleh karena itu penelitian yang penulis lakukan tidak lepas dari penelitian–penelitian tersebut.

Penelitian–penelitian yang penulis gunakan sebagai referensi adalah penelitian yang dilakukan oleh Septyarini, Hanur Putro Adhianto, dan Adam Ramadhan .

Septyarini menggunakan saham-saham perusahaan yang kontinyu masuk dalam indeks LQ45 pada periode Agustus 2007 – Januari 2008, Februari 2008 – Juli 2008, Agustus 2008 – Januari 2009, Februari 2009 – Juli 2009. Berdasarkan data yang dikumpulkan, dari bulan Agustus 2007 – Juli 2009 terdapat 23 saham yang tetap. Dengan menggunakan metode indeks tunggal, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proporsi saham yang terbaik untuk mendapatkan return yang tertinggi dengan risiko yang rendah pada saham pada indeks LQ45.

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat diambil kesimpulan pembentukan portofolio optimal pada bulan Juli 2007 – Juni 2009 dari 23 saham LQ45 yang kontinyu masuk dalam indeks LQ45, terdapat 4 saham yang dapat membentuk portofolio optimal, yaitu PTBA (Tambang Batubara Bukit Asam Tbk) sebesar 60,4876%, INKP (Indah Kiat Pulp & Paper Tbk) sebesar 27,1575%, UNTR (United Tractors Tbk) sebesar 10,7909%, AALI (Astra Agro Lestari Tbk) sebesar 1,5640%. Portofolio tersebut menjanjikan tingkat pengembalian sebesar 4,8693%

per bulan dengan standar deviasi / risiko sebesar 23,8590%.

Hanur Putro Adhianto menggunakan metode Markowitz untuk menentukan portofolio optimal dari indeks saham LQ45 pada tahun 2009, kemudian diseleksi hanya perusahaan dari sektor perbankan saja. Berdasarkan kriteria tersebut maka terpilihlah 6 saham perbankan yaitu Bank BCA (BBCA), Bank BNI (BBNI), Bank BRI (BBRI), Bank Danamon (BDMN), Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Pan Indonesia (PNBN).

Selanjutnya, dari saham-saham bank tersebut untuk mengetahui optimalisasi portofolio yang nantinya akan dibentuk akan dilakukan perhitungan terlebih dahulu dalam hal:

Expected return & risk

• Koefisien korelasi & kovarian

Efficient frontier

Setelah melakukan perhitungan dan analisis berdasarkan daftar harga penutupan setiap akhir bulan, maka diperoleh saham-saham yang masuk dalam portofolio yaitu saham Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Bank Danamon (BDMN), Bank Mandiri (BMRI) dengan proporsi sebagai berikut :

Tabel 2.1 Proporsi Saham Portofolio

Saham LQ-45 %

1 Bank BCA (BBCA) 50,2%

2 Bank BRI (BBRI) 33,8%

3 Bank Danamon (BDMN) 9,8%

4 Bank Mandiri (BMRI) 6,2%

Namun seiring berjalannya penelitian ini, peneliti menemukan jawaban lainnya dari pengembangan portofolio yang telah terbentuk, yaitu bahwa:

1. Didapatkan pula Global Minimum Variance (GMV), yaitu pada tingkat return 4,75% dan standar deviasi 11,0%. Portofolio yang terbentuk pada GMV adalah berisi 53,9% saham BBCA, 36,6% saham BBRI, 9,0% saham BDMN dan 0,5% saham PNBN.

2. Menggunakan pendekatan teori Sharpe yang menyempurnakan teori model Markowitz maka didapatkan portofolio optimum dari perpotongan kurva efficient frontier dan kurva CML pada portofolio yang berisi 8,8% saham BBCA, 27,0% saham BBNI, 1,1% saham BDMN dan 63,1% saham BMRI.

Dengan tingkat return 8,50% dan tingkat standar deviasi 13,7%.

Penelitian Adam Ramadhan pada saham–saham yang kontinyu masuk kedalam indeks JII periode 2005 – 2009. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama periode tersebut hanya terdapat 8 saham yang tetap berdasar di dalam indeks JII. Selanjutnya penelitian dilakukan dengan membentuk portofolio optimal dengan menggunakan metode indeks tunggal yang bertujuan untuk mendapatkan return yang tinggi dengan risiko yang terendah.

