• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Perikanan Tangkap dan Budidaya

Dalam dokumen Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2023 (Halaman 35-47)

KERANGKA KERJA DPSIR

2.1 Potensi Perikanan Tangkap dan Budidaya

E KO N O M I B I R U : P E M B A N G U N A N

E KO N O M I L A U T YA N G B E R K E L A N J U TA N

14

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 Pada Gambar 2.1 di atas terlihat bahwa selama lima tahun terakhir, PDB perikanan terus meningkat baik Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) maupun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Pada tahun 2022, PDB Perikanan ADHK mencapai Rp275,5 triliun, meningkat sebesar 15,44 persen dibandingkan tahun 2018 yang sebesar Rp238,6 triliun.

Sementara itu, PDB Perikanan ADHB meningkat sebesar 30,88 persen dari Rp385,9 triliun pada tahun 2018, menjadi Rp505,1 triliun pada tahun 2022.

Jika dilihat pada sisi ekspor, sektor perikanan merupakan salah satu sumber devisa negara, bahkan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil dan eksportir ikan terbesar di dunia. Pada tahun 2022, volume ekspor hasil perikanan Indonesia mencapai 1,22 juta ton atau senilai US$6,24 miliar. Volume ekspor ini meningkat 8,8 persen dibanding kondisi lima tahun sebelumnya yakni tahun 2018 yang sebesar 1,13 juta ton atau senilai US$4,86 miliar. Berdasarkan data KKP, neraca perdagangan internasional komoditas perikanan selama periode 2018-2022 juga terus mengalami surplus (lampiran Tabel 2.8).

Gambar 2.1

Perkembangan PDB Perikanan ADHB dan ADHK (Triliun Rupiah), 2018-2022

https://www.bps.go.id

Selain berkontribusi pada aspek ekonomi, sektor perikanan juga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Menurut data KKP, pada tahun 2022, terdapat sekitar 3,03 juta nelayan perikanan tangkap dan 2 juta pembudidaya ikan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari total nelayan perikanan tangkap tersebut, 2,4 juta diantaranya adalah nelayan laut (lampiran Tabel 3.3). Sementara dari seluruh pembudidaya ikan, jumlah pembudidaya ikan laut pada tahun 2022 sebesar 266,6 ribu orang (lampiran Tabel 3.5).

Meskipun jumlah pembudidaya ikan ini menurun dari kondisi tahun 2021 yang mencapai 280,7 ribu orang, namun jumlah nelayan laut meningkat dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 2,36 juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan masih menjadi salah satu tumpuan hdup sebagian orang, sehingga potensi dan pemanfaatannya sangat perlu untuk terus dikembangkan.

Berdasarkan data KKP, selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir, hasil produksi perikanan dari perikanan tangkap dan budidaya menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, bahkan hampir dua kali lipat, yaitu dari 11,7 juta ton pada tahun 2010, menjadi 22,18 juta ton pada tahun 2022. Hal ini menggambarkan potensi ekonomi laut yang besar di Indonesia serta pentingnya menjaga keberlanjutan eksploitasi sumber daya laut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Gambar 2.2

Peran Ekonomi Laut dalam Perekonomian Indonesia

https://www.bps.go.id

16

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 2.2 Tantangan Ekonomi Laut Berkelanjutan

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki luas laut mencapai 5,8 juta km² (3,25 juta km² lautan dan 2,55 juta km² Zona Ekonomi Eksklusif) dan garis pantai sepanjang 108.000 km (KKP, 2022). Dengan memanfaatkan potensi ini, Indonesia seharusnya dapat memperoleh banyak keuntungan yang dapat digunakan untuk peningkatan kesejahteraan. Namun, sampai saat ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Meskipun total volume produksi perikanan pada tahun 2022 mulai meningkat dibanding tahun 2021, yakni sudah mencapai sekitar 22,18 juta ton, namun dalam kurun waktu 2017-2021, total volume produksi perikanan cenderung terus menurun (Gambar 2.3). Produksi perikanan tangkap meski lebih fluktuatif, namun seolah stabil dan belum ada peningkatan yang cukup signifikan. Sementara itu, produksi perikanan budidaya justru terus menurun dalam kurun waktu lima tahun tersebut (2017-2021). Hal ini mencerminkan belum maksimalnya pemanfaatan potensi yang ada, meskipun pada tahun 2022 sudah mulai menunjukkan peningkatan.

Pada Gambar 2.4 berikut ini terlihat bahwa pada tahun 2021, pemanfaatan lahan budidaya laut (marine culture) hanya sebesar 1,39 persen dari total potensi yang dapat

Gambar 2.3

Volume Produksi Perikanan Indonesia (Ribu Ton), 2017-2022

https://www.bps.go.id

dimanfaatkan. Sementara itu, pemanfaatan lahan budidaya payau (brackish water culture) adalah sebesar 22,48 persen, dan pemanfaatan lahan budidaya tawar (freshwater culture) sebesar 10,26 persen. Jika diamati lebih dalam, persentase pemanfaatan lahan dari tiga jenis budidaya ini cenderung mengalami penurunan selama 2017-2021. Oleh karena itu, berbagai faktor yang menjadi kendala dan tantangan perlu diatasi agar pemanfaatannya lebih maksimal dalam rangka mewujudkan ekonomi laut berkelanjutan.

Selain pemanfaatannya yang menurun, luas lahan budidaya laut juga menurun sebesar 39,65 persen dari tahun 2017 dengan luas 278.920 hektare, menjadi 168.318 hektare pada tahun 2021. Sementara itu, luas lahan perikanan budidaya tambak juga menurun sebesar 1,16 persen pada tahun 2021 dibanding tahun 2017. Penurunan luas lahan ini tentunya juga menjadi permasalahan yang berdampak pada produksi perikanan.

Gambar 2.4

Persentase Pemanfaatan Lahan Budidaya di Indonesia, 2017-2021

https://www.bps.go.id

18

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 Gambar 2.5

Luas Lahan Perikanan Budidaya Laut dan Budidaya Tambak (Hektare), 2018-2021

Berbagai masalah yang masih ada tentunya bukan karena satu faktor. Berikut ini adalah beberapa faktor yang menjadi tantangan maupun ancaman menuju ekonomi laut yang berkelanjutan.

Gambar 2.6

Tantangan Ekonomi Laut Berkelanjutan

https://www.bps.go.id

2.2.1 Perubahan Iklim Global

Adanya perubahan iklim seperti peningkatan suhu air laut, peningkatan tingkat keasaman, dan perubahan pola curah hujan tentunya akan memberikan dampak terhadap ekonomi laut Indonesia. Peningkatan suhu permukaan laut di perairan Indonesia dapat menyebabkan pemigrasian ikan ke perairan yang lebih dingin. Hal ini dapat mengurangi hasil tangkapan nelayan di wilayah-wilayah tertentu dan mengganggu keberlanjutan perikanan lokal. Selanjutnya, peningkatan asam laut yang disebabkan oleh peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang di Indonesia.

Padahal terumbu karang adalah ekosistem penting untuk keanekaragaman hayati laut dan pariwisata bahari. Kerusakan terumbu karang ini kedepannya dapat mengancam keberlanjutan industri pariwisata bahari dan berdampak negatif pada ekosistem laut.

Perubahan iklim yang terjadi juga dapat menyebabkan penurunan populasi ikan dan hewan laut lainnya karena perubahan pola arus laut dan ketersediaan pangan. Hal ini dapat mengurangi hasil tangkapan nelayan dan menyebabkan kesulitan ekonomi bagi komunitas nelayan yang bergantung pada hasil perikanan.

Sebagai negara yang rentan terhadap badai dan angin topan, adanya perubahan iklim juga dapat menyebabkan peningkatan intensitas dan frekuensi badai, yang berpotensi menyebabkan kerusakan fasilitas industri kelautan, kapal perikanan, dan infrastruktur pariwisata bahari. Kenaikan tingkat air laut yang dapat diakibatkan oleh perubahan iklim, dapat menyebabkan banjir di daerah pesisir Indonesia. Banjir ini dapat merusak pemukiman, fasilitas industri kelautan, dan objek pariwisata bahari, serta mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat yang tinggal di pesisir.