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat diambil kesimpulan saham–saham yang dapat masuk ke dalam portofolio ada 8 saham. Saham-saham tersebut dapat masuk ke dalam portofolio dikarenakan memiliki expected return yang lebih besar dari return risk free. Lalu hanya terdapat 7 saham yang dapat masuk ke dalam portofolio optimal, yaitu saham dari emiten Bumi Resource (BUMI), International Nikel (INCO), Indocement Tunggal Prakasa (INTP), Kalbe Farma (KLBF), Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), Telekomunikasi (TLKM), dan Unilever Indonesia (UNVR). Hal ini dikarenakan saham-saham tersebut memiliki expected return to beta (ERB) lebih besar dari cut off point (C*). Sedangkan saham dari emiten Aneka Tambang (ANTM) tidak masuk ke dalam portofolio optimal dikarenakan ERB saham tersebut lebih kecil dari cut off point bedasarkan periode tahun 2005-2009. Pada akhirnya dapat disimpulkan prosentase portofolio optimal untuk setiap emiten adalah BUMI (3,57%), INCO (5,33%), INTP (13,10%), KLBF (3,35%), PTBA (23,14%), TLKM (1,33%), dan UNVR (50,18%) dengan expected return sebesar 0,0314 atau 3,15% dan varian kesalahan residu sebesar 0,26564.

2.3 Rerangka Pemikiran

Penelitian ini memiliki dasar untuk menjadi preferensi investor dalam berinvestasi di pasar modal. Instrumen investasi yang digunakan berupa saham biasa yang diperdagangkan di pasar sekunder. Investasi pada saham memiliki banyak pilihan, untuk itu pasar modal sebagai penyelenggara memudahkan para investor untuk memilih saham–saham terbaik berdasarkan kriteria–kriteria tertentu yang tertuang dalam Indeks Pasar Modal. Indeks yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Indeks LQ45, dalam indeks tersebut terdapat 45 saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang paling besar dan diseleksi menurut kriteria lainnya. Indeks LQ45 melakukan evaluasi setiap 6 bulan sekali saat awal Februari dan awal Agustus sehingga pemilihan saham–saham yang masuk di dalam indeks tersebut dapat bermanfaat bagi para investor.

Proses penelitian diawali dari pemilihan saham yang tetap berada di Indeks LQ-45 dalam tahun 2010. Lalu dilakukan pembentukan portofolio optimal dengan menggunakan kedua model portofolio optimal yaitu Model Markowitz dan Model Indeks Tunggal. Hasil dari pembentukan portofolio optimal didapatkan komposisi penempatan saham–saham yang akan menghasilkan expected return dan risiko yang minimum. Lalu hasil portofolio tersebut dapat dijadikan masukan kepada investor dalam berinvestasi.

Rerangka Pemikiran

Single Index Model Model Markowitz

Menentukan Expected Return dan Risk

Menentukan Expected Return dan Risk Preferensi Investor Berinvestasi di Pasar Modal

Investasi Saham

Indeks LQ45 Tahun 2010

Pembentukan Portofolio Optimal

Preferensi Investor

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian yang digunakan adalah saham–saham perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang termasuk ke dalam indeks LQ45 pada tahun 2010. Indeks LQ45 merupakan alat bantu bagi para investor atau calon investor dikarenakan saham yang masuk ke dalam kategori LQ45 merupakan saham–

saham yang memiliki likuiditas yang tinggi serta mempertimbangkan nilai kapitalisasi pasar dari saham–saham tersebut.

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan suatu fenomena berkaitan dengan populasi penelitian atau estimasi proporsi populasi yang mempunyai karakteristik tertentu, sedangkan data kuantitatif adalah data berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring). (Supranto:1998)

3.2 Metode Pengumpulan Data 3.2.1 Jenis Data

Dalam penelitian data yang digunakan adalah data sekunder atau merupakan data yang sudah dipublikasikan. Data tersebut didapatkan dari berbagai sumber penyedia data seperti situs resmi Bursa Efek Indonesia, situs

resmi Bank Indonesia, dan situs resmi yahoo finance. Data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Daftar list perusahaan yang masuk ke dalam indeks LQ45 Tahun 2010 2. Daftar harga penutupan saham–saham di akhir bulan berdasarkan

indeks LQ45 tahun 2010 3. Tingkat suku bunga SBI 4. Daftar harga IHSG tahun 2010

5. Daftar harga Indeks LQ45 tahun 2010

Data harga saham indeks LQ45 dan IHSG yang digunakan adalah data harga penutupan setiap bulanya selama periode tahun 2010. Oleh karena itu, sifat data yang digunakan dalam penelitian adalah data panel yang merupakan kumpulan data yang dikumpulkan selama kurun waktu tertentu dan membandingkan beberapa perusahaan.