Dampak lain dari perubahan iklim yaitu penyusutan ekosistem mangrove, yang merupakan ekosistem penting untuk sektor perikanan dan pariwisata bahari. Peningkatan suhu dan kenaikan tingkat air laut dapat menyebabkan penyusutan ekosistem mangrove, yang berarti hilangnya habitat penting bagi ikan, burung, dan berbagai hewan lainnya.

Selain itu, perubahan iklim dapat mempengaruhi kondisi lingkungan laut, termasuk arus laut dan pola sirkulasi. Hal ini dapat meningkatkan risiko pencemaran laut akibat penyebaran limbah dan bahan berbahaya yang dapat merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia.

Fenomena perubahan iklim dan menipisnya lapisan ozon akibat peningkatan emisi

https://www.bps.go.id

20

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 gas rumah kaca juga nyatanya sangat berdampak negatif bagi ekosistem pesisir dan lautan. Pemanasan global dapat mengancam hewan dan ekosistem laut akibat meningkatnya suhu dan penurunan salinitas perairan laut. Selain itu juga berdampak pada fenomena kenaikan permukaan air laut yang mempercepat terjadinya erosi, banjir, dan kerusakan infrastruktur di sekitar wilayah pesisir.

2.2.2 Overfishing (Penangkapan Ikan Berlebihan)

Overfishing adalah salah satu bentuk eksploitasi berlebihan terhadap populasi ikan di laut, sehingga membahayakan populasi ikan tersebut. Praktik penangkapan ikan yang berlebihan tanpa memperhatikan keberlanjutan sumber daya ikan dapat mengancam keberlangsungan ekonomi laut Indonesia. Jika ikan ditangkap dengan tingkat yang melebihi kemampuan alam untuk memperbaharui populasi ikan, maka kedepannya jumlah ikan di laut akan berkurang drastis dan produksi sektor perikanan akan menurun. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap nelayan, industri pengolahan ikan, serta kegiatan ekspor ikan.

Overfishing terjadi ketika tingkat penangkapan ikan melebihi tingkat reproduksi alami dari populasi ikan tersebut, sehingga mengancam kelangsungan hidup spesies ikan dan mengganggu ekosistem laut. Beberapa kebiasaan penangkapan ikan yang berkontribusi pada overfishing adalah sebagai berikut:

a. Penangkapan ikan yang berlebihan. Peningkatan permintaan ikan sebagai sumber pangan dan pasar global yang besar menyebabkan penangkapan berlebihan. Kapal-kapal besar dan armada modern memungkinkan penangkapan ikan secara masif, sehingga menguras populasi ikan lebih cepat daripada yang dapat diproduksi alam.

b. Penangkapan ikan yang tidak legal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU fishing). Praktik penangkapan ikan yang tidak sah dan tanpa pengawasan mengarah pada penangkapan ikan yang tidak terkendali dan berlebihan.

Kapal-kapal yang terlibat dalam IUU fishing seringkali menghindari peraturan dan aturan penangkapan ikan yang berlaku.

c. Penggunaan alat tangkap yang merusak. Penggunaan alat tangkap seperti pukat hela dan jaring insang yang tidak selektif sering menyebabkan

https://www.bps.go.id

penangkapan ikan secara acak. Hal ini menyebabkan penangkapan ikan muda atau spesies yang tidak diincar, termasuk hewan laut lain seperti lumba-lumba, penyu, dan burung laut.

d. Perusakan habitat ikan. Penggunaan alat tangkap tertentu, seperti pukat hela, dapat merusak habitat dasar laut seperti terumbu karang dan ekosistem lainnya. Merusak habitat ikan mengurangi tempat berlindung dan pakan, serta menyebabkan penurunan populasi ikan.

e. Kurangnya pengelolaan perikanan yang efektif. Beberapa negara tidak memiliki atau hanya memiliki pengelolaan perikanan yang lemah, seperti kurangnya pengawasan, pengaturan kuota penangkapan, atau penegakan hukum yang efektif. Hal ini menyebabkan perikanan tidak terkelola dengan baik dan berkontribusi pada overfishing.

f. Perubahan iklim. Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi distribusi dan tingkat reproduksi ikan. Peningkatan suhu laut dan perubahan pola arus laut dapat mempengaruhi migrasi dan reproduksi ikan, sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk bertahan dalam lingkungan yang berubah.

Beberapa kebiasaan penangkapan ikan yang sampai saat ini menyebabkan overfishing diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Kebiasaan penangkapan ikan yang berlebihan, terutama oleh industri perikanan besar, menyebabkan penurunan populasi ikan secara dramatis.

Alat tangkap modern seperti jaring yang besar dan efisien serta metode pemancingan yang intensif dapat menguras sumber daya ikan dengan cepat tanpa memberikan kesempatan bagi populasi ikan untuk pulih.

b. Kegiatan pemancingan ilegal. Penangkapan ikan secara ilegal, yang seringkali sulit untuk dideteksi dan diawasi, dapat menyebabkan kerusakan ekosistem laut yang signifikan. Pemancingan ilegal seringkali tidak memperhatikan aturan kuota penangkapan dan ukuran minimum ikan yang dapat ditangkap, sehingga mengganggu keseimbangan alam dan populasi ikan.

c. Pemancingan berlebihan di tempat-tempat pemijahan. Ketika ikan ditangkap selama masa pemijahan, populasi ikan tidak dapat pulih secara efektif, dan

https://www.bps.go.id

22

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 e. Fokus hanya pada penangkapan ikan tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem laut, yang menyebabkan penurunan populasi ikan serta mengganggu rantai makanan. Beberapa spesies ikan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, dan jika mereka terancam punah, dampaknya dapat merambat ke seluruh rantai makanan.

f. Penangkapan ikan hasil budidaya yang melampaui batas. Budidaya ikan seharusnya menjadi alternatif untuk mengurangi tekanan pada populasi ikan liar di alam. Namun, dalam beberapa kasus, praktik budidaya ikan juga dapat menyebabkan overfishing jika jumlah produksi melebihi kapasitas berkelanjutan dan menyebabkan penurunan kualitas air dan kondisi lingkungan di area budidaya.

Overfishing adalah masalah serius yang mempengaruhi keseimbangan ekosistem laut dan mengancam keberlanjutan sumber daya ikan. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya kolaboratif dari seluruh pihak untuk mengimplementasikan kebijakan perikanan yang berkelanjutan serta memastikan penangkapan ikan dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

2.2.3 Polusi limbah dan sampah laut

Pencemaran laut merupakan ancaman serius bagi keberlanjutan sumber daya perikanan dan lingkungan laut secara keseluruhan. Pencemaran laut akibat adanya limbah industri, limbah pertanian, dan sampah plastik, dapat merusak ekosistem laut.

Polusi ini akan mengganggu rantai makanan laut, mengurangi produktivitas perikanan, serta merusak sektor pariwisata bahari.

Keberadaan sungai besar yang cukup banyak, membuat Indonesia rentan terhadap pencemaran limbah. Kegiatan industri, pertanian, perkotaan, dan kegiatan masyarakat menyumbang besar terhadap polusi limbah dan sampah laut. Indonesia adalah salah satu negara yang menghasilkan limbah plastik laut terbesar di dunia. Setiap tahunnya, Indonesia memproduksi jutaan ton sampah plastik, bahkan termasuk salah satu negara penyumbang sampah plastik ke lautan yang terbesar di dunia. Jumlah sampah plastik dari Indonesia yang terbuang ke lautan mencapai 56.333 metrik ton setiap tahunnya (Meijer et al, 2021). Hal ini menjadi masalah serius bagi ekosistem laut dan kesehatan manusia.

https://www.bps.go.id

2.2.4 Pembangunan Pesisir yang Tidak Berkelanjutan

Penggusuran mangrove dan pengurangan hutan bakau untuk pembangunan infrastruktur pesisir dapat merugikan ekosistem pesisir dan mangrove yang memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Tindakan tersebut berpotensi mengurangi keberlanjutan sumber daya ikan, meningkatkan risiko abrasi pantai, dan mengancam mata pencaharian nelayan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pembangunan pesisir yang berkelanjutan.