3.2.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling yaitu metode pengambilan sampel dengan didasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria sampel penelitian ini adalah saham–saham perusahaan yang masuk ke dalam kategori indeks LQ45 tahun 2010. Dalam setiap tahunnya indeks LQ45 melakukan dua kali pergantian saham–saham perusahaan yang masuk dalam kategori LQ45, yaitu pada awal bulan Februari dan awal Agustus.

Sehingga dalam penelitian ini hanya terdapat 39 saham dari 45 saham indeks LQ45 yang tetap masuk ke dalam kategori LQ45 tahun 2010.

3.2.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dalam bentuk data sekunder yang diantaranya dikumpulkan melalui studi pusaka, data yang berasal dari internet, dan data analisis dari berbagai literatur–literatur yang memiliki relevansi dengan penelitian. Data yang berasal dari internet berupa list perusahaan yang termasuk ke dalam kategori LQ45 selama tahun 2010 (www.idx.co.id), daftar harga–harga penutupan saham setiap akhir bulan selama tahun 2010 ( www.finance.yahoo.com ), serta data suku bunga SBI yang diambil dari (www.bi.go.id)

3.3 Metode Analisis Data

Dalam pengolahan data yang diperoleh penulis menggunakan software yang bertujuan mempermudah proses pengolahan data. Software yang digunakan adalah Microsoft Office Excel 2007. Dengan bantuan software tersebut dapat membantu dalam menghitung persamaan–persamaan dengan cepat serta menampilkan bentuk grafik.

Di dalam perhitungan Model Portofolio Markowitz diperlukan tambahan program untuk perhitungan pembobotan. Microsoft Office Excel 2007 memiliki aplikasi tambahan yang harus terlebih dahulu di aktifkan yang bernama Solver.

Program tersebut merupakan aplikasi yang berguna dalam pengoptimalisasian dan memecahkan persamaan–persamaan.

Sebelum dikembangkan metode dan langkah–langkah dalam analisis lebih lanjut, berikut diuraikan mengenai komponen–komponen instrument penelitian yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini, di antaranya sebagai berikut :

a. Beta (β) adalah kepekaan suatu sekuritas terhadap suatu pasar atau parameter yang mengukur perubahan yang diharapkan Ri jika terjadi perubahan terharap Rm.

b. Return saham yang diharapkan (E(Ri)), merupakan return yang diharapkan yang akan diperoleh di masa yang akan datang pada suatu investasi.

c. Risk free (Rf) , suatu investasi yang keuntungannya di masa depan sudah pasti dengan risiko yang sangat kecil seperti pada SBI dan Deposito bank.

d. Excess return to beta (ERB), selisih dari keuntungan tertimbang tiap satu satuan risiko yang diukur dengan beta.

e. Unique Cut-off Rate (C*), batas sekuritas yang masuk dalam portofolio.

f. Standard deviasi (θ), penyimpangan yang didapat dari return yang diharapkan dan return yang aktualnya atau risiko terhadap ketidakpastian.

g. Variance ei (σei) merupakan suatu risiko tidak sistematis yang timbul di luar perusahaan.

h. Alpha (α), expected return yang tidak dipengaruhi oleh pasar.

3.3.1 Pemilihan Saham

Untuk mendapatkan portofolio yang diinginkan maka lebih baik ditentukan terlebih dahulu saham–saham apa saja yang akan dipilih untuk dimasukkan ke dalam portofolio tersebut. Saham–saham yang akan dimasukan ke dalam penelitian ini adalah saham–saham LQ45 selama tahun 2010. Penyaringan dilakukan melalui laporan pengumuman saham emiten yang masuk dalam perhitungan indeks LQ45 periode Januari–Desember 2010. Dari 45 saham indeks LQ45 hanya 39 saham yang tetap berada selama periode tersebut. Saham tersebut adalah

Tabel 3.1 Daftar Saham Indeks LQ45 Tahun 2010

NO. KODE EFEK NAMA EMITEN

1. AALI PT Astra Agro Lestari Tbk.

2. ADRO PT Adaro Energy Tbk.

3. ANTM PT Aneka Tambang (Persero) Tbk.

4. ASII PT Astra Internasional Tbk.

5. BBCA PT Bank Central Asia Tbk.

6. BBNI PT Bank Negara Indonesia Tbk.

7. BBRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

8. BDMN PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

9. BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

10. BNBR PT Bakrie & Brother Tbk

11. BRPT PT Barito Pasific Timber Tbk.

12. BTEL PT Bakrie Telecom Tbk.

13. BUMI PT Bumi Resources Tbk.

14. DEWA PT Darma Henwa Tbk.

15. ELSA PT Elnusa Tbk.

16. ELTY PT Bakrieland Development Tbk.