Pembangunan pesisir yang berkelanjutan adalah pendekatan yang mencakup upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan wilayah pesisir dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prinsip-prinsip utama dari pembangunan pesisir yang berkelanjutan mencakup perlindungan ekosistem pesisir, konservasi sumber daya alam, partisipasi masyarakat, dan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pesisir dapat terus memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan masa depan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

2.2.5 Penyusutan Habitat Laut

Penyusutan habitat laut, termasuk ekosistem terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, adalah masalah yang semakin mendesak. Ekosistem-ekosistem ini merupakan tempat tinggal bagi berbagai spesies laut, termasuk ikan, udang, dan berbagai hewan lainnya. Penyusutan habitat ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pembangunan pesisir, penggundulan hutan mangrove, dan kerusakan fisik akibat aktivitas manusia.

Salah satu contoh yang signifikan adalah penyusutan terumbu karang di Indonesia.

Terumbu karang adalah ekosistem yang sangat penting bagi keberagaman hayati laut dan juga sebagai tujuan wisata bahari. Namun, terumbu karang di Indonesia mengalami tekanan serius akibat aktivitas manusia, termasuk penangkapan ikan yang merusak, peningkatan suhu air laut, dan polusi. Kerusakan terumbu karang ini dapat mengancam keberlanjutan pariwisata bahari dan populasi ikan yang bergantung padanya.

https://www.bps.go.id

24

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 2.2.6 Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing

Praktik penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur merupakan ancaman yang serius bagi ekonomi laut Indonesia. IUU fishing ini sangat merugikan nelayan Indonesia, merusak ekosistem laut, dan mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan. IUU fishing juga dapat menyebabkan konflik antarnegara dalam hal perbatasan maritim dan hak penangkapan ikan. Oleh karena itu, hal ini sangat penting menjadi perhatian pemerintah.

Berbagai tantangan/ancaman tersebut tentunya memberikan dampak yang signifikan terhadap ekonomi laut Indonesia, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap perekonomian. Dampak negatif seperti penurunan produksi, kerugian ekonomi, penurunan pariwisata, ketidakstabilan ekosistem laut, serta gangguan stabilitas politik dan ekonomi di kawasan jika terjadi sengketa wilayah atau klaim yang saling tumpang tindih dapat terjadi apabila ancaman ekonomi laut yang ada tidak segera diselesaikan.

2.2.7 Kekurangan Infrastruktur dan Teknologi

Kekurangan infrastruktur dan teknologi yang diperlukan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi laut juga menjadi tantangan. Infrastruktur pelabuhan, dermaga, fasilitas pengolahan, dan aksesibilitas wilayah-wilayah pesisir masih perlu ditingkatkan agar dapat mendukung pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan. Selain itu, penggunaan teknologi yang canggih dalam perikanan, seperti sistem pemantauan kapal/Vessel Monitoring System (VMS), teknologi pemantauan sumber daya ikan/ Fisheries Monitoring System (FMS), dan teknologi informasi geospasial, dapat membantu pengelolaan sumber daya laut yang lebih efisien dan berkelanjutan. Namun, masih ada kekurangan dalam hal implementasi teknologi-teknologi ini secara luas di seluruh sektor kelautan dan perikanan.

2.2.8 Perubahan Kebijakan dan Hukum

Perubahan kebijakan dan hukum yang kurang konsisten dapat mempengaruhi keberlanjutan ekonomi laut. Keberlanjutan ekonomi laut memerlukan kerangka kebijakan yang kuat dan berkelanjutan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran- pelanggaran yang merugikan sumber daya laut. Perubahan-perubahan kebijakan yang

https://www.bps.go.id

tidak terkoordinasi atau kurang konsisten dapat menciptakan ketidakpastian bagi para pelaku industri kelautan dan perikanan. Selain itu, kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat nelayan, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah, juga sangat penting dalam mencapai ekonomi laut yang berkelanjutan.

2.3 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Perlindungan Lingkungan Laut, dan

Dalam dokumen Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2023 (Halaman 35-47)

Dokumen terkait